Home Blog Page 149

Melatih Kemandirian untuk Totalitas Kehidupan

0

Memiliki anak baik lagi saleh tentunya merupakan harapan banyak orang tua di dunia. Melalui didikan dan kasih sayang seorang ibu, anak diharapkan memiliki pemahaman dan pengendalian emosi yang baik dalam menghadapi berbagai situasi dan kondisi masyarakatnya. Begitu pula melalui disiplin yang diberikan seorang ayah; anak diharapkan mampu menetapkan skala prioritas dari apa yang penting dan tidak penting. Hal tersebut akan membentuk anak sebagai pribadi yang memiliki mental kemandirian.

 

Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan lembaga pendidikan dengan para orang tua  yang sudah ikhlas menitipkan putra putrinya untuk mengenyam pendidikan di pondok ini, berhasil memberikan totalitas bagi dinamika kehidupan seluruh penghuninya.

 

Totalitas pendidikan di PMDG dapat dilihat dengan kehidupan yang berjalan; mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur. Bahkan proses tidurnya para santri juga merupakan bagian dari pendidikan di Pondok.

 

Santri-santri PMDG dididik dan dibiasakan untuk mengurusi kebutuhan sehari-hari secara mandiri. Dimulai sejak bangun tidur, merapikan kasur, melipat dan menata dengan rapi, bertanggung jawab atas kerapian dan kebersihan lemari masing-masing, dan lain-lain.

 

Urusan sekolah, para santri diajarkan untuk menyiapkan peralatan mereka di malam hari agar ketika pagi datang, mereka tidak lagi repot mencari peralatan sekolah. Mereka juga dibiasakan mengatur waktu dengan baik, menghitung dan memperkirakan waktu yang diperlukan untuk mandi, makan, berolahraga, belajar, berangkat ke kelas, masjid dan lain-lain. Ini merupakan pendidikan manajemen waktu yang bukan hanya diajarkan tetapi juga dilatih dan dibiasakan.

 

Pendidikan kemandirian juga dilakukan melalui pembiasaan santri dalam hal mengatur keuangan dengan baik. Mengatur pengeluaran untuk SPP, uang jajan, keorganisasian dan kebutuhan pribadi lainnya, dengan tetap mengikuti disiplin serta aturan yang diterapkan pondok. Salah satunya, santri tidak diperbolehkan membawa uang dalam jumlah banyak,  uang harus disimpan di tabungan santri sebagai fasilitas di Kantor Administrasi (ADM). Lagi-lagi, ini merupakan pendidikan bagi santri yang bermanfaat bagi kehidupan mereka ke depannya.

 

Inilah yang dinamakan dengan BERDIKARI dalam Panca Jiwa PMDG; yaitu dapat menjadi pribadi yang mandiri. Dengan adanya sistem pendidikan berasrama, yang artinya santri jauh dari orang tua, sehingga santri terdorong untuk terus berusaha menjadi mandiri. Hal inilah yang nantinya dapat berpengaruh besar kepada mereka, yaitu tumbuhnya mental seorang pemimpin generasi penerus bangsa yang siap untuk mewujudkan cita-cita sebagai generasi Mundzirul Qoum yang mandiri untuk agama, bangsa dan negaranya.

Oleh : Abdurrahman

Editor : Riza Ashari, M. Pd.

 

Related Articles :

Wakaf Sebagai Penyangga Kemandirian

Kepramukaan di Gontor Sebagai Wadah Disiplin dan Kemandirian Santri

Tingkatkan Rasa Kemandirian Santri Baru, Gontor Adakan Perkajum

Korelasi Puasa, Haji, dan Qurban

0

Oleh: Muhammad Badrun Syahir, M.A.

(Wakil Pengasuh Gontor Putri Kampus 3, Dosen FU Unida Gontor)

Ada yang menarik ketika kita mencoba mencermati korelasi spiritual antara ibadah qurban, haji, dan ibadah puasa. 

Dengan karakteristik masing-masing ternyata ketiganya memiliki satu kesatuan poros. Semuanya menjadi tepat sasaran; berdaya guna dan berhasil guna jika taqwa menjadi poros pijakan dan tujuannya.

Ibadah puasa (Ramadhan) yang sejatinya bukan sekedar menahan diri dari haus dan lapar menjadi jalan penghantar menggapai sikap mental dan potensi taqwa. La’allakum tattaqun.. Yaitu dengan meninggalkan segala sesuatu yg sejatinya dibolehkan dan menjauhi segala sesuatu yg memang dilarang hanya karena mengaharap ridha Allah swt.

Sebagai sebuah ibadah multi dimensi; fisik (jasadiyah), jiwa/ruh (ruhiyah) dan harta (maliyah) dalam menunaikan ibadah haji ternyata bekal yang musti dipersiapkan agar dapat mencapai kemabruran adalah taqwa; fa inna khairaz zadi at taqwa (… maka sebaik-baik bekal itu adalah taqwa) (Q.S. Albaqarah: 197). 

Demikian pula halnya dengan ibadah qurban. Sebagai sebuah persembahan kepada Tuhan (Allah) yang telah menganugerahi kelapangan rizki, ternyata yang kemudian sampai dan diterima Allah bukanlah wujud dari persembahan itu, melainkan nilai keihlasan dan ketaqwaan yang terkandung dalam persembahan (qurban) itu.

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

Artinya: “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (Q.S. Al-Hajj: 37)

…اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-ma’idah: 27)

Taqwa sebagai kekuatan spiritual merupakan pijakan  amal ibadah, sekaligus buah yg musti dipetik dalam setiap tanaman amal kebaikan.  Wallahu a’lam…

Semarak Gebyar Idul Adha

0

KARANGBANYU –  Demi menyemarakkan suasana Idul Adha, Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Putri Kampus 3 mengadakan kegiatan Gebyar Idul Adha. Kegiatan ini merupakan kegiatan pendidikan dengan perlombaan sebagai medianya. Harapannya, kegiatan ini bisa menjadi instrument peningkatan kreativitas santriwati.

Suasana Lomba Folksong Antarangkatan

Panitia membagi perlombaan dalam tiga divisi; antarrayon, antarangkatan dan antarkonsulat. Jenis lomba antarrayon, antara lain ; lomba menghias rayon dan lomba fashion show dengan tema casual dan wedding. Untuk divisi antarangkatan jenis perlombaannya adalah lomba folk song dan lomba membuat pamphlet. Sedangkan lomba untuk divisi antarkonsulat adalah lomba bercerita kisah para nabi.

Selasa (20/7), usai menunaikan sholat Idul Adha, ingar bingar gelaran gebyar Idul Adha menggema di setiap sudut komplek PMDG Putri Kampus 3. Panitia kurban sibuk dengan hewan kurbannya, auditorium begitu riuh dengan sorakan dan tawa penonton yang antusias menyaksikan lomba folk song dan lomba cerita para nabi. Di waktu yang bersamaan, para pengurus rayon dan anggotanya tampak gelisah, harap-harap cemas, menunggu kedatangan para juri untuk memberikan penilaian.

            Dari perlombaan tersebut, diperoleh para juara sebagai berikut:

  1. menghias rayon                       : Rayon Andalusia B
  2. fashion show casual                : Gedung Syiria Lantai 2
  3. fashion show wedding            : Gedung Lahore
  4. bercerita kisah para nabi          : Konsulat Jatabek
  5. folk song                                 : Siswi Kelas 4
  6. membuat pamflet                    : Siswi Kelas 3 Intensif

Menciptakan Kader Kepemimpinan Dalam Kegiatan Gladian Pinsa-Pinru

0

MANTINGAN- Pendidikan yang ada di Gontor itu 100% nya Ilmu Agama dan 100% Ilmu Umum. Dan pendidikan tidak hanya terdapat dikelas saja, melainkan kita dapat mendapatkan banyak pengalaman ketika berada diluar kelas. Salah satu kegiatan di Gontor yaitu Kepramukaan, yang mana didalam kegiatan tersebut kita diajarkan untukj mempunyai sifat Kepemimpinan dan Bertanggung Jawab. Dengan adanya tujuan seperti itu, maka Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 2 mengadakan acara Gladian Pimpinan Sangga (Pinsa) dan Pimpinan Regu (Pinru). Yang dilaksanakan pada Kamis- Jum’at, 19-20 Dzulhijjah 1442/19-30 Juli 2021.

Acara ini dibuka oleh Bapak Wakil Pengasuh, Al-Ustadz Moh. Alwi Yusron, M.A lalu dilanjutkan dengan acara yang dikoordinasi oleh Koordinator Gerakan Pramuka dan beberapa panitia diambil dari Kelas 5. Adapun pemberian materi kepada para peserta Gladian Pinsa-Pinru, guna mengetahui dinamika kepramukaan.

Keseruan serta keantusiasan para peserta menjadi salah satu warna yang indah dalam acara tersebut. Beberapa peserta mendapatkan predikat tersemangat dalam mengikuti acara tersebut. Dengan diadakannya acara ini semoga para penerus kepramukaan dapat menjadikan pemimpinan yang tangguh serta bertanggung jawab. nadiela

Training Psychology bersama Al-Ustadzah Tistigar Sansayto, M.A

0

MANTINGAN- Menjadi kelas lima berarti menjadi penanggung jawab di rayon, yang mana harus mengayomi para anggota-anggota rayonnya. Bukan suatu hal yang mudah, namun para santriwati kelas lima harus melaluinya. Jika bukan karena rasa ikhlas dan tanggung jawab, maka hal ini akan terasa mudah.

Maka untuk menunjang tanggung jawab mereka di rayon, Gontor mangadakan sebuah pelatihan yang dinamakan “Training Psychology” bagi santriwati kelas lima. Kegiatan ini diikuti oleh para ketua rayon, bagian keamanan rayon, dan bagian peningkatan bahasa rayon. Acara ini sukses dilaksanakan pada hari Rabu, 28 Juli 2021 di Mini Hall dengan pembicara Al-Ustadzah Tistigar Sansayto.

Dengan adanya “Training Psychology” ini diharapkan para mudabbiroh di rayon-rayon dapat mengayomi para anggotanya, dan mendidik mereka dengan penuh keikhlasan. Dan juga agar para pengurus rayon dapat memahami karakter dan sifat setiap anggotanya.Fathya

Tingkatkan Kualitas Intelektual, Santriwati Kelas 5 Adakan Diskusi Umum

0

KARANGBANYU – Di antara tujuan pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) adalah kemasyarakatan. Banyak kegiatan yang sengaja Gontor ciptakan untuk memupuk jiwa kepedulian santri terhadap kondisi masyarakatnya. Salah satunya adalah kegiatan diskusi.  

Kegiatan diskusi diberlakukan untuk santri kelas 5 dan 6. Karena Gontor menganggap kedewasaan mereka sudah mulai matang. Sehingga sangatlah tepat untuk diberi stimulus dengan kegiatan ini. Dalam pelaksanaannya, tiap kelompok diskusi akan diberikan sebuah masalah. Kemudian, mereka akan bertukar pikiran secara ilmiah untuk menemukan solusinya.

Kegiatan diskusi di PMDG Putri Kampus 3, secara resmi telah dimulai dengan diadakannya acara diskusi umum. Diskusi umum kelas 5 diadakan pada hari Jum’at malam (30/7). Bertempat di auditorium, peserta diskusi membahas permasalahan yang sedang santer saat ini yaitu pandemi Corona, bertajuk “Sikap Santriwati Menghadapi Pandemi”

Acara dimulai pukul 20.00, diawali dengan perkenalan dua kelompok pemakalah oleh moderator. Tiap kelompok terdiri dari 3 santriwati. Anggota kelompok satu adalah Azzahra Desyuni (5B), Rafifah Zahirah (5B), Gelar Putri (5D). Sedangkan anggota kelompok dua adalah Aulia Habibie (5B), Mawar Ega (5E), Inayah Aqilah (5E).

KELOMPOK PEMAKALAH 1

Oleh moderator, masing-masing kelompok diminta untuk memaparkan makalahnya. Kemudian moderator menyilahkan beberapa peserta diskusi untuk memaparkan pula ide dan gagasannya. Notulen sigap mencatat setiap gagasan yang muncul dalam forum itu. Para peserta tampak antusias, hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya santriwati yang ingin menyampaikan ide pemikirannya. Hingga moderator pun dengan terpaksa membatasi mereka karena melihat waktu yang juga terbatas.

Hadir pula dalam acara tersebut, para ustadzah pembimbing kelas 5 dan asatidz senior. Di akhir acara, sebelum ditutup dengan doa, Al-Ustadz M. Badrun Syahir, Wakil Pengasuh PMDG Putri 3 memberikan catatan dan arahan atas jalannya kegiatan diskusi. Beliau juga menyampaikan beberapa nasihat sebagai konklusi dari diskusi para santriwati. Di antara nasihat beliau adalah bahwa hidup dan mati memanglah sudah ditentukan oleh Allah SWT, maka selama kita masih diamanahi untuk hidup, tugas kita adalah meningkatkan ibadah dan berikhtiar dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Diharapkan dengan diadakannya diskusi umum ini, santriwati kelas 5 mampu memecahkan sebuah permasalahan, menambah wawasan, melatih kemampuan berbicara dalam menyampaikan gagasan dan belajar menjadi pendengar yang baik. DzakiyahF

Nilai kesederhanaan dalam diri santri

0

Kehidupan  kesederhanaan tentu sangat erat kaitannya dengan pondok pesantren. Salah satu nilai yang terkandung dalam Panca Jiwa Pondok Modern Darussalam Gontor adalah nilai kesederhaan. Karena sudah termasuk dalam panca jiwa, maka otomatis jiwa ini selalu melandasi seluruh lini kehidupan di pesantren.

 

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raaf: 31)

 

Rasulullah SAW sebagai suri tauladan yang baik untuk umat muslim seluruh dunia pun telah mencontohkan gaya hidup sederhana, dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dikatakan bahwa keluarga Rasulullah sangat sederhana sehingga tidak berlebihan dalam hidup,

 

 عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خُبْزِ شَعِيرٍ يَوْمَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ حَتَّى قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Aisyah berkata: Keluarga Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam tidak pernah kenyang roti gandum dua hari berturut-turut hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam wafat. (Shahih Muslim)

 

Kehidupan santri yang tentram bersahaja jauh dari kata berlebihan. Dalam praktek kehidupan sehari-hari, seorang santri selalu tampil sederhana baik dalam berpakaian, bersikap, maupun bertutur kata. Pakaian yang digunakan tidak perlu memakai produk brand ternama, bahkan kebanyakan santri dan guru di Gontor lebih senang menggunakan produk asli konveksi Gontor. Tidur pun tak harus beralas kasur tebal, selimut hangat dengan berbantal lembut seperti fasilitas di hotel bintang 5, cukuplah suasana hangat kehidupan asrama yang berbalut ukhuwwah antar santri menjadikan asrama dengan kasur lipat tipis sebagai tempat paling nyaman untuk sejenak melepas penat. Begitupun dalam aspek lain kehidupan pesantren selalu sarat akan nilai kesederhanaan dan keikhlasan.

 

Berbagai disiplin pondok pesantren telah ditetapkan untuk mendidik santri agar senantiasa berkehidupan wajar tanpa melebih-lebihkan. Pakaian ditetapkan agar tetap sederhana sesuai alam pendidikan pondok, asrama sama untuk seluruh santri tanpa membeda-bedakan latar belakang, aturan lain yang telah ditetapkan oleh pondok pun tidak terlepas dari nilai kesederhanaan ini.

 

Sederhana tidak berarti pasif atau menerima begitu saja, tidak juga berarti miskin dan melarat. Justru dalam jiwa kesederhanan itu terdapat nilai-nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan dan penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup. Buah dari kesederhanaan ini adalah kesyukuran atas segala nikmat yang telah Allah limpahkan kepada kita.

Oleh : Alif Ahsanuddin

Editor : Muhammad Taufiq Affandi, M.Sc., dan Riza Ashari, M.Pd.

 

Related Articles :

Panca Jiwa

Panca Jiwa : Landasan Kehidupan Pondok Pesantren

Kesederhanaan Ala Gontor

Tasyakuran Idul Adha 1442 H, Wujud Kesyukuran Para Santriwati

0

Mantingan- Idul Adha tidak akan lengkap tanpa adanya tasyakuran atas selesainya Hari Raya ummat Islam ini. Karena bersyukur adalah wujud kecintaan kita terhadap Allah SWT. Selain dari tasyakuran, juga ada pembacaan laporan pertanggungjawaban Panitia Idul Adha yang dibacakan oleh Al- Ustadzah Ladzatul Mudawwamah, S.Pd dan dilanjutkan dengan sambutan dari Bapak Wakil Pengasuh Gontor Putri Kampus 2, Al- Ustadz Moh. Alwi Yusron, M.A.

Acara yang diselenggarakan pada Selasa, 27 Juli 2021 setelah maghrib ini dihadiri oleh seluruh Asatidz, Ustadzah dan seluruh anggota Extraordinary Generation serta shohibul-l-qurban yang telah meluangkan seluruh waktu, tenaga, dan perasaan untuk mensukseskan Hari Raya Idul Adha 1442 H di Gontor Putri Kampus 2 ini.

Setelah sambutan dari bapak wakil pengasuh, acara ini ditutup dengan do’a oleh Al-Ustadz Muhammad Fathan Aziz, M.A. selaku Bapak Wakil Direktur KMI Gontor Putri Kampus 2. Setelah penutupan, acara dilanjutkan dengan makan bersama yang terselenggara di 3 tempat, yakni di basement Masjid  Abbas Thalib bagi para Asatidz, di balai pertemuan untuk para Ustadzah, dan di lapangan basket lama untuk seluruh anggota Extraordinary Generation. Sofia

Keikhlasan: Kunci Kesuksesan Gontor

0

Panca Jiwa pertama yang melandasi kehidupan di Pondok Modern Darussalam Gontor adalah jiwa keikhlasan. Di Gontor banyak hal tidak bisa diukur dengan uang, totalitas dalam berkhidmah, keikhlasan dalam menjalankan tugas semua lillah.

Secara bahasa Ikhlas berarti ketulusan hati, adapun pengertian Ikhlas secara singkat adalah motivasi batin kearah beribadah kepada Allah serta membersihkan hati dari kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang tidak menuju kepada Allah. Jadi, bisa dipahami dari pengertian singkat diatas bahwa jiwa keikhlasan merupakan dorongan dari dalam diri kita untuk berbuat semata hanya karena Allah, tanpa mengharap balasan dari selain Allah dalam bentuk apapun, baik berupa pujian, pengakuan, atau materi. Semua yang kita lalukan semata hanya mengharap Ridho Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 162:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لالِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Q.S. Al-An’am : 162)

Ayat diatas merupakan perintah dari Allah SWT untuk mengerjakan segala sesuatu tanpa mengharap balasan atau imbalan kepada selain Allah. Itulah yang dimaksud ikhlas. KIta mengerjakan segala hal, sekecil apapun itu hanya untuk Allah SWT.

Semua lini di Gontor memegang teguh nilai dari Panca Jiwa tertinggi ini, mulai dari Kyai, Guru, Santri, hingga para Anshor. Trimurti pendiri Gontor sudah sejak zaman dahulu mewariskan keteladanan dari sifat luhur tersebut,  Trimurti mengikhlaskan tanah warisan untuk diwakafkan kepada umat dengan penuh keikhlasan.

Nilai keikhlasan inilah yang hingga kini membawa Gontor menjadi salah satu tujuan utama dalam menimba ilmu dan pendidikan. Guru di Gontor Ikhlas mendidik, mengajar, mengawasi, mengarahkan, serta mengevaluasi santri tanpa sedikitpun mengharap imbalan dari apa yang mereka berikan. Santri juga ikhlas dalam belajar, menerima segala ilmu dan pendidikan. Santri dan Guru tinggal bersama dalam satu lingkungan saling bahu membahu untuk bersama membantu pondok tanpa mengharap balasan selain Ke-Ridhoan Allah SWT.

Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe, begitulah slogan dari Trimurti pendiri pondok tentang keikhlasan, maknanya adalah aktif dan rajin kerja tanpa mengharapkan balasan ataupun pujian, bebas kepentingan. Ini gambaran untuk orang yang ikhlas berbuat untuk kemajuan pondok. Suasana pendidikan seperti ini yang sulit dicari di lembaga pendidikan lain, sangat sulit kita menemukan lembaga yang dimana guru mengajar dengan totalitas tanpa mendapat imbalan.

Suatu saat ada rombongan alumni dari luar negeri bertamu kepada KH. Hasan Abdullah Sahal dengan maksud ingin mendirikan lembaga pendidikan seperti Gontor di negara mereka, namun KH. Hasan Abdullah Sahal menjawab bahwa mendirikan pondok serupa Gontor disana itu mustahil, ada beberapa faktor yang mendasari pendapat beliau, salah satunya adalah karena sangat sulit mencari guru yang mau ikhlas mengajar tanpa diberi imbalan.

Oleh : Alif Ahsanuddin

Editor : Muhammad Taufiq Affandi, M.Sc., dan Riza Ashari, M.Pd.

 

Related Articles :

Panca Jiwa

Panca Jiwa : Landasan Kehidupan Pondok Pesantren