Home Blog Page 411

Raih Tiga Piala Emas, Kafilah Gontor Pusat Dinobatkan sebagai Juara Umum HTQ 90 Tahun Gontor

0

HTQ (2)GONTOR–Kafilah Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus Pusat berhasil meraih Juara Umum pada Haflah Tilawatil Qur’an (HTQ) 2016 yang berlangsung selama empat hari, Ahad–Rabu, 21–24 Agustus 2016. Perlombaan sejenis Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ini diikuti seluruh Kampus Cabang Gontor dan Pondok Pesantren Alumni se-Indonesia. Kafilah Gontor Pusat unggul dengan perolehan tiga piala emas dan empat piala perak dari tujuh cabang perlombaan yang ada.

Ketujuh cabang lomba HTQ yang diadakan dalam rangka memperingati 90 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor tersebut mencakup Murattalah Kategori Kibar, Murattalah Kategori Sighar, Mujawwadah Kategori Kibar, Mujawwadah Kategori Sighar, Hifzhul Qur’an, Syarhul Qur’an, dan Hadrah Kontemporer.

Para pemenang masing-masing cabang lomba beserta peraih Juara Umum diumumkan pada acara penutupan yang diadakan di depan Gedung Aligarh Pondok Modern Darussalam Gontor, Rabu (24/8) malam. Acara dihadiri Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor beserta guru-guru Kulliyatu-l-Mu‘allimin Al-Islamiyah (KMI).

“Ini adalah HTQ perdana yang diadakan secara nasional, diikuti seluruh kampus Pondok Modern Darussalam Gontor dan Pondok Pesantren Alumni se-Indonesia. Para pesertanya merupakan utusan-utusan terbaik dari pondoknya masing-masing. Karena itu, tidak mudah bagi dewan juri untuk menentukan para juara HTQ kali ini. Mereka tampil dengan kemampuan terbaik dan memukau kita semua,” kata Ketua Panitia HTQ, Wahyu Septrianto, saat menyampaikan laporan pelaksanaan HTQ 90 Tahun Gontor.

Namun, Gontor sebagai tuan rumah tetap mampu bersaing. Tiga piala emas yang menghantarkan Kafilah Gontor Kampus Pusat menjadi Juara Umum tersebut berasal dari cabang Murattalah Kategori Kibar, Murattalah Kategori Sighar, dan Hifdzul Qur’an. Sedangkan piala emas dari keempat cabang lomba lainnya diraih Kafilah Pondok Pesantren Riyadlul ‘Ulum Condong Tasikmalaya (Mujawwadah Kategori Kibar), Kafilah Pondok Pesantren La Tansa Banten (Mujawwadah Kategori Sighar), Kafilah Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep (Syarhul Quran), dan Kafilah Pondok Pesantren Baitul Hikmah Jember (Hadrah Kontemporer).

Kafilah Pondok Pesantren La Tansa Banten juga berhasil meraih piala perunggu dari cabang Murattalah Kategori Kibar. Sementara Kafilah Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep menambah piala emasnya dengan satu piala perak dari cabang Hifzul Qur’an dan satu piala perunggu dari cabang Mujawwadah Kategori Kibar. Sedangkan Kafilah Pondok Pesantren Baitul Hikmah Jember melengkapi perolehan emasnya dengan piala perak dari cabang Murattalah Kategori Sighar. Satu piala perak lainnya diraih Kafilah Gontor Kampus 2 dari cabang Murattalah Kategori Kibar.

Sisanya, piala perunggu dari cabang Murattalah Kategori Sighar diraih Kafilah Pondok Modern Gontor Kampus 5. Piala perunggu dari cabang Mujawwadah Kategori Sighar diraih Kafilah Pondok Modern Gontor Kampus 9. Terakhir, Kafilah Pondok Pesantren Darussalam Garut memborong piala perunggu dari tiga cabang lomba, yaitu Hifdzul Qur’an, Syarhul Qur’an, dan Hadrah Kontemporer. shah wa

Gelar Napak Tilas ke Sooko, Gontor Telusuri Sejarah Perjuangan Trimurti Menyelamatkan Diri dari Kejaran PKI

0

Gontor-SookoGONTOR–Pada hari Rabu, tanggal 7 September 2016 mendatang, Pondok Modern Darussalam Gontor akan menggelar acara bertajuk “Napak Tilas Perjalanan Trimurti dari Pengejaran PKI ke Sooko”. Acara eksklusif dalam rangka mengingat kembali sejarah perjuangan dan pengorbanan para pendiri Gontor pada tahun 1948 tersebut merupakan bagian dari Peringatan 90 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.

Mulai hari Senin (22/8) lalu, panitia telah membuka pendaftaran bagi siapa saja yang berminat mengikuti napak tilas ini. Namun, jumlah pesertanya terbatas, hanya untuk 100 orang. Rencananya, pendaftaran peserta akan ditutup pada tanggal 2 September 2016 nanti. Namun, jika jumlah peserta yang terdaftar sudah mencapai 100 orang, maka pendaftaran pun langsung ditutup.

Terkait napak tilas ini, ceritanya, sebagaimana yang tertulis di buku biografinya Pak Zar (K.H. Imam Zarkasyi), pada tahun 1948 silam, tepatnya pada tanggal 18 September 1948, meletuslah pemberontakan PKI di Madiun. Amir Syarifuddin, yang pada pertengahan tahun 1947 sempat diangkat menjadi Perdana Menteri dan mewakili pemerintah RI dalam Perjanjian Renville (17 Januari 1948), secara terang-terangan membuka kedoknya bahwa ia adalah seorang komunis. Ia bekerja sama dengan Muso, tokoh PKI yang baru saja datang dari Moskow, menggerakkan PKI untuk mengadakan kudeta terhadap pemerintah yang ada, sekaligus memproklamasikan Negara Komunis Indonesia.

Di Gontor, keadaan yang semula tenang menjadi penuh kekhawatiran. Meskipun jarak antara Gontor–Madiun terpaut 40 kilometer, semua peristiwa itu membuat para santri menjadi resah. Mereka khawatir akan menjadi korban situasi yang tidak menguntungkan itu. Sebagian santri kemudian ada yang minta izin pulang, khususnya mereka yang bertempat tinggal tidak jauh dari pondok. Sementara itu, sebagian lain masih banyak yang tetap tinggal di dalam pondok. Kiai Imam Zarkasyi dan Kiai Ahmad Sahal, sebagai Pimpinan Pondok, mencoba bersikap tenang sambil berpikir tentang langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mengantisipasi keadaan tersebut.

Setelah dua hari berlalu, pemberontak mulai memasuki wilayah Jetis yang hanya berjarak 3 kilometer di sebelah barat Gontor. Saat itu mulai terdengar berita bahwa sejumlah kiai telah dihabisi oleh PKI. Mendengar berita-berita semacam itu, sejumlah orang mengkhawatirkan keselamatan K.H. Ahmad Sahal dan K.H. Imam Zarkasyi.

Beliau berdua kemudian bermusyawarah dengan beberapa santri seniornya, seperti Ghozali Anwar dan Shoiman. Dari musyawarah itu lalu ditetapkan bahwa melawan pemberontak adalah sesuatu yang tidak mungkin. Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah menyelamatkan diri dengan cara mengungsi.

Semula K.H. Imam Zarkasyi dan K.H. Ahmad Sahal agak enggan untuk mengungsi karena, betapapun, ia merasa bertanggung jawab atas sekitar 200 santri yang ada di pondok waktu itu. Namun, karena bujukan Ghozali Anwar dan kawan-kawan, akhirnya kedua kiai tersebut mau juga. Hanya kemudian diatur, mereka yang ikut mengungsi adalah sebagian santri yang besar-besar, sedangkan yang lainnya, terutama yang kecil-kecil, dititipkan di rumah-rumah orang desa. Untuk menjaga pondok selama pengungsian berlangsung, sekaligus menghadapi PKI jika datang, secara khusus kedua kiai tersebut menugaskan santri Shoiman.

Lalu direncanakan pengungsian ke Trenggalek melalui jalur utara melewati Gunung Bayangkaki. Namun, belum sempat pengungsian dilakukan, seorang utusan pemberontak PKI telah datang ke Gontor menyampaikan sepucuk surat. Isinya perintah agar segenap penghuni pondok menyerah dan tidak meninggalkan pondok. Jika perintah ini tidak ditaati, berarti akan terjadi bencana yang tidak terhindarkan bagi segenap keluarga dan pemuda pondok, demikiran surat itu mengancam.

Mulanya K.H. Imam Zarkasyi dan K.H. Ahmad Sahal sempat mempertimbangkan isi surat tersebut, tapi keduanya tetap memutuskan untuk mengungsi. Dilaksanakanlah pengungsian ke Trenggalek secara diam-diam. Pada pagi-pagi buta, mulai diperintahkan kepada santri yang hendak turut mengungsi bersama kiai untuk meninggalkan pondok dua-dua atau tiga-tiga. Rute perjalanan telah dipersiapkan sebelumnya. Ada sekitar 70 santri yang ikut mengungsi waktu itu. Dengan memakai pakaian rakyat biasa, agar tidak mudah dikenal orang, K.H. Imam Zarkasyi dan K.H. Ahmad Sahal meninggalkan pondok pada giliran paling akhir di belakang para santri.

Santri yang masih di pondok ada sekitar 150 orang, termasuk Shoiman yang diserahi tugas untuk menjaga pondok. Selain itu, satu-satunya sesepuh yang masih tinggal di pondok adalah Bapak Rahmat Soekarto, kakak tertua K.H. Ahmad Sahal dan K.H. Imam Zarkasyi, yang juga Lurah Desa Gontor waktu itu.

Dalam pengungsian ke Trenggalek melewati jalur utara ini, orang memang harus berjalan dari kampung ke kampung melewati jalan setapak, sebelum akhirnya melewati wilayah pegunungan. Saat itu, perbekalan yang dibawa santri hanya sejumlah uang yang tidak terlalu banyak, meski sepanjang perjalanan mereka juga hampir tidak pernah menjumpai warung. Perjalanan akhirnya harus menaiki bukit dan menuruni jurang melewati Gunung Bayangkaki. Setelah itu, baru mereka menjumpai warung. Kelompok yang berada di depan sedikit beruntung karena dapat membeli makanan dan minuman yang ada di warung. Tapi, kelompok yang datang belakangan, termasuk K.H. Imam Zarkasyi dan K.H. Ahmad Sahal, hanya bisa gigit jari karena yang mereka jumpai tinggal kendi-kendi kosong dan beberapa kulit pisang atau kulit ubi yang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi.

Matahari mulai condong ke barat. Perjalanan yang harus ditempuh pun bertambah sukar, di samping badan mulai letih dan rasa haus yang tak tertahankan. Tapi, perjalanan tidak bisa berhenti, sampai akhirnya K.H. Imam Zarkasyi dan rombongan tiba di puncak pegunungan Soko. Di sini K.H. Imam Zarkasyi dan K.H. Ahmad Sahal sejenak sempat menikmati indahnya pemandangan alam. Kedua kakak beradik ini lalu menatap ke timur dan dilihatnya Gunung Wilis yang berdiri megah. Dari sebelah utara mereka menyaksikan dataran wilayah Madiun dan Ponorogo dengan latar belakang Gunung Lawu-nya. Di arah barat samar-samar terlihat kampung Gontor berada.

Selama mereka melewati pegunungan Soko sampai masuk Desa Ngadirejo, suasana terlihat aman-aman saja. Namun, secara tidak diduga, ketika mereka mulai tiba di Dukuh Gurik, tiba-tiba K.H. Imam Zarkasyi dan rombongan dikejutkan oleh suara kentongan yang disertai hiruk-pikuk santri yang berada di depan. Kiai Imam Zarkasyi dan Kiai Ahmad Sahal yang masih berada di belakang bergegas menuju ke depan ke tempat asal suara. Apa yang mereka lihat? Segerombolan orang bersenjatakan golok, tombak, bambu runcing, dan sabit ternyata telah mengepung mereka. Melihat sikap dan gerak-gerik mereka, ada firasat tidak baik yang terdetik dalam hati K.H. Imam Zarkasyi dan rombongan tentang gerombolan yang sedang berada di hadapan mereka ini.

Dugaan mereka tidak salah. Gerombolan yang kebanyakan dari kalangan warokan (para jagoan Ponorogo-red)  ini ternyata bagian dari gerombolan PKI. Dengan nada kasar dan bengis, mereka lalu menginterogasi anak-anak Gontor.

Sempat terjadi ketegangan saat itu antara para santri dan pemberontak, malah hampir-hampir terjadi tindak kekerasan. Mereka agaknya ingin memastikan bahwa rombongan santri tersebut adalah anggota tentara Hizbullah. Ini karena mereka tahu, pada 9 September 1948 di Gontor telah diadakan rapat Masyumi untuk wilayah Ponorogo. Mereka menduga kuat Pondok Modern Gontor telah terlibat dalam kegiatan politik, atau mungkin telah dijadikan markas tentara.

Dalam suasana demikian, K.H. Ahmad Sahal sebagai yang tertua di antara anggota rombongan secara tekun meyakinkan pemberontak bahwa rombongan santri ini bukanlah tentara, melainkan murni pelajar. Dari perbincangan yang kadang mengundang ketegangan itu, akhirnya sedikit demi sedikit kaum pemberontak mulai melunak.

“Baik, sementara ini Bapak tidak kami apa-apakan. Tapi Bapak tetap kami tahan menunggu proses lebih lanjut. Pondok Gontor akan kami geledah. Sekiranya keterangan Bapak tadi bertentangan dengan kenyataan yang ada di pondok, akibatnya akan Bapak rasakan sendiri.” Demikian ancaman dari pemimpin pemberontak itu. Untuk menghindari ketegangan, K.H. Ahmad Sahal menyanggupi semua maksud pemimpin pemberontak tadi.

Suatu keberuntungan waktu itu adalah bahwa sejauh itu tampaknya belum ada di antara pemberontak yang tahu secara persis sosok K.H. Ahmad Sahal dan K.H. Imam Zarkasyi. Mungkin mereka juga tidak tahu bahwa kedua kiai tersebut sedang berada di antara rombongan.

Sebagai tindak lanjut dari penangkapan ini, pemberontak kemudian menggiring rombongan ini ke sebuah kamar tahanan di Dukuh Buyut yang masih terletak di Desa Ngadirejo. Kiai Imam Zarkasyi dan rombongan ditahan di Dukuh Buyut selama semalam. Esoknya, mereka dipindah ke Dukuh Ploso. Esoknya lagi, mereka dipindah ke Kecamatan Soko. Di sini mereka ditahan selama dua malam, sebelum akhirnya dibawa ke Ponorogo.

Selama ditahan, pakaian mereka dilucuti. Tinggal lembaran pakaian dalam saja yang masih menempel di badan. Makanan yang diberikan hanya ketela rebus. Suasananya serba tidak pasti. Tidak ada keceriaan meliputi hati anggota rombongan. Semua prihatin. Selama ditahan para santri disarankan, baik oleh K.H. Imam Zarkasyi maupun K.H. Ahmad Sahal, agar selalu berdoa dan bertawakkal kepada Allah karena mereka masih belum tahu nasib apa yang akan menimpa mereka esok hari.

Dalam suasana ketidakpastian itu, terjadi semacam perdebatan kecil antara K.H. Ahmad Sahal dan adiknya, K.H. Imam Zarkasyi. Apa yang mereka perdebatkan adalah siapa di antara mereka yang harus mati jika terpaksa situasi menghendaki pengakuan salah seorang di antara mereka sebagai Kiai Gontor.

Tersusunlah sebuah skenario yang siap dijalankan jika PKI memaksa mereka harus menunjukkan sang kiai. Walaupun skenario telah dipersiapkan, akhirnya tak seorang pun di antara mereka yang harus mati. Kalau sekadar penganiayaan barangkali ada, terutama kepada Ghozali Anwar dan Imam Badri yang disiksa di kamar tahanan Sooko saat diinterogasi secara khusus oleh pemberontak. Mereka diduga kuat sebagai tentara karena fisik mereka tegap. Bahkan, Ghozali Anwar sebenarnya adalah seorang komandan Hizbullah di Ponorogo.

Kiai Imam Zarkasyi dan santri-santrinya yang lain kemudian dipindahkan ke kamar tahanan Sooko, menyusul Ghozali Anwar dan Imam Badri yang telah dipindahkan kemarin sorenya. Ketika bertemu kawan-kawannya, kedua santri tersebut kelihatan memar karena pukulan. Mereka berdua memang sempat dipukuli hingga pingsan karena tidak mau mengaku sebagai tentara. Malam itu, semua anggota rombongan dimasukkan ke dalam kamar tahanan berukuran 4 x 4 meter persegi. Bisa dibayangkan, bagaimana kamar sekecil ini harus dihuni oleh 70 orang.

Esok harinya, rombongan dibawa ke Pulung, lalu dengan berjalan kaki digiring ke Kota Ponorogo. Di Ponorogo, mula-mula mereka ditempatkan di Panti Yugo, rumah besar di sebelah selatan alun-alun yang pernah dijadikan markas Kodim tahun 1960-an. Dari situ kemudian mereka dipindahkan ke Masjid Muhammadiyah. Saat itu ada dua kriteria tahanan. Pertama, tahanan berat yang dikumpulkan di rumah penjara. Umumnya bisa dipastikan mereka akan dibunuh. Kedua, tahanan ringan yang dikumpulkan di Masjid Muhammadiyah Ponorogo.

Di Masjid Muhammadiyah ini, tempat tahanan golongan kedua, juga dipasangi bom yang siap diledakkan. Untung, saat itu reaksi pemerintah RI cepat dan tepat. Tanggal 22 September 1948, Kabinet Hatta telah mengerahkan TNI di bawah pimpinan Kolonel Gatot Subroto yang memberi komando penumpasan antek-antek PKI dari Solo. Hari-hari itu tentara Siliwangi sudah mulai bergerak di wilayah Madiun. Kaum pemberontak pun mencoba melawan. Tapi, belum sempat memberikan perlawanan, mereka sudah kocar-kacir.

Di Ponorogo, di bawah pimpinan Abd. Choliq Hasyim (putra K.H. Hasyim Asy‘ari), tentara berhasil memadamkan aksi pemberontak, termasuk menyelamatkan para tawanan. Secara keseluruhan, dalam tempo kurang dari seminggu, aksi pemberontakan PKI di wilayah Madiun dan sekitarnya sudah dapat dipadamkan. Muso ditembak mati, sedangkan Amir Syarifuddin ditangkap untuk kemudian dijatuhi hukuman mati.

Itulah sekilas sejarah yang akan ditelusuri para peserta napak tilas. Rombongan terbatas yang ditargetkan berjumlah 100 orang itu direncanakan berangkat dari Kampus Pusat Pondok Modern Darussalam Gontor setelah Subuh tepat. Menurut perkiraan, jika tak ada halangan di perjalanan, acara napak tilas ini bisa diselesaikan sebelum Ashar. Bagi yang berminat menelusuri sebagian jejak sejarah perjuangan Trimurti ini bisa menghubungi panitia melalui Ustadz Musthofa (081234397333) atau Ustadz Prayitno (082338651939). shah wa

Ustadz Hasan: Jadilah Manusia Terhormat dan Berharga

0

Pembukaan Porseni 90 Tahun (1)GONTOR–Upacara Pembukaan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) dan Olimpiade Sains dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Mendikbud RI), Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.Ap., Ahad (21/8) pagi. Pada kesempatan tersebut, K.H. Hasan Abdullah Sahal bertindak sebagai inspektur upacara. Dalam sambutannya, Ustadz Hasan menegaskan totalitas pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor yang akan menjadikan santri-santrinya terhormat dan berharga.

“Selama 90 tahun, Pondok Modern Darussalam Gontor mendidik santri-santrinya dengan totalitas pendidikan, yaitu membina santri-santri agar nantinya bisa membina umat ini ke arah kesempurnaan dalam hidup. Pendidikan itu adalah pendidikan jasmaniah-fisik, pendidikan rohaniah-spirit, pendidikan kejiwaan, pendidikan keindahan, juga pendidikan intelektualitas, pendidikan sosial, pendidikan keterampilan, dan lain sebagainya. Semuanya diajarkan di dalam pondok ini, dan langsung dilaksanakan di dalam perbuatan serta perilaku dalam kehidupan bersama di pondok kita,” tutur Ustadz Hasan saat memulai sambutannya.

“Selama 90 tahun kita mengalami suka dan duka, dengan pahit getirnya perjalanan, gesekan-gesekan, benturan-benturan, dan mengalami pasang surutnya santri-santri dalam menghadapi masyarakat, menghadapi penjajahan, dan lain-lain. Maka, mari kita bersyukur bersama, bahwasanya olahraga, kesenian, kecerdasan, dan kemasyarakatan yang kita tanamkan kepada anak-anak selama 90 tahun ini berhasil menjadikan mereka tidak canggung mengarungi dunia kehidupan untuk mendidik umat.”

“Maka bersyukurlah kita masih bisa hidup di dalam sebuah kehidupan yang fitriyah, hidup yang sesuai dengan kemanusiaan yang sempurna. Dengan Panca Jiwa: Keikhlasan, Kesederhanaan, Kemandirian, Ukhuwah Islamiyah, dan Kebebasan, anak-anakku sekalian bisa membangun diri, membina diri, sehingga mempunyai harga diri. Kita hanya harus menjaga diri dan terus tahan diri untuk masa yang akan datang. Sehingga, manusia yang mempunyai harga diri dihargai dan dihormati. Kita tidak minta dihargai, tapi jadilah manusia-manusia terhormat dan berharga.”

“Anak-anakku sekalian, antara pemuda dan olahraga tak bisa dipisahkan. Begitu juga, antara manusia dan kesenian tak bisa dipisahkan. Di sini, anak-anak kami ajari untuk hidup bergairah, bersemangat, bukan gerah dan tidak semangat.”

“Pondok Modern seperti kita ini banyak di Indonesia. Sehingga bangsa kita bisa merasakan manfaatnya, yaitu menjadi bangsa yang terhormat, meskipun tidak minta dihormati.”

“Kita akan menegakkan Islam dengan iman dan ilmu pengetahuan, dengan iptek, demi ‘izzul Islam wal muslimin,” tutup Ustadz Hasan mengakhiri sambutannya. shah wa

Mendikbud RI: Porseni dan Olimpiade Sains di Gontor Wujud Pendidikan Karakter

0

Pembukaan PORSENI & OLIMPIADE SAINS Peringatan 90 Tahun Gontor - YouTube.MP4_003807584GONTOR–Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Mendikbud RI), Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.Ap., membuka acara Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) dan Olimpiade Sains, Ahad (21/8) pagi, dalam rangkaian acara Peringatan 90 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Upacara Pembukaan berlangsung di Lapangan Hijau PMDG, disemarakkan dengan penampilan dan atraksi memukau dari santri-santri Gontor.

Saat mendapat kehormatan dari tuan rumah untuk memberikan amanat, Bapak Mendikbud RI menyampaikan ucapan selamatnya atas dirgahayu 90 tahun Gontor.

“Atas nama pemerintah, saya mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-90 kepada Pondok Modern Darussalam Gontor,” katanya.

“Saya sangat mendukung acara Porseni dan Olimpiade Sains yang diadakan Gontor ini. Kegiatan ini adalah wujud dari pendidikan karakter, dan inilah yang seharusnya terus ditingkatkan,” ujar Bapak Menteri melanjutkan sambutannya.

Bapak Muhadjir Effendy juga berpesan kepada para peserta Porseni dan Olimpiade Sains yang berasal dari kampus-kampus Gontor dan pondok-pondok alumni se-Indonesia tersebut, agar jangan hanya memburu kemenangan.

“Apa artinya kemenangan kalau itu didapat dengan cara yang tidak jujur, dengan cara yang culas, dan tidak mengedepankan sportivitas. Siapapun di antara kalian semua ini nanti tidak ada yang kalah, semuanya jadi pemenang pada Porseni dan Olimpiade ini jika kalian bertanding dengan sportif,” nasihatnya.

“Saya sangat percaya dengan para pimpinan dan guru-guru di pesantren ini, bahwa beliau-beliau akan membawa para santri menjadi penerima estafet nilai-nilai perjuangan untuk kemuliaan umat dan bangsa,” tutupnya. shah wa

Mendikbud RI Buka Perhelatan Porseni dan Olimpiade Sains di Gontor

0

GONTOR – Mendikbud RI, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.Ap., membuka secara resmi Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) dan Olimpiade Sains Antarpondok Pesantren se-Indonesia dalam rangka Peringatan 90 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Ahad (21/8) pagi. Dalam kegiatan ini, Mendikbud RI disertai dengan Sekretariat Jenderal Kemendikbud, Didik Suhardi, Ph.D., istri, dan anak, serta rombongan ajudan dan protokoler kementerian.

Dalam sambutannya, Mendikbud RI sangat mengapresiasi bagaimana kiprah Gontor dalam membina generasi penerus bangsa. Selain itu, beliau juga membahas terkait program Presiden RI dalam pembuatan Kartu Indonesia Pintar. “Akan tetapi, jalur kepengurusan kartu ini, bukan melalui Kemendikbud, namun melalui Kemenag. Dan setahu saya, Menteri Agama saat ini adalah alumni Gontor,” ujar Mendikbud RI di sela-sela amanat.

Grand Opening pada Pembukaan Porseni dan Olimpiade Sains.
Grand Opening pada Pembukaan Porseni dan Olimpiade Sains.

Usai amanat dari Mendikbud RI, acara dilanjutkan dengan penampilan dari santri Gontor. Diantara penampilan tersebut; Grand Opening, Tari Reog Ponorogo, Persatuan Senam Darussalam, Persatuan Beladiri Darussalam, dan Marching Band Gema Nada Darussalam. Mendikbud RI sangat antusias dalam menyaksikan setiap penampilan yang disajikan oleh para santri.

Dalam Porseni Peringatan 90 tahun, sebanyak 2000 orang santri yang berasal dari 37 kontingen Kampus-kampus Gontor dan Pondok Alumni, baik dalam maupun luar jawa. Para santri utusan dari pondoknya masing-masing ini mengikuti perlombaan di Gontor dalam bidang olahraga, seni, HTQ, sains, dan musik. Bidang Olahraga, memperlombakan 9 cabang, kemudian bidang HTQ memperlombakan 5 cabang, dan bidang Sains memperlombakan 10 cabang lomba.

Seluruh rentetan lomba tersebut akan diakhiri dengan penampilan Wali Band pada tanggal 28 Agustus 2016 mendatang. Untuk pentas Wali Band, tak hanya diperuntukkan bagi peserta lomba, namun juga bagi masyarakat umum.binhadjid

Lomba Kaligrafi Warnai Peringatan 90 Tahun Gontor dan 25 Tahun Gontor Putri

0

14054403_1162682810463246_3300021322676093552_oGONTOR PUTRI–Gebyar Peringatan 90 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor dan 25 Tahun Gontor Putri terus berlanjut. Ahad (21/8) lalu, diadakan Lomba Kaligrafi Antarkampus Gontor Putri dan Pondok Alumni, bertempat di Auditorium Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 1, Sambirejo, Mantingan, Ngawi.

Lomba ini terbagi menjadi tiga kategori, yaitu Kategori Naskah, Kategori Dekorasi, dan Kategori Hiasan Mushaf.

Untuk masing-masing kategori, tiap kontingen mengutus satu perwakilan. Menurut keterangan dari Panitia Pelaksana, peserta terdaftar sebanyak 11 kontingen. Selain kontingen Gontor Putri Kampus 1–6, peserta lainnya berasal dari Pondok Pesantren (Ponpes) Aisiyah Boarding School, Ponpes Darussalam Tasikmalaya, Ponpes Mamba‘ul Ulum, Ponpes Darussalam Garut, dan Ponpes Al-Amin Madura.

Bertindak sebagai dewan juri bersama Ustadz Muhammad Zainul Arifin, S.Ag. dan Ustadz Rizqi Abdul Khatib, S.Pd.I., Ustadz Muhammad Nur, Lc. menyebutkan beberapa kriteria penilaian untuk masing-masing kategori. Menurutnya, dalam melakukan penilaian, segi kaidah menjadi prioritas utama untuk semua kategori.

“Ada beberapa kriteria penilaian. Prioritas utama yang kami nilai dari semua kategori adalah kaidahnya, terutama untuk Kaligrafi Cabang Naskah. Setelah itu kami menilai kerapian dan keindahannya, ditambah ornamen khusus Kategori Cabang Dekorasi dan Kategori Cabang Hiasan Mushaf,” jelas Ustadz Muhammad Nur.

Acara lomba berlangsung selama delapan jam, dimulai pukul 08.00 WIB dan berakhir pukul 16.00 WIB. Penjurian berlangsung selama dua jam setelah masing-masing peserta menyelesaikan kaligrafinya sesuai durasi waktu yang diberikan.

Setelah melakukan penilaian, dewan juri melihat banyak peserta yang kurang melakukan persiapan. “Menurut kami, rata-rata peserta kurang persiapan. Hal ini mungkin disebabkan masih kurangnya even lomba kaligrafi semacam ini. Karena itu, kami berharap sekali even-even lomba semacam ini lebih sering diadakan untuk mengasah bakat dan kreativitas santri,” ujar Ustadz Muhammad Nur.

Selain itu, ia juga berharap jenis lomba kaligrafi yang diselenggarakan lebih dari sekadar tiga kategori tersebut. Semoga jenis lomba bisa meningkat dan lebih menjurus kepada penguatan kaidah dengan syarat-syarat penulisan serta kriteria-kriteria yang bersifat internasional. Saya yakin Gontor mampu melaksanakannya,” harapnya.

Para juara akan diumumkan pada hari Jum‘at mendatang, 26 Agustus 2016, bersamaan dengan penutupan Porseni dan pembagian hadiah. shah wa

Wakil Presiden RI: Gontor Pesantren Internasional

0

13987397_1292293660800536_129026586162032891_oGONTOR–Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres RI), Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla mengatakan bahwa Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan pesantren yang sudah bersifat nasional sejak dulu, bahkan kini sudah mendunia. Hal ini disampaikan di hadapan seluruh santri, guru-guru, dan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor, serta tamu undangan yang turut menghadiri acara Sujud Syukur dan Pembukaan Peringatan 90 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Sabtu (20/8) lalu.

“Gontor itu pesantren yang bersifat nasional, bahkan internasional,” kata Wapres Jusuf Kalla.

Hal senada juga disampaikan Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo, S.H., M.Hum., saat memberikan sambutannya pada acara yang dilaksanakan di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) tersebut.

“Gontor ini sudah bukan milik Ponorogo lagi. Bahkan, bukan lagi milik Jawa Timur. Tapi, sudah menjadi milik dunia. Memang luar biasa sumbangsih Gontor untuk Indonesia,” kata Bapak Gubernur yang akrab dipanggil dengan Pakde Karwo itu.

Bapak Gubernur Jatim menambahkan, “Tak bisa dipungkiri, sebagian besar perkembangan pemikiran intelektual di Jawa Timur merupakan sinar dan curahan dari Gontor. Saya kira, masyarakat Jawa Timur sangat berterima kasih dan memberikan hormat setinggi-tingginya kepada sistem pendidikan yang luar biasa di Gontor ini, hingga menjadi rujukan dunia.”

Sementara itu, dalam sambutannya, Jusuf Kalla mengakui eksistensi Gontor dengan kemodernannya hingga hampir mendekati usia satu abad. Ia melihat pondok yang terletak jauh di ujung selatan Jawa Timur ini dikelola dengan sangat baik dan telah memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara.

“Pesantren Gontor ini memegang predikat modern. Modern itu berarti visioner, berpikiran kekinian dan yang akan datang. Itulah bedanya pendidikan dengan museum. Museum itu melihat ke belakang, sedangkan pendidikan itu melihat ke depan. Jadi, anak-anak di sini telah diajarkan ilmu-ilmu yang bisa mereka gunakan di masa depan. Kita patut bersyukur Gontor bisa menjaga kemodernannya sampai sekarang,” ujar Bapak Wapres RI.

“Pendidikan itu hampir sama dengan restauran, bukan tempatnya yang dicari tapi makanannya yang dicari. Begitu juga dengan Gontor ini. Walaupun tempatnya jauh, hingga harus naik dokar sampai di sini, namun karena lembaga pendidikan ini dikelola dengan sebaik-baiknya, maka banyak yang datang mencari.”

“Pemerintah memberikan penghargaan dan mengucapkan terima kasih atas amal jariyah para pendiri, pengasuh pondok, dan seluruh guru-guru Gontor. Semoga kita bisa berbuat lebih baik lagi untuk bangsa di masa yang akan datang,” tutur Jusuf Kalla di ujung sambutannya.

Setelah membuka acara dan melaksanakan sujud syukur di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor, rombongan Wapres beranjak ke Kampus Pusat Universitas Darussalam Gontor. Di sini, panitia telah menyiapkan acara Peletakan Batu Pertama Gedung Perpustakaan dan Peresmian Asrama Mahasiswa Universitas Darussalam Gontor. Acara berjalan dengan lancar dan tertib, serta memuaskan segala pihak yang terlibat. shah wa

Perempuan Multi Talenta ala Pesantren

0

IMG_1955Festival Multitalenta Santriwati (FMS) yang diadakan oleh Gontor Putri kampus 1 untuk memperingati sembilan puluh tahun Gontor dan seperempat abad Gontor Putri ini dimulai pada hari Jum’at (19/8) lalu sebagai acara pembuka. FMS sebelumnya sudah pernah diadakan sejak dua tahun yang lalu dengan nama Festival Santriwati Sittil Kull (FSS). Digantinya nama ajang ini menjadi FMS sendiri merupakan usul dari pimpinan pondok Gontor agar terdengar familier di telinga masyarakat dan khalayak ramai. Sittil kull adalah istilah yang digunakan oleh ustadz (alm) Sutadji Tadjudin untuk menggambarkan santriwati yang all around dan serba bisa di berbagai bidang, baik skill kewanitaan, bahasa, kepramukaan, tilawah maupun seni. Semua komponen inilah yang menjadi tolak ukur mar’ah sholihah ala Gontor Putri yang dipersiapkan menjadi seorang pendamping pejuang yang mengerti arti perjuangan.

DSC_9517Sebagai peringatan seperempat abad Gontor Putri, maka FMS tahun ini bukan hanya diperuntukkan bagi seluruh kampus Gontor Putri seperti yang diadakan dua tahun terakhir ini, namun juga turut diikuti oleh beberapa pondok alumni dan instituti pendidikan Islam putri.

Total empat puluh lima peserta dari lima belas pondok yang mengikuti ajang ini. Setiap pondoknya mengirimkan tiga santri terbaik untuk mengikuti seluruh perlombaan, karena penilaian berdasarkan hasil dari tiap individu, bukan kelompok. Lomba-lomba tersebut meliputi memasak, pramuka, story telling, pidato, menyanyi, MHQ, debat, maraton, cerdas cermat, tilawah Qur’an dan dhabtu al-maqalah.

IMG_0002Final FMS akan diadakan pada hari Jum’at (26/8) di auditorium Gontor Putri kampus 1 dan dihadiri oleh seluruh pengasuh setiap pondok kampus Putri maupun alumni. Tiga besar pemenang FMS akan mendapatkan mahkota, piala serta dana pendidikan. (dee)

Menag RI: Gontor Mencapai Usia 90 Tahun Berkat Kedisiplinan, Keikhlasan, dan Keberkahan

0

Sujud Syukur 90 Tahun Gontor bersama Wakil Presiden Republik Indonesia - YouTube.MP4_005046323GONTOR–Pada acara Sujud Syukur dan Pembukaan Peringatan 90 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor bersama Wakil Presiden RI, Sabtu (20/8) lalu, Menteri Agama (Menag) RI, Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin, mendapat kehormatan dari tuan rumah untuk memberikan sambutan di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM). Sebagai alumnus Gontor angkatan tahun 1983, Bapak Menag RI mewakili seluruh alumni Gontor memberikan ucapan selamat dan ungkapan kesyukuran atas pencapaian 90 tahun Gontor yang luar biasa.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Wapres RI, yang bersedia hadir sebagai simbol negara, yang merupakan wujud dukungan pemerintah kepada almamater tercintanya.

“Kehadiran Bapak Wapres RI di sini merupakan simbol hadirnya negara di tengah-tengah kita Keluarga Besar Pondok Modern Darussalam Gontor, sebagai dukungan konkret sekaligus apresiasi dan rasa terima kasih terhadap Gontor yang kontribusinya bagi negara luar biasa,” ujar Bapak Menag RI mengawali sambutannya.

“Sebuah hadits menyatakan bahwa ada dua kelompok di tengah-tengah masyarakat. Jika keduanya baik, maka baik pula masyarakatnya. Jika keduanya atau salah satunya rusak, maka rusak pula masyarakatnya. Kedua kelompok itu adalah ulama dan umara’ atau pemimpin. Karena itu, kehadiran Bapak Wapres yang mewakili umara’ menjadi kebahagiaan luar biasa bagi Keluarga Besar Pondok Modern Darussalam Gontor.”

“Saya bersyukur karena usia 90 tahun bukanlah usia yang pendek bagi sebuah lembaga pendidikan pesantren. Tasyakkur 90 tahun ini haruslah kita isi dengan muhasabah atau evaluasi terhadap perjalanan 90 tahun pondok ini. Muhasabah itu isinya hanya dua, yaitu melihat kelebihan yang kita miliki untuk kita jaga dan kita kembangkan, serta mengetahui kekurangan kita dengan harapan semua kekurangan itu bisa diperbaiki di kemudian hari.”

“Apa keunggulan Gontor dibanding pesantren lain? Setidaknya ada tiga hal yang menjadi ciri khas Gontor, yang tidak dimiliki pesantren lain. Pertama, kedisiplinan. Ini benar-benar ciri khas Gontor karena tidak kita dapati di pondok-pondok lain.”

“Kenapa kedisiplinan merupakan kekhasan Gontor? Karena, kedisiplinan tidak termasuk unsur-unsur yang diambil dari keempat sintesanya: Al-Azhar, Syanggit, Aligarh, dan Santiniketan. Kedisiplinan ini asli dari para pendiri. Mereka menemukan hal ini untuk diterapkan di Gontor. Jadi, saya menduga atau meyakini, ini murni atau ide orisinal para pendiri Gontor.”

“Jadi, para pendiri menemukan sesuatu yang perlu diterapkan dan ditekankan karena sadar sekali dengan realitas keindonesiaan kita, dengan realitas para santri yang pada hakikatnya sangat beragam. Jadi, santri yang datang ke pondok ini tidak hanya dari Jawa, tapi juga dari Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara, Bali, Papua, bahkan dari luar negeri, dengan latar belakang, budaya, tradisi, kebiasaan, dan etnis yang tentu sangat beragam.”

“Keragaman inilah yang harus disikapi dengan bijak dan arif. Di sinilah saya melihat betapa arifnya para pendiri menyikapi keragaman tersebut. Keragaman itu disikapi sedemikian rupa, hingga perlu ada kesamaan cara pandang dalam hidup bersama di Gontor ini. Dibuatlah aturan atau disiplin untuk menyamakan cara pandang mereka.”

“Selama 24 jam, dari hari ke hari, semua santri yang beragam ini hidup bersama, sehingga mereka belajar memaknai keragaman ini dalam kehidupan bersama. Saya mendapatkan dua hal penting dalam kehidupan bersama santri-santri yang beragam itu. Pertama, hidup dengan kemandirian, yang artinya setiap santri harus bisa mengurus dirinya sendiri. Kedua, memiliki kepekaan terhadap kondisi orang lain, yaitu temannya yang lain sesama santri.”

“Jadi, setiap santri dididik agar hidup bersama. Supaya ini bisa dijalani dengan baik, maka ia harus mandiri terhadap dirinya sendiri dan peduli terhadap sesamanya. Di sinilah nilai-nilai kepemimpinan ditekankan. Di Gontor, ada dua hal dasar dalam kepemimpinan, yaitu kemampuan dan kemauan untuk dipimpin, serta kemauan dan kemampuan untuk memimpin.”

“Pak Zar selalu mengatakan, mau dipimpin dan bisa memimpin. Ketika santri mau dipimpin, sesungguhnya dia belajar banyak hal dari yang memimpinnya. Hal yang dia senangi dari pemimpin itu akan menjadi contoh untuk diteladani ketika dia jadi pemimpin nantinya.”

“Itulah salah satu bentuk kedisiplinan di Gontor, yang sangat khas menjadi ciri Gontor.”

Kedua, keunggulan Gontor yang menjadi ciri khasnya adalah keikhlasan. Keikhlasan ini merupakan hal mendasar yang ditunjukkan para pendiri, yang menular kepada semua santri dan guru-guru. Di Gontor itu ada kaidah begini, metodologi lebih penting daripada materi, namun guru lebih penting daripada metodologi, akan tetapi, jiwa yang dimiliki seorang guru (ruhul mudarris) itu lebih penting dari guru itu sendiri.”

“Karena, Gontor itu sebenarnya mencetak para pendidik atau guru karena itulah sekolah di sini dinamakan Kulliyatu-l-Mu‘allimin Al-Islamiyah (KMI). Bapak K.H. Imam Zarkasyi selalu mengatakan bahwa santri Gontor itu bisa menjadi apa saja. Namun, yang jelas, apapun profesinya, dia tetap seorang pendidik atau guru, dan berjiwa guru. Jiwa guru atau ruhul mudarris itulah yang mendasari keikhlasan.”

“Terakhir, kekhasan Gontor adalah keberkahan. Saya senantiasa ingat, bahwa K.H. Hasan Abdullah Sahal selalu mengatakan berkah itu bisa didapat karena adanya harakah atau gerakan. Berkah itu mutlak dari Allah, namun berkah bisa kita ikhtiarkan melalui harakah atau gerakan karena semua aktivitas di Gontor berorientasi kepada kemaslahatan sesama. Karena itulah di Gontor sering disampaikan, di dalam setiap gerakan itu ada berkah.”

“Karena itulah, hampir semua mata pelajaran di Gontor selalu diisi dengan hal-hal yang memotivasi dan menginspirasi santri-santri, serta dapat menanamkan rasa percaya diri di dalam diri mereka. Pada akhirnya, mereka semua sangat terpacu untuk berkreasi dan berinovasi, melakukan aktivitas beragam. Dari aktivitas yang beragam itulah muncul gerakan-gerakan yang mendatangkan keberkahan.”

“Demikianlah tiga hal yang setidaknya menjadi kekhasan Gontor,” tutur Bapak Lukman Hakim memberi kesimpulan di akhir sambutannya. shah wa

Ustadz Hasan: Bersama RI, Gontor Anti Penjajah dan Penjajahan

0

Sujud Syukur 90 Tahun Gontor bersama Wakil Presiden Republik Indonesia - YouTube.MP4_004087407GONTOR–Acara sujud syukur dan pembukaan Peringatan 90 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor yang dihadiri Wakil Presiden (Wapres) RI berjalan sukses, Sabtu (20/8) pagi. Pada kesempatan ini, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas kesediaan Wapres Jusuf Kalla menyempatkan diri ke Gontor untuk kedua kalinya, setelah 10 tahun silam juga menghadiri dan membuka Peringatan 80 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.

“Kehadiran Bapak Wakil Presiden hari ini benar-benar membesarkan hati kami. Pada detik-detik ini, di seluruh dunia, ribuan pasang mata dan telinga melihat dan mendengar bahwa Bapak Wakil Presiden RI, Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla, saat ini berada di Gontor. Mereka semua memonitor kita dengan caranya masing-masing,” kata Ustadz Hasan saat menyampaikan sambutan dan ucapan ‘selamat datang’ kepada Wapres RI, Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla, di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM).

“Bagi kami Keluarga Besar Pondok Modern Darussalam Gontor, Bapak Jusuf Kalla bukanlah orang asing sama sekali, bukanlah orang lain yang tidak kami kenal. Sudah kami kenal dengan baik. Adik dan keponakan-keponakannya banyak di Gontor. Demikian juga dengan Bapak Lukman Hakim Saifuddin yang juga turut hadir di sini. Tidak perlu kami perkenalkan. Kegontoran beliau ini masih sangat kental sekali. Yang pasti, kedatangan bapak-bapak ini sangat membesarkan hati kami semua.”

“Pondok ini adalah pondok kita semua, pondok umat Islam sedunia yang diamanatkan untuk pembinaan umat. Kami hanya mendapat amanat untuk mendidik. Karena itu, dari dulu kami memilih dan tetap memilih untuk menjadi lembaga pendidikan, bukan lembaga politik, bukan lembaga pergerakan, bukan lembaga keuangan, bukan pula lembaga-lembaga lainnya selain lembaga pendidikan. Kami akan tetap mendidik dan terus mendidik.”

“Di antara anak didik kami ada yang berhasil 100 persen, ada yang berhasil hanya 10 persen, ada yang berhasil 20 persen, ada yang berhasil 30 persen. Kadangkala, ada yang perkembangannya melesat jauh, dan ada juga yang mungkin kurang tahu banyak tentang pondok. Seperti halnya bangsa ini, ada yang keindonesiannya seratus persen, ada yang 50 persen, dan ada juga yang hanya 20 persen. Jadi, pendidikan kami ada yang berhasil, namun ada juga yang kurang berhasil. Walaupun demikian, kami tetap memilih bergerak sebagai lembaga pendidikan. Kami tahu bahwa Bapak Wapres sangat peduli dengan pendidikan, khususnya pendidikan pesantren. Beliau ini putra Bapak Ahmad Kalla yang putra-putranya dipondokkan, termasuk adik beliau. Maka, kami yakin bahwa pendidikan yang kami lakukan ini sesuai dengan pendidikan Indonesia.”

Ustadz Hasan menambahkan, pesantren bersama seluruh santri-santrinya berada di barisan terdepan dalam menjalankan Pancasila, melaksanakan UUD 1945, menerapkan Bhinneka Tunggal Ika, dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Dalam menjaga dan menjalankan pilar-pilar kebangsaan, pesantren berada paling depan. Untuk Pancasila, kami paling depan. Untuk UUD 1945, kami paling depan. Untuk Bhinneka Tunggal Ika, kami juga paling depan. Untuk keutuhan NKRI, kami pun paling depan. Jadi, tentang pilar-pilar kebangsaan, anak-anak kami di sini insya Allah lulus semua tanpa perlu diuji. Kalau tidak lulus, putra kita Bapak Lukman Hakim Saifuddin ini tidak jadi Menteri Agama RI. Karena keempat pilar kebangsaannya teruji, maka beliau diterima menjadi menteri.”

“Hari ini, kami mengundang Bapak Wapres RI dan para undangan untuk ikut bersyukur. Selama 90 tahun pondok ini berjalan, sejak zaman penjajahan Belanda, zaman penjajahan Jepang, hingga zaman kemerdekaan, sampai zaman Demokrasi Liberal, Demokrasi Terpimpin, Orde Lama, Orde Baru, dan sampai sekarang, kami tetap tegak berdiri dengan nilai-nilai dan pilar-pilar pondok kami yang akan terus berjalan bersama Republik Indonesia.”

“Dengan nilai-nilai dan sunnah-sunnah pondok pesantren, kami mendidik putra-putri Bapak yang jumlahnya sudah mencapai 23.000-an. Kampus-kampus Gontor tersebar di seluruh Indonesia, termasuk yang dirintis di Poso dengan bantuan Bapak Wapres Jusuf Kalla.”

“Kami bersyukur masih bisa membawa dan menjalankan misi pondok ini sesuai dengan cita-cita para pendiri. Kami terus bergerak menuju cita-cita yang tinggi, yang masih jauh dari harapan. Cita-cita kami itu ibarat berangkat ke Mekah, kita baru sampai di Jakarta. Atau, ibarat berangkat ke Jakarta, kita baru sampai di Jabung (sebuah desa tidak jauh dari Gontor-red). Jadi, perjalanan ini masih jauh sekali. Oleh karena itu, dengan kebersamaan kita, yakni bersama pemerintah, masyarakat sipil dan militer, pondok akan berjuang untuk mengisi kemerdekaan ini di bidang pendidikan.”

“Naluri pondok pesantren sudah 200 tahun dibina para pendirinya, yaitu untuk membentengi negeri ini dari pengaruh penjajah. Sehingga, anak bangsa kita anti penjajah dan penjajahan. Anti penjajah dan penjajahan itulah naluri pondok pesantren yang harus kita jaga sampai sekarang.”

“Gontor bersama negara ini anti penjajah, anti penjajah dan penjajahan.”

“Sekali lagi, cita-cita kita masih jauh, yaitu mewujudkan universitas Islam yang bermutu dan berarti. Entah lima tahun lagi atau sepuluh tahun ke depan, Universitas Darussalam Gontor sudah memiliki Fakultas Kedoteran, Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, dan lain sebagainya, di samping fakultas-fakultas yang sudah ada saat ini. Cita-cita ini adalah titipan kita, titipan negara dan bangsa Indonesia.”

“Pondok ini akan terus berjalan, baik disumbang atau tidak disumbang, dibantu atau tidak dibantu. Kalau disumbang insya Allah berjalan lebih cepat…,” tutur Ustadz Hasan mengakhiri sambutannya. shah wa