Home Blog Page 457

DIALOG LIMA BESAR KOORDINATOR

0

Setelah melalui beberapa penyaringan yang dilakukan oleh tiap Gugusdepan Gerakan Pramuka (Gudep) dan beberapa pertimbangan dari asatidz dan ustadzat. Maka, Kamis, (19/02) bertempat dipelataran Pendopo Gontor Putri 2, dialog lima besar utusan dari tiap gudep dilaksanakan.

Disaksiakan oleh seluruh dewan guru Gontor Putri 2, seluruh siswi kelas 5, dan anggota Koordinator Gerakan Pramuka lama, dialog lima besar utusan tiap gudep yang diwakili oleh Fatia Alifa 5C gudep 09.136, Dharmariska 5E gudep 09.198, Wiga Ananda 5B 09.198, Wasi’atul Arifah 5B gudep 09.200, dan Isna Firdausi 5B gudep 09.202 berjalan dengan khitmad dan lancar. Setiap utusan diberi pertanyaan mengenai kepramukaan yang berlangsung di pondok, dan dari jawaban mereka akan dipilih dua orang yang pantas untuk memimpin Koordinator Gerakan Pramuka di Gontor Putri 2.LA

suasana pemilihan (3)
suasana pemilihan (3)
suasana pemilihan
suasana pemilihan
utusan lima besar gudep
utusan lima besar gudep
suasana pemilihan (2)
suasana pemilihan (2)

Mengemban Amanat Baru

0
Pelantikan Koordinator
Pelantikan Koordinator

Gontor Putri 2. Siap memimpin dan dipimpin adalah semboyan yang tidak asing lagi untuk didengar dilingkup kampung nan damai “Gontor”. Senin, 23 Februari 2015 / 4 Jumadal Ula 1436 sampai Kamis, 26 Februari 2015 / 7 Jumadal Ula 1436, bertempat di Audotorium dilaksanakanlah Laporan Pertanggungjawaban dan Serah Terima Amanat pengurus Koordinator serta Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) periode 2014-2015 / 1435-1436.

Serah Terima Amanat Koordinator
Serah Terima Amanat Koordinator

Acara tersebut melaporkan hasil kerja dan program kerja tiap-tiap bagian selama masa jabatan mereka serta apa yang mereka laporkan harus sesuai dengan kenyataannya. Pada kesempatan ini bapak wakil pengasuh mendapatkan waktu untuk mengevaluasi setiap laporan dari masing-masing bagian. Salah satu harapan beliau adalah “ kepemimpinan Koordinator maupun Organisaasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) Darussaam tahun ini harus lebih baik dan mampu menjalankan amanat suci tersebut, karena pada tahun ini khususnya OPPM akan mendapatkan tambahan bagian baru, yaitu: cafe ceria dan koperasi pelajar yang sebelumnya dipegang oleh ustadzah.

Kepengurusan Koordinator dan Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) Darussalam ini diserahkan seluruhnya kepada santriwati kelas lima periode 2015-2016 /1436-1437, dengan susunan bagian sebagai berikut:

  1. Koordinator

a)      Ketua : 2 Orang

b)      Ankuset: 2 Orang

c)      Ankukuang: 2 Orang

d)     Ankulat : 5 Orang

e)      Ankukedap : 3 Orang

f)       Ankuperkap : 3 Orang

g)      Ankuperpus : 2 Orang

h)      Bindep 196 : 1 Orang

i)        Bindep 198 : 1 Orang

j)        Bindep 200 : 1 Orang

k)      Bindep 202 : 1 Orang

Total : 23 Santriwati, dengan ketua Koordinator Dharmarizka Ramadhana (5E) dan Fathia Alifah (5C)

  1. Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) Darussalam:

a)      Ketua: 2 Orang

b)      Sekertaris: 2 Orang

c)      Bendahara: 2 Orang

d)     Bagian Keamanan : 7 Orang

e)      Bagian Pengajaran : 7 Orang

f)       Bagian Bahasa          : 4 Orang

g)      Bagian Olahraga : 3 Orang

h)      Bagian Koperasi Toko Pelajar : 6 Orang

i)        Bagian Koperasi Warung Pelajar : 5 Orang

j)        Bagian Koperasi Dapur : 6 Orang

k)      Bagian Photograpy : 2 Orang

l)        Bagian Kesehatan : 3 Orang

m)    Bagian Penatu : 3 Orang

n)      Bagian Penerangan : 4 Orang

o)      Bagian Perpustakaan : 3 Orang

p)      Bagian Diskusi Ilmiah : 3 Orang

q)      Bagian Penerimaan Tamu : 5 Orang

r)       Bagian Kesenian : 3 Orang

s)       Bagian Keputrian : 3 Orang

t)       Bagian Bersih Lingkungan : 4 Orang

u)      Bagian Pertamanan : 3 Orang

Total : 80 Santriwati, dengan ketua Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM): Asah Mia Ugi (5B) dan Azimatul Mufidah (5C)

 

Laporan Pertanggungjawaban OPPM
Laporan Pertanggungjawaban OPPM

“Patah Tumbuh Hilang Berganti”, “Siap Memimpin dan Dipimpin” semboyan itulah yang harus ditanamkan pada diri santriwati, agar mereka mampu menghadapi realita dikemudian hari.Phu-ry

Musik Lahirkan Jutaan Benih Kreativitas Santri

0

DARUSSALAM-Seirama dengan salah satu filsafat kehidupan yang dimilikinya “Gontor Berdiri di Atas dan Untuk Semua Golongan”, gerak-gerik Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) selalu bernuansa Islam yang tidak terpaku pada satu rujukan saja sebagaimana yang ada di beberapa pesantren pada umumnya, namun terus berupaya untuk menjalankan hal baru tanpa harus meninggalkan hukum lama yang baik, karena itulah hakikat modern dalam Islam.

Selain itu, upaya PMDG untuk mencari hal baru tersebut juga bertujuan untuk mendidik santrinya, agar kelak menjadi manusia kreatif dan inovatif yang mampu menggerakkan masyarakat dengan berbagai konsekuensi yang ada. Dan salah satu media pendidik tersebut adalah musik, karena ia dapat memberikan berbagai manfaat bersama.

Dams Show, yang berarti pergelaran Musik Darussalam (Dams: nama kursus music di PMDG), diselenggarakan pada Jum’at (27/2) bertempat di samping Gedung 17 Agustus PMDG. Di bawah pantauan seluruh ustad pembimbingnya, kali ini Dams Show mampu menampilkan lima buah lagu: Indonesiaku (Ungu), Kujemu (Koes Plus), Bendera (Coklat), Perjuangan (Prestigious Band), dan Seperti Kemarin (Noah).

“Alhamdulillah, walau persiapan agak mendadak, namun penampilan bisa lancar”, ucap Ulil, salah satu personil Dams saat diwawancarai oleh tim Website Gontor.shaz

Alumni 1974 Gelar Reuni Akbar di PMDG

0

GONTOR – Gontor tidak pernah berhenti dalam beraktivitas, sehingga 24 jam roda dinamika kehidupan selalu terjaga. Pada hari Sabtu (7/2), Alumni 1974 menggelar reuni akbar di PMDG. Mereka mengadakan reuni tersebut untuk me-review kembali kenangan dan masa-masa ketika menjadi santri PMDG. Mereka juga sangat antusias ketika melihat perkembangan Gontor yang semakin membaik, dan berkomitmen untuk tidak berpikiran negatif kepada pondok. Meskipun Pimpinanya sudah berubah. Akan tetapi mereka yakin bahwa nilai-nilai pondok tidak akan pernah berganti.

Alumni 1974 ini dulunya asuhan langsung dari Trimurti PMDG, terutama dengan K.H. Imam Zarkasyi atau sering dipanggil Pak Zar. Mereka juga seringkali mendengar wejangan beliau tentang pondok dan filsafat hidup. Ketika mereka datang kembali mereka ingin men-flashback apa yang telah mereka pelajari ketika menjadi santri  PMDG.

Acara ini juga dihadiri oleh Bapak Pimpinan PMDG, K.H. Hasan Abdullah Sahal, K.H. Syamsul Hadi Abdan, dan juga Guru-guru mereka di KMI. Beliau juga memberikan sedikit nasehat kepada mereka tentang perkembangan pondok yang semakin membaik. Peserta reuni ini sebanyak 105 orang yang meliputi alumni 1974 dan 1975, dan diketuai oleh Dr. Saiful Anam. Akan tetapi alumni 1974 yang hadir kurang lebih 65 orang dan sisanya merupakan alumni 1975.

Selepas acara, mereka juga menyempatkan diri untuk keliling sekitar pondok, melihat bangunan-bangunan yang sudah berkembang, ziarah ke makam Trimurti dan juga makam kader-kader pondok Ustadz K.H. Abdullah Mahmud, Ustadz Sutaji Tajuddind dan yang lain, Universitas Darussalam (UNIDA), Gontor 2, dan Masjid  Tegal Sari yang termasuk cikal bakal berdirinya PMDG. fuadfahmi

 

Ajarkan Demokrasi, Konsulat Calonkan Ketua OPPM

0

GONTOR – Senin (16/2), Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) mengadakan Pemilihan Utusan Konsulat. Pemilihan ini ditujukan untuk menyaring santri kelas 5 yang akan diajukan menjadi calon Ketua Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM). Tepat pukul 09.00 WIB, seluruh santri berkumpul di Masjid Jami’ guna mendapatkan pengarahan dan nasehat Pimpinan PMDG. Karena pentingnya acara ini, seluruh santri hanya masuk kelas selama 2 hissoh, sisanya 4 hissoh digunakan untuk pengarahan dan pemilihan utusan dari setiap konsulat.

Santri PMDG menyimak nasehat Pimpinan PMDG tentang pemilihan utusan konsulat di Masjid Jami'.
Santri PMDG menyimak nasehat Pimpinan PMDG tentang pemilihan utusan konsulat di Masjid Jami’.

“Kalau kamu ditanya, apakah di Gontor ada demokrasi?” tanya Kiai Hasan kepada seluruh santri. “Jawabnya ada, tapi demokrasi pondok, demokrasi kiai,” lanjut beliau. Demokrasi kita, lanjut Kiai Hasan, tidak seperti demokrasi di luar, sangat berbeda.

Setiap konsulat akan mengutus beberapa santri kelas 5 yang terpilih dari konsulat mereka untuk lanjut ke tahap selanjutnya. Sehingga, pada akhirnya akan ada 10 orang yang tersisa. Dan Ketua OPPM akan langsung dipilih oleh Pimpinan Pondok. Pemilihan utusan konsulat ini sarat dengan pendidikan kepemimpinan, ‘ready to lead, ready to be led’.aarum

Kaji Imam Nursi, Unida Kampus Mantingan Gelar Seminar Internasional

0

MANTINGAN – “Umat Islam merindukan sosok ulama pejuang. Badiuzzaman Said Nursi adalah salah satunya,” tutur Ustadz H. Ahmad Suharto, M.Pd. dalam sambutan pembuka seminar internasional mengenai ulama yang berasal dari Turki, Jum’at (27/2) pagi lalu di aula Aisyah Gontor Putri 1.

Para pemakalah dalam Seminar Internasional Said Nursi, berpose bersama Dewan Guru KMI Gontor Putri 1.
Para pemakalah dalam Seminar Internasional Said Nursi berpose bersama Dewan Guru KMI Gontor Putri 1.

Acara yang bertema International Sisters of Hereafter Conference; Understanding Bediuzzaman Said Nursi and Rasail Nur ini merupakan bentuk kerjasama antara Universitas Darussalam Gontor dan Istanbul Foundation for Science and Culture Turki, selain menjadi tindak lanjut dari beberapa lawatan antar kedua belah pihak sebelumnya. Kata ‘Sisters of Hereafter atau yang dalam bahasa Arab adalah ‘Akhwat Akhirah adalah salah satu cara bagaimana Imam Nursi menyanjung perempuan beriman.

Sebagai pemakalah untuk acara ini adalah Dr. Betania Kartika Muflih (Dosen IIUM) dengan judul Self-Development Through Moral Education in the Thought of Said Nursi, Nur Sakinah Thomas (program Ph.D University of Putra Malaysia) dengan makalah Said Nursi’s Mode of Persuasion in His Damascus Sermon, Umi Kulsum (Pengajar Rasail Nur di Yayasan Nur Jakarta) yang membahas tentang biografi singkat Badiuzzaman Said Nursi, Siti Fatimah (UIN Syarif Hidayatullah) dengan judul Perempuan Menurut Said Nursi, dan Dahniar Maharani (Mahasiswi UNIDA) yang menjelaskan tentang salah satu judul dalam buku Rasail Nur, Bismillah Bidayatu Kull Khair.

Acara diikuti oleh sekitar 150 Mahasiswi UNIDA Gontor Kampus Mantingan. Dengan 5 pemakalah, acara dibagi menjadi dua sesi dengan dipotong istirahat. Yayasan Nur menyediakan stan buku Rasail Nur yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab dan Indonesia. Tak lupa, Api Tauhid karya Habiburrahman El-Shirazi juga ikut menghiasi stan ini.

Di akhir seminar pada sesi tanya jawab, Dr. Betania dan Nur Sakinah membahas singkat tentang Istanbul Foundation dan bagaimana mereka dapat mengenal bahkan menjadi pemakalah di beberapa seminar, muktamar dan simposium mengenai Rasail Nur yang diadakan di banyak negara. Keduanya membahas Said Nursi untuk disertasi dengan biaya dari Istanbul Foundation dan bimbingan langsung dari pakarnya. Sebut saja Prof. Naquib al-Attas. Istanbul Foundation mengadakan simposium akbar yang diselenggarakan setiap tiga tahun sekali dengan mengundang semua civitas akademika dari seluruh dunia yang membahas Said Nursi ataupun Rasail Nur pada tesis master ataupun disertasi untuk mempresentasikannya. Makalah yang mereka berdua bacakan pada seminar di kampus Mantingan juga merupakan hasil penelitian disertasi.

Nur Sakinah yang belum lama ini menjadi muallaf juga bercerita bagaimana Rasail Nur dapat memandunya pada Islam, Allah, Al-Qur’an dan Nabi Muhammad. Meski Badiuzzaman Said Nursi sudah lama tiada, namun semangat dan ruhnya yang terkandung dalam karya-karya monumentalnya dapat kita rasakan. Awalnya yang ingin menyelamatkan iman umat Islam di Turki pasca sekularisasi, kini Rasail Nur sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 60 bahasa dan tersebar untuk menjadi manfaat bagi umat Islam di seluruh dunia.dee

Kiai Hasan: The Time, is Iman and Amal Saleh

0

Anak-anakku….!

Lagu “Hymne Oh Pondokku” ditutup dengan kata “ibuku”. Pondok adalah ibu. Seorang ibu tidak akan melepaskan atau meninggalkan anaknya begitu saja tanpa dihiraukan atau diperhatikan lagi. Meskipun anaknya sudah menjadi seorang presiden, ibu akan tetap menasihati anaknya. Demikian pula sang anak juga akan selalu meminta nasihat ibunya. Sementara bapakmu adalah gurumu, wali kelas, pembimbing kegiatan atau organisasimu, dan lain sebagainya. Apa saja yang dikerjakan seorang bapak dan ibu it ada di pondok.

Ketahuilah… bahwasanya dari kandungan yang sama itu akan lahir anak-anak yang berbeda. Gontor dituduh bukan  (aswaja) atau wahabi, dan lain-lain. Katakanlah, Gontor itu aswaja, aswaja yang cerdas!

Kalian di sini berkumpul, bertemu, bertatap muka, bersilaturahim. Dengan sering berkumpul, muncullah ide atau gagasan cemerlang. Di Jawa, ada istilah “cangkir” pada saat berkumpul. Kalian tahu artinya? Cangkir itu sama dengan “nyencang pikir”. Jika kita sering bertemu, maka kita akan banyak me-nyencang pikir.

Ingatlah… Jangan mudah-mudah merasa silau! Laisa kullu mā yalma‘u dzahaban. Belumlah tentu rumput tetangga itu lebih hijau daripada rumput kita. Pondok sudah mengajari kita tentang hal itu. Maka, jangan pernah tertipu.

Kalian datang ke pondok ini tidak hanya untuk men-charge atau memperbaharui semangat dan motivasi, tapi untuk membaca rapor masing-masing, tentang keikhlasan kita, kesederhanaan kita, dan lain-lain. Apakah kita sudah menerapkan keikhlasan yang telah diajarkan Gontor dalam kehidupan nyata? Bagaimanakah kesederhanaan kita? Bacalah! Demikian juga dengan rapor pondok. Adakah nilai-nilai Gontor yang berubah? In shaa Allah, Gontor akan tetap istiqamah dalam menjaga nilai-nilai warisan Trimurti.

Anak-anakku…! Gontor tidak pernah merasa takjub dengan berbagai profesi alumninya, tapi akan kagum dengan keistiqamahan mereka dalam menjalani profesi tersebut berdasarkan nilai-nilai yang telah diajarkan pondok. Gontor akan takjub dengan komitmen mereka terhadap nilai-nilai pondok.

Resapilah Surat Ali Imran ayat 190–191: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya… Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Resapilah maknanya agar kalian bercermin dari berbagai arah. Bercerminlah dari berbagai sisi, bukan hanya dari depan sebab muka kita selalu kita poles. Lihat pulalah bagian belakang kita.

Anak-anakku… Gontor telah memberikan “kunci” kepada kalian. Memang, bahasa Arab kita kalah dari LIPIA, demikian pula bahasa Inggris kita kalah dari sekolah-sekolah umum. Tapi, anak-anak Gontor bisa menggunakan “kunci” tersebut dengan baik.

Dunia pergaulan semakin luas, sementara buminya yang kita diami ini tidak makin meluas. Jika kita tidak mengembangkan kunci-kunci tersebut, maka kita akan semakin tersingkir. Jangan sampai punya kunci tapi tidak dipakai.

Pada zaman sekarang, banyak sekali orang-orang yang keblinger. Kok bisa, orang-orang melakukan istighasah untuk menolak penutupan Gang Dolly. Lā haula wa lā quwwata illā billahi.

Ingatlah, Gontor bukan lembaga pergerakan, tapi lembaga pendidikan. Gontor mendidik anak-anak yang akan mendidik presiden, menteri, jenderal, dan lain-lain. Gontor mendidik santri dengan cara mu‘amalah (bergaul dalam kehidupan sosial atau bermasyarakat), mu‘asyarah (pergaulan dalam keluarga), dan mukhalathah (berbaur dengan teman dan anak-anak didik atau guru).

Gontor ibarat menghadapi anak-anak yatim lebih dari 4.000 orang karena mereka menjadi santri ditinggal orang tua pulang ke rumah. Maka, santri-santri di Gontor haruslah ditemani, diajari, dibimbing selama 24 jam.

Hingga saat ini, banyak yang ingin meniru Gontor, tapi yang dilihat hanya kulitnya saja, tidak mau melihat nilai-nilai dan jiwa yang ada di dalamnya. Orang-orang hanya ingin meniru bahasa Arab-nya atau bahasa Inggris-nya, atau pengelolaan asramanya.

Anak-anakku… jadilah kalian mundzirul qaum (pemberi peringatan atau pendakwah kebaikan) sesuai dengan profesinya masing-masing.

Ketahuilah, apa yang kami lakukan saat ini adalah warisan generasi terdahulu, yang telah dirintis oleh Trimurti. Tidak ada satu pun yang keluar dari nilai-nilai yang telah digariskan sejak dahulu.

Dalam banyak pertemuan, kami sering membacakan Piagam Penyerahan Wakaf Pondok Modern Gontor, agar semua tahu apa yang diwasiatkan oleh Trimurti kepada kita.

Anak-anakku…! Jika kita mengatakan saat ini belum waktunya menegakkan nilai-nilai Islam, kira-kira anak dan cucu kita nanti pasti akan mengatakan hal yang sama, yaitu belum waktunya. Karena itu, kalau tidak sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi.

Bung Karno pun kalau tidak dipaksa untuk membacakan proklamasi oleh para pemuda waktu itu, maka kemerdekaan akan tertunda. Ibaratnya, jika ingin kawin, maka jangan menunggu waktu punya kasur yang mentul-mentul.

Pondok ini anti intervensi. Maka, bukalah mata, telinga, hati, otak luas-luas, tapi tutuplah mulut! Karena didorong tendensi, belum melihat dan mendengar sudah mau nyerocos terus.

Kunjungilah selalu pondok ini. Dulu Pak Sahal bernasihat kepada santri-santri lama: “Kunjungilah pondokmu walaupun aku sudah tidak ada lagi.”

Berhati-hatilah, jejaring sosial seringkali merusak, terutama bagi orang-orang yang pikirannya kosong dan tidak punya prinsip.

Anak-anakku… belum tentu saat di pondok tidak menjadi ketua, setelah keluar dari pondok ia tidak akan menjadi ketua, karena kalian semua telah diberi kunci. Bahayanya, kalau kalian hanya punya kunci, tapi mengaku punya lemari.

Ketahuilah, nilai-nilai keikhlasan, kebersamaan, dan tawadlu pada zaman dahulu sangatlah tinggi. Namun, di zaman ini virus egoisme amat mendominasi.

Saat ini, unsur ibadah dalam kehidupan amat tipis. The time is money, prestise, dan lain sebagainya. Ini adalah sekularisme. Yang benar adalah the time is iman dan amal saleh.*

 

*) Disampaikan oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, pada acara Reuni Akbar Alumni Gontor 1998, Sabtu, 21 Februari 2015.

 

Festival Unida: Menuju Persaingan yang Terpuji

0

DARUSSALAM-Pascaperesmian dan launching pada tahun 2014 lalu, Universitas Darussalam Gontor (Unida) selalu berupaya untuk bergerak maju dan meningkatkan kualitasnya, baik dalam segi akademis maupun nonakademis. Selain untuk merealisasikan salah satu ide Trimurti Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), yaitu memiliki Perguruan Tinggi yang menjadi pusat Agama Islam, program peningkatan kualitas tersebut juga berguna untuk mempererat ukhuwwah islamiyyah antarmahasiswa.

“Memang festival ini berbentuk kompetisi, namun pada intinya, kebersamaan dan ukhuwwah islamiyyah menjadi prioritas penyelenggaraan acara ini” ucap Abdul Rahim, ketua panitia Festival Unida 2015 ini.

Pertandingan futsal antara Tim Unida Pusat dengan Tim Unida Kampus Rabithah.
Pertandingan futsal antara Tim Unida Pusat dengan Tim Unida Kampus Rabithah.

Untuk itu, Jajaran Rektorat Unida menyelenggarakan acara Festival Unida Gontor yang merupakan serangkaian kompetisi dari segala bidang; fisik, intelektual, religiusitas, dan seni pada Jum’at-Senin (30/1-9/2) di kampus Unida Pusat (Siman).

Adapun peserta acara bergengsi yang mengusung tema “Meningkatkan Keterampilan dan Kreatifitas Melalui Persaingan yang Terpuji” tersebut adalah mahasiswa aktif Unida dari seluruh cabangnya, baik putra maupun putri yang dibagi menjadi 4 divisi; olah raga, olah fikir, olah zikir, dan kesenian.

Hingga pada akhir kegiatan, mahasiswa kampus Unida Pusat memperoleh Juara Umum setelah mendominasi perolehan piala pada divisi olah raga dan olah fikir, dan mahasiswi kampus Unida Cabang Gontor Putri 1 Mantingan memperoleh gelar Juara Favorit. Sedangkan di divisi olah zikir dan dan kesenian, mahasiswa kampus Rabithah dapat meraih kedua bidang tersebut.shaz

Perkajum Gelombang IV, Didik Santri untuk Terus Berkarya

0

GONTOR – Scout is jolly game, inilah kalimat yang sering didengar oleh santri PMDG dalam setiap kegiatan kepramukaan. Pada Kamis (19/2) lalu, diadakan Perkemahan Kamis dan Jum’at (Perkajum). Kegiatan ini bertujuan mendidik santri untuk terus berkarya, khususnya dalam bidang kepramukaan. Dalam kegiatan ini santri dilatih untuk mendalami materi tentang kepramukaan, misalnya semafor, morse, Pionering, baris-berbaris, dan lain-lain. Kegiatan ini juga mendidik santri untuk lebih kreatif dan inovatif.

Adapun peserta perkajum ini berjumlah 407 orang, dan semuanya dibagi menjadi 10 kelompok, setiap kelompok terdiri kurang lebih 40 orang. Kegiatan ini bertempat di Desa Pijeran, Kec. Siman, Kab. Ponorogo. Acara ini dihadiri oleh Ustadz Muhammad Musthofa sekaligus mewakili Pimpinan Pondok untuk memberikan sambutan dalam acara tersebut.

Perkajum ini juga mendidik para santri untuk terampil dan kreatif dalam segala hal, agar mereka nantinya dapat berkiprah di masyarakat. Dan mengamalkan ilmu yang telah mereka timba di Gontor.fuadfahmi

Meski Hujan, Penutupan KML Berjalan Lancar

0
IMG_0829
Pembina Mengarahkan Peserta KML

MADUSARI – Meski hujan mengguyur lebat bumi Pondok Modern Darussalam Gontor 2, Penutupan Kursus Mahir Lanjutan (KML) 2015 tetap berjalan lancar, semua peserta fokus mengikuti acara tersebut. Upacara dimulai pukul 20.00 WIB, Rabu (11/2) lalu, bertempat di depan Masjid Jami’ Gontor 2. Hadir dalam kesempatan kali ini Wakil Direktur Kulliyyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) Al-Ustadz H. Farid Sulistyo, Lc. mewakili Pimpinan PMDG dan Al-Ustadz Drs. H. Sutrisno Ahmad, Dipl. A. Acara yang sudah berlangsung 4 hari ini ditutup dengan penampilan-penampilan dari peserta KML dan Unggun Gembira.
Penampilan yang ditampilkan diapresiasi oleh para pembimbing. Karena hanya dalam waktu 4 hari mereka bisa menampilkan pentas yang berkelas, salah satunya yaitu Step Up yang dibawakan oleh santri konsulat Sumalia (Sulawesi, Maluku, Irian Jaya). Meski cuaca sangat tidak mendukung ketika itu, tetapi api unggun tetap menyala seakan menyeimbangi kobaran semangat peserta KML.
“Tema KML kali ini mengambil konsep Tiongkok,” ujar Ustadz Gunawan, salah satu staf Mabikori. Dia menjelaskan, dari lanskap bumi perkemahan sampai acara penutupan semuanya diwarnai ornamen khas Tiongkok, seperti gapura berwarna merah dan kuning, lampu lampion di malam hari, hiasan-hiasan tenda, dan lain-lain.
Acara ini berakhir pukul 22.00 WIB, dilanjutkan dengan renungan oleh pembimbing dan ramah tamah. Sebelum penutupan, peserta KML juga sempat mengadakan rihlah ke Skipan di daerah Tawangmangu, dan Outbond di daerah hutan yang dikelola oleh Perhutani.AaRum