Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor, Al-Ustadz H. Ismail Abdullah Budi Prasetyo, S.Ag., di Masjid Jami’ pada Senin, 6 Ramadhan 1447 H/23 Februari 2026 M.
- Sebagai seorang muslim, memiliki jati diri itu penting, karena hal itu yang menunjukkan identitas kita sebagai muslim.
- Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an; orang-orang yang beriman itu kalau mendengar seruan dari Allah atau rasul-Nya mengenai hukum dalam agama, maka mereka mengatakan sami’naa wa atha’naa, “saya mendengar dan saya taat”.
- Maka, jika diperintahkan dalam Al-Qur’an, كتب عليكم الصيام (diwajibkan atas kamu berpuasa), maka orang-orang mukmin mengatakan sami’naa wa atha’naa.
- Iman berarti iqraar bi-l-qalbi wa tasdiiq bi-l-lisaani (pengakuan dengan hati, dan pembenaran dengan lisan).
- Iman itu ada 6, iman kepada Allah, iman kepada malaikat, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-Nya, kepada Hari Akhir, dan iman kepada taqdir Allah dalam baik dan buruknya. Itulah yang disebutkan dalam hadist mengenai arti dari Iman.
- Percaya kepada Allah itu membutuhkan ilmu, ilmu tentang mengenal Allah. Bagaimana kita dapat percaya kepada-Nya kalau kita tidak menegenal-Nya?
- Lantas bagaimana kita dapat mengenal Allah?. Lewat ayat-ayat Al-Qur’an yang didalamnya banyak menjelaskan tentang Allah.
- Selain mengenal Allah, melalui ayat-ayat Al-Qur’an, kita dapat mengetahui keesaan Allah SWT.
- Kalau orang itu sudah benar-benar percaya kepada Allah SWT, maka dia akan mudah mengimani apa saja yang diperintahkan Allah.
- Setelah kita mengenal dan percaya Allah maka kita akan mengimani-Nya dengan sebenar-benarnya Iman. Dengan demikian kita akan selalu mengatakan Sam’naa wa atho’naa dan bukan Sami’naa wa ‘ashoinaa.
- Iman yang kedua yakni iman kepada malaikat, lantas apa itu malaikat?
- Malaikat juga merupakan makhluk Allah yang selalu taat dengan tugas-tugas yang diberikan Allah.
- Iman ketiga adalah iman kepada kitab-kitab Allah yang telah diturunkan melewati rasul-rasul-Nya.
- Iman kepada rasul berarti percaya dan taat atas apa yang disampaikan mereka tentang syariat.
- Iman yang keempat merupakan iman dan percaya bahwa suatu hari nanti terdapat Hari Kiamat yang pasti datangnya.
- Yang terakhir, yakni terdapat iman kepada qadha’ dan qadar. Mengenai iman yang keenam ini, penting untuk betul-betul mempercayai Allah SWT.
- Banyak orang yang mempertanyakan tentang qadha’ dan qadr karena manusia banyak yang tidak menerimanya, di mana orang yang sudah berusaha untuk suatu hal tetapi tidak mendapatkan hasil yang diinginkan.
- Ilmunya Allah itu tidak seperti ilmu manusia yang hanya terbatas. Ilmu Allah itu tidak akan habis dan tidak ada batasnya. Segala sesuatu itu tidak akan luput dari ilmu Allah.
- Jangan sampai kita tidak mempercayai ilmu Allah, dan hanya menganggap ilmu Allah itu terbatas.
- Allah mempunyai kemahatahuan tentang apa saja yang akan terjadi terhadap manusia dan seluruh makhluknya, karena itu semua sudah tertulis di Lauh Mahfudz.
- Segala sesuatu yang terjadi itu karena masyiatullah, atas kehendak Allah.
- Tidak semua yang diimpikan pasti akan terjadi, cita-cita yang ditulis disana tidak akan terjadi tanpa kehendak dan sepengetahuan Allah.
- Maka, keimanan itu yang menjadi identitas kita masing-masing. Kalau ada seruan dari Allah kepada para hamba-Nya yang beriman, maka kita dapat menjawab dengan lantang sami’naa wa atha’naa.
- Begitu mulianya bulan Ramadhan, pada bulan Rajab dan juga Sya’ban kita sudah diingatkan perihal datangnya Ramadhan dengan doa yang diucapkan Rasulullah اللهّم بارك لنا في راجب وشعبان وبلغّنا رمضان .
- Sekarang tugas kita adalah bagaimana kita dapat mengisi bulan Ramadhan ini dengan berkah dan pekerjaan-pekerjaan yang bermanfaat.
Notulen: Hilmi
Related Articles:
Kuliah Shubuh 3 Ramadhan 1447 H, Ust. Assoc. Prof. Dr. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, M.A.
Kuliah Shubuh 4 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Assoc. Prof. Dr. Mulyono Jamal, M.A.
Kuliah Shubuh 5 Ramadhan 1447 H, Al Ustadz Assoc. Prof. Dr. Y. Suyoto Arief, M.S.I.