Setiap masuk bulan Agustus, pemandangan sekitar menjadi khas. Warna merah dan putih ada di mana-mana. Dari halaman rumah yang rapi, gang-gang sempit yang biasanya sepi, sampai gedung sekolah dan perkantoran. Suara pengeras bersahut-sahutan dengan lagu perjuangan dan gelak tawa anak-anak yang ikut lomba kerupuk atau panjat pinang.
Rasanya seru. Dan untuk beberapa hari, kita seperti diingatkan kembali, “Oh iya, kita punya bangsa bersama bernama Indonesia!”

Merdeka Yang Terasa Biasa
Delapan puluh satu tahun lalu, para pendahulu kita bertaruh segalanya seperti, harta, keluarga, bahkan nyawa hanya demi satu hal yang hari ini terasa begitu biasa bagi kita: hidup sebagai orang merdeka, menjadi Indonesia. Mereka memperjuangkan masa depan yang bahkan sebagian dari mereka tak sempat mencicipinya.
Maka rasanya sayang sekali kalau kemerdekaan cuma kita peringati sebagai acara saban tahun: pasang bendera, ikut upacara, lomba seru-seruan, lalu setelah tanggal 17 lewat, semuanya kembali seperti biasa.
Kita tampaknya sudah sadar dengan penyataan bahwa hari ini musuh tidak lagi datang naik kapal perang atau bawa senjata. Dahulu yang ditaklukkan adalah wilayah dan sumber daya. Hari ini yang diserang adalah cara berpikir dan isi kepala kita.
Lihatlah masa kini! Kita hidup di zaman yang serba ada. Mau tahu apa saja, tinggal buka HP. Tapi anehnya dengan melimpahnya informasi yang masuk, kita mendadak “tahu” banyak hal tapi jarang benar-benar memahaminya. Judul berita menggantikan isi tulisan, potongan video pendek mengalahkan fakta utuh, dan kolom komentar berubah jadi arena saling sikat. Yang viral sering kali dianggap mutlak benar tanpa mencari tahu apa yang terjadi di baliknya.
Di titik ini, merdeka ternyata bukan soal bebas membicarakan apa saja. Merdeka yang lebih sulit justru adalah kemampuan untuk menahan diri. Tahu kapan harus diam, kapan harus membaca lebih jauh, dan berani mengakui bahwa bisa jadi kita belum tahu apa-apa. Tampaknya persoalan merdeka perlahan bergeser. Bukan lagi soal negara, tapi soal kita sendiri.
Bersuara Yang Tidak Suka
Demokrasi memang butuh orang yang berani bersuara, tapi bangsa ini juga sedang krisis orang yang mau mendengar. Kita boleh beda pilihan politik, boleh tak suka kebijakan pemerintah, boleh mengkritik habis-habisan kekuasaan. Itu wajar. Yang tidak perlu adalah mengubah perbedaan itu jadi alasan untuk merendahkan martabat orang lain.
Anak-anak muda tahun 1928 pernah mencontohkan hal yang sederhana tapi dalam. Persatuan yang lahir bukan karena semua orang menjadi satu corak. Mereka tetap orang Jawa, Sumatra, Sulawesi, Ambon, dan lain sebagainya. Tapi mereka sepakat menempatkan perbedaan itu di bawah satu hal yang lebih besar: Indonesia.
Negeri ini terbentang dari Sabang sampai Merauke. Selama berjalan di atas dasar negara yang sama, perbedaan suku, budaya, maupun perbedaan pendapat tidak boleh dijadikan alasan untuk menghakimi martabat orang lain.
Indonesia Adalah Rumah Bersama
Indonesia adalah rumah bersama. Mencintainya bukan berarti kita harus berakting seolah segalanya baik-baik saja. Kita semua tahu, ada banyak hal yang sedang tidak baik-baik saja. Ekonomi yang makin berat untuk rakyat kecil, ketimpangan yang makin njomplang, kegaduhan politik yang tak ada habisnya, sampai urusan korupsi yang rasanya diputar berulang-ulang seperti kaset rusak.
Tapi bahaya terbesarnya bukan cuma karena keburukan itu ada. Bahaya terbesarnya adalah kalau kita masyarakatnya mulai terbiasa dan menganggapnya wajar.
“Yah, mau bagaimana lagi, dari dulu juga begitu.”
Kalimat pendek ini justru berbahaya. Begitu keburukan dianggap maklum, kita sebetulnya sedang menyerah. Padahal, perjuangan menjaga republik ini tidak selalu terjadi di gedung DPR atau istana presiden. Perjuangan itu justru ada di tempat-tempat yang sangat biasa.
Seorang warga yang memilih menahan diri untuk tidak menyebarkan berita bohong sedang menjaga kemerdekaan pikirannya. Seorang pekerja yang menolak mengambil apa yang bukan haknya sedang menjaga kemerdekaan jiwanya. Seorang anak muda yang bisa berbeda pendapat tanpa membenci sedang merawat “rumah” bersamanya.
Menemukan Merdeka yang Sederhana
Dari sini, makna merdeka terasa jadi lebih sederhana: bukan bebas melakukan apa saja sekehendak hati, tapi bebas untuk memilih yang benar. Bebas dari kebohongan yang ingin kita percayai, bebas dari kebencian yang membuat manusia lupa cara menghargai sesama, dan bebas dari hawa nafsu yang membuat diri selalu merasa kurang.
Kemerdekaan jenis ini memang tidak ada panggungnya. Tidak ada bendera yang dikibarkan saat kita memilih untuk jujur. Tidak ada tepuk tangan meriah saat kita menahan diri untuk tidak ikut-ikutan mencaci. Tapi dari hal-hal kecil itulah, karakter sebuah bangsa sebetulnya sedang dibentuk.
Maka di usianya yang ke-81 ini, kita tetap harus bergembira. Kibarkan bendera, nyanyikan lagu perjuangan, berkumpul dengan sesama, dan melangitkan doa untuk mereka yang sudah gugur dalam perjuangan bangsa. Kemerdekaan itu memang wajib dirayakan.
Tapi begitu perayaan selesai dan umbul-umbul mulai dilepas, tersisa satu pertanyaan yang akan terus menggantung dan menunggu untuk kita jawab sendiri-sendiri:
“Setelah 81 tahun terbebas dari penjajah, apakah kita sudah benar-benar jadi manusia yang merdeka?”