MADUSARI — Al-Ustadz H. Bachtiar Nasir, Lc., M.M. mengunjungi Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kampus 2 dalam rangka Seminar Santri Nasional yang menjadi bagian dari rangkaian Peringatan 100 Tahun Gontor. Kehadiran da’i nasional tersebut menjadi momentum istimewa, mengingat ia merupakan alumni PMDG sekaligus tokoh yang dikenal luas dalam bidang dakwah dan kajian Al-Qur’an.
Seminar ini diikuti oleh para ketua lembaga PMDG, guru-guru Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) dari seluruh kampus PMDG, mahasiswa Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, serta peserta dari sejumlah perguruan tinggi lainnya. Antusiasme peserta mencerminkan besarnya perhatian terhadap tema yang diangkat, yakni integrasi iman, inovasi, dan nasionalisme dalam menghadapi tantangan era digital.

Acara dibuka oleh Ketua Umum Peringatan 100 Tahun Gontor, Al-Ustadz Assoc. Prof. Dr. Khoirul Umam, M.Ec. Dalam sambutannya, ia menjelaskan makna penggunaan istilah peringatan alih-alih perayaan dalam menyambut satu abad Gontor. Menurutnya, pilihan istilah tersebut merupakan arahan Pimpinan PMDG agar peristiwa bersejarah ini dimaknai sebagai momentum syukur dan muhasabah, bukan euforia semata.
“Kata yang dipilih oleh Gontor adalah peringatan, bukan perayaan. Peringatan mengajak kita untuk bersyukur agar tidak kufur dan bermuhasabah: apa yang telah dilakukan generasi awal, apa yang kita lakukan hari ini di usia 100 tahun, serta ke mana arah perjuangan Gontor di abad kedua nanti,” ujar beliau.

Dalam sesi utama, Al-Ustadz H. Bachtiar Nasir menegaskan bahwa kekuatan utama yang menjaga keberlangsungan PMDG hingga mencapai usia satu abad adalah iman yang kokoh, keikhlasan, serta keterikatan yang kuat dengan Al-Qur’an. Menurutnya, tanpa iman, umat Islam akan mudah dilemahkan oleh berbagai agenda negatif, baik dari luar maupun dari dalam.
Beliau menambahkan, keberhasilan Gontor melintasi seratus tahun perjalanan bukan semata hasil ikhtiar manusia, melainkan buah dari pertolongan dan karunia Allah SWT yang terus dijaga melalui nilai-nilai dasar pondok.

Ustadz Bachtiar juga menyoroti relevansi Panca Jiwa sebagai cetak biru kepemimpinan santri di era digital. Keikhlasan, kata beliau, menjadi fondasi agar aktivitas di ruang digital tidak terjebak pada pencarian popularitas dan keuntungan material. Kesederhanaan berfungsi sebagai penangkal budaya hedonisme dan pamer di media sosial. Sementara itu, kemandirian menjadi syarat penting dalam membangun kedaulatan, termasuk kedaulatan digital.
“Kebebasan berpikir dan berinovasi harus tetap dibingkai oleh etika dan nilai Islam. Semua itu diperkuat oleh ukhuwah dan semangat kebangsaan, agar santri hadir sebagai perekat umat dan bangsa,” ujar beliau.

Di akhir pemaparannya, Ustadz Bachtiar menegaskan bahwa nasionalisme santri adalah nasionalisme yang berakar dari iman. Santri Gontor dididik untuk mencintai bangsa dan negara secara tulus, siap berkorban demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta memiliki integritas moral dalam menghadapi kekuasaan.
Seminar Santri Nasional ini ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan cenderamata sebagai bentuk apresiasi atas pemaparan yang dinilai inspiratif dan relevan dalam menjawab tantangan dakwah serta kepemimpinan santri di era digital.
Kontributor: Halimul, Faruk, Ilham, Syarfan, Zenan
Editor: Rifky Yulian, Winka, Alif
Related Articles:
Semangat Sportivitas Menggema pada Seremoni Pembukaan Gontor 2 Championship