Suasana khidmat menyelimuti Apel Tahunan Pekan Perkenalan Khutbatu-l-‘Arsy. Ahad (26/04) menjadi saksi sejarah, pembuka langkah 101 tahun Gontor. Rangkaian acara dimulai dengan upacara pengibaran bendera, inspeksi barisan dan amanat pemimpin upacara.
Dalam momen penting ini, berbagai atraksi kreasi santri turut memeriahkan acara, tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukatif yang memperkenalkan nilai-nilai kehidupan pondok, khususnya santri baru.

Penampilan yang ditampilkan dalam rangkaian acara ini antara lain: Marching Band Gema Nada Darussalam (MBGND), puisi, pertunjukan bertema Bhinneka Tunggal Ika, hingga tari-tarian daerah dari berbagai penjuru Nusantara.
Salah satu segmen yang paling mencuri perhatian dalam Apel Tahunan adalah penampilan Bhinneka Tunggal Ika. Dalam penampilan ini, santri dari beragam latar budaya dan daerah menampilkan tarian khas mereka secara kolaboratif. Uniknya, penari tidak selalu berasal dari daerah asal tarian tersebut. santri dari Jakarta tampil membawakan tari Kecak dari Bali, sementara santri dari Sumatera membawakan tarian khas Indonesia Timur. Hal ini mencerminkan semangat persatuan dalam keberagaman yang menjadi ciri khas Gontor.

Dengan mengusung moto “Pesantren melahirkan santri yang tangguh, menciptakan peradaban yang utuh” tangguh dalam setiap keadaan, mampu membina bangsa, guna menciptakan peradaban yang utuh.
Khutbatu-l-‘Arsy tidak hanya menjadi ajang seremonial, melainkan juga momen penting bagi para santri baru untuk meneguhkan niat mereka dalam menuntut ilmu. Sementara bagi santri lama, ini adalah kesempatan untuk memperbarui semangat dan komitmen dalam menjalani kehidupan pesantren yang penuh perjuangan dan pendidikan.
Kontributor : Tim Dokumentasi PMDG
Editor : Johansyah