GONTOR – Tradisi intelektual berbasis kitab klasik terus dipertahankan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) sebagai bagian dari pembentukan karakter dan nalar kritis santri. Melalui kegiatan Fathul Kutub Siswa Kelas Akhir Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) 2025 The Brilliant Generation, PMDG menunjukkan konsistensinya dalam menanamkan nilai keilmuan Islam klasik yang berpadu dengan semangat modernitas. Kegiatan ini digelar selama enam hari, mulai Sabtu (12/7) – Kamis (17/7).
Digelar selama enam hari, Fathul Kutub membuka cakrawal santri dalam menalaah kitab-kitab turats tanpa bantuan terjemahan, menguji ketajaman berpikir mereka, dan mempraktikkan metode konklusi hukum dengan berbagai pendekatan mazhab. “Yang paling pokok adalah bisa memahami kitab-kitab itu,” tegas Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A., menekankan pentingnya ketekunan dalam memahami perbedaan gaya bahasa setiap cabang ilmu seperti fikih, tauhid, dan hadits. Menurutnya, santri PMDG dituntut untuk menguasai ragam mazhab sebagaimana tertuang dalam kitab Bidayatu-l-Mujtahid, agar mampu membandingkan mana pendapat yang lebih kuat dan yang paling kuat dengan dalil yang kokoh.

Sebagai wahana diskusi, bahtsu-l-masail (observasi literatur), hingga presentasi, Fathul Kutub bukan sekadar latihan akademik, tapi panggung pembentukan nalar kritis yang didasari ruh keilmuan Islam. “Tidak cukup hanya tidak setuju, tapi harus berdasarkan ilmu, dengan dalil yang sahih, dan metode istidlal yang benar,” tambah Kyai Amal. Maka santri pun dituntut cermat; bukan hanya hafal ayat, tapi mengerti konteks penggunaannya.
Kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran bahwa membaca kitab turats bukan hanya perkara intelektual, tetapi spiritual. “Pandai-pandai membaca, membacanya pakai nurani,” pesan KH. Hasan Abdullah Sahal, mengajak santri membedakan mana bacaan yang cukup diketahui dan mana yang perlu diamalkan. Baginya, pendidikan di Gontor bukan sekadar mencari ilmu pengetahuan, tetapi membentuk jiwa pendidik sejati.

Dalam sesi penutupan, KH. Masyhudi Subari, M.A. menggarisbawahi makna Fathul Kutub sebagai momentum awal perjalanan intelektual dan spiritual santri PMDG. “Mulai dari acara ini kita pintar membaca, pintar memahami, dan cerdas menulis. Kita memulai sejarah kita di Gontor,” ujar beliau.
Fathul Kutub bukan sekadar rutinitas akhir semester. Ia adalah refleksi dari semangat PMDG untuk melahirkan generasi berilmu yang kritis, mandiri, dan kokoh akidahnya. Dalam suasana keilmuan yang hangat dan menantang, para santri ditempa untuk mencintai ilmu, menghargai proses, dan memikul amanah sebagai penerus tradisi keilmuan Islam yang mencerahkan.

(Berita : Ghazi, Foto : Bag. Fotografi OPPM, Reviewer : Winka, Alif)
Related Articles :
Fathul Kutub Bekali Santri untuk Hadapi Permasalahan Kontemporer
Fathul Kutub-Membaca, Memahami, dan Menjelaskan pembahasan dari Kutubu-t-Turats