Dalam tausiahnya, Ustadz Abdul Somad menyoroti peran Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) sebagai perekat persatuan umat Islam. Beliau menyampaikan bahwa dirinya berasal dari Sumatera, sementara Ustadz Das’ad Latif berasal dari Makassar dan Al-Ustadz Luqmanul Hakim berasal dari Kalimantan. Menurut beliau, ketiga wilayah besar tersebut memiliki latar belakang dan sejarah yang berbeda, namun pada malam itu seluruh elemen umat dapat berkumpul dalam satu majelis yang sama. Karena itu, beliau menyebut Gontor sebagai perekat umat yang mampu menyatukan berbagai kalangan, suku, dan daerah dalam bingkai ukhuwah Islamiyah.
Beliau juga mengungkapkan luasnya persebaran alumni PMDG. Menanggapi pertanyaan mengenai keberadaan alumni Gontor di suatu daerah. Beliau menegaskan bahwa pertanyaan yang tepat bukanlah apakah ada alumni Gontor di Papua atau wilayah tertentu, melainkan di mana tempat yang belum memiliki alumni Gontor. Menurutnya, para alumni Gontor telah mengabdikan diri di berbagai daerah Indonesia bahkan di berbagai negara di dunia.
Pentingnya Bangun Pagi
Pada kesempatan tersebut, Ustadz Abdul Somad turut mengingatkan pentingnya kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kebiasaan bangun pagi. Beliau menyoroti bahwa banyak orang mampu menyelesaikan pendidikan hingga jenjang sarjana, magister, bahkan doktor, memperoleh skor tinggi dalam berbagai ujian kemampuan bahasa, serta meraih banyak prestasi, tetapi masih kesulitan untuk membiasakan diri bangun pagi. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa produktivitas dan kualitas hidup yang baik sering kali berawal dari kebiasaan memanfaatkan waktu pagi dengan optimal. Menurut beliau, tidur yang baik adalah tidur pada malam hari dan memulai aktivitas sejak pagi.
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa PMDG tidak semata-mata mencari peserta didik. Gontor hadir sebagai lembaga pendidikan yang berupaya menyelamatkan generasi muda melalui pembinaan karakter, penanaman nilai-nilai keislaman, serta pendidikan yang berorientasi pada pengabdian kepada umat. Oleh karena itu, para orang tua diharapkan memberikan perhatian yang serius terhadap pendidikan anak-anak mereka.
Dalam tausiahnya, beliau juga mengutip :
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Transliterasi:
Lā yu’minu aḥadukum ḥattā yuḥibba li akhīhi mā yuḥibbu linafsih.
Artinya:
“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik dan tercantum dalam Shahih al-Bukhari serta Shahih Muslim. Hadis tersebut menjadi pengingat pentingnya membangun persaudaraan, kepedulian, dan rasa saling mencintai di antara sesama muslim.
Menutup tausiahnya, Ustadz Abdul Somad memberikan motivasi kepada para santri dan jamaah agar tetap istiqamah dalam menjalani perjuangan hidup. Beliau menyampaikan bahwa dalam setiap perjalanan akan ada masa-masa sulit dan penuh kepahitan. Namun, berbagai kesulitan tersebut pada akhirnya akan berubah menjadi kenangan yang manis dan indah. Hasil dari sebuah perjuangan sering kali menghadirkan kebahagiaan yang begitu mendalam hingga sulit diungkapkan dengan kata-kata, karena kata-kata terlalu terbatas untuk menggambarkan besarnya nikmat yang diberikan Allah SWT.

Kontributor : Tim Humas PMDG, TIm Media PMDG
Editor : Johansyah