Date:

Share:

Mahasiswi SAA UNIDA Gontor Telusuri Harmoni Adat dan Islam di Desa Sasak Ende

Related Articles

Lombok Tengah, 20 Oktober 2026, Mahasiswa Program Studi Studi Agama-Agama (SAA), Universitas Darussalam Gontor, melaksanakan kunjungan lapangan ke Desa Wisata Sasak Ende, Lombok Tengah, dalam rangkaian kegiatan Studi Pengayaan Lapangan (SPL) di Pulau Lombok. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempelajari agama tidak hanya melalui teori di ruang kelas, tetapi juga melalui praktik kehidupan masyarakat. Mahasiswa mengamati bagaimana nilai-nilai keagamaan, tradisi lokal, sistem sosial, dan aktivitas ekonomi saling berkaitan dalam kehidupan masyarakat Sasak Ende.

Merariq: Memahami Adat Perkawinan dalam Perspektif Agama dan Budaya

Salah satu pembahasan utama dalam kunjungan ini adalah tradisi merariq, yaitu adat perkawinan masyarakat Sasak. Narasumber menjelaskan bahwa tradisi ini melibatkan kesepakatan calon pasangan dan tahapan sosial antara kedua keluarga. Ia menekankan bahwa merariq tidak seharusnya dipahami sebagai tindakan membawa seseorang secara paksa. Tradisi ini perlu dilihat berdasarkan konteks adat dan tahapan yang berlaku di masyarakat.

Narasumber menjelaskan bahwa proses perkawinan melibatkan pemberitahuan kepada keluarga perempuan, komunikasi antarkeluarga, dan permohonan wali untuk pelaksanaan perkawinan. Ia juga menegaskan pentingnya mendahulukan akad nikah sesuai ketentuan agama sebelum tahapan adat dilanjutkan.

Melalui pengamatan ini, mahasiswa dapat menelaah cara masyarakat menafsirkan tradisi dari generasi ke generasi. Mereka juga dapat melihat pengaruh nilai agama terhadap praktik perkawinan. Selain itu, mahasiswa dapat memahami cara masyarakat menghadapi ketegangan antara pelestarian adat dan tuntutan kehidupan modern.

Perbaikan kecil yang saya lakukan: “mempengaruhi” menjadi “pengaruh” (sesuai KBBI, bentuk bakunya “memengaruhi”), “antar keluarga” menjadi “antarkeluarga” (ditulis serangkai), dan kata merariq dicetak miring karena merupakan istilah daerah.

Kesenian Tradisional sebagai Identitas dan Warisan Sosial

Selain adat perkawinan, mahasiswa memperoleh penjelasan mengenai kesenian tradisional yang masih dipertahankan masyarakat Sasak Ende. Salah satunya adalah penggunaan gendang beleq, yaitu perangkat musik berukuran besar berupa gendang yang menurut penuturan narasumber dahulu digunakan untuk menyambut tamu kehormatan dan mengiringi para prajurit.Dalam perkembangannya, kesenian tersebut tetap ditampilkan untuk menyambut pengunjung. Perubahan fungsi ini memperlihatkan bahwa tradisi dapat menyesuaikan diri dengan konteks sosial yang baru tanpa sepenuhnya kehilangan identitas historisnya. Narasumber juga menjelaskan tradisi peresean, yaitu pertunjukan adu ketangkasan yang kini dipertahankan sebagai kesenian dan olahraga tradisional. Ia menyampaikan penuturan lokal mengenai fungsi peresean pada masa lalu, termasuk kepercayaan yang menghubungkannya dengan permohonan hujan. Namun, narasumber mengakui bahwa penuturan tersebut belum didukung oleh literatur tertulis yang ia ketahui.

Kunjungan ini juga memberikan gambaran mengenai kehidupan keagamaan masyarakat Sasak Ende. Narasumber menjelaskan bahwa warga menyelenggarakan pengajian rutin di mushola, dengan frekuensi yang menyesuaikan keadaan, serta kegiatan roah atau roah kubur yang dilaksanakan dalam skala lebih besar pada waktu tertentu.

Menurut penjelasan narasumber, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk berdoa, mengenang keluarga yang telah meninggal, memperkuat rasa syukur, dan menjaga hubungan sosial antarwarga. Narasumber juga menyampaikan upaya masyarakat untuk mendorong generasi muda memperoleh pendidikan agama, termasuk melalui pendidikan pesantren.

Informasi ini memperlihatkan bahwa kehidupan masyarakat desa wisata tidak hanya berorientasi pada pelestarian budaya dan kegiatan ekonomi. Masyarakat juga berusaha mempertahankan praktik keagamaan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Refleksi Mahasiswa: Memahami Relasi Agama, Adat, dan Perubahan Sosial

Melalui observasi di Desa Wisata Sasak Ende, mahasiswa SAA UNIDA Gontor memperoleh pemahaman bahwa kehidupan keagamaan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari adat, lingkungan sosial, dan perkembangan zaman. Hal ini terlihat dari praktik merariq, kegiatan pengajian, tradisi roah kubur, hingga pelestarian rumah adat dan kesenian tradisional. Berbagai fenomena tersebut menunjukkan bahwa agama dan budaya hadir dalam kehidupan masyarakat melalui praktik, nilai, serta kebiasaan yang saling berhubungan.

Selain itu, keberadaan rumah adat, gendang beleq, dan peresean memperlihatkan upaya masyarakat dalam menjaga warisan budaya di tengah perkembangan pariwisata. Kondisi ini mengajak mahasiswa merefleksikan bagaimana pelestarian identitas budaya berhadapan dengan kebutuhan ekonomi dan perubahan lingkungan. Cerita lisan masyarakat juga menjadi perhatian tersendiri, sebab informasi yang disampaikan narasumber perlu dikaji melalui sumber dan penelitian lanjutan sebelum dijadikan kesimpulan sejarah.

Pengalaman lapangan ini memperkuat kesadaran mahasiswa bahwa penelitian agama membutuhkan sikap terbuka, penghormatan terhadap masyarakat, serta ketelitian dalam memahami suatu fenomena. Mahasiswa belajar untuk tidak terburu-buru memberikan penilaian terhadap tradisi yang berbeda dari lingkungan mereka sendiri. Sebaliknya, mereka perlu mendengarkan keterangan narasumber, melakukan observasi, membandingkan informasi, dan menyusun analisis berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kontributor : Tim Media SPL

Editor : Johansyah, Faza

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles