MADUSARI — Tabligh Akbar bersama KH. Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar (Gus Kautsar) menutup rangkaian kegiatan Peringatan 100 Tahun Gontor di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kampus 2, Madusari. Sebelumnya, peringatan seratus tahun Gontor telah diisi dengan berbagai kegiatan, antara lain Gorda (Gontor Dua) Championship, Seminar Santri Nasional, dan Bakti Sosial.
Kegiatan yang digelar pada malam puncak peringatan tersebut menghadirkan Gus Kautsar, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, sebagai penceramah utama. Ribuan jamaah memadati lokasi acara yang berlangsung khidmat hingga akhir.

Tabligh Akbar ini dihadiri Pimpinan PMDG, KH. Hasan Abdullah Sahal dan drs. KH. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed., para ketua lembaga, keluarga besar PMDG, calon pelajar, serta masyarakat umum.
Rangkaian acara diawali dengan penampilan Seni Hadroh Darussalam Gontor Kampus 2 (SENHADA) yang menjadi pembuka sekaligus penyambutan jamaah. Lantunan shalawat menambah kekhusyukan suasana malam puncak peringatan seratus tahun perjalanan Gontor.
Dalam sambutannya, Kiai Hasan menyampaikan rasa syukur atas perjalanan panjang Gontor selama satu abad. Beliau juga menegaskan hubungan historis dan keilmuan yang erat antara Gontor dan Al-Falah. Ia berharap tausiyah yang disampaikan dapat menjadi bekal berharga bagi santri dan masyarakat dalam menjaga nilai keilmuan serta kebermanfaatan bagi umat.

Dalam tausiyahnya, Gus Kautsar menegaskan bahwa usia 100 tahun bukanlah waktu yang singkat, melainkan bukti bahwa Gontor mampu berdiri kokoh sebagai lembaga pendidikan Islam yang terus memberi solusi bagi masyarakat. Menurut beliau, keberhasilan pesantren tidak diukur dari kemegahan bangunan, melainkan dari karya, akhlak, dan kemanfaatan alumninya di tengah masyarakat.
Gus Kautsar juga mengingatkan bahwa dalam setiap perjuangan kebaikan akan selalu ada kritik, cibiran, dan penolakan. Karena itu, santri dituntut memiliki sandaran syar’i dan dasar keilmuan yang kuat, serta tidak menjadikan penilaian manusia sebagai tujuan utama, melainkan mengharap ridha Allah SWT.

Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya Al-Qur’an sebagai sumber kehidupan, bukan sekadar bacaan. Al-Qur’an, menurut Gus Kautsar, harus dipahami, ditadabburi, dan ditadzakuri agar melahirkan kesadaran bahwa setiap langkah hidup berada dalam pengawasan Allah SWT. Ilmu menjadi jalan utama menuju keselamatan dunia dan akhirat, serta fondasi dari seluruh amal ibadah.
Dalam pesannya kepada santri dan alumni, Gus Kautsar menyebut santri sejati memiliki tiga karakter utama, yakni ilmiah, amaliah, dan istiqamah. Menjadi santri bukanlah status sementara, melainkan tanggung jawab seumur hidup. Santri juga dituntut menjaga hati dan lisan, memiliki cita-cita tinggi (uluwwul himmah), serta menjadikan hidupnya sarat dengan khidmah, bukan semata mengejar keuntungan pribadi.

Menutup tausiyahnya, Gus Kautsar menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh nasab, melainkan oleh ilmu, adab, dan kontribusi nyata. Setiap santri dan alumni Gontor, menurut beliau, merupakan perwujudan nilai-nilai pondok di tengah masyarakat sekaligus menjadi “iklan hidup” bagi keberlangsungan dan kehormatan Gontor.
Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Kiai Hasan, memohon keberkahan, keberlanjutan perjuangan Gontor, serta lahirnya generasi santri yang istiqamah dalam ilmu, akhlak, dan pengabdian bagi agama, bangsa, dan umat.
Kontributor: Halimul, Fatih, Faiq, Ilham, Rizki, Mufti, Aby, Brilliansyah, Zaky, Rifky Yulian
Editor: Winka, Alif, Ghazi
Related Articles:
Tabligh Akbar 100 Tahun Gontor, Gus Kautsar: Kebesaran Gontor Terletak pada Karya Santrinya
Gontor Kampus 2 Gelar Bakti Sosial dan Khitan Massal Dalam Rangka Peringatan 100 Tahun Gontor