Home Blog

Gontor Sebagai Perekat Umat : Pesan Ustadz Abdul Somad Dalam Tabligh Akbar 100 Tahun Gontor

0

Dalam tausiahnya, Ustadz Abdul Somad menyoroti peran Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) sebagai perekat persatuan umat Islam. Beliau menyampaikan bahwa dirinya berasal dari Sumatera, sementara Ustadz Das’ad Latif berasal dari Makassar dan Al-Ustadz Luqmanul Hakim berasal dari Kalimantan. Menurut beliau, ketiga wilayah besar tersebut memiliki latar belakang dan sejarah yang berbeda, namun pada malam itu seluruh elemen umat dapat berkumpul dalam satu majelis yang sama. Karena itu, beliau menyebut Gontor sebagai perekat umat yang mampu menyatukan berbagai kalangan, suku, dan daerah dalam bingkai ukhuwah Islamiyah.

Beliau juga mengungkapkan luasnya persebaran alumni PMDG. Menanggapi pertanyaan mengenai keberadaan alumni Gontor di suatu daerah. Beliau menegaskan bahwa pertanyaan yang tepat bukanlah apakah ada alumni Gontor di Papua atau wilayah tertentu, melainkan di mana tempat yang belum memiliki alumni Gontor. Menurutnya, para alumni Gontor telah mengabdikan diri di berbagai daerah Indonesia bahkan di berbagai negara di dunia.

Pentingnya Bangun Pagi

Pada kesempatan tersebut, Ustadz Abdul Somad turut mengingatkan pentingnya kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kebiasaan bangun pagi. Beliau menyoroti bahwa banyak orang mampu menyelesaikan pendidikan hingga jenjang sarjana, magister, bahkan doktor, memperoleh skor tinggi dalam berbagai ujian kemampuan bahasa, serta meraih banyak prestasi, tetapi masih kesulitan untuk membiasakan diri bangun pagi. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa produktivitas dan kualitas hidup yang baik sering kali berawal dari kebiasaan memanfaatkan waktu pagi dengan optimal. Menurut beliau, tidur yang baik adalah tidur pada malam hari dan memulai aktivitas sejak pagi.

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa PMDG tidak semata-mata mencari peserta didik. Gontor hadir sebagai lembaga pendidikan yang berupaya menyelamatkan generasi muda melalui pembinaan karakter, penanaman nilai-nilai keislaman, serta pendidikan yang berorientasi pada pengabdian kepada umat. Oleh karena itu, para orang tua diharapkan memberikan perhatian yang serius terhadap pendidikan anak-anak mereka.

Dalam tausiahnya, beliau juga mengutip :

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Transliterasi:
Lā yu’minu aḥadukum ḥattā yuḥibba li akhīhi mā yuḥibbu linafsih.

Artinya:
“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik dan tercantum dalam Shahih al-Bukhari serta Shahih Muslim. Hadis tersebut menjadi pengingat pentingnya membangun persaudaraan, kepedulian, dan rasa saling mencintai di antara sesama muslim.

Menutup tausiahnya, Ustadz Abdul Somad memberikan motivasi kepada para santri dan jamaah agar tetap istiqamah dalam menjalani perjuangan hidup. Beliau menyampaikan bahwa dalam setiap perjalanan akan ada masa-masa sulit dan penuh kepahitan. Namun, berbagai kesulitan tersebut pada akhirnya akan berubah menjadi kenangan yang manis dan indah. Hasil dari sebuah perjuangan sering kali menghadirkan kebahagiaan yang begitu mendalam hingga sulit diungkapkan dengan kata-kata, karena kata-kata terlalu terbatas untuk menggambarkan besarnya nikmat yang diberikan Allah SWT.

Kontributor : Tim Humas PMDG, TIm Media PMDG

Editor : Johansyah

Tausiah inspiratif kekuatan doa orang tua : Al-Ustadz Luqmanulhakim Dalam Tabligh Akbar 100 Tahun

0

Dalam rangkaian Tabligh Akbar Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) di Lapangan Hijau PMDG pada Senin (08/06). Kesempatan tersebut diisi Al-Ustadz Luqmanulhakim, alumni Gontor tahun 2003 asal Pontianak, menyampaikan tausiah inspiratif tentang kekuatan doa orang tua, perjuangan hidup, dan pentingnya berbagi untuk kemaslahatan umat. Beliau dikenal sebagai da’i nasional sekaligus pelopor Gerakan Sedekah Akbar Indonesia dan Gerakan Infaq Beras (GIB).

Mengawali tausiahnya dengan gaya yang hangat dan penuh humor, beliau mengungkapkan rasa harunya dapat kembali ke Gontor. Dengan nada bercanda, beliau menyebut dirinya seperti seekor singa yang kembali ke kandangnya lalu menjadi kucing, menggambarkan kedekatan emosionalnya dengan almamater tercinta.

Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa kesuksesan seorang santri tidak terlepas dari doa kedua orang tua“Santri yang sukses adalah berkat doa seorang ibu dan ayah,” ujarnya.

Beliau juga menceritakan masa sulit yang dialaminya setelah pulang dari Malaysia pada tahun 2012 tanpa membawa banyak harta dan bahkan menghadapi berbagai fitnah. Kepeduliannya muncul saat melihat sebuah pesantren yang hanya mampu menyediakan beras pecah dan berkutu bagi para santri. Dari pengalaman tersebut lahirlah Gerakan Infaq Beras yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Sedekah Akbar Indonesia dan telah membantu ribuan pesantren serta santri di berbagai daerah.

Menutup tausiahnya, Ustadz Luqmanulhakim mengajak para santri untuk terus bersungguh-sungguh dalam belajar, menjaga keikhlasan, serta meyakini kekuatan doa dan amal kebaikan. Menurutnya, dengan doa orang tua, semangat menuntut ilmu, dan keteguhan dalam berjuang, setiap santri memiliki kesempatan untuk menjadi pribadi yang bermanfaat dan melanjutkan perjuangan dakwah bagi umat di masa depan.

Kontributor : Zulfahmi, Tim Media PMDG

Editor : Johansyah

Keberkahan Guru dan Estafet Amal Saleh: Catatan dari Materi Al-Ustadz Muhammad Fakhurrazi Anshar pada Tabligh Akbar 100 Tahun Gontor

0

Dalam rangkaian Tabligh Akbar Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor yang diselenggarakan pada Senin, 8 Juni 2026 di Lapangan Hijau PMDG, Al-Ustadz Muhammad Fakhurrazi Anshar, B.Sh., M.A., Ph.D., alumni Gontor tahun 2008, menyampaikan pesan-pesan yang sarat dengan nilai keikhlasan, pengabdian, dan pentingnya menjaga kesinambungan amal saleh.

Mengawali penyampaiannya, beliau mengingatkan bahwa segala pencapaian yang diraih oleh para alumni dan keluarga besar Gontor pada hakikatnya merupakan buah dari keberkahan para guru. Kesuksesan seseorang tidak dapat dilepaskan dari jasa para pendidik yang telah menanamkan ilmu, nilai, dan keteladanan sepanjang perjalanan hidupnya.

Dalam konteks ini, beliau mengutip hadis Rasulullah ﷺ:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Man dalla ‘alā khairin falahū mitslu ajri fā‘ilih.

“Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”

(HR. Muslim)

Hadis ini menggambarkan besarnya pahala yang diperoleh para guru dan pendidik. Setiap ilmu yang diajarkan dan diamalkan oleh murid akan terus mengalirkan pahala kepada orang yang mengajarkannya. Gontor, menurut beliau, telah mengajarkan kebaikan yang dibalut dengan keikhlasan, sekaligus menanamkan amal saleh yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Beliau juga menegaskan bahwa seluruh jamaah yang hadir dalam acara tersebut datang untuk mencari ilmu. Ilmu yang diperoleh, apabila diamalkan, akan berubah menjadi amal saleh yang terus berkembang dan menghasilkan kebaikan-kebaikan berikutnya. Dengan demikian, kehadiran dalam majelis ilmu bukanlah sesuatu yang sia-sia, melainkan investasi amal yang dampaknya dapat melampaui batas usia manusia.

Dalam refleksinya mengenai satu abad perjalanan Gontor, beliau menyebut bahwa usia 100 tahun merupakan pencapaian yang sangat besar. Selama satu abad, Gontor telah memberikan pengaruh yang luas bagi bangsa Indonesia melalui kader-kadernya yang tersebar di berbagai bidang kehidupan. Para alumni dan keluarga besar Gontor hadir dan berjuang di berbagai lini, mulai dari pendidikan, dakwah, birokrasi, akademik, sosial kemasyarakatan, hingga berbagai sektor strategis lainnya untuk kemaslahatan bangsa.

pentingnya menjaga hubungan dengan Allah

Pada kesempatan tersebut, beliau mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan Allah melalui doa yang diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ kepada sahabat Mu‘adz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu.

Sebelum mengajarkan doa tersebut, Nabi ﷺ bersabda:

يَا مُعَاذُ، إِنِّي أُحِبُّكَ فِي اللهِ

Yā Mu‘ādzu, innī uḥibbuka fillāh.

“Wahai Mu‘adz, sungguh aku mencintaimu karena Allah.”

(HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ahmad)

Kemudian Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Allāhumma a‘innī ‘alā dzikrika wa syukrika wa ḥusni ‘ibādatik.

“Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”

tiga fondasi utama kehidupan

Doa ini merupakan salah satu doa yang sangat agung karena mencakup tiga fondasi utama kehidupan seorang muslim: dzikir, syukur, dan kualitas ibadah.

Beliau juga mengingatkan jamaah untuk memperbanyak dzikir, salah satunya dengan membaca:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

Subḥānallāhi wa biḥamdih.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Man qāla: Subḥānallāhi wa biḥamdih fī yaumin mi’ata marratin, ḥuṭṭat khaṭāyāhu wa in kānat mitsla zabadil-baḥr.

“Barang siapa mengucapkan ‘Subhānallāhi wa biḥamdih’ seratus kali dalam sehari, maka dihapuskan dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Di penghujung materinya, beliau menekankan pentingnya totalitas dalam menjalani kehidupan di Gontor. Totalitas tidak hanya dituntut dari para santri, tetapi juga dari para ustadz dan seluruh elemen pondok. Semangat pengabdian yang diwariskan para pendiri Gontor harus terus dijaga agar nilai-nilai keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan tetap hidup dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi-generasi berikutnya.

Seratus tahun Gontor bukan sekadar penanda usia sebuah lembaga pendidikan, melainkan bukti nyata bagaimana keikhlasan, ilmu, dan pengabdian dapat melahirkan pengaruh yang luas bagi umat dan bangsa. Pesan yang disampaikan Al-Ustadz Muhammad Fakhurrazi Anshar mengingatkan bahwa setiap kebaikan yang diajarkan, setiap ilmu yang diamalkan, dan setiap pengabdian yang dilakukan dengan ikhlas akan terus hidup dalam estafet amal saleh yang tidak pernah terputus.

Kontributor : Winka Ghazi Nafi, Tim Media PMDG

Editor : Johansyah

Menyiapkan Bekal untuk Kehidupan Abadi: Pesan Ustadz Das’ad Latif pada Tabligh Akbar 100 Tahun Gontor

0

Dalam Tabligh Akbar Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) yang digelar di Lapangan Hijau PMDG pada Senin, (08/06) , Al-Ustadz Dr. H. Das’ad Latif, S.Sos., S.Ag., M.Si., Ph.D. menyampaikan tausiah yang menggugah kesadaran tentang pentingnya mempersiapkan kehidupan setelah kematian. Dengan gaya khas yang lugas dan menyentuh, beliau mengajak jamaah untuk tidak hanya memikirkan kehidupan dunia, tetapi juga kehidupan yang akan dijalani di alam kubur dan akhirat.

Beliau memberikan ilustrasi sederhana tentang seseorang yang merantau ke negeri lain. Jika tidak merasa nyaman, ia masih memiliki kesempatan untuk kembali ke kampung halamannya. Namun ketika seseorang telah memasuki alam kubur, tidak ada lagi pilihan untuk kembali atau berpindah tempat. Karena itu, masa hidup di dunia harus digunakan sebaik-baiknya untuk mempersiapkan bekal bagi kehidupan yang kekal.

Bekal tersebut, menurut beliau, dapat berupa amalan yang pahalanya terus mengalir setelah kematian. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

pentingnya membina generasi yang saleh dan salehah

Berangkat dari hadis tersebut, beliau menekankan pentingnya membina generasi yang saleh dan salehah. Menurutnya, banyak orang tua yang lebih bangga ketika anaknya berhasil meraih jabatan atau kekayaan, padahal anak yang saleh jauh lebih berharga bagi kehidupan akhirat orang tuanya. Ketika seseorang telah wafat, bukan sahabat, pasangan, ataupun relasi yang terus-menerus mendoakannya, melainkan anak-anaknya yang saleh.

Selain membangun generasi yang baik, beliau juga mengajak jamaah untuk gemar bersedekah. Harta dan kekayaan dunia pada akhirnya tidak akan dimiliki selamanya. Oleh sebab itu, sebagian rezeki yang dimiliki hendaknya digunakan untuk kepentingan umat, termasuk membantu para santri yang sedang menuntut ilmu. Bahkan jika tidak memiliki banyak harta, seseorang tetap dapat bersedekah melalui tenaga, ilmu, keterampilan, maupun kemampuan yang dimilikinya demi kemajuan pondok dan dakwah Islam.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengingatkan pentingnya memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Shalawat merupakan salah satu amalan yang mendatangkan keberkahan, ketenangan, dan kemudahan dalam berbagai urusan. Semakin dekat seseorang dengan Rasulullah ﷺ melalui shalawat, semakin besar pula harapannya untuk memperoleh rahmat dan pertolongan Allah SWT.

Menutup tausiahnya, Ustadz Das’ad Latif mengajak jamaah untuk tidak ragu dalam berbuat kebaikan dan bersedekah. Beliau mengingatkan hadis qudsi yang berbunyi, أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي (“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku”). Karena itu, setiap muslim hendaknya berbaik sangka kepada Allah dan yakin bahwa setiap pengorbanan di jalan kebaikan akan diganti dengan karunia yang lebih baik. Di penghujung acara, beliau memanjatkan doa agar memasuki abad kedua perjalanannya, Gontor semakin maju, semakin bermanfaat bagi umat, serta tetap menjadi mercusuar pendidikan Islam untuk generasi-generasi mendatang.

Kontributor : Winka Ghazi Nafi, Tim Media PMDG

Editor : Johansyah

Ribuan Hadirin Memadati Lapangan Hijau PMDG Dalam Tabligh Akbar 100 Tahun PMDG

0

Pondok Modern Darusslam Gontor (PMDG), mengadakan Tabligh Akbar pada Senin (08/06), yang bertempat di lapangan sepak bola Gontor kampus pusat. Kegiatan ini merupakan rentetan peringatan 100 tahun umur PMDG, yang dihadiri oleh Al-Ustaz H. Abdul Somad Batubara, Lc., D.E.S.A., Ph.D., Al-Ustadz Dr. H. Das’ad Latif, S.Sos., S.Ag., M.Si., Ph.D., Al-Ustadz H. Luqmanulhakim, S.E.I., M.M. dan Al-Ustadz H. Muhammad Fakhrurrazi Anshar, L.c., B.Sh., M.A., Ph.D.. 

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang refleksi sejarah dan kontribusi Gontor selama 100 tahun, namun juga momentum strategis untuk memperkuat peranannya dalam membangun peradaban Islam yang unggul dan berkelanjutan.

Dalam pidato pembukannya K.H Hasan Abdullah Sahal menyampaikan bhawasanya semua yang ada di Gontor tidak lain kecuali untuk pendidikan, “Di gontor ini semuanya adalah untuk mendidik, menyanyi untuk mendidik, pidato untuk mendidik, menulis untuk mendidik. Tidak ada satu katapun tidak untuk mendidik, tidak ada satu sepeserpun tidak untuk mendidik, tidak ada seorangpun tidak untuk mendidik, tidak ada waktu sedetikpun tidak untuk mendidik, tidak ada satu pelajaranpun tidak untuk mendidik.”

Antusiasme peserta terlihat sepanjang acara. Mereka mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan penuh perhatian hingga acara berakhir. Kehadiran ribuan jamaah menjadi bukti besarnya perhatian masyarakat terhadap peran pesantren dalam membangun kehidupan beragama dan sosial yang harmonis.

Tabligh Akbar ini menjadi salah satu agenda penting dalam peringatan 100 Tahun PMDG, sekaligus menegaskan komitmen pondok untuk terus berkontribusi dalam pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan umat di masa mendatang.

Kontributor : Tim Humas PMDG, Tim Media PMDG

Editor : Johansyah

PMDG kirimkan 8 Delegasi Dalam BPSARA Di Singapura

0

Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), PMDG mengukir sejarah baru. Sebanyak 8 orang santri PMDG kelas 4, 5, dan 6 dari Kampus Pusat dan Kampus 2 menjadi delegasi dalam Madrasah Aljunied for Syed Abdul Rahman Aljunied Arabic Debating Championship, (BPSARA). Ini merupakan sebuah ajang kompetisi debat tahunan bertaraf internasional yang digagas oleh Madrasah Aljunied Al-Islamiah, Singapura.

Selama 3 hari, (9-11/6) Kontingen PMDG akan berkompetisi melawan belasan tim dari negara-negara jiran. Melalui sistem gugur, mereka akan bertahan mengadu argumen dalam berbagai topik seperti sosial, teknologi, pendidikan, hingga fenomena media sosial. Mulai dari memberi dan mempertahankan argumen, menginterupsi, hingga menyanggah semua harus dilakukan dalam bahasa arab yang fasih.

Al-Ustadz Fariz Istiqlal Harahap S.I.Kom, selaku pembimbing menyatakan bahwa tujuan utama kompetisi ini adalah untuk meningkatkan mutu PMDG, Pendidikan dan Pengajaran, serta Bahasa Arab sebagai Bahasa Al-Qur’an. Selain itu, kompetisi juga bertujuan untuk menambah pengetahuan dan pengalaman interaksi antar bangsa pada para peserta. Beliau juga menegaskan bahwa para santri tidak dituntut untuk menjadi juara, melainkan pengalaman dan ilmu yang didapatlah yang utama.

“Seperti apa yang dikatakan Kyai Akrim Mariyat saat pelepasan di Kantor Pimpinan kemarin, ‘Mau kamu menang, mau kamu kalah, itu tidak penting. Tapi pengalamanmu mengikuti kompetisi ini jauh lebih penting daripada apapun” maka kita tidak menargetkan juara pada mereka, tapi kami mau, kompetisi ini membuka lebih luas pikiran dan pandangan mereka.” Ujarnya.

Meski persiapan secara intensif baru dilaksanakan 1 bulan terakhir, para peserta optimis dapat menghadapi kompetisi ini dengan lancar. Mereka berharap kompetisi ini dapat membuka pintu lebih luas ke kompetisi-kompetisi lain dengan taraf lebih tinggi. Serta mampu mengangkat nama Indonesia dan Pesantren dalam kancah internasional.

Kontributor : Haniya, Dejuan

Editor :Johansyah, Faza

Makna Kepemimpinan dalam Lakon Parikesit Dadi Ratu

0

Pagelaran wayang kulit dalam rangka Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) pada Sabtu, (6/6), menghadirkan dalang Ki MPP Bayu Aji dengan lakon Parikesit Dadi Ratu. Lakon tersebut mengisahkan proses Parikesit sebagai pewaris takhta yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin kerajaan.

Dalam cerita, Parikesit menjalani berbagai tahapan pembentukan karakter sebelum menerima amanah sebagai raja. Ia meninggalkan kenyamanan istana, menghadapi berbagai kesulitan hidup, serta menjalani laku spiritual untuk memperoleh Wahyu Cakraningrat. Berbagai ujian yang dihadapi bertujuan membentuk kedewasaan, tanggung jawab, dan kemampuan mengendalikan diri sebagai syarat kepemimpinan.

Salah satu nilai utama yang ditampilkan adalah pengendalian hawa nafsu. Melalui bimbingan Semar, Parikesit memahami bahwa kemampuan memimpin orang lain harus diawali dengan kemampuan memimpin diri sendiri. Setelah berhasil melewati berbagai ujian, Parikesit memperoleh legitimasi sebagai pemimpin dan mempraktikkan kepemimpinan yang tegas sekaligus bijaksana.

Nilai-nilai tersebut memiliki relevansi dengan sistem pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor. Proses pembentukan karakter santri dilaksanakan melalui kehidupan yang sederhana, disiplin, dan teratur. Kesederhanaan yang menjadi salah satu unsur Panca Jiwa mengajarkan santri untuk tidak bergantung pada kemewahan dan membiasakan diri menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Ki MMP Bayu Aji saat mendhalang di atas panggung

Selain itu, penerapan peraturan dan disiplin pondok bertujuan melatih pengendalian diri, tanggung jawab, serta kedewasaan dalam bertindak. Sistem kaderisasi yang diterapkan juga memiliki kesamaan dengan proses regenerasi kepemimpinan dalam kisah Parikesit, yaitu pemberian amanah kepada generasi berikutnya setelah melalui proses pendidikan dan pembinaan yang memadai.

Dengan demikian, lakon Parikesit Dadi Ratu tidak hanya berfungsi sebagai hiburan budaya, tetapi juga mengandung nilai pendidikan yang sejalan dengan tujuan pembentukan karakter dan kepemimpinan santri di Pondok Modern Darussalam Gontor.

Kontributor : Nawwaf, Tim Media PMDG

Editor : Johansyah, Faza

Ribuan Penonton Padati Pagelaran Wayang Kulit 100 Tahun Gontor

0

Dalam rangka memperingati 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), panitia penyelenggara menghadirkan pagelaran Wayang Kulit. Ini merupakan bagian dari seni dan budaya yang menyemarakkan momentum 100 tahun perjalanan PMDG. Pagelaran ini menghadirkan dalang kondang, Ki Bayu Aji, yang dikenal sebagai maestro dalang wayang kulit kenamaan asal Surakarta (Solo), Jawa Tengah.

Pagelaran Wayang Kulit 100 Tahun Gontor mengusung tema “Mensyukuri Masa Lalu dengan Nilai-Nilai Abadi dan Membekali Masa yang Akan Datang dengan Berbagai Tantangan” dengan lakon “Parikesit Dadi Ratu”. Dipilihnya lakon ini sebagai sarana menanamkan nilai kepemimpinan, kebijaksanaan, dan keteladanan kepada santri serta masyarakat.

Pimpinan PMDG menyampaikan pidatonya saat pembukaan wayang kulit 100 tahun PMDG.

Pimpinan PMDG K.H Akrim Mariyat Dipl.A.Ed menyampaikan bahwa PMDG merupakan lembaga pendidikan yang mengajarkan kehidupan, begitu juga wayang kulit sama-sama mengajarkan kehidupan. Dengan diadakanya pagelaran wayang kulit ini menunjukan keseriusan pondok dalam mensyi’arkan nilai-nilai falsafah pondok bagi Masyarakat sekitar.

penyerahan parikesit, sebagai simbol dibukanya acara wayang kulit 100 tahun PMDG.

“Pondok modern adalah lembaga pendidikan, begitu juga wayang sama-sama mengajarkan pendidikan kehidupan, Pertunjukan ini adalah konsumsi bagi Masyarakat sekitar dan kita, sebagai contoh kehidupan yang baik” ujarnya. Melalui lakon dan pesan moral yang disampaikan, masyarakat diajak merefleksikan makna kehidupan serta nilai-nilai kebajikan Islam. Ini merupakan salah satu cara melestarikan budaya khas Indonesia tanpa meninggalkan agama.

Meriahnya malam kala itu, lebih dari 2.000 orang turut hadir dalam pagelaran wayang kulit yang dihadiri mulai dari santri, guru-guru, hingga masyarakat Ponorogo. Walau malam semakin larut, akan tetapi tidak mengurangi rasa antusias mereka saat menyaksikan pagelaran seni ini.

