Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) memaparkan Visi Strategis Gontor Abad ke-2, dokumen yang akan menjadi arah gerak lembaga pendidikan tersebut untuk seratus tahun ke depan. Visi ini dipaparkan dalam rangkaian Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).
Dokumen tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. K.H. M. Sirajuddin Syamsuddin, M.A., selaku ketua tim penyusun. Ia menjelaskan bahwa visi ini menegaskan cita-cita Gontor untuk menjelma menjadi gerakan peradaban yang tetap berpijak pada lembaga pendidikan. “Gontor akan menjadi epicentrum peradaban dunia baru, yaitu peradaban yang mulia,” ujar Prof. Sirajuddin, merujuk pada konsep al-hadharah al-fadhilah dalam naskah tersebut.

Disusun Tim Alumni, Diuji di Tiga Kampus
Penyusunan visi ini dimulai sekitar satu tahun lalu, setelah Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor menetapkan penyusunan rencana strategis untuk abad kedua Gontor. Tim penyusun dipimpin oleh Prof. Sirajuddin sebagai ketua dan K.H. Nasir Zein, Lc., M.A. sebagai wakil ketua, dengan 30 anggota dari kalangan alumni Gontor yang berlatar belakang cendekiawan, profesor, dan doktor.
Tim tersebut telah menggelar sembilan kali sidang. Naskah kemudian diuji kesahihannya di tiga perguruan tinggi, yaitu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Muhammadiyah Surakarta yang berkolaborasi dengan Universitas Ahmad Dahlan, serta Universitas Darussalam Gontor. Setelah difinalisasi, naskah diserahkan kepada Sidang Badan Wakaf sekitar dua hingga tiga bulan lalu.
Dalam proses tersebut, dokumen yang semula dirancang sebagai rencana strategis berkembang menjadi Visi Strategis Gontor Abad ke-2. Menurut Prof. Sirajuddin, penamaan ini dipilih karena posisi dokumen berada di antara rencana strategis dan visi jangka panjang. Mengingat sebuah visi organisasi atau negara lazimnya dirumuskan untuk cakupan waktu hingga seratus tahun dengan tahapan pencapaian yang jelas.
Dari Lembaga Pendidikan Menjadi Gerakan Peradaban
Prof. Sirajuddin menjelaskan bahwa penyusunan visi ini dilandasi kenyataan bahwa dalam seratus tahun perjalanannya, Gontor telah berkembang melampaui fungsi sebagai lembaga pendidikan semata. Ia menyebut pihak eksternal telah mengakui Gontor sebagai sebuah gerakan peradaban. Pengakuan ini tecermin dari ekspansi lembaga, pondok cabang, pondok alumni, hingga pondok “cucu” Gontor. Ekspansi tersebut ditaksir menjangkau jutaan orang secara geografis, baik di dalam maupun luar negeri. Secara fungsional, jangkauannya mencakup berbagai bidang perjuangan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Berdasarkan perkembangan tersebut, Gontor dinilai telah menjadi mega organisasi dengan pengaruh luas. Pengaruh ini tidak hanya bertumpu pada keanggotaan formal, tetapi juga afiliasi batin dari jutaan orang di berbagai penjuru. Pada abad kedua, Gontor diproyeksikan menjadi gerakan peradaban yang tetap berbasis lembaga pendidikan dengan jangkauan mondial — istilah yang menurut Prof. Sirajuddin melampaui makna global.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Gontor akan menjalankan gerakan yang intensif, dinamis, dan sistematis dengan mengacu pada Panca Jangka Gontor. Naskah visi ini disebut masih akan disempurnakan oleh tim dari Universitas Darussalam Gontor yang dipimpin langsung oleh rektor universitas tersebut.

Konsep Go Limo dan The Second Beginning
Dalam paparannya, Prof. Sirajuddin menjelaskan dua konsep utama dalam visi abad kedua Gontor. Pertama, gerakan Go Limo, yang merupakan kebalikan dari istilah moh limo yang selama ini dikenal, dengan makna sebagai gerakan menuju kebaikan. Kedua, konsep The Second Beginning atau al-bidayah ats-tsaniyah, yang disebutnya sebagai gagasan besar yang telah ditetapkan oleh Badan Wakaf, dengan dasar teologis yang sejalan dengan prinsip menjaga nilai-nilai lama sekaligus melakukan perubahan menuju kesempurnaan.
Ia menegaskan bahwa visi ini disusun secara akademik dan dapat dipertanggungjawabkan, bukan semata pernyataan idealis. Visi tersebut dirumuskan dengan mempertimbangkan potensi dan peluang yang dihadapi Gontor ke depan.

Peluang di Tengah Pergeseran Pusat Peradaban Dunia
Prof. Sirajuddin turut memaparkan analisis pergeseran pusat peradaban dunia yang kini bergerak ke kawasan Asia Pasifik. Pergeseran ini seiring perubahan konstelasi geo-strategis, geo-politik, dan geo-ekonomi global dari kawasan Atlantik ke Pasifik akibat kebangkitan Tiongkok.Ia menyebut peran historis dunia Islam telah ditunaikan secara bergiliran oleh muslim Arab dalam pengembangan Islam. Peran ini dilanjutkan muslim Persia dalam kebangkitan ilmu pengetahuan dan filsafat, serta muslim India dan Afrika pada masanya masing-masing.
Menurutnya, tanggung jawab sejarah pada abad ini dan mendatang berada di tangan muslim Asia Tenggara. Ia merujuk pandangan sejumlah pakar, termasuk Fazlur Rahman, yang menyebut kebangkitan dunia Islam berikutnya akan dimulai dari Indonesia dan Malaysia. Dengan proyeksi bahwa epicentrum peradaban akan bergeser dari Tiongkok ke Indonesia, Gontor menyatakan kesiapannya dengan harapan pusat peradaban tersebut berada di Jawa Timur, khususnya di Gontor, Ponorogo.
Langkah Selanjutnya
Pada abad kedua, mekanisme Sidang Badan Wakaf akan diubah menjadi Musyawarah Badan Wakaf Gontor. Musyawarah ini direncanakan digelar pada April mendatang untuk mengesahkan naskah Visi Strategis Gontor Abad ke-2 secara resmi. Setelah disahkan, seluruh pergerakan Gontor pada abad kedua akan mengacu pada visi tersebut. Pondok-pondok cabang diwajibkan mengikuti arah yang ditetapkan, sementara pondok-pondok alumni diharapkan turut serta.
Kontributor : Djean, Tim Media PMDG
Editor : Johansyah, Faza