Date:

Share:

Mengenal Khat Nasta’liq Irani: Sejarah, Karakteristik, dan Keunikan Seni Kaligrafi Iran

Related Articles

Seni kaligrafi Islam terus menunjukkan daya tariknya yang tak pernah pudar. Pada Rabu (9/9/2026), telah diselenggarakan sesi kajian dan pelatihan seni kaligrafi bertajuk Khat Nasta’liq Irani bersama narasumber Al Ustadz Hasan Akbar Fathullah. ini merupakan salah satu dari kegiatan festival kaligrafi internasional yang diselenggarakan dalam peringatan 100 tahun Gontor. Sesi ini mengupas tuntas sejarah, karakteristik, hingga filosofi di balik jenis tulisan yang kerap dijuluki sebagai puncaknya keindahan kaligrafi Islam.

Dalam pemaparannya, Ustadz Hasan Akbar menjelaskan bahwa Khat Nasta’liq—yang juga kerap disapa dengan sebutan Khat Farisi—merupakan gaya seni tulis indah yang berasal dari Iran. Secara etimologis, nama “Nasta’liq” merupakan perpaduan dari dua kata, yakni “Naskh” dan “Ta’liq”.

“Khat Ta’liq sejatinya lahir lebih awal dibandingkan Nasta’liq. Namun, karena gaya Ta’liq dinilai cukup rumit dan sulit dibaca, para seniman kaligrafi pada masa itu berinovasi dengan menggabungkan kejelasan karakter Khat Naskhi dan keindahan gerak Khat Ta’liq, sehingga terciptalah Khat Nasta’liq,” ujar Ustadz Hasan Akbar.

Karakteristik dan Julukan ‘Aruusul Khuthuth’

Setiap jenis gaya kaligrafi memiliki karakter tersendiri. Khat Nasta’liq dikenal menonjolkan sifat kelenturan, kehalusan, serta kesan anggun bagi siapa saja yang memandangnya. Berkat keindahan visinya tersebut, Nasta’liq mendapatkan julukan terhormat sebagai ‘Aruusul Khuthuth atau “Pengantinnya Jenis-Jenis Kaligrafi”.

Tak hanya dari segi estetika tulisan, tradisi pembelajaran Nasta’liq di Iran juga memiliki kekhasan tersendiri. Ustadz Hasan menyampaikan bahwa dalam tradisi belajar di Iran, murid umumnya tidak meraut pena (kalam) mereka sendiri, melainkan dirautkan langsung oleh sang guru. Selain itu, proses penulisan memerlukan alas khusus di bawah kertas—seperti kulit sapi atau kulit sintetis—serta kontrol penuh atas kalam dan mata pena.

“Menulis Khat Nasta’liq menuntut kecepatan yang stabil, terutama untuk teks yang panjang. Kecepatan dan kelancaran goresan akan sangat memengaruhi hasil akhirnya, karena Khat Nasta’liq gaya Iran sangat menjunjung tinggi prinsip spontanitas dan orisinalitas,” tambahnya.

Perbandingan Tradisi dan Kurikulum Pembelajaran

Dalam perkembangannya, Khat Nasta’liq berkembang dalam beberapa variasi regional. Nasta’liq gaya Iran menonjolkan kesan yang lebih natural dan spontan, sementara Khat Nasta’liq gaya Turki cenderung lebih presisi dan detail. Meski demikian, Ustadz Hasan menekankan bahwa setiap gaya memiliki kelebihan dan daya tarik masing-masing sesuai selera penikmat seni.

Begitu pentingnya seni ini di Iran, Kementerian Kebudayaan Iran bahkan telah menyusun kurikulum khusus bagi masyarakat yang ingin mempelajari kaligrafi secara terstruktur. Di Iran, Khat Nasta’liq dijadikan sebagai jenis khat pertama yang wajib dipelajari murid guna melatih kelenturan tangan, sebelum melangkah ke jenis khat lainnya seperti Thuluth dan Naskhi.

Ustadz Hasan menyarankan agar tidak mempelajari banyak jenis khat sekaligus. Hal ini bertujuan agar proses latihan tetap fokus dan optimal.

Sejarah Perkembangan dan Madzhab Nasta’liq

Secara historis, Khat Nasta’liq terbagi ke dalam tiga mazhab utama berdasarkan periodisasinya. Ketiganya meliputi Mazhab Safawi, Qajar, serta aliran kontemporer dalam 150 tahun terakhir. Seiring berjalannya waktu, gaya penulisan ini telah mengalami banyak evolusi, penyempurnaan, dan penyesuaian kaidah.

Sebagian masyarakat Iran cukup sensitif jika Khat Nasta’liq disederhanakan sekadar sebagai khat Arab atau Persia. Hal ini mengingat nilai sejarah dan identitas kebudayaan khas yang melekat kuat padanya. Penggunaan harakat pada Khat Nasta’liq bersifat fleksibel, tergantung pertimbangan dan selera estetika sang penulis.

Kajian ditutup dengan antusiasme tinggi para peserta yang bersemangat memperdalam teknik penulisan Khat Nasta’liq dan mengagumi keindahan kaligrafi Islam.

Kontributor : Daniel, Tim Dokumentasi PMDG

Editor : Johanysah, Faza

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles