Date:

Share:

Simbol Kerukunan dan Toleransi Berprinsip di Pura Lingsar

Related Articles

Program Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor melaksanakan kunjungan ke Pura Lingsar, Lombok, Nusa Tenggara Barat, dalam rangka kegiatan Studi Pengayaan Lapangan (SPL), pada hari Sabtu, (17/10/26).

Kegiatan ini dilakukan di Pura Lingsar yang bertempat di Daerah Jalan Raya, Batu Kumbung, Kec. Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Indonesia, dengan mengambil tema “Simbol Kerukunan sebagai Wujud Toleransi Berprinsip Antarumat Beragama dalam Studi Kasus di Pura Lingsar”. Kegiatan ini diikuti oleh 47 mahasiswi Program Studi Agama-Agama kampus C dan Kampus E semester 6 dengan didampingi oleh 2 dosen pembimbing, yaitu Al-Ustadz Dr. Hifni Nasif, S.Th.I., M.Ag. dan Al-Ustadz Mohammad Djaya Aji Bima Sakti, M.Ag.

Adapun tujuan dari kunjungan ini adalah untuk memperluas pemahaman mahasiswi terhadap kehidupan keagamaan melalui pengamatan langsung terhadap tempat praktik ibadah, simbol – simbol keagamaan, serta nilai-nilai yang diyakini oleh pemeluk agama yang dikunjungi. Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menghubungkan teori yang dipelajari di ketika perkuliahan dengan kehidupan nyata beragama di Masyarakat Lombok.

Kunjungan ini dapat menumbuhkan sikap objektif, kritis, dan toleransi

Kunjungan ini dapat menumbuhkan sikap objektif, kritis, dan toleransi berprinsip terhadap keberagamaan dengan memahami cara pandang agama satu sama lain dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan ini, mahasiswi diharapkan mampu menghargai perbedaan keyakinan, membangun hubungan yang harmonis, serta menjaga kerukunan antarumat beragama agar terhindar dari suatu perselisihan. Hal terpenting sebagai mahasiswi Unida Gontor yang memiliki cara pandang ‘Worldview Islam’. Dengan itu bisa menjadi bekal juga dukungan dalam perencanaan kegiatan-kegiatan dakwah interreligious kedepannya.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan mahasiswi Universitas Darussalam Gontor diterima dengan baik di Pura Lingsar oleh Bapak Gilang, yaitu selaku pemandu wisata di Pura tersebut.

Awal mula kemaliq Lingsar

Awal mula kemaliq Lingsar muncul karena adanya Masyarakat Bali yang berjumlah kurang lebih 80 orang yang mendatangi daerah Lombok, rombongan tersebut berasal dari Karangasem dan mendarat di Pantai Barat Dekat Gunung Pengsong. Pura ini didirikan pada tahun 1714 Masehi oleh Anak Raja Agung Ketut Karangasem, dan disebarluaskan oleh Ayahnya.

Setiap orang yang hendak memasuki pura wajib mengenakan selendang sebagai tanda penghormatan dan penjagaan kesucian tempat tersebut. Perbedaan agama tidak menjadi penghalang toleransi antarmanusia, bahkan dapat menjadi sarana saling belajar antara satu agama dan agama lain. Pura ini dimiliki oleh umat Hindu, tetapi terbuka bagi siapa saja untuk beribadah sesuai keyakinannya masing-masing, selama tidak membuat gaduh atau merusak tempat tersebut.

Dalam kegiatan studi ini, Mahasiswa Program SAA UNIDA Gontor melaksanakan SPL ke Pura Lingsar untuk mendiskusikan tentang sikap toleransi yang dipahami oleh Masyarakat dan menelaah relevansinya dengan apa yang sudah dipelajari di kelas.  Pemateri di dalam Pura tersebut menjelaskan banyak seputar sikap umat Hindu dan umat Muslim dalam kehidupan yang plural.

Seperti dalam Telaga Air Kulhu di Pura Lingsar

Seperti dalam Telaga Air Kulhu di Pura Lingsar, disana terdapat sebuah telaga yang diberi nama telaga keberuntungan. Bagaimana cara menghormati telaga tersebut? Yaitu dengan cara melemparkan sebuah uang koin ke dalam telaga tersebut dengan membalikkan badan berlawanan arah dengan telaga sehingga posisi badan membelakangi telaga tersebut. Masyarakat setempat mempercayainya setelah melempar koin tersebut akan mendapat keberuntungan jika diniatkan dengan niat yang sungguh-sungguh.

Jika koin itu masuk ke dalam telaga tersebut, maka dipercaya sebagai keberuntungan. Tentu sebagai seorang muslim kita tidak boleh percaya begitu saja, namun tetap menghormati kepercayaan yang ada. Dikutip dari Fajar, mengatakan bahwasannya “Siapapun dapat melemparkan koin ke dalam telaga tersebut. Kita sebagai muslim juga diperbolehkan jika kita mempercayainya. Tidak ada hari dan waktu yang ditentukan. 24 jam akan beroperasi terus menerus. Begitu juga dengan cara berdoa di Pura Lingsar. Siapapun diperbolehkan untuk berdoa disana. Di Kemaliq Lingsar tempatnya.” Itu salah satu sikap yang menurut kami bukan dalam bagian toleransi berprinsip, karena untuk menghargai, kita tidak perlu mengikuti. Selain itu, disana terdapat pemangku adat yang bernama Ibu Sabnir yang biasa menjadi pemimpin do’a dikala seseorang akan berdo’a di Kemaliq tersebut.

Kegiatan ini menggali pengetahuan tentang faktor yang membuat tradisi bersama tetap bertahan karena adanya kombinasi kuat antara nilai spiritual, Sejarah, dan komitmen sosial masyarakat lokal di Lombok. Dikutip dari Fajar, mengatakan bahwasannya ada beberapa faktor utama yang membuat harmoni dan tradisi tersebut berdiri kokoh. Seperti pada upacara Pujawali, upacara umat Islam yang merayakan ulang tahun wali songo dan perang Ketupat. Atau dalam Kawasan daerah Lombok disebut Perang Topat.

Perang Topat dan Pujawali

Perang Topat dan Pujawali diadakan setahun sekali. Bagi umat Hindu, upacara ini disebut Odalan, yaitu peringatan hari ulang tahun Pura Lingsar. Tradisi tersebut menjadi salah satu faktor bertahannya tradisi bersama antara umat Hindu dan Islam. Pembahasan mengenai tradisi ini penting dalam membentuk sikap toleransi antarumat beragama pada diri seseorang. Tradisi ini juga layak dikaji lebih lanjut dan lebih mendalam melalui paradigma worldview Islam.

Pura Lingsar menyimpan sejarah dan tradisi lintas keyakinan. Keberadaannya menunjukkan bahwa kerukunan tidak berarti menyamakan atau membenarkan ajaran agama satu sama lain. Setiap agama memiliki keyakinan, prinsip, dan tata cara ibadah yang berbeda. Karena itu, menghormati pemeluk agama lain tidak harus dengan mengakui kebenaran ajarannya. Pura Lingsar menjadi ruang untuk mengkaji bagaimana perbedaan keyakinan dapat hidup berdampingan tanpa mencampuradukkan akidah. Dengan demikian, nilai pentingnya adalah toleransi berprinsip, sembari tetap berpegang teguh pada keyakinan yang dianut.

Kontributor : Qoribah, Tim Dokumentasi SPL

Editor : Johansyah, Faza

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles