Dalam tradisi intelektual Islam, kegiatan mengunjungi, mempelajari, dan menelaah ritual peribadatan serta kepercayaan agama lain telah diwariskan ulama terdahulu. Dalam karya-karya ulama Muslim terdahulu, terdapat al-Tahqiq ma li al-Hind, karya Abu Rayhan al-Biruni. Karya tersebut memetakan beragam kepercayaan, ritual, dan peribadatan masyarakat Hindu secara heresiografis. Contoh lainnya dapat ditemukan dalam magnum opus Syahrastani yang berjudul al-Milal wa al-Nihal.
Sebagai bagian integral dari wacana Islamisasi Ilmu Pengetahuan, mahasiswi Program Studi Studi Agama-Agama mengadakan kunjungan dan penelitian. Kegiatan ini menyasar sejumlah tempat peribadatan yang identik dengan kultur dan budaya lokal, seperti klenteng. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjaga warisan intelektual Islam dalam bidang studi ini.

Sebagai bagian dari kegiatan SPL, 47 mahasiswi SAA Universitas Darussalam Gontor bersama dua dosen pembimbing mengunjungi Klenteng Po Hwa Kong. Kunjungan tersebut dilaksanakan pada 17 Oktober 2026. Kegiatan ini bertujuan memperoleh informasi langsung mengenai tradisi dan kepercayaan masyarakat Tionghoa. Selain itu, mahasiswi mengamati unsur-unsur ritual keagamaan serta memahami hubungan praktik keagamaan dengan kehidupan sosial budaya masyarakat.
Edward B. Tylor, melalui bukunya Primitive Culture, menjelaskan eratnya hubungan budaya dengan kepercayaan masyarakat lokal. Kepercayaan tersebut terus mengalami adaptasi dan penyesuaian seiring perkembangan masyarakat.
Fenomena serupa dapat diamati di Lombok secara umum, termasuk di Klenteng Po Hwa Kong secara khusus. Kebiasaan masyarakat lokal sangat memengaruhi agama dan praktiknya ketika agama tersebut bersumber dari kesepakatan serta kepercayaan lokal.
Kunjungan ke Klenteng Po Hwa Kong memberikan pengalaman baru bagi mahasiswi dalam mengenal tradisi dan kepercayaan masyarakat Tionghoa. Klenteng ini dapat dikunjungi masyarakat dari berbagai agama di Indonesia. Hal tersebut menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.
Melalui kunjungan ini, pengunjung dapat melihat, mengenal, dan mempelajari budaya yang terdapat di dalam klenteng tersebut.

10 Dewa di Dalam klenteng Po Hwa Kong
Di dalam klenteng terdapat sepuluh dewa yang masing-masing dipercaya berkaitan dengan hajat atau keinginan tertentu. Pengunjung yang datang biasanya memiliki tujuan dan harapan masing-masing sesuai dengan keinginan yang ingin disampaikan. Selain itu, terdapat kertas berwarna kuning yang digunakan sebagai bagian dari ritual dan dibakar dalam proses peribadatan. Jika berdasarkan pada apa yang sering diketahui, praktik mengkultuskan para dewa memang terjadi diberbagai tempat lainnya, namun perbedaan mencolok kadang sering muncul sebagai karakteristik agama disuatu wilayah, sama seperti penjelasan diatas.
Masih berkaitan dengan kepercayaan, masyarakat yang menjalankan tradisi-tradisi di klenteng tersebut mempercayai bahwa api dan asap menjadi penghubung antara manusia dengan Tuhan. Maka dari itu, di bagian atas klenteng juga terdapat gantungan yang bentuknya menyerupai lampion. Gantungan tersebut berisi hajat atau keinginan yang disampaikan oleh pengunjung, terutama berkaitan dengan usaha dan harapan agar keinginannya dapat segera terkabul.
Namun karena tidak adanya aturan detail mengenai kegiatan peribadatan, dari segi waktu operasional, klenteng ini dapat dikunjungi sepanjang hari. Pengunjung dapat berasal dari mereka yang berkepentingan melakukan ibadah, kunjungan tourist hingga penelitian atau studi seperti yang kami lakukan. Selain hal itu, klenteng juga menjaga potensi ekonominya dengan menyediakan kotak sumbangan dalam rangka mendukung operasionalnya.
Melalui kunjungan ini, kita dapat mengetahui bahwa klenteng bukan hanya tempat untuk beribadah, tetapi juga menjadi tempat untuk mengenal tradisi dan kepercayaan yang masih dijaga oleh masyarakat. Pengalaman ini mengajarkan kita untuk lebih terbuka dalam memahami perbedaan agama dan budaya, serta menghormati cara setiap masyarakat menjalankan tradisinya masing-masing.
Klenteng Po Hwa Kong – 17 Oktober 2026
Kontributor : Tim Redaksi SPL, Tim Dokumentasi SPL
Editor : Johansyah, Faza