Home Blog Page 370

Rindu Akan Wejangan Kiai, IKPM Cabang Malaysia Jadwalkan Pertemuan dengan Pimpinan PMDG

0

OMBAK-Usai menghadiri acara Walimatu-l-Ursy di Kediaman Anggota Badan Wakaf, K.H. M. Masruh Ahmad, M.B.A, (23/7) Pagi, Pimpinan PMDG K.H. Hasan Abdullah Sahal, K.H. Syamsul Hadi Abdan, Beserta rombongan dijadwalkan pertemuan dengan IKPM Cabang Malaysia. Muncul ide pertemuan ini, karena IKPM Cabang Malaysia rindu akan wejangan, nasehat, serta motivasi dari Kiai. Lokasi pertemuan di Gedung Fakultas Ekonomi dan Menenjemen Universiti Islam Antarbangsa (UIA).

Acara yang dimulai pukul 21.30 (waktu setempat) ini dihadiri oleh kurang lebih 100 orang dari Anggota IKPM Cabang Malaysia yang notabene menjadi Mahasiswa/I di Universiti Islam Antarbangsa dan di University Sains Islam Malaysia (USIM). Pada saat pertemuan, K.H. Hasan Abdullah Sahal menuturkan bahwa “Kita ini harus menjadi orang yang bertitel dan berkualitas, jangan hanya berkualitas tapi tidak bertitel, dan jangan hanya bertitel tapi tidak berkualitas, karena banyak sekali di zaman ini Profesor, Doktor yang hanya punya titel, tapi tidak berguna bagi bangsa”. Saat mendengarkan nasehat, tampak para hadirin menyadari bahwa pentingnya pendidikan dan Thalabu-l-Ilmi di usia muda, serta menambah wawasan untuk mereka dan menjadi bekal saat berkhidmat di masyarakat kelak.

Usai Pertemuan, Bapak Pimpinan berserta rombongan sempat berfoto dengan Ikhwan dan Akhwat Anggota IKPM Cabang Malaysia. Selepas itu, beliau-beliau kembali ke Presscott Hotel di Kajang Selangor untuk istirahat, guna melanjutkan agenda di esok hari.fuadfahmi

Bapak Pimpinan Beserta Rombongan Hadiri Acara Walimatu-l-Ursy Putra Anggota Badan Wakaf PMDG di Malaysia

0

SELANGOR-Pada Hari Ahad (23/7) Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal, K.H. Syamsul Hadi Abdan, Beserta rombongan (Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A., K.H. Akrim Mariyat, Dipl.Ed., K.H. Masyhudi Subari, M.A., Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, M.A. M.Phil., Dr. Dihyatun Masqon, M.A., Al-Ustadz Riza Ashari, M.Pd.I.) menghadiri acara Walimatu-l-Ursy Putra Anggota Badan Wakaf PMDG, K.H. M. Masruh Ahmad, M.B.A. yang berlokasi Gedung Serbaguna Universitas Kuala Lumpur di Kajang, Selangor, Malaysia.

Keberangkatan rombongan dari PMDG ini turut didampingi oleh istri, serta staf Sekretaris Pimpinan. Pengadaan acara Walimah tersebut menggunakan adat istiadat budaya Melayu, sehingga banyak dari Tamu Undangan yang hadir dan memenuhi lokasi. Lain dari pada itu, Anggota Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Cabang Malaysia juga turut menyambut kedatangan rombongan PMDG di acara tersebut.

Acara Walimatu-l-Ursy berlangsung dari Pukul 11.00 s.d. 14.00 siang, selanjutnya, para rombongan PMDG berangkat menuju ke hotel untuk istirahat, dan juga untuk persiapan Kunjungan Silaturrahmi dengan Anggota IKPM Cabang Malaysia yang bertempat di International Islamic University Malaysia (IIUM) Gombak.fuadfahmi

 

21 Rayon berlaga dalam kompetisi Lomba Ketangkasan Baris Berbaris

0

Darussalam – Rayon Solihin 1 berhasil meraih juara pertama sekaligus mendapat penghargaan sebagai juara umum dalam Lomba Ketangkasan Baris Berbaris (LKBB) antar rayon, Jum’at (21/7) lalu. Perlobaan ini merupakan salah satu rentetan kegiatan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). “ Dari penampilan yang ada, masih banyak kekurangan khususnya dari kaidah serta kekompakan mereka, tapi kami selalu mensuport mereka, karena ini merupakan ajang perdana mereka, insyaAllah untuk kedepannya akan jauh lebih baik” tutur Al-Ustadz Qashmal, salah satu juri perlombaan LKBB antar rayon.

Persaingan ketat dari masing-masing rayon sempat membuat para juri kesulitan untuk menentukan juaranya, penilaian ditinjau dari beberapa hal, diantaranya; kaidah bagaimana baris berbaris dengan baik dan benar, kekompakan, serta kerapian barisan. Perlombaan ini diikuti oleh 21 rayon yang masing-masing diantaranya mengirimkan delegasi sebanyak 10 orang,  ada dua macam lomba dalam perlombaan ini, ada LKBB resmi dan LKBB isyarat. Adapun para pemenang dalam lomba LKBB resmi yaitu, Rayon Solihin 1 dengan perolehan nilai 51, Syanggit dengan nilai 43, dan Syiria Lantai 3 dengan perolehan nilai 43, sedangkan di dalam LKBB isyarat, yang menjadi juara pertama adalah Rayon Indonesia 3 dengan nilai 58, kemudian Wisma Hadi dengan nilai 53, dan yang terakhir Saudi 1 Lantai 2 dengan nilai 53. Acara ini berlangsung dari pukul 09.00-11.30 pada hari Jum’at (21/7). Dengan jumlah rayon yang cukup banyak, maka panitia membagi  peserta LKBB ke dalam 5 kelompok, di beberapa titik di PMDG,  ada di Gedung Alighar sebelah timur,  barat, di depan Aula Balai Pertemuan Pondok Modern Darussalam (BPPM), di samping Gedung Saudi 6, dan  di depan Gedung Saudi 6.

Para santri yang menjadi peserta lomba sangat antusias dengan adanya LKBB ini, dan“ dengan adanya kegiatan ini mereka akan mendapat pengalaman dan pelajaran yang baru, dimana setiap santri memiliki kesempatan untuk menggali potensi mereka, sehingga pengalaman itu nantinya akan menjadi bekal untuk mereka sendiri “. Tutur Al-Ustadz Iqbal, Majelis Pembimbing Koordinator Harian (Mabikori).

Kekompakan para santri dalam LKBB antar rayon, Jum'at (21/7)
Kekompakan Para Santri Dalam LKBB Antar Rayon, Jum’at (21/7)

“Tujuan dari lomba ini : melatih jiwa kepemimpinan, kekompakan pada anggota rayon, dimana adika -adika mulai berkolaborasi, mulai berlatih bersama, sehingga kebersamaan disana terpupuk dengan sangat baik.” Tutur Al-Ustadz Fahmi Aulia, Mabikori. rafa

Lomba CC Warnai Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy

0

Darussalam-Dalam rentetan Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy (KA), Gontor adakan lomba Cerdas Cermat (CC) antarrayon. Hari Selasa (18/7) dimulai pukul 20.00 WIB, bertempat di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM). Ada 4 finalis pada lomba ini, mereka adalah Rayon Indonesia 2 Lantai 2, Sanggit, Saudi 1 Lantai 2, Syiria Lantai 2, dan Sholihin 2. Keempat rayon ini diambil dari pemenang dari setiap zona, baik dari shighar maupun kibar.

Panitia KA mempersiapkan lomba dengan maksimal. Acara berjalan baik dan lancar. Semua peserta antusias mengikuti lomba CC ini. Yang menjadi keunikan lomba ini setiap soal yang diberikan oleh juri diiringi musik layaknya kuis-kuis nasional yang membuat suasana semakin meriah. Ditambah lagi dengan dukungan dari utusan seluruh rayon se-Darussalam yang berjumlah 21 rayon.

Acara selesai tepat pukul 22.20 WIB, dilanjutkan dengan pengumuman pemenang dan perfotoan beserta dewan juri. Juara pertama diraih oleh rayon Sholihin 2, Juara 2 didapat oleh rayon Saudi 1 Lantai 2, Juara 3 jatuh pada rayon Syiria Lantai 2. Aa Rum

JMQ Buka Pendaftaran Anggota Baru Di BPPM

0

Pendaftaran Anggota Baru JMQGontor – Jum’at (21/7), Jam’iyyatul qurro’ (JMQ) sebagai salah satu ekstrakulikuler yang ada di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) tengah mengadakan penerimaan anggota baru untuk tahun ajaran 1438-1439 H, acara ini dimulai sejak pukul 09.00 s/d 16.30 WIB, di Aula Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), dan Pimpinan PMDG K.H. Hasan Abdullah Sahal sempat berkunjung serta memberikan arahan juga pujian kepada para santri-santrinya.

 

Kegiatan ini diadakan untuk meningkatkan kemampuan para santri dalam mendalami ilmu agama, khususnya Al-Qur’an, dan ini merupakan kesempatan yang baik bagi mereka dalam memperbaiki bacaan  Al-Qur’annya masing-masing, karena dengan hadirnya JMQ mereka memiliki wadah yang tepat untuk mempelajari Al-Qur’an dengan baik dan benar, adapun santri yang baru bergabung dalam JMQ, mereka akan mendapatkan pembelajaran intensif selama 2 minggu untuk mendalami 3 hal mendasar dalam membaca Al-Qur’an, yaitu Gunnah, Mad Tho’bii’, Qolqolah, lalu minggu berikutnya akan meningkat kedalam Hukum-hukum mad, murottalah, mujawwadah, dll.

JMQ hingga saat ini beranggotakan 17 orang yang terbagi kedalam dua kelompok, ada kelompok Q yang beranggotakan 16 untuk para santri yang sudah lama, dan satu orang dari kelompok A, dan insyaAllah dengan diadakannya pendaftaran anggota baru JMQ ini, akan segera lahir generasi qori’ gontor yang baru.

Dengan diadakannya acara ini, insyaAllah para santri akan termotivasi untuk senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an, membaca Al-Qur’an, mentadaburi kandungan ayatnya. ”Yang namanya baca Quran itu paling penting, karena bacaan Quran itu kita baca ketika shalat fardu, dan salah satu rukun dari bacaan solat itu adalah benarnya membaca surat Al-Fatihah, ketika panjang pendeknya keliru, maka solat nya tidak sah, kemudian rasa tadabbur kita, kedekatan kita akan lebih meningkat lagi karena kita dapat memaknai bacaan Quran tersebut.” Tutur Al-Ustadz Muhammad Taufiq, salah satu pembimbing JMQ. rafa

Kuatkan Kebersamaan melalui Lomba Ketangkasan Baris Berbaris

0

Gontor –Pondok Modern Darussalam Gontor mengawali rentetan pekan perkenalan Khutbatul Arsy’ (KA) dengan mengadakan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Jum’at (14 /7) lalu. Berbagai kegiatan pun diikuti oleh seluruh santri dengan penuh antusias, dimulai dari kegiatan baris berbaris atau lebih dikenal dengan LKBB, kesenian daerah, dan berbagai pertunjukan lainnya.

Salah satu kegiatan rutin dalam peringatan KA adalah Lomba ketangkasan baris berbaris (LKBB) antar konsulat. Dimana setiap santri berkumpul dengan konsulatnya, mewakili daerah masing-masing.

Dalam LKBB ini tidak semua santri pandai melakukannya, namun dengan pola pendidikan Gontor yang ada, seluruh santri dapat melakukannya dengan baik, dan tidak sedikit yang pada akhirnya mampu menguasai beberapa teknik serta gerakan khusus dalam lomba ketangkasan ini, karena selain melatih kebersamaan, acara LKBB yang diikuti oleh seluruh santri jadi ajang mengenalkan (PMDG) kepada santri barunya.

Dari 36 Konsulat yang mengikuti acara, sedikitnya terdapat 80 barisan yang akan memperebutkan juara pertama dalam ajang LKBB yang insyaAllah akan diselenggarakan di lapangan hijau, tanggal 6 Agustus 2017 mendatang, dimulai dari konsulat luar negeri, Aceh, hingga konsulat Sulawesi Maluku Irian Jaya (Sumalia).

Meskipun dengan dinamika pondok yang sangat padat, mereka tidak pernah megeluh, mereka merasa bahagia karena bisa berlatih LKBB dengan teman konsulatnya, dan mereka pun merasa tertantang untuk tidak mudah menyerah dan dan selalu semangat untuk menjadi yang terbaik.rafa

Kunjungan Kanwil Depag Surabaya

0

Gontor – Sabtu (15/7) Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah  (KMI) mendapat kunjungan dari Kepala Kanwil Departemen Agama (Depag) Jawa Timur Bapak Mas’ud, perwakilan dari Depag Ponorogo Bapak Hayat dan Pak Marjito perwakilan dari pengurus Pendidikan Diniyah Pesantren. Pada kunjungan kali ini ke Pondok Modern Darussalam Gontor disambut langsung oleh Bapak  Direktur KMI Al-Ustadz Masyhudi Subari, M.A turut hadir pula Bapak Wakil Direktur KMI Al-Ustadz Farid Sulistyo,  Lc & Al-Ustadz Drs. Sutrisno Ahmad di kantor Direktur KMI. 

Tujuan kunjungan Kanwil Depag Jawa Timur ini adalah dalam rangka peninjauan bantuan dana Operasional Sekolah yang telah disalurkan ke Pondok-Pondok Pesantrinya yang ada di daerah Ponorogo. Menurut bapak Hayat saat ini pondok pesantren yang ada di Ponorogo sejumlah 92 Pondok Pesantren, terangnya. Dan masing-masing pesantren memiliki kesempatan untuk mendapatkan Bantuan Operasional Sekolah. 

Selain BOS, pemerintah juga memberikan bantuan bagi santri-santri pesantren yang tidak mampu melalui Program Indonesia Pintar (PIP) yang telah di canangkan pemerintah, ungkap Bapak Mas’ud.

OSPEK 2017: Mencetak Generasi Rabbani

0

GONTOR – Dalam rangka pembukaan tahun ajaran baru, Universitas Darussalam (UNIDA) Kampus Gontor mengadakan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK) bagi para mahasiswa barunya. Kegiatan yang dimulai pada Hari Sabtu (8/7) ini diselenggarakan di Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus Pusat. Para peserta yang merupakan guru baru PMDG ini berjumlah 138 orang. Mereka merupakan alumni PMDG tahun 2017 yang diamanatkan oleh Pimpinan PMDG untuk melaksanakan pengabdian wajibnya di Gontor Pusat. Maka, dengan banyaknya tugas yang mereka emban sebagai mahasiswa guru yang sekaligus menempati pos-pos vital dan unit-unit usaha di pondok, diperlukan orientasi/pengarahan khusus terkait kemahasiswaan dan keguruan.

Universitas Darussalam Gontor adalah sebuah perguruan tinggi pesantren. Yakni suatu sistem kelembagaan pendidikan tinggi islam yang menawarkan program akademik yang professional dan relefan dengan studi islam. Di dalamnya, para mahasiswa dapat hidup, belajar dan beraktifitas secara kreatif dengan mengacu kepada panca jiwa pondok modern Darussalam Gontor, yaitu: keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah islamiyah dan kebebasan.

Mahasiswa UNIDA dituntut untuk selalu taat menjalankan dan menegakkan syariat islam serta berkhidmat kepada bangsa dan negara; senantiasa mandiri dalam memelihara, memperdalam dan mengembangkan ajaran agama islam serta ilmu pengetahuan bagi kesejahteraan umat sehingga dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia muslim Indonesia.

Kegiatan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK) UNIDA Gontor bertujuan untuk memperkenalkan almamater kampus kepada segenap calon mahasiswa, demi terbentuknya pemahaman yang benar terhadap nilai-nilai kepondokmodernan, sehingga terciptalah mahasiswa guru yang berdedikasi tinggi serta memiliki tingkat intelektualitas dan spiritualitas yang mendalam. Niscaya terwujudlah generasi Rabbani berakhlaq Qur’ani.

Dalam pembukaan kegiatan OSPEK ini, Wakil Rektor, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Ed., M.Phil. menyampaikan bahwa mahasiswa UNIDA, khususnya mahasiswa guru yang berada di kampus Gontor Pusat haruslah memiliki kreativitas dalam mengambangkan ilmunya. Hal itu dikarenakan banyaknya kesibukan yang dimiliki oleh para mahasiswa guru, sehingga harus pandai-pandai membagi waktu dalam kuliah, mengajar, dan membantu pondok.

Semoga dengan terselenggaranya acara ini, seluruh mahasiswa baru UNIDA, khususnya kampus Gontor, dapat menjalankan tugasnya dengan maksimal di semua lini. Dapat mengajar dengan baik, membantu pondok dengan maksimal, dan mengembangkan ilmunya di universitas dengan cemerlang, menjadi generasi rabbani berakhlak qur’ani, yang siap untuk mendidik umat menuju ridho Allah Subhanahu wata’ala.brada89

 

PG dan DA adakan geladi perdana

0
Penampilan Hadroh
Penampilan Hadroh

Gontor-Ahad (16/7) dan Senin (17/7) berturut-turut Panitia Panggung Gembira (PG) dan Drama Arena (DA) mengadakan geladi perdana. Sebagai langkah lanjutan dalam mempersiapkan acara pagelaran seni yang besar, geladi ini dipersiapkan secara maksimal. Sound system, lighting, sudah dipersiapkan layaknya penampilan hari H namun masih dalam skala kecil.

PG mengadakan geladi ini bertujuan untuk menyeleksi acara. Acara-acara yang sudah terkumpul diuji dan ditampilkan di depan para pembimbing dan guru senior. Penyeleksian acara ini meliputi acara tari-tarian baik tarian daerah maupun modern. Juga penampilan sains dan pantomim. Hasil geladi ini akan menjadi pertimbangan pembimbing untuk menilai acara mana yang layak untuk tampil di PG.

Sedangkan DA mengadakan geladi perdananya untuk menampilkan hampir seluruh dari acara yang terkumpul. Seperti MC, qori’, puisi, tari-tarian, dan juga acara akrobatik. Dan beberapa acara yang belum ditampilkan seperti acara komedi dan drama.

Kedua geladi ini berjalan lancar. Banyak masukan dan evaluasi setelah acara ini berlangsung. Ini akan menjadi pelajaran penting untuk lebih baik lagi. Kedepannya masih ada beberapa geladi lagi untuk mematangkan pagelaran seni yang akan menjadi puncak dari Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy di pondok ini. Aa Rum

Pendidikan Homogenisasi di Gontor

0

2017-07-05-07.08.32.jpgBanyak orang mencemooh alumni Gontor dengan stigma macam-macam: tidak bisa membaca Kitab Kuning, bahasa Arab-nya bukan bahasa fush-ha tetapi Arab Gontor, shalat harus tanda tangan, kurang etika, dan lain sebagainya, mungkin masih puluhan lagi sumpah serapah. Akan tetapi, jika sudah mengetahui kiprah dan gerak alumni Gontor di masyarakat, cibiran itu tidak ada artinya. Kebaikan, bahkan keunggulan alumni Gontor jauh lebih banyak. Ibaratnya, jutaan bintang bertaburan di langit, akan lenyap begitu matahari bersinar terang. Mengapa demikian? Berikut sedikit ulasan penulis.

Pondok Modern Darussalam Gontor (PM Gontor/Gontor) menerapkan proses pendidikan santrinya dengan homogenisasi. Dengan sistem klasikal dan berasrama penuh, homogenisasi itu menjadi mudah dilakukan. Hal itu berlaku bagi siapa saja, dan dalam hal apa saja, tidak peduli anak kiai, anak tokoh, anak menteri, anak jenderal, anak luar negeri, semua dididik dengan sistem yang sama. Hasilnya, abituren Gontor menjadi manusia berkarakter khas, namun universal; dapat diterima masyarakat luas, dan dapat menjadi panutan. Homogenisasi dimaksud dalam hal-hal sebagai berikut.

Begitu masuk pondok, santri harus tidur dengan fasilitas dan cara yang sama. Dalam satu kamar yang berisi sekitar 30 orang santri tidak boleh lebih dari 5 orang yang seasal daerah (Konsul, istilah Gontornya). Mereka tidur di bawah, dan beralaskan kasur tipis. Waktu tidur, santri wajib mengenakan celana panjang, bukan sarung. Begitu bangun pagi Subuh, semua kasur harus digulung atau ditumpuk di satu tempat, dan tidak ada lagi yang boleh menambah waktu tidur, sebab, usai shalat Subuh, segudang kegiatan telah menanti.

Baju santri Gontor disesuaikan dengan waktu dan jenis aktivitasnya. Ketika ke masjid, santri wajib mengenakan baju yang dimasukkan ke dalam sarung, berkopiah hitam (bukan putih seperti umumnya pondok pesantren), dan berikat pinggang. Ketika olahraga, mereka harus mengganti pakaiannya dengan kaos yang dimasukkan ke dalam celana olahraga.

Baju sekolah santri putra tidak sama tetapi umumnya seragam. Ketentuannya, santri atau siswa Kulliyyatu-l-Mu‘allimin al-Islamiyyah (KMI) harus memiliki kemeja putih lengan panjang dan celana berwarna gelap, tidak harus hitam. Sehari-hari, ketika masuk kelas, ada siswa KMI yang mengenakan kemeja bermotif polos, garis, maupun kotak-kotak lembut; ada yang berlengan panjang, tapi lengan pendek pun boleh. motif batik atau bunga dilarang. Demikian pula warna yang mencolok, seperti merah, hitam, dsb. Warna celana tidak harus seragam. Saat bersekolah, baju itu harus dimasukkan ke dalam celana yang berikat pinggang, dan wajib bersepatu, apapun merknya. Saat berlatih pidato dalam bahasa Indonesia-Arab-Inggris, semua santri mengenakan kemeja putih. Khusus pembicara dan pembimbing, wajib mengenakan jas dan kopiah.

Barangsiapa tidak mengikuti aturan akan dikenai sanksi. Misalnya, berolahraga dengan pakaian shalat atau pakaian masuk kelas, atau mengenakan sarung pada jam sekolah (pukul 07.00–12.20 WIB), atau tidur mengenakan celana pendek.

Potongan rambut santri Gontor khas dan seragam, tidak boleh panjang. Ukurannya, rambut tidak boleh sampai menyentuh daun telinga. Jika rambut telah menyentuh daun telinga, tinggal pilih, yang dipotong telinganya atau rambutnya. Dalam kurun waktu tertentu, Bagian Keamanan dan Guru Pembimbing Santri akan mengelilingi kelas-kelas, mengingatkan yang rambutnya telah dianggap waktunya cukur. Yang namanya dicatat harus datang cukur di sore hari kemudian lapor kepada Bagian Keamanan. Ketika naik ke kelas 6, sebagai kesyukuran, para santri itu harus memotong rambutnya seperti taruna Akademi Militer. Mereka menyebutnya “jundy”, ‘seperti tentara’. Semua yang naik ke kelas 6 wajib jundy, sebagai ungkapan rasa kesyukuran.

Homogenisasi dalam berpakaian dan berpenampilan itu akan terbawa dan menjadi ciri khas alumni Gontor di manapun. Pakaian itu juga universal. Manusia, bahkan presiden dari negara manapun berpakaian seperti yang biasa dikenakan santri Gontor itu.

Yang tak kalah menariknya, pendidikan homogenisasi dalam hal makan. Pedoman di Gontor bukan “hidup untuk makan,” melainkan “makan untuk hidup.” Waktu dan menu makan diatur sedemikian rupa. Para santri itu pun harus makan tepat pada waktunya, dan dengan lauk yang tersedia, agar tidak kelaparan dan bisa mengikuti aktivitas pondok dengan baik. Tentang, lauk pauk, jangan tanya. Justru, di sinilah nilai pendidikan yang luar biasa. Para santri itu disuguhi menu yang sama. Yang penting, gizinya cukup. Telah meliputi rasa asin, manis, gurih, dan pedas. Mereka harus menyesuaikan diri. Memang, awalnya, anak dari Jogjakarta atau Jawa Tengah belum terbiasa dengan menu yang tersedia. Begitu pula santri dari luar Jawa yang umumnya justru suka pedas, harus melahap menu yang terkadang terlalu manis bagi indera pengecap mereka. Perutnya harus beradaptasi sebentar.

Tujuan homogenisasi dalam hal makanan ini agar lidah santri menjadi universal. Sehingga, ketika harus berjuang di derah tertentu atau sekolah di luar negeri menjadi mudah menerima makanan. Hal itu diakui alumnus Gontor yang telah puluhan tahun belajar di Cairo. Katanya, “Anak Gontor paling cepat menyesuaikan diri dengan jenis makanan di Cairo, sehingga kerasan.”

Pernah, seorang santri dari Thailand penulis tanya, apa makanan favoritnya selama di Gontor dan tidak ada di Thailand. Jawabannya mengejutkan, “Sayur terong.” Mungkin sayur lodeh terong maksudnya. Benar, lidahnya sudah universal.

Homogenisasi yang paling tinggi nilainya adalah dalam belajar, baik materi maupun metodenya. Oleh pendiri, kurikulum Gontor diramu bagi pembentukan karakter yang khas, khas Islam, bisa juga khas Indonesia, yang penting ber-akhlaqul karimah. Pelajaran-pelajaran itupun disampaikan secara berjenjang dan dengan metode khas Gontor. Pelajaran ibadah atau fiqih, misalnya, materinya berbahasa Indonesia, dan tidak dilengkapi dengan dalil-dalil yang rumit. Pertimbangannya, ibadah itu wajib, harus dilaksanakan, dengan atau tanpa dalil. Maka, K.H. Imam Zarkasyi, pengarang buku Fiqih, dalam pengantar buku itu, mengatakan bahwa tujuan belajar fiqih itu adalah agar anak segera dapat beribadah dengan baik. Kemudian, secara gradual, pada kelas-kelas berikutnya, materi pelajaran fiqih dilengkapi dengan dalil, baik fiqhu al-sunnah maupun fiqh al-wadhih. Muara materi pelajaran fiqih adalah kitab Bidayatul Mujtahid, agar, setelah tamat dan terjun ke masyarakat, alumni Gontor dapat menjadi perekat ummat, tidak berkutat pada furu’iyyah atau khilafiyah. Maka, terbentuklah pribadi yang khas Gontor dari metode belajar fiqh ini.

Hal yang sama, pengajaran secara gradual dan dengan materi yang seragam juga dilakukan Gontor terhadap pelajaran Dirasah Islamiyah dan Bahasa (Arab-Inggris). Adapun yang paling unik, di Gontor tidak ada pelajaran Akhlaq, yang menggunakan buku seperti Ta‘limul Muta‘allim atau al-Hikam, melainkan Mahfuzhat, yakni kata-kata bijak/mutiara yang sungguh membentuk karakter santri. Pelajaran ini diberikan kepada santri kelas 1–6. Hasilnya, dengan belajar Mahfuzhat, alumni Gontor akan mudah mengenali alumni lainnya, meskipun berbeda genarasi cukup jauh, kesamaan karakter, penyebabnya. Bahkan, Profesor Dr. H. A. Mukti Ali, M.A., mantan Menteri Agama RI era Orde Baru, mengatakan dalam sebuah tulisannya, “Justru Gontor-lah yang paling konsiten menerapkan Ta‘limul Muta‘allim, sebab pendidikan akhlaknya disertai disiplin yang ketat.”

Akibat belajar Mahfuzhat itu, beberapa alumni Gontor dapat menyusun puluhan buku dan menjadi motivator di mana-mana. Sebab, ajaran dalam Mahfuzhat Gontor itu, kecuali mudah dicerna dan dilaksanakan, juga dapat menjangkau ranah religi, psikologi, sosiologi, maupun antropologi.

Hal “sepele” lainnya, Gontor sarat dengan pendidikan karakter riil melalui aktivitas ko-kurikuler dan ekstrakurikuler para santri, seperti pramuka, latihan pidato, olahraga, kesenian, organisasi, maupun keterampilan. Aktivitas itu mendidik santri dalam hal tanggung jawab, keberanian, kerjasama, nasionalisme, dan sebagainya. Ada alumnus Gontor yang baru tamat beberapa tahun, hasil kaligrafinya terjual dengan harga puluhan juta. Ada juga mantan pemain bola di Gontor yang menjadi pimpinan organisasi sepak bola di daerahnya. Doktor K.H. Idham Cholid, K.H. Hasyim Muzadi, dan Prof. Dr. Dien Syamsuddin sukses memimpin ormas Islam terbesar selama beberapa periode. Itu karena pendidikan berorganisasi yang mereka rasakan dan alami di Gontor. Umumnya, alumni Gontor memiliki keterampilan hidup (life skill) lebih banyak dibandingkan sekolah-sekolah sederajat.

Yang tak kalah penting, guru di Gontor harus siap menjadi panutan dalam hal apa saja, terutama pelajaran dan sikap hidup. Puncak teladan adalah Kiai atau Pimpinan Pondok. Maka, definisi Gontor tentang pesantren adalah “sebuah lembaga pendidikan, dimana kiai secara central figure, dan masjid sebagai titik pusat yang menjiwai.” Para kiai dan guru ini, dapat dijadikan contoh bagi penerapan lima karakter utama (Panca Jiwa), yakni Keikhlasan, Kesederhanaan, Ukhuwwah Islamiyyah, Kemandirian, dan Kebebasan. Setiap saat, kiai berpidato mengenai Panca Jiwa itu, hingga melekat dalam hati para guru dan santri. Maka, Gontor bukan hanya ta‘limul muta‘allim (‘mendidik murid’), melainkan juga ta‘limul mu‘allim (‘mendidik guru’).

Begitulah Gontor, mendidik para santrinya sehingga memiliki karakter khas. Acapkali ada cerita seorang alumnus bertemu dengan seseorang yang karakternya nampak “Gontory.” Padahal, jarak usianya terpaut jauh. Lantas teguran khas Gontor pun terucap, “Anta min Ma‘had?” (‘Anda dari/alumnus Gontor?’) Sambil terkejut, yang ditanya pun menjawab, “Oh, na‘am. Ana khirrij sanah 1990. Antum sanah kam?” (‘Oh iya, saya alumnus 1990. Anda alumnus tahun berapa?’). Seterusnya, obrolan akrab pun terjadi dengan sendirinya, dengan bahan kenangan selama di pondok, kiai, guru, asrama, aktivitas, maupun teman.

Ada ilustrasi yang dramatik. Konon, terjadinya kesepakatan antara GAM Aceh dengan Pemerintah RI juga tak lepas dari peranan alumni Gontor. Waktu itu, Wapres Jusuf Kalla, selaku wakil dari Pemerintah RI membawa alumnus Gontor tahun 1970-an. Sementara itu, ada orang penting di pihak GAM yang alumnus Gontor tahun 1992. Ketika perundingan hampir buntu —secara dramatik dapat digambarkan— kedua alumni Gontor itu bertatapan muka, beradu pandang cukup lama. Lantas, hampir bersamaan, keduanya saling menyapa, “Antum min Ma’had?” Setelah itu, kedua alumni itupun berjabatan erat, bahkan berpelukan, dan saling memperkenalkan diri. Hadirin pun heran. Agaknya, setelah keduanya menjelaskan bahwa mereka satu almamater, Pondok Modern Darussalam Gontor, secara perlahan, kesepahaman dapat dijalin, kesepakatan pun cair. Jadilah Aceh seperti sekarang.

Akan halnya pendiri Gontor sendiri, cukup unik. Semasa Soekarno, dua dari tiga orang pendiri PM Gontor dipercaya menduduki jabatan penting di pemerintahan, yaitu K.H. Zainuddin Fannani dipercaya menjadi Anggota Badan Pekerja MPRS, dan K.H. Imam Zarkasyi didudukkan sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Pendidikan dan Pengajaran Agama (MP3A), juga menjadi salah satu wakil Islam di Dewan Perancang Nasional (sekarang Bappenas), dan diutus presiden mengunjungi Uni Sovyet pada tahun 1961. Semasa pemerintahan Presiden Soeharto, selain ketua MP3A, K.H. Imam Zarkasyi juga mendapat amanat sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia. Apakah hal itu menunjukkan Pak Zarkasyi bunglon? Oh, tidak. Justru hal itu menunjukkan bahwa Gontor tidak ke mana-mana tetapi ada di mana-mana.

Maka, pesan saya, jika melihat alumni Gontor jangan hanya dari satu sisi, melainkan menyeluruh, nanti akan terlihat kelebihan-kelebihan mereka. Bagi para alumni Gontor, kalau mulai curiga terhadap Gontor, silakan segera menjenguk pondok, supaya tidak ketinggalan informasi! Yang perlu diketahui, mengunjungi pondok tidak bisa digantikan dengan membaca berita tentang pondok; lain rasanya, lain sensasinya, sebab lain pula atmosfernya. Para kiai pendiri itu bahkan tidak menginginkan kuburannya menjadi prioritas kunjungan, sebab menggunjungi dan mendoakan pondok itu sama saja dengan mendoakan para almarhum itu.

Wallahu a’lam bishshawab. Mohon ditambah jika kurang, atau dikoreksi jika salah! Semoga bermanfaat!

Gontor, 10 Syawwal 1438

Drs. H. Nasrulloh Zainul Muttaqin