Home Blog Page 585

KMI Benahi Pengajar Ushul Fiqh dan Tarbiyah

0
DARUSSALAMKulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor menyelenggarakan sebuah program untuk meningkatkan kualitas pengajar materi Ushul Fiqh dan Tarbiyah kelas 5 dan 6 KMI. “Hal ini sehubungan dengan telah disusunnya buku baru untuk dua materi tersebut,” kata Ustadz Prayitno, salah satu staf KMI yang menjadi panitia acara ini kepada Gontor Online, Senin (23/11) lalu. Menurutnya, guru-guru perlu mengetahui kandungan buku yang sudah menjadi pegangan siswa KMI itu secara lebih mendalam.


Oleh karena itu, kegiatan di atas disebut Program Sosialisasi dan Pendalaman Materi Ushul Fiqh dan Tarbiyah Kelas 5 dan 6 KMI. Acara berlangsung selama tiga hari, Sabtu-Senin, 21-23 November 2009. Pesertanya bukan hanya dari Gontor, namun seluruh pengajar kedua materi ini di seluruh pondok cabang diharuskan mengikutinya.

Acara yang bertempat di Wisma Darussalam ini dibagi menjadi sembilan sesi. Sesi pertama hingga ketujuh berkaitan dengan sosialisasi dan pendalaman materi oleh tim penyusun kedua buku tersebut. Sedangkan pada dua sesi terakhir diadakan penyusunan soal per materi. Adapun tim penyusun buku materi Ushul Fiqh adalah Ustadz H. Mulyono Jamal, M.A., Ustadz H. Abdullah Rofi’i, S.Ag., Ustadz H. Imam Awwaluddin, M.A., Ustadz H. Imam Kamaluddin, Lc. M.Hum. dan Ustadz H. Imam Iskarom, Lc. Mereka semua merupakan staf pengajar di Gontor yang menguasai pelajaran ini. Sedangkan tim penyusun buku materi Tarbiyah adalah Ustadz Drs. H. Sutrisno Ahmad, Drs. H. Rif’at Husnul Ma’afi, M.A. dan Ustadz H. Abdul Hafidz Zaid, M.A.
 

KMD Bekali Pembina Pramuka PMDG

0
GONTOR—Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) kembali mengadakan Kursus Mahir Tingkat Dasar (KMD) selama enam hari, Rabu-Senin, 18-23 November 2009, dengan dua gelombang. Gelombang pertama bertempat di kampus PMDG selama sehari, Rabu (18/11), sedangkan gelombang kedua dilaksanakan di Bumi Perkemahan (buper) yang berlokasi di kampus Pondok Modern Gontor 2, Madusari, Siman, Ponorogo, selama lima hari berikutnya. Menurut Syahrul Falakh, ketua panitia KMD tahun ini, tujuan diadakannya acara ini adalah untuk memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan guna meningkatkan kemampuan Pembina Pramuka dalam mengasuh anak didik dan mengelola satuan.


Selain itu, KMD akan membentuk tenaga Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar dan meningkatkan kualitas Pembina Pramuka di PMDG yang akan disebarluaskan ke seluruh Indonesia dan negara-negara tetangga. Hal yang lebih penting lagi adalah melaksanakan sunah dan disiplin Pondok Modern karena KMD selalu diadakan setiap tahun untuk anggota Gerakan Pramuka yang telah duduk di kelas 5 Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI). Jadi, seluruh pesertanya merupakan siswa kelas 5 KMI yang berjumlah 805 orang.

KMD merupakan kursus Pembina Pramuka yang berbentuk pendidikan di luar sekolah. Di dalamnya diberikan pengetahuan dasar tentang kepramukaan. Keseluruhan materi dikelompokkan dalam paket latihan sesuai dengan cara berpikir yang sistematis, dalam program induk, sesuai dengan lampiran keputusan Kwartir Gerakan Pramuka Nomor 038 Tahun 1990 tentang Program Induk Pendidikan Kursus Mahir Tingkat Dasar. Adapun jumlah pelatih mencapai 17 orang yang meliputi pelatih dari PMDG sendiri dan pelatih dari Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Ponorogo.

Sedangkan metode yang digunakan pada KMD mencakup ceramah, diskusi, Curah Gagasan (Brain Stoming), Pemecahan Masalah (Problem Solving), penugasan, kerja kelompok, studi kasus, berganti pakaian, peragaan atau demonstrasi, bermain peran, tak terduga (surprise), Widya Wisata, praktek, pengabdian masyarakat, simulasi dan lain sebagainya.

Pada saat kursus, setiap peserta KMD akan dinilai. Penilaian meliputi moral sikap pribadi peserta, kepemimpinan dan keteladan, hubungan atau relationship, penguasaan materi, cara melaksanakan materi dan bagaimana usaha setiap peserta dalam peningkatan kemampuan dirinya. Maka, setelah kursus mereka akan mendapatkan nilai baik sekali dengan kode A atau baik dengan kode B. Kode C dan D untuk mereka yang mendapatkan nilai Sedang dan Kurang.

KMD tahun ini mengambil tema yang sudah tidak asing lagi di telinga kita, “Ikhlas Bakti Bina Bangsa Berbudi Bawa Laksana” dengan motto “Aktif, Kreatif, Dinamis dan Berkarya”. “Dengan KMD, kita akan mendidik generasi muda yang terampil, kreatif dan bermental tinggi,” ujar Syahrul saat ditemui  di tempatnya, Selasa (24/11) pagi.
 

KMD Gontor 3 “Darul Ma’rifat”

Kegiatan sejenis juga diadakan Pondok Modern Gontor 3 “Darul Ma’rifat” dengan diikuti seluruh siswa kelas 5 KMI yang berjumlah 144 orang ditambah 10 orang peserta Pondok Pesantren Al-Barokah. Acara pembukaan dihadiri Kak Kwarcab Kediri, Kak Kwaran Gurah dan para pelatih utusan dari Kwarcab Kediri, Kamis (19/11) lalu, di Balai Pertemuan Gontor 3.
 
Seperti halnya di PMDG, KMD di salah satu cabangnya ini juga berlangsung selama enam hari, Kamis-Selasa, 19-24 November 2009. Pelatihan selama dua hari bersifat indoor dan sisanya dilakukan di buper. Peserta terbagi ke dalam 18 kelompok, masing-masing kelompok dibagi lagi menjadi menjadi tiga unit. Di setiap unit terdapat 6 RT. Dengan ini, diharapkan mutu kepramukaan yang ada  di Pondok Modern Gontor 3 terus meningkat. Sehingga, terciptalah suasana yang dinamis dan idealis.

Bagian Ketrampilan OPPM Gontor 3 Gelar Art Show

0

GURAH“Al-Ma'hadu laa yanaamu Abadan”. Pondok Modern Darussalam Gontor selalu bergerak dinamis dengan berbagai aktivitasnya yang mendidik. Demikian pula halnya dengan cabang-cabangnya yang tersebar di seluruh Nusantara. Pondok Modern Gontor 3 “Darul Ma’rifat” di Sumbercangkring, Gurah, Kediri, menggelar acara Art and Handy Craft Show, Jum’at (20/11) lalu.

Bertempat di Balai Pertemuan Gontor 3,  acara ini dikoordinir Bagian Kesenian dan Keterampilan (Baketram) Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) dari siswa kelas 4 Kulliyatul Mu'allimin-al-Islamiyyah (KMI). Seluruh santri Pondok Modern Gontor 3 menghadirinya untuk mendaftarkan diri pada salah satu klub yang sesuai dengan minat ataupun bakat terpendam yang mereka miliki.

Dalam kegiatan Art Show ini, semua klub dari berbagai bidang seni dan keterampilan seperti Persidama, Persada, Modest, Bengkel Setir (BS), Teater, Kaligrafi, Limit, Aklam dan Snama berpartisipasi meramaikan acara dengan penampilan-penampilan menghibur. Pertunjukan mereka juga dimaksudkan untuk menarik perhatian para santri sehingga hati mereka terbuka untuk mendaftar pada salah satu klub tersebut. Tak ayal, dengan ini banyak santri yang tadinya tidak mempunyai maksud untuk mengikuti salah satu klub, tiba-tiba antri mengikuti pendaftaran. Memang, keahlian anggota suatu klub mampu menjadi pesona tersendiri untuk merekrut anggota-anggota baru dalam kesempatan ini.

Di samping itu, acara ini diadakan untuk menumbuhkan kebanggaan dan rasa memiliki para santri terhadap klubnya masing-masing. Hal ini pun guna menghilangkan image seorang santri yang selama ini disebut-sebut hanya bisa mengaji kitab ‘kuning’, hanya bisa adzan, cuma jadi imam dll. Namun dengan ini, nampaklah bahwa seorang santri juga bisa berolahraga, bermain musik dan mempunyai suatu keterampilan untuk dijadikan bekal di masa depannya. Klub atau kursus-kursus ini juga berguna untuk meningkatkan life skill para santri serta mengarahkannya kepada hal-hal yang bermanfaat.
 

Panggung Gembira 684 Tampilkan Background Inovatif

0
DARUSSALAM—Menjelang adzan Maghrib, Sabtu (14/11), background yang telah dipersiapkan untuk acara puncak Pekan Perkenalan Khutbatu-l-’Arsy (PKA), Pagelaran Seni Panggung Gembira (PG) 684 mulai berdiri dengan gagahnya di depan Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM). Ironinya, pemasangan background PG biasanya dapat diselesaikan sebelum adzan Zuhur berkumandang atau sebelum para santri keluar dari kelas, kali ini memakan waktu lebih lama. Bahkan, menjelang acara dimulai usai shalat Isya’ beberapa properti terakhir baru selesai. Hal ini disebabkan keberadaan raging depan background yang merupakan gebrakan baru PG 684. Inilah penampilan terbaik background PG tahun ini. “Background tahun ini memang besar dan sungguh rumit,” komentar Ashabul Kahfi, siswa akhir KMI 684 kepada Gontor Online, Ahad (15/11).

Pasalnya, waktu pagi hingga siang dihabiskan untuk angkat-turun background di lantai dua demi penyelarasan raging. “Paling mengharukan dalam pemasangan background bagi kami adalah saat menjelang Maghrib. Tiba-tiba saja background tambahan di sayap kanan jatuh akibat kencangnya angin. Saat itu semua langsung hening. Kami terhenyak melihat background hancur menabrak panggung bawah. Ditambah lagi teriakan asatidz pembimbing, mengecam kawan-kawan untuk segera turun dan membedahi semua background sayap kanan dan kiri. Kesedihan kami tidaklah seberapa jika dibandingkan apa yang dirasakan kawan-kawan dekorator. Bahkan, beberapa di antara mereka sampai meneteskan air mata,” ujar Aji Gema, salah satu peserta Drama Musikal PG 684 kepada Gontor Online, Ahad (15/11) pagi.

Ketika senja tiba, penutup raging dilepas atas perintah Bapak Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal, yang juga hadir saat pemasangan background. Beliau optimis, saat acara berlangsung tidak turun hujan, di samping itu, agar ujung background tidak tertutup oleh atap raging. Adapun masalah penurunan background sayap kanan dan kiri yang merupakan andalan tersendiri bagi dekorator 684, sempat terjadi perbedaan pendapat antara asatidz pembimbing, diturunkan atau pemasangannya dilanjutkan.

“Turun, nanti kamu bisa jatuh!” teriak salah satu pembimbing melihat salah seorang bagian dekorasi yang tergoyang oleh angin di ujung background. Namun, beberapa pembimbing masih mendukung pemasangan sayap kiri dan kanan, meskipun angin bertiup cukup kencang. Kerusakan background yang jatuh pun segera diperbaiki. Beberapa siswa kelas 6 segera berlari mengambil bambu tambahan untuk penguatan rangka background yang diputuskan untuk dirampungkan. Pemasangan secara umum selesai sebelum Maghrib.

Secara garis besar, background  PG kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Lingkup yang tertutup ditambah raging adalah inovasi dekorasi yang tiada duanya. Ditambah pula dengan ornamen dan tulisan kaligrafi Arab yang selaras membentuk pemandangan tiga dimensi ala Gontor. “Background PG kali ini, menurut saya, yang terbaik sejak zaman PKI,” kata Faiz Taufiq, siswa akhir KMI 684 penuh semangat.

PG 684 Sukses dengan Penuh Inovasi

Dari sekian rentetan acara PG 684 yang mencapai 29 acara tersebut, beberapa diantaranya merupakan inovasi baru dalam dunia per-PG-an. Di antaranya terdapat Drama Musikal, Kecak Reog, Tari Sakera, Sulap dan Shadow Show. Drama Musikal merupakan inovasi baru dari Drama Tragedi. Penampilan Drama Tragedi yang tampil pada PG tahun-tahun sebelumnya memanfaatkan dubbing (suara rekaman-red). Kali ini, dengan kisah Abu Dzar Al-Ghifari, Drama Musikal dengan berbahasa Arab itu berani life tanpa dubbing.

Kemudian ada pula Kecak Reog, gabungan antara tari asal Ponorogo dan tari adat Bali. Disusul acara baru asal Madura, Sakera Dance. Selanjutnya ada penampilan Shadow Show, penggambaran gerak-gerak unik melalui bayangan tubuh. Di antaranya, bayangan tubuh-tubuh peserta yang membentuk gajah, pesawat terbang, bebek, pohon, teko, kereta api, mobil mini, anak belajar komputer dan gambar anak-anak yang kejar-kejaran bersama.

Secara keseluruhan, dewan juri memberi nilai 9,5 untuk PG 684. Namun, dengan segala kelebihan dan nilai-nilai positif serta inovasi yang diperjuangkan anak-anak kelas 6, K.H. Hasan Abdullah Sahal menyempurnakan nilainya menjadi 10.
 
“Wah, dari pertama sampai akhir, ana nggak ngantuk blass, seru deh pokoknya. Bahkan acara Wayang Orang pun tidak membosankan, malah sangat menghibur dengan gaya cerita dan bahasa ‘merakyat’,” ujar Irfan Ali, siswa kelas 4 KMI, kepada Gontor Online usai acara.

Gemerlap Drama Arena 584 Terangi Darussalam

2

Pagelaran Seni Santri Pondok Pesantren Modern Gontor dalam Drama ArenaDARUSSALAM—Pagelaran Seni Drama Arena (DA) 584 yang ditampilkan seluruh siswa kelas 5 Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) telah rampung dengan penampilan memukau dan fantastis, Kamis (12/11) malam. Dengan warna dasar dominan putih, background DA nampak bercahaya menyambut sinar-sinar gemerlap yang disorotkan ke arah panggung. Para penonton pun menyaksikan setiap acara nyaris tanpa berkedip.

Pencahayaan yang bagus ini juga diimbangi dengan penampilan siswa kelas 5 KMI yang prima. DA tahun ini diwarnai dengan berbagai macam pertunjukan-pertunjukan baru yang menarik dan juga menghibur para penonton. Di antara acara-acara tersebut adalah El Jabba Phantom, Tari Sunda, Teater Islami dan masih banyak lagi. “El-Jabba Phantom adalah perpaduan antara gerakan-gerakan dance dengan gerakan pantomim yang berkolaborasi menjadi satu,” ujar Yahdi, salah satu personil El-Jabba Phantom, ketika ditemui Gontor Online, Jum’at (13/11) pagi.Menurutnya, Nama El-Jabba Phantom sendiri diambil dari kosa kata bahasa Arab, El-Jabba diambil dari kata al-‘ajib yang berarti keajaiban dan kata Phantom berarti pantomim sendiri. El-Jabba Phantom beranggotakan 12 orang personil yang semuanya merupakan siswa kelas 5 KMI.

Lain halnya dengan Tari Sunda, personil tarian yang merupakan salah satu acara baru DA 584 ini beranggotakan 31 orang, semuanya berasal dari daerah Jawa Barat. Maka, mayoritas anggotanya adalah bersuku Sunda. Tarian ini merupakan perpaduan seni budaya Sunda yang dikemas dalam sebuah gerakan tarian. “Inilah salah satu budaya Sunda yang kami persembahkan. Dengan mengenakan kostum polos, tarian ini menggambarkan budaya Sunda yang sederhana dan ramah,” ungkap Irfan, siswa kelas 5 KMI asal Tasikmalaya, Jum’at (13/11).Selain tarian dan kolaborasi antara dance dengan pantomim, DA 584 juga menampilkan acara baru berupa Islamic Teater. Di dalam pertunjukan teater ini terkandung banyak nasihat yang berguna bagi para penonton, baik dari segi mental maupun spiritual. “Untuk pertunjukan teater ini kami mendatangkan seorang sutradara yang berasal dari Yogyakarta bernama Agung Waskito,” tutur Juliat yang memerankan tokoh Raja dalam acara ini. Teater ini melibatkan 35 personil dari siswa kelas 5 KMI dan menghabiskan waktu tiga minggu untuk latihan.

Dengan alasan, jiwa dan ruh perjuangan santri Gontor dan para alumninya yang telah banyak berkiprah di kancah pemerintahan di Indonesia, DA kali ini mengambil tema “Dengan Semangat Juang Santri Kita Kawal Umat Kejayaan Bangsa”. Hal ini menandai eksistensi Gontor dengan peran aktif alumninya dalam segala lini kehidupan dengan satu tujuan, yakni mengawal umat Islam di Indonesia dan membina mereka untuk menuju kejayaan bangsa. Tujuan ini sesuai dengan penanaman nilai-nilai dan pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor.

 

Gontor 12 Berdiri di Tanjungjabung Timur Jambi

1
JAMBI—Menindaklanjuti tanah wakaf dari bupati Tanjungjabung Timur (Tanjabtim), Drs. H. Abdullah Hich, yang berkunjung ke Gontor beberapa waktu lalu, Selasa (3/11), Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) menghadiri acara peletakan batu pertama pembangunan Pondok Modern Gontor 12 di Parit Culum I, Muarasabak Barat, Tanjungjabung Timur, Jambi, Senin (9/11). Pondok cabang PMDG ke-12 ini akan dibangun di atas lahan seluas 10 hektar. Ditargetkan, pembangunannya dapat selesai sebelum tahun ajaran baru Juni 2010 mendatang.

Selain Pimpinan PMDG, Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. dan K.H. Hasan Abdullah Sahal, acara peletakan batu pertama pembangunan Gontor 12 tersebut juga dihadiri sebagian anggota Badan Wakaf PMDG, yakni Drs. K.H. Akrim Mariyat, Dipl. A. Ed., K.H. Rusydi Bey Fannanie, K.H. Abdullah Sa’id Baharmus, Lc. dan Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A. Turut hadir dalam acara ini Kapolres Tanjabtim, AKBP Budiwasono, Wakil Bupati Tanjabtim, M. Juber, S.Ag., Sekda Tanjabtim, Drs. Eddy Kadir, para unsur Muspida di lingkungan Setda Tanjabtim, alumni-alumni Gontor yang tergabung dalam IKPM Cabang Jambi beserta ribuan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi pembangunan dan warga lainnya.

Pada waktu yang bersamaan, melihat peran Bupati Tanjabtim ini dalam pembangunan Gontor 12, IKPM sepakat mengangkat Drs. H. Abdullah Hich menjadi Anggota Kehormatan IKPM. Saat itulah ketua IKPM Pusat, Drs. K.H. Akrim Mariyat, Dipl A. Ed. membacakan surat keputusan pengangkatan Anggota Kehormatan IKPM. Dengan ini, Abdullah Hich merupakan orang keempat sejak abad ke-21 yang menjadi Anggota Kehormatan IKPM. Sebelumnya, Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, Gubernur Sumsel dan Walikota Kediri juga dinobatkan sebagai Anggota Kehormatan IKPM atas kesungguhan dan partisipasi mereka dalam membantu perjuangan Gontor.

Dalam sambutannya, K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi menegaskan, keberadaan Gontor secara umum tidak akan mengesampingkan pondok pesantren lain. Justru dengan ini, Gontor akan menggandeng semua pondok pesantren yang ada agar bisa berjalan beriringan dengan tujuan yang sama, yakni membangun sumber daya manusia yang handal.
 

Utusan Gontor Ikuti Penataran di LIPIA

0
JAKARTA—Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) mengirimkan tiga ustadz untuk mengikuti penataran yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA), Jakarta Selatan, Sabtu (31/10) lalu. Ketiganya telah mengajar beberapa bidang studi keislaman di Gontor selama bertahun-tahun. Mereka adalah Ustadz H. Edy Kusnanto, Ustadz Drs. Hamim Syuhada dan Ustadz Jarman Arroisi, S.Ag. Menurut keterangan Ustadz H. Edy Kusnanto yang sempat ditemui Gontor Online di rumahnya, jumlah peserta yang mengikuti acara ini mencapai 120 orang. Mereka juga merupakan utusan dari pondok pesantren, organisasi-organisasi masyarakat (ormas) Islam dan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mendapatkan undangan dari LIPIA.

Penataran ini disebut dengan “ad-Daurah at-Ta’hiiliyyah al-Uula lil-Aimmah wa Mu’allimi-l-‘Uluum as-Syar’iyyah wa-l-‘Arabiyyah”, yakni Penataran I untuk Para Imam dan Pengajar Ilmu Syari’ah dan Bahasa Arab. Acara yang berlangsung selama sembilan hari ini, Sabtu-Ahad, 31 Oktober-8 November 2009, diadakan untuk pertama kalinya di Kampus LIPIA. Dalam menyukseskan acara tersebut, LIPIA bekerjasama dengan Pusat Pelayanan Masyarakat dan Pendidikan Berkelanjutan, Universitas Islam Muhammad bin Saud. LIPIA sendiri merupakan salah satu cabang Universitas Islam Muhammad bin Saud yang berada di Indonesia.

Demi terwujudnya acara ini, panitia penyelenggara mengundang lima orang pembicara  dari Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud. Kelima orang itu adalah Dr. Abdul Karim Al Hamidy, Dr. Ibrahim Al Maiman, Dr. Abdurrahman, Dr. Razinur Razin dan Dr. Abdullah Al Lahidan. Sesuai dengan acaranya, materi yang mereka sampaikan meliputi masalah akidah, fiqh, cara-cara memanfaatkan berbagai sarana atau fasilitas modern untuk dakwah disertai pemaparan tentang kepandaian-kepandaian dasar berpidato maupun khutbah dalam rangka menyampaikan syariat Islam kepada masyarakat.

Di antara keterampilan berpidato yang disampaikan, Ustadz Edy menuturkan, agar orang tertarik, hendaknya kita jujur dan ikhlas ketika berpidato atau berkhutbah. Selain itu, kita haruslah memperhatikan tingkat pendidikan dan usia pendengar, memperhatikan jenis kelamin juga dan kondisi mereka; sedang senang atau sedih. “Kita benar-benar diajarkan bagaimana berdakwah dengan cara-cara yang halus dan menyentuh,” kata beliau.

Materi disampaikan selama 64 jam, ujar Ustadz Edy, yang terbagi ke dalam sembilan hari penataran. Acara berlangsung dari pagi, pukul 09.15 WIB, hingga menjelang shalat Ashar pada pukul 3.40 WIB. “Materi diajarkan dalam enam jam pelajaran setiap hari. Walaupun demikian, kami diberi waktu istirahat selama lima menit di antara setiap jam pelajaran,” ungkap ustadz yang menguasai pelajaran Ushul Fiqh ini sambil memperlihatkan jadwal acara penataran tersebut.

 
 

Pimpinan Pondok Hadiri Seminar di Mataram

0
MATARAM—Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) cabang Lombok menggelar seminar bertema “Islam dan Tantangan Pemikiran Global” di kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (5/11) lalu. Acara ini dihadiri Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. beserta 300 pimpinan dan guru-guru pesantren se-NTB. Tim pembicara berasal dari Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) yang dipimpin oleh Dr. H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. M.Phil. Seminar dibuka oleh Gubernur NTB, Tuan Guru Zainul Majdi.

Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. turut memberikan sambutan dalam acara yang membahas permasalahan Islam kontemporer ini. Dalam sambutannya, beliau menyinggung isu “Desakralisasi Al Qur’an” yang memang mulai marak berkembang saat ini. Proyek yang mengaburkan kesucian Kitabullah ini memang termasuk  salah satu tema pokok dalam liberalisasi Islam. Dengan mengikuti tradisi kajian Al Qur’an model orientalis, sejumlah pemikir liberal tampak berusaha keras meyakinkan kaum Muslim, bahwa Al Qur’an bukanlah sebuah kitab suci, tetapi kitab yang dianggap suci. Hal senada juga disampaikan Tuan Guru Sofwan Hakim, ketua Forum Kerjasama Pesantren se-NTB saat memberikan sambutan.

Untuk itu, menurut Adian Husaini yang juga menjadi pembicara dalam seminar tersebut, bahkan ada yang berusaha keras menulis artikel untuk membuat kaum Muslim ragu-ragu terhadap kebenaran dan keotentikan Al Qur’an. Orang itu mencoba meyakinkan, bahwa Al Qur’an adalah kitab biasa-biasa saja, yang juga mengandung banyak kekurangan seperti kesalahan secara tata bahasa. Tentu saja, usaha yang dilakukannya itu hanyalah pekerjaan sia-sia yang tidak memberikan manfaat sedikit pun bagi yang bersangkutan. Meskipun si penulis mendapatkan imbalan tertentu di dunia. Tapi, sebenarnya dia tidaklah mendapatkan keuntungan apa-apa.
 
Selain itu, Gubernur NTB yang juga kandidat doktor ilmu Tafsir di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, bahkan menguraikan cukup panjang sejarah serangan kaum orientalis terhadap Islam, termasuk terhadap Al Qur’an. Ia menunjukkan sejumlah contoh kesungguhan dan kesabaran para orientalis dalam menyerang Islam. ”Sehingga dalam pertarungan ini, siapa yang lebih sabar, dialah yang akan menang,” ujarnya seraya mengajak para peserta seminar untuk meningkatkan kesabaran dalam berjuang menegakkan kalimatullah di muka bumi.

Tampaknya, bagi para ulama dan tokoh Islam di NTB, isu liberalisasi Islam sudah cukup akrab dengan mereka. Mereka mengakui, sejumlah masalah yang dibahas dalam seminar sudah terjadi juga di daerah mereka, meskipun dalam skala yang belum masif seperti di sejumlah kota di Pulau Jawa. Salah satu masalah yang sudah mulai dilontarkan kaum liberal di NTB adalah soal ”Desakralisasi Al Qur’an” seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Ada seorang tokoh di antara peserta seminar yang mengaku sempat berdiskusi dengan seorang mahasiswa IAIN Mataram. Mahasiswa ini bertanya kepadanya, ”Apakah Al Qur’an itu benar-benar suci atau dianggap suci?” Mendengar pertanyaan konyol itu, Pak Adian Husaini menjawab dengan agak bercanda, ”Tanyakan pada si mahasiswa, apakah dia benar-benar manusia atau dianggap manusia?” Demikianlah, hasil upaya kaum liberal untuk mengikis keimanan kaum Muslim di berbagai tempat. Salah satunya adalah dengan menistakan Al Qur’an, pegangan kokoh kaum Muslim di seluruh dunia.  

    
 
 

ISID Gontor 6 Lahir dengan Prodi Mu’amalat

0

MAGELANG—Merupakan sebuah kesyukuran bagi seluruh asatidz Pondok Modern Gontor 6 “Darul Qiyam” Magelang dengan dicetuskannya perkuliahan baru di pondok mereka, Oktober lalu. Kampus ke-5 Institut Studi Islam Darussalam (ISID) akhirnya terwujud dengan Fakultas Syari’ah untuk program studi (prodi) Mu’amalat. Inilah prodi pertama sekaligus perintis lahirnya ISID Gontor 6 di kampus yang terletak di Jawa Tengah ini. ISID sendiri, sebelum berdirinya kampus ke-5 ini telah memiliki 4 kampus yang lokasinya berjauhan satu sama lain. Keempat kampus itu adalah Kampus Gontor 1, Kampus Siman, Kampus Mantingan dan Kampus Kediri. Dengan adanya kampus baru di Magelang ini, ISID terlihat semakin dinamis mengembangkan sayapnya demi mencetak kader-kader umat di masa depan. 

Tepatnya, kampus ISID yang baru ini terletak di Gedung Gaza, Pondok Modern Gontor 6, dengan dilengkapi perpustakaan beserta koleksi buku-bukunya dalam bidang ekonomi. Mahasiswanya berjumlah 79 orang yang seluruhnya merupakan guru-guru Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) di Pondok Modern Gontor 6 “Darul Qiyam” Magelang. Merekalah mahasiswa perdana yang mengisi Gedung Gaza di mana para dosen Syari’ah menyampaikan materi-materi perkuliahan.  

Setelah sepekan menjalani Orentasi Progam Studi dan Pengenalan Kampus (OPSPEK), mereka pun dilantik secara resmi sebagai mahasiswa baru dalam acara Inaugurasi Mahasiswa Baru ISID Periode 1430, Senin (12/10) silam, bertempat di aula Gedung Pakistan Gontor 6. Selaku pembantu rector (purek) 1 ISID, K.H. Imam Subakir Ahmad mengesahkan mereka sebagai mahasiswa perintis Kampus Gontor 6. Acara bersejarah ini disaksikan pengasuh Pondok Moder Gontor 6, Ustadz H. Muhammad Syuja’i, BA, guru-guru senior Pondok Modern Gontor 6 dan dosen-dosen dari beberapa universitas di Yogyakarta yang nantinya akan mengajar mereka.

“Sebenarnya, Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A., Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor telah menganjurkan kepada rektor dan para dekan ISID untuk membangun perkuliahan di kampus Pondok Modern Gontor 6 sejak tahun 2005. Tapi, dikarenakan jarak kampus yang lumayan jauh dan minimnya jumlah dosen yang dibutuhkan, proses pelaksanaan pembangunan perkuliahan pun menjadi terhambat. Namun, alhamdulillah akhirnya keinginan tersebut dapat terwujud pada tahun ini,” ujar K.H. Imam Subakir Ahmad dalam sambutannya ketika acara inaugurasi, Senin (12/10) sore.

Setelah inaugurasi mahasiswa baru, perkuliahan aktif dan berjalan lancar. Materi perkuliahan meliputi Studi Manajemen Islam yang diampu Drs. H. Y. Suyoto Arief, Ilmu Tafsir diampu Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag., Pengantar Ilmu Ekonomi oleh Windu Baskoro, S.E., M.M., kemudian materi Sejarah Peradaban Islam disampaikan H. Anang Rikza Mashadi, Filsafat Umum oleh Dr. H. Sarmawi Munthe, M.A., materi Bahasa Arab diampu oleh H. Yarin Rahmat, Lc. M.Ag., Ulumul Qur’an disampaikan oleh Dr. A. Mahfudz Masduki, M.A., untuk materi Bahasa Indonesia disampaikan Daniar Siahaan, S.H.I. dan materi Bahasa Inggris diampu oleh Eko Nur Cahyo, S.H.I. Terakhir, materi Ulumul Hadits oleh Dr. Zuhad Masduki, M.A.
 

Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A.: ‘UDKHULUU FII GONTOR KAAFFAH’

0

MANTINGAN—Dalam khutbahnya yang disampaikan pada acara Apel Tahunan Pekan Perkenalan Khutbatu-l-‘Arsy (PKA) di Gontor Putri 1, Sabtu (7/11) lalu, Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. selaku pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor menekankan arti pentingnya Khutbatu-l-‘Arsy bagi santriwati lama maupun baru. “Kita harus masuk Gontor secara utuh dan menyeluruh, udkhuluu fii Gontor kaaffah. Ikutilah segala kegiatan yang ada di pondok ini dengan ikhlas dan kaaffah,” ungkap beliau di sela-sela khutbah.


Acara yang digelar di Lapangan Auditorium Gontor Putri 1 ini berlangsung mulai pukul 07.00 hingga pukul 11.00 WIB. Seluruh peserta Apel Tahunan dituntut untuk berdisiplin, tak seorang pun yang datang terlambat. Di sinilah nampak nilai-nilai kedisiplinan Gontor yang sangat diutamakan. Sebabnya, di samping nilai-nilai kepesantrenan yang terus terjaga, dengan disiplin itulah Gontor bisa maju sampai sekarang. Bahkan, di negara manapun juga, kedisiplinan merupakan asas keberhasilan yang tidak bisa ditawar-tawar.   

Acara tahunan Pondok Modern Darussalam Gontor ini  dihadiri oleh 4.506 orang yang terdiri dari seluruh santriwati Gontor Putri 1 dan 2 beserta asatidz ditambah para tamu undangan dari Gontor dan cabang-cabangnya yang lain. Memang, PKA khusus diperuntukkan bagi Keluarga Besar Pondok Modern Darussalam Gontor. Sehingga, pondok tidak pernah mengundang orang luar seperti bupati ataupun gubernur untuk mengikuti acara ini. Hal ini sudah menjadi sunah Pondok Modern Darussalam Gontor yang harus selalu dijaga waktu demi waktu.
 
Perhelatan akbar ini adalah barometer pondok selama satu tahun. Setiap santriwati dan para asatidz akan mampu menilai dan mengukur kemampuan pondok untuk menghadapi program yang ditargetkan untuk satu tahun ke depan. Untuk itu, PKA senantiasa menghadirkan tema filosofis yang mengandung visi dan misi pondok selama setahun. Adapun visi dan misi Gontor Putri 1 pada tahun ini terkandung dalam tema PKA “Peningkatan Kekhusyukan dalam Jihad Gontory Demi Mewujudkan Gontor Putri yang Ideal”. Hal ini sudah tercermin pada kesungguhan santriwati yang tampil pada PKA kali ini seperti Paskibra, Atraksi Pramuka, Senam Kreasi, Tari Massal, maupun Baris-Berbaris Antar Konsulat.

Di antara penampilan-penampilan di atas, Baris-Berbaris Antar Konsulat merupakan satu-satunya perlombaan yang ada sekaligus menjadi bagian dari Apel Tahunan itu sendiri. Lima Besar Terbaik diumumkan Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. setelah beliau menyelesaikan khutbahnya. Konsulat Ponorogo yang diwakili barisan Konsulat Ponorogo I kembali berjaya seperti tahun-tahun sebelumnya dengan memboyong piala Terbaik I. Adapun untuk Terbaik II diraih barisan Konsulat Semarang I, Terbaik III direbut barisan Konsulat Ponorogo II, sedangkan Terbaik IV jatuh ke tangan barisan Konsulat Kediri, dan barisan Konsulat Semarang meraih gelar Terbaik V.