Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) menggelar Sarasehan Kiai Pesantren Nasional dalam rangkaian Peringatan 100 Tahun Gontor, bertepatan pada Sabtu (20/6), di BPPM. Kegiatan yang dihadiri lebih dari 1.000 kiai dan pengasuh pesantren modern dari berbagai daerah di Indonesia. Ini menjadi momentum memperkuat sinergi antar pesantren untuk menghadapi tantangan pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan umat pada masa mendatang.
Ketua umum peringatan 100 tahun, Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil., menyampaikan bahwa perkembangan pesantren alumni merupakan bukti keberhasilan sistem pendidikan Gontor. Lebih dari 600 pondok pesantren yang terinspirasi dari Gontor.

“Pada tahun 1940-an, hanya ada 4 pesantren alumni, namun sekarang ada 600 lebih. Ini bukti bahwasannya sistem pendidikan Gontor itu menarik bagi masyarakat” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut juga dideklarasikan Ittihadu Ma’ahid Asriyah sebagai wadah persatuan pesantren modern yang diharapkan dapat memperkuat kerja sama antarpesantren, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Harapan kami, di abad ke-2, Gontor menjadi pusat riset pesantren bersama UNIDA. Agar kita dapat menggali teori-teori pendidikan islam dan tidak hanya mengambil teori-teori pendidikan barat ” katanya.

Keberadaan Pesantren Sebagai Karunia Besar Bagi Bangsa Indonesia
Sementara itu, Wakil Ketua MPR RI, Dr. K.H. Hidayat Nur Wahid, M.A., menyebut keberadaan pesantren sebagai karunia besar bagi bangsa Indonesia. Menurutnya, selama satu abad Gontor telah melahirkan berbagai legacy, karya, dan tradisi yang memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan umat dan bangsa.
“PMDG dalam rentan waktu 100 tahun ini terbukti telah menghadirkan legacy, karya, amal saleh, tradisi. Antara pesantren, Indonesia, dan demokrasi tidak ada jarak. Semuanya berjalan beriringan dan saling menguatkan,” katanya. Beliau juga menyoroti semakin kuatnya posisi nilai-nilai keagamaan dalam sistem pendidikan nasional pascareformasi, termasuk pengakuan pesantren sebagai bagian penting dari sistem pendidikan Indonesia.
Wakil Menteri Agama RI, Dr. K.H. Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum., menegaskan bahwa sejarah Indonesia tidak dapat dipisahkan dari peran pesantren. Ia mengingatkan bahwa banyak tokoh yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan berasal dari lingkungan pesantren, sementara semangat pesantren juga menjadi bagian penting dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa.

“Ketika itu saya membaca nama-nama di BPUPKI Yang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia itu tokoh-tokohnya adalah alumni pesantren, kemudian Ketika BPUPKI dirampingkan menjadi tim perumus PPKI, anggota intinya juga alumni pondok pesantren, berarti Semangat pesantren itu mengantar untuk Indonesia Merdeka ” ujarnya.
Menutup sarasehan, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal, menegaskan bahwa Gontor sejak awal hadir sebagai pusat inspirasi bagi lahirnya pesantren-pesantren modern di Indonesia. Beliau mengajak seluruh pesantren untuk tetap mempertahankan idealisme, nilai-nilai Islam, dan semangat persatuan dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
“Gontor adalah “Nggon Inspirator” untuk mendidik kehidupan ini dengan sempurna dan holistik” pesannya.
Sarasehan ini menjadi salah satu momentum penting dalam peringatan 100 tahun Gontor untuk meneguhkan kembali peran pesantren sebagai pusat kaderisasi ulama, pemimpin, dan penggerak peradaban menuju Indonesia Emas 2045.
Kontributor : Tim Media PMDG, Tim Humas PMDG
Editor : Johansyah