Date:

Share:

Saksi Bisu Perjuangan: Menelusuri Sejarah Gedung-Gedung Tua Gontor yang Masih Berdiri Kokoh

Related Articles

Di balik semua bangunan yang ada di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), saat ini, tersimpan perjalanan panjang berpuluh-puluh tahun. Mulai dari bangunan-bangunan sederhana berdinding bambu dan lumpur tanah. Sepuluh bangunan bersejarah yang masih berdiri hingga kini menjadi saksi bisu perjuangan para pendiri dan santri dalam membesarkan lembaga pendidikan Islam tersebut.

Gedung Madrasah, Cikal Bakal Kemajuan

Gedung Madrasah tercatat sebagai bangunan pertama yang dibangun menggunakan batu merah. Dengan itu menandai peralihan dari konstruksi sederhana menuju bangunan permanen. Pembangunannya diasuh langsung oleh Pak Sahal dengan melibatkan murid, wali murid, dan masyarakat sekitar. Batu merah dibuat secara swadaya, sementara dana dikumpulkan lewat list-derma dari rumah ke rumah, mengingat sepuluh tahun pertama Pondok belum mengenal penarikan uang sekolah.

Berukuran sekitar 6 x 24 meter dengan empat ruang kelas, gedung ini kemudian menjadi saksi sejarah pembukaan Kulliyatu-l-Mu’allimin al-Islamiyah (KMI) pada 25 Februari 1937.

Masjid Jami’, Simbol Gotong Royong Umat

Ketika daya tampung Masjid Pusaka tak lagi mencukupi jamaah, cita-cita membangun masjid yang lebih besar mulai tumbuh pada awal 1961. Sumbangan dari Syekh Akbar Jami’ul Azhar, Mahmud Saltut, menjadi pemantik semangat yang kemudian dituangkan dalam Maklumat 17 Agustus 1961.

Setelah melalui proses panjang pencarian lokasi—termasuk penyerahan tanah kediaman pribadi Pak Sahal, penggalian fondasi dimulai pada 16 Desember 1970. Peletakan batu pertama pada 12 Februari 1971. Sekitar 1.200 santri KMI ikut kerja bakti bergantian dalam pembangunannya. Masjid berlantai dua dengan menara setinggi 45 meter dan kapasitas sekitar 2.000 jamaah ini akhirnya diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 4 Maret 1978, bersamaan dengan Peringatan Kesyukuran Setengah Abad Gontor.

Gedung Asia dan Aligarh, Wajah Kemajuan Era 1950–1980-an

Gedung Asia bermula dari bangunan sederhana berdinding lumpur tanah pada 1940-an sebelum akhirnya dibangun ulang menjadi bangunan permanen bertingkat dua pada Oktober 1986 hingga Agustus 1987, kini menampung tujuh ruang kelas dan perpustakaan IPD.

Sementara itu, Gedung Aligarh yang dirancang cuma-cuma oleh Syamsi Mardi Utomo, penggambar asal Ponorogo. Dibangun pada awal 1950-an dengan semangat gotong royong para pengasuh, guru, dan santri. Gedung berbentuk huruf U ini bahkan sudah digunakan sebelum genteng terpasang seluruhnya, dan diresmikan secara sederhana lewat syukuran bertepatan dengan peringatan Empat Windu PMDG.

Masjid Pusaka, Saksi Awal Berdirinya Pondok

Diperkirakan berusia hampir 300 tahun, Masjid Pusaka menjadi titik mula perjalanan PMDG. Dari masjid berkapasitas sekitar 40 orang inilah cita-cita mendirikan pondok bermula. Pemugaran dilakukan pada 3 Januari 1981 hingga 1 Januari 1982 dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya sebagai pengingat jasa para pendahulu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM)

Awalnya bernama Balai Pertemuan Kaum Muslimin (BPKM), bangunan yang dibangun sekitar 1933–1934 ini pernah menjadi tempat penerimaan kunjungan Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, pada 1946. Setelah direnovasi menjadi struktur beton bertulang pada 1956–1958. Aula ini pernah dikenal sebagai salah satu ruang pertemuan terbesar di Ponorogo dengan kapasitas hingga 2.500 orang. Menjadi lokasi Protokol Resepsi Peringatan Empat Windu Pondok Modern pada 12 Oktober 1958.

Gedung Saudi, Wujud Solidaritas Dunia Islam

Kebutuhan mendesak akan asrama yang disampaikan Pimpinan Pondok kepada Presiden Soeharto pada Perayaan Kesyukuran Setengah Abad 1978 mendapat sambutan dari Pemerintah Arab Saudi, Jami’ah Islamiyah Madinah, dan Rabitah Alam Islami. Kompleks yang dikenal sebagai Al-Mabna As-Su’udi ini dibangun bertahap mulai 1979, dengan unit pertama diresmikan oleh Duta Besar Arab Saudi, Syekh Bakr Abbas Khumais, pada 16 April 1981. Dilanjutkan peresmian penggunaan oleh Menteri Agama RI H. Alamsyah Ratu Perwiranegara dua hari kemudian.

Komplek Indonesia dan Sholihin, Bukti Kemandirian Pondok

Kompleks Indonesia berkembang bertahap sejak Indonesia I diresmikan oleh Menteri Agama RIS, K.H. Abd Wahid Hasyim, pada 28 Oktober 1951, hingga Indonesia IV yang mulai digunakan pada 5 Maret 1982. Adapun Kompleks Sholihin (Komsol) lahir dari kebutuhan mendesak ruang belajar pascapeningkatan jumlah santri baru sejak peristiwa 19 Maret 1967. Sebagian besar pembangunannya dibiayai mandiri oleh Pondok.

Gedung Santiniketan, dari Rencana Perpustakaan Menjadi Pusat Kegiatan

Awalnya dirancang sebagai Perpustakaan PMDG, Gedung Santiniketan justru berkembang fungsi menjadi ruang kegiatan organisasi dan pelayanan santri seiring berjalannya waktu, setelah sempat mengalami kendala fondasi yang retak pasca-Perayaan Empat Windu 1958.

Rangkaian sejarah gedung-gedung tersebut menjadi bukti bahwa pertumbuhan PMDG tidak lepas dari semangat gotong royong, swadaya, dan pengorbanan para pendiri, guru, santri, hingga masyarakat sekitar selama hampir satu abad perjalanannya.

Kontributor : Faza, Tim Media PMDG

Editor : Johansyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles