Home Blog Page 407

Malam ini, Kami akan Menjadi Saksi Dongeng Sepuluh Tahunan itu

0

Sepuluh tahun lalu, kami pernah mendengar ada sebuah penampilan yang ditahbiskan sebagai pentas paling akbar di pesantren kami. Karena belum menjadi santri kala itu, kami hanya mendengar dari omongan orang-orang dahulu tentang semaraknya dan fenomenalnya perhelatan seni itu. Pentas akbar yang hanya digelar saat jenjang usia tertentu Pondok Modern Darussalam Gontor itu, bernama Darussalam All Star Show.
Dan hari ini, 8 September 2016, seluruh santri Gontor dari Kelas 1 hingga guru paling senior, mendapat kesempatan langka tersebut. Hari ini kami akan mempertunjukkan, sekaligus menonton sendiri Darussalam All Star Show pada Peringatan 90 Tahun Gontor. Ya, usai rentetan kegiatan Peringatan 90 tahun Divisi Santri, hari ini adalah puncaknya. Kami semua, tentunya masyarakat juga, akan disuguhi sajian seni yang akan diisi seluruh bintang yang ada di Gontor. Karena bertajuk “All Star”, maka pentas ini tak dapat dibandingkan dengan Drama Arena ataupun Panggung Gembira yang digelar tahunan. Bukannya mengecilkan kedua pentas itu, namun memang keduanya tak dapat mengeluarkan “All Star” di Gontor. Mengingat adanya pakem-pakem yang telah ditetapkan bagi kedua pentas tersebut, yakni batasan kelas yang mengikat.

Persiapan Panitia jelang Darussalam All Star Show
Persiapan Panitia jelang Darussalam All Star Show

Namun malam ini, “All Star” tersebut akan kami saksikan kembali. Dari manusia masterpiece Gontor di bidang musik, seni tari, teater, tarik suara, broadcast, drama, multimedia, hingga bidang pelaksanaan, semacam dekorasi, pertamanan, dan perlengkapan, akan kami saksikan bersama masyarakat malam hari ini.
Kesyukuran ini tak terbendung adanya. Kami rindu suasana seperti ini. Saat para guru tanpa gengsi ‘turun gunung’ ikut tampil bersama para santri hanya semata-mata ingin menunjukkan bahwa inilah adanya penampilan terbaik di Gontor. Makna “All Star” adalah optimalisasi dalam pementasan, puncak dari segalanya, dan batas tertinggi dari kemampuan seluruh anak adam yang bernafas dalam Pondok Gontor ini.
Maka tak ayal, jika malam ini, hati ini serasa berdebar menantikan show tersebut. Rasanya sayang jika dilewatkan. Acara ini sengaja digelar di lapangan hijau, mengingat salah satu tujuan dari pementasan adalah menghibur masyarakat. Sebagai bentuk kesyukuran Pondok menginjak usianya yang ke-90 tahun.
Semoga malam ini bintang-bintang menghiasi langit demi kelancaran acara Darussalam All Star Show, memayungi bintang-bintang yang malam ini pula, akan menghiasi panggung pementasan akbar tersebut. Kalau boleh memberi nasihat kepada seluruh santri, “Nak, saksikan dengan kelopak tak tertutup sejak awal, resapi aura malam ini ke dalam sukmamu, arahkan hatimu untuk menerima segala suguhan hebat, dan sembari berdoa dengan rendah hati, agar ini semua mendatangkan keberkahan kepada Pondok kita, sekarang, dan untuk selamanya.”binhadjid

Saksikanlah! DASS Siap Tampil untuk 90 Tahun Gontor

0
whatsapp-image-2016-09-07-at-10-34-26-pm
Persiapan Panggung DASS 90 Tahun Gontor untuk Kamis malam, 8 September 2016

GONTOR–Hari yang ditunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Darussalam All Stars Show (DASS) sudah siap membuat Peringatan 90 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor sensasional dan spektakuler. Panggungnya sudah berdiri tegak dengan gagah dan megah di Lapangan Hijau Gontor mulai Rabu (7/9) ini. Pada Kamis malam nanti, 8 September 2016, pagelaran seni sejenis Panggung Gembira ini benar-benar akan menciptakan malam nan indah bagi para penikmat seni dan keterampilan santri yang dikolaborasikan dengan kreativitas guru-guru.

“Acara yang penuh dengan kreativitas seni ini, bisa dikatakan, berada setingkat di atas Panggung Gembira, walaupun keduanya memiliki konsep yang hampir sama. Memang, konsep acaranya berpatokan pada penyelenggaraan Panggung Gembira. Akan tetapi, keterampilan seni yang akan dipertunjukkan diupayakan lebih menghibur, inovatif, dan memukau,” ujar Ardhika Wahyu Kuncoro, selaku Penanggung Jawab Acara dari Panitia Pelaksana DASS 90 Tahun Gontor pada awal latihan DASS, Selasa (16/8) bulan lalu.

Wajar saja jika DASS berada setingkat di atas PG dengan gebyarnya yang luar biasa, karena acaranya didukung mahasiswa dan guru-guru, baik guru junior maupun senior, tidak hanya mengandalkan kreativitas santri. “Berbeda dengan PG, guru-guru dan mahasiswa yang memiliki bakat terbaik di bidang seni akan berkolaborasi dengan santri-santri pilihan dari kelas 1–6 Kulliyatu-l-Mu‘allimin Al-Islamiyah (KMI) untuk menampilkan penampilan terbaik mereka pada acara DASS 90 Tahun Gontor nanti,” kata Ardhika, menjelaskan perbedaan PG dengan DASS.

Selain itu, lanjut Ardhika, acara DASS sengaja dikonsep lebih spektakuler sesuai namanya, karena latar belakang dan tujuan penyelenggaraannya berbeda dengan PG yang secara rutin dilaksanakan setiap tahun oleh siswa kelas 6 KMI. Panggung Gembira merupakan puncak acara Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy. Sedangkan DASS diadakan secara khusus dalam rangka memperingati milad Gontor yang ke-90.

“Idenya muncul pertama kali sepuluh tahun silam, tahun 2006, yaitu pada Peringatan 80 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor. Pada tahun itulah, Gontor menggelar DASS untuk pertama kalinya. Maka, DASS yang akan dilaksanakan pada Kamis malam nanti, tanggal 8 September 2016, merupakan yang kedua sepanjang sejarah Pondok Modern Darussalam Gontor,” ungkap Ardhika.

Lebih dari itu, Ardhika menambahkan, DASS ini digelar di tempat terbuka yang lebih luas, yaitu bertempat di Lapangan Hijau Pondok Modern Darussalam Gontor. Acara ini tidak sama dengan PG yang–sebenarnya–diperuntukkan bagi santri-santri dan guru-guru seperti biasa di depan Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM). Sebagai salah satu acara dalam agenda besar Peringatan 90 Tahun Gontor, DASS bertujuan menghibur sekaligus mendidik masyarakat luas, tidak hanya keluarga pondok.

Bertempat di lapangan terbuka, panggung untuk DASS memang lebih besar dibandingkan panggung yang dipasang untuk PG. Menurut Ardhika, panggung yang disiapkan untuk DASS berukuran 20 x 10 meter persegi. Panggung untuk PG lebih kecil, hanya berukuran 18 x 6 meter persegi. Sedangkan background-nya didesain ulang, tidak menggunakan background PG seperti halnya DASS pada Peringatan 80 Tahun Gontor. Kata Ardhika, background DASS tahun ini lain dari yang lain, bentuknya tidak simetri lipat seperti biasanya.

Kepanitiaan DASS kali ini diketuai oleh tiga orang guru yang sangat berpengalaman dalam penyelenggaran acara pentas seni. Mereka adalah Andika Putra Rianda, Badrut Tamam, dan M. Abdullah. Ketiganya bekerja sama dengan guru-guru yang terlibat di kepanitiaan Peringatan 90 Tahun Gontor Divisi Kegiatan Santri, dibantu sejumlah santri kelas 5 dan 6 KMI untuk mengonsep dan menyelenggarakan acara. Dari data panitia, santri dan guru yang dilibatkan untuk tampil memeriahkan DASS 90 Tahun Gontor ini mencapai 1.000-an lebih.

Penyelenggaraan DASS di usia Gontor yang ke-90 tahun ini mengangkat tema tentang estafet nilai, bermottokan “Gontor Mengestafetkan Nilai-nilai Perjuangan untuk Kemuliaan Umat dan Bangsa”.

“Saksikanlah! Anda akan menikmati rangkaian acara DASS yang disusun berdasarkan lima nilai utama yang dimiliki Pondok Modern Darussalam Gontor, yaitu terangkum dalam Panca Jiwa. Maka, terdapat lima acara inti di dalam rangkaian acara DASS 90 Tahun Gontor di samping acara lainnya. Kelima acara tersebut diformat secara khusus menggambarkan Panca Jiwa Pondok Modern Darussalam Gontor,” terang Ardhika mengakhiri penjelasannya sambil mengajak pemirsa untuk menonton DASS istimewa pada Kamis (8/9) malam nanti. shah wa

Klarifikasi tentang Acara “International Talk by Dr. Zakir Naik”  

0

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

Sebagaimana tertera dalam Jadwal Peringatan 90 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, sedianya tanggal 6 September 2016 ada kegiatan “International Talk by Dr. Zakir Naik”.

Terkait acara tersebut, Panitia menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Hingga kini, Panitia telah mengirimkan Proposal Kegiatan kepada Tim Dr. Zakir Naik untuk mengundang beliau, guna menyampaikan ceramah di beberapa tempat di Indonesia seputar “Perbandingan Agama dan Hubungan Sains dan Agama”.
  2. Panitia mengadakan kerja sama dengan UMY Jogyakarta, UHAMKA Jakarta, serta ITS untuk acara tersebut. Dan telah mengadakan rapat di Universitas Darussalam Gontor. Keempat universitas ini siap menjadi tuan rumah dalam acara tersebut. Tanggal dan waktunya disesuaikan dengan kesiapan Dr. Zakir Naik dan timnya.
  3. Sejauh ini, Panitia juga telah menghubungi secara khusus kantor Dr. Zakir Naik untuk menanyakan kepastian tanggapan kesediaan dari pihak Tim Dr. Zakir Naik terhadap surat Panitia.
  4. Melalui alumni Gontor di Saudi Arabia, atas nama Panitia, juga telah menyampaikan surat khusus kepada Dr. Zakir Naik secara pribadi saat kunjungan beliau ke Saudi Arabia.
  5. Dan melalui alumni Gontor di Malaysia, atas nama Panitia, juga telah menyampaikan kembali surat kepada Tim Dr. Zakir Naik untuk maksud yang sama.
  6. Serta melalui alumni Gontor yang bekerja di Kedutaan Besar Indonesia di India, atas nama Panitia, juga telah menghubungi Dr. Zakir Naik dan timnya secara khusus.
  7. Dalam surat Panitia yang dikirimkan kepada Tim Dr. Zakir Naik juga telah dilampirkan keterangan bahwa Panitia siap terbang ke India untuk menghadap secara khusus kepada Dr. Zakir Naik jika diperlukan.
  8. Namun, hingga kini, Panitia belum mendapatkan jawaban kepastian kedatangan Dr. Zakir Naik ke Indonesia.
  9. Maka, dengan ini, acara Dr. Zakir Naik yang awalnya akan diadakan pada 6 September 2016 dinyatakan tidak dapat dilaksanakan pada waktu tersebut.
  10. Namun, Panitia 90 Tahun Gontor Divisi UNIDA belum membatalkan acara Dr. Zakir Naik dan Panitia masih terus melakukan komunikasi dengan Dr. Zakir Naik hingga mendapatkan kepastian.
  11. Panitia belum dapat memastikan waktu dan tempat akan dilaksanakannya acara tersebut hingga ada kepastian dari Tim Dr. Zakir Naik. Informasi lebih lanjut akan kami sampaikan di kemudian hari.
  12. Mengatasnamakan Panitia, kami memohon maaf atas ketidaknyamanan selama ini. Semoga Allah memberikan jalan kemudahan terlaksananya acara yang sedang dinanti-nanti oleh banyak kalangan di Indonesia ini. Amin.

Terima kasih

 

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

a.n. Panitia International Talk by Dr. Zakir Naik

Syukuri 90 Tahun Eksistensi Pondok, 100 Kader Gontor Menapaktilasi Perjuangan Trimurti pada Masa Pemberontakan PKI 1948

0

WhatsApp Image 2016-09-07 at 7.04.48 AMGONTOR–Pondok Modern Darussalam Gontor telah berusia 90 tahun dengan segudang prestasi dan pencapaian yang luar biasa. Eksistensinya yang terus mewarnai Nusantara dan dunia saat ini tidak terlepas dari perjuangan Trimurti yang tulus ikhlas berkorban untuk kemajuan pondok dan pantang menyerah dalam mempertahankannya. Maka, untuk mensyukurinya, hari ini, Rabu (7/9) pagi, Pimpinan Pondok, K.H. Hasan Abdullah Sahal dan K.H. Syamsul Hadi Abdan memberangkatkan 100 orang alumni dan kader Gontor untuk melaksanakan Napak Tilas Perjalanan Trimurti ke Sooko.

