Home Blog Page 531

Kasyful Mu’jam Perdana Siswi KMI Kelas 5

0
Fathul Kutub Kelas 5 KMI
Fathul Kutub Kelas 5 KMI
Pengarahan Fathul Kutub
Pengarahan Fathul Kutub
Pengarahan Fathul Kutub Kelas 5 KMI Gontor Putri 2
Pengarahan Fathul Kutub Kelas 5 KMI Gontor Putri 2

Tanggal 27-29 November 2013, Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 2 mengadakan ujian Kasyful Mu’jam untuk pertama kalinya bagi siswi KMI kelas 5 yang berjumlah 95 santriwati. Ujian dibuka oleh Bapak Wakil Pengasuh, Al-Ustadz H. Suwarno TM, S.Ag di aula masjid Gontor Putri 2. Didampingi dan dijaga oleh para ustadzah wali kelas dan asisten kelas. Kasyful Mu’jam sebagai latihan bagi santriwati kelas 5 khususnya, dalam mencari makna dasar kosakata bahasa arab. Disertai juga berikutnya Mu’jam Mufarros latihan dalam menemukan penggalan ayat Al-Quran. Ujian ini sebagai ajang latihan bagi mereka untuk menunjang kualitas akademis pada seluruh  pelajaran berbahasa arab.

 

USBU’ RIYADHI (EKSAK)

0

Untuk mengetahui perkembangan, pemahaman dan penguasaan santri terhadap pelajaran/materi eksak yang sudah dipelajari, maka KMI (Kulliyatu Mu’allimat Al-Islamiyah) Gontor Putri 2 menyelenggarakan kegiatan khusus pelajaran eksak yang disebut dengan “Usbu’ Riyadhi”.

Kegiatan ini dilaksanakan selama 4 hari dalam 2 gelombang. Sabtu (19/10) babak penyisihan untuk kelas 1, 1 Intensif, 2 dan 3 dilaksanakan di gedung Granada, sedangkan untuk kelas 4, 3 Int, 5 dan 6 hari Senin (21/10) dan babak final Selasa s/d Rabu, (22-23/10) di depan gedung Damaskus untuk kelas 1 dan 6, bapenta untuk kelas 1 Intensif dan 5, Gedung Al-Azhar untuk kelas 3 dan 4 serta gedung Granada untuk kelas 2 dan 3 Int.

Dari hasil laporan panitia, dinyatakan bahwa nilai tertinggi diraih oleh kelas 1C (Nabila Yasmin Namira, Nadia Ramadhaningtyas dan Ridla Yakti Adhiningrum), kelas 1 intensif D (Manazil Putriana, Sofia Rohma Wati dan Nur Misyka Afidati), kelas 2C (Penta Shahifah Dena, Rizqiyatul Amaliyaus Shobri dan Cut Choiru Nisa), kelas 3C (Melani Putri Hariati, Zida Sabila dan Nadira Megananda), kelas 4B (Ummu Maghfiroh, Nabila Salma Huwaida dan Riza Agnia Azhuri), kelas 3 Intensif C (Salma Qodariah, Sofi Kurotul Uyun dan Zulfa Nur Azizah), kelas 5D (Aisyah Rachman, Mafazatien Nailiyah Isna dan Ai Rinda Novezry) dan kelas 6D (Shira Bella, Laksmi Muthaharoh dan Afiyati Amlul Jariyah).

Catatan Ustadz Suharto: Wisata Peradaban ke Jepang (Bagian V)

0
Hotel Monterey Kobe
Hotel Monterey Kobe

Hotel Monterey Kobe
Dari Masjid Kobe, kami diinapkan di sebuah hotel baru, Hotel Monterey Kobe, namun didesain klasik model Spanyol, mulai dari arsitek, taman, hingga kamar, semuanya bernuansa Spanyol. Selepas Maghrib kami berjalan-jalan menikmati keindahan malam Kota Kobe. Jalanan dan pertokoan sangat ramai dikunjungi orang, maklum hari itu adalah malam Sabtu, waktunya masyarakat Kobe untuk bersantai setelah bekerja keras 5 hari di kantor. Guide membawa kami ke sebuah mal bawah tanah. Teman-teman bisa berbelanja oleh-oleh sekaligus mendapat banyak pilihan restoran untuk makan malam. Selesai makan malam, kami kembali ke Hotel Monterey untuk segera beristirahat, karena paginya sudah harus berangkat ke Hiroshima dengan Shinkansen.

Home Stay di Hiroshima
Setelah makan pagi di restoran hotel, kami bersiap-siap ke stasiun Kobe naik Shinkansen ke Hiroshima. Perjalanan hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam. Setiba di Hiroshima, kami menuju Royal Hotel untuk bertemu dengan keluarga home stay. Pukul 13.30 kami semua sudah berkumpul di lobi hotel. Beberapa saat kemudian, datang seorang bapak mencari anggota delegasi yang akan diajak ke rumahnya. Demikian satu demi satu mereka berdatangan dan kami berpisah menuju lokasi rumah yang berbeda-beda di wilayah Hiroshima.

Saya sendiri dijemput seorang ibu, berusia sekitar 64 tahun, mempunyai dua orang anak dan dua orang cucu yang semuanya tinggal di Tokyo. Beliau adalah Ibu Midari, tinggal di sebuah kota pelabuhan kecil bernama Kure dengan suaminya, Tuan Ishamo. Saya diajak ke rumah beliau yang berlokasi di perbukitan tinggi. Suhu udara di daerah perbukitan ini lebih dingin dibanding Kobe atau Kota Hiroshima.

Saya diberi sebuah kamar di lantai bawah yang cukup luas, sepertinya juga berfungsi untuk menerima tamu lesehan. Rumahnya tidak luas, namun bersih, dan penataannya cukup artistik. Ada jendela kaca transparan menghadap halaman dan sisi lainnya disekat kayu. Tersedia pula meja kayu persegi di atas lantai serta beberapa almari dinding untuk menyimpan peralatan tidur. Baru saja kami memasuki rumah, sudah ada seorang ibu lainnya yang datang sambil membawa makanan. Tampaknya, ia adalah tetangga Ibu Midari yang sudah mendapat kabar akan adanya tamu Indonesia yang ikut program home stay. Kami berkenalan dan beliau menyatakan kegembiraannya. Ternyata profil pondok yang lengkap dengan foto kegiatannya, termasuk foto keluarga yang saya bawa bisa menjadi sarana efektif untuk berkomunikasi.

Pada hari Ahad, 27 Oktober 2013, Tuan Ishamo bersama Ibu Midari sudah menyiapkan acara istimewa untuk saya. Beliau mengajak saya naik mobil keluarga melintasi pulau-pulau kecil, menembus jembatan yang menghubungkan antarpulau di wilayah Hiroshima selatan. Setiap kali melewati panorama yang indah, kami turun beberapa saat untuk berfoto dan menikmati indahnya panorama. Kebun-kebun buah yang sedang berbuah ranum kami lewati, tebing-tebing terjal di sisi pantai kami lalui. Banyak para biker menikmati keindahan panorama alam dengan bersepeda balap. Resort dan hotel-hotel di tepian pantai juga bertebaran.

Setelah melewati dua pulau kacil, kami tiba di sebuah kota pelabuhan dengan mercusuar mininya. Konon, pelabuhan ini sangat ramai dan banyak pelaut yang menginap beberapa hari di perumahan-perumahan penduduk di pulau ini, tapi saat ini sudah sepi dan tinggal para nelayan lokal yang mempunyai kapal-kapal ikan di pelabuhan.

Kemudian kami mengunjungi lokasi wisata di sebuah pantai berpasir putih yang hari itu masih sepi. Biasanya ramai dikunjungi di hari-hari libur dan akhirnya kami memilih sebuah restoran kecil menghadap ke laut untuk makan siang. Lalu kami menyempatkan diri masuk ke museum kapal selam. Menurut informasi yang dapat, di masa Perang Dunia I dan II, Kota Kure menjadi pelabuhan militer Jepang yang sangat penting dan strategis.

Berpose dengan keluarga program home stay
Berpose dengan keluarga program home stay

Pada Senin pagi, 28 Oktober 2013, kami berangkat ke Hisroshima untuk bertemu dengan teman-teman yang lain di Taman Perdamaian Hiroshima. Sepanjang perjalanan menuju Taman Perdamaian, saya sangat menikmati keindahan alamnya. Selain indah, juga tertata rapi dan bersih. Rute yang kami lalui kebetulan di pinggir pantai. Beberapa kali bus yang kami tumpangi memasuki terowongan yang memang cukup banyak di Jepang. Memasuki Kota Hiroshima, kami melintasi jembatan panjang di atas Selat Hiroshima. Tampak sekali pabrik-pabrik besar di pinggiran pantai Hiroshima, seolah tidak ada bekas yang menunjukkan kota ini pernah diluluhlantakkan bom atom.

Pada jam 9 pagi, kami sudah sampai di Taman Perdamaian Hiroshima, lokasi bekas dijatuhkannya bom atom pada 6 Agustus 1945 lalu. Teman-teman juga mulai berdatangan, sehingga tepat pukul 09.30 kami sudah lengkap berkumpul kembali. Setelah berfoto bersama dengan keluarga home stay, kami berpamitan dan mengucapkan banyak terima kasih atas segala kemudahan dan bantuan yang diberikan kepada kami selama program home stay.

Kami menelusuri Taman Perdamaian dari ujung barat, menyaksikan gedung bekas reruntuhan serangan bom yang masih diabadikan, menelusuri pinggiran sungai yang dahulu berisi puluhan ribu jasad manusia yang tidak bernyawa, hingga akhirnya ke museum. Di museum, kami melihat gambar-gambar yang menyedihkan, keadaan Hiroshima sebelum dan sesudah pengeboman, efek kerusakan dan korban yang ditimbulkan, serta film singkat bagaimana proses letusan bom atom.

Di akhir kunjungan, kami sempat bertemu dengan salah seorang ibu yang menjadi saksi mata letusan bom atom, umurnya sudah lebih dari 80 tahun. Konon, dia sudah melakukan operasi plastik sebanyak 15 kali untuk menyembuhkan luka-luka akibat radiasi bom. Beliau bercerita dengan nada suara penuh kesedihan dan ratapan, seolah-oleh mengajak kami ikut merasakan saat-saat bom meletus.

“Saat itu 6 Agustus 1945, udara cerah dan matahari terasa panas menyengat. Tidak ada bunyi sirine yang kami dengar, yang berarti kami dalam situasi aman dari serangan udara. Anak-anak sekolah sedang dimobilisir ke pabrik-pabrik. Hiroshima dijadikan sebagai pabrik industri senjata bagi Jepang. Tiba-tiba ada ledakan dahsyat. Bola api berbentuk cendawan membubung ke langit, suhu udara mencapai 3000 derajat, semua yang dilalui terbakar habis, angin sangat kencang, sehingga bola mata manusia akan terlepas. Bangunan kayu pun kalau tidak terbakar pasti habis disapu angin. Banyak orang menceburkan diri ke sungai karena kepanasan, padahal sungai sudah terkena radiasi, dalam waktu singkat, 60 ribu nyawa melayang dan setiap hari terus bertambah hingga mencapai 140 ribu jiwa. Hujan turun beberapa hari kemudian, tetapi airnya hitam dan mengandung racun. Sumur-sumur penduduk tercemari radiasi yang selama puluhan tahun kemudian mengakibatkan berbagai macam penyakit yang tidak bisa disembuhkan.” Demikian sepotong kisah ibu yang manjadi saksi kekejaman bom atom di Hiroshima.Jepang Bagian V (4)

Setelah kunjungan ke Hiroshima, kami makan siang dan menuju stasiun kereta super ekspres Shinkansen menuju Tokyo kembali. Kali ini perjalanan kami cukup jauh, bahkan yang terjauh dibanding ketika kami naik Shinkansen ke Kyoto pertama kali. Lebih dari empat jam kami butuhkan untuk kembali ke Tokyo dari Hiroshima, padahal kecepatan kereta antara 270–300 km/jam. Kami berharap bisa menyaksikan Gunung Fujiyama di sebelah kiri dari kereta Shinkansen, tapi tampaknya kami kurang beruntung, selain cuaca yang mendung, waktunya juga sudah menjelang malam saat kami menjelang Tokyo.

Kemudian, diantar bus, kami menuju Tokyo Prince Hotel, seperti saat kami baru datang ke Jepang. Kali ini kami akan menginap lebih lama di hotel ini karena sisa waktu yang masih tiga hari akan kami habiskan di Tokyo, dua hari untuk kunjungan dan hari ketiga untuk keberangkatan menuju tanah air tercinta.

 

Catatan Ustadz Suharto: Wisata Peradaban ke Jepang (Bagian IV)

0
Bersama Bapak Yamada
Bersama Bapak Yamada

Bapak Yamada, Petani Inspirator dan Motivator Jempolan
Selesai jamuan makan siang yang sangat mengesankan, kami melanjutkan perjalanan untuk meninjau teknologi pertanian di Kyoto. Seorang petani sukses berusia sekitar 45 tahun, Bapak Yamada, memiliki kreativitas tinggi dan keuletan dalam usaha. Apa yang sudah dicapai beliau berikut kiat-kiatnya benar-benar merupakan inspirasi bagi kami semua, bukan hanya untuk mengembangkan pertanian, tetapi juga untuk memajukan pesantren.

Yamada muda adalah anak seorang petani daun bawang. Sebagaimana petani daun bawang lainnya yang menggarap lahan tidak terlalu luas, penghasilan orang tuanya bisa dikatakan minim, hanya 6 juta yen setahun, itupun dikerjakan bertiga. Karena itulah, pada awalnya Yamada tidak tertarik sama sekali untuk melanjutkan usaha pertanian orang tuanya. Dia bekerja di sebuah perusahaan pakaian dengan penghasilan yang pas-pasan. Akhirnya Yamada muda terpanggil untuk mengembangkan pertanian orang tuanya, tetapi dia tidak mau hanya bertani secara konvensional. Baginya, bertani harus disertai impian, obsesi, dan target yang lebih baik, lebih intensif dan produktif.

Yamada melihat pertanian tidak banyak diminati para pemuda, penghasilannya sangat minim, modelnya masih konvensional dan tradisional. Para petani memang mempunyai usaha sampingan, tetapi seringkali tidak berkaitan dengan pengembangan pertanian mereka. Hari libur untuk para petani dalam setahun hanya 20 hari, sementara para pegawai bisa memiliki masa berlibur 100 hari, itu pun penghasilan para petani tidak bisa melampaui para pegawai. Banyak petani yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pabrik (konsumen), sementara para pedagang tengkulak yang menjualkan hasil pertanian ke konsumen mempunyai penghasilan jauh lebih besar dari petani itu sendiri. Itulah hal-hal yang menggelitik Yamada untuk membuat terobosan dalam bidang pertanian.

Untuk merevolusi pertanian keluarganya, langkah-langkah yang ditempuh Yamada adalah mencanangkan target penghasilan yang biasanya hanya 6–7 juta yen menjadi 100 juta yen. Sebabnya, di Jepang, seorang laki-laki yang bisa dikatakan mandiri dan mampu menghidupi keluarganya harus mempunyai penghasilan lebih dari 100 juta yen. Langkah berikutnya adalah berkonsentrasi menekuni satu jenis pertanian saja, yaitu bawang daun (koiju), karena hal itu akan mempermudah pengelolaan di samping mempermurah pembiayaan. Setiap hari bisa menghasilkan dan akhirnya bisa membuat kontrak kerja dengan para pembeli. Karena itu, Yamada mencoba mengatasi permasalahan produksi, bagaimana bisa melakukan produksi setiap hari, bukan musiman, karena kebutuhan dan permintaan juga harian. Kalau tidak sanggup menyediakan stok harian, tidak akan ada kontrak kerja.

Pada tahun pertama, hasil usahanya mencapai peningkatan, meskipun masih belum mencapai target, dari 6 juta yen menjadi 16 juta yen. Penghasilan tersebut dibagi, sebagian untuk konsumsi dan sebagian untuk pengembangan produksi. Pandangan masyarakat Jepang bahwa sayuran Kyoto lebih berkualitas dibanding wilayah lain sangat menguntungkan pertanian Yamada. Untuk itu, dia membangun citra sebagai penghasil bawang daun berkualitas khas Kyoto. Yamada menyadari bahwa untuk mencapai pengahasilan 100 juta yen, dia harus melipatgandakan produksi menjadi 10 kali lipat, dan hal itu tentunya tidak mudah, sementara lahan yang dimilikinya sangat terbatas. Langkah berikutnya adalah mempelajari sistem lelang hasil pertanian selama 3 bulan untuk mengetahui seluk-beluk dan alur perdagangan hasil pertanian dari tangan petani hingga pabrik atau konsumen langsung. Banyak orang yang tidak senang dengan langkah ini karena berpotensi merugikan mereka yang sudah mendominasi perlelangan ini, tetapi Yamada dengan gigih terus belajar langsung ke lapangan.

Tidak hanya berhenti di situ, Yamada juga belajar bagaimana daun bawang yang biasanya dijual utuh akan dipotong dengan rapi dan dikemas dengan indah, selanjutnya dikirim ke restoran-restoran yang membutuhkannya secara langsung. Ternyata hal ini mendapat respon sangat baik dari pihak restoran mie China yang banyak menyedot produksi daun bawang, karena mereka baru menemukan petani yang langsung menjual sayurannya dengan kemasan yang baik serta kualitas yang juga baik. Kontrak pun dibuat. Untuk memenuhi permintaan, dibutuhkan suntikan modal besar, membeli alat-alat pemotong yang baik, alat kemasan dan lain sebagainya. Sebenarnya, setiap usaha progresif yang dilakukan Yamada selalu ditentang orang tuanya, tetapi Yamada bergeming dan mengambil pelajaran dari peristiwa ini, “Kalau saya tidak bisa menyelesaikan permasalahan dengan orang tua saya, bagaimana saya bisa memajukan perusahaan ini?” kenang Yamada.

Karena permintaan semakin banyak, Yamada menggalang para petani lain untuk usaha ini. Pelatihan dan penyuluhan kerap dia lakukan. Asosiasi petani daun bawang dia bentuk, dan akhirnya banyak yang mendukung dan sama-sama berkembang. Yamada juga membuat brosur-brosur untuk memperluas jangkauan penjualan daun bawangnya. Pernah suatu ketika ada isu bahwa mie yang diimpor dari China mengandung racun. Hal ini berdampak cukup signifikan bagi restoran-restoran mie dan otomatis bagi daun bawang para petani. Tetapi hikmahnya cukup besar, yaitu kesadaran dan kebutuhan akan hasil pertanian yang baik, berkualitas, dan menyehatkan. Tahun demi tahun usaha Yamada dengan teman-temannya terus berkembang dan meningkat. Lahan pertanian semakin meluas, pabrik pengolahan semakin representatif, usaha juga dikembangkan dengan peternakan ayam petelor yang berkualitas untuk membuat kue, kotoran ayamnya untuk rabuk bawang daun, karena sayuran yang diminati adalah yang bebas dari pestisida. Demikianlah, hasil dari kreativitas, mengerjakan hal-hal yang tidak biasa dilakukan orang lain, pandangan ke depan yang visioner, kejujuran, keuletan, dan kerja keras tak kenal lelah telah menghantarkan Yamada menjadi petani sukses. Kalau dahulu penghasilannya hanya 6 juta yen, saat ini sudah mencapai 724 juta yen.

Saya sangat apresiatif akan kerja keras Yamada, tetapi saya tidak hanya melihat dari sisi pertaniannya semata, karena kiat dan rumusan yang dijalankan Yamada sejatinya bukan hanya untuk pertanian, tetapi berlaku universal, untuk pengembangan usaha apa saja, termasuk memajukan pesantren di Indonesia. Yamada bukan hanya sosok petani modern Jepang yang sukses, tetapi seorang motivator dan inspirator ulung. Kita bisa memajukan pesantren dengan jalan: mempunyai obsesi yang tinggi, target yang jelas, mempelajari segala hal yang dibutuhkan untuk menopang kemajuan, menjadikan hambatan sebagai tantangan untuk ditaklukkan, terus belajar, melakukan yang orang lain tidak melakukannya, suka berbagi dan membuat komunitas kebersamaan, ulet, jujur, tekun, pandai melihat peluang, komunikasi dan sosialisasi yang efektif dengan semua pihak, ditambah dengan kekuatan doa kepada Allah, insya Allah pesantren kita akan lebih maju lagi.

Ustadz Suharto memperlihatkan buku profil Gontor kepada Kepala Sekolah Toda-iji.
Ustadz Suharto memperlihatkan buku profil Gontor kepada Kepala Sekolah Toda-iji.

SMP-SMU Toda-iji
Setelah berkunjung ke pabrik daun bawang yang dikelola oleh Bapak Yamada, kami melanjutkan perjalanan dari Kyoto ke Nara. Kali ini kami menginap di Hotel Nikko Nara yang lokasinya satu komplek dengan sebuah stasiun kereta cepat. Nara adalah sebuah kota kuno yang sangat relijius di Jepang. Pada abad ke-17, Nara pernah menjadi ibukota Jepang sebelum dipindah ke Kyoto dan akhirnya ke Tokyo. Di kota ini ada sebuah kuil Budha yang sangat terkenal, namanya Kuil Todaiji, mempunyai bangunan kayu terbesar di dunia yang sudah masuk sebagai cagar budaya UNESCO, dengan taman luas yang dipenuhi ratusan ekor rusa jinak. Di bangunan utamanya terdapat patung Budha terbesar di Jepang setinggi 11 m. Setiap hari, kuil ini ramai dikunjungi oleh ribuan peziarah yang diharuskan membeli tiket untuk donasi operasional dan kegiatan sosial kuil berkisar antara 350 sampai dengan 500 yen.

Di tempat ini, kami mengunjungi sebuah sekolahan tingkat menengah (SMP dan SMU) yang dikelola oleh Kuil Toda-iji, kemudian berkunjung langsung ke kuil untuk bertemu salah seorang pendeta (biksu) senior di Jepang, Bapak Marimoto, yang juga bisa berbahasa Arab karena pernah belajar di Universitas Kairo Mesir selama satu setengah tahun. Visi dan misi sekolah ini adalah memberikan kemampuan akademis dasar untuk mampu melanjutkan ke perguruan tinggi, membentuk jiwa mandiri dan kebebasan kepada siswa, serta membangun jiwa humanisme yang kaya hati dan mempunyai kepedulian kepada orang lain, alam, hingga binatang.

Ketika kami mengadakan peninjauan, seperti di SD Takanawadai, kami menemukan suasana belajar yang bergairah. Anak-anak memang bebas berpakaian namun sopan (tanpa seragam). Guru sangat interaktif, komunikatif, dan menguasai masalah. Sarana dan fasilitas lengkap. Perpustakaan, laboratorium Mafikib, bahasa, komputer, sarana olah raga, gedung pertemuan, dan teater, semuanya memadai. Kegiatan olahraga dan ekstrakurikuler sangat maju. Anak-anak di SMP dan SMA Todaiji ini menjadi langganan juara berbagai lomba atletik, olahraga, bela diri Judo, dan olimpiade sains di tingkat regional maupun nasional. Saya mencatat pengajaran dan pengembangan sains menjadi andalan, penekanannya bukan pada menghapal tetapi pada pola pikir yang observatif, analisis, kreatif dan kritis. Lebih dari semua itu pendidikan karakter masih sangat kuat mewarnai program pendidikan dan pengajaran di sekolah ini.

Jepang Bagian IV (6)Kuil Toda-iji dan Pendeta Marimoto
Ketika berkunjung ke Kuil Toda-iji, Pendeta Marimoto menjelaskan bahwa ketika kuil dibangun oleh Kaisar Sumo di abad ke-8, Jepang masih merupakan negara muda, sehingga UU-nya diadopsi dari Cina. Hukum memang bisa mengontrol perilaku masyarakat, tetapi tidak bisa mengontrol hati manusia. Saat itu merupakan masa yang sulit bagi rakyat Jepang, banyak kemiskinan dan penyakit menular. Karena itu, Kaisar memerintahkan membangun kuil-kuil di setiap kabupaten. Setiap kuil membutuhkan 20 orang biksu dan biksuni (wanita). Kalau di Jepang ada 60 kabupaten, maka dibutuhkan 1.020 orang biksu dan biksuni, hal inilah yang mendorong didirikannya kuil Toda-iji sebagai tempat pembinaan dan pendidikan calon biksu dan biksuni. Pendeta Marimoto juga menambahkan bahwa dahulu ketika Jepang terseret dalam perang saudara, banyak kuil yang dibakar, termauk Kuil Toda-iji ini, namun kemudian direnovasi kembali.

Kunjungan ini berlanjut dengan dialog cukup lama di ruang khusus. Dalam kesempatan itu saya menyampaikan bahwa umat Islam Indonesia mempunyai harapan besar agar umat Islam Rohingya bisa hidup secara harmonis tanpa intimidasi dan permusuhan. Beliau juga menyesalkan hal itu dan menyatakan bahwa perang dan dendam bukanlah ajaran Budha. Beliau bertanya tentang Arab spring yang mengakibatkan gejolak perang dan kehancuran saat ini. Saya katakan, itu tidak ada sangkut pautnya dengan agama (Islam), melainkan hanya persoalan politik, karena rakyat sudah bosan hidup di bawah penindasan para tiran. Beliau pun setuju. Sebuah kunjungan dengan dialog yang sangat mengesankan. Setiap agama pastilah mempunyai ajaran-ajaran luhur yang universal, saling mengenal dan memahami akan bisa menggerus konflik dan perselisihan, bahkan bisa menguatkan jalinan kerjasama untuk kemajuan bangsa.

Osaka Castle
Pada hari berikutnya kami melanjutkan perjalanan ke Osaka dan Kobe. Kami berkesempatan mengunjungi Istana Osaka yang terletak di Distrik Chuo-ku. Istana Osaka berada di ujung paling sebelah utara daerah Uemachi, menempati lokasi tanah yang paling tinggi dibandingkan dengan wilayah sekelilingnya. Istana Osaka merupakan bangunan peninggalan budaya yang dilindungi oleh pemerintah Jepang. Menara utama Istana Osaka yang menjulang tinggi merupakan simbol Kota Osaka.

Jepang Bagian IVIstana Osaka dimanfaatkan sebagai istana sekaligus benteng sejak zaman Azuchi Momoyama hingga zaman Edo. Istana Osaka yang ada sekarang terdiri dari menara utama yang dilindungi oleh dua lapis tembok tinggi yang dikelilingi oleh dua lapis parit, parit bagian dalam (uchibori) dan parit bagian luar (sotobori). Air yang digunakan untuk mengaliri parit istana diambil dari Sungai Yodo, mengalir di sebelah utara Istana Osaka. Di sudut sebelah barat daya Ninomaru, terdapat Pintu Gerbang Otemon (Gerbang Besar) yang merupakan pintu masuk utama ke seluruh kompleks istana. Menara pengawas yang ada di atas Pintu Gerbang Otemon disebut Tamon Yagura. Di sebelah utara Tamon Yagura terdapat menara pengawas bertingkat dua Sengan Yagura dengan gaya arsitektur zaman Tokugawa.

Walaupun berstatus bangunan lama, Istana Osaka memiliki sistem konstruksi yang kuat serta artistik, menunjukkan peradaban tinggi yang sudah lama dimiliki orang-orang Jepang. Bangunan-bangunan utamanya terdiri dari kayu-kayu besar terbaik yang ada di seluruh profektur (propinsi) Jepang sebagai persembahan dan bukti loyalitas rakyat terhadap Kaisar. Demikian pula batu-batu yang dipasang pada dinding benteng, mempunyai bobot ratusan ton. Untuk zaman sekarang, mungkin banyak alat berat bisa mengangkat batu-batu itu, tetapi bagaimana jika itu ratusan tahun lalu? Teknik apa yang mereka pakai? Semua itu hanya menyisakan kekaguman kami atas etos kerja luar biasa yang dimiliki bangsa Jepang. Menjelang pukul 11.00 waktu Osaka, kami bergegas kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke Konjen RI di Osaka guna melaksanakan shalat Jum’at.

Jepang Bagian IV (7)Menjadi Khatib Dadakan
Tiba di kantor Konjen, kami disambut Bapak Bambang, Konjen RI di Osaka. Beliau bercerita, sebelum 1995, kantor Konjen RI berada di Kobe, namun karena hancur terkena gempa, akhirnya dipindah ke Osaka, kebetulan di Osaka juga banyak WNI yang tinggal, baik sebagai pekerja maupun pelajar.

Saat ibadah shalat Jum’at sudah tiba, ruang tamu disulap menjadi mushalla. TGH Abdul Karim yang kami juluki sebagai mufti, karena menjadi rujukan dalam berfatwa, menunjuk saya sebagai khatib dan beliau sendiri yang menjadi imam. Menurut beliau, hal ini sudah ditawarkan kepada teman-teman yang lebih senior, namun semua menolak. Khutbah saya singkat saja, mengaitkan hijrah dengan perjalanan kami sebagai starting poin menuju perubahan yang lebih baik.

Masjid Kobe, Masjid Tertua di Jepang
Dari kantor Konjen RI, kami menuju Kobe untuk shalat Maghrib di Masjid Kobe, masjid tertua dan pertama di Jepang yang dibangun pada tahun 1928 di kawasan paling terkenal di Kobe, Nakayamate Dori, Chuo-ku. Masjid ini berdiri sangat kokoh dan anggun di antara bangunan-bangunan berarsitektur Eropa lainnya. Hal ini bisa dilihat dari kubah besar dan dua buah menara kembar di sampingnya.

Masjid Kobe
Masjid Kobe

Menurut catatan sejarah, pendirian masjid ini tidak terlepas dari kedatangan para pedagang Muslim yang berasal dari wilayah India dan Timur Tengah ke kota Kobe seabad yang lalu. Jumlah para pedagang Muslim yang tinggal di Kobe pada awal tahun 1900-an masih terbilang sedikit. Mereka biasa melaksanakan berbagai kegiatan keagamaan di rumah-rumah atau aula hotel. Pada tahun 1920-an, jumlah komunitas muslim di Kobe kian tahun kian meningkat. Akhirnya, mereka segera memutuskan untuk membangun Masjid Kobe.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa perancang Masjid Kobe adalah seorang arsitek asal Ceko bernama Jan Josef Svagr. Arsitek inilah yang telah merancang banyak bangunan bergaya Barat di Jepang. Svagr merancang masjid ini dengan gaya Turki tradisional. Masjid Kobe ini pernah menjadi korban keganasan Perang Dunia II. Akibat dari serangan itu, Kota Kobe bisa dibilang rata dengan tanah. Sebagian besar bangunan luluh-lantak. Tapi, keajaiban terjadi. Masjid Kobe tetap berdiri tegak, subhanallah. Masjid ini hanya mengalami keretakan pada dinding luar dan semua kaca jendelanya pecah. Bagian luar masjid menjadi agak hitam karena asap serangan bom.

Pemerintah Arab Saudi dan Kuwait menyumbang dana renovasi dalam jumlah yang besar. Kaca-kaca jendela yang pecah diganti dengan kaca-kaca jendela baru yang didatangkan langsung dari Jerman. Sebuah lampu hias baru yang indah digantungkan di tengah ruang shalat utama sehingga membuat megah masjid ini. Sistem pengatur suhu ruangan dipasang untuk membuat nyaman para jamaah masjid. Umat Islam kembali menikmati kegiatan-kegiatan keagamaan mereka di Masjid Kobe. Donasinya bahkan bisa membuat Masjid Kobe menjadi semakin berkembang pesat. Pada tahun 1992, Masjid Kobe memiliki fasilitas untuk pusat kegiatan Islam berupa bangunan kelas, ruang resepsi, perpustakaan, kantor, dan bangunan apartemen.Jepang Bagian IV (9)

Ketahanan Masjid Kobe pernah diuji kembali pada 17 Januari 1995. Kali ini dengan gempa berkekuatan 7,2 skala Richter, yang dinamakan gempa Hanshin-Awaji. Walaupun kota Kobe saat itu hancur berantakan, tetapi Masjid Kobe tetap berdiri kokoh di antara puing-puing bangunan di sekitarnya. Pemandangan luar biasa ini membuat Masjid Kobe menjadi sorotan penting dalam pemberitaan di media massa. Tidak heran jika masjid ini menjadi tempat penyelamatan bagi para korban gempa dan sekali lagi menjadi tempat pengungsian warga Kobe.

4th ASEAN Jambore 2013: Gontor Delegasikan Kontingen ke Negara Gajah Putih

0

Kontingen PMDG tengah berpose bersama Pimpinan Pondok usai Pelepasan di Kantor Pimpinan.DARUSSALAM-Ahad (24/11), kontingen Pondok Modern Darussalam Gontor pada acara 4th ASEAN Jamboree 2013, Vajiravudh Scout Camp di Chonburi Thailand, secara resmi diberangkatkan oleh K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi dan K.H. Syamsul Hadi Abdan, selaku Pimpinan PMDG. Sejak pukul 08.00 pagi, para peserta telah berbaris rapi di depan Kantor Pimpinan sembari menunggu bel istirahat para santri berbunyi, yang sekaligus merupakan tanda pelepasan akan dimulai.

Pada sambutannya, K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi dengan sangat cermat kerap menanyakan persiapan dalam kegiatan ini, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Begitu pula K.H. Syamsul Hadi Abdan, beliau berpesan “Bersyukurlah, karena kegiatan ini bukanlah kegiatan yang biasa, hanya orang-orang yang memiliki kesempatanlah yang mampu mengikuti acara ini. Dan hati-hatilah, karena dimanapun kamu berpijak, kamu akan diperhatikan,”. Pelepasan ini diakhiri dengan perfotoan seluruh peserta kontingen bersama Pimpinan PMDG, serta prosesi salam-salaman sebagai doa dan tanda restu akan keberangkatan kontingen ini.

Kegiatan yang diturutsertai oleh 20 orang santri dan 3 orang guru pembimbing ini, telah memakan biaya Rp. 12.800.000,00 untuk tiap individunya. Dengan angka nominal yang lumayan ini, diharapkan santri PMDG dapat meningkatkan kapabilitas dan kepiawaiannya dalam urusan kepramukaan pada khususnya, dan dalam urusan kehidupan pada umumnya.sazza

Tingkatkan Kualitas Kepramukaan, Mabikori Gelar Gladian Pinsa dan Pinru

0
Suasana Gladian Pinsa dan Pinru di Pondok Modern Darussalam Gontor, Sabtu-Jumat (16-21/11).
Suasana Gladian Pinsa dan Pinru di Pondok Modern Darussalam Gontor, Sabtu-Jumat (16-21/11).

DARUSSALAM – Acara gladian pinsa dan pinru adalah suatu orientasi kepramukaan dasar yang diadakan oleh Koordinator Gerakan Pramuka setiap tahunnya. Pada tahun ini, acara dilaksanakan selama 1 Minggu, terhitung dari hari Sabtu–Jum’at (16–22/11) untuk segenap pramuka gontor, yang bertempat di sekitar kampus Pondok Modern Darussalam Gontor, dan ditutup dengan acara rekreasi dan lain-lain, pada hari Jum’at (29/11) di Sarangan. Acara ini bertujuan agar segenap pimpinan sangga dan regu bisa memberi contoh kepada semua adika tentang bagaimana berpramuka yang baik.

Panitia acara ini adalah siswa kelas 5 KMI yang berjumlah 20 orang dan dibantu oleh pengurus harian Koordinator Gerakan Pramuka, dan diikuti oleh santri yang menjabat sebagai Pimpinan Sangga (Pinsa) dan Pimpinan Regu (Pinru) dari setiap Gugus Depan.

Materi yang disampaikan oleh Majelis Pembimbing Koordinator Harian (Mabikori) dengan bantuan segenap pengurus Koordinator Gerakan Pramuka ini, meliputi skill dasar kepramukaan seperti: Upacara, Dinamika Kelompok, Baris-berbaris, Morse, Semaphore, perkemahan, P3K dan lain-lain.

Adapun sistematika jalannya session pada tahun ini mengambil cara yang berbeda dari tahun sebelumnya, yang mana pada tahun sebelumnya hanya mengadakan orientasi dengan proyektor. Namun, pada tahun ini lebih mengutamakan praktek dan lebih interaktif dan menyenangkan sehingga tidak membosankan. Para Pinsa dan Pinru diberi rute yang terdiri dari berbagai pos, setiap pos dijaga oleh panitia dan pemateri, setiap pos memiliki materi yang bermacam-macam dan ditutup dengan evaluasi setiap sorenya.ikami86

Dr. Dihyatun Masqon, M.A. Turut Hadiri Dialog Arab-Eropa di Brussels

0
Suasana dialog Arab-Eropa di Brussels, Belgia (11/11/2013) yang diikuti oleh Dr. H. Dihyatun Masqon, M.A., Wakil Rektor IV Institut Studi Islam Darussalam.
Suasana dialog Arab-Eropa di Brussels, Belgia (11/11/2013) yang diikuti oleh Dr. H. Dihyatun Masqon, M.A., Wakil Rektor IV Institut Studi Islam Darussalam.

BRUSSELS – Wakil Rektor IV Institut Studi Islam Darussalam (ISID), Dr. H. Dihyatun Masqon, M.A., pada Senin hingga Selasa (11-12/11/2013) lalu, mengikuti Arab-European Dialogue in the 21st Century yang bertajuk Towards a Common Vision. Acara yang diselenggarakan dalam 2 hari ini dilaksanakan di European Parliament Hall dan SteigenBerger Grandhotel , Brussels, Belgia.

Selain pembukaan dan penutupan, kegiatan dialog Arab-Eropa ini diselenggarakan dalam 3 sesi. Sesi pertama bertemakan “Rethingking Democracy” dengan key note speakers Mr. Haris Silajdic (Mantan Presiden Bosnia), Mr. Michael Frendo (Mantan Menlu Italia), Dr. Mohammad Sabah Al-Salem Al-Sabah (Mantan Wakil Perdana Menteri Kuwait) dan Dr. Mohi Aldinddin Amaimor (Mantan Menteri Komunikasi dan Kebudayaan Aljazair). Adapun sesi kedua, bertemakan “Social Media, A new Space for Democracy”, dengan key note speakers Mr. Gammal Mohammad Ghiets (Ilmuwan Mesir), Mr. Georgio DaBromida (Italia), Dr. Maria Lia Pop (Romania) dan Mrs. Nahida Nakad (Ilmuwan Lebanon). Dan sesi ketiga, bertemakan “Education and citizenship, key tools for the 21st century”, dengan key note speakers Dr. Abduwahid Akmir (Ilmuwan Maroko), Dr. Khaled Hroub (Syria), Dr. Luigi Moccia (Italia) dan Dr. Simon Petermann (Ilmuwan Belgia).

Kegiatan yang terselenggara berkat kerja sama antara European Parliament dan Al Babtain Foundation diikuti lebih dari 350 ilmuwan yang berasal dari 52 negara, baik Arab, Eropa serta Asia. Selain para key note speakers, turut hadir pula dalam acara ini, Mr. Martin Schulz (President European Parliament), Dr. Mohammad Al Rumaihi (Profesor Sosiologi Politik Kuwait University) dan Abdul Aziz Saud Al-Babtain (Chairman of Al Babtain Foundation).

Dr. H. Dihyatun Masqon, M.A. berpose dengan Abdul Aziz Al Babtain (Chairman of Al Babtain Foundation) di sela-sela acara.
Dr. H. Dihyatun Masqon, M.A. berpose dengan Abdul Aziz Al Babtain (Chairman of Al Babtain Foundation) di sela-sela acara.

Selain Dr. H. Dihyatun Masqon, M.A., tidak tampak perwakilan lain dari Indonesia. Bahkan dari data panitia, selain Malaysia yang berhalangan hadir, tidak ada perwakilan lain dari negara-negara di ASEAN.binhadjid

Workshop Multimedia: Gontor Islamkan Ekspansi Multimedia Asing

0
Ustadz Ade Chandra tengah menyampaikan presentasinya di depan para peserta seminar.
Ustadz Ade Chandra tengah menyampaikan presentasinya di depan para peserta seminar.

Darussalam-Datangnya era teknologi multimedia telah memberikan kontribusi besar bagi kemajuan bangsa dan negara. Berbagai institusi telah menanamkan kemampuan teknologi multimedia kepada para pegawainya dalam rangka pengembangan kualitas dan kinerja. Disamping manfaat luhur yang dibawanya, teknologi multimedia acapkali menjadi mudarat dalam kehidupan manusia.

Guna menghindari hal diatas, Institut Studi Islam Darussalam (ISID) menyelenggarakan Workshop Multimedia dan Launching Bagian Dokumentasi di Aula CIOS ISID. Kegiatan yang telah memakan waktu 2 hari (Kamis-Jum’at, 14-15/11) itu, diikuti oleh seluruh bagian Dokumentasi Gontor dan Cabangnya, serta beberapa mahasiswa ISID yang didelegasikan dari tiap kampus untuk mendalami persoalan multimedia dan pendokumentasian.

Workshop ini dibuka oleh Rektor ISID yang diwakilkan oleh H. Syamsul Hadi Untung, M.A.M.Ls. dan dilanjutkan dengan seminar yang menghadirkan berbagai insan praktisi di bidang multimedia serta kesastraan;  H. Nasrulloh Zainul Muttaqien, Asep Sopian, dan Ade Chandra.

“Disamping kemajuan teknologi multimedia saat ini, kita harus tetap siaga dan waspada, karena manfaatnya yang agung justru malah akan menjadi mudarat yang merugikan kita”, ucap H. Nasrulloh Zainul Muttaqien saat menyampaikan presentasinya.sazza

Catatan Ustadz Suharto: Wisata Peradaban ke Jepang (Bagian III)

0
Kegiatan siswa-siswi SD di Jepang
Kegiatan siswa-siswi SD di Jepang

SD Takanawadai Minatokuritsu Tokyo
Pada Senin pagi, 22 Oktober 2013, kami diagendakan berkunjung ke SDN Takanawadai Minatokuritsu, Tokyo. Setibanya rombongan kami di halaman SD Takanawadai, Bapak Wakil Kepala Sekolah dengan beberapa guru sudah siap menyambut kami. Selanjutnya kami diajak menyusuri lorong-lorong gedung, menaiki tangga ke lantai dua menuju ruang pertemuan. Standar kebersihan terjaga, setiap sudut bersih dan rapi, banyak kami temukan wastafel untuk mencuci tangan, bahkan kadang dalam jumlah banyak, berjajar dengan 5 keran atau lebih. Jepang membiasakan anak-anak sejak kecil untuk menjaga kebersihan, terutama dengan mencuci tangan sehabis aktivitas apa saja, sehingga tidak ada kuman penyakit yang akan masuk ke badan melalui makanan. Rak-rak sepatu tertata rapi, anak-anak memakai sepatu khusus dari rumah dan nanti akan mereka ganti dengan sepatu yang khusus lagi di sekolah, kadang cukup dengan sandal selop saja.

Semua lantai sekolah terbuat dari kayu, lebih sehat, lebih lunak dan mampu menahan suhu udara yang kadang ekstrim. Tembok-tembok luar kelas dilapisi papan-papan panjang yang dipenuhi dengan tulisan, kaligrafi dan berbagai hasil kerajinan tangan anak-anak, sebagai wahana mereka mengekspresikan kemampuan dan aktualisasi diri. Untuk mendidik kemandirian, anak-anak diberi tugas membersihkan toilet secara bergiliran, membantu melayani teman-temannya menghidangkan makan siang dan lain-lain. Sebuah pendidikan kemandirian sejak dini yang berhasil membentuk karakter anak didik di Jepang.

Sekolah yang kami kunjungi ini dikelola oleh pemerintah, dalam hal ini yang bertanggung jawab adalah pemerintah kecamatan. Jepang menerapkan sistem rayonisasi bagi pendidikan dasar dan menengah, tempat sekolah ditentukan berdasarkan lokasi tempat tinggal mereka, dengan ketentuan berjarak tidak lebih dari 20 menit berjalan kaki. Meski demikian, siswa atau wali siswa tidak perlu khawatir, karena semua sekolah mempunyai standar yang sama, baik sarana, program, maupun kualifikasi para pendidiknya. Sebanyak 98% sekolah di Jepang berstatus negeri, hanya 2% yang dikelola swasta. Anak-anak SD harus berjalan kaki ke sekolah, berombongan dengan teman-temannya yang rumahnya berdekatan, ada ketua kelompok yang ditunjuk, tidak boleh diantar dan tidak pula membawa kendaraan. Anak-anak setingkat SLTP ditolelir membawa sepeda, demikian pula anak-anak SLTA, namun tetap tidak diperkenankan membawa sepeda motor apalagi mobil.

Mayoritas SD Jepang tidak mewajibkan seragam, termasuk SD yang kami kunjungi, anak-anak berpakaian bebas tapi sopan, karena intinya bagaimana membuat anak senang ke sekolah tanpa banyak diberi beban yang memberatkan. Jam pelajarannya mulai dari pukul 07.00 hingga pukul 15.30. Makan siang di sekolah. Kegiatan cukup padat, sehingga anak-anak sudah puas bermain dan belajar di kelas, ketika pulang ke rumah mereka tinggal beristirahat. Jumlah murid SD Takanawadai ada 470 siswa dan siswi. Ketika istirahat, mereka berhamburan berlari meninggalkan kelas menuju lapangan olah raga, masing-masing sudah mempunyai pilihan jenis kegiatan yang dilakukan selama istirahat. Tidak kurang dari 300 anak bertumpah-ruah di lapangan dengan penuh kegembiraan.
Sementara itu di sebuah hall yang cukup luas, yang bisa digunakan untuk olahraga in door, pertunjukan teater dan pertemuan-pertemuan, kami menyaksikan kegiatan anak-anak kelas 2 SD sedang berlatih drama musikal. Guru wali kelasnya mengiringi mereka dengan key board (piano) sementara guru asisten lainnya membimbing anak-anak berperan, tidak ada yang janggal, mereka semua secara alami dan wajar bermain peran dengan penuh keluguan dan kelucuan.

Kami berkesempatan memasuki kelas budi pekerti untuk siswa kelas 4 SD. Di sekolah Jepang tidak ada pelajaran agama, kecuali sekolah-sekolah swasta, dan diganti dengan pelajaran budi pekerti. Seorang ibu guru dibantu dengan seorang guru asisten sedang mengajar di depan kelas. Ketika rombongan kami masuk, anak-anak disuruh memberi hormat kepada kami sambil membungkukkan badan, kemudian pelajaran dimulai. Ibu guru memulai pelajaran dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada para siswa/i tentang barang-barang apa yang menjadi kekhasan bangsa Jepang. Anak-anak menjawab dengan antusias, namun tertib, mereka mengacungkan tangan tanpa mengangkat suara, dan baru menjawab sembari berdiri saat ditunjuk. Ibu guru menganjurkan agar mereka suka memberi hadiah kepada orang lain dengan sesuatu yang indah dan juga dengan sajian yang indah pula. Kemudian Ibu Guru dibantu dengan asistennya memberikan contoh cara membungkus berbagai macam hadiah dengan bentuk yang berbeda-beda.

Bapak kepala sekolah menjelaskan bahwa yang dipentingkan di sekolah ini adalah memberikan kemampuan akademis dasar dan pokok selama 6 tahun, kemudian memelihara hati anak-anak, agar mereka mempunyai hati yang baik terhadap orang tua dan mampu berkomunikasi baik dengan orang lain. Aktivitas di kelas menjadi sarana efektif untuk menata hati (membentuk karakter) anak didik. Yang ditekankan menurut kurikulum nasional untuk anak-anak SD adalah bagaimana bisa mandiri, mengatur kebutuhan dirinya sendiri, mampu berinteraksi dengan baik bersama orang lain, berhati-hati, menghormati orang lain dengan penuh kesopanan, memandang alam termasuk binatang dengan penuh kasih sayang, menaati peraturan yang disepakati bersama masyarakat serta menghormati orang tua. Jelas sekali bahwa Jepang sangat menekankan pendidikan karakter dan pembentukan kepribadian sejak dini, karena mentalitas yang baik bila sudah menjelma menjadi sikap hidup sehari-hari akan membentuk pribadi yang unggul dan kompetitif.

Penanaman budi pekerti dilaksanakan melalui semua pelajaran dan kegiatan, tidak dibudayakan pemberian sangsi kepada siswa/i, mereka hanya akan dievaluasi setiap minggu apa saja aturan-aturan yang sudah dijalankan, dan apa yang belum. Wali kelas sangat berperan untuk mengingatkan dan memotivasi anak didiknya. Namun menurut catatan saya, keberhasilan pendidikan karakter bukan semata-mata hasil pembentukan di sekolah, tetapi memang lingkungan secara umum, baik di rumah, sekolah, maupun di masyarakat juga sangat mendukung, terutama keteladanan nyata dari semua pihak.

Jepang Bagian III (6)Naik Shinkansen ke Kyoto
Setelah kunjungan ke SD, kami menuju stasiun kereta super ekspres Shinkansen untuk melanjutkan perjalanan ke Kyoto. Shinkansen adalah kereta super cepat yang dikembangkan Jepang sejak tahun 1964, kecepatan maksimalnya mendekati 300 km/jam, sehingga jarak Tokyo – Kyoto yang mencapai 600 km bisa ditempuh hanya dalam 2 jam 15 menit. Nama stasiunnya adalah Singagawa, harga tiketnya 20.000 yen untuk tiap penumpang. Para penumpang sudah berbaris rapi menjelang kedatangan kereta, karena kereta hanya berhenti maksimal tiga menit untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Akurasi waktu sangat tepat dan sistem keamanan sangat terjamin, karena sejak diluncurkan hingga saat ini, menurut catatan belum pernah terjadi kecelakaan yang menyebabkan korban jiwa. Goncangan di dalam kereta saat berjalan tidak terlalu keras dan masih cukup nyaman untuk tidur. Setiap kali mendekati stasiun selalu ada pengumuman agar para penumpang bisa bersiap diri untuk turun, disebutkan pula stasiun apa saja yang masih akan kita lewati. Suasana hening, hampir tidak ada percakapan antar penumpang, ring tone HP pun dibuat getar tanpa suara supaya tidak mengganggu orang lain. Modern, nyaman, cepat, akurat, itulah gambaran angkutan umum kereta super cepat Shinkansen.

Kyoto Royal Hotel dan Gion Corner
Setibanya di Kyoto, kami langsung dibawa menuju Kyoto Royal Hotel. Setelah shalat Maghrib, kami berangkat menuju Fukujyen Kyoto untuk menyaksikan peragaan budaya minum teh ala bangsawan Jepang dan berbagai macam kesenian populer rakyat Jepang lainnya. Di daerah Gion Corner bus, kami melewati jalan yang sempit dan sangat padat dengan pejalan kaki, tampaknya daerah itu lebih tepat untuk para pejalan kaki dari pada kendaraan. Rumah-rumah kayu sepanjang jalan dihiasi lampion temaram, meski terkesan tertutup, tetap terasa adanya denyut kegiatan hiburan malam di dalamnya. Akhirnya kami sampai di bangunan utama pertunjukan teater. Pertunjukan itu namanya Gion Corner Show. Gion Corner terletak di dalam Yasaka Hall, pada sisi utara Gion Kaburenjo Hall, terdapat sebuah teater unik yang menyajikan satu jam pertunjukan terdiri dari tujuh macam seni budaya asli Jepang. Di sana juga ada etalase tempat memajang aneka pernak-pernik dan aksesoris yang biasa dikenakan oleh para Maiko dan Geiko. Maiko adalah sebutan bagi gadis Jepang yang sedang “magang” menjadi Geisha. Sedangkan Geiko sebutan bagi Geisha.

Jepang memiliki sejarah panjang masa-masa kekaisaran dan dikenal dengan ragam budayanya yang sebagian masih tetap dilestarikan meski terbatas di kuil-kuil. Gion Corner sendiri menyajikan 7 ragam budaya, yaitu upacara minum teh, seni merangkai bunga khas Jepang, permainan Koto kecapi (zither), komedi klasik Kyogen, pertunjukan musik istana yang disebut Gagaku disertai tarian Maigaku, tarian Kyomai yang dibawakan oleh Maiko san, serta teater boneka Bunraku.

Karena kebanyakan penontonnya turis asing yang hanya berpesiar saja ke Jepang, tentu banyak di antaranya yang tak paham bahasa Jepang. Karenanya, semua seni budaya dan adat istiadat itu mengandalkan kekuatan bahasa tubuh pelakonnya. Meskipun demikian, tetap saja menarik dan berhasil membuat para penonton terbahak-bahak. Pesan moral juga selalu diselipkan dalam setiap ceritanya. Tata panggungnya sangat sederhana, demikian pula lighting-nya, sesuai dengan harganya yang cukup murah untuk ukuran Jepang, hanya 2.500 yen.

Jepang Bagian III (10)Pusat Studi Asia Tenggara Universitas Kyoto
Kunjungan ke Pusat Studi Asia Tenggara Universitas Kyoto menjadi agenda kami berikutnya, Rabu, 23 oktober 2013. Lembaga ini dipimpin oleh Prof. Okamoto dibantu beberapa peneliti yang juga sebagai dosen di Universitas Kyoto. Pada kesempatan tersebut kami diterima langsung oleh Prof. Okamoto, Prof. Ehito Kimura, Prof. Kosuke Mizuno, dan seorang ibu bernama Aulia Khudhari yang sedang mengikuti suaminya mengambil program S3 di Jepang, beliau juga mempunyai 2 anak yang sedang belajar di SD Jepang.

Setelah kami saling memperkenalkan diri, Prof. Okamoto menyampaikan kata pengantar dan kemudian mempersilahkan Prof. Kosuke Mizuno untuk memaparkan pembahasannya. Yang menjadi tema diskusi kami saat itu adalah perbandingan antara sistem pendidikan di Jepang dan Indonesia. Tentu saja banyak perbedaan yang bisa dipaparkan karena Jepang sudah termasuk negara maju, sedangkan Indonesia masih sedang berkembang. Keunggulan di suatu tempat (negara) selalu disertai kekurangan. Diantara keunggulan yang jelas dalam sistem pendidikan di Jepang menurut Prof. Mizunio adalah kegiatan ekstra (non-akademis) termasuk oleh raga yang sangat aktif dilakukan di sekolah oleh para siswa di Jepang. Mereka memang difasilitasi dengan sarana olahraga, kesenian, elektronika, keterampilan, dan lain-lainnya secara memadai. Sementara di Indonesia, meskipun ada jam olah raga, tampaknya alokasi waktu dan sarananya masih jauh dari harapan. Dalam pandangan Prof. Mizuna, kegiatan olahraga yang aktif di sekolah sangat membantu proses pendidikan anak, mulai dari pendidikan jasmani, kesehatan, sportivitas, kerja sama (team work) dan pemanfaatan waktu yang efektif, sehingga ketika pulang anak-anak sudah capek dan segera beristirahat.

Yang kedua adalah masalah pembiayaan. Di Jepang, pendidikan sampai tingkat menengah (SMU) gratis dan sudah dijamin oleh pemerintah, dengan fasilitas yang sangat cukup, baik sarana fisik, pergedungan maupun tenaga pendidik. Sementara di Indonesia terlalu banyak tarikan dana yang membebani orang tua murid. Hal ini tentu saja menghambat peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

Yang ketiga, fasilitas perpustakaan lengkap. Sekadar contoh, ketika kami berkunjung ke sebuah SMP, ternyata di sana jumlah koleksi buku perpustakaannya mencapai 58 ribu eksemplar dengan sistem katalogisasi yang serba komputerisasi. Akibatnya adalah budaya membaca yang cukup tinggi, meskipun kadang yang dibaca anak-anak bukan pelajaran, tetapi komik. Namun akhir-akhir ini pengaruh game dan internet sangat besar dan pelan-pelan menggusur budaya baca anak muda Jepang. Dalam hal ini Indonsia masih tertinggal jauh tentunya.

Yang keempat di tingkat Perguruan Tinggi-nya, di Jepang sudah sangat banyak dosennya yang bergelar guru besar (Prof) atau minimal doktor, sedang di Indonesia masih sangat terbatas. Hal ini berpengaruh pada kualitas pengajaran dan penelitian. Banyak dosen Jepang yang juga menjadi guru besar di berbagai universitas Amerika dan Eropa.

Yang kelima, di Jepang tidak ada PMP atau P4 yang didoktrinkan seperti di Indonesia, pendidikan agama juga tidak ada, namun penanaman moral, budi pekerti dilakukan sejak dini. Memang di kalangan remaja sering timbul problema moralitas anak-anak dan banyak orang tua yang tidak bisa mengontrol pergaulan anak-anak gadisnya. Dalam hal ini tampaknya di Indonesia masih lebih baik, karena pendidikan agama dan lingkungan yang religius ikut mengontrol perilaku anak-anak.

Keenam, pendidikan di Jepang lebih menitikberatkan pada pembentukan pola piker kreatif dan bukan hanya memperbanyak pengetahuan secara kognitif kepada anak-anak, meskipun hal ini masih diperdebatkan, tetapi tampaknya lebih pas. Di Jepang, anak biasa dilatih berdiskusi, mengikuti berbagai lomba, dan olimpiade olahraga yang semua itu akan mengasah perkembangan kemampuan anak.

Dan yang ketujuh adalah peran pendidikan keluarga. Jepang juga mementingkan pendidikan keluarga terutama sejak dini, demikian pula di Indonesia. Tetapi mungkin hasilnya berbeda. Kesimpulannya, dimana-mana ada kelebihan dan kekurangan, tetapi sebaiknya kita menyadari akan kekurangan kita untuk mengejar kelebihan dan kebaikan.

Berpose di depan Universitas Kyoto
Berpose di depan Universitas Kyoto

Ibu Aulia Khudhari juga bercerita tentang pengalaman mengasuh anak yang sekolah di Jepang. Intinya, beliau menguatkan apa yang sudah disampaikan oleh Prof. Mizuno tadi. Ketika dibuka kesempatan dialog dan pertanyaan, saya menyampaikan penjelasan singkat kepada para profesor bahwa perbandingan yang dipaparkan barusan adalah benar adanya, tetapi itu antara sistem pendidikan nasional Indonesia dengan sistem pendidikan nasional Jepang. Pertanyaan saya, “Apakah para profesor Jepang sudah banyak meneliti tentang sistem pendidikan pondok pesantren di Indonesia?” Karena pesantren mempunyai sistemnya sendiri yang jauh berbeda dengan pemerintah. Bahkan kalau dicermati, banyak kisi-kisi kesamaan dengan prinsip pendidikan Jepang yang menekankan pada character building melalui pembiasaan, keteladanan dan penugasan-penugasan, pembentukan jiwa mandiri dan aktivitas yang sangat padat untuk penyaluran minat dan bakat anak didik. Menjawab pertanyaan saya, Prof. Mizuno mengakui memang beliau belum mengadakan penelitian tentang pendidikan di pesantren, tapi ada beberapa peneliti Jepang yang menulis tentang pesantren, dan yang baru saja beliau paparkan memang diakui sama sekali tidak menyentuh sistem pendidikan pesantren. Karena itu kami mengundang para profesor untuk berkunjung ke pesantren kami dan mengadakan penelitian di kemudian hari.

Diskusi terus berkembang dan kami membahas berbagai tema yang aktual seperti perkembangan Islam di Jepang, mengapa sangat lambat dibanding di negara Amerika dan Eropa? Menurut para profesor, sebenarnya Islam juga berkembang di Jepang, karena orang Jepang tidak menghalangi penyebaran Islam selama tidak bersentuhan dengan negara, hanya saja citra Islam dan umat Islam di kalangan masyarakat Jepang perlu diperbaiki: negara-negara Timur Tengah dikenal suka perang, sementara itu di Asia Tenggara termasuk Indonesia yang mayoritas Islam masih identik dengan keterbelakangan. Masyarakat Jepang memang mempunyai sikap agak tertutup dari masuknya budaya dan agama lain, sehingga penyebaran Islam harus lebih gigih lagi dijalankan dengan cara-cara yang lebih simpati dan nyata.

Sebagai negara maju bukan berarti Jepang bebas dari problematika, terutama masalah sosial dan demografi. Banyak anak muda yang menunda pernikahan, setelah menikah pun mereka enggan mempunyai anak, mereka harus bekerja, baik suami maupun istri, untuk memenuhi kebutuhan hidup yang sangat tinggi di Jepang. Mempunyai anak dianggap mengurangi produktivitas. Akibatnya angka kelahiran sangat kecil, meskipun pemerintah sudah menggelontorkan banyak bantuan dan tunjangan bagi mereka yang mempunyai anak. Sementara itu, usia harapan hidup di Jepang termasuk tertinggi di dunia, hingga mencapai 84 tahun. Yang terjadi kemudian adalah piramida terbalik dalam bidang kependudukan, jumlah manula bisa lebih besar dari anak-anak. Lantas siapa yang akan mengisi bangku-bangku sekolah, lapangan pekerjaan dan pelanjut pembangunan Jepang? Itulah masalah sosial yang cukup serius di Jepang.

Catatan Ustadz Suharto: Wisata Peradaban ke Jepang (Bagian II)

0
Tiba di Tokyo Prince Hotel
Tiba di Tokyo Prince Hotel

Tiba di Bandara Internasional Narita
Hari itu, Senin pagi, 21 Oktober 2013, kami tiba di Bandara Internasional Jepang Narita. Kesyukuran kami sangat besar, karena sebelumnya kami tidak pernah menyangka mendapat kesempatan berkunjung ke Jepang, dan seperti mimpi saja, tiba-tiba kami sudah menginjakkan kaki di Negeri Sakura ini. Suasana bandara masih agak sepi, pesawat kami tampaknya termasuk pesawat yang awal landing di hari itu. Narita baru saja diguyur hujan deras, hal itu kami rasakan dari suhunya yang cukup dingin serta air hujan yang masih membasahi halaman parkir. Setelah semua mengecek barang serta memenuhi kebutuhan pribadi lainnya, kami segera mencari penjemput sekaligus guide yang akan membawa kami ke hotel. Tampaknya penjemput belum berada di tempat, untungnya Pak Dadi sebagai ‘kepala suku’ (julukan yang kami berikan untuk ketua rombongan) bertindak sigap dengan mengontak Bapak Shintani di Jakarta. Alhamdulillah, tidak lebih dari seperempat jam kemudian kami disapa oleh penjemput sekaligus guide kami. “Mohon maaf atas keterlambatan penjemputan ini, karena pesawat Anda tiba lebih cepat dari jadwal yang tertulis,” sapa beliau. Kami memaklumi bahwa orang Jepang sangat menghargai waktu, mereka tidak suka datang terlalu awal apalagi terlambat. Ini adalah pelajaran berharga yang kami dapatkan hari ini.

Dalam perjalanan menuju hotel, beliau menerangkan acara kami pada hari pertama di Jepang. Kami akan mendapat waktu istirahat sekadarnya di hotel, makan siang, dan akan mengadakan kunjungan observasi lapangan, city tour mengenal lebih dekat Kota Tokyo, menghadiri pertemuan sambutan di kantor Wakil Menteri Luar Negeri, serta jamuan makan malam di Kantor Dirjen Kementerian Luar Negeri Jepang.

Tokyo Prince Hotel
Kami diinapkan di Tokyo Prince Hotel yang berlokasi di jantung Kota Tokyo, bersebelahan dengan Tokyo Tower yang legendaris, sehingga setiap saat kami bisa menikmati pemandangan indahnya. Prince Hotel didesain sebagai hotel klasik namun mempunyai fasilitas lengkap dan modern. Seperti saat di Jakarta, masing-masing kami mendapat satu kamar hotel, fasilitas lengkap termasuk wifi.

Kami terbiasa untuk membuat perjanjian waktu untuk berkumpul terlebih dahulu sebelum mengikuti suatu acara. Pada hari ini, ada seorang peserta yang agak terlambat turun ke lobi sehingga ditunggu oleh anggota delegasi lainnya. Dengan bahasa yang sopan dan halus, Pak Dadi sebagai ketua rombongan mengingatkan, bahwa hal seperti ini tidak boleh terulang lagi, masing-masing kita harus menghargai waktu, karena kita tidak sendirian, kita bersama rombongan dan terikat dengan acara-acara yang sudah ditentukan, dan juga berkaitan dengan orang lain. Alhamdulillah, semua legowo menerima teguran beliau dan setelah itu semua kegiatan berjalan lebih lancar, karena tidak ada lagi yang terlambat.

Hidangan makan siang kami disediakan di hotel, jatah satu orang untuk makan di hotel sekitar 3500 Yen, di beberapa tempat bahkan bisa mencapai 6000 Yen. Model hidangan di sini adalah prasmanan. Segala macam makanan tersedia, tapi tentunya kami harus memilih yang aman: ikan laut, nasi putih, sayur, kentang goreng, dan buah plus roti menjadi menu utama kami di hotel Jepang. Tampaknya hotel kami selalu fully booked, hal itu tampak pada suasana di restoran yang selalu penuh, baik untuk makan pagi, siang maupun malam, bahkan di hotel ini juga ada beberapa restoran lainnya yang berlokasi di lantai bawah.

Menjelang city tour, kami duduk-duduk di lobi hotel, bekal uang yang saya bawa berupa mata uang dolar, sementara toko-toko di Jepang tidak melayani transaksi selain dengan Yen. Kami bertanya kepada resepsionis hotel untuk penukaran uang, seperti yang kami temukan di Hotel Pullman Jakarta. Ternyata di Prince Hotel ada mesin penukaran uang, kami cukup memasukkan uang Dolar, nanti akan muncul kurs Yen di layar, dan bila kita setuju, segera tekan tombol “Yes”, maka uang Dolar pun sudah berganti Yen, lengkap dengan pecahannya di mesin anjungan tersebut, sangat praktis dan fair. Dalam waktu singkat, beberapa Dolar saya sudah berganti Yen. Alhamdulillah, teknologi memang sangat memudahkan kehidupan manusia, asalkan kita benar dan tepat dalam menggunakannya.

Kuil Asakusa
Tokyo selama ini identik dengan pusat Kota Jepang dengan berbagai bangunan-bangunan megah dan kehidupan yang modern. Namun, di balik itu semua, Tokyo memiliki sebuah kuil yang tidak pernah sepi oleh pengunjung, yakni Kuil Asakusa. Kuil ini sudah berdiri sejak ratusan tahun silam. Walaupun demikian, kuil ini tidak pernah mengalami perubahan sejak didirikan.

Asakusa sebenarnya merupakan nama sebuah desa di sebelah timur laut kota Tokyo, kemudian terkenal untuk nama kuil Budha yang didirikan di sana. Nama kuilnya sendiri adalah Sensoji, konon sudah dibangun sejak abad ke-7, sehingga merupakan kuil tertua di Jepang. Masyarakat Budhis Jepang percaya bahwa di sinilah bersemayam dewi kemurahan dan kemakmuran.

Ketika memasuki Gerbang Asakusa, kesan pertama saya adalah memasuki komplek Masjid Ampel, di mana lorong-lorong jalan menuju main building dipenuhi deretan toko yang selalu dipadati para peziarah. Asakusa seolah mengajak kita memasuki lorong waktu menuju Jepang zaman dahulu, bangunannya bukan hanya megah tetapi juga sangat artistik, disebelah kiri depannya berdiri kokoh sebuah pagoda dengaan lima tingkat yang sejak didirikan beratus tahun lalu belum pernah dipugar, goyangan gempa yang cukup sering di Jepang tidak memberikan efek kerusakan sama sekali pada kuil ini. Ini bukti bahwa sejak zaman dahulu, orang Jepang sudah menggapai kecanggihan ilmu konstruksi bangunan.Jepang Bagian II (2)

Setiap harinya, jumlah peziarah mencapai ribuan bahkan puluhan ribu, dari berbagai kalangan masyarakat, mulai rakyat biasa hingga para pejabat, anak-anak hingga orang dewasa baik laki-laki maupun perempuan, semuanya bertumpah-ruah di area kuil ini. Setelah memasuki gerbang, pengunjung akan menemukan anjungan bangunan, para penganut Budha bisa mendapatkan sebatang kayu yang dikocok dalam sebuah wadah, kemudian mengambil sebuah tulisan yang disimpan di kotak-kotak kecil sesuai dengan nomor yang ditunjukkan batang kayu tadi, tulisan tadi berisi peruntungan nasib. Selanjutnya mereka akan mendekati padupan yang selalu mengeluarkan asap, mereka berusaha mengasapi sebanyak mungkin badannya dengan harapan mendapat kesehatan serta keberkahan. Di sebelah kanang padupan ada pancuran air untuk bersuci dengan cata berkumur dan mencuci tangan, berikutnya pengunjung menuju bangunan utama untuk berdoa setelah sebelumnya melempar beberapa koin untuk ‘shodaqah’.

Yang menarik, di sebelah bangunan Kuil Asakusa juga berdiri megah kuil agama Shinto, kepercayaan asli masyarakat Jepang. Meskipun pengunjungnya tidak seramai kuil Budha, namun hal ini memberikan pesan bahwa masyarakat Jepang sangat toleran dengan kepercayaan agama yang berbeda-beda.

Taman Kaisar
Sebelum acara di Kantor Wakil Menteri Luar Negeri Jepang, kami diajak mengunjungi Taman Kaisar yang luas, bersih, asri, dan indah. Taman ini didominasi oleh tanaman cemara udang yang terawat indah, dilengkapi bangku-bangku taman yang memadai di antara hamparan permadani rumput hijau yang tebal. Di tengah-tengah taman kami menemukan sebuah patung prajurit berkuda dengan zirah perang yang lengkap, menggambarkan keberanian prajurit Jepang sejak zaman dahulu kala. Para pengunjung bebas menikmati keindahan taman ini, karena lokasinya masih jauh dari bangunan istana kaisar yang dikelilingi benteng kuno di tengah Kota Tokyo.

Istana Kaisar hanya dibuka dua kali setahun, yaitu pada Hari Ulang Tahun Kaisar Akihito, 23 Desember, dan Tahun Baru, 2 Januari. Ketika itu masyarakat berdondong-bondong mengunjungi Istana Kaisar. Jepang merupakan negara demokrasi dengan multi partai, kedaulatan di tangan rakyat, namun mereka mempunyai simbol pemersatu dan spirit masyarakat Jepang, yakni Kaisar. Masyarakat sangat menghormati Kaisar beserta keluarganya. Mereka juga mendapatkan hak-hak istimewa, tetapi dalam ranah politik, kekuasaan Kaisar sangat dibatasi dan diatur oleh undang-undang.

Penyambutan Wakil Menteri Luar Negeri Jepang
Pada sore hari, kami mengadakan kunjungan kehormatan dan audisi dengan Bapak Kishi, Wakil Menteri Luar Negeri Jepang, bertempat di kantor beliau. Acara audisi berjalan lancar, khidmat dan simpel. Dalam kata sambutannya, Bapak Kishi menyampaikan ucapan selamat datang kepada anggota delegasi, kemudian mengungkapkan kebahagiaannya bisa mengundang para pimpinan pesantren di Indonesia berkunjung ke Jepang untuk yang kesepuluh kalinya. Waktu kunjungan ini dipilih yang paling sesuai, musim yang sangat indah, di akhir musim gugur dan awal musim dingin, dengan demikian udara dan cuaca sangat bersahabat. Dalam pandangan beliau, Indonesia adalah negara sahabat Jepang di Asia, yang sedang bergerak maju ke depan, demokratis serta sangat strategis peranannya. Jepang sudah menjalin hubungan persahabatan dan kerjasama dengan Indonesia sejak 55 tahun lalu, dan acara undangan pimpinan pesantren ke Jepang sudah berlangsung sejak 2004 lalu. Sebagai negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia diharapkan bisa berperan lebih banyak lagi untuk perdamaian dunia.Jepang Bagian II (6)

Sebagaimana Indonesia, Jepang juga sudah membuktikan sebagai negara yang sangat menjunjung tinggi prinsip-prinsip toleransi. Meskipun mayoritas penduduk Jepang beragama Budha, namun kehadiran agama lain juga diterima dan agama tidak menghalangi kemajuan suatu bangsa, seperti agama Budha yang justru mendorong kemajuan Jepang. Selanjutnya Bapak Kishi juga menguraikan runtutan acara yang akan kami ikuti selama 11 hari berada di Jepang. Beliau berharap agar peserta delegasi bisa menikmati kunjungan ini serta mengambil manfaat yang sebesar-besarnya. Karena beliau mengerti bahwa anggota delegasi adalah para praktisi pendidikan, beliau mengingatkan bahwa hasil pendidikan baru bisa dinikmati puluhan bahkan seratus tahun kemudian, tidak bisa instan, tetapi kita harus terus bergerak memajukan pendidikan. Guru mempunyai peran sentral dan strategis dalam pendidikan anak bangsa, karena itu guru harus terus dihormati, dipercayai oleh muridnya. Guru harus terus belajar dan meningkatkan diri. Beliau mengakui, di Jepang pun masih banyak kendala yang dihadapi guru dalam pendidikan, maka kami pun bisa sharing dan bertukar pengalaman. Sementara Bapak Dadi Darmadi mewakili rombongan delegasi menyampaikan sambutan yang intinya menyampaikan banyak terima kasih atas konsistensi Pemerintah Jepang menyelenggarakan acara ini, sehingga terbuka jendela yang lebih luas untuk saling berkomunikasi dan belajar.

Resepsi Jamuan Makan Malam
Selepas diterima Bapak Kishi, kami sudah ditunggu para pejabat Kementerian Luar Negeri beserta sebagian staf di ruangan lain. Hadir dalam acara tersebut beberapa staf KBRI di Tokyo seperti Bapak Ahmad Munir, ketua Japan Foundation Tuan Atsushi Kanai, Tuan Aya Kumakura, Tuan Yutaka Iemura (mantan Duta Besar Jepang di Indonesia), Tuan Naoki Kumagai, Ketua persahabatan Jepang Asia tenggara, Fumihiro Kawakami, dan tokoh-tokoh penting lainnya. Bapak Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri Jepang menyampaikan kata sambutan selamat datang kepada para anggota delegasi, kemudian memaparkan hasil-hasil yang sudah dicapai oleh kedua negera (Jepang dan Indonesia) sejak hubungan dan kerjasama bilateral dijalankan 55 tahun lalu. Bapak mantan Dubes Jepang untuk Indonesia tahun 2004, Yutaka Iimura juga menyampaikan kata sambutannya. Beliau bernostalgia dengan Jakarta dan Indonesia serta menyampaikan harapan-harapannya untuk kunjungan kami. Acara berikutnya adalah menyantap hidangan makan malam yang khas Jepang. Kami bersyukur sudah mulai diperkenalkan masakan Jepang sejak di Jakarta, sehingga cepat familiar dengan hidangan di Kantor Kementerian Luar Negeri ini. Setelah selesai jamuan makan malam, kami bergegas kembali ke hotel untuk beritirahat, karena besok pagi-pagi kami sudah dijadwalkan mengikuti acara berikutnya: berkunjnung ke sebuah SD Negeri dan melanjutkan perjalanan ke Kyoto.