Date:

Share:

Meneladani Jejak Aṣḥābu al-Jāwī; Perjuangan Ilmu dan Peradaban Via Laut Jawa

Related Articles

Man salaka ṭarīqan yaltamisu fīhi ‘ilman, sahhalallāhu lahu ṭarīqan ilā al-jannah merupakan sebuah hadith yang dapat dipilih sebagai representasi dari awal perjalanan singkat namun padat kali ini. Studi Pengayaan Lapangan (SPL) adalah program yang diikuti mahasiswa dan mahasiswi semester 6 Prodi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor. Program ini bertujuan memberikan tambahan informasi dan pengalaman kepada para pesertanya. Selain itu, SPL juga dirancang untuk membekali mereka dengan kompetensi dasar dan khusus. Program ini memiliki kegiatan unik untuk mengawali perjalanannya. Menjejak dan meneladani kisah para ulama nusantara dalam perjuangan mencari ilmunya dari negara kesatuan ini, menuju jazirah arab nan suci. Dari ombak Laut Jawa, samudera sekitarnya, hingga Gurun Sahara.

Aṣḥābu al-Jāwī

“Aṣḥābu al-Jāwī” adalah sebutan yang dilekatkan pada para tokoh luar biasa, putra bangsa sekaligus generasi pejuang dakwah Islam. Para tokoh ini dikenal luas di tanah san’a, baik melalui karya-karyanya yang anggun maupun kecerdasan intelektualnya. Sebutan “Aṣḥābu al-Jāwī” sendiri diambil dari nama Laut Jawa, tempat para ulama berangkat dan memulai perjalanannya.

Para ulama ini berdarah asli Nusantara dan memiliki capaian ilmu yang mendunia. Mereka disebut “Ashhabu al-Jawi”, yakni orang-orang yang berasal dari Laut Jawa. Di antara contohnya adalah Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Abdus Shamad al-Palimbani, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, dan ulama lainnya.

Sebagian pihak berpendapat bahwa istilah tersebut merujuk pada orang-orang Jawa. Namun, dalam beberapa literatur, istilah itu lebih dekat dengan penyebutan laut ketimbang pulau atau etnis. Hal ini mengingat Nusantara adalah gugusan ribuan pulau dengan lautan yang sangat luas, sebagaimana dijelaskan Tiar Anwar Bachtiar dalam bukunya.

“Perjalanan kita bukan sekedar acara perpindahan dari satu daerah ke daerah yang lain, ada alasan mengapa kita menggunakan akses kapal. Salah satunya adalah upaya kita untuk merasakan atmosfir perjuangan intelektual dan meneladaninya, karena dulu ulama kita juga menggunakan kapal” Demikian muqoddimah yang diberikan oleh M. Djaya Aji Bima Sakti, sebagai pembimbing kegiatan.

Kalimat Atmosfir Diatas Bukan Sekedar Pemanis Kata

Kalimat atmosfir diatas bukan sekedar pemanis kata, melainkan hasil dari pengamatan antusiasme dan semangat para peserta sejak masa persiapan hingga lama perjalanan- sehari semalam. “Ada kaitan yang erat antara laut dan ilmu, bagaimana Allah selalu menggunakan laut sebagai salah satu kebesaran ciptaan-Nya yang menyisakan ruang refleksi dalam diri” begitu tambah Bima dalam acara diskusi kala itu. “Ulama kita pada zaman dahulu memiliki visi dan misi dalam sebuah perjalanan, yaitu pencarian ilmu. Jadi kita juga harus demikian, mengingat kembali tujuan, menambah kesabaran dan semangat untuk menggali lebih dalam” ucap Hifni Nasif, sebagai pembimbing lainnya.

Pada akhirnya, ragam pengalaman dan tambahan informasi kami dapatkan dalam rangkaian perjalanan ini. Kemudahan datang setelah kesulitan, dan hal itu benar-benar terwujud dalam sehari semalam kemarin. Kami membayangkan bagaimana sulitnya ulama zaman dulu, tanpa teknologi dan fasilitas yang sudah jauh lebih lengkap dan berkembang saat ini. Niat yang kuat, tekad yang bulat, disiplin yang ketat, dan ikhtiar yang sungguh-sungguh menjadikan mereka pewaris peninggalan Rasulullah Saw. Orang yang benar-benar sukses bukan hanya mereka yang menjadi pintar, melainkan mereka yang mampu memintarkan orang lain. Ja’alanallāhu wa iyyākum minal ladzīna yastami’ūnal qaula fa yattabi’ūna aḥsanah.

Laut Jawa- 16 Oktober 2026

Kontributor : Mohammad Djaya Aji Bima Sakti, M.Ag, Tim Dokumentasi SPL

Editor : Johansyah, Faza

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles