Home Blog Page 15

The Brilliant Generation Abadikan Kebersamaan dalam Perfotoan Bersama

0

Pada Jumat pagi (16/1), seluruh Siswa Kelas Akhir Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) 2026, The Brilliant Generation melaksanakan kegiatan perfotoan bersama Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, wali kelas, serta guru-guru pembimbing. Kegiatan ini berlangsung di pelataran antara Gedung Aligarh dan Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), yang telah dipersiapkan hampir satu bulan lamanya sebagai titik utama pengambilan gambar.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu penanda penting menjelang berakhirnya masa studi pendidikan formal yang telah ditempuh para santri selama beberapa tahun. Sejak pukul 05.00 WIB, para santri tampak telah memadati lokasi dengan mengenakan kemeja dan almamater resmi angkatan. Barisan yang tersusun rapi serta suasana pagi yang masih tenang menciptakan kesan harmonis. 

Proses persiapan perfotoan berlangsung tertib dengan pengaturan koreografi yang telah ditetapkan oleh tim penanggung jawab acara beberapa hari sebelumnya. Panduan berupa kertas instruksi yang telah dibagikan kepada para siswa turut membantu pengomandoan secara sistematis, sehingga memudahkan sesi perubahan formasi tulisan dari satu bentuk ke bentuk lainnya.

Suasana semakin cair dengan hadirnya senyum serta percakapan singkat antara para santri dengan K.H. Hasan Abdullah Sahal, yang turut memberikan beberapa wejangan serta pantun. Sesi perfotoan berjalan lancar, dimulai dengan formasi tulisan “Bright, Bold, Brilliant” dan 12 formasi lainnya. Kegiatan ditutup dengan menyanyikan mars angkatan dan perfotoan perkelas.

Perfotoan tahun ini memiliki keunikan tersendiri. Proses pembangunan New BPPM yang hampir  selesai mengubah sudut pengambilan gambar, menghadirkan sudut pandang baru pada bidikan kamera tahun ini. Kehadiran maskot The Brilliant Generation turut memperkuat kesan megah perfotoan kala itu, nuansa unik dalam perfotoan angkatan tahun ini juga menambah semangat para santri.

Usai sesi bersama, kegiatan dilanjutkan dengan perfotoan individual bapak Pimpinan PMDG dan guru pembimbing yang dilaksanakan di Gedung Aligarh. Agenda kemudian dilanjut dengan coffee break, menjadi ruang jeda yang hangat untuk silaturahmi dan perbincangan ringan. 

Foto-foto yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi arsip kenangan, bukan hanya merekam wajah dan barisan, tetapi juga menyimpan cerita tentang waktu, proses, serta perjalanan kebersamaan yang telah dilalui.

Kontributor: Faza
Editor: Winka, Alif

Sampai Berjumpa Lagi, Ayah

0

Sabtu (3/1) di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) terasa berbeda dibandingkan dengan hari-hari yang lain. Gerimis di sore hari seakan membasuh wajah termenung para penghuninya. Lazuardi senja di atap langit mengiringi matahari terbenam. Bulan malu-malu mengintip di balik awan, menerangi Kampung Damai yang sunyi, atau memilih berdiam diri.

Kala itu, “ibu” sedang berduka karena kehilangan salah satu putra terbaiknya. Hari itu, pukul 12.14 WIB , Pimpinan PMDG, Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A., seorang ulama pembaharuan pendidikan, dipanggil pulang oleh Yang Maha Kuasa. 

RS Moewardi, Solo, Jawa Tengah, menjadi saksi perjuangan beliau melawan sakit selama berbulan-bulan. Pasang-surut kondisi kesehatan beliau selalu diiringi oleh doa anak-anaknya di pondok. Harapan dan dukungan dalam segala bentuk terus dipanjatkan demi kesembuhan ayah. Seluruh kegiatan santri dan guru tetap berjalan sebagaimana biasa, meski hati bergetar menanti kabar.

Kiai Amal adalah putra keempat salah satu Trimurti pendiri Gontor, KH. Imam Zarkasyi, yang lahir pada 4 Nopember 1949. Sebagaimana ayahnya, beliau adalah orang yang aktif bergelut di dunia pendidikan pesantren. Hidupnya beliau jalani dengan memperjuangkan sistem mu’allimin agar diakui oleh mata negara, bahkan dunia.

Banyaknya alumnus PMDG yang kini menimba ilmu di Mesir merupakan salah satu bukti perjuangan beliau untuk Gontor. Dengan penuh kesungguhan, Kiai Amal mengusahakan agar ijazah KMI dan sarjana muda UNIDA (IPD pada saat itu) mendapat kesetaraan oleh perguruan tinggi di Tanah Para Nabi tersebut.

Selepas menyelesaikan studi magister di Darul Ulum Cairo University pada tahun 1987, beliau pulang ke tanah air melanjutkan khidmah untuk pondok tercinta. Pengabdian yang diwarnai suka-duka dijalaninya dengan tabah dan teguh. Berbagai amanah Kiai Amal ampu demi menjaga roda pendidikan Gontor; Wakil Rektor UNIDA III dan IV, Rektor UNIDA, hingga diangkat menjadi Pimpinan Pondok pada 2020 bersama Drs. KH. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed.

Ribuan kepala santri dan guru menunduk mendengar kabar kepergian beliau. Tak terhitung alumni di luar sana yang mengirimkan belasungkawa, menitikkan air mata melepas kepulangan ayah mereka. Segala kenangan dan warisan yang Kiai Amal ukir tetap abadi, meski jasadnya tak lagi menemani anak-anaknya.

“Kita ketemu nanti di akhirat,” ujar KH. Hasan Abdullah Sahal di hadapan mereka yang ikut menshalatkan jenazah Kiai Amal. Ungkapan sederhana yang mengguncang batin siapa saja yang mendengarnya. Kini, beliau telah tenang beristirahat bersama para pejuang pondok yang telah lebih dulu berpulang.

Terima kasih ayah, engkau telah mengajarkan anak-anakmu arti perjuangan. Ceritamu telah ditutup dengan iringan doa dan hormat kami. Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A., seorang pendidik, pejuang, dan maestro yang akan selalu terkenang. Gontor menjadi saksi perjalanan beliau yang terhias tinta emas.

Atas semua jasamu, semoga engkau mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Kini, giliran kami meneruskan nilai-nilai khidmah yang telah ayah wariskan.

Sampai berjumpa lagi, ayah.

Kontributor: Ghazi, Dejuan, Editor: Winka, Alif

Related Articles:

Ribuan Pelayat Antar Pemakaman Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi

Siaran Pers: Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Prof Dr KH Amal Fathullah Wafat

Rangkaian Ujian Siswa Akhir KMI 2026 Tuntas, Pimpinan Pondok Tekankan Keteguhan Nilai

0

GONTOR — Seluruh rangkaian ujian Siswa Akhir KMI 2026 Pondok Modern Darussalam Gontor resmi berakhir pada Rabu (7/1), ditandai dengan selesainya ujian tulis sebagai tahapan terakhir, setelah sebelumnya para siswa menjalani tarbiyah amaliyah dan ujian lisan. 

Usai jam ujian terakhir, seluruh keluarga besar The Brilliant Generation bergerak menuju Masjid Jami’ untuk mengikuti tasyakuran bersama Pimpinan Pondok dan Direktur KMI.

Rangkaian ujian akhir tersebut merupakan bagian dari sistem pendidikan KMI yang menekankan keseimbangan antara kemampuan akademik, kematangan mental, serta pembentukan karakter.

Tarbiyah Amaliyah menguji kesiapan siswa dalam praktik mengajar dan pengabdian, ujian lisan mengukur penguasaan ilmu agama dan bahasa, sementara ujian tulis menjadi evaluasi akhir aspek akademik. Seluruh tahapan itu dirancang untuk memastikan para siswa siap menyandang status alumni Gontor.

Dalam kesempatan tasyakuran, Pimpinan Pondok, KH. Hasan Abdullah Sahal, menyampaikan nasihat kepada para Siswa Akhir KMI 2026. Beliau menegaskan bahwa pondok harus terus berjalan dalam kondisi apa pun. 

“Mau bagaimanapun juga pondok ini harus berjalan, seperti kereta api harus berjalan siapa pun masinisnya. Siapa pimpinannya, berapa pimpinannya, pondok harus tetap berjalan, tetap pada relnya, tidak keluar dari nilai-nilai yang ada,” ujar beliau seraya mengingatkan pentingnya husnudzon kepada Allah serta keyakinan bahwa setiap ketentuan-Nya adalah yang terbaik.

Sementara itu, Direktur KMI, KH. Masyudi Subari, M.A., menekankan bahwa ujian sejatinya tidak berhenti pada ujian akademik semata. Menurut beliau, ujian akan terus ada dalam berbagai bentuk di kehidupan selanjutnya. 

“Ujian tidak akan terputus, akan tetapi ujian akan terus ada. Kesyukuran harus lebih kita tingkatkan karena akan mengalami sesuatu yang lebih banyak lagi ke depannya,” tutur beliau.

Dengan berakhirnya seluruh rangkaian ujian ini, Siswa Akhir KMI 2026 kini bersiap menapaki fase baru sebagai calon alumni Gontor, membawa nilai, disiplin, dan pelajaran hidup yang telah ditempa selama masa pendidikan mereka.

Kontributor: Ghazi, Dejuan, Editor: Winka, Alif

Related Articles:

Ujian Tulis Siswa Akhir KMI: Babak Final Menuju Fase Kehidupan Baru

Haflatu-l-Wada’: Momen Perpisahan Siswa Akhir KMI 2025

Pembekalan Intensif, Persiapan Siswa Akhir Menjelang Alumni

Ribuan Pelayat Antar Pemakaman Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi

0

GONTOR — Ribuan santri, guru, alumni, serta masyarakat mengiringi prosesi sholat jenazah dan pemakaman salah satu Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi, Ahad (4/1/2026). Almarhum dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga PMDG setelah dishalatkan di Masjid Jami’ PMDG.

Sejak pagi hari, pelayat memadati lingkungan pondok untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Pimpinan PMDG periode 2020–2026 tersebut. Suasana khidmat menyelimuti prosesi sholat jenazah yang dipimpin langsung oleh KH. Hasan Abdullah Sahal. Usai dishalatkan, jenazah diusung menuju liang lahat dengan iringan doa dan isak tangis para pelayat.

Dalam sambutannya, Kiai Hasan mengenang almarhum sebagai sosok mujahid pendidikan. “Saya orang yang paling tahu tentang Pak Amal. Perjuangannya amat panjang dan tidak semuanya bisa disampaikan. Mari kita ikhlaskan beliau agar dilancarkan perjalanannya,” ujar beliau. Kiai Hasan juga menegaskan bahwa almarhum berperan besar hingga berdirinya Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor secara resmi.

Kiai Amal merupakan putra keempat salah satu Trimurti pendiri PMDG, KH Imam Zarkasyi. Beliau menamatkan pendidikan KMI pada 1969 dan melanjutkan studi hingga meraih gelar doktor dari Universiti Malaya pada 2006. Pada 2014, Beliau dikukuhkan sebagai guru besar Ilmu Kalam. Sepanjang hidupnya, almarhum mengabdikan diri sebagai pendidik dan akademisi, termasuk menjabat Rektor UNIDA Gontor serta aktif di berbagai organisasi pendidikan nasional dan internasional.

Almarhum wafat di Rumah Sakit Moewardi, Solo, Sabtu (3/1/2026) pukul 12.14 WIB setelah menjalani perawatan intensif akibat komplikasi kesehatan. Beliau meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak.

Sebagai bentuk penghormatan, seluruh kegiatan santri diliburkan, sementara santri di cabang-cabang PMDG melaksanakan sholat ghaib. Pondok kehilangan salah satu pendidik terbaiknya, namun nilai perjuangan dan keteladanan Kiai Amal akan terus hidup dalam sejarah Gontor.

Kontributor: Ghazi, Dejuan, Naufal, Raghib, Editor: Winka, Alif, Johansyah

Related Articles:

Siaran Pers: Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Prof Dr KH Amal Fathullah Wafat

KH. Sutadji Tajuddin, MA Meninggal Dunia

Al-Ustadz H. Edi Kusnanto Meninggal Dunia

Siaran Pers: Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Prof Dr KH Amal Fathullah Wafat

0

PONOROGO — Pondok Modern Darussalam Gontor kehilangan salah satu pendidik terbaiknya. Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi, putra keempat pendiri Gontor KH Imam Zarkasyi, wafat di Rumah Sakit Moewardi, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (3/1/2026) pukul 12.14 WIB.

“Semoga Allah mengampuni dosanya, menerima amal ibadahnya, dan memberinya husnul khatimah,” tulis Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor sekaligus anggota Badan Wakaf Gontor, Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, pada hari yang sama.

Prof. Amal merupakan pemimpin Pondok Modern Darussalam Gontor periode kelima. Periode pertama dipimpin Trimurti pendiri, yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi. Periode kedua dipimpin KH Abdullah Syukri Zarkasyi, KH Hasan Abdullah Sahal, dan KH Shoiman Lukmanul Hakim. Periode ketiga oleh KH Abdullah Syukri Zarkasyi, KH Hasan Abdullah Sahal, dan KH Imam Badri. Periode keempat oleh KH Abdullah Syukri Zarkasyi, KH Hasan A. Sahal, dan KH Syamsul Hadi Abdan. Periode kelima hingga kini dipimpin KH Hasan Abdullah Sahal, Prof. KH Amal Fathullah Zarkasyi, dan KH Akrim Mariyat.

Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor periode 2014–2020 itu diketahui mengalami sakit batu ginjal dan patah tulang. Setelah kedua masalah kesehatan tersebut tertangani, kondisi Prof. Amal justru menurun sehingga memerlukan perawatan lanjutan. Belakangan diketahui adanya penyakit usus buntu. Kondisi kesehatannya terus memburuk hingga akhirnya wafat.

Prof. Amal dikenal luas sebagai pejuang pendidikan pesantren. Ia memperjuangkan agar sarjana muda Gontor memperoleh kesetaraan dengan lulusan perguruan tinggi di Mesir, sehingga dapat melanjutkan studi magister di negara tersebut.

Usai memperjuangkan pengakuan Gontor di Mesir, Prof. Amal kembali ke Tanah Air. Bersama ribuan kiai pesantren dan pemerhati pendidikan, ia mendorong pengakuan negara terhadap sistem pendidikan pesantren, baik salaf maupun khalaf. Perjuangan itu membuahkan hasil dengan disahkannya Undang-Undang Pesantren pada 2018, yang menjadi landasan hukum pengakuan negara terhadap pesantren.

Selain kiprahnya di pesantren, Prof. Amal juga memiliki rekam jejak akademik yang kuat. Ia meraih gelar doktor di bidang Aqidah dan Pemikiran Islam dari Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 2006. Pada 2014, ia dikukuhkan sebagai profesor bidang Ilmu Kalam (teologi). Selanjutnya, pada 2017, ia memperoleh gelar doktor honoris causa di bidang Dirasat Islam dari Fatoni University, Thailand.

Almarhum meninggalkan seorang istri, tiga orang anak, yakni Jaziela Huwaida, Arif Afandi Zarkasyi, dan Ahmad Zakky Mubarok, serta sejumlah cucu.

“Almarhum akan dimandikan terlebih dahulu, kemudian dibawa ke Ponorogo dan disemayamkan di rumah keluarga untuk menerima para pelayat. Setelah itu akan dishalatkan di masjid dan dimakamkan besok pagi,” kata Prof. Hamid.

Selama prosesi tersebut, kegiatan santri Gontor diliburkan agar dapat fokus melepas kepergian almarhum. Sementara itu, santri Gontor cabang akan melaksanakan sholat ghaib.

Hubungan Masyarakat Pondok Modern Darussalam Gontor

Latihan Kepramukaan PMDG Ditutup, Tekankan Disiplin dan Konsistensi Santri

0

GONTOR — Pondok Modern Darussalam Gontor resmi menutup kegiatan latihan kepramukaan pada Rabu(1/1). Penutupan ini dilaksanakan menjelang masa ujian semester kedua sebagai bagian dari kebijakan pondok untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif serta memusatkan konsentrasi santri pada persiapan akademik.

Upacara penutupan dipimpin oleh Al-Ustadz Sunan Autad Sarjana, Lc., M.H., selaku pembina upacara. Dalam amanatnya, beliau menegaskan bahwa kegiatan kepramukaan di Gontor merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem pendidikan pondok, yang bertujuan membentuk karakter, kedisiplinan, dan mental santri.

“Dalam kepramukaan, kita belajar bahwa setiap aba-aba harus ditaati. Bukan semata-mata karena takut kepada pembina, tetapi karena kesadaran bahwa keteraturan adalah syarat utama kesuksesan,” ujar Ustadz Sunan di hadapan peserta upacara.

Beliau menambahkan bahwa nilai-nilai kepramukaan sejatinya relevan dengan kehidupan santri di dalam maupun di luar pondok. Menurut beliau, keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh kecepatan, melainkan oleh konsistensi dalam menjalani proses pendidikan. “Hidup bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi tentang siapa yang paling konsisten.” 

Ustadz Sunan juga menekankan bahwa penutupan latihan kepramukaan bukanlah akhir dari proses pendidikan karakter. Nilai-nilai yang telah ditanamkan selama latihan diharapkan terus hidup dan tercermin dalam sikap santri, khususnya saat menghadapi ujian.

“Keberhasilan sejati terkadang tidak lahir di tengah tepuk tangan, tetapi di tengah kesendirian santri. Santri pramuka adalah santri yang siap diuji,” ujar beliau.

Seiring dengan penutupan latihan kepramukaan, Gontor menonaktifkan sementara sejumlah kegiatan ekstrakurikuler lainnya. Langkah ini diambil agar santri dapat lebih fokus mempersiapkan diri menghadapi ujian semester kedua.

Melalui kebijakan ini, Gontor menunjukkan keseriusannya dalam menjaga keseimbangan antara pembinaan karakter dan pencapaian akademik, guna melahirkan santri yang disiplin, tangguh, dan bertanggung jawab.

Kontributor: Ghazi, Bag. Fotografi OPPM, Editor: Winka, Alif

Related Articles:

Gladi Tangguh Tekankan Kepemimpinan dan Ketahanan Mental Pengurus Koordinator Gerakan Pramuka

Nyanyikan Lagu “Di Sini Senang, Di Sana Senang”, Menteri Pendidikan Ajak Pramuka WMSJ Menjadi Generasi Agile

Jambore Pramuka Muslim Dunia Pertama di Indonesia Siap Digelar, 15 Ribu Peserta dari 16 Negara Diharapkan Tebar Pesan Perdamaian

PMDG Kampus 12 Resmi Tutup Kegiatan Pramuka dan Bahasa Jelang Ujian Semester Kedua

0

SIAK — Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kampus 12 secara resmi menutup rangkaian kegiatan ekstrakurikuler Kepramukaan dan Kebahasaan menjelang pelaksanaan ujian semester kedua. Penutupan kegiatan Pramuka dilaksanakan pada Kamis (1/1), sementara penutupan kegiatan Bahasa berlangsung pada Jumat (2/1), bertempat di lingkungan PMDG Kampus 12, Desa Lubuk Jering, Kecamatan Sungai Mandau, Kabupaten Siak, Riau.

Kegiatan penutupan ini dihadiri oleh Wakil Pengasuh PMDG Kampus 12 Al Ustadz Himmah Azhar Latif, S.Th.I., Wakil Direktur KMI Kampus 12 Al Ustadz Muhammad Rifqi Inani, M.Pd., Guru Senior PMDG Kampus 12 Al Ustadz H. Suroso Hadi, serta diikuti oleh seluruh asatidz dan santri PMDG Kampus 12. Acara berlangsung dengan penuh khidmat dan tertib, mencerminkan disiplin serta kesungguhan seluruh elemen pondok.

Penutupan kegiatan ini merupakan langkah strategis pondok dalam menciptakan iklim pendidikan dan pembelajaran yang kondusif, fokus, dan terarah menjelang ujian lisan (syafahi) dan ujian tulis (tahriri). Seluruh aktivitas ekstrakurikuler dihentikan sementara guna mengalihkan perhatian santri sepenuhnya pada kegiatan belajar (muwajjah) serta persiapan mental dan spiritual menghadapi evaluasi akademik.

Dalam pesan dan nasihatnya, Wakil Pengasuh PMDG Kampus 12, Al Ustadz Himmah Azhar Latif, S.Th.I., menegaskan bahwa berakhirnya kegiatan Pramuka tidak berarti hilangnya nilai-nilai kepramukaan dalam kehidupan santri. “Meskipun kegiatan Pramuka sudah berakhir menjelang ujian semester kedua, semangat kepramukaan tetap harus tercermin dalam pelaksanaan ujian ini,” tegas beliau.

Lebih lanjut, beliau menekankan kedudukan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris sebagai dua bahasa resmi Pondok Modern Darussalam Gontor. Menurutnya, kedua bahasa tersebut bukan sekadar mata pelajaran, melainkan mahkota pondok dan alat komunikasi wajib yang menjadi urat nadi kehidupan sehari-hari santri. Bahasa Arab diposisikan sebagai kunci untuk mendalami khazanah keislaman dan literatur klasik (turots), sementara Bahasa Inggris berfungsi sebagai instrumen penguasaan ilmu pengetahuan umum dan komunikasi global.

Beliau juga mengingatkan bahwa meskipun kegiatan kebahasaan telah resmi ditutup, disiplin penggunaan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris tetap diberlakukan dalam kehidupan sehari-hari santri sebagai bentuk konsistensi nilai dan budaya pondok.

Melalui kebijakan ini, Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 12 menegaskan komitmennya dalam menanamkan pemahaman skala prioritas kepada santri, bahwa ujian merupakan sarana pembelajaran dan evaluasi kesungguhan dalam menuntut ilmu. Diharapkan, para santri mampu meraih hasil yang maksimal dengan tetap menjunjung tinggi integritas, kedisiplinan, serta nilai-nilai kepondokmodernan.

Kontributor: Aryyo, Andi
Editor: Winka, Alif

Related Articles:

Sehat Bersama Darussalam Warnai Bakti 100 Tahun Gontor di PMDG Kampus 12

Dapur Berkah Darussalam Meriahkan Bakti 100 Tahun Gontor di PMDG Kampus 12

Darussalam Berkhidmat, PMDG Kampus 12 Gelar Bakti Sosial Peringatan 100 Tahun Gontor

Tabligh Akbar Meriahkan Malam Puncak Peringatan 100 Tahun Gontor di PMDG Kampus 2

0

MADUSARI — Tabligh Akbar bersama KH. Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar (Gus Kautsar) menutup rangkaian kegiatan Peringatan 100 Tahun Gontor di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kampus 2, Madusari. Sebelumnya, peringatan seratus tahun Gontor telah diisi dengan berbagai kegiatan, antara lain Gorda (Gontor Dua) Championship, Seminar Santri Nasional, dan Bakti Sosial.

Kegiatan yang digelar pada malam puncak peringatan tersebut menghadirkan Gus Kautsar, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, sebagai penceramah utama. Ribuan jamaah memadati lokasi acara yang berlangsung khidmat hingga akhir.

Tabligh Akbar ini dihadiri Pimpinan PMDG, KH. Hasan Abdullah Sahal dan drs. KH. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed., para ketua lembaga, keluarga besar PMDG, calon pelajar, serta masyarakat umum.

Rangkaian acara diawali dengan penampilan Seni Hadroh Darussalam Gontor Kampus 2 (SENHADA) yang menjadi pembuka sekaligus penyambutan jamaah. Lantunan shalawat menambah kekhusyukan suasana malam puncak peringatan seratus tahun perjalanan Gontor.

Dalam sambutannya, Kiai Hasan menyampaikan rasa syukur atas perjalanan panjang Gontor selama satu abad. Beliau juga menegaskan hubungan historis dan keilmuan yang erat antara Gontor dan Al-Falah. Ia berharap tausiyah yang disampaikan dapat menjadi bekal berharga bagi santri dan masyarakat dalam menjaga nilai keilmuan serta kebermanfaatan bagi umat.

Dalam tausiyahnya, Gus Kautsar menegaskan bahwa usia 100 tahun bukanlah waktu yang singkat, melainkan bukti bahwa Gontor mampu berdiri kokoh sebagai lembaga pendidikan Islam yang terus memberi solusi bagi masyarakat. Menurut beliau, keberhasilan pesantren tidak diukur dari kemegahan bangunan, melainkan dari karya, akhlak, dan kemanfaatan alumninya di tengah masyarakat.

Gus Kautsar juga mengingatkan bahwa dalam setiap perjuangan kebaikan akan selalu ada kritik, cibiran, dan penolakan. Karena itu, santri dituntut memiliki sandaran syar’i dan dasar keilmuan yang kuat, serta tidak menjadikan penilaian manusia sebagai tujuan utama, melainkan mengharap ridha Allah SWT.

Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya Al-Qur’an sebagai sumber kehidupan, bukan sekadar bacaan. Al-Qur’an, menurut Gus Kautsar, harus dipahami, ditadabburi, dan ditadzakuri agar melahirkan kesadaran bahwa setiap langkah hidup berada dalam pengawasan Allah SWT. Ilmu menjadi jalan utama menuju keselamatan dunia dan akhirat, serta fondasi dari seluruh amal ibadah.

Dalam pesannya kepada santri dan alumni, Gus Kautsar menyebut santri sejati memiliki tiga karakter utama, yakni ilmiah, amaliah, dan istiqamah. Menjadi santri bukanlah status sementara, melainkan tanggung jawab seumur hidup. Santri juga dituntut menjaga hati dan lisan, memiliki cita-cita tinggi (uluwwul himmah), serta menjadikan hidupnya sarat dengan khidmah, bukan semata mengejar keuntungan pribadi.

Menutup tausiyahnya, Gus Kautsar menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh nasab, melainkan oleh ilmu, adab, dan kontribusi nyata. Setiap santri dan alumni Gontor, menurut beliau, merupakan perwujudan nilai-nilai pondok di tengah masyarakat sekaligus menjadi “iklan hidup” bagi keberlangsungan dan kehormatan Gontor.

Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Kiai Hasan, memohon keberkahan, keberlanjutan perjuangan Gontor, serta lahirnya generasi santri yang istiqamah dalam ilmu, akhlak, dan pengabdian bagi agama, bangsa, dan umat.

Kontributor: Halimul, Fatih, Faiq, Ilham, Rizki, Mufti, Aby, Brilliansyah, Zaky, Rifky Yulian
Editor: Winka, Alif, Ghazi

Related Articles:

Tabligh Akbar 100 Tahun Gontor, Gus Kautsar: Kebesaran Gontor Terletak pada Karya Santrinya

Gontor Kampus 2 Gelar Bakti Sosial dan Khitan Massal Dalam Rangka Peringatan 100 Tahun Gontor

Kunjungan Pelajar Dan Pengurus Organisasi Pelajar Pondok Modern Nurussalam Karawang Di Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 2

Tabligh Akbar 100 Tahun Gontor, Gus Kautsar: Kebesaran Gontor Terletak pada Karya Santrinya

0

GONTOR — Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kampus 2 menggelar Tabligh Akbar sebagai bagian dari rangkaian Peringatan 100 Tahun Gontor pada Ahad (28/12) malam. Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Sintesa PMDG Kampus 2 tersebut dihadiri ribuan jamaah dari Forkopimda Ponorogo, guru, santri, wali santri, serta masyarakat umum.

Pimpinan PMDG, KH. Hasan Abdullah Sahal, menyoroti eratnya hubungan historis antara Gontor dan Pondok Pesantren Ploso. Beliau menyebut kedua pesantren tersebut layaknya kakak beradik. “Ploso berdiri tahun 1925, Gontor 1926. Beda satu tahun saja,” ujar beliau, seraya menjelaskan bahwa hubungan kedua pesantren terjalin sangat erat.

Kiai Hasan juga menyampaikan rasa syukur atas keberlangsungan Gontor yang telah melewati seratus tahun perjalanan. “Alhamdulillah, berjalan satu tahun, dua tahun, tiga tahun, hingga hari ini,” ujar beliau di hadapan para hadirin.

Tabligh Akbar ini menghadirkan Al-Ustadz KH. Abdurrohman Al-Kautsar atau Gus Kautsar sebagai penceramah utama. Dalam tausiyahnya, Gus Kautsar mengaku bersyukur dapat kembali bersilaturahmi ke Gontor. Ia mengajak generasi muda untuk meneladani para kiai yang istiqamah mendampingi santri. “Semoga diberi kepanjangan usia dan keistiqamahan,” tuturnya.

