Kyai Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), hadir menjamu para santrinya dalam acara Dialog Interaktif bertajuk ‘Penanggulangan Isu Kontemporer dan Silaturrahim Bersama Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor.’ Selain Kyai Hasan, agenda yang berlangsung di Solah Kamil ini turut dihadiri oleh Dekan Fakultas Dirasah Islamiyyah Univ. Al-Azhar, Dr. Jaadurrob Amin Abdul Majid dan juga Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kairo, Usman Syihab.
Diawal, putra Kyai Sahal tersebut bercerita bahwa banyak perwakilan negara yang datang bertanya kepadanya tentang bagaimana membangun sebuah pondok pesantren dengan kokohnya sistem pendidikan, kepemimpinan, hingga kehidupan di Pesantren dengan santri yang begitu banyak.
“Kita bisa mendidik 4 ribu orang, karena bisa mendidik 1000 orang. Mampu mendidik 1000 orang karena bisa mendidik 100 orang, dan 40 orang karena 1, 2, 3, 4 orang yang behasil kami didik dengan penuh keikhlasan dan kegigihan. Ini tidak mudah… Dan sebenarnya bukan hanya sistem yang terpenting, namun keterpanggilanlah yang membuat pondok terus tegak,” tegas Kyai Hasan.
“Ditengah berkecamuknya perang, para ulama memang kalah perang secara fisik, tapi tidak dengan mental. Justru karena itulah pesantren berdiri. Perseteruan antara pesantren dan penjajahan tak usai hingga kini, bahkan hingga nanti. Saat ini bukan memerangi Belanda, tapi melawan antek – antek Belanda. Londo Gosong. Fisiknya saja yang khas Indonesia, tapi tidak dengan otaknya. Karena pada kenyataannya, orang asli Indonesia sendiri lebih kejam, lebih bengis, lebih ganas,” lanjut ustadz Hasan.
Dalam pandangan Kyai Hasan, Pondok bisa terus bertahan karena adaya dua hal; kehidupan dan pergerakan. Dan agar tetap berjalan pula perlu adanya “kemodernan”. Kemodernan dibangun dari sebuah budaya dan struktur, sehingga membawa pondok terus dapat berdialog dengan perkembangan zaman. “Karena hidup di zaman ini, maka kalian haruslah tau akan laptop, misalnya, agar tau tentang apa yang terjadi sekarang” ujarnya.
Nasihat demi nasihat dicurahkan oleh seorang ayah kepada anak-anaknya yang sudah lama tak berjumpa. Keharmonisan dari pertemuan ini sangatlah terlihat, mulai dari menyanyikan Hymne ‘Oh Pondokku’ hingga kegembiraan bersama lewat candaan khas ala kyai saat sedang berpidato. Acara ditutup dengan perfotoann bersama bersama Kyai Hasan Abdullah Sahal.
Diakhir, ustadz Hasan mengingatkan bahwa apapun yang terjadi di Indonesia, Gontor akan tetap kokoh dan tegak. “Seperti halnya Gontor, apapun yang terjadi di Mesir, Al-Azhar tetap menjadi tonggak utama dan berjaya,” tutup Kyai Hasan.
Dikuti dari www.ikpmkairo.com
http://www.ikpmkairo.com/2018/03/ikpm-kairo-gelar-dialog-interaktif-dan.html
Dalam isi seminar beliau, Kiai Hasan menjelaskan tentang eksistensi pondok pesantren di zaman sekarang ini. Pesantren akan selalu menjadi rujukan totalitas pendidikan yang sesungguhnya, karena pada dasarnya pesantren lah yang memiliki peranan penting dalam mendidik umat, pesantren sebagai benteng umat dari para penjajah dan penjajahan, dan tetap tidak berpolitik praktis, dan sebagainya. Beliau juga menerangkan bahwa saat sudah menjadi Pondok besar seperti ini adalah bahwa Pimpinannya, guru-gurunya harus selalu menjaga amanah. Senada dengan penjagaan amanah, kemudian selanjutnya menjadi tsiqoh, ta’at, dan barulah akan selalu menjadi orang yang dipercaya. Inilah salah satu factor yang menjadikan Pondok manapun saja untuk tetap eksis dalam mendidik umat.
Acara pernikahan tersebut berlangsung meriah dan penuh dengan khidmat, diawali dengan sesi sambutan dari pihak keluarga kedua mempelai yang langsung disampaikan oleh Dr. K.H. Muhammad Hidayat Nur Wahid. Dalam sambutannya, beliau mengucapkan selamat datang dan ucapan terimakasih kepada seluruh hadirin yang telah berkenan datang dan memberikan doa restu kepada kedua mempelai yang sedang berbahagia. Dan pada akhir acara, K.H. Hasan Abdullah Sahal berkesempatan memimpin pembacaan doa untuk kedua mempelai beserta keluarga dengan sangat khusyu’ nan khidmat didepan para hadirin sekalian.



