Home Blog Page 301

35 Tahun Umur Pak Wito untuk Darussalam Press

0

Gontor- 35 tahun sudah Abdi Suwito mengabdikan dirinya kepada Pondok Modern Darussalam Gontor, tepatnya sebagai pekerja di Darussalam Press (DP).
Pria yang akrab disapa dengan Pak Wito ini, memulai karirnya semenjak percetakan tersebut berdiri (1983) hingga saat ini.

Banyak hal yang membuat Pak Wito tetap eksis bekerja di DP hingga saat ini, salah satunya adalah unsur keberkahan dan jiwa keikhlasan yang ada di pondok. “DP itu surga bagi orang (pekerja) yang beriman..” ujar Pak Wito, Sabtu (22/9). Beliau memandang bahwa jiwa keikhlasanlah yang membawa berkah bagi pondok ini beserta keluarganya, satu hal yang jarang ditemukan di luar pondok.

Karir Pak Wito dilatarbelakangi oleh keluarganya yang memiliki ikatan erat dengan Gontor. Konon, orang tua beliau merupakan salah satu pejuang Gontor yang membantu Trimurti Pendiri dalam mencari santri. Selain itu, kakak Pak Wito sendiri merupakan pembantu di pondok yang mengantarkan air minum ke kamar-kamar guru. Ketika Gontor mendapatkan bantuan mesin cetak, dibutuhkanlah banyak orang untuk bekerja, maka beliaulah salah satu dari orang yang diajak untuk itu.

Mulanya pak Wito ditugaskan di bagian offset selama 20 tahun, setelah itu, pak Wito ditugaskan di bagian finishing sampai sekarang.

Selain bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Pak Wito juga mendapatkan keuntungan lain dari pekerjaannya tersebut. Suatu saat ketika DP menerima order pencetakan Surat Al-Waqiah, beliau sengaja mengambil satu lembar dan mempelajarinya, dibantu oleh Muttaqin Said, salah satu guru KMI saat itu. Seiring berjalannya waktu, Alhamdulillah ternyata beliau mampu menghafal semua ayat di surat tersebut. Semenjak saat itu, Pak Wito merasakan betapa melimpahnya keberkahan yang datang, banyak bantuan yang datang silih berganti.

Selain pak Wito, terdapat 2 orang pekerja lain yang terus eksis dari awal berdirinya DP hingga sekarang, mereka adalah Sugito dan Suyono.

Beliau juga menyampaikan bahwa Pak Zar (K.H. Imam Zarkasyi) semasa hidupnya selalu memantau DP setiap hari.
“Kerja itu gak usah cepat-cepat, yang penting jadinya cepat” seringkali ujar Pak Zar kepada para pekerja saat itu.

Pak Wito adalah teladan yang baik untuk ditiru, keadaan beliau dalam membantu pondok berbuah dengan berkembangnya DP secara pesat. sand88

Ujian Tahfidz Sebagai Syarat Ujian Akhir Semester UNIDA Gontor

0

Gontor Putri 3-Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor memiliki banyak program untuk meningkatkan potensi dan kualitas mahasiswinya demi menjadikan generasi Rabbani. Pada hari Jumat, (28/09) tersirat lantunan ayat suci Al-qur’an pada setiap lafadz yang dibacakan mahasiswi Gontor Putri 3 untuk mempersiapkan ujian menghafal Al-Qur’an. Persiapan yang sudah matang menambahkan semangat dan percaya diri untuk menghadapi ujian tahfidz yang mana, merupakan syarat mengikuti ujian akhir semester.

Pembukaan ujian tahfidz diselanggarkan di Auditorium Gontor Putri 3, acara dibuka dengan pengarahan yang disampaikan oleh Al-Ustadz Muhammad Fauzi, M.Ud. Ujian tahfidz ini diikuti oleh 177 Mahasisiwi dan 55 Penguji, dan terbagi menjadi 55 Kelompok, dan setiap kelompoknya berjumlah 9 orang. Batas-batas ujian tahfidz dilihat dari tingkat semester yang didudukinya. Batas ujian tahfidz Semester 1 yaitu setengah juz dari juz 29, semester 3  setengah dari juz pertama, dan semester 3 setengah juz dimulai dari juz 2, semester 5 setengah juz dimulai dari juz 3.2

Seluruh mahasiswi harus menempuh batas-batas hafalan yang telah ditentukan. Apabila nilai dari hasil ujian tahfidz tidak mencukupi, maka mahasiswi harus mengulang/memperbaiki kembali ujian tersebut. Adapun nilai-nilai yang didapat dari hasil ujian tahfidz terbagi menjadi A+, A, A-, B+, B, B-, C+, C, C-. dan bagi mahasiswi yang mendapat nilai dibawah dari B- maka diwajibkan bagi mahasiswi unutk memperbaiki nilai tersebut dengan mengulang kembali ujia tersebut. Pembagian nilai hasil ujian tahfidz langsung dibagikan pada malam harinya.

Unida maju selangkah karena telah mangadakan ujian tahfidz yang mana memiliki banyak manfaat dan hikmahanya. Sekarang sudah tidak asing lagi pagi para sekolahan dan universitas di Indonesia yang menerapkan sistem target mengahafal Al-Qur’an, karena adanya batas menghafal memicu para mahasiswi untuk menghafal lebih giat. Disamping itu hikmah dari menghafal Al-Qur’an kita dapat menjaga kesucian dari Al-Qur’an itu sendiri dan terhindari dari penyelewengan ayat Al-Qur’an. Gryselda91

 

Jum’at Barokah Mahasiswi Guru dengan Seminar “Super Fast Memorizing Al-Qur’an”

0

Karangbanyu-Guna memotivasi para mahasiswi guru menghadapi ujian tahfidz yang akan diselenggarakan pada Jum’at (28/9), Dewan Mahasiswi Unida divisi Karangbanyu mendatangkan seorang Qori’ah dan Hafidzoh Nasional Siti Nurpadilah Maulida untuk mengisi seminar “Super Fast Memorizing Al-Qur’an” pada Jum’at (21/9). IMG_4991

Sekitar 200 mahasiswi guru Gontor Putri Kampus 3 lebih memilih mengisi hari liburnya dengan mengikuti seminar Super Fast Memorizing Al-Qur’an yang diadakan di Aula Mini Gontor Putri Kampus 3. Acara ini dibuka secara simbolis oleh Al-Ustadz H. Suwarno, TM S.Ag selaku Bapak wakil Pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 3 yang diwakili oleh Al-Ustadz Anwar Fathoni, S.H.

“Memang asyik memang asyik hafal Qur’an, hafal Qur’an memang asyik, memang hafal Qur’an asyik, hafal Qur’an.” Demikianlah lagu yang diajarkan Siti Nurpadhilah Maulida atau yang biasa dipanggil Neng Dilla kepada para mahasiswi guru peserta seminar saat mengawali materinya. “Lagu tersebut memang hanya berisi lirik yang diulang-ulang, ketika pertama dan kedua kali kalian menyanyikan lagu ini apa kalian bisa langsung hafal? Tidak. Begitu pula dengan menghafal Al-Qur’an kita hanya perlu banyak banyak membaca ayat yang kita hafalkan berkali-kali.” Kata Neng Dilla melanjutkan penyampaian materi. Selain memberikan kiat-kiat menghafal cepat, Neng Dilla juga barbagi pengalaman-pengalaman manis sebagai pengahafal Al-Qur’an yang memotifasi dan membuat peserta seminar semakin mantap menghafal Al-Qur’an bukan hanya untuk mengahdapi ujian tahfidz Unida, namun benar-benar ingin menjadi hafidzoh. UmiKalsum89

 

KMD, Ajang Pembentukan Karakter Pemimpin

0

MADUSARI–Kursus Pembina Mahir Tingkat Dasar (KMD) merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh siswa kelas 5 Kulliyatu-l Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI) yang tahun ini berjumlah 862 orang dari kelas 5 dan 10 orang dari kelas 6 KMI. KMD tahun ini mengusung tema “membentuk karakter pejuang pemimpin Islam masa depan” dan bermotokan “Bekali diri, Mencetak Pramuka Sejati”. Adapun pemateri pada KMD tahun ini adalah kakak-kakak pelatih dari guru senior dan Kwarcab Ponorogo.

Acara yang berlokasi di Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 2 ini dilaksanakan selama 7 hari. Dimulai dari hari Rabu (22/8) s.d Selasa (28/8). Ada beberapa metode yang digunakan dalam kursus ini yaitu: Ceramah, Diskusi, Curah Gagasan, Problem Solving, Penugasan dan kerja kelompok, Studi Kasus, Berganti pangkalan, Peragaan, Widya Wisata, Pengabdian Masyarakat, dll. Semua materi tersebut dikemas secara efektif dan efisien, sehingga dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas pembina yang bermutu.

Kursus Mahir Tingkat Dasar (KMD) di Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan sarana pembentukan karakter pemimpin santri, khusunya santri kelas 5 KMI yang notabene sebagai pembina pramuka di pondok ini.  Dilaksanakannya acara KMD ini juga untuk mematangkan santri kelas 5 dalam mengajar anak didik saat kegiatan kepramukaan. Tentunya, kursus ini menjadi bekal utama bagi pembina pramuka dalam mengimplementasikan ilmunya kepada anak didik.

Di akhir kegiatan ini, para peserta KMD juga akan mendapatkan penilaian dari dewan pelatih dan pembimbing sebagai ukuran kualitas mereka dalam skill kepramukaan. Berikut kriteria penilaian peserta: Ibadah, Moral dan sikap pribadi, Kepemimpinan dan keteladanan, Hubungan (Relationship), Penguasaan dan cara melaksanakan materi, Usaha meningkatkan kemahiran, Disiplin, dan Hasil dari Free Test, Midle Test dan Post Test.

Kegiatan ini ditutup secara resmi dengan pembacaan laporan oleh panitia dan pelepasan tanda peserta oleh Bapak Wakil Pengasuh PMDG Kampus 2. Di akhir acara, beliau berpesan agar para peserta dapat menjadi pembina-pembina yang dapat menciptakan berbagai macam kegiatan yang baik di gugus depannya masing-masing. Ahsy

IMG_1295

Gontor Pusat Pertahankan Gelar Juara Umum Muharram Cup

0

KEDIRI – Kontingen Pondok Modern Darussalam Gontor Pusat kembali dinobatkan sebagai Juara Umum dalam ajang Muharram Cup, yang pada tahun ini (1440) diadakan di PMDG Kampus 3 Darul Ma’rifat, Kediri.

Muharram Cup merupakan kompetisi yang diselenggarakan oleh PMDG dalam rangka mempererat tali ukhuwah islamiyah antarguru Kulliyyau-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI). Acara ini berlangsung selama 2 hari, dimulai pada hari Kamis (20/9) dan ditutup pada hari Jum’at (21/9).

Acara dibuka oleh Wakil Pengasuh PMDG Kampus 3 Darul Ma’rifat Kediri, Al-Ustadz Heru Wahyudi, S.Ag. pada hari Kamis malam, bertepatan dengan diselenggarakannya festival musik. Beliau juga sempat menyumbangkan 2 lagu dangdut dari Haji Rhoma Irama di awal acara.

Ada yang berbeda tahun ini. Dimana Muharram Cup diikuti oleh 5 kontingen. Pada tahun-tahun sebelumnya, acara ini hanya diikuti oleh 4 kontingen saja, yakni PMDG Kampus Pusat Mlarak Ponorogo, Kampus 2 Siman Ponorogo, Kampus 3 Kediri, dan Kampus 6 Magelang. Tahun ini, PMDG Kampus 5 Darul Muttaqin, Banyuwangi turut diundang dalam acara yang rutin diadakan setiap bulan Muharram tersebut.

Secara umum, Muharram Cup terbagi menjadi 4 divisi, yaitu olahraga, olah rasa, olah fikir, dan olah dzikir. Masing-masing divisi mengadakan berbagai macam perlombaan untuk mengeksplorasi potensi yang dimiliki oleh para asatidz PMDG.

Divisi olahraga menjadi pusat perhatian para santri PMDG Kampus 3. Hal itu terlihat dari antusiasme mereka dalam menyaksikan berbagai pertandingan, baik sepak bola, bola basket, futsal, voli, dll. Bahkan para santri, tak segan untuk memberikan dukungannya kepada gurunya dengan yel-yel yang dinyanyikan dengan kompak, bak supporter Arema Malang .

Jum’at Sore, seluruh perlombaan dan pertandingan telah selesai diadakan. Maka, dewan juri mulai menghitung perolehan medali dan poin dari masing-masing kontingen. Hasilnya, kontingen PMDG Kampus Pusat memperoleh poin tertinggi, dan berhak membawa pulang Piala Juara Umum Muharram Cup 1440 H.

Semoga dengan terselenggaranya acara ini dengan baik dan lancar, semakin mempererat ukhuwah dan silaturahim antarguru KMI di Pondok Modern Gontor. Selain itu, skil dan kemampuan para guru juga semakin meningkat, sehingga dapat memberikan dampak positif terhadap anak didiknya di kampus masing-masing.brada

Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. : Cita-cita Keabadian Gontor

0

Perjalanan sejarah begitu panjang, maka perjalanan Gontorpun harus panjang, tidak saja puluhan tahun, bahkan ratusan sampai berabad-abad hingga hari kiamat. itulah cita-cita kita, dan itu pulalah do’a-do’a yang terus kita panjatkan kehadirat Allah. Hari ini kita berdiri tegak di sini, di Gontor, berjuang, berbuat dan bekerja tidak hanya untuk hari ini, atau esok, tapi untuk kejayaan Islam di masa-masa yang akan datang. Dari Gontor, kita mengukir sejarah kebaikan, kemuliaan, keteladanan, dan sejarah peradaban Islam untuk generasi yang akan datang.

Belajar dari sejarah dan menyaksikan langsung baik yang masih eksis, bertahan bahkan berkembang seperti Al-Azhar di Mesir, atau napak tilas Syanggit di Mauritania Afrika Utara yang tersisa bekas-bekas bangunannya, Santiniketan yang sudah tidak nampak bekas-bekasnya, hanya merupakan perkampungan miskin di India, dan Aligarh di India yang masih tersisa dalam bentuk lembaga pendidikannya, memberikan inspirasi sekaligus motivasi, bahwa untuk bisa bertahan berabad-abad, seperti Syanggit dengan jiwa, ajaran dan perjuangan para pimpinannya, Al-Azhar di Mesir dengan kekuatan ilmu, dakwah dan wafatnya, maka Gontor dengan lembaga pendidikan dan dakwahnya, tidak berpolitik praktis, karena politik tertinggi adalah pendidikan.

Untuk itu, mengapa kita ragu, mengapa kita khawatir, kita takut untuk menatap masa depan cerah kebangkitan Gontor, Kebangkitan umat Islam, kebangkitan peradaban Islam di negeri ini, bahkan di dunia ini. Untuk itu, perlu bekerja keras, memaksimalkan potensi diri, mengeluarkan potensi puncak untuk mengembangkan dan memajukan Gontor ini. Allah telah menjalankan hidup kita untuk mengabdikan dan berkhidmat di jalanNya, Allah telah memilih kita untuk ikut mendidik, membina, mempersiapkan santri-santri sebagai hamba-hamba Allah yang taat, hamba-hamba Allah yang akan berjuang dan memperjuangkan kemuliaan agamaNya. *aff

 

*Dikutip dari Buku Bekal Pemimpin, hal 166

 

PMDG Selenggarakan Acara Tahsinul Qira’ah

0

GONTOR-Pondok Modern Darussalam Gontor tidak pernah berhenti untuk menciptakan dinamika kehidupan yang Islami kepada para santrinya. Khususnya pada saat ini, PMDG sedang mengadakan kegiatan Tahsinul Qira’ah. Acara ini diselenggarakan pada hari Jum’at, 14-18 September 2018 yang bertempat di Gedung Rabithah PMDG. Gontor mengadakan acara ini guna meningkatkan bacaan para santri dalam membaca al-Qur’an yang baik dan benar.tidak hanya itu, acara ini juga menumbuhkan jiwa dan semangat santri untuk terus memperdalam makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an. Al-Ustadz Farid Sulistyo selaku Wakil Direktur Kulliyatu-l-Muallimin Al-Islamiyyah (KMI) mendapatkan instruksi dari Bapak Pimpinan untuk membuka acara ini.

Dalam acara ini, peserta yang hadir berjumlah 209 santri dengan beberapa rincian sebagai berikut; Kelas 5 KMI 105 orang, Kelas 6 KMI dari Kampus Cabang 15 orang, Anggota Jamiyyatul Qurra’ (JMQ) 15 orang, Anggota JMQ Kampus 2 Madusari 26 orang, dan Anggota JMQ dari Kampus 3 Kediri berjumlah 4 orang. Selain itu, Gontor juga mendatangkan tutor dalam acara ini dengan jumlah 11 orang, diantaranya, Al-Ustadz Muhammad Fikri, Lc, M.A., Al-Ustadz Andriana, Lc., dan Al-Ustadz Yadi Fauzi, S.Pd.I.

Harapan besar Gontor, setelah diadakanya acara ini, santri bisa aktif dan terus melatih diri dalam meningkatkan bacaan al-Qur’an. Dan acara ini juga bisa menjadi bekal santri untuk berdakwah di masyarakat kelak.*aff

Gontor Peringati Malam Tahun Baru Hijriyah

0

GONTOR—Pada hari Senin (10/9) yang bertepatan dengan 1 Muharram 1440 Hijriyah, semua keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) memperingati tahun baru Hijriyah. Pada kesempatan ini, Pimpinan Pondok mengamanatkan Al-Ustadz Dr. H. Jarman Arroisi, M.A., (salah satu dosen di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor) untuk menyampaikan hal-hal yang bersangkutan dengan Tahun Baru Hijriyah ini.

Sebelum mengawali Pidatonya, beliau menyampaikan beberapa pertanyaan kepada para santri: apa itu Tahun Hijriyah, pada bulan apa tahun Hijriyah dimulai, mengapa tahun umat Islam diawali  pada bulan tersebut, dan mengapa Rasulullah SAW berhijrah bersama para sahabat dari Mekkah menuju Madinah.

Dalam pidatonya, beliau menyampaikan bahwa ditentukannya peristiwa Hijrah sebagai awal penanggalan Hijriyah mengandung makna historis yang sangat dalam. Dikutip dari kitab al-I’laan bi al-Tawbikh karya Imam Saakhawi, bahwasannya bulan Muharram ditetapkan sebagai awal bulan penanggalan Hijriyah karena niat Rasulullah SAW untuk berhijrah sudah ada sejak bulan tersebut (Muharram), inilah sejatinya alasan dasar penentuan awal tahun baru Hijriyah adalah sangat tepat, karena nilai, hikmah, dan teladan dari peristiwa tersebut.

Setelah pidato beliau selesai, acara pada malam ini dilanjutkan dengan pidato Bapak Pimpinan PMDG, K.H. Hasan Abdullah Sahal. Kiai Hasan menyampaikan bahwasannya cara kita untuk memperingati Tahun Baru Hijriyah (1 Muharram) ini sudah tepat, yaitu dengan mengadakan perkumpulan yang didalamnya disampaikan ilmu dan sejarah tentang tahun Hijriyah. Di tempat lain tidak sedikit masyarakat yang memperingati 1 Muharram ini dengan model dan caranya sendiri. Ada yang memperingati dengan Grebek Suro, Larung Sesaji, dan cara-cara yang lain yang tidak bermanfaat dan tidak pernah diajarkan oleh Islam.

Beliau juga menuturkan:”di luar, banyak masyarakat yang memperingati tahun baru masehi dengan bergembira, apa hubungannya kita dengan tahun masehi?”, tutur beliau. Dengan memasuki tahun baru Hijriyah ini, hendaknya kita memperbarui niat, semangat, dan tujuan, agar tahun ini bisa berbuat lebih baik dari sebelumnya.Faruq

Kiai Ma’sum Wafat, Gontor Turut Berduka Cita

0

Bondowoso–Para santri serta keluarga besar Pondok Pesantren Al-Ishlah, Bondowoso berduka atas wafatnya K.H. Muhammad Ma’shum, tepatnya pada hari Kamis, 3 Muharram 1440 H/13 September 2018, pada Jam 14:30 WIB, di Rumah Sakit Siloam Surabaya.

Ulama karismatik kelahiran Ambon ini meninggal di usia 65 tahun, meninggalkan 11 anak dari 3 istri, beliau merupakan pendiri dan pengasuh PP Al-Ishlah Bondowoso, beliau adalah seorang ulama, guru, dan ayah ideologis bagi para santrinya.

Kondisi kesehatan almarhum mulai turun sejak tiga tahun ke belakang. Namun itu tak menyurutkan langkahnya berjuang membela Islam. Ulama yang karib disapa Abi tak pernah absen dalam aksi-aksi besar di Jakarta seperti Aksi Bela Islam bersama GNPF Ulama, bahkan,  Halal bi Halal Alumni 212 pun digelar di Ponpes pimpinannya Al-Ishlah pada Juli 2017 lalu.

Mendengar kabar duka ini, keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) turut berduka dan melaksanakan shalat ghaib di Masjid Jami’, pimpinan PMDG K.H. Hasan Abdullah Sahal mendatangi PP. Al-Islah Bondowoso pada hari Jum’at malam, (14/9) untuk ta’ziyah kepada keluarga yang ditinggalkan serta mengunjungi makam almarhum. Muis

Kiai Syamsul Buka Fathul Kutub PMDG Kampus 5

0

ROGOJAMPI–Pimpinan PMDG, K.H. Syamsul Hadi Abdan membuka agenda Fathul Kutub Siswa Akhir KMI PMDG Kampus 5, Banyuwangi. Acara yang dibuka pada Sabtu pagi (15/9) tersebut diikuti oleh 210 orang siswa kelas 6 KMI, bertempat di Auditorium PMDG Kampus 5.

Acara pembukaan tersebut diawali dengan sambutan singkat dari Wakil Pengasuh PMDG Kampus 5, H. M. Syuja’I, S.Ag., dilanjutkan dengan pesan dan nasihat dari Kiai Syamsul.

Dalam nasihatnya, Kiai Syamsul menekankan bahwa pengajaran kitab-kitab kuning di Gontor itu ada dan diperbolehkan pada waktunya (ketika fathul Kutub), hal ini menentang fakta sebaliknya yang sempat dipermasalahkan pada waktu silam.

Pembelajaran kitab kuning di Gontor berbeda dengan pembelajaran kitab kuning di lembaga pendidikan salaf. Perbedaan tersebut tampak dari metode pembahasannya, kalau metode lama biasanya menggunakan cara sorogan terhadap kitab-kitab tertentu, sedangkan di Gontor pembelajaran dilakukan dengan pemberian masalah/bahasan seputar fikih yang dimana seorang santri harus mencari penyelesaiannya dalam kitab-kitab kuning yang disediakan, setlah itu didiskusikan bersama dengan kelompoknya di bawah bimbingan 2 orang guru KMI.Selain ituKiai Syamsul juga menyampaikan bahwa syarat bagi seorang santri untuk bisa membuka dan memahami kitab-kitab kuning tersebut adalah penguasaan terhadap Nahwu dan Shorf yang baik. Semakin baik penguasaan kedua ilmu tersebut, semakin mudah seorang santri dalam memahami kitab-kitab kuning. Sand88