Home Blog Page 581

Keikhlasan dalam Perjuangan

0

Perjuangan seseorang, kelompok yang dilakukan kerena Allah akan menghasilkan sesuatu yang tidak pernah kita kira, salah satunya adalah Pondok Modern Darussalam Gontor yang dimulai dari sebuah masjid kecil. Akan tetapi kita melihat kecilnya masjid, akan tetapi kebesaran jiwa, kebesaran wawasan keikhlasan dari pendirinya menumbuhkan system, gerakan, sejarah, manusia- manusia yang mewarnai islam.

Rahmat, barkah dan manfaat dari Allah akan mengalir setiap saat sampai anak – anak dan cucu – cucu serta keturunan hasil yang besumber dari pejuangan yang sungguh – sungguh. Perjuangan tersebut hendaknya dilaksanakan untuk membela dan membantu pondok ini dimanapun kita berada.  Dengan perjuangan dan tekat yang kuat, maka dibangunlah  Gontor 2, 3 dan seterusnya. Semua Gontor akan naik dan terus berkembang, dengan sytem dan orientasi yang sama, atau sebuah paket yang tidak dapa dicampur dengan system, visi, misi dan orientasi lembaga lain. Seperti halnya sepeda motor atau mobil yang dicampur – campur suku cadangnya, akibatnya laju dan kemampuannya berubah dengan sepeda motor atau mobil dengan suku cadang asli.

Rahasia keberhasilan adalah all out dalam segala hal, tanpa menyisihkan suatu hal. Seperti halnya bagian – bagian dan instansi di pondok ini maju dan berkembang pesat disegala bidang, karena disentuh dengan Total Quality Control dari Bapak Pimpinan Pondok dan Pengasuh.

Hanya orang – orang yang ikhlaslah yang  mengetahui pentingnya keikhlasan dan hanya orang – orang yang berjuang dijalan Allah yang mengetahui arti perjuangan.

 Berbuat baiklah dengan segala kekuarangan, aib yang kita miliki, dalam hal pribadi,  keluarga kita dan pondok, Maka barang siapa yang berjuang untuk kepentingan pondok sama artinya berjuangan untuk Allah, maka Allah akan memberikan apa saja yang kita inginkan.

Jum’at 1 Jumadal Tsaniyah 1431

Guru: Lebih Dari Sekedar Profesi

0

Guru di Gontor diharapkan menjadi ujung tombak pendidikan. Guru memiliki peran signifikan dalam keberhasilan pendidikan.

Pertama-tama, ia harus menguasai pelajaran yang diajarkan. Kedua, tidak cukup dengan pelajaran, ia juga harus memahami metode yang tepat untuk mengajar. Ketiga, seorang guru harus memiliki ketrampilan mengajar yang baik.

Akan tetapi, ketiganya tidaklah cukup di Gontor.

Ada faktor keempat, yang mana menjadi fondasi kesemuanya: Jiwa guru.

Sebuah adagium terdengar: metode lebih penting daripada pelajaran, pengajar lebih penting  daripada metode, akan tetapi, di balik itu semua, ruh guru lebih penting daripada guru itu sendiri.

Pekerjaan guru pun tidak hanya sampai selesai di kelas. Di asrama, ada guru-guru yang bertugas menjadi syaikh asrama. Di berbagai organisasi, instansi dan klub, posisi guru menempati posisi tertinggi: pembimbing.

Itu pun belum cukup. Guru harus mendoakan muridnya, begitu KH. Abdullah Syukri Zarkasyi mengatakan suatu waktu.

Guru adalah pengemban amanat, seorang agent of change. Alangkah dahsyatnya peran seorang guru.

Kamis, 29 Jumadal Ula 1431

Ujian dan Optimisme

0

Gontor mengajarkan para santrinya untuk bersikap optimis, dalam segala bidang. Tidak dapat dipungkiri, tipologi santri memang bermacam-macam, ada yang menonjol, ada yang biasa-biasa saja, ada juga yang kurang. Akan tetapi, mereka tetap optimis dalam menghadapi ujian,masalah-masalah, cobaan.

Falsafah hidup ditanamkan dalam jiwa mereka. Bait pertama pada pelajaran Mahfudzat kelas 1, yaitu pelajaran hafalan bait syair dan hikmah dalam bahasa arab, akan selalu dikenang. Siapapun yang pernah belajar di Kulliyatul MU’allimin Al-Islamiyyah akan tahu man jadda wajada (?? ?? ???: barang siapa berusaha dia akan mendapatkan).

Bait ini selalu dikenang sepanjang hayat. Mereka paham dan menghayati sepenuh hati, arti dari kata perjuangan, yang timbul darinya optimisme. Pada akhirnya optimisme menjiwai semua langkah kehidupan : usaha, pikiran, bahkan doa.

Sehingga, meskipun mereka gagal, tapi mereka tetap mendapatkan sebuah pelajaran berharga: mahalnya sebuah optimisme.

Rabu, 28 Jumadal Ula 1431

Out of The Box

0

Banyak yang terheran-heran begitu pertama kali datang ke Gontor. Bayangan pondok pesantren yang konvensional, tradisional dan  stagnan, berubah seketika.

Gontor mendidik para santrinya  untuk menjadi ahli dalam urusan dunia dan akhirat. Santri tidak hanya diarahkan menjadi ulama saja, melainkan juga pemimpin. Ada gerakan keilmuan, ada gerakan latihan kepemimpinan. Tidak hanya bahasa Arab saja, bahasa Inggris juga digunakan di sini. Pramuka di Gontor menjadi wahana pelatihan kepemimpinan yang dinamis. Latihan pidato atau muhadharah setiap Ahad dan Kamis menjadi latihan para santri untuk berorasi. Klub-klub olahraga, kesenian, bahasa, keilmuan, kepenulisan dan lainnya menjadi ajang bagi para santri untuk berprestasi.

Gontor adalah hasil pemikiran yang out of the box, di luar lazimnya pesantren ketika didirikan tahun 1926.  Ketika itu, pondok pesantren adalah pondok salaf semata. Gontor mengambil terobosan untuk menciptakan sistem pendidikan baru.

Meskipun begitu, kata modern adalah pemberian dari pihak luar, karena nama aslinya pondok ini adalah Pondok Darussalam. Gontor memiliki wawasan dan orientasi ke depan, berpikiran maju.

Selasa, 27 Jumadal Ula 1431

Pendidikan Karakter

0

Di Gontor, di mana pendidikan karakter terbina? Apakah di kelas saja? Atau di asrama saja? Jawabnya adalah, di semua segi pondok ini, baik di kamar, kelas, masjid, dapur sekalipun, semuanya adalah lingkungan yang mendidik.

Di kamar-kamar asrama sebagai lingkungan mikro, ada ketua kamar sebagai pemimpin, ada anggota yang dipimpin, ada organisasi, gerakan, ide. Ada simpati, kebersamaan, kesamarataan, persatuan. Santri yang berasal dari Kalimantan, harus bisa menjalin persahabatan dengan santri Sumatera. Santri Jawa, harus bisa berkawan dengan santri Papua. Tidak ada perbedaan. Begitu pula di semua ranah dinamika lainnya.

Beragam kegiatan positif membentuk kepribadian santri. Gerakan demi gerakan, menjadi gemblengan bagi mereka. Seringkali KH. Abdullah Syukri Zarkasyi mengatakan: “Bergeraklah, karena dalam pergerakan terdapat berkah”. Kata-kata ini menjadi syiar untuk bergerak, berbuat dan berkorban, dengan landasan keikhlasan, yang lahir darinya berkah.

Senin 26 Jumadal Ula 1431

Kekuatan dan Kemajuan Gontor

0

Pondok ini mempunyai ajaran yang berupa ide, nilai, sistem dan filsafat hidup yang menjiwai seluruh totalitas kehidupan yang ada. Adapun Faktor-faktor pendukung kekuatan dan kemajuan Gontor itu bermacam-macam, antara lain telah diwakafkannya pada tahun 1958. Pada tahun itu secara resmi Pondok Modern Darussalam Gontor telah diwakafkan dan menjadi milik umat Islam, bukan milik keluarga pendiri. Untuk itu, dibentuklah Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor. Pimpinan Pondok pun haruslah dari anggota Badan Wakaf. KH. Hasan Abdullah Sahal pernah mengatakan,Tidak ada majelis-majelis yang lain di pondok ini, yang ada hanyalah Badan Wakaf dan Pimpinan Pondok.

Selain itu, Gontor selalu berpegang teguh pada Panca Jiwa Pondok meliputi Keikhlasan, Kesederhanaan, Kemandirian, Ukhuwah Islamiyah dan Kebebasan. Dalam hal ini, Gontor mempunyai dua landasan, yaitu landasan ideal berupa Panca Jiwa dan landasan operasional berupa Panca Jangka.

Gontor melaksanakan Panca Jangka Pondok dengan sungguh-sungguh. Panca Jangka Pondok meliputi Pendidikan dan Pengajaran, Kaderisasi, Pergedungan, Khizanatullah (pengadaan sumber dana) dan Kesejahteraan Keluarga Pondok. Bahwasanya Allah menyukai dan mencintai orang yang mengerjakan suatu pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Mafhum mukholafahnya berarti bahwa Allah benci terhadap orang yang tidak bersungguh-sungguh dan Allah tidak akan menolongnya. Jangan setengah-setengah dalam bekerja, karena orang yang setengah-setengah dalam bekerja itu menggangu, seperti orang yang memegang bara (setelah merasa kepanasan langsung dibuang).

Pondok mempunyai ajaran (yaitu ajaran kepondokmodernan) yang selalu dijalankan. Pondok Modern Darussalam Gontor sebagai perekat umat karena berdiri di atas dan untuk semua golongan. Andaikata seluruh guru dan santri Gontor berasal dari Muhammadiyah, Maka Gontor tidak boleh dijadikan Muhammadiyah. Andaikata guru-guru dan santri-santri Gontor berasal dari Nahdhotul Ulama semuanya, Gontor tidak boleh dijadikan Nahdhotul Ulama.Gontor berdiri di atas dan untuk semua golongan.

Pondok mempunyai nilai dan sistem. Sistem cara mendidik dan lain sebagainya. Ada yang mau melaksanakan, mampu melaksanakan dan berani menanggung resiko dari pelaksanaan sistem yang ada. Salah satunya adalah sistem open management yang membuat Gontor dipercaya santri dan masyarakat.

Kemajuan Gontor juga didorong keinginan dan kemauan yang kuat untuk maju dan meluaskan wawasan mencakup bidang keilmuan, politik, ekonomi, sosial, kesehatan, keagamaan dan lain-lain. Kekompakan juga menjadi faktor kemajuan Gontor yang menimbulkan rasa saling percaya satu sama lain.

Gontor mengutamakan kemandirian. Dibantu pihak luar ataupun tidak, Gontor akan tetap berjalan. Kemandirian Gontor mencakup segala bidang termasuk bidang politik, ekonomi, pendidikan dan lain-lain. Selain itu, Gontor menganut sistem proteksi. Sebisa mungkin orang luar tidak diperkenankan memasukkan sistem ataupun barang-barang ke pondok (Gontor mengutamakan potensi sendiri).

Pondok Modern Darussalam Gontor selalu berkomitmen, istiqomah terhadap pananaman dan penguatan akidah, syariat dan akhlak. Eksistensi suatu pondok pesantren (lembaga pendidikan Islam) diakui apabila menanamkan tiga komponen pokok ajaran Islam tersebut, yaitu iman, islam dan ihsan. Dalam munasabah-munasabah penting termasuk silaturrahim dengan para wali santri dan calon-calon santri, KH. Imam Zarkasyi sering mengatakan, Santri-santri Gontor ini disiapkan untuk mencapai predikat MM (Mukmin-Muslim).

Predikat MM inilah yang menyelamatkan dan membahagiakan hidup manusia di dunia dan akhirat. Setelah tercapainya predikat MM itu, bolehlah meneruskan ke perguruan tinggi sampai mencapai gelar keduniaan seperti Dra., Drs., SH., MA., Dr. dan lain sebagainya. Akan tetapi gelar-gelar itu jangan sampai melemahkan atau melunturkan predikat yang pertama dicapai, yaitu Mukmin-Muslim. Bahkan hendaknya mampu menguatkannya.

Gontor memiliki motto-motto Pondok Modern Darussalam Gontor yang disampaikan kepada santri, guru dan masyarakat dan dilaksanakan secara istiqomah. Di antara motto-motto yang sangat penting adalah Berbudi Tinggi, Berbadan Sehat, Berpengetahuan Luas dan Berpikiran Bebas.

Bahwasanya pondok ini adalah lapangan jihad dan pengabdian. Jihad tidak hanya memerangi musuh-musuh Islam saja, mendidik dan mengajar termasuk jihad, memanage pondok secara keseluruhan termasuk jihad, menguatkan dan mengembangkan usaha-usaha ekonomi pondok termasuk jihad, bahkan semua kegiatan dalam pondok mempunyai makna jihad. Jihad memerlukan pengorbanan, maka, terdapat motto’Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan’, yang bersumber dari ayat Alquran surat At-Taubah ayat 111.

Alhamdulillah, pondok ini telah diberi kekuatan untuk mengambil inisiatif, kemauan dan kemampuan untuk memanfaatkan jaringan kerja dalam bermacam-macam aspek dan bermacam-macam tingkatan, di dalam pondok dan di luar pondok. Gontor mendayagunakan dan mengoptimalkan sarana dan prasarana perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware) secara sungguh-sungguh dan terus menerus.

Untuk memantapkan dan meluaskan wawasan, pondok sering menyelenggarakan seminar, dialog dan semacam sarasehan. Di samping itu, Gontor selalu meningkatkan kerjasama dengan lembaga-lembaga perguruan tinggi di dalam dan luar negeri yang dituangkan dalam MoU (Memorandum of Understanding). Antara lain dengan UKM (Universitas Kebangsaan Malaysia) dan IIUM (International Islamic University Malaysia).

Untuk itu, kurikulum pondok dan lembaga-lembaganya selalu dievaluasi dan dikembangkan seperti pembaharuan buku-buku pelajaran yang lebih baik. Perpustakaan selalu dilengkapi, dikembangkan dan dioptimalkan pemanfaatannya seperti perpustakaan ISID, perpustakaan KMI, perpustakaan Darussalam, perpustakaan OPPM, perpustakaan Gerakan Pramuka, perpustakaan Kantor Pimpinan dan kantor-kantor lembaga lainnya.

Sementara itu, untuk memperkuat pemahaman tentang kepondokmodernan, Pimpinan Pondok melaksanakan pertemuan rutin setiap bulan untuk guru-guru, para dosen yang sudah berkeluarga dan kader-kader. Sehingga, semuanya mengerti bahwa Pondok Modern Darussalam Gontor adalah sebuah Pondok Keislaman, Pondok Keilmuan, Pondok Kemasyarakatan dan Pondok Pengkaderan. Inilah Pondok Modern, pondok namun modern. Modern namun tetap pondok.

 

Disampaikan oleh KH. Imam Badri dalam acara IKPM Cabang Kendal, 28 Juni 2005.

Fathul Kutub Perluas Wawasan Keislaman Santri

0

DARUSSALAM— Untuk memperluas wawasan keislaman santri Gontor, Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) menggelar acara Usbuu’u-l-Dirasah fi Kutubi-l-Turaats Al-Islamiy atau Fathul Kutub untuk seluruh siswa kelas kelas 5 yang dibuka Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Syamsul Hadi Abdan, S.Ag, Jum’at (30/4) malam, di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM). Adapun jumlah siswa kelas 5 yang mengikuti acara tersebut mencapai 762 orang. Jumlah ini tidaklah termasuk siswa kelas 5 yang berada di Pondok-pondok Cabang. Untuk mendidik kemandirian, setiap Pondok Cabang mengadakan Fathul Kutub di tempat masing-masing.

“Seluruh siswa kelas 5 diharuskan mengikuti Fathul Kutub ini dengan sungguh-sungguh. Tidak seorang pun diperkenankan untuk meninggalkan acara sepenting ini kecuali untuk keperluan pondok yang mendesak,” ungkap Ustadz Heru Prasetyo selaku Panitia Pelaksana Fathul Kutub kelas 5 tahun ini kepada Gontor Online, Senin (3/5) lalu.

Acara yang berlangsung selama enam hari berturut-turut diawali dengan pembekalan materi pokok terlebih dahulu. Menurut Ustadz Heru, ketiga materi pokok tersebut adalah Fiqih, Tauhid dan Hadits. Semuanya disampaikan pada hari kedua setelah pembukaan, Sabtu (1/5) pagi. Materi Fiqih disampaikan oleh Ustadz H. Syarif Abadi, materi Tauhid disampaikan oleh Ustadz H. Ahmad Suharto, S.Ag. dan materi Hadits disampaikan Ustadz Imam Awaluddin, M.A. Pembekalan ini bertujuan agar para santri mengetahui berbagai permasalahan yang menyangkut ketiga bidang ilmu pengetahuan tersebut sebelum mereka membuka kitab-kitab yang ada di hadapan mereka. Sehingga, pada saat Fathul Kutub berlangsung, mereka dapat membahasnya dan menemukan jawaban dari kitab-kitab klasik tersebut.

Fathul Kutub sendiri merupakan sistem belajar kelompok dengan cara menelaah kitab-kitab Fiqih, Tauhid dan Hadits yang dikarang para ulama terdahulu. Hasil telaah ini kemudian didiskusikan bersama-sama di dalam kelompok masing-masing dengan diarahkan seorang ustadz pembimbing dari para wali kelas 5. Adapun jumlah kelompok Fathul Kutub tahun ini mencapai 48 firqoh. Setiap kelompok, Ustadz Heru menerangkan, mendiskusikan permasalahan yang ada di tempat-tempat yang telah ditentukan panitia. Diskusi atau pembahasan ini tidak hanya berlangsung pada pagi hari, akan tetapi dilanjutkan pada malam hari yang seyogyanya digunakan untuk muwajjah (belajar terbimbing bersama wali kelas pada malam hari-red). Bagi siswa kelas 5, waktu muwajjah ini digunakan untuk meneruskan diskusi Fathul Kutub bersama pembimbing masing-masing.

Acara yang menggunakan kurang lebih sekitar 4 ribu kitab ini bertujuan memberikan pengenalan kepada siswa kelas 5 KMI berbagai macam kitab klasik yang dikenal lebih akrab di kalangan pondok salaf dengan sebutan kitab kuning di samping menambah wawasan ilmu keislaman dari kitab-kitab tersebut. Sehingga, para santri dapat mengetahui bagaimana tingkat keilmuan para ulama terdahulu. Selain itu, ada tujuan yang tidak kalah pentingnya dari pelaksanaan Fathul Kutub ini, yaitu mengasah kemampuan bahasa Arab siswa kelas 5 KMI.  

Untuk itulah, pada hari terakhir menjelang penutupan acara, Rabu (5/5) pagi, diadakan acara debat terbuka yang membahas masalah kepemimpinan wanita. Beberapa siswa kelas 5 yang ditentukan sebagai peserta debat terbagi ke dalam dua kubu; pro dan kontra. Melalui acara debat ini, kemampuan berbahasa mereka pada waktu berdebat mewakili seluruh siswa kelas 5. Setelah selesai, acara dilanjutkan dengan evaluasi umum dari Direktur KMI, KH. Masyhudi Subari, MA. Selanjutnya, acara ditutup dengan taushiyah dan pesan-pesan dari Pimpinan Pondok, KH. Hasan Abdullah Sahal.




Hymne Oh Pondokku

2

Lagu Hymne Oh Pondokku yang selalu dinyanyikan di Pondok Modern Darussalam Gontor dalam even–even penting telah berusia lebih dari tujuh puluh tahun, karena lagu ini diciptakan lima tahun setelah berdirimya KMI. Tepatnya pada tahun 1940-an. Dengan lagu ini, sebuah prestasi besar telah terukir karena merupakan perwujudan dari Panca Jiwa Pondok Modern Gontor yaitu berdikari (mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri) dan berusaha tidak terlalu bergantung pada lainnya.

Adalah dua orang yang telah berjasa besar dalam penciptaan lagu Hymne Oh Pondokku, R Moein sebagai pengarang lagu. Beliau adalah menantu Bapak Lurah R. Rahmat Soekarto, suami Bu Siti dan guru bahasa Belanda KMI. Sedang pengarang lirik adalah Husnul Haq, keduanya sama-sama guru KMI ketika itu.

Para alumni Gontor yang mendengarkan ataupun menyanyikan lagu Hymne Oh Pondokku akan terlihat menitikkan air mata, betapa mereka sangat mengenang masa-masa santri di Gontor. Gontor telah berjasa besar dalam membentuk mental dan kepribadian mereka sehingga mereka bisa berdiri tegak memandang masa depan. Berapa lama pun mereka berada di pondok tidak menghalangi rasa rindu terhadap ‘kampung damai’. Maka, tidak jarang keharuan menyelimuti siapa saja yang pernah berada di ‘pangkuan’ Gontor pada saat lagu Hymne Oh Pondokku dilantunkan.


Simulasi Pemadaman Kebakaran, Bekali Santri Tanggulangi Kebakaran

0

RABITHOH — Pengasuhan Santri Pondok Modern Darussalam Gontor kembali mengadakan acara Simulasi Pemadaman Kebakaran, Jum’at (14/5). Simulasi yang digelar di depan Gedung Rabithoh tersebut bertujuan untuk membekali santri menghadapi kebakaran di manapun mereka berada. Sehingga, dapat menghindari bahaya besar yang ditimbulkannya. “Para santri juga akan terbiasa sigap dalam segala keadaan untuk memberikan pertolongan pertama di masyarakat kelak, terutama pada saat terjadi kebakaran di sekitar mereka,” ujar Ustadz Hadi Amroni, staf Pengasuhan Santri selaku penanggung jawab acara, kepada Gontor Online, Jum’at (14/5), setelah acara usai.

Ustadz Hadi mengungkapkan, acara semacam ini sudah diadakan sebanyak tiga kali pada tahun-tahun sebelumnya. Untuk acara pelatihan pemadaman kebakaran kali ini, Pengasuhan Santri mendatangkan tiga orang ahli pemadam kebakaran dari Dinas Pemadam Kebakaran Ponorogo. Menurut Ustadz Hadi, ketiga petugas tersebut sudah sangat akrab dengan para staf Pengasuhan Santri karena mereka sering berkunjung ke pondok untuk memeriksa tabung-tabung alat pemadam kebakaran yang tersebar di asrama-asrama santri dan kamar-kamar dewan guru. Jumlahnya mencapai 70 buah.

Acara yang dibuka KH. Masyhudi Subari, MA tersebut diikuti seluruh mudabbir (pengurus asrama-red) kelas 4, ketua asrama dan seluruh ketua bagian Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM). Mudabbir kelas 4 berjumlah 40 orang, ketua rayon se-Darussalam mencapai 60 orang, ketua bagian OPPM berjumlah 63 orang dan seluruh bagian Keamanan OPPM sebanyak 16 orang. Rencananya, acara semacam ini akan dilaksanakan setiap tahun dengan memanfaatkan tabung yang ada. Dengan demikian, diharapkan setiap santri dapat menggunakan alat yang ada di sekitar mereka untuk menanggulangi kebakaran yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

 

Sahiru-l-Lail

0

Mendekati hari-hari ujian, semakin banyak santri yang melakukan sahiru-l-lail alias begadang untuk belajar. Malam, bagi beberapa santri memang waktu yang menyenangkan untuk beraktivitas. Tidak ada keramaian sebagaimana siang hari, suasana relatif tenang.


Namun, kebiasaan ini terkadang memiliki efek negatif, seperti pagi hari yang terkantuk-kantuk di kelas. Akan tetapi semuanya mereka jalani dengan sepenuh hati, mengingat dekatnya waktu ujian dan kurangnya persiapan untuk menghadapinya.

Diiringi semakin mendekatnya hari ujian, maka suasana malam semakin ramai. Seakan-akan antara siang dan malam sulit dibedakan. Para santri belajar di sekeliling pondok- dari ujung ke ujung. Guru-guru berkeliling di sekitar mereka, untuk menjadi 'referensi berjalan' yang dapat ditanya sewaktu-waktu. Lampu-lampu penerangan pun ditambah agar mereka dapat belajar dengan maksimal. Sungguh menyenangkan untuk melihat suasana belajar yang ramai, penuh dengan semangat dan kesungguhan.

Ahad, 25 Jumadal Ula 1431