SIAK — Wakil Direktur Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto, M.Pd.I., melakukan kunjungan kerja dalam rangka inspeksi pelaksanaan ujian dan pengondisian pusat kegiatan ekstrakurikuler di PMDG Kampus 12, Desa Lubuk Jering, Kecamatan Sungai Mandau, Kabupaten Siak, Riau, pada Senin–Selasa (27–28/7/2026). Dalam amanatnya, beliau menyampaikan pesan mendalam mengenai falsafah pendidikan, karakter kepemimpinan, dan orientasi pengabdian alumni di tengah masyarakat.
Kehadiran Wadir KMI tersebut disambut oleh Wakil Pengasuh PMDG Kampus 12 Al-Ustadz H. Himmah Azhar Latif, S.Th.I., Wakil Direktur PMDG Kampus 12 Al-Ustadz Rifqi Inani, M.Pd., Guru Senior Al-Ustadz H. Suroso Hadi, serta jajaran asatidz dan seluruh santri dalam suasana khidmat dan penuh kegembiraan.

Pendidikan 24 Jam dan Hakikat “Orang Besar”
Dalam sesi pengarahan, Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto, M.Pd.I. menyinggung pandangan masyarakat yang kerap menilai sistem pendidikan Gontor sebagai sistem yang “elit”. Beliau membenarkan predikat tersebut, namun memberikan penekanan pada sudut pandang yang berbeda.
“Pendidikan di Gontor itu elit, bukan karena kemewahan fasilitasnya, melainkan karena sistem pendidikannya. Para santri dididik selama 24 jam penuh melalui pendidikan holistik; sebuah nilai yang jarang didapat, sukar dicari, dan mahal harganya,” tegas beliau.
Mengutip pandangan ulama dunia, Syekh Prof. Dr. Yusuf al-Qaradawi, beliau menyampaikan bahwa Gontor adalah masna‘ur-rijal atau pencetak tokoh-tokoh umat manusia unggul pembawa perubahan bagi peradaban.
Beliau juga mengingatkan kembali pesan legendaris dari Pendiri Gontor, K.H. Imam Zarkasyi, terkait kriteria “orang besar” yang dilahirkan oleh pondok. Menurutnya, standar keberhasilan alumni Gontor tidak diukur dari kedudukan formal atau popularitas semata.
“Bagi para kiai Gontor, orang besar adalah mereka yang tidak lupa akan tanggung jawabnya di tengah masyarakat sebagai mundzirul qaum, yaitu mereka yang mau mendidik dan mengajarkan ilmunya, meskipun di surau-surau kecil,” ujarnya.

Masyru‘ Hadhari dan Spirit Idealisme Tanpa Batas
Lebih lanjut, Wadir KMI menjelaskan bahwa Gontor mengemban masyru‘ hadhari (proyek peradaban) yang berfokus pada pembangunan sumber daya manusia unggul. Oleh karena itu, pengkaderan di Gontor dirancang berkesinambungan dari jenjang KMI hingga perguruan tinggi demi melahirkan sosok ulama yang intelek.
Beliau menekankan bahwa kekuatan utama lembaga pendidikan terletak pada idealisme dan cita-cita yang terus dihidupkan secara lintas generasi.
“Orang yang hidup dengan idealisme dan cita-cita tidak akan pernah mati. Kita memang tidak pernah bertemu dengan Rasulullah maupun Trimurti Pendiri Pondok, tetapi seakan-akan kita hidup bersama beliau-beliau melalui idealisme, perjuangan, dan keikhlasan yang diwariskan,” tuturnya.
Di akhir nasihatnya, Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto memberikan pesan khusus kepada para pendidik (asatidz) agar senantiasa menjaga keikhlasan dan semangat dalam menjalankan tugas mulia mengajar.
“Nikmatilah proses dalam mendidik dan mengajar, sebab pada hakikatnya, mengajar adalah belajar,” pungkasnya.

Penjaminan Mutu Akademik dan Karakter Santri
Inspeksi terpadu ini dilaksanakan sebagai bagian dari sistem penjaminan mutu (Quality Assurance) kurikulum KMI sekaligus penegakan integritas dan kejujuran dalam suasana ujian yang agung. Selain itu, pengondisian pusat kegiatan ekstrakurikuler dilakukan untuk mengalihkan totalitas konsentrasi santri ke arah persiapan akademik (biah ta’allum).
Langkah integratif ini menjadi komitmen PMDG Kampus 12 Siak dalam menjaga keseimbangan antara keunggulan akademis (olah pikir), ketangkasan berorganisasi (olah rasa/karsa), serta kedalaman mental spiritual (olah ruhani) bagi seluruh santri.
Kontributor : Aryyo Widagdho, Tim Multimedia PMDG 12
Editor : Johansyah, Faza