Kontributor : Zulfahmi , Tim Media PMDG

Editor : Johanysah, Faza

Perdalam Sistem Pendidikan Pesantren, PP. Riyadlul ‘Ulum Wadda’wah Kunjungi Gontor Putri Kampus 3

0

Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Putri Kampus 3, menerima kunjungan studi dari Pondok Pesantren Riyadlul ‘Ulum Wadda’wah Condong Tasikmalaya, pada (4/6)-(5/6). Kegiatan ini bertujuan mempererat silaturahmi antarlembaga pendidikan sekaligus memberikan wawasan mengenai sistem pendidikan dan kehidupan kepesantrenan yang diterapkan di Gontor.

Selama kunjungan, peserta diajak mengenal berbagai sektor usaha guru yang menjadi bagian dari pendidikan kemandirian serta pengembangan keterampilan. Mereka juga memperoleh penjelasan mengenai Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) sebagai sarana pembelajaran kepemimpinan, manajemen organisasi, dan tanggung jawab santri dalam menjalankan berbagai aktivitas pondok.

Selain itu, peserta diperkenalkan dengan kegiatan kepramukaan yang menjadi salah satu instrumen pembentukan karakter di Gontor. Melalui kepramukaan, santri dibina untuk memiliki kedisiplinan, kemampuan bekerja sama, serta jiwa kepemimpinan yang kuat.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan friendship match yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Kegiatan tersebut menjadi wadah untuk mempererat ukhuwah, membangun kebersamaan, serta menciptakan pengalaman berharga bagi seluruh peserta.

Melalui kunjungan ini, kedua lembaga diharapkan dapat terus memperkuat hubungan kelembagaan dan saling berbagi pengalaman dalam pengelolaan pendidikan pesantren.

Kontributor : Natasya, siska

Editor : Johansyah, Faza

Pembukaan Latihan DASS Tandai Persiapan Peringatan 100 Tahun PMDG Fase 3

0

Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) resmi membuka latihan Darussalam All Star Show (DASS) pada Kamis malam (4/6). Kegiatan yang berlangsung meriah tersebut dihadiri oleh seluruh santri dan segenap asatidz. Pembukaan latihan DASS menjadi langkah persiapan dalam rangkaian Peringatan 100 Tahun PMDG fase 3. Kegiatan ini diawali dengan lantunan ayat suci Al-Quran dan dilanjut dengan sambutan ketua Peringatan 100 tahun PMDG, Al-Ustadz Assoc. Prof. Dr. khoirul Umam, M.Ec..

Dalam kesempatan tersebut beliau menyampaikan bahwasanya tahun ini merupakan tahun yang besar, karena DASS ini termasuk dalam rentetan 100 tahun PMDG. Tahun ini, tahun yang mendidik juga membina kader-kader pemimpin bangsa.

“Tahun ini akan menjadi tahun yang sangat istimewa, karena bertepatan dengan rangkaian peringatan seratus tahun Darussalam Gontor, seratus tahun Pendidikan, seratus tahun perjuangan, seratus tahun membentuk karakter, seratus tahun mengembangkan kepemimpinan, seratus tahun pengabdian kepada bangsa.”ujarnya.

DASS merupakan salah satu agenda yang dirancang untuk menyemarakkan peringatan 100 tahun berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor. Berbagai pertunjukan yang dipersiapkan yang tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai pendidikan, kedisiplinan, serta kreativitas yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan pondok.

Sebagai penutup acara, seluruh peserta mengikuti salat hajat bersama. salat hajat ini menjadi ikhtiar memohon kemudahan dan kelancaran kepada Allah SWT. Diharapkan, langkah awal tersebut membawa keberkahan bagi seluruh rangkaian kegiatan berikutnya.

Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor menjadi momentum penting, Karena itu, berbagai persiapan terus dilakukan agar seluruh rangkaian acara dapat berlangsung dengan baik dan memberikan kesan mendalam bagi seluruh penonton dan tamu yang hadir.

Dengan dimulainya latihan DASS, diharapkan setiap tahapan persiapan dapat berjalan lancar. Seluruh peserta pun berkomitmen untuk memberikan penampilan terbaik sebagai bentuk kontribusi dalam menyambut 100 tahun PMDG.

Kontributor : Humas PMDG

Editor : Johansyah