Gus Kautsar menegaskan bahwa 100 tahun bukanlah usia yang pendek. Menurutnya, Gontor telah membuktikan diri sebagai solusi bagi masyarakat. “Kebesaran Gontor ini tidak dilihat dari bangunannya, tetapi dari karya anak-anak didiknya,” ujarnya. 

Ia juga menekankan pentingnya nilai khidmah dan keikhlasan dalam perjuangan. “DNA kita adalah khidmah. Semua perjuangan tidak perlu menanti dukungan orang lain,” katanya.

Menutup tausiyahnya, Gus Kautsar berpesan agar para santri senantiasa menjaga lingkungan pergaulan yang baik dan memastikan setiap perkataan serta tindakan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW demi meraih ridha Allah SWT.

Kontributor: Ghazi, Arsy, Mufti
Editor: Winka, Alif

Related Articles:

Wamenag RI Kunjungi PMDG, Tegaskan Jasa Pesantren Untuk Indonesia

Perdana Kunjungi Gontor Putri 1, Jusuf Kalla Tegaskan Gontor sebagai Lentera Peradaban

Kapolda Jatim Kunjungi Gontor, Sampaikan Kesan Mendalam dan Dukung Peringatan 100 Tahun PMDG

Sehat Bersama Darussalam Warnai Bakti 100 Tahun Gontor di PMDG Kampus 12

0

SIAK – Rangkaian kegiatan sosial Darussalam Berkhidmat: Bakti 100 Tahun yang diselenggarakan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kampus 12 terus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Salah satu subacara yang mendapat sambutan luas adalah Sehat Bersama Darussalam, berupa layanan khitan massal dan cek kesehatan gratis bagi warga sekitar.

Kegiatan yang berlangsung pada Ahad-Senin, 28-29 Desember 2025 ini diikuti ratusan masyarakat, khususnya warga Desa Lubuk Jering dan sekitarnya. Sejak pagi hari, warga tampak antusias mendatangi lokasi kegiatan yang dipusatkan di area kesehatan PMDG Kampus 12.

Dalam subacara ini, panitia menyediakan layanan khitan massal bagi sekitar 30 anak serta pemeriksaan kesehatan dasar gratis bagi kurang lebih 100 peserta. Pemeriksaan meliputi pengecekan tekanan darah, konsultasi kesehatan umum, serta layanan medis dasar yang ditangani oleh tenaga kesehatan dan relawan medis.

Panitia kegiatan menyampaikan bahwa Sehat Bersama Darussalam merupakan bentuk kepedulian PMDG terhadap aspek kesehatan masyarakat, khususnya bagi keluarga yang memiliki keterbatasan akses layanan medis. Kegiatan ini juga menjadi wujud konkret pengabdian Gontor kepada masyarakat dalam momentum satu abad berdirinya pondok.

“Melalui layanan kesehatan ini, kami berharap masyarakat dapat merasakan langsung manfaat peringatan 100 Tahun Gontor, tidak hanya sebagai perayaan seremonial, tetapi juga sebagai aksi kemanusiaan yang berdampak,” ujar Muhammad Abduh salah satu panitia kegiatan.

Selain memberikan pelayanan kesehatan, kegiatan ini juga mempererat hubungan emosional antara pondok dan masyarakat. Kehadiran santri, guru, tenaga medis, serta relawan dalam satu ruang pelayanan mencerminkan semangat kebersamaan dan gotong royong yang menjadi nilai utama Gontor sejak awal berdirinya.

Subacara Sehat Bersama Darussalam menjadi bukti bahwa peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor tidak hanya dimaknai sebagai refleksi sejarah, tetapi juga sebagai momentum untuk terus menebar kebermanfaatan bagi umat, sesuai dengan semangat “Dari Gontor untuk Masyarakat.”

Kontributor: Aryyo, Andi, Bag. Dokumentasi Panitia Peringatan 100 Tahun Gontor
Edtior: Winka, Alif

Related Articles:

Dapur Berkah Darussalam Meriahkan Bakti 100 Tahun Gontor di PMDG Kampus 12

Darussalam Berkhidmat, PMDG Kampus 12 Gelar Bakti Sosial Peringatan 100 Tahun Gontor

Panitia Matangkan Persiapan Darussalam Berkhidmat Jelang Pelaksanaan Peringatan 100 Tahun di PMDG Kampus 12