GONTOR – Syair menjadi media ekspresi keindahan bahasa yang menggerakkan jiwa. Dalam lomba syair, peserta tidak hanya dituntut menghafal teks, tetapi juga menjiwai setiap kata yang mereka bawakan. Babak final lomba ini digelar Sabtu (4/10) malam di depan Laboratorium Sains Pondok Modern Darussalam Gontor, menyuguhkan penampilan spektakuler yang memuaskan penonton.
Para peserta diberi kebebasan memilih tema yang mereka bawakan. Beberapa pondok menampilkan drama singkat sebagai pembuka syair, seperti yang dilakukan PP Darul Ulum untuk membantu penonton memahami konteks. Ada pula peserta yang memilih tampil solo, seperti Salman dari PP Nurul Hakim.

Salman membawakan syair bertema “Min-al-Ma’had Tubda’u An-Nahdoh” dengan iringan lagu “Hymne Oh Pondokku.” “Lagu ini membangkitkan semangat para pemuda untuk merdeka dan mengenang perjuangan para pendiri pondok, Trimurti, melawan penjajahan terhadap Indonesia,” ujarnya.
Ketika ditanya alasannya tampil di Gontor, Salman menjawab tegas, “Mungkin antum bertanya kenapa saya memilih Gontor? Karena Gontor adalah kiblat dari semua pondok.” Jawaban itu menunjukkan kedalaman penjiwaannya terhadap syair yang dibawakan.

Salman juga mengungkapkan ambisi pribadinya. Ia bercita-cita menjadi anak yang sukses dan mengangkat derajat keluarganya. Semangat itulah yang membuatnya tekun belajar bahasa Arab karena ingin melanjutkan pendidikan di Madinah.
Lomba syair bukan hanya soal suara, melainkan juga pesan yang dibawa sang penyair. Penampilan Salman memberi pelajaran bahwa tidak ada yang mustahil dalam meraih mimpi. Meski jatuh dan gagal, selama memahami nilai perjuangan, seseorang akan terus maju menuju kesuksesan.

(Berita : Keano, Foto : Abhiraj, Reviewer : Winka, Alif, Ghazi)
Related Articles :
PMDG Kampus Pusat Raih Juara Language Quiz Gontor Language Championship 2025