Di sepanjang jalan dari Gontor menuju Sooko memang tersimpan kisah perjuangan dan pengorbanan Trimurti beserta rombongan santri mereka saat itu. Kisah ini terjadi pada tahun 1948, saat PKI mencoba melakukan pemberontakan terhadap pemerintah. Sejumlah pondok pesantren dengan para kiai dan santri-santrinya terkena imbas pemberontakan ini karena dianggap menjadi penghalang upaya-upaya PKI dan antek-anteknya mengambil alih kekuasaan. Sehingga, sejumlah pondok pesantren yang dicurigai menggalang perlawanan terhadap PKI diserang hingga tidak sedikit santri-santri yang kehilangan nyawa, begitu juga para kiainya.

Pondok Modern Darussalam Gontor pun tidak luput dari kecurigaan PKI, walaupun jarak Gontor dari pusat pemberontakan mereka di Madiun terpaut 40 kilometer. Oleh sebab itu, berdasarkan kisah yang tertuang di buku biografi K.H. Imam Zarkasyi, keadaan yang semula tenang menjadi penuh kekhawatiran. Saat itu, para santri menjadi resah. Mereka khawatir akan menjadi korban situasi yang tidak menguntungkan itu. Sebagian santri kemudian ada yang minta izin pulang, khususnya mereka yang bertempat tinggal tidak jauh dari pondok. Sementara itu, sebagian lain masih banyak yang tetap tinggal di dalam pondok. Kiai Imam Zarkasyi dan Kiai Ahmad Sahal, sebagai Pimpinan Pondok, mencoba bersikap tenang sambil berpikir tentang langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mengantisipasi keadaan tersebut.

Setelah dua hari berlalu, pemberontak mulai memasuki wilayah Jetis yang hanya berjarak 3 kilometer di sebelah barat Gontor. Saat itu mulai terdengar berita bahwa sejumlah kiai telah dihabisi oleh PKI. Mendengar berita-berita semacam itu, sejumlah orang mengkhawatirkan keselamatan K.H. Ahmad Sahal dan K.H. Imam Zarkasyi.

Beliau berdua kemudian bermusyawarah dengan beberapa santri seniornya, seperti Ghozali Anwar dan Shoiman. Dari musyawarah itu lalu ditetapkan bahwa melawan pemberontak adalah sesuatu yang tidak mungkin. Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah menyelamatkan diri dengan cara mengungsi.

Semula K.H. Imam Zarkasyi dan K.H. Ahmad Sahal agak enggan untuk mengungsi karena, betapapun, ia merasa bertanggung jawab atas sekitar 200 santri yang ada di pondok waktu itu. Namun, karena bujukan Ghozali Anwar dan kawan-kawan, akhirnya kedua kiai tersebut mau juga. Hanya kemudian diatur, mereka yang ikut mengungsi adalah sebagian santri yang besar-besar, sedangkan yang lainnya, terutama yang kecil-kecil, dititipkan di rumah-rumah orang desa. Untuk menjaga pondok selama pengungsian berlangsung, sekaligus menghadapi PKI jika datang, secara khusus kedua kiai tersebut menugaskan santri Shoiman.

Lalu direncanakan pengungsian ke Trenggalek melalui jalur utara melewati Gunung Bayangkaki. Namun, belum sempat pengungsian dilakukan, seorang utusan pemberontak PKI telah datang ke Gontor menyampaikan sepucuk surat. Isinya perintah agar segenap penghuni pondok menyerah dan tidak meninggalkan pondok. Jika perintah ini tidak ditaati, berarti akan terjadi bencana yang tidak terhindarkan bagi segenap keluarga dan pemuda pondok, demikiran surat itu mengancam.

Mulanya K.H. Imam Zarkasyi dan K.H. Ahmad Sahal sempat mempertimbangkan isi surat tersebut, tapi keduanya tetap memutuskan untuk mengungsi. Dilaksanakanlah pengungsian ke Trenggalek secara diam-diam. Pada pagi-pagi buta, mulai diperintahkan kepada santri yang hendak turut mengungsi bersama kiai untuk meninggalkan pondok dua-dua atau tiga-tiga. Rute perjalanan telah dipersiapkan sebelumnya. Ada sekitar 70 santri yang ikut mengungsi waktu itu. Dengan memakai pakaian rakyat biasa, agar tidak mudah dikenal orang, K.H. Imam Zarkasyi dan K.H. Ahmad Sahal meninggalkan pondok pada giliran paling akhir di belakang para santri.

Santri yang masih di pondok ada sekitar 150 orang, termasuk Shoiman yang diserahi tugas untuk menjaga pondok. Selain itu, satu-satunya sesepuh yang masih tinggal di pondok adalah Bapak Rahmat Soekarto, kakak tertua K.H. Ahmad Sahal dan K.H. Imam Zarkasyi, yang juga Lurah Desa Gontor waktu itu.

Dalam pengungsian ke Trenggalek melewati jalur utara ini, orang memang harus berjalan dari kampung ke kampung melewati jalan setapak, sebelum akhirnya melewati wilayah pegunungan. Saat itu, perbekalan yang dibawa santri hanya sejumlah uang yang tidak terlalu banyak, meski sepanjang perjalanan mereka juga hampir tidak pernah menjumpai warung. Perjalanan akhirnya harus menaiki bukit dan menuruni jurang melewati Gunung Bayangkaki. Setelah itu, baru mereka menjumpai warung. Kelompok yang berada di depan sedikit beruntung karena dapat membeli makanan dan minuman yang ada di warung. Tapi, kelompok yang datang belakangan, termasuk K.H. Imam Zarkasyi dan K.H. Ahmad Sahal, hanya bisa gigit jari karena yang mereka jumpai tinggal kendi-kendi kosong dan beberapa kulit pisang atau kulit ubi yang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi.

Matahari mulai condong ke barat. Perjalanan yang harus ditempuh pun bertambah sukar, di samping badan mulai letih dan rasa haus yang tak tertahankan. Tapi, perjalanan tidak bisa berhenti, sampai akhirnya K.H. Imam Zarkasyi dan rombongan tiba di puncak pegunungan Soko. Di sini K.H. Imam Zarkasyi dan K.H. Ahmad Sahal sejenak sempat menikmati indahnya pemandangan alam. Kedua kakak beradik ini lalu menatap ke timur dan dilihatnya Gunung Wilis yang berdiri megah. Dari sebelah utara mereka menyaksikan dataran wilayah Madiun dan Ponorogo dengan latar belakang Gunung Lawu-nya. Di arah barat samar-samar terlihat kampung Gontor berada.

Selama mereka melewati pegunungan Soko sampai masuk Desa Ngadirejo, suasana terlihat aman-aman saja. Namun, secara tidak diduga, ketika mereka mulai tiba di Dukuh Gurik, tiba-tiba K.H. Imam Zarkasyi dan rombongan dikejutkan oleh suara kentongan yang disertai hiruk-pikuk santri yang berada di depan. Kiai Imam Zarkasyi dan Kiai Ahmad Sahal yang masih berada di belakang bergegas menuju ke depan ke tempat asal suara. Apa yang mereka lihat? Segerombolan orang bersenjatakan golok, tombak, bambu runcing, dan sabit ternyata telah mengepung mereka. Melihat sikap dan gerak-gerik mereka, ada firasat tidak baik yang terdetik dalam hati K.H. Imam Zarkasyi dan rombongan tentang gerombolan yang sedang berada di hadapan mereka ini.

Dugaan mereka tidak salah. Gerombolan yang kebanyakan dari kalangan warokan (para jagoan Ponorogo-red)  ini ternyata bagian dari gerombolan PKI. Dengan nada kasar dan bengis, mereka lalu menginterogasi anak-anak Gontor.

Sempat terjadi ketegangan saat itu antara para santri dan pemberontak, malah hampir-hampir terjadi tindak kekerasan. Mereka agaknya ingin memastikan bahwa rombongan santri tersebut adalah anggota tentara Hizbullah. Ini karena mereka tahu, pada 9 September 1948 di Gontor telah diadakan rapat Masyumi untuk wilayah Ponorogo. Mereka menduga kuat Pondok Modern Gontor telah terlibat dalam kegiatan politik, atau mungkin telah dijadikan markas tentara.

Dalam suasana demikian, K.H. Ahmad Sahal sebagai yang tertua di antara anggota rombongan secara tekun meyakinkan pemberontak bahwa rombongan santri ini bukanlah tentara, melainkan murni pelajar. Dari perbincangan yang kadang mengundang ketegangan itu, akhirnya sedikit demi sedikit kaum pemberontak mulai melunak.

“Baik, sementara ini Bapak tidak kami apa-apakan. Tapi Bapak tetap kami tahan menunggu proses lebih lanjut. Pondok Gontor akan kami geledah. Sekiranya keterangan Bapak tadi bertentangan dengan kenyataan yang ada di pondok, akibatnya akan Bapak rasakan sendiri.” Demikian ancaman dari pemimpin pemberontak itu. Untuk menghindari ketegangan, K.H. Ahmad Sahal menyanggupi semua maksud pemimpin pemberontak tadi.

Suatu keberuntungan waktu itu adalah bahwa sejauh itu tampaknya belum ada di antara pemberontak yang tahu secara persis sosok K.H. Ahmad Sahal dan K.H. Imam Zarkasyi. Mungkin mereka juga tidak tahu bahwa kedua kiai tersebut sedang berada di antara rombongan.

Sebagai tindak lanjut dari penangkapan ini, pemberontak kemudian menggiring rombongan ini ke sebuah kamar tahanan di Dukuh Buyut yang masih terletak di Desa Ngadirejo. Kiai Imam Zarkasyi dan rombongan ditahan di Dukuh Buyut selama semalam. Esoknya, mereka dipindah ke Dukuh Ploso. Esoknya lagi, mereka dipindah ke Kecamatan Soko. Di sini mereka ditahan selama dua malam, sebelum akhirnya dibawa ke Ponorogo.

Selama ditahan, pakaian mereka dilucuti. Tinggal lembaran pakaian dalam saja yang masih menempel di badan. Makanan yang diberikan hanya ketela rebus. Suasananya serba tidak pasti. Tidak ada keceriaan meliputi hati anggota rombongan. Semua prihatin. Selama ditahan para santri disarankan, baik oleh K.H. Imam Zarkasyi maupun K.H. Ahmad Sahal, agar selalu berdoa dan bertawakkal kepada Allah karena mereka masih belum tahu nasib apa yang akan menimpa mereka esok hari.

Dalam suasana ketidakpastian itu, terjadi semacam perdebatan kecil antara K.H. Ahmad Sahal dan adiknya, K.H. Imam Zarkasyi. Apa yang mereka perdebatkan adalah siapa di antara mereka yang harus mati jika terpaksa situasi menghendaki pengakuan salah seorang di antara mereka sebagai Kiai Gontor.

Tersusunlah sebuah skenario yang siap dijalankan jika PKI memaksa mereka harus menunjukkan sang kiai. Walaupun skenario telah dipersiapkan, akhirnya tak seorang pun di antara mereka yang harus mati. Kalau sekadar penganiayaan barangkali ada, terutama kepada Ghozali Anwar dan Imam Badri yang disiksa di kamar tahanan Sooko saat diinterogasi secara khusus oleh pemberontak. Mereka diduga kuat sebagai tentara karena fisik mereka tegap. Bahkan, Ghozali Anwar sebenarnya adalah seorang komandan Hizbullah di Ponorogo.

Kiai Imam Zarkasyi dan santri-santrinya yang lain kemudian dipindahkan ke kamar tahanan Sooko, menyusul Ghozali Anwar dan Imam Badri yang telah dipindahkan kemarin sorenya. Ketika bertemu kawan-kawannya, kedua santri tersebut kelihatan memar karena pukulan. Mereka berdua memang sempat dipukuli hingga pingsan karena tidak mau mengaku sebagai tentara. Malam itu, semua anggota rombongan dimasukkan ke dalam kamar tahanan berukuran 4 x 4 meter persegi. Bisa dibayangkan, bagaimana kamar sekecil ini harus dihuni oleh 70 orang.

Esok harinya, rombongan dibawa ke Pulung, lalu dengan berjalan kaki digiring ke Kota Ponorogo. Di Ponorogo, mula-mula mereka ditempatkan di Panti Yugo, rumah besar di sebelah selatan alun-alun yang pernah dijadikan markas Kodim tahun 1960-an. Dari situ kemudian mereka dipindahkan ke Masjid Muhammadiyah. Saat itu ada dua kriteria tahanan. Pertama, tahanan berat yang dikumpulkan di rumah penjara. Umumnya bisa dipastikan mereka akan dibunuh. Kedua, tahanan ringan yang dikumpulkan di Masjid Muhammadiyah Ponorogo.

Di Masjid Muhammadiyah ini, tempat tahanan golongan kedua, juga dipasangi bom yang siap diledakkan. Untung, saat itu reaksi pemerintah RI cepat dan tepat. Tanggal 22 September 1948, Kabinet Hatta telah mengerahkan TNI di bawah pimpinan Kolonel Gatot Subroto yang memberi komando penumpasan antek-antek PKI dari Solo. Hari-hari itu tentara Siliwangi sudah mulai bergerak di wilayah Madiun. Kaum pemberontak pun mencoba melawan. Tapi, belum sempat memberikan perlawanan, mereka sudah kocar-kacir.

Di Ponorogo, di bawah pimpinan Abd. Choliq Hasyim (putra K.H. Hasyim Asy‘ari), tentara berhasil memadamkan aksi pemberontak, termasuk menyelamatkan para tawanan. Secara keseluruhan, dalam tempo kurang dari seminggu, aksi pemberontakan PKI di wilayah Madiun dan sekitarnya sudah dapat dipadamkan. Pimpinannya, Muso ditembak mati, sedangkan Amir Syarifuddin ditangkap untuk kemudian juga dijatuhi hukuman mati.

Terkait peristiwa yang mengancam keberlangsungan pondok ini, K.H. Ahmad Sahal pernah berujar sebagai bentuk ungkapan rasa syukurnya, “Nyawa saya ini nyawa lebihan, mestinya saya sudah mati di tangan PKI sejak di Buyut.” shah wa

Jamrana Peringatan 90 Tahun PMDG: Gontor Pusat Juara Umum dan Gontor 6 Juara Favorit

0

MADUSARI – Kegiatan Jambore dan Raimuna (Jamrana) dalam rangka Peringatan 90 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) resmi ditutup pada Senin (6/9) kemarin. Tepat pukul 14.15 WIB upacara penutupan dimulai. Kegiatan Jamrana tersebut ditutup langsung oleh Wakil Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur, H. Ari Iskandar.

Dalam sambutannya, H. Ari Iskandar menyampaikan bahwa beliau melihat perbedaan yang sangat jauh Antara pramuka di Gontor dan di luar Gontor; kalau di luar Gontor pramuka harus dipaksa, sedangkan di Gontor Pramuka menjadi penggerak kegiatan pondok.

Acara penutupan tersebut diawali dengan pembacaan laporan umum dari panitia penyelenggara yang dibacakan oleh Al Ustadz Zulfahmi Zarkasyi, S.Pd.I. Dalam laporan tersebut dipaparkan ulasan terkait pelaksanaan seluruh kegiatan; mulai dari jalannya perlombaan hingga kegiatan survival camp di kawasan Mojosami dan Sarangan.

Kontingen Gontor Pusat keluar sebagai juara umum setelah menyabet nominasi juara satu kategori penegak maupun penggalang. Sedangkan untuk juara favorit diraih oleh Kontingen Darul Qiyam; dengan pencapaian juara tiga penggalang dan juara dua penegak. irba

Surga Para Penikmat Musik

0

Gontor-Para penikmat dan pemain musik seolah mendapat surganya ketika panggung Grand Final Gontor Music Festival telah berdiri kokoh di lapangan hijau. Selama ini, para musisi harus selalu bersabar karena dalam berbagai pertunjukan besar seperti Drama Arena dan Panggung Gembira, acara musik selalu mendapat porsi yang terbatas.

Gontor Musik Festival merupakan sebuah ajang kompetisi musik santri dari pesantren terbaik seluruh Indonesia. Rentetan acara ini didahului dengan babak penyisihan untuk menyeleksi 14 band yang berasal dari berbagai pesantren di seluruh Indonesia.

Babak penyisihan yang berlangsung pada selasa (23/8) pagi dan malam di depan gedung laboratorium KMI tersebut mengeluarkan 7 kontingen sebagai finalis. Ketujuh kontingen tersebut adalah PMDG Kampus Pusat A dan B, Kampus 2, Kampus 3, Kampus 6, PP Al-Iman Ponorogo, dan PP Al-Aqsha Sumedang yang menjadi kontingen tunggal dari Jawa Barat.

Dalam sambutannya, K.H. Hasan Abdullah Sahal menyampaikan bahwa keindahan dan kesenian adalah fitrah dari Allah, bahkan sejak Nabi Adam lahir pun kesenian itu sudah ada. Maka jika ada orang yang suka dengan ketidakindahan, berarti kemanusiaannya sudah rusak. Beliau menambahkan, sama seperti olahraga, pondok ini berdiri dan berkembang bersama kesenian.

Ana Fannan, Walakinni Muslim,”  Kata Kyai Hasan dilanjutkan pembukaan acara secara resmi dengan permainan drum.

Pada babak final ini, setiap grup diberi waktu maksimal selama 12 menit untuk membawakan satu lagu ciptaan masing-masing dan satu lagu pilihan lagu wajib yang telah ditentukan oleh panitia dengan komposisi pemain 40% guru dan 60% santri.

Acara yang sempat terasa kering beberapa saat karena terlalu lama menunggu pembukaan pecah oleh pertunjukan pembuka dari Gontor Kampus 2 dengan lagu ‘Ku Bersujud Kepadamu’ yang penuh dengan hentakan bass drum. Acara berjalan baik sampai pada giliran terakhir, kampus pusat B tampil dengan tambahan alat berupa saxophone, saron, dan gendang yang membuat penampilan terkesan akan lebih kaya dengan nada-nada indah. Dengan vokalis Malvin dan Andi, kampus pusat B tampil membawakan ‘Amnesia’ dari Gigi

Babak final GMF pada malam yang dingin itu ditutup dengan ‘aku bisa’ dari Kampus Pusat B yang telah di aransemen ulang dengan lantunan gendang dan saron. Lagu yang sangat kental dengan nuansa kebersamaan itu lantas membuat para penonton ikut bernyanyi dan berdendang. AaRum

Perkenalan Sebagai Langkah Awal Identitas dan Perjuangan

0
Pengibaran Bendera Merah Putih oleh Paskibra PMDG Kampus Putri 5
Pengibaran Bendera Merah Putih oleh Paskibra PMDG Kampus Putri 5

Putri Kampus 5-Tak kenal maka tak sayang. Itulah pepatah yang masyhur kita dengar jika kita berbicara tentang perkenalan. Pasalnya, jika kita tidak mengenal sesuatu, tidak mustahil bagi kita jika kita menjauhinya bahkan membencinya. Sama halnya dengan pengenalan terhadap pondok modern, jika kita tidak mengenal pondok ini dengan baik, tidak mustahil bagi kita menjauh dan meninggalkan pondok ini.

Guna memperkenalkan lebih dalam tentang apa itu pondok kepada seluruh warga didalamnya, maka Pondok Modern Darussalam Gontor mengadakan Pekan Perkenalan Khutbatu-l-‘Arsy ( PKA). Pekan Perkenalan Khutbatu-l-‘Arsy selalu diadakan pada awal tahun ajaran KMI. Kepanitian dibentuk jauh-jauh  hari sebelum Pekan Perkenalan Khutbatu-l-‘Arsy guna memperlancar dan mensukseskan acara ini.

Apel Tahunan untuk tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dikarenakan pelaksanakannya serempak dengan Gontor Putri se-Jawa Timur. Yaitu, pada tanggal 04 Dzulqo’dah 1437 H yang bertepatan dengan 07 Agustus 2016. Persiapan yang dilakukan dapat terbilang cukup singkat, mengingat rentetan acara peringatan 90 tahun Gontor yang padat. Pekan Perkenalan Khutbatu-l-‘Arsy yang diikuti oleh seluruh warga Darussalam benar-benar diadakan dari warga Darussalam, oleh warga Darussalam dan untuk warga Darussalam. Latihan ekstrapun rela kami lakukan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Pekan Olahraga dan Seni Darussalam (POD) dan Lomba Perkemahan Antar Gugus Depan (LPAG) telah mengawali rentetan acara pekan perkenalan..  Pekan Perkenalan Khutbatu-l-‘Arsy tahun ini dipimpin oleh Al-Ustadz KH. Masyhudi Subari, M.A selaku Direktur Kuliyatul Muallimin/Muallimat Al-Islamiyah. Dengan bermottokan “Gontor mengestafetkan nilai-nilai perjuangan untuk kemuliaan umat dan bangsa” yang bertujuan agar kami semua dapat mempertahankan nilai-nilai perjuangan Gontor, semata-mata untuk kemajuan dan kemuliaan umat Islam dan bangsa Indonesia. Semua yang telah kita dapatkan tak lepas dari konsistensi dan konsekuensi guru-guru, khususnya sebagai penggerak kegiatan, pelaku dan pelaksana nilai dan sunnah Gontor.

Sebagai wadah kreatifitas santriwati di Pondok Modern, kami juga mempersembahkan penampilan-penampilan yang sangat menghibur dari kalangan santriwati. Diantaranya, atraksi Bhinneka Tunggal Ika, pramuka, tari masal dan senam kreasi.

Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan parade barisan Apel Tahunan, guna melatih santriwati dalam baris-berbaris. Adapun pemenang untuk parade barisan Apel Tahunan Pekan Perkenalan Khutbatu-l-‘Arsy 2016 adalah Juara 1 : Konsulat Surakarta, juara 2 : Konsulat Kediri, juara 3: Konsulat Tangerang. SekpengGP5

Sukses Menggelar Reuni Akbar, Gontor Buktikan Perannya sebagai Perekat Umat

0

14199263_1178727862184251_7535568954137850426_nGONTOR–Sabtu (3/9) pagi, bertepatan dengan tanggal 1 Dzulhijjah 1437, ribuan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor berdatangan dari berbagai pelosok negeri hingga penjuru dunia, menghadiri Reuni Akbar dalam rangka memperingati dan mensyukuri 90 tahun usia pondok. Mereka memadati halaman Masjid Jami‘ dan area Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), duduk tertib dan rapi di atas kursi-kursi yang telah disediakan memanjang seratus meter lebih ke arah timur masjid.

Para alumni dari berbagai angkatan, profesi, pangkat, dan tingkatan usia tersebut menyatu dalam naungan almamater tercinta, dengan rela melepas sekat-sekat pembatas berupa atribut kesukuan, kepartaian, keorganisasian, kelembagaan, jabatan, dan lain sebagainya. Semuanya bisa bersatu dalam bingkai ukhuwah Islamiyah sesuai nilai-nilai Panca Jiwa Pondok Modern Darussalam Gontor yang telah meresap ke dalam hati dan sanubari. Inilah bukti konkret peran Gontor dalam mempersatukan umat. Maka, tidaklah berlebihan jika banyak yang mengatakan bahwa Gontor terlahir ke dunia ini dan hadir di Nusantara sebagai perekat umat dan bangsa sedunia.

Hal senada disampaikan K.H. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, dalam sambutannya. Bahwasanya, sekat-sekat perbedaan yang sering membuat orang-orang berselisih akan mencair di Gontor. Inilah yang dicontohkan tiga pendiri Gontor atau Trimurti. Walaupun mereka seringkali memiliki pandangan berbeda, tapi mereka mampu menyatukan ide dan berjalan bersama-sama. Dengan meneladani Trimurti itulah, anak-anak Gontor bisa diterima di berbagai lapisan masyarakat, dan berperan aktif mempersatukan umat. Kemampuan mempersatukan umat inilah yang tidak disukai musuh-musuh Islam.

Di berbagai kesempatan, termasuk pada acara reuni ini, Ustadz Hasan mengatakan, “Ayat al-Qur’an yang paling dibenci oleh musuh-musuh Islam atau non-Muslim adalah ayat tentang persatuan atau ukhuwah Islamiyah.”

Menyaksikan kehadiran alumni yang terhitung mencapai 11.000 lebih tersebut, K.H. Hasan Abdullah Sahal sempat terharu dan menitikkan air mata di sela-sela sambutannya. Ustadz Hasan tak kuasa menahan rasa bahagia menyaksikan wujud cinta alumni-alumni Gontor terhadap pondok. Demi menjenguk “ibu” di hari itu, mereka rela meluangkan waktu dan meninggalkan segala kesibukan untuk datang ke Gontor. Mereka juga telah menyumbangkan tenaga dan pikiran hingga dana bantuan yang maksimal untuk kesyukuran 90 tahun kampung nan damai “Darussalam”.

Kepada para alumni, Ustadz Hasan berpesan agar senantiasa berbuat yang terbaik, baik untuk kemaslahatan umat manusia di dunia, maupun untuk kepentingan hidup di akhirat kelak. “I‘mal li dunyaaka kaannaka ta‘isyu abadan, wa‘mal li aakhiratika kaannaka tamuutu ghadan,” ujar beliau.

14231777_10210923136013600_31808439263151248_oSelanjutnya, beliau mengatakan, “Gontor ikut perjuangan memerdekakan Republik Indonesia ini. Kita tidak perlu berkoar-koar, karena kita tidak mencari pengakuan. Orang yang tidak punya pengakuan mencari pengakuan. Orang yang tidak punya nama mencari nama. Orang yang tidak punya titel mencari titel. Orang yang tidak mempunyai muka mencari muka. Kita tidak termasuk golongan itu! Tetapi, untuk kemerdekaan Indonesia, sejak zaman sebelum kemerdekaan sampai sekarang, Gontor berada di barisan terdepan.”

Ustadz Hasan juga menyinggung tema Peringatan 90 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, yaitu “Mengestafetkan Nilai-nilai Perjuangan untuk Kemuliaan Umat dan Bangsa”.

“Sejujurnya, saat ini saya bersama Ustadz Syukri dan Ustadz Syamsul memimpin pondok ini hanya 30 persen saja, sisanya sudah bisa ditangani kader-kader kami. Kami sudah berupaya mewariskan nilai-nilai pondok kepada kader-kader yang akan meneruskan perjuangan di pondok ini. Jadi, andaikata kami sudah tiada, mereka sudah siap menggantikan.”

Ustadz Hasan juga menyatakan bahwa Gontor mendidik santri-santrinya untuk menjadi tuan di negeri sendiri. Karena itu, Gontor beserta segenap santrinya tidak rela Tanah Air Indonesia diinjak-injak oleh negara lain.

“Makanya, kalau bisa negeri ini dipimpin anak-anak Gontor,” harap sang kiai.

Acara reuni berlangsung mulai jam sembilan pagi hingga siang hari. Setelah pesan-pesan dan nasihat dari Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal, acara dilanjutkan dengan penyampaian kesan-kesan dan harapan dari para alumni sekaligus tokoh nasional di negeri ini, diwakili Prof. Dr. K.H. Dien Syamsuddin, M.A., Dr. K.H. Hidayat Nur Wahid, M.A., Dr. H. Abdurrahman Muhammad Fachir, dan Dr. K.H. Hasyim Muzadi. Mereka saling berbagi pengalaman dan kisah sukses berkiprah di tingkat nasional maupun internasional dengan menerapkan nilai-nilai yang didapat dari Gontor. Mereka menyampaikan keyakinan berdasarkan pengalaman, bahwa Gontor benar-benar mampu mewarnai dunia. shah wa

Cak Nun di Gontor Putri: Saya Melihat Lautan Cahaya

0

Setelah mengadakan pementasan di Gontor kampus Pusat, kini giliran kampus Putri 1 yang didatangi oleh Emha Ainun Nadjib beserta Kiai Kanjeng dalam rangka peringatan sembilan puluh tahun Gontor dan seperempat abad Gontor Putri pada Kamis (2/9). Bertempat di lapangan hijau Gontor Putri kampus 1, Cak Nun, begitu Emha biasa disapa, mampu menyedot sekitar lima ribu pasang mata yang terdiri dari seluruh dewan guru beserta santriwati Gontor Putri kampus 1 dan 2, mahasiswa UNIDA Gontor kampus Mantingan serta masyarakat umum.

DSC_9888Acara yang dibuka oleh pimpinan pondok, Ustadz KH. Hasan Abdullah Sahal, ini dimulai pukul setengah sembilan malam. Pada akhir sambutannya, kyai Hasan menyatakan bahwa umurnya yang ke-69 pada tahun ini sudah melebihi perkiraan. Namun Cak Nun diiringi oleh seluruh hadirin mendoakan beliau dengan iringan surat al-Fatihah untuk kesehatan dan umur panjang seluruh pimpinan pondok. Karena menurutnya ulama memiliki umur panjang. Kehadirannya sangat dibutuhkan umat.

Cak Nun mengatakan bahwa mayoritas penonton yang berasal dari santriwati ini bagaikan lautan cahaya. “Kalian kelak harus dapat menjadi pemimpin masa depan,” begitu pesannya. Ia pun juga menyatakan bahwa Kiai Kanjeng memiliki hubungan yang sangat erat dengan Gontor. Terbukti dari beberapa personel Kiai Kanjeng yang rupanya adalah wali santri Gontor dan beliau sendiri yang juga merupakan alumni Gontor. Ia pun menyebutkan keutamaan-keutamaan bersekolah di Gontor yang salah satunya adalah pendidikan bagi calon pemimpin masa depan.

DSC_0047Beberapa shalawat dan lagu mengiringi acara berdurasi tiga setengah jam ini. Turut hadir pula Novia Kolopaking, istri Cak Nun, untuk memeriahkan acara di kampus Putri. “Basic saya yang bukan pondok ini begitu takjub begitu memasuki pondok Gontor,” tutur penyanyi Asmara ini.

Pada pertengahan acara Cak Nun mempersilakan kyai Muzammil, salah satu personel Kyai Kanjeng, untuk memberikan tiga ayat yang tepat untuk para santri. Ayat pertama adalah surat al-’Alaq ayat satu, yaitu perintah membaca. Membaca keadaan alam semesta melalui indra, akal dan hati. Kedua adalah surat al-Baqarah ayat 151 yang berisikan perintah untuk bertazkiyah serta berilmu yang bermanfaat. Ketiga adalah surat al-Mujadalah ayat 11. Beliau mengatakan bahwa ilmu itu diberi oleh Allah, sedangkan usaha yang dapat kita lakukan adalah belajar serta berdoa sehingga Allah dapat meninggikan beberapa derajat.

DSC_9950Setelah lagu Kalimah dinyanyikan oleh seluruh vokalis Kiai Kanjeng, Cak Nun turut mengingatkan tentang makna dari surat al-Insyirah. “Sebanyak-banyaknya kesulitan yang kita miliki, sebenarnya masih banyak kemudahan yang kita dapat. Allah akan meningkatkan kekuatan kita atau mengurangi beban. Maka jangan mau kalah dengan putus asa. Kita bisa mengatasi kesulitan karena kita bersama Allah.”

Cak Nun kemudian meminta wakil pengasuh untuk memberikan beberapa kalimat sebelum mengakhiri acara. Ustadz Suharto kembali mengingatkan mengenai penamaan pondok ini dengan Darussalam. Agar orang-orang yang di dalamnya dapat memiliki perangai surgawi. Sebagai penutup, Cak Nun mengajak seluruh penonton untuk menyanyikan lagu syukur sebagai rasa kesyukuran atas umur pondok yang kesembilan puluh tahun. Semoga Gontor dapat tetap eksis dan abadi. (dee)

Emha Ainun Nadjib: Gontor Akan Menjadi Kiblat Sejati Peradaban Masa Depan

0

Ta'dib Cak Nun dan Kyai Kanjeng - Peringatan 90 Tahun Gontor.mp4_003117549GONTOR–Pada Rabu (31/8) malam, suara musik tradisional gamelan terdengar menggema di bawah atmosfer langit Pondok Modern Darussalam Gontor. Malam itu, kemeriahan Peringatan 90 Tahun Gontor terus berlanjut. Kali ini, salah satu “putra” terbaiknya, Emha Ainun Nadjib, yang telah melanglang buana ke berbagai belahan dunia bersama Kiai Kanjeng, grup musik andalannya dalam berdakwah, datang ke Gontor menghibur para santri, guru-guru, dan masyarakat.

Budayawan kelahiran Jombang yang akrab dipanggil Cak Nun itu tidak lupa mengajak sang kakak untuk hadir di pondok tercinta, yaitu Ustadz Ahmad Fuad Effendy alias Cak Fuad, alumnus Gontor angkatan tahun 1965. Mereka berdua memiliki kesan mendalam dan kenangan indah selama belajar di bawah asuhan dan bimbingan Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.

Kedatangan Cak Nun bersama Kiai Kanjeng disambut dengan sukacita oleh Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, terutama K.H. Hasan Abdullah Sahal, yang dikenal begitu akrab dengan Cak Nun dan Cak Fuad sejak semasa santri hingga sekarang. Ustadz Hasan memuji talenta yang dimiliki Cak Nun dalam berkhidmat untuk umat. Pada malam hari itu, beliau memintanya untuk memberikan “hidangan” terbaik untuk dinikmati adik-adik kelasnya, santri-santri Pondok Modern Darussalam Gontor.

“Kakak-kakakmu, terutama Ustadz Emha Ainun Nadjib, dengan talenta yang dimilikinya, telah memberikan banyak hal untuk umat. Pada malam hari ini, beliau hadir bersama kita untuk turut mensyukuri nikmat yang diberikan Allah kepada kita, dengan menyuguhkan “hidangan” berupa hiburan,” kata Ustadz Hasan saat memberikan sambutan sebelum Cak Nun dan Kiai Kanjeng tampil.

“Mari kita menikmati “hidangan” ini sebagai wujud syukur pada Peringatan 90 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor yang kita cintai. Kita harus menikmati kesyukuran ini. Kalau kita nikmati senang hati, Allah akan menambah nikmat-Nya. Sebaliknya, kalau kita tidak senang dengan nikmat Allah, kita justru akan mendapat azab,” ujar beliau kepada santri-santri dan ribuan masyarakat yang memadati Lapangan Hijau Pondok Modern Darussalam Gontor malam itu.

Bagi Cak Nun, Gontor merupakan rumah sekaligus kampung halaman kedua baginya. Ia menyampaikan rasa bahagianya atas pencapaian Gontor hingga memasuki usianya yang ke-90 tahun.

“Saya mengucapkan kebahagiaan kepada kampung dan rumah kedua saya ini, Pondok Modern Gontor. Pondok ini benar-benar dibutuhkan untuk menjadi pemantul cahaya Allah bagi seluruh umat Islam dan Republik Indonesia. Kita semua berharap Gontor benar-benar mampu menjawab tantangan umat Islam dan tantangan yang menimpa bangsa Indonesia saat ini,” tutur Cak Nun menjelang penampilan Kiai Kanjeng.

“Saya masih ingat, K.H. Imam Zarkasyi sering mengatakan bahwa tugas kita adalah menjadi perekat umat. Ketahuilah, kita ini seperti hidup di zaman sebelum Rasulullah. Yaitu, bersuku-suku dan bermusuhan satu sama lain, seperti halnya di Papua. Suku-sukunya berjumlah ratusan, dan tidak mungkin ada kepemimpinan lahir di masyarakat Papua karena adanya keegoisan dalam diri masing-masing. Begitu juga dengan kita umat Islam. Jika terus bersikap saling egois, tidak mungkin kita mempunyai satu pimpinan yang diharapkan.”

“Ya… Allah, jadikanlah rumah dan kampung halaman keduaku ini, Pondok Modern Darussalam Gontor, sebagai utusan-Mu, duta-Mu yang Engkau pandu menjadi satu sistem budaya, satu sistem ilmu, satu sistem sosial, dan satu sistem ideologi, yang tidak berpihak ke timur maupun ke barat, sehingga terpadu di satu titik, menjadi kiblat sejati bagi peradaban yang akan datang,” ucap Cak Nun menyempatkan diri berdoa untuk pondoknya.

Kemudian ia mengajak khalayak yang tengah menantikan penampilannya untuk ridha kepada Allah, sehingga Allah pun meridhai. Ia mengungkap bahwa musik yang mereka aransemen adalah musik yang persisinya menuju ridha Allah. Itulah hiburan sejatinya menurutnya.

“Andaikan tidak ada musik, lagu, atau puisi, maka sesungguhnya hiburan sejati itu bisa apa saja, asalkan membuatmu lebih mendekat kepada Allah. Itulah hiburan sejati. Maka, senikmat apapun hiburan dunia, tapi jika itu tidak membuatmu dekat kepada Allah, itu sama sekali bukan hiburan, tapi bumerang bagi kita semua. Jadi, semua yang kita lakukan malam hari ini harus diregulasi bahwa tidak ada apapun, tidak ada bunyi, atau kata yang terdengar dan terlihat kecuali yang membuat kita berada di dalam konstruksi raadhiyatan mardhiyyah.”

Pertunjukan Kiai Kanjeng pada malam itu diawali dengan penampilan para santri peserta Pelatihan dan Workshop bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng sehari sebelumnya. Walaupun hanya berlatih sehari, mereka mampu tampil dengan baik membawakan sebuah lagu shalawat.

Kemudian mereka berkolaborasi dengan Kiai Kanjeng membawakan lagu “Hymne Oh Pondokku”. Menariknya, lagu ini mereka nyanyikan dalam 10 genre musik, antara lain terbangan, keroncong, langgam, rebana, gendang Jawa, reggae, pop, rock, akapela, dan swing. Cak Fuad juga tampil membawakan Syair Abu Nawas khas Gontor diiringi gamelan Kiai Kanjeng. Acara pun makin menarik dengan rentetan lagu-lagu aransemen khas Kiai Kanjeng.

Di tengah-tengah acara, putra bungsu K.H. Hasan Abdullah Sahal, Hamas Arfeddin Khosyatullah, berkesempatan tampil membawakan puisi untuk ayahnya, berjudul “Puisi untuk Kiai”. Kemudian Cak Nun juga meminta seorang anggota Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor yang sangat dikenalnya, yaitu K.H. Dawam Saleh, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlah Lamongan, untuk membacakan sebuah puisi karya Pak Dawam sendiri.

Acara pada malam hari itu berlangsung selama empat jam lebih, namun sangat menarik dan mendidik. Dalam penampilannya, Cak Nun berinteraksi aktif dengan para penonton melalui sejumlah pertanyaan yang ia lontarkan untuk mereka jawab. Ada juga yang diminta menyanyikan lagu Islami kesukaan. Untuk ini, Cak Nun telah mempersiapkan 30 buah peci khas Kiai Kanjeng sebagai hadiah bagi mereka yang terlibat aktif menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. shah wa