Date:

Share:

Tinjau Pengalaman Proses di Negeri Sakura: Jejak Perjuangan Dakwah Dr.Hifni Nasif, S.Th.i., M.Ag.

Related Articles

Program Studi Agama-Agama (SAA), Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor mengadakan workshop dakwah sebagai salah satu rangkaian kegiatan Studi Pengayaan Lapangan (SPL) di Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Oktober 2026. Dalam kegiatan tersebut, Al-Ustadz Dr. Hifni Nasif, S.Th.I., M.Ag. membagikan pengalaman perjalanan dakwahnya di Jepang serta proses yang mengantarkannya hingga mendapatkan kesempatan untuk berdakwah di Jepang.

Perjalanan dakwah Ustaz Hifni bermula saat beliau mengikuti pelantikan dan hari-hari Kristologi di Jakarta. Pada waktu yang sama, beliau mengikuti seleksi program Da’i Ambassador yang diselenggarakan Dompet Dhuafa. Dari ratusan pendaftar, hanya 16 orang yang lolos seleksi akhir, delapan di antaranya alumni Gontor. Ustaz Hifni kemudian ditempatkan di Jepang dan berdakwah selama kurang lebih 35 hari.

Sebuah kesempatan yang bermula dari Gontor

Menurut Ustaz Hifni, kesempatan itu tidak lepas dari pendidikan dan pengalamannya di Gontor. Kiprahnya sebagai dosen Studi Agama-agama di UNIDA Gontor juga turut berperan. Berkas pengalaman kerja dan sertifikat yang dimilikinya menjadi bagian dari proses seleksi. Kisah ini menunjukkan bahwa kesempatan besar dapat berawal dari belajar, pengalaman, dan keterlibatan dalam berbagai kegiatan.

Selama di Jepang, Ustaz Hifni bepergian ke sejumlah kota untuk memenuhi undangan dakwah. Beliau juga berinteraksi dengan masyarakat Indonesia dan warga Jepang yang telah memeluk Islam. Dalam salah satu pertemuan, beliau bertemu seseorang yang dahulu ateis. Orang itu bertanya tentang keadilan Tuhan dan nasib keluarganya yang masih ateis. Pertanyaan tersebut menggambarkan tantangan dakwah saat menghadapi latar belakang keyakinan dan pemikiran yang berbeda.

Selain berdakwah, Ustaz Hifni membagikan pengamatannya terhadap masyarakat Jepang, seperti kedisiplinan dan sikap menghormati orang lain. Beliau mencontohkan seorang kondektur kereta yang membungkuk kepada penumpang sebelum pindah ke gerbong berikutnya. Pelajaran sederhana ini mengajarkan bahwa perjalanan bukan hanya soal mencapai tujuan. Perjalanan juga tentang belajar dari kebiasaan dan nilai-nilai yang ditemui di sepanjang jalan.

Ustadz Hifni juga menceritakan pengalaman emosional ketika mengunjungi tempat-tempat di Jepang yang dahulu pernah dikunjungi oleh ayahnya dalam kegiatan safari dakwah pada 2002. Saat bepergian ke negara yang sama. Pengalaman itu membuat beliau merenungkan peran doa,pendidikan, dan berbagai jalan yang mempertemukan seseorang dengan kesempatan dalam hidupnya.

Bagi kami, cerita tersebut memberikan pelajaran bahwa setiap perjuangan membutuhkan proses. Kesempatan tidak selalu datang secara tiba-tiba tanpa persiapan, melainkan dapat terbentuk melalui pendidikan, pengalaman, keberanian, serta kesediaan untuk terus belajar. Perjalanan Ustadz Hifni juga mengingatkan bahwa hasil yang diperoleh hari ini sering kali merupakan bagian dari proses panjang yang telah dijalani sebelumnya.

Harapan dari sebuah perjalanan

Melalui workshop ini, mahasiswi Studi Agama-agama memperoleh gambaran nyata tentang praktik dakwah lintas budaya dan tantangan dalam menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat dengan latar belakang berbeda. Kegiatan ini juga mendorong peserta untuk mengambil hikmah dari setiap pengalaman, mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi proses dan tantangan. Sebagaimana pelajaran yang dapat kita ambil dari pengalaman tersebut, keberhasilan bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi juga tentang kesungguhan dalam menjalani setiap tahap perjalanan.

Lombok, 20 Oktober 2026

Kontributor : Naufa Rufaida, Tim Media PMDG

Editor : Johansyah, Faza

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles