Date:

Share:

KML di Gontor Putri Kampus 3: Menjadi Pembina Tangguh, Berkarakter, dan Islami

Related Articles

Karangbanyu – Kamis malam, 2 Oktober 2025, Auditorium Gontor Putri Kampus 3 dipenuhi semangat dan antusiasme yang jarang terlihat dalam suasana formal. Ratusan peserta berseragam Pramuka duduk tertib, wajah-wajah mereka memancarkan rasa penasaran dan kebanggaan. Malam itu, Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Lanjutan (KML) resmi dibuka, menandai awal dari perjalanan pendidikan yang bukan hanya teknis, melainkan juga spiritual.

Wakil Pengasuh Gontor Putri Kampus 3, Dr. Nurul Salis Alamin, M.Pd.I., dalam sambutannya menekankan makna mendalam dari kegiatan ini. “Kegiatan ini bukan hanya menambah ilmu kepramukaan, tetapi juga membentuk mentalitas yang positif, pola pikir sehat, sikap yang baik, dan perilaku yang Islami,” ujarnya di hadapan para peserta KML.

Dr. Nurul Salis Alamin juga menegaskan bahwa KML merupakan kesempatan emas untuk meningkatkan kapasitas para pembina. “Kegiatan ini merupakan kesempatan emas bagi para pembina untuk dididik, ditingkatkan kemampuannya, serta di-upgrade profesionalismenya,” ungkapnya penuh penekanan.

“Dengan Kegiatan Kepramukaan yang Islami Kita Lahirkan Pembina yang Tangguh dan Berakhlakul Karimah.” Tema KML kali ini memperkuat arah tersebut. Sementara mottonya, sederhana tetapi penuh makna, “Ikhlas Bhakti Bina Bangsa Berbudi Bawa Laksana.”

314 Peserta, Satu Semangat

Jumlah peserta KML tahun ini mencapai 314 orang, terdiri dari 277 santriwati kelas akhir KMI dan 37 ustadzah-mahasiswi. Mereka terbagi menjadi tiga golongan: Siaga 97 orang, Penggalang 121 orang, dan Penegak 96 orang. Jumlah yang besar ini bukan sekadar angka, melainkan bukti bahwa kepramukaan di Gontor tetap relevan dan diminati, bahkan ketika para santriwati tengah sibuk mempersiapkan ujian akhir. Pramuka bagi mereka bukan beban tambahan, melainkan ruang penyegaran, tempat menata hati di tengah padatnya ritme pendidikan pondok.

Panitia dan Pelatih: Punggawa yang Bekerja dalam Senyap

Di balik antusiasme itu, ada 92 panitia yang bekerja tanpa lelah, terdiri dari 37 ustadzah dan 55 panitia kelas 5. Mereka merancang, menyiapkan, dan memastikan setiap detail berjalan rapi. KML juga didukung oleh 40 pelatih, gabungan dari Kwarcab Ngawi, guru, dan dosen UNIDA Gontor. Mereka terbagi sesuai golongan: 10 pelatih Siaga, 18 pelatih Penggalang, dan 12 pelatih Penegak, memastikan setiap peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga terbimbing secara praktis dan aplikatif.

Rangkaian Kegiatan yang Hidup

KML bukan sekadar kursus formal. Jadwal padat dari siang hingga malam pukul 22.00 disusun untuk menempa para peserta. Selain materi di auditorium, tersedia delapan ruang khusus di Gedung Ghaza yang difungsikan untuk panitia, konsumsi, hingga prasmana. Tersedia pula kegiatan widya wisata yang akan digelar pada Senin, 6 Oktober 2025 di Kemuning. Di sanalah para peserta belajar melalui pengalaman nyata, menguji keterampilan dalam suasana yang lebih cair dan alamiah.

Visi Besar Pramuka dan Indonesia Emas

Ketua Kwarcab Ngawi, Drs. M. Shodiq Prewidianto, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa KML sejalan dengan visi Gerakan Pramuka menuju Indonesia Emas 2045. “KML adalah ikhtiar nyata menyiapkan pembina andal yang kelak melahirkan generasi tangguh, berkarakter, dan siap memimpin bangsa,” ungkapnya sebelum meresmikan pembukaan dengan lantang.

Harmoni Pendidikan Gontor dan Pramuka

Bagi Gontor, pendidikan tidak pernah berhenti di ruang kelas. Dr. Nurul Salis Alamin menekankan bahwa pendidikan kepramukaan adalah totalitas hidup yang menyeimbangkan antara kognitif, afektif, dan psikomotorik, intelektualitas, spiritualitas, dan moralitas. Pramuka menjadi wadah penting untuk melatih hal-hal itu secara nyata, membentuk manusia Muslim seutuhnya, bukan hanya pintar, tetapi juga berkarakter, bukan hanya berilmu, tetapi juga berakhlak.

Refleksi 100 Tahun Gontor: Pendidikan sebagai Perjalanan

Tahun 2025 adalah tahun istimewa, 100 Tahun Gontor. KML di Gontor Putri Kampus 3 hanyalah satu fragmen dari mozaik besar perjalanan pondok. Namun, fragmen kecil ini memantulkan cahaya yang sama: keyakinan bahwa pendidikan sejati bukan sekadar transfer ilmu, melainkan perjalanan membentuk manusia yang utuh. Malam itu di Auditorium, ketika tepuk pramuka menggema dan semangat peserta menyala, seakan terpatri satu pesan filosofis: menjadi pembina bukan hanya membina barisan atau mengajarkan sandi morse. Menjadi pembina adalah melatih diri untuk setia pada nilai, berani memimpin dengan hati, dan ikhlas mengabdi untuk umat serta bangsa.

Di sanalah salah satu rahasia mengapa Gontor bertahan lebih dari 100 tahun, karena ia terus mendidik dengan cara yang hidup, menyatukan akal, jiwa, dan raga hingga lahir generasi yang siap membawa obor peradaban ke masa depan.

(Penulis: Al-Ustadz Dr. Nur Hadi Ihsan, MIRKH. Fotografer: Majda Hadziqa)

Related Articles:
KML 2025: Di Bawah Langit Gontor Putri Kampus 3, Jiwa Pembina Ditempa

Pelantikan Panitia KML Perdana Gontor Putri Kampus 2

Asah Jiwa Kepramukaan Lewat Kursus Mahir Tingkat Lanjutan (KML)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles