Date:

Share:

Kunjungi Desa Bayan, Mahasiswi SAA UNIDA Kampus E Kaji Aturan Adat Penjaga Hutan

Related Articles

Mahasiswi Prodi Studi Agama- Agama (SAA) Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor melaksanakan kunjungan akademik ke Desa Adat Bayan yang terletak di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, dalam rangka melakukan Studi Pengayaan Lapangan (SPL) yang bertepatan pada hari Senin, 19 Oktober 2026.

Studi Pengayaan Lapangan (SPL) merupakan salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh mahasiswi UNIDA semester enam dengan tujuan memberi bekal untuk melihat, mengamati , dan mempelajari suatu objek atau proses secara langsung dilapangan kepada mahasiswi yang akan menyelesaikan tugas akhir skripsi. Kegiatan ini diikuti oleh 47 mahasiswi semester enam dengan dosen pembimbing yaitu Al- Ustadz Dr. Hifni Nasif, S.ThI, M.Ag. dan juga Al- Ustadz Mohammad Djaya Aji Bima Sakti, M.Ag. dengan objek penelitian Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Cara unik masyarakat Desa Bayan, Lombok dalam menjada Budaya

Masyarakat Desa Adat Bayan, Kabupaten Lombok Utara, memiliki cara tersendiri dalam menjaga kelestarian alam, yaitu melalui aturan adat yang disebut awik-awik. Aturan ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi pedoman warga dalam melindungi hutan adat, menjaga sumber mata air, serta mempertahankan keseimbangan antara manusia dan alam.

Bagi warga Bayan, hutan bukan sekadar kawasan yang ditumbuhi pepohonan. Hutan adalah sumber kehidupan yang harus dijaga bersama. Hutan menyediakan air bagi kebutuhan warga dan menunjang aktivitas pertanian. Karena itu, penebangan pohon tidak boleh dilakukan sembarangan. Warga wajib mengikuti ketentuan adat dan memperoleh izin dari pihak yang berwenang.

Di Desa Adat Bayan terdapat bagian hutan yang dianggap sakral, salah satunya Hutan Mandala. Setiap tahun, masyarakat menggelar ritual Selamat Olor di kawasan ini. Ritual tersebut merupakan upacara keselamatan mata air dan awal aliran air. Selamat Olor menjadi simbol syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas melimpahnya air sebagai sumber kehidupan.

Hutan sebagai amanah yang harus dijaga

Masyarakat adat memandang hutan sebagai amanah yang harus dijaga. Peran hutan sangat penting, terutama sebagai sumber mata air yang menopang kehidupan sehari-hari dan pertanian.

Ritual ini melibatkan warga secara bersama-sama, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan. Setiap kepala keluarga membawa persembahan berupa ayam atau kerbau. Hewan tersebut disembelih di mata air sebagai wujud syukur.

“Maksud selamat olor ini bagaimana air itu supaya membesar tidak pernah kering sampai akhir jaman lah begitu makanya selamat olor itu semua masakan ada banyak, seluruh Masyarakat kumpul semua dengan membawa ayam dan ada yang membawa beras. Dengan beramai- ramai disana kita memasak segalanya. Makna ada maksud potong kerbau itu bagaimana air itu seperti darah kerbau itu saat keluar ketika penyembelihannya. Makanya kami disini tetap melakukannya setiap tahun kalau ada salah setiap bulan Desember kami lakukan. Maka dari itu air disini kami bisa panen tiga kali, ketika orang kekeringan kami tetap basah, terlalu banyak air disini sampai dari ujung atas sampai bawah.” Ujar Raden Kertamono, Pemangku Adat Batang Timur.

Mahasiswi Program Studi Studi Agama-Agama mengunjungi Desa Adat Bayan, Lombok Utara. Kunjungan ini menjadi pengalaman edukatif yang memperkaya wawasan mereka tentang keberagaman agama dan budaya di Indonesia.

Dalam kunjungan tersebut, mahasiswi mewawancarai langsung pemangku adat dari Batang Timur. Melalui wawancara itu, mereka memahami lebih baik aturan adat dan asas filosofis masyarakat Bayan dalam menjaga hutan. Mereka juga memahami pentingnya peran pemangku adat dalam lingkup Desa Adat Bayan.

Kegiatan ini menegaskan pentingnya menjaga dan memelihara hutan. Bagi masyarakat adat, hutan tidak semata-mata dipandang sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan, tetapi juga sebagai warisan yang harus dirawat demi keberlangsungan hidup generasi mendatang. Hal ini relevan dengan persoalan utama bangsa beberapa waktu silam.

Kontributor : Tim Redaksi SPL, Tim Dokumentasi SPL

Editor : Johansyah, Faza

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles