Home Blog Page 419

Gontor Adakan Ujian Pelajaran Sore untuk Siswa

0

GONTOR–Sebagaimana pada tahun sebelumnya, Pondok Modern Darussalam Gontor menyelenggarakan Ujian Pelajaran Sore untuk segenap siswanya. Ujian yang berlangsung selama enam hari tersebut terdiri dari dua jenis, yaitu Ujian Lisan dan Ujian Tulis. Ujian Lisan dilaksanakan pada Jum’at (15/4), dengan diikuti oleh seluruh siswa baru dan siswa Kelas 5 KMI. Disusul dengan Ujian Tulis, yang dimulai pada Sabtu s/d Rabu (16-20/4).

Pada Ujian Lisan, guru yang terlibat sebagai penguji sebanyak 78 orang guru. Adapun siswa, sebanyak 1125 orang diuji, mengingat posisi mereka di pondok yang masih sebagai siswa baru. Sedangkan Ujian Tulis, panitia melibatkan 95 orang guru sebagai pengawas, dengan 3406 orang siswa sebagai peserta ujian.

Pada umumnya, tujuan pelaksanaan ujian di Indonesia adalah untuk mengukur sisi akademis siswa. Di mana para siswa diuji dengan berbagai macam soal dari seluruh mata pelajaran yang ada. Namun, di Pondok yang kini berusia 90 tahun ini, ujian bukan hanya diperuntukkan bagi siswa, namun para guru pun turut diuji. Bahkan, pimpinan pondok, direktur, ketua lembaga, dan semua komponen yang ada di Gontor juga diuji. Diuji oleh siapa? Diuji oleh umat Islam sedunia. Karena pondok yang saat ini memiliki 20 kampus cabang ini, sejak 1958 telah diwakafkan kepada umat Islam sedunia. b.Dasasta

Mahasiswa SEI UNIDA Gontor Adakan Studi Akademik di Malaysia

0

MALAYSIA–Studi Akademik (SA) merupakan kegiatan tahunan Mahasiswa Universitas Darussalam (Unida) Gontor. Pada Selasa (1/3) segenap mahasiswa UNIDA Gontor Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Program Studi Ekonomi Islam Semester IV mengadakan studi akademik di Malaysia. Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas wawasan mahasiswa tentang Lembaga Keuangan dan Lembaga Ekonomi Kontemporer.

Acara berlangsung selama 10 hari dengan diikuti oleh 47 orang mahasiswa/i dan dua orang pembimbing, Ustadz Mufthi Afif, M.A. dan Ustadzah Richa Angkita Mulyawisdawati, M.A. Diawali dengan kegiatan keliling kampus Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), lalu para peserta mendapat kesempatan untuk mengikuti sesi belajar mengajar di dalam kelas bersama mahasiswa USIM lainnya. Selain itu, peserta juga dipersilakan untuk mengikuti acara seminar yang dihadiri oleh Chief Executive Officer (CEO) of CIMB, Tengku Dato’ Sri Zafrul Tengku Abdul Aziz.

Keesokan harinya, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke Bank Malaysia, Perusahaan Coklat Beryl, dan beberapa pasar tradisional Malaysia. Dengan adanya acara ini, diharapkan para mahasiswa menjadi lebih giat dalam mengembangkan ekonomi kontemporer. sahir86

Perkajum V: Berkemah Sejak Dini

0
Peserta Perkajum bersenang ria di rute hiking.
Peserta Perkajum bersenang ria di rute hiking.

Gontor–Perkajum (Perkemahan Kamis–Jum’at) kembali diadakan, peserta perkajum kali ini seluruhnya diambil dari santri baru, baik kelas 1 ataupun kelas 1 intensif. Bagi mereka berkemah merupakan hal yang baru, karena mereka belum terbiasa dengan kegiatan pramuka selain latihan wajib hari Kamis. Perkajum V ini mengambil tema “Pengenalan Berkemah ala Gontor”.

Seluruh peserta Perkajum berbaris rapi di depan Balai  Pertemuan Pondok Modern (BPPM) pada Kamis (24/3). Dipimpin oleh Al-Ustadz Sabar upacara pembukaan Perkajum berjalan lancar. Beliau berharap dengan acara ini kepramukaan di Gontor semakin baik. Setelah itu, staf Mabikori (Majelis Pembimbing Koordinator Pramuka) melepas satu persatu regu dari setiap POT. Mereka menuju desa Wilangan yang berada di di Tenggara desa Gontor, berjarak sekitar 5 km dari Kampus Gontor.

Sesampainya di bumi perkemahan peserta langsung diarahkan untuk membangun tenda, lalu persiapan acara Unggun Gembira, acara ini berbentuk penyalaan api unggun disertai dengan pertunjukan-pertunjukan dari peserta. Ada yang menampilkan tari (dance), beladiri, nasyid, dll. Dimeriahkan juga oleh MBGND, Perbeda, dan Persada.

Jum’at pagi, seluruh peserta mengikuti senam bersama, gerakan senam pramuka sangat berbeda dengan senam biasa. Senam pramuka lebih fleksibel, lebih energik. Seluruh peserta menikmati kegiatan ini, kegiatan demi kegiatan berjalan baik. Dan acara yang paling ditunggu-tunggu adalah hiking. Dimana para peserta diberi rute ke sebuah daerah dengan melalui beberapa pos. Setiap pos ada tantangan sendiri-sendiri, tantangan tersebut tidak terlepas dari nilai kepramukaan di Gontor. Seperti kemandirian, kebersamaan, kecakapan menyelesaikan masalah, dll. AaRum

Wahai Generasi Muslim, Perkaya Iman, Perkuat Barisan!

0

Bapak-bapak guru, anak-anakku sekalian,
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Generasi pertama, Trimurti bersama para anshor-nya, telah lama meninggalkan kita. Dan kini, generasi kedua sudah memasuki masa tua, usia kami ini sudah senja. Kami –generasi kedua– tinggal amanu dan ‘amilu shalihah, syukur-syukur kalau kami masih bisa tawasau bi-l-haq wa bi sabr. Sakit dan ajal datang tanpa minta izin, datangnya mendadak, tidak terduga. Bisa menjangkiti siapa saja. Saat inilah kami benar-benar menginsyafi ightanim khamsan qabla khamsin, sihhataka qabla saqamika, kemudian hayaataka qabla mautika.
Oleh karena itu, generasi ketiga dan seterusnya harus sudah siap menerima dan meneruskan perjuangan, harus istiqamah pada nilai dan jiwa pondok, meskipun berbagai gelombang intervensi menerjang. Siapapun nanti yang memimpin pondok ini, nilai dan jiwa pondok harus tetap berdiri tegak.
Disiplin dan peraturan yang kita gunakan ketika santrinya masih 10 orang, berbeda dengan disiplin dan peraturan ketika santri kita sudah melebihi dua puluh ribu orang. Disiplin, peraturan, teknis pelaksanaan dan lain sebagainya mungkin mengalami perubahan, namun nilai dan jiwa tidak boleh berubah, karena ini adalah amanat.
Gontor menggunakan sistem yang paling baik. Ketika Gontor melihat satu sistem yang lebih baik, lebih efektif, lebih efisien, dan sejalan dengan nilai dan jiwa pondok, maka akan diambil dan segera digunakan, sedangkan sistem yang lama akan ditinggalkan. Kalau seandainya di masa mendatang, sistem yang lama dirasa lebih efektif, efisien, dan sejalan dengan nilai dan jiwa pondok, maka akan digunakan kembali. Begitulah Gontor menggunakan sistem. Itulah dinamika perkembangan kemodernan. Bukan hanya alatnya saja yang modern dan baru, tapi sistemnya juga harus diperbarui. Dengan segala kemampuan yang ada, kita mampu menjadi tuan di negeri sendiri.
Sistem Gontor tidak mabni. Sistem kita berkembang sesuai tuntutan perkembangan zaman, tapi nilai dan jiwa pondok harus mabni, harus tetap tegak hingga akhir zaman.

Anak-anakku sekalian,
Pondok ini bukan milik HAM. Santri datang ke pondok ini bukan untuk memperjuangkan HAM. Santri datang ke pondok untuk belajar. Pondok ini adalah milik nilai, jiwa, dan filsafat hidupnya. Jangan sampai tergoda, jangan sampai tergelincir, terkecoh, tertipu dengan bisikan pihak luar yang terdengar manis namun sejatinya meracuni. Tanamkan dengan baik dalam hatimu, “ke Gontor, apa yang kau cari?”
Dulu tidak ada tagihan, hingga beberapa santri tidak membayar SPP dan uang makan. Bahkan ada beberapa santri tidak membayar hingga satu tahun ajaran, maka terpaksa mereka makan lauk pauk seadanya. Akhirnya mereka kecewa, mengecewakan, kemudian mengajak kecewa. Apakah kecewa akan menyelesaikan masalah? Tidak! Bila kami kecewa karena keterampilan berbahasa Arabmu menurun, apakah lantas kami lari, atau mengusir kalian dan mencari santri lain? Tidak! Itu justru akan menambah masalah. Anak-anakku…. ada seribu satu alasan untuk kecewa, dan juga ada seribu satu alasan untuk tidak kecewa. Kebijakan Pimpinan mungkin banyak yang tidak adil, tapi niat kami untuk mengeluarkan kebijakan yang tidak adil, Insya Allah tidak ada. Kami berusaha untuk mengedepankan kebijakan yang menyangkut kepentingan dan kebutuhan untuk orang banyak.
Belajar di pondok ini, jangan sampai salah niat. Jangan sampai salah memahami kata diwakafkan. Bukan hanya bangunannya saja yang diwakafkan, Trimurti juga mewakafkan nilai, jiwa, dan filsafat hidup. Kita sebagai penerima wakaf harus menjaga dan lestarikannya.
Trimurti mewakafkan dengan ikhlas. Keluarga, anak, dan yang menerima wakaf juga ikhlas. Jangan dibentur-benturkan dengan egoisme, ambisi dan kepentingan pribadi! Itu hanya akan membuat program pondok menjadi terbengkalai, dan kamu akan terpental.
Seorang pejabat tidak mampu mengurus pondok dan santri. Seorang pengusaha juga tidak mampu mengurus pondok dan memimpin santri. Hanya orang yang memiliki jiwa kiai-lah yang mampu mengurus pondok dan memimpin santri. Karena dengan keterpanggilan jiwa, dia ingin menyebarkan ilmunya demi tegaknya Islam. Kalian semua adalah calon kiai di masa mendatang. Kalian adalah mujahid yang siap berjuang dengan harta, tenaga, bahkan nyawa untuk menegakkan agama Allah.

Anak-anakkku sekalian,
Kita akan menghadapi umur pondok yang ke-90 tahun. Gontor sudah sedemikian besar bukan karena jasa pimpinan pondoknya, bukan karena Direktur KMI-nya, bukan karena ketua yayasannya, bukan karena ketua IKPM-nya, ini semua karena kebersamaan, ini semua adalah hasil perjuangan kita bersama. Kita harus terus memupuk kebersamaan. Allah bersama kita. Allah bersama mereka yang bersatu untuk meninggikan kalimat Allah.
Kultur dan struktur pondok, spesial dan unik sekali. Kehidupan kita adalah kehidupan yang sakral. Di atas hanya Allah, di bawah hanya tanah. Ruh kita adalah keikhlasan, nafas kita adalah pengorbanan, jiwa kita adalah perjuangan. Yang mengajar, ikhlas, dan yang diajar juga ikhlas. Menjadi pengurus OPPM karena keikhlasan, dan diturunkan dari OPPM juga karena keikhlasan. Mengangkut sampah, menjaga gerbang, bulis lail, menjaga kantin, menyiram tanaman, semuanya berangkat dari keikhlasan. Bagaimana kita tidak bersyukur melihat suasana keikhlasan ini, indah… Inna shalaatii, wa nusukii, wa mahyaya, wa mamaatii, fi hadza al-ma’had, lillahi ta’ala. Harus seperti itu! Kalau tidak, maka kalian akan terpelanting keluar. Ikhlasnya hati, hanya Allah dan pelakunya yang tahu.

Anak-anakku sekalian,
Zaman ini adalah zaman yang susah ditebak. Ekonomi, teka-teki. Politik, teka-teki. Pendidikan, teka-teki. Sosial, teka-teki. Di setiap bidang, ada saja iblis dan dajjal yang merusak. Zaman ini, banyak kucing yang ingin makan rumput dan banyak kambing yang ingin makan daging. Itulah gambaran parahnya penyakit egoisme yang sedang terjadi sekarang, sudah sangat akut. Tidak puas dengan apa yang sudah ia dapat. Yang terpenting dari itu semua adalah bersyukur.
Dalam berjuang di pondok ini, kita harus tahu, kemana arah tujuan pondok ini. Apa yang bisa kita perjuangkan untuk pondok, apa yang bisa kita bantu untuk pondok, apa yang bisa kita berikan untuk pondok. Bukan, “saya dapat apa?”, “apa untungnya bagi saya?”. Itu adalah dajjal egoisme. Waspadalah!

Qabidh ‘ala jamr. Zaman sekarang, orang yang mempertahankan kebenaran, menjaga aqidah, memperjuangkan syariah, seperti orang yang menggenggam bara api di tangannya. Musuh Islam dengan segala usaha dan tipu dayanya membuat Islam dan Muslim menjadi agama dan umat yang harus dipersalahkan, dipojokkan, ditindas, dan didhalimi. Umat Islam saat ini, sedang diuji dengan itu. Oleh karena itu, kemauanmu, jiwa kerja kerasmu, jangan sampai hilang. Kerja keras datang dari keterpanggilan jiwa, dan keterpanggilan jiwa, datang dari Allah. Musuh Islam berusaha semaksimal mungkin untuk menghilangkan kemauan dan jiwa pekerja keras dari dalam diri setiap Muslim. Dengan demikian, Muslim mudah dicerai berai dan kemudian mudah untuk dihancurkan, na’udzubillah. Maka perbanyak munajat kepada Allah. Perbanyak zikir. Perbanyak wirid.
Kemauan mendirikan pondok, mendirikan madrasah datang dari keterpanggilan jiwa yang diturunkan oleh Allah. Niat kita, li i’lai kalimatillah. Jangan terkecoh, jangan sampai logika shalihmu tergelincir dengan hasutan musuh Islam. Jangan menjadi bebek!
Tidak boleh seorang Muslim mendo’akan orang tuanya yang kafir yang telah meninggal. Bukan karena aqidah orang tuanya yang berbeda dengan aqidah anaknya. Tapi karena hubungan orang tuanya dengan Allah telah terputus, sehingga tidak bisa dan tidak mungkin do’a anaknya akan sampai kepada Allah. Namun, bila orang tuanya masih hidup, anaknya masih bisa mendo’akan agar mendapat hidayah. Untuk hal ini, kita tidak bisa mengatakan ekstrim. Karena telah ada ayat yang menjelaskan. Walaupun manusia seluruh dunia sepakat bahwa Allah itu dua, kesepakatan mereka tidak akan mampu mengubah Allah menjadi dua, Dia selamanya tetap Esa. Allah tidak membutuhkan penghambaan kita, justru karena kita sangat membutuhkan Allah, kita harus menghamba kepada-Nya.
Ma al-faqra akhsya alaikum. Nabi kita, Muhammad tidak takut, jika umatnya menjadi umat yang miskin. Tapi beliau takut jika Allah luaskan, lapangkan, dan mudahkan dunia bagi Muslim, sehingga mereka tidak lagi berjihad di jalan Allah, niatnya tidak lagi lillahita’ala, tapi mereka berbuat untuk harta, mereka berebut dunia. Kaya dunia, namun miskin hati dan akhirat, na’udzubillah.
Anak-anakku, kekayaan, ketampanan, kecantikan, kepintaran tidak menjamin kebahagiaan seorang manusia. Para artis mungkin bisa menghibur orang lain, namun belum tentu mereka bisa menghibur dirinya sendiri. Berapa banyak para artis yang akhirnya terjerat narkoba dan alkohol, karena hatinya belum menemukan kedamaian dan kebahagiaan.
Perkayalah hatimu dengan iman!
Yang paling penting bagi kita saat ini adalah memperkuat soliditas intern. Pondok ini maju, bukan karena pers, bukan karena fasilitas, bukan karena banyaknya tamu, bukan karena banyaknya bantuan, tapi karena kiprahnya orang dalam, karena solidnya barisan orang dalam. Berkiprahlah untuk masyarakat dan pondok ini!

Disampaikan oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor
Pada Acara Peringatan Persemar (Peristiwa 19 Maret), BPPM, Sabtu, 19 Maret 2016. farouq

Kiai Hasan Estafetkan Nilai-nilai Kepesantrenan dalam Workshop di PM. Tazakka, Batang

0

BATANG–Pada Ahad (10/4), K.H. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) menghadiri acara Workshop tentang Kemandirian Pesantren Alumni Gontor di Pondok Modern Tazakka, Batang, Pekalongan. Bukan saja menghadiri, beliau juga turut menyampaikan pidato ‘kepesantrenan ‘di hadapan 88 orang Pimpinan Pondok Pesantren Alumni Gontor se-Indonesia. Termasuk di antaranya Dr. K.H. Zulkifli Muhadli, S.H., M.M., Pimpinan PP. Al-Ikhlas Taliwang, dan Drs. K.H. Sofwan Manaf, M.Si., Pimpinan PP. Darunnajah Ulujami.

Di sela pidatonya yang berdurasi 2,5 jam (08.30 s/d 11.00 WIB) tersebut, beliau menegaskan bahwa dalam menjalankan segala program dan aktivitas, kita semua harus menjadi teladan, bukan sekedar memberi teladan. Terlebih lagi bagi para Pimpinan Pondok. Ibda’ Binafsik (red-bahasa Arab: Mulailai dari diri sendiri). Dengan begitu, para santri akan bergairah dalam menimba ilmu di pondok pesantren.

Selain itu, beliau juga menyampaikan, bahwa di lingkungan pesantren, tidak ada istilah ‘Untung Rugi’, melainkan hanya untung saja. Karena, siapapun yang tinggal di pesantren, pasti beruntung.

“Di pesantren, tidak ada istilah ‘Untung Rugi’, yang ada hanyalah untung, semuanya beruntung. Semua yang hidup di pesantren pasti beruntung. Baik gurunya, santrinya, tukang pelnya, tukang masaknya, dll. Semuanya beruntung.” tukasnya sambil dibarengi dengan tepuk tangan meriah dari para hadirin.

Pada malam harinya, beliau menyempatkan diri untuk memberikan nasihat di hadapan seluruh dewan guru Pondok Modern Tazakka terkait ‘kehidupan yang penuh barokah’ yang hanya ada di lingkungan pesantren. Sesi tersebut berlangsung mulai pukul 20.30 s/d 21.30 WIB di tempat di mana workshop diadakan, yaitu Gedung Rabithah Lt. 2 PM. Tazakka.

Rombongan Gontor saat disambut oleh Pimpinan PP. Darul Amanah di rumah kediaman.
Rombongan Gontor saat disambut oleh Pimpinan PP. Darul Amanah di rumah kediaman.

Perjalanan dilanjutkan dengan kunjungan ke PP. Darul Amanah, Ngadiwarno, Sukorejo, Kendal. Bersama Ketua Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM), H. Ismail Abdullah Budi Prasetyo, S.Ag., beliau disambut hangat oleh Keluarga Besar Pondok yang kini telah berusia 26 tahun itu. Di pondok pesantren yang santrinya berjumlah 1.800 orang putra/i itu, lagi-lagi beliau diberi kesempatan untuk menyampaikan tausiyahnya. Turut hadir pada acara tersebut Bapak Wakil Bupati Kendal, Drs. H. Masrur Masykur, yang mana beliau juga merupakan alumni Gontor, tepatnya tahun 1973.

Kunjungan diakhiri dengan peresmian secara simbolis (potong pita) Gedung Darussalam PP. Darul Amanah (asrama santri). Kiai Hasan beserta rombongan lantas meninggalkan lokasi acara, melanjutkan perjalanan menuju Gontor, Ponorogo. b.Dasasta

DASS 90 Tahun PMDG Dipastikan Lebih Meriah Dari DASS 80 Tahun

0

DASSDARUSSALAM – Pagelaran Seni Darussalam All Stars Show (DASS) merupakan salah satu rentetan puncak acara Peringatan 90 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Seperti DASS yang telah memeriahkan peringatan 10 Windu atau 80 Tahun PMDG pada tahun 2006 kemarin, DASS yang akan diselenggarakan pada September 2016 mendatang tentunya akan lebih meriah dan berwarna. Guna mewujudkan harapan tersebut, pada Jum’at (15/4) Panitia mengadakan audisi guna menyaring bakat-bakat yang dimiliki oleh segenap santri. Dalam audisi tersebut banyak macam penampilan yang disuguhkan kepada para juri, mulai dari menyanyi, group dance, drama, pantomim, hingga penampilan unjuk kemahiran dalam memainkan gitar dan alat-alat musik lainnya. Peserta audisi yang mendaftar ke Panitia lebih kurang berjumlah 250 orang. Audisi dilangsungkan di samping Gedung 17 Agustus,  mulai dari pagi sampai sore. Kriteria acara yang akan diterima oleh dewan juri bukan hanya pertunjukan yang menghibur, tapi juga harus sarat dengan nilai-nilai dan misi yang dijiwai oleh PMDG.

Sesuai jadwal, DASS akan diselenggarakan pada hari Kamis, 8 September 2016 mendatang. Acara ini dapat disaksikan oleh santri-santri dan guru-guru PMDG, dan segenap tamu dan masyarakat yang ada di PMDG saat itu. Untuk mengakses kalender kegiatan Peringatan 90 Tahun PMDG silahkan mengakses link di bawah ini: http://www.gontor.ac.id/berita/kalender-kegiatan-peringatan-90-tahun-pondok-modern-darussalam-gontor

Waspadai Benih Persemar, Gontor Adakan Peringatan di seluruh Kampus

0

GONTOR–Peringatan Peristiwa Sembilan Belas Maret 1967 (Persemar) kembali diadakan di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Sabtu (19/3). Peringatan akan sebuah peristiwa, di mana para Trimurti Pendiri Gontor (K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fannanie, dan K.H. Imam Zarkasyi) dipaksa makzul oleh santrinya. Benar-benar perbuatan yang memilukan. Betapa tidak, para santri yang posisinya adalah sebagai pendatang, justru malah mengusir kiainya. Ibarat tamu yang mengusir pemilik rumah dari tempat tinggalnya.

Kejadian tersebut berujung pada liburan panjang untuk santri, yakni selama tiga bulan. Liburan yang sengaja diberikan untuk santri agar mereka dapat berpikir kembali akan maksud dan tujuan mereka datang ke Gontor. Sehingga, mereka dapat merenungi kesalahan mereka yang amat besar itu.

Akhirnya, suasana kehidupan di pondokpun sepi. Hilir mudik santri yang biasanya tampak padat kini mendadak hilang. Adapun santri yang memang sejatinya tidak bersalah, sesuai pesan Pak Kiai, tidak perlu takut. Secepatnya akan segera dipanggil oleh pihak pondok, lantas dapat melanjutkan studinya di Gontor. Dan bagi mereka yang tidak dipanggil, haram dan selamanya akan dilarang untuk kembali menginjakkan kakinya di lembaga pendidikan ini.

Dengan adanya peringatan itu, seluruh warga Pondok Modern diharapkan untuk selalu waspada akan benih-benih yang mendorong terjadinya tragedi tersebut. Sehingga, kejadian ‘kurang ajar’ itu tidak terjadi lagi pada suatu saat nanti.

Sebagaimana di Kampus Pusat, di Gontor Kampus Cabangpun pula mengadakan peringatan serupa. Namun, karena alasan waktu dan tempat, Pimpinan PMDG tidak dapat hadir ke semua kampus, melainkan mengutus beberapa guru senior sebagai wakil pimpinan untuk menyampaikan pidato dan membacakan diktat Persemar.

Untuk itu, waktu pelaksanaan peringatanpun berbeda antara Kampus Pusat dengan lainnya. Peringatan di Kampus Pusat dan Kampus 2 diadakan pada Kamis, 19 Maret 2016. Kampus 3 Kediri, peringatan berlangsung pada Sabtu (21/3) dengan Dr. H. Dihyatun Masqon, M.A. sebagai utusan pimpinan. Kampus 5 Banyuwangi, dihadiri oleh H. Abdullah Rofi’i yang berlangsung pada Ahad (22/3). Dan pada hari yang sama, Kampus 6 Magelang juga menggelar acara tersebut dengan dihadiri langsung oleh K.H. Syamsul Hadi Abdan, dan Kampus 7 dihadiri oleh H. Imam Shobari. Juga Kampus Putri 1, 2, dan 3. Kampus Putri 1 dan 2 dihadiri langsung oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal, sedangkan Kampus 3, dihadiri oleh Drs. K.H. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed.

Adapun kampus yang mengadakan peringatan pada hari Senin (23/3), adalah Kampus 10 Aceh bersama H. Mulyono Jamal, M.A., Kampus 12 Jambi bersama H. Yoyok Suyoto Arif, M.Sc, dan Kampus Putri 5 bersama H. Noor Syahid, S.Ag.

Pada hari Selasa (24/3), Kampus 14 dan Putri Kampus 7 Riau dengan dihadiri oleh Prof. Dr. H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A. Kampus Putri 4 Kendari bersama H. Imam Shobari. Dan Kampus 8 dan 9 Lampung dihadiri oleh Dr. H. Hidayatullah Zarkasyi, M.A. Serta Kampus 11 yang dihadiri oleh K.H. Masyhudi Subari, M.A.

Terakhir, pada Rabu (25/3), Kampus 13 dan Putri Kampus 6 Poso juga mengadakan peringatan, dengan H. Syamsul Hadi Untung, M.A., M.L.S. hadir sebagai wakil pimpinan. b.Dasasta

PERESMIAN MASJID MAHRONNISA (Masjid Cinta)

0

MANTINGAN-Sabtu (12/3/16) lalu, berlangsung acara Peresmian Masjid Mahronnisa di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 1. Acara tersebut dimulai pukul 09.00 hingga 12.30 WIB bertempat di halaman depan Wisma Gontor Putri Kampus 1 dan dihadiri oleh Syeikh Abdul Qodir Hasyim Al-Madany beserta keluarga dari Riyadh, Sekretaris 1 kedubes saudi di Ind Syekh Abdurrahman, K.H. Abdullah Said Baharmus, Lc salah satu anggota badan wakaf, pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Rektor UNIDA Gontor Ponorogo, Wakil Bupati Ngawi, KAPOLRES Ngawi, para mahasiswa, guru dan santriwati beserta masyarakat sekitar pondok.

mhrn2 Acara ini diawali dengan tilawah Al Quran yang kemudian dilanjutkan dengan Sambutan dari Al Ustadz H. Ahmad Suharto, M.Pd.I, selaku pengasuh pondok Modern Darussalam Gontor Putri 1. Beliau menjelaskan berbagai hal terkait pembangunan masjid ini dimulai dari sejarah, latar belakang berdirinya hingga laporan keuangan mengenai proyek pembangunan masjid. Kemudian dilanjutkan sambutan dari K.H Abdullah Said Baharmus, Lc, Syeikh Abdul Qodir Hisyam Al-Madany beserta anaknya, Duta besar Saudi Arabia, Bapak Wakil Bupati dan 12804610_607486429408404_5017950945064281197_ndiakhiri dengan pidato dan do’a dari Al Ustadz K.H. Samsul Hadi Abdan, selaku pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor.

Berawal dari sebuah masjid sederhana bernama Masjid Al Hikmah yang sering pula disebut Masjid Sarinah dan dibangun sebelum Gontor Putri berdiri. Dinamakan demikian karena dahulunya pembangunan masjid ini dibiayai oleh Majalah Sarinah oleh Bapak H. Harmoko. Seiring berjalannya waktu jama’ah masijd semakin bertambah hingga melebihi kapasitas yang seharusnya, terlebih pada hari Jum’at. Dengan izin Allah maka masjid tersebut dapat diperluas dan dibangun kembali dengan desain yang indah bercorak timur tengah. Didesain oleh Bapak Slamet Fiddin dari Madura dengan biaya pembangunan senilai 5 milyar masjid ini mampu menampung kurang lebih 1200 jama’ah. Dilengkapi dengan kamar mandi, perpustakaan, kantor pemancar radio, gudang peralatan dan sound system.

mhrn3K.H. Abdullah Said Baharmus Lc. mengatakan bahwa Masjid Mahronnisa merupakan masjid yang monumental ditinjau dari sejarahnya dan disebut sebagai “Masjid Cinta” karena mengandung kisah latar belakang yang sama dengan kisah berdirinya Taj Mahal di India. Dimana nama ”Mahronnisa” ini dinisbahkan kepada isteri Syeikh Abdul Qodir Hasyim Al-Madany yang sudah wafat. Almarhumah dikenal sebagai seorang isteri yang shaleha dan hafidzah juga pendakwah. Dan dengan berdirinya masjid Mahronnisa disertai dengan keindahan interior bangunan yang elegan diharapkan dapat mewujudkan harapan sebagai sarana dakwah Islam dengan fasilitas dan sarana yang baik dan mencukupi. Sehingga mampu menginspirasi para mujahidah-mujahidah islam dalam berkiprah diberbagai kegiatan dengan terus menjunjung tinggi nilai peradaban Islam kini dan mendatang. Lely

Lawatan Dubes Mesir untuk Indonesia di Gontor Putri 1

0

mesi2Gontor Putri (1/2) – Dalam rangka persiapan penyambutan kunjungan Grand Syaikh Al-Azhar Prof. Dr. Ahmad Thoyyib ke Gontor Putri Februari mendatang, Duta Besar Mesir untuk Indonesia HE. Bahaa El Deen Bahgat Ibrahim Dessouki melawat ke Pondok Modern Darussalam Gontor Putri. Dalam lawatan tersebut beliau disambut hangat mesi3oleh seluruh santriwati Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 1 dan 2.

Sebelumnya, persiapan penyambutan kedatangan HE. Bahaa El Deen Baghat Ibrahim Dessouki oleh panitia telah berlangsung selama tiga hari ini diharapkan dapat memberikan kesan terbaik. Lawatan beliau ini diagendakan pertama-tama dalam pertemuan di perumahan dosen serta dilanjutkan dengan ramah tamah di auditorium Gontor Putri 1.

Dalam acara tersebut HE. Bahaa El Deen Baghat Ibrahim Dessouki menyampaikan pidato mengenai sejarah hubungan diplomatik antara negara Indonesia dan Mesir yangmesi4 mana sudah dibangun jauh puluhan tahun sebelum Indonesia merdeka. Selain itu, disampaikan pula bahwa negara Mesir adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia dan mengakui ijazah para alumni Gontor. Disela pidato, beliau juga memberikan motivasi serta dukungan kepada seluruh santriwati dan mengatakan “ditangan kalian lah masa depan Indonesia, dan ditangan kalian lah Indonesia hendak dibawa kemana”.

Lawatan HE. El Deen Baghat Ibrahim Dessouki ini selanjutnya diakhiri dengan pelepasan menuju bandara untuk kembali ke Jakarta dan melanjutkan perjalanan.al

International Conference Bertajuk Ekonomi Islam di Unida Mantingan

0

Mantingan-Jum’at (29/1/16) lalu, berlangsung acara Seminar Internasional di Kampus Unida Mantingan, Gontor Putri 1. Acara tersebut dimulai pukul 20.00 hingga 22.00 WIB di Aula Kulliyyatu-l-Banat dan dihadiri oleh para mahasiswi dari fakultas syari’ah, ekonomi manajemen dan juga mahasiswi dari kalangan pasca sarjana.

Acara yang bertajuk Pengembangan Ekonomi Islam di Masyarakat ini diawali dengan pengenalan tentang pendidikan ekonomi islam yang diajarkan dalam materi perkuliahan di Unida – Gontor iium2oleh Al-Ustadz Andi Triawan, M.A, selaku dosen fakultas ekonomi dan manajemen. Beliau menjelaskan latar belakang, visi, dan misi pendidikan ekonomi Islam yang berlaku di UNIDA Gontor. Selain itu juga dipaparkan harapan tentang peran sarjana ekonomi yang akan terjun di masyarakat. Paparan penjelasan ini dimaksudkan agar peserta lebih memahami secara mendalam posisi Unida dan langkahnya dalam mengembangkan sistem ekonomi umat.

Sambutan kemudian disusul dengan penjelasan oleh Prof. Dr. Dzuljastri Abdul Razak. Beliau adalah presenter konferensi internasional yang sengaja hadir dari International Islamic University Malaysia (IIUM) untuk menjelaskan tentang sistem ekonomi islam dunia dan peningkatannya dalan beberapa periode terakhir. Beliau juga menjelaskan tentang perkembangan ekonomi islam di Malaysia yang telah mengalami peningkatan yang baik. Beliau juga mengenalkan tentang fakultas ekonomi islam di IIUM sendiri, mulai dari program bachelor hingga master lengkap dengan visi, misi, dan tujuannya secara singkat. Hal ini disampaikan dalam rangka menemukan kesamaan dan kesinambungan antara Unida Gontor dan IIUM dalam menngemban misi meningkatkan sistem ekonomi islam untuk umat.pusdat