Date:

Share:

Haflah Qur’an 100 Tahun Gontor: Dari Syukur ke Peradaban

Related Articles

Karangbanyu – Senja di langit Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 3 diliputi cahaya lembut, ketika lantunan ayat-ayat suci menggema, menembus dada siapa pun yang mendengarnya. Ini bukan sekadar lomba, bukan pula pesta seremonial biasa, melainkan Haflah Tilawatil Qur’an (HTQ) dan Haflah Hifzhil Qur’an (HHQ) Nasional sebuah perayaan syukur yang menandai satu abad perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor.

Dengan melibatkan 16 pesantren putri se-Indonesia dan menghadirkan 115 peserta terbaik, haflah ini menyatukan suara merdu para qari’ah dan hafizhah sekaligus menyatukan cita-cita besar: membumikan al-Qur’an sebagai ruh peradaban Islam.

Sambutan Ketua Panitia: Syukur yang Menyala, Warisan yang Menyebar

Ketua Panitia 100 Tahun PMDG, Assoc. Prof. Dr. Khoirul Umam, M.Ec., dalam sambutannya mengajak para hadirin untuk melihat acara ini lebih dari sekadar ajang kompetisi.

“Membaca al-Qur’an dengan indah itu mulia, menghafalnya itu agung. Tetapi yang paling tinggi adalah mentadabburi, menghayati, dan mengamalkannya. Itulah makna hakiki haflah: syukur yang mewujud dalam amal,” ujarnya penuh penekanan.

Lebih dari itu, beliau menekankan bahwa keistimewaan acara ini bukan hanya pada banyaknya peserta atau variasi lomba, tetapi pada kreativitas santriwati Gontor sendiri.

“Panggung megah yang kita lihat malam ini bukan karya profesional luar, melainkan hasil kerja keras santriwati sendiri. Inilah Gontor: bukan hanya mendidik pembaca al-Qur’an, tetapi juga melahirkan pencipta peradaban,” ungkapnya.

Dr. Khoirul juga membuka wacana masa depan Gontor: sebuah Mushaf al-Qur’an karya Gontor yang kini sudah mencapai 24 juz, dan akan dilanjutkan dengan terjemah bahkan tafsir. Sebuah legacy monumental yang akan mengikat perjalanan Gontor dengan khidmat Qur’ani yang abadi.

Nasihat Filosofis K.H. Hasan Abdullah Sahal: Jangan Puas, Jadilah Cahaya Masa Depan

Puncak spiritual haflah ini hadir saat K.H. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, memberikan nasihat penuh getaran ruhani sekaligus ketegasan.

“Syukur itu bukan sekadar ucapan alhamdulillah. Syukur adalah kesadaran bahwa nikmat adalah amanah, dan amanah menuntut tanggung jawab. Trimurti mendirikan Gontor dalam kesulitan, tapi dari kesulitan itu lahir keberanian dan visi besar. Itulah syukur sejati.”

Beliau menatap generasi muda dengan sorot tajam, seolah menyalakan api tanggung jawab dalam dada mereka.

“Hari ini kalian menikmati 100 tahun perjuangan. Pertanyaannya: apa yang kalian lakukan untuk 100 tahun berikutnya? Jangan berhenti pada nostalgia. Kalau kalian tidak bisa melampaui kami, lebih baik kalian tidak pernah lahir dan kami tidak usah mati. Sebab itu berarti kalian tidak layak meneruskan estafet perjuangan ini.”

Lebih jauh, beliau menegaskan bahwa setiap aktivitas santri harus berorientasi pada ibadah dan peradaban.

“Di Gontor pusat sedang berlangsung festival musik, film, dan olahraga. Di sini ada haflah Qur’an. Semuanya harus bernilai ibadah. Bukan sekadar gaya atau seremonial, tapi menghadirkan surga kehidupan: nilai Qur’ani yang mewarnai budaya, seni, dan ilmu pengetahuan.”

Suasana Haflah: Harmoni Suara, Harmoni Jiwa

Acara berlangsung penuh khidmat. Lantunan tilawah menghidupkan kembali suasana turunnya wahyu, sementara hafalan demi hafalan—dari 5 juz hingga 30 juz—mengukuhkan betapa al-Qur’an telah bersemayam dalam dada para santriwati.

Di sela-sela lomba, gema rebana dan syarh al-Qur’an menambah warna, menegaskan bahwa al-Qur’an bukan hanya teks untuk dibaca, tetapi juga sumber inspirasi seni, budaya, dan ekspresi spiritual.

Rekapitulasi Prestasi: Cahaya yang Tersebar

Distribusi prestasi ini menunjukkan bahwa semangat Qur’ani tidak terpusat pada satu tempat, melainkan menyala merata di berbagai pesantren. Dalam cabang Tadabbur Qur’an, Gontor Putri 3 menorehkan Juara 1, disusul Gontor Putri 1 dan Darussalam Rajapolah. Pada Syarh Al-Qur’an, Gontor Putri 2 meraih puncak, sementara Gontor Putri 1 dan Rajapolah kembali menunjukkan konsistensinya. Qishash al-Qur’an menampilkan ragam kekuatan: Darussalam Garut memimpin, diikuti Gontor Putri 3 dan Gontor Putri 2.

Hadrah Al-Habsyi dikuasai oleh Daru Hasbi sebagai Juara 1, dengan Gontor Putri 2 dan Putri 1 menyusul. Pada HHQ berbagai majlis hafalan, yaitu 5, 10, 15 hingga 30 juz, nama-nama seperti Darussalam Rajapolah, Walisongo Ngabar, Darunnajah 2 Cipining, Al-Furqon Tulis, Gontor Putri 1 dan 3, serta Daru Hasbi silih berganti mengisi podium, menandakan luasnya persebaran penjaga Kalamullah. Di cabang Murattalah dan Mujawwadah, Gontor Putri, Daru Hasbi, Riyadul Ulum, hingga Al-Furqon Tulis saling menguatkan, menambah warna pada peta prestasi Qur’ani.

Setiap juara bukan sekadar peraih angka, tetapi pembawa cahaya—membangun keyakinan bahwa generasi Qur’ani tengah tumbuh kokoh di berbagai penjuru pesantren.

Haflah Sebagai Tonggak Peradaban

Lebih dari sebuah perayaan, haflah ini adalah tonggak sejarah peradaban santri. Ia menyalakan syukur, menumbuhkan keberanian, dan membentuk generasi Qur’ani yang kreatif, inovatif, dan inspiratif.

Selama 100 tahun, Gontor telah menjadi mercusuar ilmu, iman, dan amal. Kini, tongkat estafet berpindah ke tangan generasi muda: melanjutkan perjuangan, memperluas cakrawala, dan menyalakan cahaya al-Qur’an hingga ke seluruh penjuru negeri.

Sebagaimana pesan KH. Hasan Abdullah Sahal:

“Setiap masa ada tokohnya, setiap tokoh ada masalahnya, setiap masalah harus ada solusinya.”

Trimurti adalah tokoh di masanya, menghadapi keterbatasan, penjajahan, dan keterasingan umat dari ilmu, lalu menjawabnya dengan mendirikan Gontor. Kini, giliran santri untuk menjawab masalah zamannya dengan nilai Qur’ani yang ia bawa.

Haflah ini bukan penutup, melainkan awal sebuah kesadaran: bahwa al-Qur’an harus menjadi cahaya dalam setiap lini kehidupan—pendidikan, budaya, politik, ekonomi, hingga peradaban global.

Maka benar adanya, syukur bukanlah nostalgia, tetapi keberanian untuk melangkah. Generasi Qur’ani Gontor tidak hanya ditakdirkan untuk mewarisi masa lalu, tetapi juga untuk mencipta masa depan—yang lebih cerah, lebih beradab, dan lebih Qur’ani.

(Penulis: Al-Ustadz Dr. Nur Hadi Ihsan, MIRKH. Fotografer: Nuriyah Azizah, Nur Istiqomah)

Related Articles:

Malam Pencerahan Seminar Qur’ani, “Istiqamah Berprestasi dengan Al-Qur’an” HTQ & HHQ Putri Nasional 2025 di Gontor Putri Kampus 3

Final Tadabbur Al-Qur’an HTQ & HHQ Putri Nasional Uji Kualitas Peserta

Semangat Qur’ani Hiasi Hari Kedua HTQ & HHQ Putri Nasional 2025

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles