Home Blog Page 405

“Terima Kasih Ayah, Kami Bangga Menjadi Bagian dari Sejarah ini” (Bag. 1)

0

Tanpa terasa Peringatan 90 Tahun Gontor telah berlalu. Suka duka kami lewati dengan kebersamaan. Kami merasa sangat bangga telah menjadi bagian dari Peringatan ini, kami sungguh bahagia menjadi bagian dari sejarah ini. Sejarah Peringatan 90 Pondok Modern Darussalam Gontor. Peringatan kesepuluh yang digelar oleh Pondok tercinta kami.

Rasanya sebulan ini adalah sebulan yang sungguh berarti bagi kami. Dari kulitnya saja kami tampak sering meninggalkan ruang kelas untuk berbagai kegiatan di sana sini. Sebagai santri, kami sangat disibukkan dengan kegiatan Peringatan 90 tahun, khususnya dengan kedatangan tiga tamu maha penting ke Pondok kami.

Berawal dari Grand Syeikh Al-Azhar, Ahmad Thayyib. Awalnya, kami tak tahu banyak tentang apa dan siapa beliau. Perlahan kami menelaah, ternyata beliau adalah Pemimpin tertinggi Universitas Al-Azhar, sebuah lembaga pendidikan yang kami idam-idamkan sejak dulu, sekaligus menjadi sintesa Pondok kami. Beberapa hari kami disibukkan dengan persiapan penyambutannya, hingga kami juga meninggalkan ruang kelas. Namun, betapa hari itu kami mendapat pelajaran berharga. Pelajaran bagaimana merajakan tamu. Pelajaran penting, bahwa Pondok kami, teramat profesional dan terlatih dalam menyambut tamu sehebat apapun.

Pun juga saat kedatangan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla. Lagi-lagi kami disibukkan dengan banyak persiapan. Termasuk gladi yang digelar berkali-kali. Sekilasnya saja persiapan tersebut adalah bagian dari prosedur Pondok menerima tamu negara. Namun sejatinya, Pondok sedang mendidik kita. Pondok sedang mengajari kita bagaimana ikromu adh-dhuyuf (menerima tamu). Satu pelajaran penting yang juga diajarkan oleh Rasulullah SAW. Kami melihat betapa banyaknya tentara dan polisi yang berlalu lalang di sekitaran Pondok. Kendaraan-kendaraan mewah dari protokoler istana, provinsi, dan daerah, serta kendaraan militer dari mobil tentara hingga Panser ‘Anoa’, juga dikerahkan mengamankan Pondok kami. Kami sungguh bangga melihat betapa besar perhatian Negara terhadap Pondok kami. Meski hanya sehari dua hari, namun kami sangat bangga dengan Pondok ini. Kami semakin cinta dan rindu terhadap Pondok ini.

Dalam bulan Peringatan ini digelar, kami sangat disibukkan dengan banyaknya kegiatan Divisi Santri. Sebagian dari kami mengikuti acara Pekan Olahraga dan Seni, Olimpiade Sains, Gontor Music Festival, Cerdas cermat, dan Haflah Tilawah al-Qur’an. Selama hari-hari itu, kegiatan belajar mengajar di kelas kami sedikit terganggu. Hingga kelas-kelas kami digabung, agar tenaga pengajar menjadi efektif dan efisien.

Ditambah lagi dengan latihan Darussalam All Star Show (DASS), ruang kelas kami menjadi semakin kosong tiap paginya. Hanya setengah atau bahkan seperempat kelas yang hadir. Namun di situ baru kami sadari, bahwa ini semua ada pelajaran yang tak dapat kami lihat dari kulitnya. Apa yang kami lakukan, apa yang dilombakan, apa yang dipentaskan, hingga persiapan untuk menuju hari H, adalah pendidikan mahal dari Pondok untuk kami. Jadi meski kami sering absen di kelas, namun kami tak pernah ketinggalan ‘pelajaran’.

DASS, Sebuah Pentas yang Layak Dikenang Sejarah

0

GONTOR – Kamis (8/9) malam lalu, santri dan guru Pondok Modern Darussalam Gontor telah menggelar pagelaran seni akbar Darussalam All Star Show (DASS). Pertunjukkan seni ini dikemas dengan prinsip out of the box alias dikemas dengan cara baru dan belum pernah ada pada pertunjukkan seni manapun di Gontor. Tentunya perhelatan DASS ini akan menjadi rujukan bagi pelaksanaan acara Drama Arena dan Panggung Gembira untuk generasi-generasi selanjutnya.

Kemegahan background Darussalam All Star Show.
Kemegahan background Darussalam All Star Show.

Acara Darussalam All Star Show yang digelar untuk menyemarakkan Peringatan 90 tahun Gontor ini memiliki lima acara inti, yang kelimanya adalah manifestasi dari Panca Jiwa Pondok Modern Darussalam Gontor. Kelima acara itu adalah Drama Musikal yang melambangkan ‘Keikhlasan’, Musikalisasi Puisi yang menunjukkan ‘Kesederhanaan’, Fabel yang menggambarkan ‘Berdikari’, Tari Kombinasi yang mengarah pada ‘Ukhuwah Islamiyah’, dan Drama Komedi yang mengemas ‘Kebebasan’.

Kelima acara tersebut sangat menghibur. Selain karena kualitas yang dimiliki para peserta penampilan, seluruh penampilan inti tersebut, kecuali Tari Kombinasi, dikemas live, sehingga member kesan menyentuh lebih dalam. Dimulai dari Drama Musikal yang menceritakan kisah Trimurti Pendiri Gontor dikejar oleh PKI, setiap adegan di dalamnya, diberi sentuhan musik dan lagu live. Para pemeran pun, selain berakting, mereka juga bernyanyi. Satu level kemampuan seni tingkat tinggi yang memerlukan seniman berkualitas.

Dilanjutkan dengan Musikalisasi Puisi yang menokohkan “Mukidi”, satu sosok yang sedang viral di dunia media sosial. Karena tokoh humor, maka penampilan puisi pun didesain jenaka dan lucu, sehingga membuang jauh kesan membosankan yang biasa dilabelkan pada acara-acara puisi di panggung-panggung sebelumnya. Penampilan puisi memuncak saat jargonnya dibacakan dan tertera dalam sebuah banner besar, “Gontor bukanlah sekedar nama tempat. Ia adalah ide dan cita-cita.” Jargon ini mengundang tepuk tangan riuh dari para penonton.

Drama Musikal, sebuah penampilan berkelas di Darussalam All Star Show.
Drama Musikal, sebuah penampilan berkelas di Darussalam All Star Show.

Dilanjutkan dengan Fabel yang menceritakan kisah para penduduk ‘Hutan Khatulistiwa’ yang melawan penjajahan terselubung dari para penduduk ‘Hutan Bento’. Namun dalam fabel, para tokoh dijelmakan dalam bentuk hewan-hewan yang lucu. Sehingga penampilan ini dapat dinikmati oleh semua umur. Satu hal yang menunjukkan kualitas acara ini, adalah kehebatan para pengisi suara dalam membawa arah jalan cerita sehingga menarik. Terutama pengisi suara kancil, yang di mana mampu menyihir para penonton sehingga tanpa terasa alur cerita berjalan hingga akhir.

Selain ketiga acara itu, ditambah Tari Kombinasi dan Drama Komedi sebagai acara inti, masih ada puluhan acara lain yang tak kalah berkualitas. Seperti halnya Puzzle Painting, Choir, beragam tarian daerah, Triplehard Style, Diabolo Yoyo, Sulap, beragam penampilan musik, Soneta, dan bermacam penampilan lain yang tentunya sangat menarik.

Acara diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan dari Ketua Panitia kepada Pimpinan Pondok, dan dilanjutkan dengan lagu berjudul ‘Kemesraan’.binhadjid

 

Resepsi Kesyukuran Tutup Rentetan Peringatan 90 Tahun Gontor

0

GONTOR – Resepsi Kesyukuran 90 tahun Gontor yang digelar pada Senin (19/9) pagi, menutup serangkaian rentetan kegiatan Peringatan 90 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor. Resepsi kesyukuran yang dihadiri oleh Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo dan Ibu Iriana Joko Widodo tersebut berlangsung khidmat dan semarak. Selain menyampaikan sambutan kenegaraan, Presiden Jokowi juga meresmikan Gedung Utama Universitas Darussalam dan meletakkan Batu Pertama Pembangunan Menara Baru Masjid Jami’ Gontor.

Kyai Hasan memimpin doa bersama usai Peletakan Batu Pertama Menara Baru Masjid Jami' Gontor oleh Presiden RI
Kiai Hasan memimpin doa bersama usai Peletakan Batu Pertama Menara Baru Masjid Jami’ Gontor oleh Presiden RI.

Dengan demikian, usai sudah Peringatan 90 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor yang digelar dalam waktu 29 hari tersebut. Dalam kurun waktu satu bulan itu, ada 57 acara yang digelar oleh Panitia. Guna mempermudah pelaksanaan, Panitia membagi dalam lima divisi, yaitu Kegiatan Santri, Kegiatan Kemasyarakatan, Kegiatan IKPM, Kegiatan Unida, dan Kegiatan Gontor Putri.

Dibandingkan 9 peringatan sebelumnya, kali ini, acara yang digelar jauh lebih banyak. Selain karena cakupan Pondok yang semakin luas, yakni memiliki 20 kampus, jumlah santri dan jumlah alumni Gontor di usia 90 tahun, jauh lebih banyak dibanding saat Gontor menggelar Peringatan-peringatan sebelumnya.

Pertemuan Presiden RI dengan Pimpinan Pondok dalam Kantor Pimpinan.
Pertemuan Presiden RI dengan Pimpinan Pondok dalam Kantor Pimpinan.

Ini semua semata-semata sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah SWT atas keberkahan yang terus menerus diberikan kepada Gontor. Semoga keberkahan tersebut selalu berkesinambungan hingga akhir masa. binhadjid

Presiden RI: Terima Kasih, Gontor

0

whatsapp-image-2016-09-19-at-10-42-54-amGONTOR–Gebyar Peringatan 90 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor selama sebulan penuh berjalan lancar dan sukses. Setelah diawali dengan Sujud Syukur bersama Wakil Presiden Republik Indonesia (RI), Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla, di bulan Agustus 2016 lalu, acara peringatan diakhiri dengan Resepsi Kesyukuran di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), Senin (19/9) pagi. Pada puncak Peringatan 90 Tahun Gontor ini Presiden Republik Indonesia (RI), Ir. H. Joko Widodo berkenan hadir didampingi Ibu Negara Hj. Iriana Joko Widodo, disertai sejumlah menteri dan pejabat negara lainnya.

Di antara para pejabat yang ikut serta ke Gontor mendampingi Bapak Presiden RI tampak Juru Bicara Kepresidenan RI, Johan Budi Sapto Prabowo. Selain itu, turut hadir Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Dr. (HC). H. Zulkifli Hasan, S.E., M.M., Sekretaris Kabinet RI, Dr. Ir. Pramono Anung Wibowo, M.M., Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Puan Maharani, Menteri Agama RI, Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin, dan Wakil Ketua MPR RI, Dr. H. Muhammad Hidayat Nur Wahid, M.A. Tidak ketinggalan Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo, S.H., M.Hum., yang meluangkan waktunya hadir kembali bersama Bupati Ponorogo, Drs. H. Ipong Muchlissoni.

Sebelum bersilaturahim dengan seluruh Keluarga Besar Pondok Modern Darussalam Gontor dalam acara Resepsi Kesyukuran 90 Tahun, Bapak Joko Widodo, yang tiba bersama rombongan kepresidenan menggunakan tiga buah helikopter, menyempatkan diri untuk meresmikan Gedung Utama Universitas Darussalam Gontor. Gedung ini difungsikan sebagai pusat kegiatan perkuliahan dan perkantoran. Setelah peresmian, Ia sempat menyalami para mahasiswa dan menanyakan daerah asal mereka. Bapak Presiden mengaku terkejut, ternyata santri-santri atau mahasiswa Gontor berasal dari Sabang sampai Merauke, bahkan ada yang berasal dari luar negeri.

“Alangkah membanggakannya, ternyata di Indonesia ada pesantren yang tidak hanya bersifat nasional, tapi juga internasional,” ungkap Bapak Presiden RI waktu menyampaikan sambutannya di acara Resepsi Kesyukuran.

Ia juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada Pondok Modern Darussalam Gontor atas kontribusinya terhadap bangsa dan negara. “Saya ingin berterima kasih karena di Indonesia ada Gontor,” kata Bapak Joko Widodo di hadapan seluruh Keluarga Besar Pondok Modern Darussalam Gontor dan para tamu undangan.

Kehadiran Presiden RI di penutup acara Peringatan 90 Tahun melengkapi rasa syukur Pondok Modern Darussalam Gontor di usianya yang sudah mendekati satu abad ini. Pimpinan Pondok, K.H. Hasan Abdullah Sahal mengucapkan selamat datang kepada Bapak Presiden RI dan berterima kasih atas kesediaannya berkunjung ke Gontor. Kunjungan Presiden Joko Widodo ini melengkapi deretan semua Presiden RI yang sudah lebih dahulu menginjakkan kaki di Gontor dimulai Presiden Soekarno. Dengan demikian, patut disyukuri karena tak satu pun Presiden RI yang belum pernah bersilaturahim ke Gontor.

“Kehadiran Bapak Presiden RI ke Gontor sangat membesarkan hati kami dan hati anak-anak kami. Kami bersyukur pondok kami masih layak dikunjungi presiden, karena presiden-presiden sebelumnya juga telah berkunjung ke sini, dari presiden pertama, Bapak Soekarno, hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,” kata Ustadz Hasan.

Di dalam sambutannya, Ustadz Hasan kembali menegaskan tekad Gontor untuk berjuang mendidik umat dan bangsa Indonesia agar mulia di mata Allah dan di mata bangsa-bangsa lain, sesuai dengan tema yang diusung pada peringatan kali ini, “Gontor Mengestafetkan Nilai-nilai Perjuangan untuk Kemuliaan Umat dan Bangsa”. Gontor juga akan terus berkomitmen bersama pemerintah memperjuangkan bangsa agar terbebas dari penjajah dan penjajahan.

Setelah Resepsi Kesyukuran, Presiden Joko Widodo mendapat kehormatan untuk meletakkan batu pertama pembangunan menara baru yang terletak di sebelah utara Masjid Jami‘. Peletakan batu pertama juga dilakukan Bapak Zulkifli Hasan, Bapak Pramono Anung, Bapak Hidayat Nur Wahid, Bapak Lukman Hakim Saifuddin, dan terakhir Pimpinan Pondok K.H. Hasan Abdullah Sahal. Menara baru ini ditargetkan selesai pada tahun 2018 nanti. Semoga Allah senantiasa memberkahi pondok kita. shah wa

Menara Masjid Jami’ Kado Istimewa 9 Dekade Pondok Modern Darussalam Gontor

0

whatsapp-image-2016-09-11-at-6-10-55-am-8GONTOR–Senin ini, 19 September 2016, menjadi hari terakhir sekaligus puncak acara Peringatan 90 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor yang dibuka dengan Sujud Syukur Bersama Wakil Presiden RI, Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla, pada tanggal 20 Agustus 2016 lalu. Kali ini, Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo, berkenan hadir mengikuti acara penutup berupa Resepsi Kesyukuran 90 Tahun Gontor. Pada hari itu pula, Bapak Presiden RI berkesempatan meletakkan batu pertama pembangunan menara baru Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor.

Menara baru tersebut merupakan kado istimewa untuk pondok tercinta di Peringatan 90 Tahun ini. Betapa tidak, Gontor sudah lama berencana merenovasi menara lamanya yang berdiri tegak di sebelah utara Masjid Jami’ itu, bahkan sudah merancang menara baru untuk menggantikannya. Akhirnya, Peringatan 90 Tahun Gontor ini menjadi momen yang paling tepat untuk memulai pembangunannya.

Menara lama memang sudah tua seusia masjidnya. Masjid Jami’ yang selesai dibangun bersama menaranya menjelang akhir tahun 70-an itu sudah hampir berusia setengah abad. Pembangunan masjid dimulai pada tahun 1969 oleh Panitia Pelaksana Pembangunan Masjid yang dibentuk K.H. Ahmad Sahal dan K.H. Imam Zarkasyi dengan diketuai oleh Ustadz Abdullah Mahmud. Sedangkan peresmian masjid yang diarsiteki secara sukarela oleh Ir. H. Muhammad Suyuthi, Direktur PT Adhi Karya Jakarta, tersebut diadakan pada tanggal 2 Maret 1978 silam, sebagai bagian dari acara puncak Peringatan Setengah Abad Pondok Modern Darussalam Gontor. Waktu itu, Presiden Soeharto berkenan memenuhi undangan Gontor untuk menghadiri acara sekaligus meresmikan Masjid Jami’ bersama sejumlah menteri dan duta besar negara-negara Islam.

14409619_1184548964945166_4731184905135685440_o
Lokasi Peletakan Batu Pertama Menara Baru

Walaupun sudah memasuki masa usia setengah abad, Masjid Jami’ tetap tampak kokoh. Beberapa tahun yang lalu, Masjid Jami’ dipercantik dengan kubah barunya yang lebih artistik dan futuristik. Beberapa bagian masjid dipugar dan diperbagus, termasuk pagar di sekelilingnya, sekaligus tangga bagian depan-belakang dan kanan-kirinya. Kini, tampaklah Masjid Jami’ nan gagah dengan “wajah” barunya yang megah dan menawan. Namun, jika dicermati, masih terlihat janggal karena menara di sampingnya belum mendapat polesan apapun, tak selaras dengan kubah barunya yang indah. Memang, menara itu masih menantikan penggantinya. Maka, dengan adanya acara Peletakan Batu Pertama oleh Presiden RI Joko Widodo pada puncak Peringatan 90 Tahun Gontor, Senin (19/9) pagi, pembangunan menara baru resmi dimulai tahun ini.

Menara baru Masjid Jami’ yang akan dibangun tersebut diarsiteki oleh Pak Slamet, alumnus Gontor asal Ponorogo yang dahulu berpengalaman sebagai staf Pembangunan Gontor. Namun, saat ini ia berdomisili di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura dengan menjadi guru tetap di sana. Ceritanya, Ia bersama Ustadz Abdullah Mahmud dikirim dari Gontor untuk membantu proyek pembangunan Masjid Al-Amien. Setelah selesai, Ustadz Mahmud kembali ke Gontor, sedangkan Pak Slamet menetap di sana. Ustadz Mahmud sendiri hingga akhir hayatnya di Gontor mendapat amanah sebagai Ketua II Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor sekaligus Ketua Yayasan Pemeliharaan dan Perluasan Wakaf Pondok Modern (YPPWPM).

“Ketika pembangunan Masjid Al-Amien, Pak Slamet dikirim ke Madura bersama Ustadz Mahmud. Ternyata, setelah proyek pembangunan masjid tersebut selesai, beliau disuruh menikah dan menjadi guru di sana,” cerita Ustadz Dedi Mulyanto, salah satu penanggung jawab pembangunan menara masjid, beberapa hari yang lalu, Jum‘at (16/9), saat menjelaskan rancangan menara baru Masjid Jami’ yang akan dibangun.

Masjid Jami' dengan Menara Lamanya
Masjid Jami’ dengan Menara Lamanya

Menurut Ustadz Dedi, menara baru dirancang dua kali lipat lebih tinggi dari menara lama. Menara lama yang mulai dibangun pada tahun 1977 itu hanya setinggi 45 meter, sedangkan menara baru direncanakan mencapai tinggi 90 meter. Selain itu, menara baru ini akan dilengkapi bangunan dasar berlantai tiga seluas 11 x 11 meter persegi. Lantai pertama diproyeksikan untuk kantor, lantai kedua akan digunakan untuk perpustakaan, sedangkan lantai ketiga rencananya akan difungsikan sebagai ruang studio rekaman atau studio radio Suara Gontor (Suargo) FM. Namun, kata Ustadz Dedi, ada juga rencana digunakan untuk kelompok pembelajaran Al-Qur’an Jam‘iyyatul Qurra’ (JMQ). Pastinya, fungsi ketiga lantai itu nantinya tergantung keputusan Pimpinan Pondok setelah proyek pembangunan menara selesai–ditargetkan–pada tahun 2018 mendatang.

Keberadaan menara sebagai pelengkap bangunan masjid sudah menjadi simbol peradaban Islam. Bentuk arsitektur yang paling strategis dan terbaik sebagai penanda kehadiran dan keberadaan Islam di suatu tempat adalah menara. Sebagai bagian dari simbol peradaban, menara dibangun umat Islam lantaran memiliki fungsi yang amat penting, yakni sebagai tempat untuk mengumandangkan adzan. Dalam sejarah peradaban Islam, selain sebagai tempat untuk adzan, beberapa menara yang dibangun juga berfungsi sebagai mercusuar atau menara pengintai. Karena itulah, sebagai lembaga pendidikan Islam yang mengemban misi dakwah Islamiyyah, menara menjadi salah satu identitas keislaman yang patut dilestarikan di Pondok Modern Darussalam Gontor. shah wa

Catatan yang Tertinggal: Reuni Akbar 90 Tahun Pondok Modern Gontor

0

14232376_10153770124185913_5611441429722177406_nRidwan adalah alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor (PM Gontor/Gontor) yang berasal dari suatu desa terpencil di sebuah kabupaten di Jawa Barat. Sejak tamat dari Gontor, sekitar 30 tahun lalu, dia belum pernah sekali pun kembali menjenguk pondoknya, PM Gontor. Selain karena keterbatasan finansial, aktivitasnya di desa cukup menyita waktunya. Tahun ini, demi mendengar bahwa PM Gontor akan mengadakan Peringatan 90 Tahun dan akan menggelar Reuni Akbar, hatinya sontak bergetar, seolah kembali teringat pada kekasih lamanya. Kawan akrabnya sekabupaten, berbeda kecamatan, memberi tahu hal itu.

Mulanya, ia ragu, mengingat lama perjalanan dan biaya yang harus dikeluarkan untuk sampai ke Gontor. Akhirnya, ia menemukan cara untuk kembali menjenguk “kekasih lama-”nya itu. Sepeda motor, ya, sepeda motor satu-satunya yang biasa menemaninya beraktivitas di kampung itu akan “diajaknya” ke Gontor. Dengan bekal secukupnya untuk perjalanan bolak-balik, dan bekal selama di Gontor, ia pamit kepada istrinya. Mata istrinya berkaca-kaca melihat azam suaminya yang kuat itu. Meski berat, akhirnya dilepaskannya pula kepergiannya. Selepas Subuh, sebelum matahari terbit, dia mulai meniti jalan di desanya, meninggalkan rumah, sawah, dan kampung halamannya dengan sepeda motor, menuju Gontor.

Singkat cerita, Ridwan berhasil sampai ke Gontor. Teman-teman yang sudah sekitar 30 tahun lalu tak pernah dijumpainya, menyambutnya di markas angkatan, salah satu rumah alumnus di desa tetangga Gontor. Ada Hafizh, pengusaha sukses bidang periklanan; ada Rudi, kontraktor besar yang melanjutkan usaha ayahnya; ada juga si kurus Ismail yang sama sepertinya, istiqamah menjadi petani dan guru mengaji di kampung. Satu lagi, Yusrial yang telah menjadi profesor dan menduduki kursi rektor perguruan tinggi di daerah asalnya, dan masih banyak lagi. Rasa bangga, haru, bahkan juga minder berkecamuk di hati Ridwan. Apalagi setelah giliran teman-teman bertanya aktivitasnya setelah keluar Gontor dulu dan kini. Dengan lugu dikisahkannya, bahwa dia mengaku sempat mengenyam bangku kuliah di perguruan tinggi lokal di kabupatennya hingga S1. Sayang, keterbatasan biaya membuat langkahnya terhenti, meski prestasi akademiknya cukup bagus. Akhirnya, dia pulang kampung, mengabdikan diri sepenuhnya untuk masyarakat, bertani dan mengajar mengaji.

Ya, sepenggal kisah di atas benar adanya. Hanya, nama, tempat asal, dan angkatannya tentu saja dibuat fiktif. Masih banyak Ridwan-Ridwan yang lain, alumnus Gontor dari beberapa pelosok Tanah Air, namun tekadnya sama, ingin menghadiri Reuni Akbar di Gontor.

***

Dalam tiga hari itu (1–3 September 2016), Gontor dibanjiri manusia dengan berbagai usia dan profesi. Mereka adalah para alumni yang akan menghadiri Reuni Akbar. Bagian penerimaan tamu jelas tidak mampu menampung mereka. Konon, lebih dari sebulan lalu, rumau-rumah penduduk di Desa Gontor dan sekitarnya disewa untuk penginapan atau markas angkatan para alumni Gontor. Ada juga yang tidak perlu menyewa, yakni karena rumah itu milik guru-guru PM Gontor. Para alumni itu sepakat menjadikannya markas. Beragam tulisan menghiasi pagar depan rumah atau kelokan jalan. Ada yang menulis “Markaz Tajammuk Marhalah ….;” “Base Camp Alumni Siska.” “Tempat Ngumpul Angkatan …..,“ dan seterusnya. Membaca tulisan itu saja sanggup membayangkan betapa besar antusiasme para alumni itu. Hari Sabtu, tanggal 3 September 2016, Reuni Akbar, dalam rangka Peringatan dan Kesyukuran 90 Tahun PM Gontor digelar, setelah dua hari sebelumnya diawali dengan berbagai macam pertemuan alumni Gontor sesuai dengan profesi masing-masing.

Tanggal 2 Sepetember sore dan malam, hampir semua alumni yang akan mengikuti reuni telah tiba di base camp angkatan masing-masing. Mereka hadir dengan berbagai macam cara. Ada yang naik pesawat, kapal laut, kereta api, kendaraan pribadi roda empat, roda dua, hingga bersepeda, berkursi roda, dan berjalan kaki. Mereka datang dari seluruh pelosok Tanah Air, mulai Aceh hinggga Irian Jaya; dari Pulau Kalimantan yang terbesar, hingga Alor, pulau kecil di kawasan Nusa Tenggara Timur; dari alumni dekade 1950–1960-an (dan berusia di atas 60 atau 70 tahun) hingga alumni yang baru keluar bulan Ramadhan kemarin. Ada yang tengah mengemban amanat menjadi pejabat tinggi negara, pejabat daerah, anggota legislatif, hingga menjadi kepala desa, Ketua RW/RT; ada anggota partai yang nasionalis maupun partai keagamaan, dan non partisan; pengikut ormas seperti NU, Muhammadiyah, Persis, dsb. Mereka tumplek bleg di Kampus PM Gontor.

Pertemuan itu, sungguh, meretas semua sekat yang menjadi pembatas mereka di masyarakat: sekat partai, sekat ormas, sekat usia, sekat angkatan, masa ketika Trimurti masih ada ketika Trimurti telah semuanya wafat. Hanya ada satu hati bagi mereka: kembali ke Gontor, ibu kandungnya. Mereka memiliki niat yang sama, tujuan yang sama, degub dada yang sama; getaran perasaan yang sama: senang, haru, bahagia, rindu menjenguk pondok. Mereka ingin kembali melihat perkembangan pondok, silaturahim dengan Pimpinan Pondok, guru-guru, dan sahabat karib seangkatan; ingin kembali makan dengan menu yang sama, kembali mengenakan sarung dan pergi ke masjid. Pokoknya, semua yang pernah menorehkan sejarah kehidupan selama di pondok, ingin kembali dikenang, dirasakan, diulang kembali, dinapaktilasi.

Pertemuan itu pun diwarnai jabatan tangan sangat erat, pelukan amat kuat, serta tetes air mata yang dahsyat. Memang, karena sedaerah dan rumahnya berdekatan, ada yang hampir setiap hari bertemu. Namun, tidak sedikit pula yang hanya bisa bertemu setahun sekali; dan lebih banyak lagi yang belum pernah bertemu sejak meninggalkan pondok puluhan tahun silam. Pertemuan itu sayang sekali kalau disia-siakan. Maka, mereka pun melampiaskannya dengan ngobrol hingga larut malam, bahkan dini hari. Pokoknya, hari itu, tidak ada yang lebih indah, lebih nikmat, bahkan lebih penting, kecuali pertemuan itu. Anak-istri pun ditinggalkan.

Seorang alumnus dari Medan Sumatera Utara, yang datang dengan kursi roda, didampingi kedua anak kembarnya yang baru tamat Gontor Ramadhan lalu, berujar, “Tadinya, karena sakit macam ini, aku tak akan datang, khawatir merepotkan banyak orang, apalagi kalau ke kamar mandi. Tapi, kalau aku tak datang juga, akan lebih sakit rasanya, karena hanya mendengar cerita dari teman-teman yang datang. Akhirnya, berangkat jugalah aku. Ha..ha..ha..ha.” Tawanya lepas usai berkisah itu.

Banyak yang susah mengenali sahabat karibnya, meski sekelas sekalipun. Rambut mereka, sebagian atau seluruhnya sudah memutih; wajahnya pun memperlihatkan garis ketuaan; ada yang giginya sudah banyak tanggal. Bertahun-tahun mereka dipisahkan oleh lautan, daratan, negara, dan aktivitas. Setelah saling kembali memperkenalkan diri, suasana haru pun meledak. Kalimat Ya Allah, Masya Allah, Subhanallah, Alhamdulillah, atau ya salam pun bertubi terdengar. Pertemuan kembali itu laksana perpisahan. Mereka saling memamerkan air mata, menangis haru, tanda syukur, rasa bahagia.

Dalam memori saya, rasanya, tidak ada alumni lembaga pendidikan manapun yang kecintaannya kepada almamater melebihi alumni Gontor. Sekali lagi, mereka bukan hanya mencintai dan merindukan sekolahnya, melainkan juga kyai sekaligus ajaran atau nasihatnya, wali kelas dan guru-gurunya, kampus lengkap dengan segenap atmosfernya, serta, tentunya, sahabat karibnya.

Guru-guru yang rumahnya dijadikan basecamp berkisah, bahwa para alumni itulah yang menentukan menu masakan, yakni menu seperti ketika mereka mondok puluhan tahun silam. Misalnya, untuk makan siang, menu Dapur A hari Rabu; untuk makan malam, menu Dapur B hari Kamis, dst., yang wujudnya tidak lebih dari masakan sederhana berikut ini: sayur lodeh kacang panjang, atau nangka muda (tewel) atau terong, tumis kangkung, dengan sambel terasi istirahat pertama (salathah rahah), pecel, bothok, sate ayam/kambing, sayur bening, dengan lauk tempe goreng, tahu goreng, dan rempeyek. Masya Allah, dengan senang hati, para tuan rumah itu menyanggupi segenap “tuntutan” para alumni sahabatnya itu.

Untuk tidur? Ah, itu bukan masalah, termasuk para alumni yang berusia 60 tahun ke atas. Jika kamar-kamar di rumah markas itu tidak mencukupi, mereka pun rela tidur di bawah atau di teras rumah, dengan hanya beralaskan karpet atau kasur-kasur tipis, dan berbantal. Toh, pengalaman itu pernah dialami bertahun-tahun semasa mondok dulu. Yang penting, mereka dapat kumpul kembali dengan teman-teman seangkatan, kembali menghirup udara dan atmosfer pondok. Semua dirindukan, semua ingin dilihat, dikunjungi, dirasakan kembali getarannya. Ada yang mengibaratkan seperti aki/baterei, kembalinya mereka ke Gontor supaya mendapat setruman, energi-energi positif, yang menebar rahmat dan barakah.

Tidak ada yang tidak menitikkan air mata, ketika meresapi kenangan itu: ketika melihat kembali bel besar; ketika melihat ruang kelasnya yang masih seperti dulu, atau telah berubah fungsi; saat bertemu dengan guru-guru yang tetap memegang nilai kesederhanaan; atau menyaksikan bekas asramanya yang telah bertingkat dan memiliki kamar mandi sendiri, tidak jadi satu dengan asrama lain, sehingga antrean lebih pendek. Yang tak luput dari kunjungan, adalah makam Trimurti Pendiri: K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fannani, dan K.H. Imam Zarkasyi. Ya, mereka adalah anak-anak ideologis para pendiri PM Gontor itu.

Adapun hal yang paling disukai adalah “tajammu‘,” berkumpul dan makan bersama dalam satu wadah, atau makan makanan kecil tradisional sambil ngobrol hingga larut malam, bahkan dini hari. Tak pelak, Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), Abdurrahman Muhammad Fachir (AM Fachir), yang alumnus tahun 1976, usai mengisi acara resmi di Pondok Pesantren Walisongo, Ngabar, meski telah pukul 22.00, rela kembali ke base camp angkatan, (rumah Ustadz Noor Syahid) demi menemui teman-teman seangkatannya. Yang diobrolkan, tentu seputar kenangan, pengalaman, serta kabar sahabat karib yang tak bisa datang. Juga pengalamannya menembus jabatan yang diembannya saat ini.

Pada tanggal 3 Sepetember pagi, perhelatan itu digelarlah. Ribuan alumni berdatangan menuju tempat berkumpul, yakni di depan BPPM atau Masjid Jami‘.

Saat memasuki tempat pertemuan, beragam atribut dan pakaian yang dikenakan para alumni itu. Di antaranya ada yang mengenakan batik, baju koko, kaos, topi, dan pin yang disematkan di dada. Sebagai alumnus tahun 1976, Wamenlu AM Fachir pun bangga ikut mengenakan pin angkatan. Barangkali, yang terheboh adalah alumni angkatan 1975. Di antara mereka ada yang merepresentasikan sosok Pak Sahal, Pak Fannani, dan Zar. Maka, Drs. H. Imam Budiono Sahal, M.A., Prof. Dr. K.H. Dien Syamsuddin, M.A. dan K.H. Dr. Ahmad Hidyatullah Zarkasyi, M.A., didapuk merepresentaskan sosok Pak Sahal, Pak Fannani, dan Pak Zar. Sementara itu, penggembiranya (teman-teman seangkatan, mengenakan kaos, dan topi oranye. Hadirin pun bersorak sorai demi menyaksikan hal itu.

Di tempat duduk, para alumni itu masih riuh dengan obrolan masa lalu, sebab, ada yang baru datang, bertemu, dan bergabung pagi itu. Kian banyak alumni memasuki tempat acara, kian riuh rendah obrolan terdengar. Pukul 08.30 Pagi, para alumni itu telah menyemut di depan masjid, Balai Petemuan Pondok Modern, hingga utara gedung Saudi, melebihi luas tarup yang disediakan. Konon, yang hadir dalam Reuni Akbar itu tidak kurang dari 11.000 orang. Allahu Akbar! Itu pun belum semuanya. Jelas, ada yang berhalangan karena satu dan lain hal.

Acara pun dimulai. Master of Ceremony, Heppy Chandrayana, alumnus Gontor tahun 2001, memohon hadirin agar tenang, karena acara akan dimulai. Lantas, qari, alumnus Gontor 2002, membacakan ayat al-Qur’an secara tartil/murattal, bukan mujawwad. Acara dilanjutkan, yakni menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dan Hymne “Oh Pondokku.” Inilah acara yang dinanti-nantikan. Saat lagu “Indonesia Raya” dinyanyikan, suasana emosional kebangsaan timbul menyeruak di hari para alumni itu, dan hatinya mengatakan, “Inilah Gontor, yang tak perlu diragukan nasionalismenya.” Berikutnya, menyanyikan Hymne “Oh Pondokku”.

Hymne “Oh Pondokku” benar-benar meretas sekat-sekat apapaun yang dimiliki para alumni Gontor. Seolah, dengan melantunlan hymne itu, mereka ingin meneguhkan bahwa dirinya benar-benar anak kandung ibunya: Gontor. Hymne itu juga membuat air mata mengalir deras, mengingat kenangan masa lalu yang semalam suntuk telah mereka perbincangkan. Pengalaman kerja sama, konflik, dan bersaing; pengalaman dimarahi kyai, pengalaman menjadi pengurus, dsb., semuanya menjadi indah untuk kembali dikenang dan dikisahkan.

Memang, belum pernah ada reuni dengan hadirin sebanyak itu. Allahu Akbar. Acara diisi dengan pidato dari tokoh-tokoh alumnus Gontor, yaitu Prof. Dr. K.H. Dien Syamsuddin, M.A., K.H. Dr. Hidayat Nur Wahid, M.A., Dr.H. AM Fachir, dan K.H. Hasyim Muzadi. Acara ini juga dimaksudkan sebagai muhadharah atau latihan pidato yang biasa dilakukan para santri seminggu 3 kali. Namun sayang, hal itu terasa agak monoton, mengingat frekuensi pemunculan pembicara, dalam 10 tahun ini, cukup sering. Alangkah baiknya jika yang dimunculkan, misalnya, Bapak Ahmad Fuad Effendy, pakar bahasa Arab di Indonesia, juga alumnus Gontor yang tengah menjabat Rektor, seperti Prof. Dr. Azhar Arsyad, dan berbicara dalam bahasa Inggris, seperti pertemuan serupa tahun 2003. Ketika itu, yang berbicara Prof. Dr. Nurcholish Madjid (bahasa Indonesia), Dr. Ahmad Syatori Ismail, M.A. (bahasa Arab), Prof. Dr. Dien Syamsuddin, M.A. (bahasa Inggris).

Tidak kalah menarik jika diberi kesempatan alumni yang sukses dalam bidang masing-masing, seperti pengusaha, praktisi pendidikan (dosen, guru, kyai), da‘i, petani, atau peternak sekali pun. Saya yakin, siapapun yang berbicara di forum itu, ketika itu, akan memberi inspirasi kepada para hadirin. Pengalaman dan suka duka mereka tentu akan sangat menarik dikisahkan. Namun, jika tidak, semoga ada yang menuliskan pengalaman mereka dalam sebuah buku.

Usai pertemuan, banyak alumni yang langsung pulang, tentu saja karena tuntutan tugas masing-masing dengan membawa kenangan dan harapan, semoga dapat berkumpul kembali. Sekitar 3 hari kemudian, sudah ada alumni yang mengunggah fotonya di media sosial, tengah menunaikan ibadah haji. Allahu Akbar! Dalam kesempatan menunakan ibadah haji itu, puluhan alumni dan guru Gontor yang juga tengah menunaikan ibadah haji melakukan sujud syukur memperingati 90 tahun usia Gontor di Masjidil Haram, dilanjutkan dengan pertemuan bersama Lukman Hakim Saifuddin, alumnus Gontor, Menteri Agama, yang tengah menjadi Amirul Hajj.

Subhanallah! Lelah rasanya membuat lukisan tertulis seperti ini. Susah menghadirkan atmosfer, situasi, dan perasaan yang hadir saat itu. Mohon maaf jika tidak mewakili hal itu. Tak semua yang saya kenal saya temui; dan tidak semua yang saya temui saya kenal. Tetapi, tak kuasa, air mata ini menetes jua. nasrulloh zainul muttaqien

DASS Gontor Putri Siap Tampil Malam Ini

0

Malam ini, Sabtu, 17 September 2016 akan menjadi saksi dari sebuah perjuangan, keikhlasan dan harapan seperempat abad. Sebagai salah satu kesyukuran dari peringatan sembilan puluh tahun Gontor dan seperempat abad Gontor Putri. Banyak hal baru yang akan ditampilkan dan dipertunjukkan. Seluruh elemen pondok saat ini tengah bergerak untuk mensukseskan acara ini. Pondok sedang berhias menyemarakkan Darussalam All Stars Show (DASS) dengan dekorasi jalan, banner DASS maupun reuni akbar serta pamflet-pamflet yang dibuat oleh santriwati.
DASS akan dimulai pada pukul tujuh malam dan diperkirakan selesai tepat pukul dua belas. Di awal acara akan diumumkan pula pemenang lomba cipta lagu dalam rangka seperempat abad Gontor Putri.

Selamat datang! Selamat Menyaksikan!

“Realisasi Misi Gontor Putri untuk Kemuliaan Umat dan Bangsa”

dee

Reuni Akbar Gontor Putri Diliputi Rasa Haru dan Bahagia

0

Reuni akbar Gontor Putri yang sudah ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Dua puluh empat angkatan berkumpul di auditorium Gontor Putri 1 pada hari Sabtu pagi (17/9). Beberapa tamu undangan yang hadir adalah pimpinan pondok, direktur KMI, assabiquna al-awwalun para asatidz perintis dan pejuang Gontor Putri dan beberapa utusan kampus putri lainnya.

img_4773Haru sudah tergambar jelas di mata para alumni. Terlebih saat mennyanyikan lagu hymne Oh Pondokku. Pelan dan khidmat.

Wakil Pengasuh Putri 1, Ustadz H. Ahmad Suharto, menyampaikan ucapan selamat datangnya kepada seluruh alumni. Beliau pun menyatakan bahwa dirinya yang merupakan haditsu ‘ahdin ini sudah merasakan kebanggaan akan kiprah alumni putri. Terlebih para alumni-alumni ini adalah saksi dan pelaku sejarah sebagai cerita serta motivasi bagi adik-adiknya.

Dalam sambutannya sebagai perwakilan dari Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM), ustadz Muhammad Badrun Syahir mengemukakan bahwa sehak 10 tahun yang lalu sudah didirikan departemen baru dalam IKPM, yaitu departemen keputrian karena melihat sepak terjang para alumni putri.

img_4930Sementara perwakilan alumni, Ida Husnul (alumni 1996), mengucapkan rasa syukur mendalamnya bagi seluruh pendidikan yang diterima selama nyantri di Gontor. Pada awalnya ia mengatakan bahwa sambutan ini akan disampaikan dengan Bahasa Indonesia karena tidak akan ada mahkamah lughoh yag disambut gelak tawa seluruh peserta reuni. Namun di akhir sambutan alumni Al-Azhar University ini menghadirkan suasana haru. Sebagai perdana kelas biasa (adi) di Gontor Putri, banyak sekali pengalaman yang diterima. Kenangan-kenangan masa lalu seperti bagaimana almarhum Ustadz Sutadji memimpin muhadatsah dan membangunkan subuh serta ayat-ayat yang sering digunakan almarhum dan Ustadz K.H. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi saat sholat. Ia pun meminta kedua anaknya, Ahmad Fawaz dan Auza, untuk mentilawahkan ayat-ayat tersebut.

Kyai Syukri menyampaikan sambutan
Kyai Syukri menyampaikan sambutan

Pimpinan pondok, Ustadz KH. Abdullah Syukri berusaha memberikan sambutan. Namun hanya takbir yang terucap. Kemudian Ustadz Ahmad Hidayatullah menerangkan bahwa kyai Syukri sangat ingin datang pada acara reuni ini. Kemudian beliau beserta beberapa keluarga mencatat apa yang ingin pimpinan pondok ini katakan.

“Jadilah dirimu ibu yang utama. Karena ibu yang utama sama dengan 100 guru. Didiklah dirimu dengan kesehatan. Didiklah otakmu dengan belajar dan berpikir. Didiklah jiwamu dengan puasa, tahajud dan berbuat baik!”

Kesyukuran dan keharuan juga nampak dari Ustadz KH. Hasan Abdullah Sahal. Beliau menyatakan bahwa peringatan sembilan puluh tahun Gontor ini lebih baik dari peringatan delapan puluh atau tujuh puluh tahun Gontor. Dengan membedakan makna meninggalkan, mewariskan dan mengestafetkan, kyai Hasan menekankan bahwa nilai-nilai pondok harus tetap diteruskan oleh generasi selanjutnya.

Adanya reuni ini pun bukan untuk ajang membangkitkan semangat atau dengan istilah nyetrum aki. “Mendatangi pondok untuk membuka rapotmu. Apakah panca jiwamu masih kuat atau tidak,” tegasnya.

Assabiqunal Awwalun perintis dan pejuang Gontor Putri
Assabiqunal Awwalun perintis dan pejuang Gontor Putri

Reuni akbar ini dilanjutkan dengan temu kangen bersama assabiwunal awwalun yang disampaikan oleh Ustadz Hudaya dan Ustadz Noor Syahid. Di akhir, Ustadz Ahmad Hidayatullah memberikan kesempatan bagi alumni awal untuk memberikan kesannya. Ada yang menyatakan kebahagiaan serta kesyukurannya serta menceritakan beberapa pengalaman pahit dan manis.

Ustadz Ahmad Hidayatullah menanyakan kesan salah satu alumni
Ustadz Ahmad Hidayatullah menanyakan kesan salah satu alumni

“Akhirnya semua indah dikenang baik yang pahit dan manis,” kata Ustadz Ahmad Hidayatullah. “Ahli pendidikan menyatakan bahwa pendiri Gontor sangat hebat merancang untuk memberikan kesan bagi santrinya. Ini adalah kunci sukses Gontor. Kami minta maad bila tidak semua kesan itu manis. Tapi insya Allah itu akan menjadi pelajaran bagi kita semua.”

Beliau pun berpesan kepada para alumni agar membuat kesan yang indah dan membawa kebaikan bagi lingkungan. Baik pahit ataupun manis, tapi semua bernuansa pendidikan.

Selanjutnya para alumni akan mengikuti safari kampus dan dapat bereuni dengan angkatan masing-masing. Malamnya mereka akan menonton Darussalam All Stars Show (DASS) yang akan dimulai selepas Isya’. dee

Senjata Santri, All Stars dan Seperempat Abad yang Hanya Sekali

0

Bila Drama Arena yang mejadi ajang pembuktian diri kelas lima dan proses latihan kebersamaan mereka, kini tak lagi.

Bila Panggung Gembira adalah pembuktian akhir serta masa balas dendam akan kesalahan-kesalahan yang kelas enam lakukan pada DA mereka tahun kemarin, kini tak lagi.

Adalah bagaimana caranya dapat menjadi lebih baik, kalau bisa yang terbaik di antara yang lain, menjadi sebuah semangat tersendiri dalam diri si empunya acara. Namun kali ini tak ada lagi rasa itu. Sembilan puluh tahun Gontor hanya sekali. Seperempat abad hanya sekali. All Stars kali ini pun hanya sekali.

H-1 dan tanah ini diguyur hujan sangat deras. Kemarin malam pun begitu. Beberapa pihak sudah mulai pesimis dan takut. Akankah acara All Stars akan baik-baik saja esok hari? Akankah akan sama seperti nasib malam ini? Dengan segala pengorbanan dan harapan seluruh elemen pondok, sukses menjadi sebuah kata mutlak.

Berkah langit ini turun di tengah-tengah gladi bersih. Pada acara koor lebih tepatnya. Kebanyakan orang berteduh di auditorium. Sebagian pulang menyelamatkan beberapa pekerjaannya. Namun sebagian lain masih bertahan bersama hujan. Kelas lima sebagai peserta koor tetap menyanyi dengan lantang. Bagian perlengkapan dengan sigap menutup semua barang dengan banner. Bagian kesenian dan orang-orang yang berada di sekitarnya turut membantu menyelamatkan background yang nyaris terjatuh. Setelah semua terevakuasi, mulailah muncul wajah-wajah sedih. Beberapa berusaha menghibur diri. Namun tak tertutupi dari wajah mereka akan beberapa potong ketakutan.

Auditorium sekali lagi menjadi saksi sebuah perjuangan. Bukan hanya kelas lima ataupun kelas enam. Namun seluruh penghuni kampung nan damai ini mencoba menggetarkan langit. Beberapa membahas acaranya, sebagian juga melakukan pekerjaan yang bisa mereka kerjakan dengan kondisi saat itu.

Seseorang maju dan memohon perhatian dari semua orang yang dapat ia jangkau di auditorium saat itu. Karena banyak juga yang sedang mempersiapkan acaa pertemuan bagi seluruh alumni esok pagi. Ia memimpin doa dan dzikir. Mengharap keikhlasan dari semua pihak. Bahwa acara ini bukan milik dari sebagian orang saja. Ini milik pondok dan demi kemajuan pondok. Hati saya tergetar. Memang senjata santri adalah lewat spiritual. Melalui doa. Bukan hanya usaha dan rasa lelah yang tertahan.

Esok adalah dua acara puncak dalam memperingati sembilan puluh tahun Gontor dan seperempat abad Gontor Putri, yaitu reuni akbar serta All Stars. Persiapan demi persiapan sudah diusahakan. Kepanitiaan sudah dimaksimalkan. Sisanya tinggal menunggu taufiq Allah melalui doa-doa panjang.

Kini kami menjadi saksi hidup sebuah sejarah. Sepuluh tahun ke depan entah sudah bagaimana pondok ini. Entah sudah berada di mana kami. Tapi yang jelas, kali ini hanya sekali. All Stars bukan hanya sebuah pagelaran seni, namun ia adalah kristalan dari bentuk perjuangan, keikhlasan dan harapan. dee

Check In Alumni Peserta Reuni

0

Reuni alumni Gontor Putri akan dimulai esok hari pada Sabtu (17/9), namun para alumni sudah mulai berdatangan sejak pagi Jum’at (16/9) dari berbagai penjuru. Konsulat Surabaya dipastikan datang menggunakan 2 bis dan konsulat Jakarta akan datang dengan 3 gerbong kereta api. Pondok sudah siap menerima para alumninya yang akan kembali ke ‘rumah’.

Peserta reuni akan melakukan check in di sebelah mini market bagian dalam untuk pendataan. Para alumni pun akan mengetahui asrama yang akan ditinggali untuk 2-3 hari ini. Penempatan asrama berdasarkan angkatan, dimulai dari gedung Saudi untuk alumni perdana 1994 dan berlanjut hingga gedung Aisyah dan beberapa gedung di kampus Putri 2. Sedangkan untuk pengantar laki-laki sudah dipersiapkan tempat di kamar rombongan yang terletak di samping masjid Mahronnisa. dee

Penempatan Asrama Alumni

ANGKATAN PENEMPATAN
1994 SAUDI 2
1995 SAUDI 3
1996 SAUDI 3
1997 TURKI
1998 TURKI
1999 AWAL TUNIS
1999 AKHIR TUNIS
2000 AFGHANISTAN
2001 AFGHANISTAN
2002 IRAN
2003 IRAN
2004 YORDANIA
2005 YORDANIA
2006 LIBANON
2007 LIBANON
2008 SYIRIA
2009 SYRIA
2010 NINXIA
2011 NINXIA
2012 AISYAH
2013 KUWAIT
2014 KHODIJAH
2015 BAPENTA GP 2 PUTRA
2016 BAPENTA GP 2 PUTRI