Pekan Literasi Santri (PELITA) menggelar seminar bersama sejumlah tokoh, Ahad (11/10/26). Sesi pertama sekaligus pembukaan ini menghadirkan Wakil Direktur Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI), Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto, S.Ag., M.Pd.I., yang membahas pentingnya literasi dan peran santri dalam mengembangkannya.
Dalam paparannya, Ustadz Suharto menjelaskan bahwa literasi paling dasar mencakup membaca, menulis, dan menghitung, serta meluas pada kemampuan menelaah dan meneliti. Beliau menekankan bahwa perintah pertama dalam Islam adalah membaca.

“Umat Islam sudah sepatutnya pandai membaca, bukan hanya membaca tulisan, tetapi juga membaca alam dan keadaan,” ujarnya.
Beliau kemudian menguraikan peran santri sebagai pejuang sekaligus penerus para Nabi. Menurutnya, literasi menjadi pelita penerang umat dan fondasi pembangun peradaban. Untuk menguatkan pesannya, ia mengutip firman Allah dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 21, “Wa fil ardhi ayatun lil mu’minin, afala tubshirun” (Dan di bumi terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang yakin. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?).

Ustadz Suharto juga menyinggung kondisi umat Islam yang dinilainya tertinggal dari bangsa lain akibat rendahnya budaya membaca. Padahal, kata dia, santri di Indonesia memiliki kecintaan yang mendalam terhadap ilmu.

“Karena itu, santri berkewajiban menyebarkan ilmu yang diperoleh dari para ulama, sebagai penerus para Nabi di masa mendatang,” tuturnya.
Kontributor : Zulfahmi, Panitia PELITA 2026
Editor : Johansyah, Faza