Home Blog Page 574

Wardun Masuki Tahap Pencetakan

0

GONTOR — Memasuki hari ke-3 Ujian Syafahi, Warta Dunia (Wardun) Pondok Modern Darussalam Gontor mulai memasuki tahap pencetakan halaman berbahasa Indonesia. Hingga berita ini diturunkan, Rabu (7/7), proses penerjemahan Wardun ke dalam bahasa Arab dan Inggris masih berjalan. Tim penerjemah bahasa Arab yang terdiri dari Ustadz Abdul Hafidz Zaid, M.A. dan Ustadz Azmi Syukri Zarkasyi, Lc. terlihat sibuk di Darussalam Press, pusat pencetakan Wardun. Begitu juga halnya dengan tim penerjemah bahasa Inggris yang ditangani Ustadz H. Imam Bahroni, M.A., M.L.S. dan Ustadz Khoirul Umam, M.Ec.

Wardun merupakan media informasi tertulis tentang Pondok Modern Darussalam Gontor yang disajikan dalam tiga bahasa: Indonesia, Arab dan Inggris. Wardun memuat berbagai aktivitas pondok selama satu tahun ajaran. Di dalamnya terdapat berita tentang Gontor dan cabang-cabangnya, terangkum dalam 261 halaman. Wardun ini akan dibagikan kepada seluruh santri se-Darussalam menjelang perpulangan akhir tahun, Agustus mendatang. Dengan demikian, seluruh wali santri dapat mengetahui sejauh mana perkembangan Gontor melalui Wardun yang dibawa pulang para santri. shah wa 2010

Cobalah dan Kuasailah!

0

“Coba dan simaklah dengan baik, pasti kamu dapat menguasainya dengan baik pula!” Demikianlah pepatah mengatakan dalam pelajaran Mahfudhot kelas 1 Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor, yaitu “Jarrib wa laahidz takun ‘aarifan!” Segenap santri se-Darussalam seakan-akan datang ke Gontor belum menguasai apa-apa. Mereka kemudian berani mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan naluri mereka masing-masing. Memang, Gontor mempersilakan santri-santrinya untuk berkreasi dan beraktivitas menurut keinginan yang terlintas di benak mereka.

Maka, ustadz-ustadz sering berkata kepada para santri yang menggambarkan seberapa leluasanya mereka berbuat di Gontor, “Kalian boleh melakukan apa saja di Gontor kecuali yang dilarang.” Demikianlah, mereka bebas tapi mereka juga berdisiplin karena disiplinlah yang membuat pondok ini maju dan berkembang dengan pesat. Disiplin pulalah yang menjadikan para alumninya survive di tengah-tengah kompetisi yang semakin ketat ini.

Keleluasaan yang diberikan Gontor kepada seluruh santri menjadikan mereka nyaman tinggal di pondok. Dengan segala hal yang ada di Gontor, mereka dapat menyalurkan bakat dan mengembangkan kemampuan di segala bidang. Gontor menyediakan segala kunci yang mereka butuhkan. Maka, silakan memilih kunci-kunci tersebut. shah wa

Penulisan Paper Tingkatkan Intelektualitas Siswa Kelas 6 KMI

0

DARUSSALAM — Di tengah-tengah kesibukan membantu Panitia Ujian Akhir Tahun sebagai penguji Ujian Syafahi, siswa kelas 6 Kulliyatu-l-Mu'allimin Al-Islamiyah (KMI) mulai memfokuskan diri pada penulisan makalah ilmiah atau biasa disebut dengan paper. Hal ini ditandai dengan diadakannya acara pengarahan penulisan paper yang dipandu Ustadz Khoirul Umam, M.Ec. di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), Selasa (6/7) malam. Seluruh siswa kelas 6 KMI Pondok Modern Darussalam Gontor yang kini jumlahnya mencapai 678 orang siswa (jumlah siswa kelas 6 di Gontor 1-red) tersebut diharuskan mengikuti acara pengarahan yang juga dihadiri para ustadz pembimbing kelas 6.

Makalah yang akan ditulis berkaitan dengan materi aqidah, fiqih atau tarbiyah. Mereka diharuskan untuk memilih salah satu dari ketiga materi tersebut yang kemudian diajukan kepada ustadz pembimbing atau wali kelas masing-masing. Makalah tersebut akan dikoreksi dan dinyatakan lulus jika memenuhi kriteria yang telah ditentukan sesuai dengan standar penulisan karya tulis ilmiah.

Paper yang dikumpulkan menjelang acara Rihlah Tarbawiyah siswa kelas 6 tersebut merupakan syarat mengikuti yudisium kelulusan bagi siswa kelas 6 KMI. Di samping itu, dengan adanya program penulisan paper ini, siswa kelas 6 dapat mengisi waktu luangnya di saat segenap siswa kelas 1-5 berjibaku menghadapi ujian mereka. Pada saat inilah, mereka akan menghabiskan waktu yang ada dengan membenamkan diri di perpustakaan, mencari dan melengkapi bahan tulisan paper sesuai dengan judul yang diajukan. shah wa 2010

Dr. Mustofa Dasuki Kesba Kunjungi Gontor

0

GONTOR — Pakar Ekonomi Islam, Dr. Mustofa Dasuki Kesba dan Guru Besar Universitas Al Azhar, Prof. Dr. Alwi Amin Al-Sayyid Kholil, berkunjung ke Gontor, Selasa (6/7) siang. Kedatangan rombongan disambut Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. dan K.H. Hasan Abdullah Sahal, dengan suka cita di Kantor Pimpinan.

Setiba di Gontor, rombongan menyempatkan diri untuk menunaikan shalat Zuhur berjama’ah di Masjid Jami’ bersama segenap santri se-Darussalam. Dalam kesempatan ini, Dr. Mustofa Dasuki Kesba mengungkapkan kekagumannya kepada Gontor dengan eksistensi dan perannya di dalam dunia pendidikan. Tidak lupa pula, beliau kepada seluruh santri agar menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya untuk belajar dan meraih cita-cita demi kemajuan Islam di masa yang akan datang.

Sementara itu, sehari sebelumnya, rombongan telah tiba di Pondok Modern Gontor Putri 1, Mantingan, Ngawi, Senin (5/7), dan menginap di sana setelah mengadakan silaturrahim dengan seluruh santriwati. Di samping itu, sebelum berangkat ke Gontor, rombongan tidak melewatkan kesempatan untuk mengunjungi Pondok Modern Gontor Putri 3, Karangbanyu, Widodaren, Ngawi, Selasa (6/7) pagi. shah wa 2010


Penguji Ujian Syafahi Persiapkan Materi Ujian

0

DARUSSALAM — Ujian Syafahi tinggal sehari lagi, Senin (5/7) ini. Para penguji Ujian Syafahi (ujian lisan-red) yang terdiri dari Dewan Guru dan siswa kelas 6 Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) tersebut mempersiapkan materi ujian sesuai dengan kurikulum yang ada. Untuk memelihara kualitas atau standar soal Ujian Syafahi, mereka diharuskan untuk mengikuti pengoreksian materi ujian atau biasa disebut tanqih i’dad kepada beberapa Dewan Guru Senior yang telah ditentukan. Acara tanqih i’dad ini berlangsung hari ini, Ahad (4/7) pagi, di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM).

Sementara itu, segenap santri kelas 1-5 KMI terlihat asyik belajar di tempat-tempat yang mereka sukai. Ujian di depan mata memacu mereka untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin sehingga mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan pada Ujian Syafahi kelak. shah wa 2010

Ben Dadi Wong

0

Belajar apa di Gontor?

Pertanyaan ini terkadang muncul, baik di benak para santri maupun para wali.

Santri belajar mengenai keilmuan Islam. Santri belajar ilmu eksakta. Santri belajar apa itu olahraga. Apa itu pramuka. Apa itu seni. Apa itu bahasa.

Santri belajar tentang kehidupan. Bagaimana hidup. Bagaimana bergaul. Bagaimana mandiri. Bagaimana berorganisasi. Santri belajar apa itu problem solving, character building, teamwork, self-support,  semuanya.

Tujuan belajar di Gontor menurut KH. Ahmad Sahal, salah satu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor adalah ‘ben dadi wong’. Agar menjadi manusia sepenuhnya. Manusia yang mampu menggunakan seluruh potensi kemanusiannya.

Howard Gardner, pada tahun 1983 pernah meluncurkan teori multiple intelligences, teori kecerdasan majemuk, yaitu kecerdasan spasial, linguistik, logika, kinestetik, musikal, interpersonal, personal serta naturalistik. Secara ringkas, di Gontor, seorang santri ditujukan untuk mampu menggunakan kesemua kecerdasan tersebut.

Para Santri Siapkan Diri Hadapi Ujian

0

GONTOR— Pondok Modern Darussalam Gontor mulai menginjak masa-masa Ujian Akhir Tahun 1431-2010. Hal ini ditandai dengan berakhirnya masa belajar aktif di kelas, Kamis (1/7) lalu. Seluruh santri se-Darussalam mempersiapkan diri menghadapi ujian yang sudah di ambang pintu tersebut. Siswa kelas 1-5 Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) beramai-ramai mendatangi wali kelas mereka masing-masing untuk menyelesaikan hapalan Juz ‘Amma sebagai syarat mengikuti Ujian Syafahi (ujian lisan-red), Senin (5/7) mendatang.

 

Sementara itu, Bagian Administrasi Pondok Modern Darussalam Gontor  terlihat sibuk menerima santri-santri yang ingin melunasi pembayaran sekolah dan dapur. Pasalnya, selain hapalan Juz ‘Amma di atas, mereka juga harus melunasi pembayaran tersebut hingga bulan Sya’ban agar bisa memasuki ruang ujian. Jika tidak, nama mereka akan diblok hitam, menyatakan bahwa yang bersangkutan belum berhak mengikuti ujian.

Sebelum ini, Kamis (1/7) kemarin, siswa kelas 6 KMI dapat bernapas lega dengan berakhirnya Ujian Akhir Kelas 6 yang memakan waktu hampir satu bulan penuh. Semuanya nampak bahagia dapat melewati masa-masa yang menguras pikiran mereka itu. Kini, mereka mendapatkan tugas membantu asatidz untuk menguji siswa kelas 1-5 pada Ujian Syafahi nanti. Maka, nampaklah suasana Gontor dengan para santrinya yang sibuk belajar dibimbing para asatidz di setiap tempat di lingkungan pondok. shah wa 2010


Pimpinan Ponpes se-NTB Kunjungi Gontor

0

GONTOR — Berawal dari undangan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA, sewaktu memberikan sambutan pada acara seminar yang digelar Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Cabang Lombok, November 2009 silam, rombongan Pimpinan Pondok Pesantren se-Nusa Tenggara Barat (NTB) mengunjungi Gontor seminggu yang lalu. Rombongan Kyai se-NTB yang berjumlah 126 orang tersebut bermukim di Gontor selama tiga hari. Mereka menginap di Wisma Darussalam mulai Kamis (10/6) sore hingga Sabtu (12/6) pagi. Kedatangan rombongan yang dipimpin TGH. Shafwan Hakim, ketua Forum Kerjasama Pesantren se-NTB, diterima Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA dan KH. Syamsul Hadi Abdan, S.Ag. pada jamuan makan malam di Aula Aligarh, Kamis (10/6) malam.


 

 

Pada acara silaturrahim bersama Pimpinan Pondok yang digelar setelah makan malam di Aula Rabithoh, TGH. Shafwan Hakim mengungkapkan kegembiraan dan kekagumannya terhadap Gontor yang telah berkembang dengan pesat dan menjadi tolok ukur kesuksesan pondok pesantren se-Indonesia. Dalam kesempatan ini, KH. Abdullah Syukri Zarkasyi mencoba memperkenalkan Gontor yang konsisten dengan visi dan misinya sebagai lembaga pendidikan Islam modern. Dengan penuh antusias, para tamu rombongan menyimak pemaparan KH. Abdullah Syukri Zarkasyi mengenai nilai dan sistem serta filsafat hidup yang dipegang teguh Gontor semenjak berdirinya pada tahun 1926 hingga sekarang.  

Selain berkunjung ke Gontor, rombongan juga mengadakan silaturrahim dengan fungsionaris Institut Studi Islam Darussalam (ISID), Jum’at (11/6) pagi. Sebelum itu, pada hari yang sama mereka terlebih dahulu melihat-lihat Kampus Gontor 2 yang terletak di Madusari, Siman, Poronoro. Setiba di Kampus Baru ISID Siman, rombongan disambut KH. Imam Subakir Ahmad, Dr. H. Hamid Fahmy Zarkasyi dan Dr. H. Dihyatun Masqon. Mereka dipersilakan memasuki Aula Gedung CIOS untuk mengikuti acara yang telah dipersiapkan pihak ISID.

Pada kesempatan ini, KH. Imam Subakir Ahmad memperkenalkan ISID sebagai jenjang perguruan tinggi yang dimiliki Pondok Modern Darussalam Gontor setelah santri-santrinya menyelesaikan program Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) selama 4-6 tahun. Di samping itu, para tamu juga diperkenalkan dengan Program Kaderisasi Ulama (PKU) yang disampaikan Dr. H. Hamid Fahmy Zarkasyi. Mendengar penjelasan Dr. H. Hamid Fahmy Zarkasyi yang juga menjadi salah satu pembicara pada seminar di Kota Mataram tersebut, mereka salut dengan dinamika ilmiah yang kini berkembang semakin maju di kalangan mahasiswa ISID. Mereka yakin, Gontor akan berada di barisan terdepan dalam memberantas paham-paham liberalisme dan sejenisnya yang tengah merusak tatanan keislaman saat ini.

Sebelum beranjak pulang, rombongan merasa belum puas jika tidak menyempatkan diri untuk singgah di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 1 dan 3 di Ngawi. Seperti halnya di Gontor, para tamu kembali tidak dapat menyembunyikan kekaguman mereka. Bagi mereka, kunjungan yang sarat pengalaman ini benar-benar berkesan dan akan menjadi rujukan dalam mengelola pesantren di NTB. shah wa

Malaikatan

0

Semalam, di masjid pusaka, KH. Syamsul Hadi Abdan berbicara mengenai hal yang tersebut di atas, malaikatan. Apa itu malaikatan? Sebenarnya ada prolog, sebelum memahami benar apa arti malaikatan itu.

Tersebutlah, pada zaman dahulu, sebelum era modern yang kita hidup sekarang. Seorang santri dari suatu pesantren, ataupun madrasah diniyyah, menerima ilmu dari institusi yang mendidiknya. Hari demi hari berlalu,  setelah berselang lama,  sang santri pun menyelesaikan thalabu-l-ilmi. Kemudian, apabila ada sekolah lain, atau bahkan sekolahnya sendiri, yang menghajatkan kepada ilmunya, ia akan dengan serta merta memberikan. Tanpa bayaran. Tanpa pamrih. Tanpa gaji. Itulah asal mula kata malaikatan, karena mereka berbuat layaknya malaikat, tidak makan, tidak minum, tidak menerima apapun. Hanya dengan keikhlasan.

Nah, kalaulah dibandingkan dengan zaman yang kita hidup sekarang,  tentunya mungkin itu gambaran yang asing dan mungkin pembaca akan berkata, memangnya dulu seperti itu ya?.

Andaikata banyak sekolah dan pengajar di zaman ini, memiliki jiwa seperti ini, wajah pendidikan Indonesia akan berubah.

Dinasti

0

Dalam tradisi kepemimpinan tradisional, pimpinan pesantren, atau biasanya kyai adalah pengasuh, pemimpin, sekaligus pemilik pesantren.

Hal ini menjadikan kyai sebagai figur sentral. Dinasti kepemimpinan ini berlanjut ketika sang kyai meninggal, maka seluruh aset pesantren beserta kekyaian diwarisi oleh keturunannya.

Pada pola kepemimpinan yang sedemikian, ada dua hal yang perlu diperhatikan: pertama, hanya anak kyai yang berhak mewarisi kepemimpinan; kedua, pesantren dijalankan dengan dengan kepemimpinan tunggal.

Persoalan yang seringkali muncul adalah: kualifikasi seorang pewaris kepemimpinan. Tanpa adanya kemampuan personal dari pewaris kepemimpinan, kelangsungan pesantren sepeninggalan kyai terdahulu tidak dapat dipertahankan. Pada poin kedua, kepemimpinan tunggal adalah pola kepemimpinan yang rentan apabila ketika pesantren menjadi besar, maka akan dihadapi masalah yang semakin kompleks, seiring kemajuan pondok dengan bertambahnya jumlah santri atau permasalahan lainnya.

Sebuah pandangan baru, yang sekarang diterapkan Gontor, bahwa kepemimpinan pesantren tidak lagi bersifat dinasti atau individual. Penetapan seorang pemimpin lebih ditentukan pada faktor kelayakan ketimbang keturunan, sehingga anak seorang kyai tidak otomatis menjadi pemimpin pesantren kecuali jika ia memenuhi standar kelayakan untuk menjadi pimpinan.

Disarikan dari buku Manajemen Pesantren, Pengalaman Pondok Modern Gontor, KH. Abdullah Syukri Zarkasyi.