Date:

Share:

Menolak Lupa Sejarah: Napak Tilas Perjuangan Trimurti PMDG di Tanah Minangkabau

Related Articles

PADANG Keluarga besar Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menggelar Napak Tilas Perjuangan Trimurti di Bumi Minang pada Senin(17/11). Kegiatan sehari penuh itu menjadi penanda komitmen untuk menjaga ingatan kolektif tentang jejak intelektual dan perjuangan para pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG).

Rombongan yang terdiri dari para alumni, peserta Konferensi Wakaf Internasional, serta pimpinan pondok dalam Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG) memulai perjalanan dari Istana Gubernur Sumatera Barat. Apel pelepasan dipimpin oleh Ketua IKPM Sumatera Barat Buya Marfendi, Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil., Prof. Dr. K.H. Husnan Bey Fananie, M.A., dan Gubernur Sumatera Barat H. Mahyeldi Ansharullah, S.P., M.M.

Dalam sambutannya, Kiai Hamid menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar kunjungan sejarah, tetapi sarana menguatkan sanad keilmuan PMDG. “Napak tilas ini untuk mengenang sanad keilmuan PMDG,” ujar beliau.

Tujuan pertama rombongan adalah Perguruan Thawalib Padang Panjang. Gerimis dan kabut yang menyelimuti kawasan itu tidak mengurangi kekhidmatan agenda. Para peserta disambut dengan tari Minang, lalu diajak menelusuri Museum dan Galeri Tokoh Thawalib.

Dalam pertemuan di auditorium, Prof. Dr. Abrar, M.Ag., Ketua Yayasan Thawalib Padang Panjang, memaparkan keunikan sistem pendidikan Thawalib di era awal abad ke-20. “Pondok Thawalib ini memiliki keunikan, para santri yang belajar juga menjadi guru, saat itu sekitar tahun 90-an,” tutur beliau.

Kiai Hamid kemudian menyampaikan kembali sepotong sejarah perjuangan Trimurti dalam mencari ilmu. “Gontor merupakan lembaga pendidikan holistik yang mencakup Ilmu, iman, dan amal,” kata beliau. Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor tersebut juga menekankan pentingnya peran alumni pesantren dalam pemerintahan dan pembangunan bangsa.

Dijelaskan pula bahwa Tanah Minang menjadi salah satu pusat gerakan pembaharuan Islam pada awal abad ke-19, bersamaan dengan munculnya modernisme Islam di Mesir. Karena belum mendapat kesempatan belajar di Kairo, Kiai Imam Zarkasyi memilih Sumatera Barat sebagai tempat mendalami ilmu dan sistem pendidikan modern. Langkah itu dinilai berani, mengingat masyarakat Jawa saat itu lebih lazim menuntut ilmu ke Tebuireng atau Tremas.

Perjalanan dilanjutkan ke Rumah Gadang almarhumah Ibu Rabiah; istri K.H. Zainuddin Fananie di Payakumbuh yang kini telah direnovasi. Di sana, Buya Marfendi menyinggung sosok Zaenuddin dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Hamka, yang terinspirasi dari nama salah satu Trimurti Gontor.

Prof. Dr. K.H. Husnan Bey Fananie turut membagikan kisah perjuangan Kiai Zainuddin Fananie dan Ibu Rabiah di tanah Minang. “Kita mempersiapkan manusia-manusia yang siap dipakai ketika Indonesia merdeka,” ucap beliau.

Rombongan kemudian berziarah ke Mandam Perkuburan, makam Ibu Hj. Rabiah. Kiai Husnan, yang merupakan cucu Kiai Zainuddin, memimpin doa dalam suasana haru dan penuh penghormatan.

Melalui rangkaian tapak tilas ini,diharapakan generasi muda tidak melupakan sejarah perjalanan Trimurti dalam menuntut ilmu dan membangun PMDG. Semangat belajar lintas pulau, dari Jawa hingga Sumatera, menjadi teladan bagi santri dan alumni agar terus memperjuangkan pendidikan dan kontribusi bagi Indonesia.

(Kontributor: Staf Sekretaris Pimpinan PMDG, Editor: Biro Hubungan Masyarakat PMDG)

Related Articles:

Konferensi Wakaf Internasional Tunjukkan Sinergi Gontor dan Sumatera Barat

Menjelang Puncak Peringatan 100 Tahun PMDG, Badan Wakaf PMDG Selenggarakan Sidang Ke-96 di Tanah Minang

Syukuri 90 Tahun Eksistensi Pondok, 100 Kader Gontor Menapaktilasi Perjuangan Trimurti pada Masa Pemberontakan PKI 1948

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles