Hasil dari wawancara dengan Wakil Direktur KMI, Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto, M.Pd.
Ujian di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) merupakan bagian integral dari proses pendidikan dan pembentukan karakter santri. Sejak berdirinya Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI), ujian tidak hanya diposisikan sebagai alat ukur hasil belajar, tetapi sebagai proses pendidikan itu sendiri. Salah satu bentuk evaluasi yang menjadi ciri khas dan identitas KMI adalah ujian lisan.
Ujian lisan merupakan metode evaluasi akademik langsung yang berbasis interaksi antara penguji (guru) dan yang diuji (santri). Melalui dialog dua arah, penguji dapat mengukur secara langsung penguasaan materi, kerapian cara berpikir, kemampuan berbahasa, hingga keberanian santri dalam menyampaikan gagasan. Santri yang memiliki pemahaman yang baik akan mampu menjawab pertanyaan secara runtut, sistematis, dan argumentatif.

Berbeda dengan ujian tulis yang lebih menekankan aspek konseptual dan analitis, ujian lisan menguji dimensi keilmuan sekaligus mental. Ujian lisan menjadi sarana pendidikan intelektual dan pembentukan mental secara bersamaan.
Strategi penyelenggaraan ujian lisan dan ujian tulis di KMI memiliki fungsi yang berbeda namun saling melengkapi. Ujian tulis lebih tepat digunakan untuk materi-materi yang membutuhkan analisis mendalam, penjabaran konsep, dan pemikiran tertulis. Sementara itu, ujian lisan difokuskan pada kompetensi inti santri KMI, yakni Al-Qur’an dan praktik ibadah, serta penguasaan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.
Sebagai santri, menguasai Al-Qur’an merupakan fondasi utama. Tidak hanya kemampuan membaca, tetapi juga tajwid, serta pemahaman dan praktik ibadah. Oleh karena itu, ujian Al-Qur’an dilaksanakan di seluruh jenjang pendidikan KMI, dari awal santri masuk hingga kelas akhir. Di samping itu, bahasa Arab dan Inggris menjadi identitas sekaligus kekuatan strategis Gontor. Dengan bahasa Arab yang baik, santri akan lebih mudah memahami Al-Qur’an, hadis, dan disiplin ilmu keislaman lainnya. Sementara penguasaan bahasa Inggris membuka wawasan, akses referensi, dan cakrawala berpikir yang lebih luas.

Pelaksanaan ujian lisan yang didahulukan sebelum ujian tulis bukan tanpa alasan. Hal ini merupakan strategi pendidikan untuk membentuk malakah, yaitu penguasaan materi secara matang. Melalui ujian lisan, santri dipacu untuk benar-benar memahami dan menguasai pelajaran, kemudian mengekspresikannya secara lisan. Proses ini menjadi bekal penting sebelum menghadapi ujian tulis, yang pada dasarnya merupakan penguatan dan pengulangan dari materi yang telah dikuasai sebelumnya. Dengan demikian, santri dilatih agar cakap berbicara sekaligus terampil menulis.
Dalam ujian lisan, yang dinilai bukan semata-mata benar atau salahnya jawaban, tetapi keseluruhan proses berpikir santri. Mereka dituntut untuk menjawab sesuai pertanyaan, menyampaikan alasan, dan berargumentasi dengan baik. Bahkan, tanpa disadari, santri dilatih melalui berbagai tingkatan berpikir, dari yang sederhana hingga analitis dan kompleks. Pertanyaan-pertanyaan seperti limaadza (mengapa), maa ra’yuka fii hadza (apa pendapatmu), atau maa hujjatuka (apa alasanmu) mendorong santri untuk berpikir kritis dan reflektif.
Lebih dari itu, ujian lisan juga berfungsi sebagai ujian mental. Santri dilatih keberanian, kemandirian, dan kesiapan menghadapi tekanan. Model ujian satu santri diuji oleh beberapa penguji adalah bagian dari pendidikan mental agar santri terbiasa menghadapi tantangan, bersikap tenang, dan mampu menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin.

Keterlibatan Siswa Akhir KMI sebagai penguji merupakan bagian penting dari proses kaderisasi. Gontor sebagai lembaga pendidikan calon pemimpin menempatkan kaderisasi sebagai fungsi utama pendidikan. Melalui keterlibatan ini, siswa akhir belajar mengajar, menilai, dan bertanggung jawab, sebagai bekal mereka menjadi pendidik dan pemimpin di masa depan. Secara teori dan praktik, mereka telah dipersiapkan melalui pelajaran tarbiyah dan ujian praktik mengajar.
Pada akhirnya, ujian lisan di KMI merupakan proses pendidikan yang utuh. Ia menjadi sarana al-imtihaanu li-t-ta’allum wa li-t-tarbiyah, ujian untuk belajar dan mendidik. Melalui ujian, santri menyadari kemampuan dirinya, terdorong untuk belajar lebih giat, mencintai ilmu, menghargai waktu, dan memperbaiki kualitas diri.
Dengan demikian, ujian lisan di Pondok Modern Darussalam Gontor adalah wadah pendidikan yang membentuk keilmuan, melatih kecakapan berpikir, dan menumbuhkan mentalitas santri secara seimbang. Inilah ujian yang tidak hanya mengukur hasil, tetapi membangun proses dan karakter.

Kontributor: Ghazi, Faza, Editor: Winka
Related Articles:
PMDG Adakan Pengarahan Ujian Lisan, Bentuk Totalitas Pengawalan dan Pendidikan