Berdasarkan maklumat kunjungan ke Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) nomor 05/PMDG/k-01/IX/1446 serta memperhatikan perkembangan situasi dan kondisi padatnya kegiatan Peringatan 100 Tahun Gontor, Pimpinan PMDG menyampaikan beberapa penyesuaian sebagai berikut:
Tidak memperkenankan segala bentuk kunjungan ke seluruh kampus PMDG termasuk ke Pimpinan, bagi tamu, wali santri, alumni, dan studi banding pondok pesantren hingga tanggal 17 Rabiul Akhir 1447/9 Oktober 2025, dengan ketentuan sebagai berikut: a. Masa kunjungan dibuka pada tanggal 18 Rabiul Akhir 1447/10 Oktober 2025 hingga tanggal 6 Rajab 1447/26 Desember 2025 b. Memberhentikan sementara masa kunjungan ke PMDG Kampus Pusat Ponorogo pada tanggal 29 Rabiul Akhir 1447/21 Oktober 2025 hingga tanggal 6 Jumadal Ula 1447/28 Oktober 2025 bersamaan dengan diadakannya kegiatan Turnamen Olahraga IKPM Peringatan 100 Tahun Gontor.
Pemberhentian sementara masa kunjungan menyesuaikan kegiatan di masing- masing kampus cabang PMDG.
Ketentuan ini dapat berubah sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi.
Demikian maklumat ini disampaikan, agar menjadi maklum adanya.
Festival Musik dan Film Santri di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) resmi dibuka pada Rabu, 24 September 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian besar Peringatan 100 Tahun Gontor dan menempati urutan ke-9 dan ke-10 dari seluruh agenda peringatan yang berlangsung pada bulan ini.
Dalam sambutannya, Pimpinan PMDG, Drs. K.H. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed., menyampaikan bahwa seni adalah bagian penting dari pendidikan dan dakwah jika diarahkan dengan tepat. “Film jadi media untuk menyebarkan ide dan niat visi dari pemain film itu. Tujuan membuat film pada umumnya memang untuk hiburan, namun di Gontor kita mengarahkan seni ini agar menjadi media pendidikan dan dakwah,” tutur beliau.
Pimpinan PMDG, Drs. K.H. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed. memberikan sambutan dalam pembukaan Festival Musik dan Film Santri.
Sementara itu, Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun PMDG, Assoc. Prof. Dr. Khoirul Umam, M.Ec., menyoroti tantangan konten hiburan saat ini dan pentingnya menciptakan karya yang bermuatan nilai. “Hari ini sulit kita mencari film yang mendidik. Di televisi hanya sedikit yang punya nilai. Alhamdulillah, karena santri dan guru yang memproduksi film di sini, isinya perjuangan dan kebersamaan,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Ini semua dalam nilai-nilai Islam. Kalau yang membuat lagu adalah santri, maka isinya adalah perjuangan. Lagu-lagu ini mengajak kita kembali kepada Allah, bukan yang membawa anak muda ke arah negatif.”
Ketua Umum Peringatan 100 Tahun PMDG, Assoc. Prof. Dr. Khoirul Umam, M.Ec. juga turut hadir dan memberikan sambutan.
Acara pembukaan yang digelar di Kampus Pusat PMDG diawali dengan seremoni penekanan sirene oleh Dandim, Kapolres Ponorogo, serta Pimpinan PMDG. Sebagai tanda resmi dimulainya festival, seremoni ini dilanjutkan dengan penyematan tanda peserta secara simbolis. Setelah itu, beberapa grup band dan hadrah santri tampil membuka acara. Suasana pun terasa khidmat dan semarak, terlebih karena ribuan santri, guru, dan tamu undangan turut hadir. Tak hanya ramai, area utama juga dipadati peserta dan pengunjung dari berbagai kalangan. Lebih dari sekadar hiburan, pembukaan ini menampilkan kesenian yang berpadu dengan semangat ukhuwah dan nilai kepesantrenan.
Simbolis pembukaan Festival Musik dan Film SAntri oleh Pimpinan PMDG didampingi Dandim dan Kapolres Ponorogo.
Tentang Festival Musik
Dalam kegiatan Festival Musik, para santri berkompetisi dalam tiga kategori utama: Festival Hadrah, Festival Band Santri, dan Lomba Cipta Lagu 100 Tahun Gontor. Adapun pesertanya berasal dari berbagai pondok pesantren dan IKPM (Ikatan Keluarga Pondok Modern). Secara keseluruhan, terdapat 4 IKPM dan 14 pondok pesantren dalam kategori cipta lagu, 12 band dalam Festival Band Santri, serta 21 grup hadrah dalam Festival Hadrah. Menariknya, lagu-lagu yang dibawakan mengangkat tema perjuangan, persatuan, dan dakwah. Beberapa di antaranya berasal dari karya Mahadasa Band dan Gontor Voice, sementara lainnya merupakan lagu orisinal ciptaan masing-masing peserta. Dengan demikian, festival ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana ekspresi nilai-nilai keislaman melalui musik.
Tentang Festival Film
Sementara itu, Festival Film Santri menjadi ajang bagi para santri untuk menyalurkan bakat di bidang multimedia dan sinematografi. Dengan mengusung tema “Indahnya Kehidupan di Pesantren”, festival ini menampilkan karya dari 21 pondok pesantren se-Indonesia. Karya-karya tersebut kemudian dinilai dalam berbagai kategori, seperti Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Terbaik, hingga Penata Musik Latar Terbaik. Tak hanya itu, kegiatan ini juga dilengkapi dengan Seminar Perfilman Islami yang bertujuan memberikan edukasi langsung tentang produksi film berkualitas dengan pesan Islam. Selanjutnya, peserta berkesempatan mengikuti Seminar dan Workshop Festival Film Santri pada 24–26 September 2025, yang menghadirkan tokoh perfilman nasional seperti Vino G. Bastian, Yudi Datau, dan Archie Hekagery. Dengan demikian, festival ini bukan hanya menjadi ajang pembelajaran, melainkan juga ruang untuk menggali potensi film sebagai media dakwah dan pendidikan bagi generasi muda.
Rangkaian festival ini akan berlangsung hingga 27 September 2025 dan akan ditutup dengan Konser Akbar Wali Band serta pengumuman para pemenang lomba sebagai puncak apresiasi terhadap semangat dan kreativitas para santri. Seluruh rangkaian kegiatan ini mencerminkan komitmen Gontor dalam membina generasi muda yang tidak hanya cakap dalam ilmu, tetapi juga unggul dalam seni, berjiwa dakwah, dan mampu menyampaikan pesan Islam melalui media yang relevan dan bermartabat.
GONTOR – Kreativitas santri kembali mewarnai langit malam Gontor melalui Santri Century Show (SCS) yang digelar Selasa (23/9) di depan Gedung Laboratorium Sains Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Dari kelas 1 hingga 6, para santri bergantian naik ke panggung, menampilkan karya penuh energi dengan latar dekorasi yang memikat.
Acara ini lahir dari inisiatif murni para santri untuk menyemarakkan rangkaian Olimpiade 100 Tahun Gontor. “Santri Century Show tidak termasuk agenda resmi satu abad Gontor. Tapi demi menambah kemeriahan, kami berinisiatif mengadakan acara ini,” ujar Ziyan Alghassani, Ketua Penanggung Jawab SCS.
Hanya dalam waktu persiapan lima hari, panitia yang terdiri dari santri di berbagai bidang, mulai dari audio visual, event organizing, videografi, hingga desain grafis berhasil menyajikan pertunjukan yang memukau lebih dari 47 kontingen Olimpiade dari berbagai pesantren se-Indonesia.
Ragam penampilan mengisi malam itu meliputi tari tradisional, musik, hingga teater yang membius penonton. Sorak-sorai semakin menggema ketika kelompok Tari Reog Ponorogo tampil gagah. “Beban barong ini lebih dari 50 kilogram. Karena itu olahraga jadi kunci agar bisa maksimal saat tampil,” ujar salah satu siswa akhir KMI 2026 yang tampil.
Lebih dari sekadar hiburan, Santri Century Show menjadi simbol solidaritas lintas daerah. Para santri dari beragam suku dan bahasa bersatu dalam satu panggung, meneguhkan semangat persaudaraan khas Gontor.
Kemeriahan acara turut diapresiasi para tamu. “Seru banget, acaranya sangat apik. Walau datang dari jauh, semua itu terbayar dengan kemegahan malam ini,” kata Syahril Ishaq, peserta kontingen dari Pondok Darul Huda.
GONTOR – Pertandingan voli yang mempertemukan Pondok Pesantren Baitussalam dengan Pondok Pesantren Darussalam Rajapolah berlangsung sengit dan penuh semangat pada Senin (23/9). Pertandingan dimulai pukul 07.00 dan berakhir pada pukul 07.55 dengan akhir kemenangan untuk kontingen Darussalam Rajapolah.
Sejak awal pertandingan, tim Darussalam Rajapolah menunjukkan dominasi lewat serangan-serangan tajam berupa smash yang terus menekan pertahanan Baitussalam. Meski tim Baitussalam berusaha memberikan perlawanan terbaiknya, serangan bertubi-tubi dari lawan membuat mereka kesulitan mengembangkan permainan.
Pada set pertama, tim Darussalam Rajapolah unggul tipis dengan skor 25-23. Laga berlangsung ketat dengan kedua tim saling mengejar poin. Namun, efektivitas smash dari pemain Darussalam menjadi kunci keunggulan mereka. Set kedua kembali menjadi milik kontingen asal Tasikmalaya tersebut dengan skor 25-22, hal ini memastikan kemenangan mereka dalam dua set sekaligus.
“Alhamdulillah, saya sangat bangga dengan kemenangan yang kami raih. Tapi, kami harus tetap berlatih lebih giat lagi karena pertandingan tadi nyaris imbang. Alhamdulillah, kami bisa unggul lewat permainan smash yang lebih tajam,” ujar Muhammad Reyza, salah satu pemain dari PP. Darussalam Rajapolah.
Meskipun tim Baitussalam harus menerima kekalahan, semangat sportivitas tetap terasa di lapangan. Kedua tim menunjukkan sikap saling menghargai dan menjadikan pertandingan ini sebagai ajang evaluasi untuk meningkatkan kemampuan masing-masing.
Pertandingan ini bukan hanya soal menang dan kalah, tetapi juga tentang semangat kebersamaan, sportivitas, dan proses pembelajaran. Diharapkan, laga seperti ini dapat mempererat silaturahim antarpondok pesantren, serta mengasah bakat santri di bidang olahraga, khususnya bola voli.
(Berita : Tim Media Peringatan 100 Tahun Gontor, Foto : Tim Dokumentasi Peringatan 100 Tahun Gontor, Reviewer : Tim Media Peringatan 100 Tahun Gontor)
GONTOR – Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) menggelar pembagian rapor semester pertama pada Selasa (23/9). Kegiatan tersebut diawali dengan pengarahan oleh Pimpinan PMDG dan Direktur KMI di Masjid Jami’ yang diikuti oleh seluruh santri seusai waktu istirahat pertama pada pukul 09.00 WIB.
Dalam kesempatan tersebut, Drs. KH. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed. menjelaskan bahwa rapor adalah sarana introspeksi diri dan bukan sekadar objek yang dapat dibanggakan. “Kalau nilaimu baik, jangan bangga, tapi tingkatkan. Kalau kurang baik, jangan putus asa, jadikan batu loncatan,” tegas beliau.
Menurut Kyai Akrim, nilai dan rapor tidak dimaksudkan untuk menjadi bahan evaluasi semata, tetapi juga pendorong terciptanya inovasi dan perkembangan. “Evaluasi harus disertai inovasi; memperbaiki yang kurang baik dan meningkatkan yang sudah baik,” tutur beliau.
Kyai Akrim juga mengingatkan agar santri tak pasrah pada takdir tanpa adanya usaha. “Kalau kamu belum berusaha, itu bukan takdir, itu karena kamu sendiri. Allah SWT memberi kesempatan kepada manusia untuk berusaha,” jelas beliau. Pidato tersebut kemudian ditutup dengan pesan untuk menjadikan ilmu sebagai petunjuk menuju ketaqwaan. “Semakin pintar, semakin dekatlah dengan Allah. Jangan sampai ilmu membuatmu takabbur.”
Sementara itu, KH. Hasan Abdullah Sahal mengibaratkan perjalanan hidup santri sebagai harapan yang dinantikan orang tua mereka. “Ketika lahir, kamu adalah hiasan. Ketika besar, kamu menjadi hiburan. Dan kelak, kamu harus jadi harapan. Jangan sampai hanya mencari kesenangan (hidup) saja.” Beliau juga menegaskan, belajar bukan hanya untuk mendapatkan ilmu, tetapi juga untuk diamalkan.
Di akhir, Direktur KMI, KH. Masyhudi Subari, M.A., menambahkan bahwa rapor mencerminkan kualitas akademik dan non akademik para santri. “Yang lebih penting dari nilaimu adalah akhlak, kesungguhan, dan keikhlasan,” tukas beliau.
Setelah pertemuan selesai, seluruh santri kelas 1-5 menyebar menuju kelas masing-masing untuk menerima rapor dari wali kelas mereka. Sedang siswa kelas 6 kembali meneruskan kegiatan belajar seperti biasa.
GONTOR – Pada awal pertandingan cabang olahraga futsal Olimpiade 100 Tahun Gontor, Selasa (23/9) di lapangan futsal Darussalam Gontor Stadium (DGS), kontingen Pondok Moderm Darussalam Gontor (PMDG) Kampus Pusat berhasil mengungguli kontingen PMDG Kampus 5 dengan skor akhir 2-1.
Sumbangan gol dari Ahmad Faiz dan Suryo Jagad menjadi kunci kemenagan telak di laga ini. Beberapa serangan dari Gontor Pusat membuat kiper Gontor Kampus 5 kewalahan menagkis tembakan yang datang.
Ketika laga mulai berlangsung, assist dari Irgi Wikaldi pada menit ke-14 dapat dimanfaatkan dengan baik oleh Ahmad Faiz dan berhasil mencetak gol di sudut gawang lawan. Gol tersebut membuat kontingen asuhan Al Ustadz Fiarka Subangani tersebut menjadi lebih agresif, terbukti dari jagad yang hampir mencetak gol di babak pertama.
Sementara itu, kontingen Gontor 5 tidak mau tenggelam dalam ketertinggalan. Gocekan cantik Falayah dapat mengecoh Jiban, kiper Gontor Pusat, dan membobol gawang dengan taktik one on one. Tembakan itu kemudian menyamakan kedudukan menjadi 1-1 di menit ke-20. Sorak sorai pendukung kampus yang bernama Darul Qiyam itu bergema di setiap sudut lapangan.
Tidak mau malu di kandang sendiri, Gontor Pusat mengganti beberapa pemain. Dengan taktik tersebut, tim Gontor Pusat berhasil memborbardir lawan lewat tendangan yang disumbangkan oleh Ahmad Faiz, Suryo Jagad, dan Irgi Wikaldi. Namun, serangan tersebut masih bisa ditahan oleh Aldan.
Serangan dari Gontor Pusat seakan tidak ada habisnya. Kolaborasi apik dari para penggawa tuan rumah berhasil menembus pertahanan lawan di menit ke-22. Gol tersebut menjadi penutup pertandingan babak kedua dengan skor 2-1.
Walau belum berhasil meraih kemenangan, kontingen Gontor 5 tidak merasa kecewa, namun mengapresiasi permainan Gontor Pusat dengan pertahanannya yang amat kuat. “Menegangkan, beda sekali saat latihan dan pertandingan. Permainan Gontor (Pusat) juga sangat bagus, sulit untuk dikalahkan dan sulit untuk dilewati,” ujar Abyan, kiper tim Gontor 5 kepada Tim Media Peringatan 100 Tahun Gontor.
(Berita : Haqi, Foto : Tim Dokumentasi Peringatan 100 Tahun Gontor, Reviewer : Winka, Alif, Ghazi)
GONTOR – Laga perdana cabang olahraga (cabor) bulu tangkis pada Olimpiade 100 Tahun Gontor berlangsung lancar pada Selasa (23/9). Pertandingan yang digelar di Gedung Olahraga (GOR) Islamic Centre Gontor Joresan itu mempertemukan tim ganda putra PMDG Kampus 3 dengan PP Riyadul Ulum Waddah. Sejak awal, dukungan penonton membuat atmosfer pertandingan semakin meriah.
PMDG Kampus 3 menghadirkan pasangan Bintang dan Cerdas, yang oleh pondoknya dikenal solid dan kompak di lapangan. Di sisi lain, pasangan Dafa dan Ribhi dari PP Riyadul Ulum Waddah tampil percaya diri dengan strategi permainan yang sudah mereka siapkan.
Set pertama menjadi milik penuh tim PMDG Kampus 3. Smash keras dari Cerdas dan variasi drive cepat Bintang membuat lawan kesulitan mengimbangi tempo permainan. Dafa dan Ribhi berusaha membalas, namun kerap tertekan dan tidak mampu menyerang balik. Set pertama pun ditutup dengan skor telak 21-4 untuk PMDG Kampus 3.
Memasuki set kedua, pasangan PP Riyadul Ulum Waddah bangkit. Dengan pergerakan lincah, Dafa dan Ribhi mulai menguasai lapangan dan memaksa Bintang serta Cerdas bekerja lebih keras. Skor pun lebih ketat dibanding set sebelumnya. Namun, pengalaman dan ketenangan menjadi kunci kemenangan PMDG Kampus 3. Melalui kombinasi pukulan tajam dan strategi matang, mereka menutup set kedua dengan skor 21-16 sekaligus memastikan kemenangan di dua set sekaligus.
Sorak riuh penonton pecah begitu angka terakhir tercipta. Pertandingan sengit itu diakhiri dengan jabat tangan hangat antarpemain, simbol sportivitas dan persahabatan antara kedua tim.
Laga ini dipimpin oleh enam wasit dari Persatuan Bulu Tangkis cabang Ponorogo. Salah satunya, Heru Cahyono, menilai penyelenggaraan pertandingan berjalan baik dan tertib.
“Persiapan para pemain di Olimpiade 100 Tahun ini sangat baik, mulai dari kedisiplinan waktu hingga kualitas permainan. Kendala teknis hampir tidak ada. Panitia penyelenggara juga patut diapresiasi karena persiapan yang matang,” ujarnya.
Dengan kemenangan ini, PMDG Kampus 3 melangkah percaya diri ke babak berikutnya. Sementara pasangan Riyadul Ulum Waddah menunjukkan potensi besar meski harus mengakui keunggulan lawan.
(Berita : Faza, Foto : Tim Dokumentasi Peringatan 100 Tahun Gontor, Reviewer : Winka, Alif, Ghazi)
MANTINGAN – Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 2 menggelar Olimpiade Gontor tingkat SD/MI dan SMP/MTs dalam rangka memperingati 100 tahun berdirinya pondok. Kegiatan ini merupakan kontribusi Gontor bagi masyarakat sekaligus sarana memperkenalkan sistem pendidikan holistik pesantren.
Sistem pendidikan di PMDG tidak hanya menekankan aspek akademis, tetapi juga membentuk mental, akhlak, etos kerja, serta keterampilan santri. Setiap aktivitas dirancang untuk mengembangkan potensi santri secara utuh.
Dalam sambutannya, Ketua Umum Panitia Peringatan 100 Tahun PMDG Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil. menyampaikan bahwa lulusan Gontor memiliki peluang luas melanjutkan pendidikan, baik di dalam maupun luar negeri. “Jika ingin melanjutkan studi, silakan ke Gontor Putri. Di sana kalian akan menemukan teman dari berbagai daerah yang mengindonesiakan kalian. Jangan hanya berpikir sempit pada lingkungan lokal, jadilah generasi berwawasan kebangsaan,” ujarnya.
Beliau juga menegaskan bahwa alumni Gontor berkesempatan melanjutkan pendidikan ke mancanegara, seperti Mesir, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan, maupun ke berbagai perguruan tinggi dalam negeri. Universitas Darussalam Gontor pun membuka peluang studi lanjutan bagi lulusan KMI, termasuk di Fakultas Kedokteran bagi yang unggul di bidang Matematika dan Biologi.
Berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka, olahraga, pidato, keterampilan menjahit, hingga memasak juga menjadi bagian penting dalam pendidikan di pondok. Pada kesempatan itu, juga diresmikan Laboratorium Nisaiyah untuk mendukung pembelajaran keterampilan keputrian santriyah.
Menutup sambutannya, beliau menekankan pentingnya kualitas di era 100 tahun Indonesia. “Pada umur ke-100 tahun Indonesia, taruhannya adalah kualitas. Semua akan bersaing, yang tidak berkualitas akan kalah, sementara yang berkualitas akan berjaya dan sukses. Kompetisi bukan sekadar keramaian, tetapi keberanian menghadapi kemenangan dan kekalahan dengan mental yang terlatih,” pesannya.
Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Drs. K.H. M. Akrim Mariyat, Dipl.Ad.Ed. berpesan bahwa sejak kelahirannya pada tahun 1926, Pondok Modern Darussalam Gontor berdiri bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, melainkan jalan ibadah. Trimurti Pendiri telah menegaskan: Gontor adalah wasilah ibadah. Prinsip itu diteguhkan kembali dalam Piagam Wakaf 1958 yang berbunyi: mendidik adalah ibadah, dan ibadah adalah mendidik.
Visi Gontor melampaui batas ruang kelas. Pondok ini berikhtiar mencetak ulul albab: manusia berakar pada iman, berilmu luas, sehat jasmani, berakhlak mulia, dan merdeka dalam berpikir. Santri diajak membaca dua kitab sekaligus—al-Qur’an sebagai teks suci dan alam semesta sebagai kitab terbentang tanpa batas.
Cahaya Gontor tidak terbatas pada lingkup internal. Dari Sambirejo, Mantingan, Ngawi, sinarnya menjangkau Nusantara hingga dunia. Seperti mata air yang terus mengalir, Gontor memadukan kearifan lokal dengan cakrawala universal, menghadirkan harmoni antara tradisi dan modernitas, keislaman dan kemanusiaan.
Kepala Bagian Sekretariat Daerah Ngawi, Totok Sudaryanto, M.H., melihat Olimpiade ini sebagai wujud nyata peran Gontor bagi daerah dan bangsa. Lebih dari 400 peserta hadir dari berbagai penjuru, menandakan bahwa spirit Gontor bukan hanya mencetak generasi tangguh dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam nilai-nilai moral.
Olimpiade ini menegaskan komitmen PMDG melahirkan generasi berkualitas, berdaya saing, dan berakhlak mulia, sejalan dengan semangat 100 tahun pengabdian.
GONTOR – Technical Meeting untuk para pembimbing kontingen peserta Olimpiade 100 Tahun Gontor berjalan lancar pada Minggu (22/9) malam. Kegiatan ini berlangsung di Auditorium Rabithoh mulai pukul 20.00 hingga 21.30 WIB.
Dalam pertemuan tersebut, panitia bersama para pembimbing membicarakan berbagai hal penting terkait jalannya perlombaan. Fokus utama yang disampaikan adalah mengenai aturan teknis, tata tertib, serta disiplin yang wajib ditaati oleh seluruh peserta maupun pembimbing kontingen.
Ustadz Nazeh Sobari, Lc., selaku ketua panitia pelaksana, menyampaikan bahwa tujuan technical meeting adalah menyamakan persepsi terkait aturan yang berlaku, baik yang tertulis maupun tidak tertulis.
“Yang kita bahas pada technical meeting kali ini ialah segala peraturan yang berkaitan dengan pertandingan serta disiplin kontingen selama olimpiade berlangsung. Saya berpesan agar seluruh kontingen tetap mengikuti setiap peraturan, baik yang tertera maupun yang bersifat umum,” tegas beliau.
Lewat forum ini, para pembimbing, peserta, dan panitia dapat menyatukan pemahaman. Dengan adanya kesepahaman sejak awal, diharapkan jalannya pertandingan dapat berlangsung lebih tertib dan sportif. Dengan adanya pertemuan ini, diharapkan seluruh peraturan dapat dipahami dengan baik.
Seusai agenda utama, para pembimbing kontingen kemudian diarahkan untuk berkumpul sesuai divisi masing-masing guna membahas strategi serta langkah-langkah persiapan menjelang pertandingan yang akan digelar keesokan harinya.
Para pembimbing kontingen pun memperoleh gambaran jelas mengenai aturan serta prosedur yang akan diterapkan. Hal tersebut akan menjadi bekal penting bagi peserta dalam menghadapi pertandingan, sekaligus memperkuat semangat sportivitas di antara seluruh kontingen yang berpartisipasi dalam Olimpiade 100 Tahun Gontor ini.
(Berita : Shafwan, Keano, Foto : Tim Dokumentasi Peringatan 100 Tahun Gontor, Reviewer : Winka, Alig, Ghazi)
GONTOR – Gemuruh ribuan santri menggema di Darussalam Gontor Stadium (DGS) ketika tim sepak bola Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kampus Pusat menghadapi Pondok Pesantren (PP) Riyadlul Ulum pada laga pembuka Olimpiade 100 Tahun Gontor, Senin (22/9) sore. Pertandingan ini menjadi penanda dimulainya perhelatan olahraga yang akan berlangsung selama tujuh hari tersebut, mulai dari hari ini (Senin-red) hingga Senin (27/9).
Sejak peluit pertama, PMDG Kampus Pusat tampil dominan. Serangan cepat mereka berhasil menerobos pertahanan Riyadlul Ulum. Gol pertama tercipta dari kaki Naufal Hilmi yang menyelesaikan umpan dari Qomaruddin. Tidak berhenti di situ, Rafifi Badrial menambah keunggulan lewat tembakan jarak dekat pada menit ke-22.
Ketegangan memuncak saat wasit menunjuk titik putih setelah terjadinya handsball di kotak penalti. Hikam Fauzan yang maju sebagai eksekutor berhasil menaklukkan kipper lawan di menit ke-32. Babak pertama ditutup dengan sundulan Hanan Utama yang memanfaatkan crossing dari Hikam, membawa tuan rumah unggul 4-0.
Memasuki babak kedua, permainan semakin menarik dengan Riyadlul Ulum yang mencoba membangun serangan balik, meskipun belum berhasil menembus barisan pertahanan Gontor Pusat. Di menit-menit terakhir, tuan rumah berhasil memastikan kemenangan telak 5-0 lewat gol dari Hanan Utama.
Pelatih kontingen PMDG Kampus Pusat, Al-Ustadz Shadra Maularosa, mengaku puas dengan performa anak asuhnya. “Ini awal yang baik, anak-anak bermain lepas sekaligus berdisiplin. Tapi, perjalanan masih panjang,” ujarnya.
Sementara itu, Rifki Edi, pelatih kontingen PP. Riyadlul Ulum menyebut lag aini menjadi pengalaman berharga. “Kami memang kalah jauh, tapi atsmosfer stadion luar biasa. Ini menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki tim ke depan.”
Kemenangan ini diharapkan mampu mengawali dominasi PMDG Kampus Pusat dalam Olimpiade 100 Tahun Gontor, sekaligus membakar semangat para pesertanya untuk memberikan usaha terbaik pada lomba-lomba berikutnya.
(Berita : Faza, Haqi, Daniel, Shafwan, Keano, Foto : Tim Dokumentasi Peringatan 100 Tahun Gontor, Reviewer : Winka, Alig, Ghazi)