Kabar membanggakan, delegasi Gontor berhasil meraih Juara II dalam Kompetisi Debat Bahasa Arab Internasional yang diselenggarakan di Singapura. Prestasi tersebut semakin lengkap dengan raihan tiga penghargaan Best Speaker yang menunjukkan kemampuan bahasa Arab, daya pikir kritis, dan kualitas argumentasi para santri di tingkat internasional.
Keberhasilan ini merupakan hasil pembinaan intensif yang dipimpin oleh Al-Ustadz Fariz Istiqlal Harahap, S.I.Kom., Di bawah bimbingannya, para santri dibekali kemampuan debat, public speaking, serta penguasaan bahasa Arab yang menjadi modal utama dalam kompetisi. Beliau sendiri memiliki rekam jejak prestasi yang kuat, di antaranya Juara I Debat Bahasa Arab Nasional dan Best Speaker Nasional.
Dalam ajang yang diikuti peserta dari berbagai negara tersebut, kontingen Gontor tampil percaya diri dengan menyampaikan argumentasi yang sistematis dan berbasis data. Penampilan mereka mendapat apresiasi dari dewan juri maupun peserta internasional.
Prestasi ini menjadi bukti bahwa pendidikan pesantren mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu keislaman, tetapi juga kompetitif di forum akademik global. Selain mengikuti perlombaan, para santri juga mengibarkan Merah Putih di sejumlah lokasi ikonik di Singapura sebagai simbol kebanggaan mewakili Indonesia.
Fariz Istiqlal Harahap mengungkapkan rasa syukurnya atas capaian tersebut. Menurutnya, prestasi ini bukan hanya milik Gontor, melainkan juga Indonesia. Ia berharap keberhasilan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi para pelajar dan santri untuk terus mengembangkan kemampuan bahasa asing serta berani berkompetisi di tingkat internasional.
Dengan Juara II Internasional dan tiga gelar Best Speaker, santri Gontor kembali menorehkan prestasi yang mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia.
Impervious English Seminar sukses diselenggar selama tiga hari, mulai Rabu (10/6) hingga Jumat (12/6). Kegiatan yang diwajibkan bagi seluruh siswa kelas 6 tersebut menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan motivasi berbahasa Inggris sekaligus memperkuat peran santri senior sebagai teladan bagi adik-adik kelasnya.
Seminar ini diselenggarakan dengan tujuan membangun kesadaran para siswa kelas akhir akan pentingnya penguasaan bahasa asing. Sebagai santri tingkat akhir, mereka diharapkan mampu menjadi contoh dalam penggunaan bahasa sehari-hari serta menciptakan lingkungan yang mendukung budaya berbahasa di pesantren.
Selama pelaksanaannya, peserta mendapatkan materi dari sejumlah pemateri yang membahas berbagai aspek pengembangan diri dan kepemimpinan. Pada sesi pertama, Ustadz Eko Nur Cahyo menyampaikan pentingnya bahasa sebagai sarana membangun kepercayaan diri dan kepemimpinan. Menurutnya, generasi emas lahir dari pemuda yang mempersiapkan diri dengan baik sejak dini.
Sesi berikutnya diisi oleh Ustadz Ahmad Saefullah yang mengajak peserta untuk terus mengembangkan diri melalui semangat belajar, kerja keras, manajemen diri yang baik, serta membangun lingkungan pertemanan yang positif. Beliau juga menekankan pentingnya mengiringi setiap usaha dengan tawakal kepada Allah SWT.
Sementara itu, pada sesi terakhir, Ustadz Khoirul Umam menegaskan bahwa bahasa Inggris saat ini bukan lagi sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan. Kemampuan berbahasa Inggris dinilai menjadi salah satu keterampilan penting yang harus dimiliki generasi muda untuk menghadapi perkembangan dunia yang semakin kompetitif.
Melalui seminar ini, para santri diharapkan semakin termotivasi untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, memperluas wawasan, serta mempersiapkan diri menjadi generasi yang percaya diri, berdaya saing, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Salah satu nasihat sangat dalam dari KH Akrim Mariyat dalam kemisan guru PMDG “Jangan jadi orang yang merasa besar atau merasa bisa. Semuanya itu dari Allah.” Kalimat ini mungkin pendek, tetapi jika direnungkan, ia mampu menjadi penawar bagi banyak penyakit hati yang sering tidak kita sadari.
Dalam perjalanan hidup, terlebih dalam dunia pendidikan dan pengabdian, sering kali seseorang mulai merasa bahwa keberhasilan yang diraih adalah hasil dari dirinya sendiri. Ketika diberi amanah, ia merasa dirinya penting. Ketika diberi ilmu, ia merasa lebih tahu. Ketika diberi kemampuan, ia merasa lebih mampu. Padahal, semua itu hanyalah titipan Allah yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali.
Falsafah Jawa menyebutnya dengan istilah adigang, adigung, adiguna; merasa kuat karena kekuasaan dan tenaganya, merasa besar karena kedudukan dan pengaruhnya, serta merasa paling mampu karena ilmu dan kecerdasannya. Padahal seorang mukmin diajarkan untuk selalu menyadari bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Diwajibkannya Shalat 5 Kali Sehari.
Karena itulah Allah mewajibkan shalat lima kali sehari. Di dalam shalat, manusia dilatih untuk melepaskan semua kebesaran dirinya. Saat mengucapkan Allahu Akbar, ia mengakui bahwa yang Maha Besar hanyalah Allah. Saat rukuk, ia menundukkan dirinya. Saat sujud, ia meletakkan bagian tubuh yang paling mulia di atas tanah. Seakan Allah mengajarkan bahwa setinggi apa pun manusia, pada hakikatnya ia tetap seorang hamba.
Kesadaran inilah yang seharusnya tumbuh dalam kehidupan pondok. Di pondok ini, sesungguhnya tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain dalam urusan pengabdian. Kita semua adalah hamba Allah yang sedang diberi kesempatan untuk beribadah melalui jalan yang berbeda-beda. Ada yang mengajar, ada yang mengurus administrasi, ada yang mengelola kegiatan, ada yang menjaga kebersihan, ada yang mengurus santri, ada yang memimpin, dan ada yang dipimpin. Semuanya adalah bentuk ibadah.
Maka banyaknya tugas tidak menjadikan seseorang lebih mulia. Banyaknya amanah tidak menjadikan seseorang lebih utama. Kesibukan bukan ukuran kemuliaan. Jabatan bukan ukuran keberhasilan. Sebab semua itu hanya sarana.
Yang menjadi ukuran di sisi Allah adalah keikhlasan.
Karena itu, tidak ada alasan untuk saling berebut pengakuan. Tidak perlu merasa paling sibuk. Tidak perlu merasa paling berjasa. Tidak perlu merasa bahwa pondok berdiri karena diri kita. Sebab sebelum kita datang, pondok ini sudah ada. Dan ketika kita pergi, pondok ini akan tetap berjalan dengan pertolongan Allah.
PMDG Bukan Milik Siapa-Siapa
Pondok ini bukan milik siapa-siapa. Pondok ini milik Allah. Kita semua hanyalah musafir yang diberi kesempatan singgah sejenak untuk mengabdi. Amanah yang kita pegang hari ini hanyalah titipan. Tugas yang kita jalankan hanyalah kesempatan untuk beramal. Kesibukan yang kita rasakan hanyalah ladang untuk mengumpulkan pahala.
Maka yang perlu kita jaga bukan sekadar kualitas pekerjaan, tetapi kebersihan niat. Sebab boleh jadi ada pekerjaan kecil yang nilainya besar di sisi Allah karena dikerjakan dengan ikhlas. Sebaliknya, boleh jadi ada pekerjaan besar yang menjadi sia-sia karena dicampuri rasa bangga terhadap diri sendiri.
Pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling banyak bekerja, tetapi siapa yang paling tulus dalam bekerja. Bukan tentang siapa yang paling terlihat, tetapi siapa yang paling diterima amalnya. Bukan tentang siapa yang paling berjasa, tetapi siapa yang paling ikhlas.
“Di pondok ini jangan berlomba menjadi yang paling sibuk, tetapi berlombalah menjadi yang paling ikhlas. Jangan berlomba menjadi yang paling terlihat, tetapi berlombalah menjadi yang paling diterima amalnya oleh Allah.”
Semoga Allah menjaga hati kita dari sifat adigang, adigung, dan adiguna. Semoga Allah menjadikan setiap langkah pengabdian ini sebagai ibadah yang diterima, dan menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa sadar bahwa semua yang kita miliki, semua yang kita lakukan, dan semua yang kita capai hanyalah karena pertolongan-Nya.
وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ
Tidak ada keberhasilan bagiku melainkan dengan pertolongan Allah. (QS. Hud: 88)
Dalam tausiahnya, Ustadz Abdul Somad menyoroti peran Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) sebagai perekat persatuan umat Islam. Beliau menyampaikan bahwa dirinya berasal dari Sumatera, sementara Ustadz Das’ad Latif berasal dari Makassar dan Al-Ustadz Luqmanul Hakim berasal dari Kalimantan. Menurut beliau, ketiga wilayah besar tersebut memiliki latar belakang dan sejarah yang berbeda, namun pada malam itu seluruh elemen umat dapat berkumpul dalam satu majelis yang sama. Karena itu, beliau menyebut Gontor sebagai perekat umat yang mampu menyatukan berbagai kalangan, suku, dan daerah dalam bingkai ukhuwah Islamiyah.
Beliau juga mengungkapkan luasnya persebaran alumni PMDG. Menanggapi pertanyaan mengenai keberadaan alumni Gontor di suatu daerah. Beliau menegaskan bahwa pertanyaan yang tepat bukanlah apakah ada alumni Gontor di Papua atau wilayah tertentu, melainkan di mana tempat yang belum memiliki alumni Gontor. Menurutnya, para alumni Gontor telah mengabdikan diri di berbagai daerah Indonesia bahkan di berbagai negara di dunia.
Pentingnya Bangun Pagi
Pada kesempatan tersebut, Ustadz Abdul Somad turut mengingatkan pentingnya kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kebiasaan bangun pagi. Beliau menyoroti bahwa banyak orang mampu menyelesaikan pendidikan hingga jenjang sarjana, magister, bahkan doktor, memperoleh skor tinggi dalam berbagai ujian kemampuan bahasa, serta meraih banyak prestasi, tetapi masih kesulitan untuk membiasakan diri bangun pagi. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa produktivitas dan kualitas hidup yang baik sering kali berawal dari kebiasaan memanfaatkan waktu pagi dengan optimal. Menurut beliau, tidur yang baik adalah tidur pada malam hari dan memulai aktivitas sejak pagi.
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa PMDG tidak semata-mata mencari peserta didik. Gontor hadir sebagai lembaga pendidikan yang berupaya menyelamatkan generasi muda melalui pembinaan karakter, penanaman nilai-nilai keislaman, serta pendidikan yang berorientasi pada pengabdian kepada umat. Oleh karena itu, para orang tua diharapkan memberikan perhatian yang serius terhadap pendidikan anak-anak mereka.
Artinya: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik dan tercantum dalam Shahih al-Bukhari serta Shahih Muslim. Hadis tersebut menjadi pengingat pentingnya membangun persaudaraan, kepedulian, dan rasa saling mencintai di antara sesama muslim.
Menutup tausiahnya, Ustadz Abdul Somad memberikan motivasi kepada para santri dan jamaah agar tetap istiqamah dalam menjalani perjuangan hidup. Beliau menyampaikan bahwa dalam setiap perjalanan akan ada masa-masa sulit dan penuh kepahitan. Namun, berbagai kesulitan tersebut pada akhirnya akan berubah menjadi kenangan yang manis dan indah. Hasil dari sebuah perjuangan sering kali menghadirkan kebahagiaan yang begitu mendalam hingga sulit diungkapkan dengan kata-kata, karena kata-kata terlalu terbatas untuk menggambarkan besarnya nikmat yang diberikan Allah SWT.
Dalam rangkaian Tabligh Akbar Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) di Lapangan Hijau PMDG pada Senin (08/06). Kesempatan tersebut diisi Al-Ustadz Luqmanulhakim, alumni Gontor tahun 2003 asal Pontianak, menyampaikan tausiah inspiratif tentang kekuatan doa orang tua, perjuangan hidup, dan pentingnya berbagi untuk kemaslahatan umat. Beliau dikenal sebagai da’i nasional sekaligus pelopor Gerakan Sedekah Akbar Indonesia dan Gerakan Infaq Beras (GIB).
Mengawali tausiahnya dengan gaya yang hangat dan penuh humor, beliau mengungkapkan rasa harunya dapat kembali ke Gontor. Dengan nada bercanda, beliau menyebut dirinya seperti seekor singa yang kembali ke kandangnya lalu menjadi kucing, menggambarkan kedekatan emosionalnya dengan almamater tercinta.
Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa kesuksesan seorang santri tidak terlepas dari doa kedua orang tua“Santri yang sukses adalah berkat doa seorang ibu dan ayah,” ujarnya.
Beliau juga menceritakan masa sulit yang dialaminya setelah pulang dari Malaysia pada tahun 2012 tanpa membawa banyak harta dan bahkan menghadapi berbagai fitnah. Kepeduliannya muncul saat melihat sebuah pesantren yang hanya mampu menyediakan beras pecah dan berkutu bagi para santri. Dari pengalaman tersebut lahirlah Gerakan Infaq Beras yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Sedekah Akbar Indonesia dan telah membantu ribuan pesantren serta santri di berbagai daerah.
Menutup tausiahnya, Ustadz Luqmanulhakim mengajak para santri untuk terus bersungguh-sungguh dalam belajar, menjaga keikhlasan, serta meyakini kekuatan doa dan amal kebaikan. Menurutnya, dengan doa orang tua, semangat menuntut ilmu, dan keteguhan dalam berjuang, setiap santri memiliki kesempatan untuk menjadi pribadi yang bermanfaat dan melanjutkan perjuangan dakwah bagi umat di masa depan.
Dalam rangkaian Tabligh Akbar Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor yang diselenggarakan pada Senin, 8 Juni 2026 di Lapangan Hijau PMDG, Al-Ustadz Muhammad Fakhurrazi Anshar, B.Sh., M.A., Ph.D., alumni Gontor tahun 2008, menyampaikan pesan-pesan yang sarat dengan nilai keikhlasan, pengabdian, dan pentingnya menjaga kesinambungan amal saleh.
Mengawali penyampaiannya, beliau mengingatkan bahwa segala pencapaian yang diraih oleh para alumni dan keluarga besar Gontor pada hakikatnya merupakan buah dari keberkahan para guru. Kesuksesan seseorang tidak dapat dilepaskan dari jasa para pendidik yang telah menanamkan ilmu, nilai, dan keteladanan sepanjang perjalanan hidupnya.
Dalam konteks ini, beliau mengutip hadis Rasulullah ﷺ:
Man dalla ‘alā khairin falahū mitslu ajri fā‘ilih.
“Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menggambarkan besarnya pahala yang diperoleh para guru dan pendidik. Setiap ilmu yang diajarkan dan diamalkan oleh murid akan terus mengalirkan pahala kepada orang yang mengajarkannya. Gontor, menurut beliau, telah mengajarkan kebaikan yang dibalut dengan keikhlasan, sekaligus menanamkan amal saleh yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Beliau juga menegaskan bahwa seluruh jamaah yang hadir dalam acara tersebut datang untuk mencari ilmu. Ilmu yang diperoleh, apabila diamalkan, akan berubah menjadi amal saleh yang terus berkembang dan menghasilkan kebaikan-kebaikan berikutnya. Dengan demikian, kehadiran dalam majelis ilmu bukanlah sesuatu yang sia-sia, melainkan investasi amal yang dampaknya dapat melampaui batas usia manusia.
Dalam refleksinya mengenai satu abad perjalanan Gontor, beliau menyebut bahwa usia 100 tahun merupakan pencapaian yang sangat besar. Selama satu abad, Gontor telah memberikan pengaruh yang luas bagi bangsa Indonesia melalui kader-kadernya yang tersebar di berbagai bidang kehidupan. Para alumni dan keluarga besar Gontor hadir dan berjuang di berbagai lini, mulai dari pendidikan, dakwah, birokrasi, akademik, sosial kemasyarakatan, hingga berbagai sektor strategis lainnya untuk kemaslahatan bangsa.
pentingnya menjaga hubungan dengan Allah
Pada kesempatan tersebut, beliau mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan Allah melalui doa yang diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ kepada sahabat Mu‘adz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu.
Sebelum mengajarkan doa tersebut, Nabi ﷺ bersabda:
يَا مُعَاذُ، إِنِّي أُحِبُّكَ فِي اللهِ
Yā Mu‘ādzu, innī uḥibbuka fillāh.
“Wahai Mu‘adz, sungguh aku mencintaimu karena Allah.”
Man qāla: Subḥānallāhi wa biḥamdih fī yaumin mi’ata marratin, ḥuṭṭat khaṭāyāhu wa in kānat mitsla zabadil-baḥr.
“Barang siapa mengucapkan ‘Subhānallāhi wa biḥamdih’ seratus kali dalam sehari, maka dihapuskan dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Di penghujung materinya, beliau menekankan pentingnya totalitas dalam menjalani kehidupan di Gontor. Totalitas tidak hanya dituntut dari para santri, tetapi juga dari para ustadz dan seluruh elemen pondok. Semangat pengabdian yang diwariskan para pendiri Gontor harus terus dijaga agar nilai-nilai keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan tetap hidup dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi-generasi berikutnya.
Seratus tahun Gontor bukan sekadar penanda usia sebuah lembaga pendidikan, melainkan bukti nyata bagaimana keikhlasan, ilmu, dan pengabdian dapat melahirkan pengaruh yang luas bagi umat dan bangsa. Pesan yang disampaikan Al-Ustadz Muhammad Fakhurrazi Anshar mengingatkan bahwa setiap kebaikan yang diajarkan, setiap ilmu yang diamalkan, dan setiap pengabdian yang dilakukan dengan ikhlas akan terus hidup dalam estafet amal saleh yang tidak pernah terputus.
Dalam Tabligh Akbar Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) yang digelar di Lapangan Hijau PMDG pada Senin, (08/06) , Al-Ustadz Dr. H. Das’ad Latif, S.Sos., S.Ag., M.Si., Ph.D. menyampaikan tausiah yang menggugah kesadaran tentang pentingnya mempersiapkan kehidupan setelah kematian. Dengan gaya khas yang lugas dan menyentuh, beliau mengajak jamaah untuk tidak hanya memikirkan kehidupan dunia, tetapi juga kehidupan yang akan dijalani di alam kubur dan akhirat.
Beliau memberikan ilustrasi sederhana tentang seseorang yang merantau ke negeri lain. Jika tidak merasa nyaman, ia masih memiliki kesempatan untuk kembali ke kampung halamannya. Namun ketika seseorang telah memasuki alam kubur, tidak ada lagi pilihan untuk kembali atau berpindah tempat. Karena itu, masa hidup di dunia harus digunakan sebaik-baiknya untuk mempersiapkan bekal bagi kehidupan yang kekal.
Bekal tersebut, menurut beliau, dapat berupa amalan yang pahalanya terus mengalir setelah kematian. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a.)
pentingnya membina generasi yang saleh dan salehah
Berangkat dari hadis tersebut, beliau menekankan pentingnya membina generasi yang saleh dan salehah. Menurutnya, banyak orang tua yang lebih bangga ketika anaknya berhasil meraih jabatan atau kekayaan, padahal anak yang saleh jauh lebih berharga bagi kehidupan akhirat orang tuanya. Ketika seseorang telah wafat, bukan sahabat, pasangan, ataupun relasi yang terus-menerus mendoakannya, melainkan anak-anaknya yang saleh.
Selain membangun generasi yang baik, beliau juga mengajak jamaah untuk gemar bersedekah. Harta dan kekayaan dunia pada akhirnya tidak akan dimiliki selamanya. Oleh sebab itu, sebagian rezeki yang dimiliki hendaknya digunakan untuk kepentingan umat, termasuk membantu para santri yang sedang menuntut ilmu. Bahkan jika tidak memiliki banyak harta, seseorang tetap dapat bersedekah melalui tenaga, ilmu, keterampilan, maupun kemampuan yang dimilikinya demi kemajuan pondok dan dakwah Islam.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengingatkan pentingnya memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Shalawat merupakan salah satu amalan yang mendatangkan keberkahan, ketenangan, dan kemudahan dalam berbagai urusan. Semakin dekat seseorang dengan Rasulullah ﷺ melalui shalawat, semakin besar pula harapannya untuk memperoleh rahmat dan pertolongan Allah SWT.
Menutup tausiahnya, Ustadz Das’ad Latif mengajak jamaah untuk tidak ragu dalam berbuat kebaikan dan bersedekah. Beliau mengingatkan hadis qudsi yang berbunyi, أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي (“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku”). Karena itu, setiap muslim hendaknya berbaik sangka kepada Allah dan yakin bahwa setiap pengorbanan di jalan kebaikan akan diganti dengan karunia yang lebih baik. Di penghujung acara, beliau memanjatkan doa agar memasuki abad kedua perjalanannya, Gontor semakin maju, semakin bermanfaat bagi umat, serta tetap menjadi mercusuar pendidikan Islam untuk generasi-generasi mendatang.
Pondok Modern Darusslam Gontor (PMDG), mengadakan Tabligh Akbar pada Senin (08/06), yang bertempat di lapangan sepak bola Gontor kampus pusat. Kegiatan ini merupakan rentetan peringatan 100 tahun umur PMDG, yang dihadiri oleh Al-Ustaz H. Abdul Somad Batubara, Lc., D.E.S.A., Ph.D., Al-Ustadz Dr. H. Das’ad Latif, S.Sos., S.Ag., M.Si., Ph.D., Al-Ustadz H. Luqmanulhakim, S.E.I., M.M. dan Al-Ustadz H. Muhammad Fakhrurrazi Anshar, L.c., B.Sh., M.A., Ph.D..
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang refleksi sejarah dan kontribusi Gontor selama 100 tahun, namun juga momentum strategis untuk memperkuat peranannya dalam membangun peradaban Islam yang unggul dan berkelanjutan.
Dalam pidato pembukannya K.H Hasan Abdullah Sahal menyampaikan bhawasanya semua yang ada di Gontor tidak lain kecuali untuk pendidikan, “Di gontor ini semuanya adalah untuk mendidik, menyanyi untuk mendidik, pidato untuk mendidik, menulis untuk mendidik. Tidak ada satu katapun tidak untuk mendidik, tidak ada satu sepeserpun tidak untuk mendidik, tidak ada seorangpun tidak untuk mendidik, tidak ada waktu sedetikpun tidak untuk mendidik, tidak ada satu pelajaranpun tidak untuk mendidik.”
Antusiasme peserta terlihat sepanjang acara. Mereka mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan penuh perhatian hingga acara berakhir. Kehadiran ribuan jamaah menjadi bukti besarnya perhatian masyarakat terhadap peran pesantren dalam membangun kehidupan beragama dan sosial yang harmonis.
Tabligh Akbar ini menjadi salah satu agenda penting dalam peringatan 100 Tahun PMDG, sekaligus menegaskan komitmen pondok untuk terus berkontribusi dalam pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan umat di masa mendatang.
Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), PMDG mengukir sejarah baru. Sebanyak 8 orang santri PMDG kelas 4, 5, dan 6 dari Kampus Pusat dan Kampus 2 menjadi delegasi dalam Madrasah Aljunied for Syed Abdul Rahman Aljunied Arabic Debating Championship, (BPSARA). Ini merupakan sebuah ajang kompetisi debat tahunan bertaraf internasional yang digagas oleh Madrasah Aljunied Al-Islamiah, Singapura.
Selama 3 hari, (9-11/6) Kontingen PMDG akan berkompetisi melawan belasan tim dari negara-negara jiran. Melalui sistem gugur, mereka akan bertahan mengadu argumen dalam berbagai topik seperti sosial, teknologi, pendidikan, hingga fenomena media sosial. Mulai dari memberi dan mempertahankan argumen, menginterupsi, hingga menyanggah semua harus dilakukan dalam bahasa arab yang fasih.
Al-Ustadz Fariz Istiqlal Harahap S.I.Kom, selaku pembimbing menyatakan bahwa tujuan utama kompetisi ini adalah untuk meningkatkan mutu PMDG, Pendidikan dan Pengajaran, serta Bahasa Arab sebagai Bahasa Al-Qur’an. Selain itu, kompetisi juga bertujuan untuk menambah pengetahuan dan pengalaman interaksi antar bangsa pada para peserta. Beliau juga menegaskan bahwa para santri tidak dituntut untuk menjadi juara, melainkan pengalaman dan ilmu yang didapatlah yang utama.
“Seperti apa yang dikatakan Kyai Akrim Mariyat saat pelepasan di Kantor Pimpinan kemarin, ‘Mau kamu menang, mau kamu kalah, itu tidak penting. Tapi pengalamanmu mengikuti kompetisi ini jauh lebih penting daripada apapun” maka kita tidak menargetkan juara pada mereka, tapi kami mau, kompetisi ini membuka lebih luas pikiran dan pandangan mereka.” Ujarnya.
Meski persiapan secara intensif baru dilaksanakan 1 bulan terakhir, para peserta optimis dapat menghadapi kompetisi ini dengan lancar. Mereka berharap kompetisi ini dapat membuka pintu lebih luas ke kompetisi-kompetisi lain dengan taraf lebih tinggi. Serta mampu mengangkat nama Indonesia dan Pesantren dalam kancah internasional.
Pagelaran wayang kulit dalam rangka Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) pada Sabtu, (6/6), menghadirkan dalang Ki MPP Bayu Aji dengan lakon Parikesit Dadi Ratu. Lakon tersebut mengisahkan proses Parikesit sebagai pewaris takhta yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin kerajaan.
Dalam cerita, Parikesit menjalani berbagai tahapan pembentukan karakter sebelum menerima amanah sebagai raja. Ia meninggalkan kenyamanan istana, menghadapi berbagai kesulitan hidup, serta menjalani laku spiritual untuk memperoleh Wahyu Cakraningrat. Berbagai ujian yang dihadapi bertujuan membentuk kedewasaan, tanggung jawab, dan kemampuan mengendalikan diri sebagai syarat kepemimpinan.
Salah satu nilai utama yang ditampilkan adalah pengendalian hawa nafsu. Melalui bimbingan Semar, Parikesit memahami bahwa kemampuan memimpin orang lain harus diawali dengan kemampuan memimpin diri sendiri. Setelah berhasil melewati berbagai ujian, Parikesit memperoleh legitimasi sebagai pemimpin dan mempraktikkan kepemimpinan yang tegas sekaligus bijaksana.
Nilai-nilai tersebut memiliki relevansi dengan sistem pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor. Proses pembentukan karakter santri dilaksanakan melalui kehidupan yang sederhana, disiplin, dan teratur. Kesederhanaan yang menjadi salah satu unsur Panca Jiwa mengajarkan santri untuk tidak bergantung pada kemewahan dan membiasakan diri menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Ki MMP Bayu Aji saat mendhalang di atas panggung
Selain itu, penerapan peraturan dan disiplin pondok bertujuan melatih pengendalian diri, tanggung jawab, serta kedewasaan dalam bertindak. Sistem kaderisasi yang diterapkan juga memiliki kesamaan dengan proses regenerasi kepemimpinan dalam kisah Parikesit, yaitu pemberian amanah kepada generasi berikutnya setelah melalui proses pendidikan dan pembinaan yang memadai.
Dengan demikian, lakon Parikesit Dadi Ratu tidak hanya berfungsi sebagai hiburan budaya, tetapi juga mengandung nilai pendidikan yang sejalan dengan tujuan pembentukan karakter dan kepemimpinan santri di Pondok Modern Darussalam Gontor.