Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah. Pondok modern darussalam gontor putri kampus 2, lembaga yang di dalamnya mengajar dan mendidik wanita untuk menjadi figur yang ideal dengan nilai islami. Dan pada hari Jum’at (7/8), diadakan sebuah acara yang mengandung unsur pendidikan, untuk menjadi seorang wanita muslimah yang baik luar dalam.
Duta Nisaiyyah adalah salah satu acara yang menguji kemampuan santriwati dalam hal keputrian. Diadakan dalam 3 gelombang, dan babak final yang terdiri dari 2 orang perwakilan setiap rayon. Acara ini dibedakan menjadi kibar dan shighor, kibar terdiri dari kelas 1 intensif, 3 intensif dan 4. Sedangkan untuk shighor terdiri dari kelas 1, 2 dan 3. Disini, para peserta diuji kemampuannya masing-masing, mulai dari akademik sampai non-akademik
Para peserta dengan semangat yang membara menjawab pertanyaan dari juri. Para penonton yang menyaksikan pun tidak kalah semangat untuk menyemangati temannnya masing-masing.
Dan pemenang kejuaraan duta nisaiyyah tahun 2020-2021 dari kibar diraih oleh Alycia Dinara (4B) dan dari shighor diraih oleh Audy Tafia (3B). Rekapitulsai kejuaraan juga mengambil pemenang berdasarkan keindahan gaun. The best gown diraih oleh Rheinata Aradhea (3B) dan Dini Rheinata (3XB). Diharapkan dari para pemenang agar menjadi contoh yang baik bagi teman-temannya.
DARUSSALAM-Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) memberikan pendidikan kepada santri-santrinya dengan berbagai macam kegiatan, salah satunya dengan Musyawarah Kerja Antarrayon yang diadakan pada hari Rabu (29/7). Acara ini diikuti oleh 21 rayon di Darussalam mulai dari rayon shigor hingga kibar dan melibatkan semua santri dari kelas 1-4 Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI), pengurus rayon dari kelas 5 dan beberapa ustadz pembimbing.
Acara ini diadakan di dalam ruangan kelas Gedung Robithoh dari pukul 20.00 WIB – 21.30 WIB. dalam Musyawarah Kerja Antarrayon ini, santri dan para pengurus rayon bermusyawarah untuk menentukan langkah rayon ke depannya dan membahas beberapa hal terkait dari peraturan yang akan diterapkan dan kegiatan yang akan dijalani di rayon. Itu semua dibahas dan dirundingkan satu persatu dalam musyawarah ini. Santri juga boleh menambahkan, mengurangi dan berpendapat sesuai opini mereka. Lalu jika itu disetujui maka itu akan ditetapkan nantinya dalam keputusan hasil Musyawarah Kerja Antar Rayon dan menjadi acuan mereka dalam berorganisasi di rayon. Acara ini sangat bermanfaat bagi para santri karena selain belajar berorganisasi, mereka juga terlatih untuk berfikir kritis dan teliti.
Semoga dengan diadakannya acara ini bisa menambah pengetahuan para santri, dan mematangkan ilmu khususnya dalam keorganisasian.
DARUSSALAM- Dinamika Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) tidak pernah berhenti walau di masa pandemi seperti saat ini. Untuk mengisi sedikit waktu luang di awal tahun ini, karena ditundanya beberapa acara pondok seperti: Apel Tahunan Khutbatu-l-‘Arsy, Drama Arena kelas 5, dan Panggung Gembira kelas 6, PMDG menggelar Darussalam Art Day (DAD) pada hari Jum’at pagi, 14 Agustus 2020. Acara ini bukanlah acara tahunan yang setiap tahunnya diadakan di PMDG. Staf Pengasuhan Santri yang bertanggung jawab penuh atas acara ini, menunjuk seluruh bagian Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) dan Koordinator Gerakan Pramuka (KGP) untuk ikut andil dalam menyukseskan acara tersebut.
Kegiatan ini terdiri dari beberapa unsur, seperti: Penampilan-penampilan yang diikuti oleh beberapa anggota kursus seni dan anggota rayon; dari menyanyi, pantomim, drama musikal, puisi, hadroh hingga pencak silat ditampilkan di lapangan depan Gedung Alighar. Selanjutnya ada perlombaan-perlombaan khas kemerdekaan dari beberapa bagian OPPM dan Koordinator; dari tarik tambang, joget kursi, bola corong, menggambar, melukis, hingga broadcasting pun ada. Kemudian terdapat pula pameran-pameran hasil karya santri berupa tulisan Khot, lukisan kanvas, lukisan balik kaca, dan aneka hasta karya lainnya. Untuk turut menyemarakkan DAD ini, diadakan juga Bazzar dari bagian Koperasi dan bagian Koperasi Warung Pelajar.
DAD perdana di PMDG pusat ini dimulai dari pukul 08.00 hingga pukul 10.30. Dibuka secara resmi oleh Al-Ustadz Muhammad Nur, Lc., M.A. yang mewakili Pimpinan PMDG. Tujuan khusus diadakannya acara ini adalah untuk memunculkan bakat-bakat terpendam yang dimiliki oleh para santri, khususnya dari segi kesenian. Reyzin
Dengan kecintaannya pada Indonesia, para santri Gontor ini menulis Puisi Kemerdekaan. Apa kata santri Gontor tentang kemerdekaan? Mari kita simak bersama lima Puisi Kemerdekaan karya mereka berikut.
Puisi Kemerdekaan: Kemerdekaan Merah Putih Suci
Oleh: Muhammad Ilham, Kelas 1 Intensif G, dari Kendal
Di Ufuk Timur
Tersiar semburat cahaya teratur
Goyangan suara menggelegar
Untuk mendorong batu terbesar
.
Semburan cairan merah
Keluar dari tubuh yang tak mau menyerah
Dengan teriakan menggelora
Dan semangat membara
.
Bola-bola bertebaran dimana-mana
Kayu berjari tak tahu menunjuk kemana
Aliran air mata bak sungai
Mereka menunggu pahlawan yang melindungi
.
Teriakan mereka menyebut negeri dan Ilahi
Untuk menunggu penantian yang lama sunyi
Suara mereka adalah hiasan
Perjuangan adalah makanan
.
Kami hanya membawa daun tajam
Tak gentar, tapi teriakan
Kami bergerak siang malam
Mereka hanya kelalaian dan kekerasan
.
Kami terus berjuang
Mereka dengan omongan dan goncangan
Akhirnya itu bukan hanya perkataan
Inilah hasil perjuangan
.
Kemerdekaan
Kami maju dan kami raih
Walau panas dan perih
Karena perjuangan, bukan lagi harapan
Karena perjuangan, menjadi tatapan
Merdeka
.
Cintai Negeri, Teguhkan Iman
Masduri, Kelas 3 intensif G, dari Madura
Gelagat doa bersandang pasrah
Kalam Lillah tertusuk utuh
Jantung musuh rapuh
Adakalanya sebuah pelita
Telah kami rapal pada Sumpah Pemuda
.
Cintai Negeri
Teguhkan Iman
.
17 Agustus 1945, tabayun doa
Kami hidang, syukur indah kami pampang
Ya, itu adalah hari membasuh duka
Indonesia merdeka
.
Lantas letih papas yang menggurat
Perih, mengusap pedih
Entah itu benci berlatar diksi
.
Adalah hikayat para penopang
Cinta, letupan doa ribuan jiwa
Adalah saksi mata
Memeluk negeri berhasrat kasih
.
Cintai Negeri
Teguhkan Iman
.
Negeri sunyi, utuh bersaput riuh
Beku lusuh kini telah rapuh
Tabayun doa tak berdosa, hampa
.
Kini aku menyusur setapak
hati bangkit, tanah julang
.
Puisi Kemerdekaan: Indonesia Merdeka, Suara Garuda
Oleh: Muhammad Rayza Fadilla, Kelas 6D, dari Banjarmasin
Merah putih membentang dari tanah sabang sampai laut merauke
Debur ombak melantun merdu dalam perjuangan
Ranah cinta tanah air menyelimuti kubur, batu nisan para pahlawan
75 tahun lalu waktu bersaksi atas darah dan air mata
DARUSSALAM–Pramuka merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler wajib bagi seluruh santri yang diadakan setiap hari Kamis di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), kegiatan ini bertujuan untuk membentuk karakter, melatih jiwa kepemimpinan, dan tanggung jawab, serta meningkatkan kreatifitas santri dengan tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman. Semboyan yang sering digaungkan adalah, “We Are Scout, But We Are Moslem”.
Dalam rangka mendidik para pembina, PMDG menggelar acara ‘Orientasi Pembina Pramuka’ selama empat hari berturut-turut mulai hari Sabtu hingga Selasa, 25-28 Juli 2020 di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM). Acara ini merupakan kegiatan baru di PMDG sebagai pengganti kegiatan Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) yang akan dilaksanakan pada semester kedua mendatang.
Di dalam orientasi tersebut kelas 5 dididik agar menjadi pembina yang baik dan dapat memberikan contoh kepada para adika se-Darussalam. Para pembina diajarkan berbagai kecakapan mulai dari cara berpakaian Pramuka yang benar, mengikat pioneering, membaca morse, menghafal Dasa Dharma dan Tri Satya dalam tiga Bahasa, hingga kegiatan outdoor seperti perkemahan dan Jamboree.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa kelas 5 KMI yang berjumlah 720 orang, dibawah bimbingan Koordinator Gerakan Pramuka, adapun yang menjadi pembicara dalam acara ini adalah Al-Ustadz Sunarto, S.Ag. selaku Pelatih, Kak Muhammad Faris dari Majelis Pembimbing Koordinator Harian (Mabikori), dan Kak Charis Maulana dari Majelis Pembimbing Gugus Depan (Mabigus).
Semoga dengan acara ini para pembina dapat menjadi pembina yang baik dan menjadi contoh bagi adika-adikanya, dan semoga kepramukaan di PMDG lebih maju dan mencetak pemimpin-pemimpin bangsa di masa yang akan datang. hafidhrafi
DARUSSALAM– Sebagai sarana memperluas wawasan santri, kegiatan diskusi merupakan kegiatan yang menjadi wajib bagi seluruh siswa Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) kelas 5 dan 6. Dan mengawali kegiatan diskusi mingguan yang akan berjalan secara rutin setiap hari Kamis malam tersebut, mereka terlebih dahulu mengikuti acara diskusi umum yang diadakan di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM).
Kegiatan diskusi umum bertujuan untuk menjadikan contoh kepada seluruh siswa kelas 5 dan 6 KMI tentang bagaimana menjadi pemakalah yang baik serta ideal. “Diskusi Umum menjadi barometer untuk seluruh siswa kelas 5 dan 6, agar ketika diskusi mingguan sudah berjalan nanti mereka sudah memiliki gambaran terkait bagaimana seharusnya kegiatan diskusi berjalan.” Jelas Al-Ustadz Raka Fadel Devarsa Pahlawan, S.Ag. selaku pembimbing FP2WS sekaligus pembimbing kegiatan diskusi umum.
Setelah diskusi umum siswa kelas 5 yang diadakan pada hari Ahad (9/7) lalu, kemudian diikuti dengan diskusi umum siswa kelas 6 pada hari Senin (10/7) malam. Diskusi tersebut mengusung tema “Adab dan Akhlaq Dan Pengaruhnya Dalam Meningkatkan Sumber Daya Manusia”, di mana pemakalah menerangkan tentang bagaimana konsep adab dan akhlaq menurut para ilmuwan muslim, serta bagaimana pengaruhnya dalam membangun SDM yang berkualitas. Adapun yang bertugas sebagai pemakalah adalah Muhammad Arham Ash-Shiddiqiy kelas 6-D serta Aulia Ghazisa Indraputra kelas 6-N.
Setelah kegiatan diskusi berjalan, acara malam itu juga diikuti dengan evaluasi serta pengarahan dari pembimbing diskusi yaitu Al-Ustadz Saidil Yusron, Lc. M.A. yang sekaligus mewakili Bapak Pimpinan PMDG. Dalam pengarahan tersebut, beliau menekankan bahwa sebagai calon alumni yang akan disebar ke berbagai daerah di Indonesia, siswa kelas 6 haruslah membekali dirinya dengan banyak membaca. “Orang yang rajin membaca, pasti ia akan mudah dalam menulis. Dan orang yang pintar menulis, tentu akan lebih pandai dalam berbicara.” Begitulah tegas beliau.
Sebuah pepatah Arab mengatakan “zur ghibban, tazdad hubban”. Secara lepas, pepatah tadi mengatakan bahwa cinta akan bertambah dengan sedikitnya frekuensi pertemuan. Semakin sedikit sesuatu, semakin manis ia terasa.
Sebagai sebuah pepatah, tentunya ia merupakan kristalisasi dan akumulasi dari pengalaman dan fenomena yang dirasakan secara bersama-sama oleh tiap individu dalam sebuah kebudayaan atau bahkan peradaban.
Sebagai sebuah tesis, mungkin ia memiliki anti-tesis yang menjadi penyeimbang di sisi lain neracanya. Sebagaimana “jarrib wa laahidz takun aarifan” yang ‘berpasangan’ dengan “fakkir qabla an ta’zima”, zur ghibban mungkin punya jodohnya. Tapi hari ini kita sedang begitu tertarik dengan kata mutiara ini dan kebetulan penulis juga belum menemukan jodohnya yang benar-benar se-kufu. (Jika pembaca menemukan, bolehlah menuliskannya di kolom komentar)
Anak, tidak diragukan lagi, adalah permata hati bagi kedua orang tuanya. Senyumnya menentramkan hati, makannya yang lahap mengenyangkan perut, dan demamnya adalah demam orang tuanya. Saat anak kita yang berusia 5 tahun bisa menghafal Al-Fatihah, itu berita yang lebih penting daripada seorang anak kecil nun jauh di sana yang bisa menghafal seluruh surat dalam Al-Quran.
Sebagai permata, sebagian orang berpikir, tentu sangat indah jika ia dapat dilihat setiap hari. Namun bagaimana jika anak harus melangkah untuk masuk ke pondok, menuntut ilmu demi menjadi anak sholeh yang bisa mendoakan kedua orang tuanya kelak?
Di sinilah pepatah zur ghibban tazdad hubban membuktikan bahwa dirinya benar. Tempaan abad memang tidak bisa ditepis; kata-kata singkat itu tidak bisa disangkal; anak yang masuk pondok memang kini berada jauh di mata, semakin jarang dilihat, namun… ia semakin dekat di hati, semakin sering tersebut dalam bulir doa.
Beberapa bulan ini, pepatah itu kian mendapat pembenaran secara kolektif. Karena kondisi yang sangat tidak memungkinkan saat ini, anak-anak usia sekolah kini banyak menghabiskan waktu di rumah daripada di sekolah. Mereka memiliki intesitas pertemuan yang lebih tinggi dengan orang tuanya dibanding sebelumnya. Apakah grafik cinta orang tua kepada anaknya memiliki korelasi positif dengan bertambahnya jam pertemuan itu?
Saya rasa masing-masing kita sudah menjadi peneliti yang cukup mumpuni untuk menjawab pertanyaan itu. Mungkin regresi linear tidak dibutuhkan untuk mencari jawaban itu.
Sebagai sebuah pepatah, tentu zur ghibban tazdad hubban adalah sebuah generalisasi. Dan sebagai sebuah generalisasi, tentu ia memiliki pengecualian. Sebagai sebuah objek penelitian, tentu ada saja outlier yang memiliki karakteristik yang berbeda dari normal distribution. Tentu ada individu yang merepresentasikan fenomena black swan dari pepatah itu.
Tapi sebagai sebuah kata bijak; ia terlalu indah untuk diributkan dengan berbagai kompleksitas itu. Kata bijak adalah mutiara; ia tersimpan dalam cangkang waktu, berkembang sedikit demi sedikit, menunggu untuk ditemukan dan dikenakan dikenakan untuk menyempurnakan keindahan paras yang mengenakannya.
Mari sekarang kita lihat dari sudut pandang seorang anak. Manakah yang lebih ia rindukan, orang tua yang ia temui setiap jam, atau yang ia temui dalam sekali putaran bumi mengelilingi matahari?
Sekali lagi, mungkin kita tidak perlu memerlukan komputer dengan kemampuan komputasi super untuk menjawab soal itu.
Anak yang berada di pondok… jarang dikunjungi, atau bahkan tidak boleh dikunjungi, sebenarnya sedang menyusun sebuah istana cinta kepada orang tuanya. Setiap hari ia meletakkan satu bata. Setiap hari ia menguatkan bangunan itu.
Suatu hari… di hari yang indah itu, ia datang, insyaAllah dan mengecup punggung tangan orang tuanya. Dalam hatinya berguman. Terima kasih telah mendoakanku selama berada di pondok. Terima kasih atas kiriman cintanya yang tak pernah putus.
GONTOR- Perlombaan Folksong dan Nasyid Antarkelas tahun ini dimenangkan oleh kelas 3 yang berhasil menjadi juara umum. Acara yang diadakan setelah usai pelaksanaan sholat ‘Ied di setiap hari raya Idul Adha ini berjalan dengan lancer, meriah, serta mengharukan. Dengan dihadiri oleh Kiai Hasan di sela-sela acara tersebut, maka bertambahlah semangat para santri untuk memberikan penampilan yang terbaik bagi para penonton yang hadir dan terkhusus teruntuk juri perlombaan.
Acara tersebut diselerenggarakan di Aula Balai Pertemuan Pondok Modern Darussalam Gontor (BPPM) pada hari Jum’at (31/7) pagi. Persiapan menuju acara ini dilakukan selama kurang lebih 10 hari, para santri dan wali kelasnya selalu berlatih di setiap waktu pagi dan sore hari sambil menghafalkan lagu-lagu dan gerakan milik kelompok kelas masing-masing, begitupun dengan grup nasyid yang mereka miliki, penyesuaian lirik dan nada musik menjadi prioritas utama sebagai syarat untuk menjadi juara.
Seluruh tingkatan kelas Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) di Gontor mendapat giliran untuk berpartisipasi menampilkan pertunjunkan mereka masing-masing, tidak terkecuali siswa kelas 5 dan 6 yang ikut memeriahkan dan menghibur adik-adik kelasnya untuk menyukseskan acara ini.
Perolehan nilai dari juri untuk setiap kelas sangatlah bervariatif, karena seluruh kelas dapat menampilkan pertunjukan terbaiknya, sehingga sedikit menyulitkan para juri dalam menentukan siapa yang berhak keluar sebagai pemenang di setiap bidang perlombaan.
Berikutlah pemenang lomba folksong dan nasyid antarkelas di tahun ajaran 1441-1442/2020-2021:
Juara Folksong:
Kelas 3 = 575
Kelas 2 = 560
Kelas 4 = 530
Juara Nasyid:
Kelas 3 = 380
Kelas 1 = 340
Kelas 4 = 330
Vokalis Terbaik: Ananda M. Kafi Fiyaturriza, Kelas 3C
Musikus Terbaik: Kelas 3 Intensif
Juara Umum Perlombaan Folksong dan Nasyid Tahun 2020/2021: Kelas 3
Tujuan diadakannya acara ini adalah memupuk kebersamaan bagi setiap angkatan kelas, serta menumbuhkan mental keberanian dan kemandirian bagi setiap individunya.Biibmufassir
GONTOR–Pelaksanaan Diskusi Umum Kelas 5 Kulliyyatul Mu‘alimin Al-Islamiyyah (KMI) pada Ahad (9/8) malam di Balai Pendidikan Pondok Modern (BPPM) berjalan lancar. Diskusi kali ini mengangkat tema “Panca Jiwa Dan Implementasinya Dalam Kehidupan Pengurus Rayon” dengan meninjau kondisi anggota dan pengurus rayon saat ini. Acara yang dipanitiai oleh siswa kelas 5 ini memiliki sistem yang sama dengan diskusi pada umumnya, namun peran pembanding disini digantikan dengan pemakalah, sehingga terdapat 2 pemakalah dalam acara tersebut.
Acara dimulai pukul 20.00 melalui pembawa acara, Ulil Abshor, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Naufal Zharfan lalu acara Diskusi Umum dipimpin oleh Nurul Faizin sebagai moderator pada diskusi kali ini. Adapun pemakalah 1, Muhammad Faiz Mahdy dan pemakalah 2, Haikal Afriadi.
Adapun judul pemakalah 1 pada Diskusi Umum Kelas 5 ini adalah “Panca Jiwa Dan Implementasinya Dalam Kehidupan Pengurus Rayon” sedangkan judul pemakalah 2 “Kendala-Kendala Dalam Penerapan Nilai Panca Jiwa Di Kalangan Pengurus Rayon”. Masing-masing pemakalah menyampaikan makalahnya selama 15 menit, lalu acara dilanjutkan dengan termin pertanyaan.
Jalannya Diskusi Umum diakhiri dengan sesi evaluasi oleh Al-Ustadz Drs. H. Rif’at Husnul Ma’afi M.Ag sebagai Pembimbing Diskusi Umum Siswa Kelas 5 kali ini. Di penghujung acara “Hari ini adalah hari yang bersejarah, acara dilaksanakan oleh petugas-petugas tanpa grogi, padahal dihadapan 700 siswa kelas 5, adik-adik kelas dan para asatidz pembimbing. Melebihi target saya yang hanya 1 sampai 2 halaman, ternyata melebihi. Karena fasilitas nya ada dan pembimbingnya juga ada. Terima kasih, makalahnya luar biasa.” Ujar Al-Ustadz Rif’at Husnul di sesi evaluasi, (9/8) Malam.
Adanya diskusi ini diharapkan dapat menjadi pendidikan bagi santri dalam pengaturan waktu, pencarian bahan dan rujukan secara mandiri, tanpa mengambil dari internet. Juga melatih santri untuk belajar mengetik, membuat makalah baik dan benar serta berusaha untuk melakukan sesuatu sendiri.
Diskusi Umum diadakan selama 1 tahun sekali, kegiatan ini bertujuan agar seluruh siswa kelas 5 KMI mengetahui alur pelaksanaan diskusi yang baik dan benar. “Fungsi dari Diskusi Umum ini ialah sebagai wajah atau contoh dari Diskusi Mingguan. Ini lebih diprioritaskan agar pemakalah dapat tampil maksimal. Hingga diadakan karantina bagi pemakalah selama pembuatan makalah.” Papar Faqih, staf Forum Pengembangan Potensi Dan Wawasan Santri (FP2WS).Syarif/red-Rakafadel