Date:

Share:

Jangan Merasa Besar, Jangan Merasa Bisa

Related Articles

Salah satu nasihat sangat dalam dari KH Akrim Mariyat dalam kemisan guru PMDG “Jangan jadi orang yang merasa besar atau merasa bisa. Semuanya itu dari Allah.” Kalimat ini mungkin pendek, tetapi jika direnungkan, ia mampu menjadi penawar bagi banyak penyakit hati yang sering tidak kita sadari.

Dalam perjalanan hidup, terlebih dalam dunia pendidikan dan pengabdian, sering kali seseorang mulai merasa bahwa keberhasilan yang diraih adalah hasil dari dirinya sendiri. Ketika diberi amanah, ia merasa dirinya penting. Ketika diberi ilmu, ia merasa lebih tahu. Ketika diberi kemampuan, ia merasa lebih mampu. Padahal, semua itu hanyalah titipan Allah yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali.

Falsafah Jawa menyebutnya dengan istilah adigang, adigung, adiguna; merasa kuat karena kekuasaan dan tenaganya, merasa besar karena kedudukan dan pengaruhnya, serta merasa paling mampu karena ilmu dan kecerdasannya. Padahal seorang mukmin diajarkan untuk selalu menyadari bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Diwajibkannya Shalat 5 Kali Sehari.

Karena itulah Allah mewajibkan shalat lima kali sehari. Di dalam shalat, manusia dilatih untuk melepaskan semua kebesaran dirinya. Saat mengucapkan Allahu Akbar, ia mengakui bahwa yang Maha Besar hanyalah Allah. Saat rukuk, ia menundukkan dirinya. Saat sujud, ia meletakkan bagian tubuh yang paling mulia di atas tanah. Seakan Allah mengajarkan bahwa setinggi apa pun manusia, pada hakikatnya ia tetap seorang hamba.

Kesadaran inilah yang seharusnya tumbuh dalam kehidupan pondok. Di pondok ini, sesungguhnya tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain dalam urusan pengabdian. Kita semua adalah hamba Allah yang sedang diberi kesempatan untuk beribadah melalui jalan yang berbeda-beda. Ada yang mengajar, ada yang mengurus administrasi, ada yang mengelola kegiatan, ada yang menjaga kebersihan, ada yang mengurus santri, ada yang memimpin, dan ada yang dipimpin. Semuanya adalah bentuk ibadah.

Maka banyaknya tugas tidak menjadikan seseorang lebih mulia. Banyaknya amanah tidak menjadikan seseorang lebih utama. Kesibukan bukan ukuran kemuliaan. Jabatan bukan ukuran keberhasilan. Sebab semua itu hanya sarana.

Yang menjadi ukuran di sisi Allah adalah keikhlasan.

Karena itu, tidak ada alasan untuk saling berebut pengakuan. Tidak perlu merasa paling sibuk. Tidak perlu merasa paling berjasa. Tidak perlu merasa bahwa pondok berdiri karena diri kita. Sebab sebelum kita datang, pondok ini sudah ada. Dan ketika kita pergi, pondok ini akan tetap berjalan dengan pertolongan Allah.

PMDG Bukan Milik Siapa-Siapa

Pondok ini bukan milik siapa-siapa. Pondok ini milik Allah. Kita semua hanyalah musafir yang diberi kesempatan singgah sejenak untuk mengabdi. Amanah yang kita pegang hari ini hanyalah titipan. Tugas yang kita jalankan hanyalah kesempatan untuk beramal. Kesibukan yang kita rasakan hanyalah ladang untuk mengumpulkan pahala.

Maka yang perlu kita jaga bukan sekadar kualitas pekerjaan, tetapi kebersihan niat. Sebab boleh jadi ada pekerjaan kecil yang nilainya besar di sisi Allah karena dikerjakan dengan ikhlas. Sebaliknya, boleh jadi ada pekerjaan besar yang menjadi sia-sia karena dicampuri rasa bangga terhadap diri sendiri.

Pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling banyak bekerja, tetapi siapa yang paling tulus dalam bekerja. Bukan tentang siapa yang paling terlihat, tetapi siapa yang paling diterima amalnya. Bukan tentang siapa yang paling berjasa, tetapi siapa yang paling ikhlas.

“Di pondok ini jangan berlomba menjadi yang paling sibuk, tetapi berlombalah menjadi yang paling ikhlas. Jangan berlomba menjadi yang paling terlihat, tetapi berlombalah menjadi yang paling diterima amalnya oleh Allah.”

Semoga Allah menjaga hati kita dari sifat adigang, adigung, dan adiguna. Semoga Allah menjadikan setiap langkah pengabdian ini sebagai ibadah yang diterima, dan menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa sadar bahwa semua yang kita miliki, semua yang kita lakukan, dan semua yang kita capai hanyalah karena pertolongan-Nya.

وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ

Tidak ada keberhasilan bagiku melainkan dengan pertolongan Allah.
(QS. Hud: 88)

Kontributor : Al-Ustadz Dr. Riza Ashari, M.Pd.

Editor : Johansyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles