Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), memperingati malam 1 Muharram 1448 Hijriah dalam suasana khidmat dan penuh makna, Senin (16/6), di Balai Pertemuan Pondok Modern. Kegiatan tersebut menjadi momentum penting seluruh keluarga Pondok untuk memahami makna hijrah secara lebih mendalam serta menyusun langkah perbaikan diri pada tahun yang baru.
Dalam kesempatan tersebut, Al-Ustadz Syahrudin, S.H.I., M.Sc. Fin., Ph.D. (Cand.), selaku pemateri menjelaskan bahwa hijrah tidak dapat dimaknai sebatas perubahan penampilan atau kebiasaan lahiriah. Menurutnya, hijrah merupakan perubahan batin yang mengarahkan seseorang menuju kehidupan yang lebih baik.
Sementara itu, Drs. K.H. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed., memberikan nasehat akan pentingnya perbaikan diri di setiap kesalahan yang telah kita lakukan selama ini. Beliau menerangkan bahwa kesalahan yang telah kita lakukan tidak selalu harus di sesali, perbaikan itulah yang harusnya diperlukan.
“Tahun Baru Hijriah adalah tahun baru Islam. Oleh karena itu, kita menyikapi Tahun Baru Hijriah ini sebagai starting point bagi kita untuk membuat rencana baru pada tahun yang akan datang. Kita tidak membanggakan yang sudah terjadi, tetapi kita ingin memperbarui dan memperbaiki yang ada. Kita tidak menyesali sesuatu yang sudah terjadi, tetapi kita menghindari hal yang tidak kita inginkan untuk menuju kepada sesuatu yang betul kita tuju, guna mendapatkan nilai yang lebih baik lagi.”
Pada kesempatan yang sama, K.H. Hasan Abdullah Sahal menekankan pentingnya memiliki identitas sebagai seorang Muslim. Menurutnya, seluruh ajaran dalam Al-Qur’an ditujukan untuk membentuk manusia yang lebih baik. Beliau juga mengingatkan santri agar menjaga niat, menjauhi kezaliman, serta membiasakan tadabur dan tasyakur dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama agar seluruh santri menjadikan tahun baru Hijriah sebagai momentum memperkuat ibadah, akhlak, serta semangat menuntut ilmu sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT.
Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) menggelar Diskusi Umum bagi Siswa Akhir KMI 2027 Impervious Generation pada Ahad malam (14/6), di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM). Kegiatan tersebut mengangkat tema “AI-Based Learning Media: A Positive Impact or A Path Toward an Instant Generation?” dan diikuti seluruh siswa kelas 6 KMI, guru pembimbing, serta delegasi lembaga pengembangan literasi santri, yakni FP2WS, Itqan Group, dan Darussalam Pos.
Berbeda dengan pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya, diskusi kali ini menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Yusuf Praba bertindak sebagai pemakalah, sedangkan Faza Fawza menjadi pembanding. Keduanya membahas pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam dunia pendidikan, termasuk peluang dan tantangan yang menyertainya.
Dalam pemaparannya, Faza menegaskan bahwa AI pada dasarnya merupakan alat yang dapat memberikan dampak positif maupun negatif. Semua ini bergantung pada cara penggunaannya, “AI tidak dapat dikatakan baik atau buruk. Dampaknya ditentukan oleh bagaimana pelajar memanfaatkannya, apakah untuk mendukung proses belajar atau justru mengurangi daya pikir kritis,” ujarnya.
Diskusi berlangsung interaktif dengan melibatkan berbagai pandangan dari peserta. Sejumlah isu yang dibahas antara lain efektivitas AI sebagai media pembelajaran, potensi ketergantungan teknologi, serta pentingnya menjaga kemampuan berpikir mandiri di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Melalui kegiatan ini, PMDG berupaya menumbuhkan budaya berpikir kritis serta keterampilan mengambil keputusan berdasarkan argumentasi yang logis. Kompetensi tersebut dinilai penting sebagai bekal bagi santri dalam kehidupan berorganisasi maupun bermasyarakat di masa mendatang.
Diskusi Umum Kelas 5 yang diselenggarakan di Aula Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), Sabtu (13/6). Pada kesempatan yang berharga ini bertemakan“Revitalisasi Disiplin Tanpa Menghilangkan Nilai yang Menjadi Kekuatan Pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG).” Kegiatan ini menjadi wadah bagi santri untuk mengembangkan daya pikir kritis melalui pertukaran gagasan mengenai berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan pondok.
Forum tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada santri kelas 5, bahwa pembentukan karakter santri masa kini dapat melalui pendekatan yang lebih relevan dengan perkembangan zaman. Muhammad Jahid selaku pembanding menegaskan bahwa sistem pendidikan Gontor terus berkembang tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasarnya.
“Pondok ini sudah berpindah dari sistem fisik menuju penanaman nilai melalui pemahaman yang didasari oleh kesadaran diri sendiri (dhomir),” ujarnya.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh santri kelas 5 PMDG, serta delegasi dari beberapa sektor non-OPPM. Keterlibatan sektor-sektor tersebut dinilai penting karena perannya sebagai wadah pengembangan budaya literasi di kalangan santri. Dengan demikian, diskusi tidak hanya menjadi sarana bertukar pendapat, tetapi juga memperluas wawasan dan meningkatkan kualitas literasi peserta.
Diskusi berlangsung dengan lancar dan mendapat apresiasi dari Ustadz Nazeh Masyhudi Subari, Lc., selaku guru senior PMDG sekaligus pembimbing kegiatan. Beliau menilai para pemakalah telah menunjukkan persiapan yang baik dalam membaca serta menyampaikan materi. Selain itu, beliau menekankan pentingnya kedisiplinan waktu dan kemampuan moderator dalam mengelola jalannya forum. “Melihat fenomena dari santri tidak hanya menduga dari sudut pandang sendiri,” pesannya.
Melalui kegiatan ini, santri diharapkan mampu memahami berbagai tantangan yang dihadapi generasi saat ini serta memperkuat implementasi nilai-nilai pondok, seperti ketaatan, tanggung jawab, ketertiban, kesederhanaan, dan pengendalian diri, melalui keteladanan, dialog edukatif, serta pemanfaatan teknologi secara bijaksana.
Kontributor : Zulfahmi, Hafidzan, Azhar, Fotografi Kelas 5
Kabar membanggakan, delegasi Gontor berhasil meraih Juara II dalam Kompetisi Debat Bahasa Arab Internasional yang diselenggarakan di Singapura. Prestasi tersebut semakin lengkap dengan raihan tiga penghargaan Best Speaker yang menunjukkan kemampuan bahasa Arab, daya pikir kritis, dan kualitas argumentasi para santri di tingkat internasional.
Keberhasilan ini merupakan hasil pembinaan intensif yang dipimpin oleh Al-Ustadz Fariz Istiqlal Harahap, S.I.Kom., Di bawah bimbingannya, para santri dibekali kemampuan debat, public speaking, serta penguasaan bahasa Arab yang menjadi modal utama dalam kompetisi. Beliau sendiri memiliki rekam jejak prestasi yang kuat, di antaranya Juara I Debat Bahasa Arab Nasional dan Best Speaker Nasional.
Dalam ajang yang diikuti peserta dari berbagai negara tersebut, kontingen Gontor tampil percaya diri dengan menyampaikan argumentasi yang sistematis dan berbasis data. Penampilan mereka mendapat apresiasi dari dewan juri maupun peserta internasional.
Prestasi ini menjadi bukti bahwa pendidikan pesantren mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu keislaman, tetapi juga kompetitif di forum akademik global. Selain mengikuti perlombaan, para santri juga mengibarkan Merah Putih di sejumlah lokasi ikonik di Singapura sebagai simbol kebanggaan mewakili Indonesia.
Fariz Istiqlal Harahap mengungkapkan rasa syukurnya atas capaian tersebut. Menurutnya, prestasi ini bukan hanya milik Gontor, melainkan juga Indonesia. Ia berharap keberhasilan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi para pelajar dan santri untuk terus mengembangkan kemampuan bahasa asing serta berani berkompetisi di tingkat internasional.
Dengan Juara II Internasional dan tiga gelar Best Speaker, santri Gontor kembali menorehkan prestasi yang mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia.
Impervious English Seminar sukses diselenggar selama tiga hari, mulai Rabu (10/6) hingga Jumat (12/6). Kegiatan yang diwajibkan bagi seluruh siswa kelas 6 tersebut menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan motivasi berbahasa Inggris sekaligus memperkuat peran santri senior sebagai teladan bagi adik-adik kelasnya.
Seminar ini diselenggarakan dengan tujuan membangun kesadaran para siswa kelas akhir akan pentingnya penguasaan bahasa asing. Sebagai santri tingkat akhir, mereka diharapkan mampu menjadi contoh dalam penggunaan bahasa sehari-hari serta menciptakan lingkungan yang mendukung budaya berbahasa di pesantren.
Selama pelaksanaannya, peserta mendapatkan materi dari sejumlah pemateri yang membahas berbagai aspek pengembangan diri dan kepemimpinan. Pada sesi pertama, Ustadz Eko Nur Cahyo menyampaikan pentingnya bahasa sebagai sarana membangun kepercayaan diri dan kepemimpinan. Menurutnya, generasi emas lahir dari pemuda yang mempersiapkan diri dengan baik sejak dini.
Sesi berikutnya diisi oleh Ustadz Ahmad Saefullah yang mengajak peserta untuk terus mengembangkan diri melalui semangat belajar, kerja keras, manajemen diri yang baik, serta membangun lingkungan pertemanan yang positif. Beliau juga menekankan pentingnya mengiringi setiap usaha dengan tawakal kepada Allah SWT.
Sementara itu, pada sesi terakhir, Ustadz Khoirul Umam menegaskan bahwa bahasa Inggris saat ini bukan lagi sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan. Kemampuan berbahasa Inggris dinilai menjadi salah satu keterampilan penting yang harus dimiliki generasi muda untuk menghadapi perkembangan dunia yang semakin kompetitif.
Melalui seminar ini, para santri diharapkan semakin termotivasi untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, memperluas wawasan, serta mempersiapkan diri menjadi generasi yang percaya diri, berdaya saing, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Salah satu nasihat sangat dalam dari KH Akrim Mariyat dalam kemisan guru PMDG “Jangan jadi orang yang merasa besar atau merasa bisa. Semuanya itu dari Allah.” Kalimat ini mungkin pendek, tetapi jika direnungkan, ia mampu menjadi penawar bagi banyak penyakit hati yang sering tidak kita sadari.
Dalam perjalanan hidup, terlebih dalam dunia pendidikan dan pengabdian, sering kali seseorang mulai merasa bahwa keberhasilan yang diraih adalah hasil dari dirinya sendiri. Ketika diberi amanah, ia merasa dirinya penting. Ketika diberi ilmu, ia merasa lebih tahu. Ketika diberi kemampuan, ia merasa lebih mampu. Padahal, semua itu hanyalah titipan Allah yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali.
Falsafah Jawa menyebutnya dengan istilah adigang, adigung, adiguna; merasa kuat karena kekuasaan dan tenaganya, merasa besar karena kedudukan dan pengaruhnya, serta merasa paling mampu karena ilmu dan kecerdasannya. Padahal seorang mukmin diajarkan untuk selalu menyadari bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Diwajibkannya Shalat 5 Kali Sehari.
Karena itulah Allah mewajibkan shalat lima kali sehari. Di dalam shalat, manusia dilatih untuk melepaskan semua kebesaran dirinya. Saat mengucapkan Allahu Akbar, ia mengakui bahwa yang Maha Besar hanyalah Allah. Saat rukuk, ia menundukkan dirinya. Saat sujud, ia meletakkan bagian tubuh yang paling mulia di atas tanah. Seakan Allah mengajarkan bahwa setinggi apa pun manusia, pada hakikatnya ia tetap seorang hamba.
Kesadaran inilah yang seharusnya tumbuh dalam kehidupan pondok. Di pondok ini, sesungguhnya tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain dalam urusan pengabdian. Kita semua adalah hamba Allah yang sedang diberi kesempatan untuk beribadah melalui jalan yang berbeda-beda. Ada yang mengajar, ada yang mengurus administrasi, ada yang mengelola kegiatan, ada yang menjaga kebersihan, ada yang mengurus santri, ada yang memimpin, dan ada yang dipimpin. Semuanya adalah bentuk ibadah.
Maka banyaknya tugas tidak menjadikan seseorang lebih mulia. Banyaknya amanah tidak menjadikan seseorang lebih utama. Kesibukan bukan ukuran kemuliaan. Jabatan bukan ukuran keberhasilan. Sebab semua itu hanya sarana.
Yang menjadi ukuran di sisi Allah adalah keikhlasan.
Karena itu, tidak ada alasan untuk saling berebut pengakuan. Tidak perlu merasa paling sibuk. Tidak perlu merasa paling berjasa. Tidak perlu merasa bahwa pondok berdiri karena diri kita. Sebab sebelum kita datang, pondok ini sudah ada. Dan ketika kita pergi, pondok ini akan tetap berjalan dengan pertolongan Allah.
PMDG Bukan Milik Siapa-Siapa
Pondok ini bukan milik siapa-siapa. Pondok ini milik Allah. Kita semua hanyalah musafir yang diberi kesempatan singgah sejenak untuk mengabdi. Amanah yang kita pegang hari ini hanyalah titipan. Tugas yang kita jalankan hanyalah kesempatan untuk beramal. Kesibukan yang kita rasakan hanyalah ladang untuk mengumpulkan pahala.
Maka yang perlu kita jaga bukan sekadar kualitas pekerjaan, tetapi kebersihan niat. Sebab boleh jadi ada pekerjaan kecil yang nilainya besar di sisi Allah karena dikerjakan dengan ikhlas. Sebaliknya, boleh jadi ada pekerjaan besar yang menjadi sia-sia karena dicampuri rasa bangga terhadap diri sendiri.
Pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling banyak bekerja, tetapi siapa yang paling tulus dalam bekerja. Bukan tentang siapa yang paling terlihat, tetapi siapa yang paling diterima amalnya. Bukan tentang siapa yang paling berjasa, tetapi siapa yang paling ikhlas.
“Di pondok ini jangan berlomba menjadi yang paling sibuk, tetapi berlombalah menjadi yang paling ikhlas. Jangan berlomba menjadi yang paling terlihat, tetapi berlombalah menjadi yang paling diterima amalnya oleh Allah.”
Semoga Allah menjaga hati kita dari sifat adigang, adigung, dan adiguna. Semoga Allah menjadikan setiap langkah pengabdian ini sebagai ibadah yang diterima, dan menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa sadar bahwa semua yang kita miliki, semua yang kita lakukan, dan semua yang kita capai hanyalah karena pertolongan-Nya.
وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ
Tidak ada keberhasilan bagiku melainkan dengan pertolongan Allah. (QS. Hud: 88)
Dalam tausiahnya, Ustadz Abdul Somad menyoroti peran Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) sebagai perekat persatuan umat Islam. Beliau menyampaikan bahwa dirinya berasal dari Sumatera, sementara Ustadz Das’ad Latif berasal dari Makassar dan Al-Ustadz Luqmanul Hakim berasal dari Kalimantan. Menurut beliau, ketiga wilayah besar tersebut memiliki latar belakang dan sejarah yang berbeda, namun pada malam itu seluruh elemen umat dapat berkumpul dalam satu majelis yang sama. Karena itu, beliau menyebut Gontor sebagai perekat umat yang mampu menyatukan berbagai kalangan, suku, dan daerah dalam bingkai ukhuwah Islamiyah.
Beliau juga mengungkapkan luasnya persebaran alumni PMDG. Menanggapi pertanyaan mengenai keberadaan alumni Gontor di suatu daerah. Beliau menegaskan bahwa pertanyaan yang tepat bukanlah apakah ada alumni Gontor di Papua atau wilayah tertentu, melainkan di mana tempat yang belum memiliki alumni Gontor. Menurutnya, para alumni Gontor telah mengabdikan diri di berbagai daerah Indonesia bahkan di berbagai negara di dunia.
Pentingnya Bangun Pagi
Pada kesempatan tersebut, Ustadz Abdul Somad turut mengingatkan pentingnya kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kebiasaan bangun pagi. Beliau menyoroti bahwa banyak orang mampu menyelesaikan pendidikan hingga jenjang sarjana, magister, bahkan doktor, memperoleh skor tinggi dalam berbagai ujian kemampuan bahasa, serta meraih banyak prestasi, tetapi masih kesulitan untuk membiasakan diri bangun pagi. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa produktivitas dan kualitas hidup yang baik sering kali berawal dari kebiasaan memanfaatkan waktu pagi dengan optimal. Menurut beliau, tidur yang baik adalah tidur pada malam hari dan memulai aktivitas sejak pagi.
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa PMDG tidak semata-mata mencari peserta didik. Gontor hadir sebagai lembaga pendidikan yang berupaya menyelamatkan generasi muda melalui pembinaan karakter, penanaman nilai-nilai keislaman, serta pendidikan yang berorientasi pada pengabdian kepada umat. Oleh karena itu, para orang tua diharapkan memberikan perhatian yang serius terhadap pendidikan anak-anak mereka.
Artinya: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik dan tercantum dalam Shahih al-Bukhari serta Shahih Muslim. Hadis tersebut menjadi pengingat pentingnya membangun persaudaraan, kepedulian, dan rasa saling mencintai di antara sesama muslim.
Menutup tausiahnya, Ustadz Abdul Somad memberikan motivasi kepada para santri dan jamaah agar tetap istiqamah dalam menjalani perjuangan hidup. Beliau menyampaikan bahwa dalam setiap perjalanan akan ada masa-masa sulit dan penuh kepahitan. Namun, berbagai kesulitan tersebut pada akhirnya akan berubah menjadi kenangan yang manis dan indah. Hasil dari sebuah perjuangan sering kali menghadirkan kebahagiaan yang begitu mendalam hingga sulit diungkapkan dengan kata-kata, karena kata-kata terlalu terbatas untuk menggambarkan besarnya nikmat yang diberikan Allah SWT.
Dalam rangkaian Tabligh Akbar Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) di Lapangan Hijau PMDG pada Senin (08/06). Kesempatan tersebut diisi Al-Ustadz Luqmanulhakim, alumni Gontor tahun 2003 asal Pontianak, menyampaikan tausiah inspiratif tentang kekuatan doa orang tua, perjuangan hidup, dan pentingnya berbagi untuk kemaslahatan umat. Beliau dikenal sebagai da’i nasional sekaligus pelopor Gerakan Sedekah Akbar Indonesia dan Gerakan Infaq Beras (GIB).
Mengawali tausiahnya dengan gaya yang hangat dan penuh humor, beliau mengungkapkan rasa harunya dapat kembali ke Gontor. Dengan nada bercanda, beliau menyebut dirinya seperti seekor singa yang kembali ke kandangnya lalu menjadi kucing, menggambarkan kedekatan emosionalnya dengan almamater tercinta.
Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa kesuksesan seorang santri tidak terlepas dari doa kedua orang tua“Santri yang sukses adalah berkat doa seorang ibu dan ayah,” ujarnya.
Beliau juga menceritakan masa sulit yang dialaminya setelah pulang dari Malaysia pada tahun 2012 tanpa membawa banyak harta dan bahkan menghadapi berbagai fitnah. Kepeduliannya muncul saat melihat sebuah pesantren yang hanya mampu menyediakan beras pecah dan berkutu bagi para santri. Dari pengalaman tersebut lahirlah Gerakan Infaq Beras yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Sedekah Akbar Indonesia dan telah membantu ribuan pesantren serta santri di berbagai daerah.
Menutup tausiahnya, Ustadz Luqmanulhakim mengajak para santri untuk terus bersungguh-sungguh dalam belajar, menjaga keikhlasan, serta meyakini kekuatan doa dan amal kebaikan. Menurutnya, dengan doa orang tua, semangat menuntut ilmu, dan keteguhan dalam berjuang, setiap santri memiliki kesempatan untuk menjadi pribadi yang bermanfaat dan melanjutkan perjuangan dakwah bagi umat di masa depan.
Dalam rangkaian Tabligh Akbar Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor yang diselenggarakan pada Senin, 8 Juni 2026 di Lapangan Hijau PMDG, Al-Ustadz Muhammad Fakhurrazi Anshar, B.Sh., M.A., Ph.D., alumni Gontor tahun 2008, menyampaikan pesan-pesan yang sarat dengan nilai keikhlasan, pengabdian, dan pentingnya menjaga kesinambungan amal saleh.
Mengawali penyampaiannya, beliau mengingatkan bahwa segala pencapaian yang diraih oleh para alumni dan keluarga besar Gontor pada hakikatnya merupakan buah dari keberkahan para guru. Kesuksesan seseorang tidak dapat dilepaskan dari jasa para pendidik yang telah menanamkan ilmu, nilai, dan keteladanan sepanjang perjalanan hidupnya.
Dalam konteks ini, beliau mengutip hadis Rasulullah ﷺ:
Man dalla ‘alā khairin falahū mitslu ajri fā‘ilih.
“Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menggambarkan besarnya pahala yang diperoleh para guru dan pendidik. Setiap ilmu yang diajarkan dan diamalkan oleh murid akan terus mengalirkan pahala kepada orang yang mengajarkannya. Gontor, menurut beliau, telah mengajarkan kebaikan yang dibalut dengan keikhlasan, sekaligus menanamkan amal saleh yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Beliau juga menegaskan bahwa seluruh jamaah yang hadir dalam acara tersebut datang untuk mencari ilmu. Ilmu yang diperoleh, apabila diamalkan, akan berubah menjadi amal saleh yang terus berkembang dan menghasilkan kebaikan-kebaikan berikutnya. Dengan demikian, kehadiran dalam majelis ilmu bukanlah sesuatu yang sia-sia, melainkan investasi amal yang dampaknya dapat melampaui batas usia manusia.
Dalam refleksinya mengenai satu abad perjalanan Gontor, beliau menyebut bahwa usia 100 tahun merupakan pencapaian yang sangat besar. Selama satu abad, Gontor telah memberikan pengaruh yang luas bagi bangsa Indonesia melalui kader-kadernya yang tersebar di berbagai bidang kehidupan. Para alumni dan keluarga besar Gontor hadir dan berjuang di berbagai lini, mulai dari pendidikan, dakwah, birokrasi, akademik, sosial kemasyarakatan, hingga berbagai sektor strategis lainnya untuk kemaslahatan bangsa.
pentingnya menjaga hubungan dengan Allah
Pada kesempatan tersebut, beliau mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan Allah melalui doa yang diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ kepada sahabat Mu‘adz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu.
Sebelum mengajarkan doa tersebut, Nabi ﷺ bersabda:
يَا مُعَاذُ، إِنِّي أُحِبُّكَ فِي اللهِ
Yā Mu‘ādzu, innī uḥibbuka fillāh.
“Wahai Mu‘adz, sungguh aku mencintaimu karena Allah.”
Man qāla: Subḥānallāhi wa biḥamdih fī yaumin mi’ata marratin, ḥuṭṭat khaṭāyāhu wa in kānat mitsla zabadil-baḥr.
“Barang siapa mengucapkan ‘Subhānallāhi wa biḥamdih’ seratus kali dalam sehari, maka dihapuskan dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Di penghujung materinya, beliau menekankan pentingnya totalitas dalam menjalani kehidupan di Gontor. Totalitas tidak hanya dituntut dari para santri, tetapi juga dari para ustadz dan seluruh elemen pondok. Semangat pengabdian yang diwariskan para pendiri Gontor harus terus dijaga agar nilai-nilai keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan tetap hidup dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi-generasi berikutnya.
Seratus tahun Gontor bukan sekadar penanda usia sebuah lembaga pendidikan, melainkan bukti nyata bagaimana keikhlasan, ilmu, dan pengabdian dapat melahirkan pengaruh yang luas bagi umat dan bangsa. Pesan yang disampaikan Al-Ustadz Muhammad Fakhurrazi Anshar mengingatkan bahwa setiap kebaikan yang diajarkan, setiap ilmu yang diamalkan, dan setiap pengabdian yang dilakukan dengan ikhlas akan terus hidup dalam estafet amal saleh yang tidak pernah terputus.
Dalam Tabligh Akbar Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) yang digelar di Lapangan Hijau PMDG pada Senin, (08/06) , Al-Ustadz Dr. H. Das’ad Latif, S.Sos., S.Ag., M.Si., Ph.D. menyampaikan tausiah yang menggugah kesadaran tentang pentingnya mempersiapkan kehidupan setelah kematian. Dengan gaya khas yang lugas dan menyentuh, beliau mengajak jamaah untuk tidak hanya memikirkan kehidupan dunia, tetapi juga kehidupan yang akan dijalani di alam kubur dan akhirat.
Beliau memberikan ilustrasi sederhana tentang seseorang yang merantau ke negeri lain. Jika tidak merasa nyaman, ia masih memiliki kesempatan untuk kembali ke kampung halamannya. Namun ketika seseorang telah memasuki alam kubur, tidak ada lagi pilihan untuk kembali atau berpindah tempat. Karena itu, masa hidup di dunia harus digunakan sebaik-baiknya untuk mempersiapkan bekal bagi kehidupan yang kekal.
Bekal tersebut, menurut beliau, dapat berupa amalan yang pahalanya terus mengalir setelah kematian. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a.)
pentingnya membina generasi yang saleh dan salehah
Berangkat dari hadis tersebut, beliau menekankan pentingnya membina generasi yang saleh dan salehah. Menurutnya, banyak orang tua yang lebih bangga ketika anaknya berhasil meraih jabatan atau kekayaan, padahal anak yang saleh jauh lebih berharga bagi kehidupan akhirat orang tuanya. Ketika seseorang telah wafat, bukan sahabat, pasangan, ataupun relasi yang terus-menerus mendoakannya, melainkan anak-anaknya yang saleh.
Selain membangun generasi yang baik, beliau juga mengajak jamaah untuk gemar bersedekah. Harta dan kekayaan dunia pada akhirnya tidak akan dimiliki selamanya. Oleh sebab itu, sebagian rezeki yang dimiliki hendaknya digunakan untuk kepentingan umat, termasuk membantu para santri yang sedang menuntut ilmu. Bahkan jika tidak memiliki banyak harta, seseorang tetap dapat bersedekah melalui tenaga, ilmu, keterampilan, maupun kemampuan yang dimilikinya demi kemajuan pondok dan dakwah Islam.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengingatkan pentingnya memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Shalawat merupakan salah satu amalan yang mendatangkan keberkahan, ketenangan, dan kemudahan dalam berbagai urusan. Semakin dekat seseorang dengan Rasulullah ﷺ melalui shalawat, semakin besar pula harapannya untuk memperoleh rahmat dan pertolongan Allah SWT.
Menutup tausiahnya, Ustadz Das’ad Latif mengajak jamaah untuk tidak ragu dalam berbuat kebaikan dan bersedekah. Beliau mengingatkan hadis qudsi yang berbunyi, أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي (“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku”). Karena itu, setiap muslim hendaknya berbaik sangka kepada Allah dan yakin bahwa setiap pengorbanan di jalan kebaikan akan diganti dengan karunia yang lebih baik. Di penghujung acara, beliau memanjatkan doa agar memasuki abad kedua perjalanannya, Gontor semakin maju, semakin bermanfaat bagi umat, serta tetap menjadi mercusuar pendidikan Islam untuk generasi-generasi mendatang.