Home Blog Page 372

PG dan DA adakan geladi perdana

0
Penampilan Hadroh
Penampilan Hadroh

Gontor-Ahad (16/7) dan Senin (17/7) berturut-turut Panitia Panggung Gembira (PG) dan Drama Arena (DA) mengadakan geladi perdana. Sebagai langkah lanjutan dalam mempersiapkan acara pagelaran seni yang besar, geladi ini dipersiapkan secara maksimal. Sound system, lighting, sudah dipersiapkan layaknya penampilan hari H namun masih dalam skala kecil.

PG mengadakan geladi ini bertujuan untuk menyeleksi acara. Acara-acara yang sudah terkumpul diuji dan ditampilkan di depan para pembimbing dan guru senior. Penyeleksian acara ini meliputi acara tari-tarian baik tarian daerah maupun modern. Juga penampilan sains dan pantomim. Hasil geladi ini akan menjadi pertimbangan pembimbing untuk menilai acara mana yang layak untuk tampil di PG.

Sedangkan DA mengadakan geladi perdananya untuk menampilkan hampir seluruh dari acara yang terkumpul. Seperti MC, qori’, puisi, tari-tarian, dan juga acara akrobatik. Dan beberapa acara yang belum ditampilkan seperti acara komedi dan drama.

Kedua geladi ini berjalan lancar. Banyak masukan dan evaluasi setelah acara ini berlangsung. Ini akan menjadi pelajaran penting untuk lebih baik lagi. Kedepannya masih ada beberapa geladi lagi untuk mematangkan pagelaran seni yang akan menjadi puncak dari Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy di pondok ini. Aa Rum

Pendidikan Homogenisasi di Gontor

0

2017-07-05-07.08.32.jpgBanyak orang mencemooh alumni Gontor dengan stigma macam-macam: tidak bisa membaca Kitab Kuning, bahasa Arab-nya bukan bahasa fush-ha tetapi Arab Gontor, shalat harus tanda tangan, kurang etika, dan lain sebagainya, mungkin masih puluhan lagi sumpah serapah. Akan tetapi, jika sudah mengetahui kiprah dan gerak alumni Gontor di masyarakat, cibiran itu tidak ada artinya. Kebaikan, bahkan keunggulan alumni Gontor jauh lebih banyak. Ibaratnya, jutaan bintang bertaburan di langit, akan lenyap begitu matahari bersinar terang. Mengapa demikian? Berikut sedikit ulasan penulis.

Pondok Modern Darussalam Gontor (PM Gontor/Gontor) menerapkan proses pendidikan santrinya dengan homogenisasi. Dengan sistem klasikal dan berasrama penuh, homogenisasi itu menjadi mudah dilakukan. Hal itu berlaku bagi siapa saja, dan dalam hal apa saja, tidak peduli anak kiai, anak tokoh, anak menteri, anak jenderal, anak luar negeri, semua dididik dengan sistem yang sama. Hasilnya, abituren Gontor menjadi manusia berkarakter khas, namun universal; dapat diterima masyarakat luas, dan dapat menjadi panutan. Homogenisasi dimaksud dalam hal-hal sebagai berikut.

Begitu masuk pondok, santri harus tidur dengan fasilitas dan cara yang sama. Dalam satu kamar yang berisi sekitar 30 orang santri tidak boleh lebih dari 5 orang yang seasal daerah (Konsul, istilah Gontornya). Mereka tidur di bawah, dan beralaskan kasur tipis. Waktu tidur, santri wajib mengenakan celana panjang, bukan sarung. Begitu bangun pagi Subuh, semua kasur harus digulung atau ditumpuk di satu tempat, dan tidak ada lagi yang boleh menambah waktu tidur, sebab, usai shalat Subuh, segudang kegiatan telah menanti.

Baju santri Gontor disesuaikan dengan waktu dan jenis aktivitasnya. Ketika ke masjid, santri wajib mengenakan baju yang dimasukkan ke dalam sarung, berkopiah hitam (bukan putih seperti umumnya pondok pesantren), dan berikat pinggang. Ketika olahraga, mereka harus mengganti pakaiannya dengan kaos yang dimasukkan ke dalam celana olahraga.

Baju sekolah santri putra tidak sama tetapi umumnya seragam. Ketentuannya, santri atau siswa Kulliyyatu-l-Mu‘allimin al-Islamiyyah (KMI) harus memiliki kemeja putih lengan panjang dan celana berwarna gelap, tidak harus hitam. Sehari-hari, ketika masuk kelas, ada siswa KMI yang mengenakan kemeja bermotif polos, garis, maupun kotak-kotak lembut; ada yang berlengan panjang, tapi lengan pendek pun boleh. motif batik atau bunga dilarang. Demikian pula warna yang mencolok, seperti merah, hitam, dsb. Warna celana tidak harus seragam. Saat bersekolah, baju itu harus dimasukkan ke dalam celana yang berikat pinggang, dan wajib bersepatu, apapun merknya. Saat berlatih pidato dalam bahasa Indonesia-Arab-Inggris, semua santri mengenakan kemeja putih. Khusus pembicara dan pembimbing, wajib mengenakan jas dan kopiah.

Barangsiapa tidak mengikuti aturan akan dikenai sanksi. Misalnya, berolahraga dengan pakaian shalat atau pakaian masuk kelas, atau mengenakan sarung pada jam sekolah (pukul 07.00–12.20 WIB), atau tidur mengenakan celana pendek.

Potongan rambut santri Gontor khas dan seragam, tidak boleh panjang. Ukurannya, rambut tidak boleh sampai menyentuh daun telinga. Jika rambut telah menyentuh daun telinga, tinggal pilih, yang dipotong telinganya atau rambutnya. Dalam kurun waktu tertentu, Bagian Keamanan dan Guru Pembimbing Santri akan mengelilingi kelas-kelas, mengingatkan yang rambutnya telah dianggap waktunya cukur. Yang namanya dicatat harus datang cukur di sore hari kemudian lapor kepada Bagian Keamanan. Ketika naik ke kelas 6, sebagai kesyukuran, para santri itu harus memotong rambutnya seperti taruna Akademi Militer. Mereka menyebutnya “jundy”, ‘seperti tentara’. Semua yang naik ke kelas 6 wajib jundy, sebagai ungkapan rasa kesyukuran.

Homogenisasi dalam berpakaian dan berpenampilan itu akan terbawa dan menjadi ciri khas alumni Gontor di manapun. Pakaian itu juga universal. Manusia, bahkan presiden dari negara manapun berpakaian seperti yang biasa dikenakan santri Gontor itu.

Yang tak kalah menariknya, pendidikan homogenisasi dalam hal makan. Pedoman di Gontor bukan “hidup untuk makan,” melainkan “makan untuk hidup.” Waktu dan menu makan diatur sedemikian rupa. Para santri itu pun harus makan tepat pada waktunya, dan dengan lauk yang tersedia, agar tidak kelaparan dan bisa mengikuti aktivitas pondok dengan baik. Tentang, lauk pauk, jangan tanya. Justru, di sinilah nilai pendidikan yang luar biasa. Para santri itu disuguhi menu yang sama. Yang penting, gizinya cukup. Telah meliputi rasa asin, manis, gurih, dan pedas. Mereka harus menyesuaikan diri. Memang, awalnya, anak dari Jogjakarta atau Jawa Tengah belum terbiasa dengan menu yang tersedia. Begitu pula santri dari luar Jawa yang umumnya justru suka pedas, harus melahap menu yang terkadang terlalu manis bagi indera pengecap mereka. Perutnya harus beradaptasi sebentar.

Tujuan homogenisasi dalam hal makanan ini agar lidah santri menjadi universal. Sehingga, ketika harus berjuang di derah tertentu atau sekolah di luar negeri menjadi mudah menerima makanan. Hal itu diakui alumnus Gontor yang telah puluhan tahun belajar di Cairo. Katanya, “Anak Gontor paling cepat menyesuaikan diri dengan jenis makanan di Cairo, sehingga kerasan.”

Pernah, seorang santri dari Thailand penulis tanya, apa makanan favoritnya selama di Gontor dan tidak ada di Thailand. Jawabannya mengejutkan, “Sayur terong.” Mungkin sayur lodeh terong maksudnya. Benar, lidahnya sudah universal.

Homogenisasi yang paling tinggi nilainya adalah dalam belajar, baik materi maupun metodenya. Oleh pendiri, kurikulum Gontor diramu bagi pembentukan karakter yang khas, khas Islam, bisa juga khas Indonesia, yang penting ber-akhlaqul karimah. Pelajaran-pelajaran itupun disampaikan secara berjenjang dan dengan metode khas Gontor. Pelajaran ibadah atau fiqih, misalnya, materinya berbahasa Indonesia, dan tidak dilengkapi dengan dalil-dalil yang rumit. Pertimbangannya, ibadah itu wajib, harus dilaksanakan, dengan atau tanpa dalil. Maka, K.H. Imam Zarkasyi, pengarang buku Fiqih, dalam pengantar buku itu, mengatakan bahwa tujuan belajar fiqih itu adalah agar anak segera dapat beribadah dengan baik. Kemudian, secara gradual, pada kelas-kelas berikutnya, materi pelajaran fiqih dilengkapi dengan dalil, baik fiqhu al-sunnah maupun fiqh al-wadhih. Muara materi pelajaran fiqih adalah kitab Bidayatul Mujtahid, agar, setelah tamat dan terjun ke masyarakat, alumni Gontor dapat menjadi perekat ummat, tidak berkutat pada furu’iyyah atau khilafiyah. Maka, terbentuklah pribadi yang khas Gontor dari metode belajar fiqh ini.

Hal yang sama, pengajaran secara gradual dan dengan materi yang seragam juga dilakukan Gontor terhadap pelajaran Dirasah Islamiyah dan Bahasa (Arab-Inggris). Adapun yang paling unik, di Gontor tidak ada pelajaran Akhlaq, yang menggunakan buku seperti Ta‘limul Muta‘allim atau al-Hikam, melainkan Mahfuzhat, yakni kata-kata bijak/mutiara yang sungguh membentuk karakter santri. Pelajaran ini diberikan kepada santri kelas 1–6. Hasilnya, dengan belajar Mahfuzhat, alumni Gontor akan mudah mengenali alumni lainnya, meskipun berbeda genarasi cukup jauh, kesamaan karakter, penyebabnya. Bahkan, Profesor Dr. H. A. Mukti Ali, M.A., mantan Menteri Agama RI era Orde Baru, mengatakan dalam sebuah tulisannya, “Justru Gontor-lah yang paling konsiten menerapkan Ta‘limul Muta‘allim, sebab pendidikan akhlaknya disertai disiplin yang ketat.”

Akibat belajar Mahfuzhat itu, beberapa alumni Gontor dapat menyusun puluhan buku dan menjadi motivator di mana-mana. Sebab, ajaran dalam Mahfuzhat Gontor itu, kecuali mudah dicerna dan dilaksanakan, juga dapat menjangkau ranah religi, psikologi, sosiologi, maupun antropologi.

Hal “sepele” lainnya, Gontor sarat dengan pendidikan karakter riil melalui aktivitas ko-kurikuler dan ekstrakurikuler para santri, seperti pramuka, latihan pidato, olahraga, kesenian, organisasi, maupun keterampilan. Aktivitas itu mendidik santri dalam hal tanggung jawab, keberanian, kerjasama, nasionalisme, dan sebagainya. Ada alumnus Gontor yang baru tamat beberapa tahun, hasil kaligrafinya terjual dengan harga puluhan juta. Ada juga mantan pemain bola di Gontor yang menjadi pimpinan organisasi sepak bola di daerahnya. Doktor K.H. Idham Cholid, K.H. Hasyim Muzadi, dan Prof. Dr. Dien Syamsuddin sukses memimpin ormas Islam terbesar selama beberapa periode. Itu karena pendidikan berorganisasi yang mereka rasakan dan alami di Gontor. Umumnya, alumni Gontor memiliki keterampilan hidup (life skill) lebih banyak dibandingkan sekolah-sekolah sederajat.

Yang tak kalah penting, guru di Gontor harus siap menjadi panutan dalam hal apa saja, terutama pelajaran dan sikap hidup. Puncak teladan adalah Kiai atau Pimpinan Pondok. Maka, definisi Gontor tentang pesantren adalah “sebuah lembaga pendidikan, dimana kiai secara central figure, dan masjid sebagai titik pusat yang menjiwai.” Para kiai dan guru ini, dapat dijadikan contoh bagi penerapan lima karakter utama (Panca Jiwa), yakni Keikhlasan, Kesederhanaan, Ukhuwwah Islamiyyah, Kemandirian, dan Kebebasan. Setiap saat, kiai berpidato mengenai Panca Jiwa itu, hingga melekat dalam hati para guru dan santri. Maka, Gontor bukan hanya ta‘limul muta‘allim (‘mendidik murid’), melainkan juga ta‘limul mu‘allim (‘mendidik guru’).

Begitulah Gontor, mendidik para santrinya sehingga memiliki karakter khas. Acapkali ada cerita seorang alumnus bertemu dengan seseorang yang karakternya nampak “Gontory.” Padahal, jarak usianya terpaut jauh. Lantas teguran khas Gontor pun terucap, “Anta min Ma‘had?” (‘Anda dari/alumnus Gontor?’) Sambil terkejut, yang ditanya pun menjawab, “Oh, na‘am. Ana khirrij sanah 1990. Antum sanah kam?” (‘Oh iya, saya alumnus 1990. Anda alumnus tahun berapa?’). Seterusnya, obrolan akrab pun terjadi dengan sendirinya, dengan bahan kenangan selama di pondok, kiai, guru, asrama, aktivitas, maupun teman.

Ada ilustrasi yang dramatik. Konon, terjadinya kesepakatan antara GAM Aceh dengan Pemerintah RI juga tak lepas dari peranan alumni Gontor. Waktu itu, Wapres Jusuf Kalla, selaku wakil dari Pemerintah RI membawa alumnus Gontor tahun 1970-an. Sementara itu, ada orang penting di pihak GAM yang alumnus Gontor tahun 1992. Ketika perundingan hampir buntu —secara dramatik dapat digambarkan— kedua alumni Gontor itu bertatapan muka, beradu pandang cukup lama. Lantas, hampir bersamaan, keduanya saling menyapa, “Antum min Ma’had?” Setelah itu, kedua alumni itupun berjabatan erat, bahkan berpelukan, dan saling memperkenalkan diri. Hadirin pun heran. Agaknya, setelah keduanya menjelaskan bahwa mereka satu almamater, Pondok Modern Darussalam Gontor, secara perlahan, kesepahaman dapat dijalin, kesepakatan pun cair. Jadilah Aceh seperti sekarang.

Akan halnya pendiri Gontor sendiri, cukup unik. Semasa Soekarno, dua dari tiga orang pendiri PM Gontor dipercaya menduduki jabatan penting di pemerintahan, yaitu K.H. Zainuddin Fannani dipercaya menjadi Anggota Badan Pekerja MPRS, dan K.H. Imam Zarkasyi didudukkan sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Pendidikan dan Pengajaran Agama (MP3A), juga menjadi salah satu wakil Islam di Dewan Perancang Nasional (sekarang Bappenas), dan diutus presiden mengunjungi Uni Sovyet pada tahun 1961. Semasa pemerintahan Presiden Soeharto, selain ketua MP3A, K.H. Imam Zarkasyi juga mendapat amanat sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia. Apakah hal itu menunjukkan Pak Zarkasyi bunglon? Oh, tidak. Justru hal itu menunjukkan bahwa Gontor tidak ke mana-mana tetapi ada di mana-mana.

Maka, pesan saya, jika melihat alumni Gontor jangan hanya dari satu sisi, melainkan menyeluruh, nanti akan terlihat kelebihan-kelebihan mereka. Bagi para alumni Gontor, kalau mulai curiga terhadap Gontor, silakan segera menjenguk pondok, supaya tidak ketinggalan informasi! Yang perlu diketahui, mengunjungi pondok tidak bisa digantikan dengan membaca berita tentang pondok; lain rasanya, lain sensasinya, sebab lain pula atmosfernya. Para kiai pendiri itu bahkan tidak menginginkan kuburannya menjadi prioritas kunjungan, sebab menggunjungi dan mendoakan pondok itu sama saja dengan mendoakan para almarhum itu.

Wallahu a’lam bishshawab. Mohon ditambah jika kurang, atau dikoreksi jika salah! Semoga bermanfaat!

Gontor, 10 Syawwal 1438

Drs. H. Nasrulloh Zainul Muttaqin

PM. Gontor Kirim Utusan Ikuti Bimbingan Teknologi Multimedia di Bandung

0

P_20170714_104853

 

 

 

 

 

BANDUNG–Pada hari Rabu–Jum’at, (12–15/7) lalu, Pondok Modern Darussalam Gontor (PM. Gontor) utus seorang guru Kulliyatu al-Mu’allimin al-Islamiyah (KMI), Masau Dito untuk ikuti acara Bimbingan Teknologi (Bimtek) Multimedia bagi Remaja Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia di Hotel Holiday Inn Bandung. Kegiatan Bimtek ini berupa seminar seputar tentang multimedia, creative writing, graphic design, fotografi, videografi, pembuatan media sosial serta pemanfaatannya dalam dakwah dan promosi kegiatan masjid serta dilanjutkan dengan praktik setiap seusai seminar-seminar tersebut.

Bimtek ini diikuti oleh 43 orang peserta dan diadakan karena makin maraknya perang media saat ini, dan juga agar informasi penting tentang masjid-masjid bersejarah tidak punah. Sehingga dapat diketahui oleh banyak orang, bukan hanya pribumi daerah tersebut, namun seluruh penduduk Indonesia bahkan dunia.

Acara ini dapat diselenggarakan berkat kerjasama dari Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) serta Masjid Salman Institut Teknologi Bandung. Dan bertujuan untuk membangun peradaban bangsa dengan membangkitkan minat para remaja masjid dalam multimedia agar bisa menjadi pionir dalam menghadapi perang media yang terjadi pada era digital ini. Harapan ke depannya, para remaja masjid yang mengikuti acara ini dapat berdakwah dengan skala yang lebih luas, yakni bukan hanya di masjid dan majlis ta’lim, tetapi juga di beberapa media sosial, dikarenakan akan tersebar lebih luas jika berdakwah via medsos. Dan juga dapat mengemas informasi bersejarah tentang masjidnya dan megomunikasikannya kemasyarakat luas. ikami86

Parade Lintas Budaya Buktikan Keberagaman Santri Gontor

0

KAMPUS 2 – “…di Gontor tidak hanya ada empat pilar negara tapi ada lebih bahkan puluhan pilar negara dan kebangsaaan berada diGontor…” ungkap KH Hasan Abdullah Sahal.

Tari Kecak, salah satu penampilan santri asal Bali. Tidak hanya belajar agama, Gontor pun mengajarkan persatuan diantara keberagaman. Ini bisa dilihat dari santri Gontor yang berasal dari berbagai pelosok nusantara hingga mancanegara. Membuktikan bahwasanya Gontor adalah bentuk mini dari Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam upaya pengenalan untuk santri baru, rentetan Pekan Perkenalan Khutbatu  l-Arsy kembali disibukan dengan berbagai acara. Kali ini Demonstrasi Bahasa dan Parade Lintas Budaya yang berlangsung pada hari Ahad (15/7) dan Senin (17/7) menjadi agenda yang disaksikan  santri Gontor kampus dua, terkhusus untuk santri baru.

Dimaksudkan agar para santri baru mengetahui betapa ragamnya budaya dan bahasa tiap daerah dan negara asal semua santri. Disana ada Tari Jaranan dari daerah Kediri, juga Topeng Kelana dari Cirebon, Ludruk Surabaya, Tari Papua dan masih banyak lainnya. Bahkan santri asal  Thailand  tidak mau kalah dengan menampilkan budaya bela diri MuangThai serta Malaysia dengan Hikayat Melayunya.

Tak hanya budaya mereka semua juga mendemonstrasikan bahasa daerah beserta logat yang melekat erat pada lidah mereka. Orang Cilacap dan Tegal dengan bahasa Jawa Ngapaknya, Jakarta dengan bahasa Betawi nya, Makassar dengan bahasa Bugisnya, Thailand dan Malaysia dengan bahasa Thai dan Melayunya dan lain sebagainya.

Seakan-akan semua santri berlomba-lomba menampilkan budaya dan bahasa khas asal daerah mereka masing-masing. Meski begitu,  Gontor tetap melarang terbentuknya komunitas antar daerah melainkan hanya sebatas wajarnya saja, seperti  perkumpulan Konsulat bulanan. Agar semua santri tidak hanya berinteraksi dengan daerah asalnya saja melainkan dengan santri yang bersal dari daerah lainnya. EmhaDit

Kiai Hasan Abdulllah Sahal Resmikan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Bayyan Sukoharjo

0

SUKOHARJO“Al-ma’hadu la yanaamu abadan, kulla yaumin hua fii Sya’nin”. Disela-sela padatnya rentetan kegiatan Pondok Modern Darussalam Gontor (Pm. Gontor) pada bulan syawwal, Ahad pagi (15/7), Kiai Hasan Abdullah Sahal menghadiri acara peresmian Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Bayyan di Sukoharjo. Al-Ustadz Kholiq Hasyim, Lc selaku pendiri pondok juga alumni PM. Gontor sangat bersyukur dan berterima kasih kepada kiai Hasan yang telah menyempatkan waktunya untuk hadir pada acara peresmian pondok tahfidz ini.

Setibanya di lokasi sekitar pukul 10.00 WIB, acara dimulai dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an dan dibuka dengan sambutan dari Al-Ustadz Kholiq Hasyim, Lc. kemudian dilanjutkan dengan tausiyah oleh Kiai Hasan Abdullah Sahal. Pada tausiyahnya beliau banyak menyampaikan tentang Kemuliaan Al-Qur’an dan keistimewaan bagi para penghafalnya juga bagaimana seharusnya orang tua mendidik anaknya supaya menjadi anak yang sholeh dan berkhlak mulia. Beliau berkata, “Yang pertama harus diajarkan orang tua kepada anaknya adalah Al-Qur’an, karena itu akan mengajarkan dirinya bagaimana birru al-walidayni, birru al-‘ulama, birru al-Qur’an, dan birrru-birru lainnya.”

“Pondok Tahfidzul Qur’an ini didirikan dengan harapan dapat mencetak generasi Qu’rani yang akan mencerdaskan bangsa di masa yang akan datang”, ujar Al-Ustadz Khaliq Hasyim, Lc. Acara yang dihadiri oleh warga sekitar pondok juga bapak Kemenag Sukoharjo ini berjalan dengan lancar hingga usai. rukh

 

Pekan Olahraga dan Seni Membuka Rentetan Pekan Perkenalan

0

KAMPUS 2 – Dalam rangka memeriahkan Pekan Perkenalan Khutbatul Arsy tahun ini, telah terlaksana Upacara Pembukaan Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) 2017 di lapangan hijau PMDG Kampus 2, hari Jum’at pagi (14/07/2017).

Upacara pembukaan PORSENI tersebut dipimpin langsung oleh Bapak Pengasuh Al-Ustadz H. Muhammad Hudaya, Lc, M.Ag dan diikuti oleh seluruh bapak guru KMI serta seluruh santri Gontor Kampus 2.

Penampilan dari Perbeda dalam pembukaan Pekan Olahraga dan Seni
Penampilan dari Perbeda dalam pembukaan Pekan Olahraga dan Seni

Dalam kesempatan tersebut, Bapak Pengasuh menyampaikan tentang pentingnya beraktifitas non stop selama 24 jam. Bukan hanya badannya saja yang beraktifitas, namun jiwa, hati dan akal pun ikut beraktifitas. Ini semua karena filsafat Pondok Modern mengajarkan kepada santri-santrinya untuk selalu bergerak mengerakkan, hidup menghidupi, dan berjuang memperjuangkan. Diakhir sambutan, beliau mengajak seluruh santri untuk mempersiapkan jiwa dan raga demi menyongsong masa depan yang berarti.

Secara simbolis kegiatan ini dibuka dengan menyalakan obor oleh Bapak Pengasuh dan diawali dengan perlombaan tarik tambang antara guru-guru KMI dan siswa akhir KMI Inspiring Generation didepan seluruh hadirin.

Kegiatan yang dipanitiai oleh kelas 5 ini, akan berjalan selama satu minggu penuh. Dimulai pada hari jum’at diperlombakan cabang isidentil,  hingga hari kamis mendatang. Melombakan 2 cabang utama, yaitu cabang olahraga dan kesenian. Kedua cabang perlombaan itu pun akan dibagi menjadi beberapa perlombaan yang telah ditentukan oleh panitia.bhiel

Hari Penantian: Yudisium Calon Pelajar 1438-1439 H

0

Mantingan- Pengumuman hasil ujian masuk KMI Gontor Putri telah berlangsung pada Hari Kamis (13/7).  Para wali santri turut serta menghadiri hasil pengumuman ini yang berlangsung pada pukul 08.00 – 11.00 WIB. Pengumuman diawali dengan pidato dari Al-Ustadz KH.Hasan Abdullah Sahal. Dalam pidatonya beliau berkata

“Di Gontor tidak ada sogok suap, tidak ada yang bisa dibeli dari segi pondoknya, pimpinannya, disiplinnya, identitasnya, serta kebebasannya pun tidak bisa dibeli meskipun miliyaran” Tegas Bapak Pimpinan dalam pidatonya. Inilah yang menjadikan Pondok Modern Gontor sangat Disiplin dalam segala hal maupun aspek-aspeknya.

Suasana pada saat itu berlangsung tertib, terlihat beberapa raut wajah yang mengharukan dari beberapa calon pelajar serta wali santri saat pengumuman berlangsung. Pengumuman ini adalah hari penantian beribu calon pelajar serta para wali dari berbagai daerah dan beberapa negara. Seperti Malaysia, Thailand, serta Netherland. Sejak dibukanya pendaftaran calon pelajar (29/06- 08/07) Para calon pelajar harus mengikuti pengarahan dari Bapak Pengasuh PMDG dilanjutkan dengan regristrasi, pendataan, cek kesehatan serta penempatan asrama. Tahap pendaftaran ini adalah syarat untuk mengikutin ujian lisan.Yudisium Capel

Para calon pelajar mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan bimbingan dari para siswi kelas 6 KMI setiap pagi dan siang hari, untuk mempersiapkan ujian tulis yang diselenggarakan pada Hari Minggu (9/7). Materi yang diujikan adalah Imla, Al-Quran, Berhitung dan Bahasa Indonesia. Adapun kegiatan yang dilakukan calon pelajar setelah berlangsungnya ujian tulis ialah Haflatu Wudiyyah atau sistem perpeloncoan untuk saling mengenali satu sama lain. Semua kegiatan ini berhujung pada hari pengumuman hasil ujian masuk KMI yang mana para calon pelajar ditempatkan diberbagai pondok cabang Gontor Putri.Selmd_Tata90

Dengan Hasil Rekapitulasi Calon Pelajar 1438 H/2017 M Sebagai berikut:

REKAPITULASI HASIL UJIAN MASUK KMI

BERDASARKAN SEKOLAH ASAL PESERTA UJIAN

TAHUN AJARAN : 1438/2017

KRITERIA SD SMP SMA JUMLAH
LULUS UJIAN 1191 776 2 1969
TIDAK LULUS UJIAN 354 101 0 455
PULANG 10 12 0 22
JUMLAH 1555 889 2 2446
REKAPITULASI NEGARA
LUAR NEGERI 13 10 0 23
DALAM NEGERI 1542 879 2 2423
Jumlah Peserta Ujian Masuk KMI Tahun Ajaran 1437/2016 : 2184
Jumlah Peserta Ujian Masuk KMI Tahun Ajaran 1438/2017 : 2424

Gontor Putri Terima 1.969 Santriwati Baru

0

Mantingan-Hari yang dinanti-nanti oleh 2.447 calon pelajar Pondok Modern Darussalam Gontor Putri tiba. Kamis pagi (13/7), seluruh calon pelajar beserta beberapa walinya berkumpul di depan Aula Kulliyyatu-l-Banat, Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 1 Mantingan, Ngawi untuk mengikuti acara seremonial pengumuman kelulusan Ujian Masuk KMI 1438/2017. Acara yang dihadiri langsung oleh Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal beserta Direktur Kulliyyatu-l-Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI), K.H. Masyhudi Subari, M.A. ini dimulai pukul 07.30 WIB. Beberapa Ustadz dan Ustadzah dari setiap kampus turut mengikuti acara ini dengan seksama.Capel Putri

           Acara dibuka dengan bacaan Surat al-Fatihah, dilanjutkan pesan dan nasehat oleh Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal. Dalam pidatonya, beliau berpesan bahwa apa yang beliau sampaikan lebih penting dari pengumuman kelulusan itu sendiri. Hasil kelulusan bisa saja diumumkan kapan saja dan dengan cara bagaimana saja, sesuai perkembangan zaman. Tetapi, pemahaman akan apa dan bagaimana Pondok Modern Darussalam Gontor itulah yang lebih utama untuk disampaikan secara langsung kepada anak-anak calon pelajar, sehingga mereka dan para orang tua yang ikut hadir dapat memahami Pondok dengan benar. Beliau juga menyampaikan bahwa PMDG tidak mengenal sogok dan suap. “Apa yang akan diumumkan, adalah sesuai dengan hasil ujian anak-anak bapak ibu sekalian, tidak dikurangi dan tidak dilebihkan,” tegas beliau.

           Setelah pesan dan nasehat Pimpinan PMDG, acara dilanjutkan dengan pembacaan hasil ujian dan penempatan santriwati baru oleh Direktur KMI, K.H. Masyhudi Subari, M.A dan dilanjutkan beberapa guru senior lainnya. Suasana menjadi haru dan menegangkan, para calon pelajar dan orang tua yang hadir tak kuasa menyembunyikan wajah gugup dan khawatir, menyimak nomor-nomor ujian yang dibacakan satu demi satu. Ada yang spontan menangis haru setelah nomor ujiannya disebutkan lulus di Gontor, ada pula yang menundukkan kepala, karena belum disebutkan nomor ujiannya.

K.H. Masyhudi Subari, M.A. Membacakan Hasil Ujian Masuk KMI
K.H. Masyhudi Subari, M.A. Membacakan Hasil Ujian Masuk KMI

            Pembacaan hasil kelulusan berakhir pukul 11.00 WIB. Sejumlah 1969 calon pelajar dinyatakan lulus ujian masuk KMI Pondok Modern Darussalam Gontor Putri. Adapun yang belum mendapat kesempatan untuk menimba ilmu di Gontor Putri pada tahun ini ada 478 calon pelajar. Usai pengumuman, para calon pelajar melakukan sujud syukur bersama, wujud kesyukuran kepada Allah SWT. Selanjutnya, para calon pelajar yang telah dinyatakan lulus di kampus 2, 3, dan 5 diarahkan untuk mengemasi barang-barangnya, dan bersiap untuk berangkat ke kampus masing-masing, melanjutkan perjuangan menuntut ilmu untuk meninggikan kalimat Allah Subhanahu Wata’ala. Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan kepada Gontor dalam membina dan mendidik para santri dan santriwatinya, untuk menjadi generasi penerus yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas.Brada89

PEMBAGIAN KUOTA
PENERIMAAN CALON SANTRIWATI KMI 2017
PERIODE 2017/1438 H
KAMPUS SD SMP SMA JUMLAH
 PUTRI 1 MANTINGAN, NGAWI 429 307 2 738
 PUTRI 2 MANTINGAN, NGAWI 279 189 468
 PUTRI 3 WIDODAREN, NGAWI 317 206 523
 PUTRI 5 KANDANGAN, KEDIRI 160 180 240
TOTAL 1969

Ketua Konsulat Baru, Semangat Baru

0

Darussalam-Menginjak tahun ajaran baru, Pondok Modern Darussalam Gontor mengadakan pergantian beberapa pengurus Organisasi Santri, salah satunya adalah pengurus konsulat (perkumpulan santri per-daerah). Patah tumbuh hilang berganti, begitu motto yang selalu didengungkan. Selasa siang (11/7), seluruh santri berkumpul dengan konsulatnya untuk mengadakan pemilihan ketua konsulat yang baru. Kegiatan yang diselenggarakan di ruang-ruang kelas dan halaman kelas tersebut dihadiri oleh seluruh anggota dan pembimbing Konsulat.

Suasana Pemilihan: Para Anggota Konsulat Khidmat Mendengarkan Orasi dari Calon Ketua Konsulat
Suasana Pemilihan: Para Anggota Konsulat Khidmat Mendengarkan Orasi dari Calon Ketua Konsulat

Gontor memang selalu menanamkan jiwa kepemimpinan kepada santri-santrinya. Salah satu nilai yang harus melekat dalam diri santri adalah siap memimpin, dan siap dipimpin. Siapapun harus mau dan siap untuk dipilih menjadi pemimpin temannya sewaktu-waktu. Begitu pula sebaliknya, seorang santri yang pernah, bahkan sering memimpin, harus siap dipimpin oleh temannya yang lain dalam wadah atau organisasi lain. Tahun ini ada 38 Konsulat di Pondok Modern Darussalam Gontor, dari Sabang sampai Merauke, bahkan luar negeri. Inilah cara Gontor untuk mendidik. Mendidik kepemimpinan, kebersamaan, dan toleransi dalam berorganisasi. Harapannya, dengan terpilihnya ketua konsulat yang baru, semangat pengurus dan anggota konsulat untuk menggerakkan konsulatnya bisa lebih baik lagi.brada89

Awali Pekan Perkenalan, Gontor Adakan Porseni

0

GONTOR-Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) PMDG kembali diadakan sebagai salah satu rutinitas tahunan dan kegiatan awal dari rentetan Pekan Perkenalan Khutbatul-‘Arsy. Acara tersebut berisikan kompetisi setiap cabang olahraga dan seni yang ada di Gontor.

Adapun Grand Opening acara tersebut diadakan pada Jum’at pagi (18/7), dibuka secara langsung oleh Al-Ustadz Sunarto, S.Ag serta dihadiri oleh semua santri dan guru PMDG. Hiburan berupa atraksi–atraksi menarik juga ditampilkan di sana, seperti Marching Band, Persada, Perbeda dan Tabloid Olahraga.

Kegiatan Porseni ini akan berlangsung selama 6 hari, bermula dari Jum’at (14/7) hingga Kamis (21/7). Terdapat banyak cabang lomba pada porseni ini, semua disiapkan sebaik mungkin demi hasil yang terbaik.

Kompetisi olahraga dan seni di Gontor diadakan bukan sekedar untuk meraih piala atau penghargaan, namun nilai-nilai kebaikan di dalamnya yang perlu diambil.  Pada zaman ini terkadang olahraga sudah banyak disalahgunakan, sehingga tidak sesuai dengan makna dan tujuan dari olahraga yang sebenarnya, dan kurang bermanfaat pula.

Bertemakan “Gontor Mencerdaskan Umat, Bersatu Membina Bangsa” Porseni ditujukan untuk menjaga kesehatan jasmani dan rohani para santri, memperkuat silaturrahim di antara mereka, membuka wawasan seluas-luasnya, sampai mendidik semua orang yang terlibat di dalamnya seperti pemain, wasit, bahkan penonton sekalipun. Selain itu kegiatan ini juga bertujuan untuk mengenalkan santri baru kegiatan-kegiatan yang ada di Gontor.sand88