Date:

Share:

Kuliah Shubuh 8 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Masykur Hasan, S.H.I., M.Pd.

Related Articles

Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Al-Ustadz Masykur Hasan, S.H.I., M.Pd., di Masjid Jami’ PMDG pada Rabu, 8 Ramadhan 1447 H/ 25 Februari 2026.

  • Terdapat tiga karakter Muslim ketika Ramadhan datang.
  • Yang pertama adalah orang yang menyambut Ramadhan dengan jiwa yang sempit, merasa bahwa Ramadhan menutup pintu rizkinya. Benci dengan adanya Ramadhan.
  • Yang kedua adalah orang yang memiliki semangat hanya pada sepuluh hari pertama, hanya ingin merasakan hura-huranya saja.
  • Yang ketiga adalah orang yang memiliki semangat sepuluh hari pertama dan mulai lengah pada hari berikutnya, tetapi kembali semangat ketika dia merasakan masa-masa Lailatul Qadar. Dia percaya bahwasannya Lailatul Qadar ada di antara tanggal 29 hingga 30 Ramadhan.
  • Padahal, malam Lailatul Qadar itu di antara 1 sampai 30 Ramadhan, karena jika malam itu sudah ditentukan tanggalnya, maka semua orang Muslim hanya akan antusias pada malam itu saja. Padahal, Allah menginginkan hambanya selalu semangat dari awal Ramadhan hingga akhir Ramadhan.
  • Pada 10 hari pertama, tanda-tanda diterimanya semua amalan positif kita adalah Allah akan menambahkan semangat pada 10 hari kedua.
  • Sesungguhnya melakukan sesuatu itu terletak pada putaran terakhirnya, bukan pada rintangan awalnya.
  • Sabar tanpa letih, syukur tanpa syarat, dan ridho tanpa batas. Tanpa ketiga itu, kita tidak akan menuju jiwa yang tenang dalam menjalankan ibadah. Yang paling ringan adalah bersabar, kemudian bersyukur, karena keduanya harus kita lakukan dari awal kita hidup sampai akhir.
  • Allah tidak menjanjikan bahwa hidup itu mudah, tetapi Allah akan memudahkan bagi siapapun yang bersyukur kepadanya.
  • Lantas, kita bahagia terlebih dahulu baru bersyukur, atau bersyukur terlebih dahulu baru bahagia?
  • Jawabannya adalah bersyukur terlebih dahulu kemudian bahagia. Harus Bersyukur ketika pemuda bisa rajin ke masjid, menjaga shalat 5 waktu, melakukan ibadah dangan khusyuk.
  • فاقد الشيئ لا يعطي, orang yang tidak mempunyai kebahagiaan maka tidak dapat membahagiakan orang lain. Itulah pentingnya bersyukur karena itu merupakan kunci dari kebahagiaan.
  • Apakah tidur bisa membuahkan pahala saat berpuasa? Jawabannya adalah bisa. Jika terdapat suatu hal yang berpotensi membatalkan puasa, maka untuk mengantisipasinya adalah dengan tidur, karena tidurmu bisa menghindari maksiat.
  • Kedua, ketika tidur karena ingin menjaga kesehatan dengan tujuan melaksanakan qiyamul lail, tilawah Qur’an, atau i’tikaf.
  • Tetapi, tidur yang tidak akan membuahkan apa-apa adalah saat kita tidur sampai lalai dengan berbagai hal, bahkan sampai berlebihan hingga lupa dengan ibadah.
  • Allah itu menciptakan manusia agar hidup mereka untuk beribadah, dengan tujuan akhirat.
  • Kita harus cekatan dalam segala pekerjaan, namun meninggalkannya saat datang waktu ibadah. Karena, urusan dunia dibayar secara langsung, sedangkan ibadah dibayar oleh Allah saat di akhirat nanti sesuai dengan amal perbuatan yang kita lakukan, apakah dosa atau pahala yang akan didapatkan.
  • Hal ini yang membuat orang-orang ragu untuk melakukan urusan akhirat, karena mengejar dunia akan mendapatkan hasilnya secara langsung, namun jika akhirat belum terlihat hasilnya secara langsung.
  • Ketika mereka di akhirat nanti, mereka meminta dikembalikan ke dunia walaupun hanya sesaat guna memperbaiki amalan mereka yang telah dilakukan.
  • Maka, Allah menjawab mereka, kami sudah memerintahkanmu agar beriman dan bertakwa, namun kamu tidak menghiraukannya.
  • Kita harus melaksanakan perbuatan baik yang dicontohkan oleh Rasulullah, sesuai dengan iman dan mengahrapkan imbalan dari Allah.
  • Terdapat orang yang berdoa kepada Allah agar pahalanya di akhirat diganti dengan uang di dunia. Apa kata orang yang beriman, “jika Allah melakukan hal semacam itu, maka apa gunanya orang bekerja keras sedangkan shalat saja menghasilkan uang, dengan begitu dunia akan rusak”.
  • “ .الدنيا دار العمل وليس فيها الجزا ء ” Dunia itu tempat kita beramal dan menyiapkan bekal untuk di akhirat kelak.
  • Maka, mari disadari bahwasannya kita patut bersyukur karena betapa banyak nikmat Allah yang diberikan kepada kita, berupa nafas untuk kita hidup, dan nikmat-nikmat lainnya sehingga kita bisa hidup sampai detik ini.
  • Ada suatu cerita, terdapat seorang pemuda yang tidak bersyukur dan menginginkan kekayaan lebih. Ketika datang seseorang dan bertanya kepadanya “berapa harga dengkulmu?”, dia menjawab sepuluh miliar dan akan membelinya. Orang itu pun terkejut dan mengatakan, “kalau kamu membeli dengkul saya, maka saya tidak akan bisa jalan dan bekerja.” Orang itu berkata, “itu berarti harga dengkulmu lebih dari 10 miliar, tandanya kamu sudah kaya.”
  • Maka, kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki, karena jika kita kehilangannya, akan sulit untuk mendapatkannya kembali.

Notulen: Hilmi

Related Articles:

Kuliah Shubuh 5 Ramadhan 1447 H, Al Ustadz Assoc. Prof. Dr. Y. Suyoto Arief, M.S.I.

Kuliah Shubuh 6 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Ismail Abdullah Budi Prasetyo, S.Ag.

Kuliah Shubuh 7 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Suwarno TM, S.Ag.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles