Date:

Share:

Bedah Buku Api Tauhid, Gelorakan Semangat Literasi

Related Articles

GONTOR – Bedah buku bersama penulis Habiburrahman El Shirazy berlangsung pada Sabtu (4/10) di Aula Gedung Rabithah Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) pukul 14.00 WIB. Ratusan santri beserta sejumlah peserta Gontor Language Championship (GLC) antusias mengikuti acara yang menghadirkan penulis dengan sapaan akrab Kang Abik itu. Habiburrahman dikenal sebagai pendiri komunitas Lingkar Pena di Kairo sekaligus penulis novel-novel best seller, seperti Api Tauhid, Ayat-Ayat Cinta, dan Bumi Cinta.

Acara ini digelar oleh Bagian Perpustakaan OPPM. Dalam paparannya, Habiburrahman menekankan pentingnya literasi bagi umat Islam. Ia menyinggung Surah Al-Alaq ayat 4–5 yang menunjukkan perintah Allah kepada manusia untuk membaca dan menulis. Menurutnya, penguasaan literasi akan membawa penguasaan dunia. Prinsip ini, kata dia, berlaku bagi siapa pun, baik muslim maupun non-muslim, sebagai bagian dari sunnatullah.

“Seorang muslim harus menulis. Menulis bisa menjadi fardhu kifayah ketika umat membutuhkan pendakwah yang mampu meluruskan pemikiran. Selama memiliki ilmu, wajib baginya untuk membagikannya, meski hanya satu ayat,” ujar beliau.

Namun, sebelum menulis, seorang muslim mesti memiliki minat baca tinggi. Minat baca, kata Habiburrahman, membantu penulis menggali ilmu pengetahuan dari berbagai sumber tepercaya dan memperkaya kosakata sehingga dapat merangkai kata-kata indah sarat makna.

Ia juga menjelaskan latar belakang penulisan novel Api Tauhid sebagai pemantik kesadaran umat untuk membaca sejarah. “Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mengetahui sejarahnya. Sejarah akan terus berulang. Tokoh-tokoh yang pernah muncul di masa lalu akan muncul kembali dalam wujud berbeda, namun esensinya sama,” jelas Kang Abik. Karena itu, mempelajari sejarah penting untuk membentuk masyarakat yang lebih baik.

Di akhir acara, Habiburrahman berpesan agar para santri terus menjaga semangat literasi. “Mulailah menulis dari mading sekolah. Ketika ada lomba, ikuti saja. Antum sudah menjadi pemenang ketika berani mencoba. Jadilah ambisius untuk mencoba berbagai hal. Dan ketika dikritik, terimalah dengan lapang dada, karena lewat kritik kita bisa memperbaiki diri,” kata beliau.

Acara ini bukan sekadar seminar, tetapi pengalaman berharga yang membuka wawasan santri untuk terus berjuang menggapai mimpi. Seusai seminar, Habiburrahman menyempatkan waktu melayani penggemarnya untuk menandatangani buku. Buku-buku karyanya langsung diborong para santri yang tak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Walau berlangsung singkat, acara ini meninggalkan pelajaran berharga bagi para santri.

(Berita : Keano, Foto : Abhiraj, Reviewer : Winka, Alif, Ghazi)

Related Articles :

Final Arabic and English Singing, Ajang Adu Vokal dan Ekspresi Seni Multibahasa

Santri Adu Argumen di Babak Kedua Debat GLC 2025

Santri Berlomba Tulis Karangan di Final Composition Gontor Language Championship

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles