Ustadz H. Agus Budiman, M.Ag. memberikan pengarahan tentang Gontor
DARUSSALAM–Jalan Empat Secondary School Bandar Baru Bangi Selangor, salah satu sekolah berkualitas di Malaysia, pada hari Sabtu–Selasa (16–19/11) siang, berkunjung ke Pondok Modern Gontor Putri 1 dan Pondok Modern Darussalalm Gontor Pusat. Rombongan yang terdiri dari 17 orang guru dan 9 orang murid tersebut sangat antusias mengikuti setiap agenda yang telah disusun rapi oleh panitia.
Pada Sabtu (18/11) sore, rombongan tiba di Gontor Putri 1, disambut dengan hangat oleh Ustadz Abdul Munif, S.Ag. Setelah makan malam, rombongan dan panitia kemudian berkeliling melihat proses belajar terbimbing pada malam hari di kampus Gontor Putri 1. Dengan ini, mereka berkesempatan mempelajari bagaimana Gontor mengatur santri, mengawasi, dan membimbing para santri dalam belajar di malam hari.
Keesokan harinya, Ahad (19/11) pagi, mereka menyaksikan bagaimana kegiatan “tabkir” (masuk kelas tepat waktu) berjalan dengan baik. Didampingi panitia, para tamu melanjutkan kegiatannya dengan keliling kelas, melihat proses belajar mengajar di masing-masing kelas. Pukul dua belas siang, rombongan tamu ini menyudahi kegiatannya untuk mempersiapkan diri sebelum bertolak ke Gontor Pusat.
Pukul lima sore, rombongan pun tiba di Gontor Pusat. Pada malam harinya, panitia mengajak rombongan tamu untuk melihat salah satu kegiatan penting di pondok ini, yaitu latihan pidato. Pada malam itu, setiap santri berpakaian putih bergerak menuju tempat latihan pidato masing-masing. Beberapa santri mengenakan jas dan dasi, menandakan bahwa dialah orator pada malam itu. Dengan suara yang lantang, setiap orator menyampaikan materi pidatonya yang disampaikan dalam bahasa Inggris. Decak kagum dan pujian pun terlontar dari mulut para tamu, menyaksikan santri-santri kecil ini mampu berpidato bahasa Inggris di depan teman-temannya.
Ustadz H. Agus Budiman, M.Ag. mendampingi para tamu berkeliling komplek Gontor Pusat
Senin (18/11) pagi, agenda mereka adalah mempelajari sistem pendidikan di Gontor Pusat yang tentunya tidak jauh berbeda dengan sistem yang ada di Gontor Putri 1. Didampingi oleh Ustadz H. Agus Budiman, M.Ag., mereka menyusuri komplek Gontor Pusat. Pada siang harinya, para tamu mengunjungi salah satu unit usaha yang dimiliki oleh Gontor Pusat, La-Tansa Book Store, untuk menghabiskan waktu siang mereka dengan berbelanja berbagai macam buku.
Pada malam harinya, panitia mengagendakan pertemuan dengan santri-santri asal Malaysia yang sedang nyantri di Gontor Pusat, dengan dilengkapi pengarahan dan penjelasan tentang Gontor oleh Ustadz H. Agus Budiman, M.Ag. Pada kesempatan itu pula, rombongan tamu Malaysia mempersembahkan nasyid yang dinyanyikan oleh empat orang siswa dari rombongan mereka.
“Selama 88 tahun umur perjuangan pondok bukanlah waktu yang singkat untuk membangun sebuah peradaban yang Islami. Banyak keringat yang terkucur, darah yang menetes, harta yang terkuras, bahkan nyawa yang dikorbankan untuk menjaga agar bendera Islam tetap berkibar. Terus berjuang dan terus memperbaiki diri dengan segala kekurangan yang ada dan halangan yang menghadang, menjadi kunci perjuangan Pondok Modern Darussalam Gontor,” demikian Ustadz H. Agus Budiman, M.Ag. mengakhiri arahannya.
Hari Selasa (19/11) adalah hari terakhir mereka di Gontor dalam kunjungan kali ini. Sebelum mereka bertolak ke Bandara Juanda Surabaya, mereka menyempatkan diri berkunjung ke Gontor 2 dan ISID. farouq
Alhamdulillah, sebuah kesempatan emas saya dapatkan ketika Bapak Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor menunjuk saya untuk mengikuti seleksi program kunjungan pimpinan pesantren ke Jepang atas prakarsa Kedutaan Besar Jepang di Indonesia yang bekerja sama dengan PPIM (Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat), sebuah lembaga penelitian yang dikelola oleh para dosen peneliti di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Acara bertajuk “Pesantren Leaders’ Visit to Japan” ini berlangsung dari tanggal 20 s.d. 31 Oktober 2013. Setelah ditunjuk untuk mengikuti seleksi, saya langsung menghubungi K.H. Masyhudi Subari, M.A., Direktur KMI Gontor Pusat, untuk memohon penjelasan tentang program tersebut, hal-hal yang harus saya persiapkan dan langkah-langkah yang harus saya tempuh, karena beliau telah berpengalaman mengikuti program ini beberapa tahun lalu bersama H. M. Adib Fuadi Nuriz, M.A., M.Phil. Alhamdulillah, saya mendapatkan gambaran yang jelas sekaligus dorongan motivasi dari beliau.
Kemudian saya mendapatkan informasi dari Ustadz Masyhudi bahwa pada hari Jum’at, 20 September 2013, ada kunjungan dari staf Kedubes Jepang di Jakarta ke Gontor untuk menyampaikan rencana program kunjungan sekaligus wawancara dengan calon anggota delegasi, karena itu saya diminta untuk ikut menghadiri pertemuan tersebut. Yang datang berkunjung dalam kesempatan tersebut adalah Bapak Shintani Naoyuki, seorang penasihat Kedubes Jepang di bidang politik disertai Bapak Dadi Darmadi, seorang pengurus PPIM UIN Jakarta sekaligus dosen UIN Jakarta yang sedang melaksanakan tugas belajar di Harvard University USA. Sementara itu, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal dan K.H. Syamsul Hadi Abdan, bersama Ketua IKPM K.H. Akrim Mariyat dan Direktur KMI K.H. Masyhudi Subari menyambut kedatangan tamu dari Kedubes Jepang ini.
Dialog
Bapak Shintani ditemani Bapak Dadi Darmadi datang seperempat jam lebih awal dari jadwal, kami menerima beliau berdua di Kantor Pimpinan. Bapak Shintani menjelaskan bahwa program kunjungan delegasi ke Jepang sudah dilaksanakan sejak 10 tahun lalu. Jadi, kali ini akan menjadi kunjungan yang kesepuluh dalam satu dasawarsa. Hal ini menambah keistimewaan kunjungan. Dari pengamatan panitia pelaksana, kunjungan delegasi ke Jepang dinilai positif, baik untuk pihak Jepang dalam mengenalkan budaya dan dinamika masyarakat Jepang yang sangat progresif maupun di pihak anggota delegasi yang sering mendapatkan inspirasi positif untuk kemajuan lembaga pendidikan pesantren yang dikelola. Karena itu acara ini masih akan dilanjutkan. Sementara itu pesantren menjadi prioritas karena dinilai mempunyai basis kuat di masyarakat.
Selanjutnya Bapak Shintani meminta waktu khusus untuk mewawancarai saya di Kantor Pimpinan. Bapak Shintani membuka dialog dengan sebuah pertanyaan, “Tentunya selama ini Ustadz sudah mendengar dan mengetahui Negara Jepang, apa yang terkesan di benak Ustadz tentang Jepang?” Saya manjawab, “Jepang yang saya kenal adalah sebuah negara yang sangat cepat menggapai kemajuan sehingga mampu bersaing dengan negara-negara industri maju di Barat, cepat bangkit me-recovery diri setelah diserang oleh bom atom dan juga dari berbagai bencana gempa bumi serta tsunami. Itulah salah satu poin yang terkesan dalam diri saya.” Pak Shintani melanjutkan, “Kalau nanti Ustadz berkesempatan berkunjung ke Jepang, kira-kira hal apa yang menarik bagi Ustadz untuk dipelajari?” Saya katakan, “Pertama-tama, karena tugas saya di pesantren sebagai Direktur KMI, tentu saya akan banyak mengamati kemajuan sistem pendidikan yang ada di Jepang, saya akan mencari sisi-sisi keunggulan Jepang dalam pendidikan dari berbagai aspek. Selanjutnya berkaitan dengan program besar Gontor untuk membangun Universitas Darussalam yang bermutu, saya juga sangat berkepentingan untuk belajar hal-hal yang berkaitan dengan dunia kampus, metode pengajaran dan pengembangan sains dan lain-lainnya. Dan yang tidak kalah pentingnya bagi saya adalah ingin mengenal lebih jauh karakter, watak dan kepribadian bangsa Jepang sehingga mampu menjadi bangsa yang maju.”
Bapak Shintani menutup dialog dengan pertanyaan ketiganya, “Apakah ada harapan atau barangkali kekhawatiran Ustadz selama acara kunjungan ke Jepang, kalau nanti Ustadz berkesempatan?” Saya menjawab, “Ya, alhamdulillah saya tidak mempunyai kendala kesehatan serius, hanya kadang asam lambung meningkat dan perut agak mual kalau sedang banyak fikiran. Saya berharap agar selama kunjungan nanti bisa tetap leluasa menunaikan ibadah shalat, mendapatkan makanan halal dan tentunya bisa bertemu dengan tokoh-tokoh Islam di Jepang untuk mengetahui perkembangan dakwah Islam di Jepang”. Demikianlah dialog singkat dengan Bapak Shintani sebagai bahan untuk penyeleksian peserta delegasi kunjungan.
Pesan dan Wejangan
Segera setelah mendapat kepastian keberangkatan ke Jepang, saya pergi ke Gontor untuk sowan dan mohon arahan dari Pimpinan Pondok. Setelah saya jelaskan perkembangan rencana kunjungan ke Jepang, mencakup berbagai informasi yang saya himpun selama ini, K.H. Syamsul Hadi Abdan berpesan agar saya bisa mengikuti acara dengan seksama, menyerap segala yang baik untuk memantapkan perjuangan di Gontor. Sementara itu, K.H. Hasan Abdullah Sahal memberikan bekal pengalaman yang banyak, tips-tips dan kiat-kiat saat berkunjung ke Jepang nanti, karena beliau berdua sudah berpengalaman bepergian ke luar negeri, termasuk ke Jepang beberapa tahun lalu, sampai masalah makanan apa saja yang sebaiknya kita persiapkan sendiri selama di Jepang juga beliau sampaikan. Saya ditemani istri juga sempat sowan menghadap K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi di kediaman beliau. Sambil menemani beliau melakukan terapi, saya sampaikan rencana kunjungan ke Jepang, memohon restu dan doa serta pesan-pesan sebagai bekal.
Sebelum hari keberangkatan, saya sowan sekali lagi ke Pimpinan Pondok untuk berpamitan. Kali ini, K.H. Hasan Abdullah Sahal mengingatkan saya lagi bahwa muhibah ini bukan sekadar plesir atau tamasya pribadi, tetapi sebuah misi dengan membawa nama besar Gontor, “Kamu merupakan representasi dari Gontor dalam kunjungan ini, apa saja yang harus kamu lakukan, jabarkan sendiri.” Saya memohon doa dan berpamitan setelah mendapat banyak sangu baik berupa maddy maupun ma’nawy.
Keberangkatan
Setelah mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng, saya dijemput seorang petugas dari Kedubes Jepang, Pak Taufiq. Sebagai orang pertama yang tiba di bandara, saya diminta untuk menunggu teman-teman peserta yang lain. Beberapa saat kemudian, saya bertemu dengan seorang ibu yang kemudian saya kenal sebagai Ibu Fauziah Direktris Madrasah Mu’allimat Muhammadiyah Jogjakarta. Tidak lama kemudian, kami bertemu seorang ustadz muda dari Sulawesi yang kemudian kami kenal bernama Firdaus, yang ternyata merupakan jebolan Kelas 5 KMI Gontor pada tahun 2007. Masih ada satu peserta lagi yang kami tunggu, yaitu Ustadz Abdul Karim Ghafur dari Lombok, teman seangkatan saya di KMI Gontor pada tahun 1985. Ternyata di mana saja kita akan dengan mudah bertemu anak-anak Gontor. Memang Gontor ada dimana-mana tetapi tidak kemana-mana. Setelah komplit, kami segera meluncur ke Hotel Pullman di dekat Bunderan HI.
Pemberangkatan dan Briefing
Di Hotel Pullman, kami disambut oleh Bapak Shintani dan beberapa staf Kedubes. Jarak antara hotel kami dengan kediaman Dubes Jepang, Bapak Yoshinori Katori sangat dekat. Selain berjarak dekat dengan Kantor Kedubes Jepang, Hotel Pullman dipilih karena banyak menjadi tujuan utama tamu-tamu resmi Jepang. Saat tiba di kediaman Bapak Dubes, tempatnya sudah ramai dipadati orang, sebagian merupakan home staf dan local staf Kedubes, sebagian lagi para pengurus PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tampak hadir pula Bapak Prof. Dr. Azumardi Azra (mantan Rektor UIN), beberapa dosen bahkan para kuli disket juga ramai menghadiri acara ini.
Rapi, disiplin, dan tepat waktu. Itulah standar kegiatan ala Jepang. Bapak Dubes mengawali sambutan dengan ucapan selamat datang kepada para peserta, menerangkan hubungan bilateral antara Jepang dan Indonesia yang semakin harmonis di berbagai sektor serta tujuan diadakannya kegiatan “Pesantren Leaders’ Visit to Japan” ini. Beliau berharap agar para peserta bisa menikmati kunjungan ini serta mendapatkan banyak manfaat untuk dibawa pulang ke Indonesia. Prof. Azumardi Azra mendapat kesempatan menyampaikan kata sambutan berikutnya, beliau mengapresiasi kesediaan Kedubes Jepang untuk konsisten menyelenggarakan acara ini, sehingga kita sebagai umat Islam Indonesia tidak hanya mempunyai memori negatif tentang Jepang, banyak sisi-sisi positif dari negeri Jepang yang bisa kita ambil pasca Perang Dunia II. Beliau juga memaparkan data bahwa sebenarnya ada hubungan yang istimewa antara umat Islam Indonesia dengan Jepang sejak masa persiapan kemerdekaan hingga kini; hanya pada masa Jepang-lah umat Islam Indonesia bersatu di bawah panji satu partai politik Masyumi, Jepang juga yang merintis Kantor Urusan Agama di Indonesia yang menjadi cikal bakal berdirinya Departemen Agama, Jepang juga yang menyiapkan pasukan Peta yang menjadi embrio Tentara Nasional Indonesia dan di era merdeka. Terutama pada beberapa dasawarsa terakhir ini, Jepang ikut aktif memberikan bantuan kepada Indonesia, termasuk pembangunan Fakultas Kedokteran dengan peralatannya yang lengkap berstandar Jepang di UIN Jakarta, dan tentu saja mensponsori acara kunjungan delegasi ke Jepang yang sudah memasuki tahun kesepuluh ini. Beliau berharap agar para peserta bisa belajar banyak dari Jepang. “Kalau belajar agama, kita bisa ke Timur Tengah, tetapi kalau ingin belajar peradaban manusia yang tinggi, ketertiban, kerapian, kebersihan, ketepatan waktu, kedisiplinan dan sebagainya, yang tepat, ya… ke Jepang,” ujar beliau. Memang, kita akan menemukan banyak hal yang sudah hilang di Indonesia justru ada di Jepang, hal-hal yang masih dalam tataran normatif di lingkungan kita sudah sangat aplikatif dan membudaya di Jepang.
Pada hari Ahad, 20 Oktober 2013, Bapak Shintani ditemani staf Kedubes membawa kami ke ruang pertemuan dan kemudian acara briefing pun dimulai. Briefing ini bertujuan memberikan bekal wawasan dan persamaan persepsi kepada para peserta, penjabaran detail program dan bagaimana kami akan mengisi waktu selama 11 hari di Jepang. Acara dimulai dengan perkenalan antara anggota peserta delegasi dan staf Kedubes yang hadir, dilanjutkan dengan pemutaran film dokumenter tentang Jepang dari berbagai aspek, kemajuan teknologi yang dipadu dengan ketekunan dan keindahan, budaya kuliner, keindahan alam, kehidupan keagamaan, pendidikan, dan lain-lain. Selama lebih dari 30 menit kami dibuat terpana menikmati film ini, kekaguman dan rasa salut merayap di dada kami masing-masing. Memang, Jepang bangsa besar, bangsa maju, bangsa yang mampu bangkit dari serangan bom atom dan berbagai bencana, mampu bersaing dengan negara-negara industri maju lainnya di Eropa dan Amerika, hal itu kita semua sudah mengetahuinya, tetapi apa di balik semua itu, mengapa bisa demikian, dan bagaimana Jepang membangun dirinya menjadi negara maju? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya harus kami temukan selama kunjungan 11 hari di Jepang.
Adapun nama-nama peserta kunjungan ke Jepang pada tahun ini adalah Dadi Darmadi (PPIM UIN Jakarta), Abdul Zufri Pauji (PP Annuqthah, Banten), Enong Nurmutia (PP LH al-Ihya, Banten), Ela Holila Ahmad Syahid (PP al-Qur’an,al-Falah, Bandung), Fauziyah Tri Astuti (M Mu’allimat Muhammadiyah, Jogjakarta), Ahmad Suharto (Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo), Muhammad bin Mu’afi Zaini (PP. Nazhatutthullab, Sampang), Abdul Karim Abdul Ghafur (PP. Nurul Bayan, Lombok), Muhammad Husin Ali (PP Darussalam, Martapura), Jailani bin Dulah (PP Rasyidiyah Khalidiyah, Amuntai), Ali Hasan al-Jufri (PP al-Khairaat, Dolo Sulawesi Tengah), Firdaus Abdul Halim (PP. Assalafi, Parappe, Sulawesi Selatan).
Acara briefing lebih banyak diisi dengan tanya jawab, Bapak Shintani sangat sabar melayani pertanyaan para peserta hingga tiba waktu bersantap siang. Setelah briefing kami juga dibekali beberapa brosur dan majalah yang mendeskripsikan Jepang dari berbagai aspeknya. Selanjutnya kami kembali ke hotel, dan bersap-siap berangkat ke Bandara Internasional Soekarno Hatta Cengkareng untuk terbang ke Jepang, waktu flight kami pukul 22.00 WIB yang bertepatan dengan pukul 24.00 waktu Jepang. Penerbangan membutuhkan waktu sekitar 7 Jam sehingga kami tiba di Bandara Narita pada hari Senin, 21 Oktober 2013.
Sebelum memahami karya-karya yang dihasilkan KH. Imam Zarkasyi, barangkali layak kiranya jika terlebih dahulu memahami sedikit banyak pemikiran beliau tentang makna karya. Karya, dalam pandangan K.H. Imam Zarkasyi, secara mendasar dihubungkan dengan prinsip amal jariyah yang membawa manfaat kepada orang lain. Semakin besar manfaat karya seseorang semakin besar nilai amal jariyah dari karya itu. Sehingga, karya yang bermanfaat merupakan salah satu bentuk ibadah dan realisasi ketakwaan serta menjadi ukuran kebesaran seseorang.
Seperti yang selalu menjadi tekadnya ketika mulai merintis sistem pesantren modern, beliau mengatakan, “Apabila saya tidak berhasil mengajar memalui pesantren, maka saya akan mengajar dengan pena.” Hal ini menunjukan bahwa karya, dalam pandangan K.H. Imam Zarkasyi , merupakan amal yang bermanfaat bagi orang lain, bisa berupa keberhasilan anak didiknya atau hasil karya tulis.
Pernah terjadi dialog antara K.H. Imam Zarkasyi (Kyai) dan salah seorang mantan anak didiknya (santri):
Kyai : Kamu sudah mengajar?
Santri : Belum.
Kyai : Mati, kamu!
Lalu disambung lagi.
Kyai : Sudah menulis atau menterjemahkan buku?
Santri : Belum.
Kyai : Mati kamu!
Kemudian disambung lagi.
Kyai : Sudah kawin?
Santri : Belum!
Kyai : Mati, kamu!
K.H. Imam Zarkasyi dalam dialog tersebut mengingatkan santrinya, bahwa dalam hidup ini seorang hendaknya berkarya. Mengajar, menulis, atau menterjemahkan buku, berarti ia menyebarkan ilmu, dan itulah karya.
Karya yang bermanfaat seringkali beliau jadikan sebagai ukuran orientasi dan target seseorang ketika memilih suatu bidang kehidupan. Pernah ada salah seorang santri meminta izin untuk menjadi lurah. Pertanyaan yang pertama diajukan beliau adalah apa karya yang bermanfaat (amal jariyah) yang akan disumbangkan untuk masyarakatnya sebagai seorang lurah kelak.
Bagi beliau, Seorang santri yang mengajar mengaji satu atau dua orang dengan ikhlas di surau, di tengah hutan, adalah orang besar, karena ia telah berkarya dan bermanfaat bagi orang lain di tengah hutan, yang mungkin orang lain belum tentu mau untuk melakukannya.
Bahkan hakikat ijazah seorang santri, bagi beliau, adalah pengakuan masyarakat terhadap karyanya yang bermanfaat di tengah-tengah mereka.
Itulah pokok-pokok pikiran K.H. Imam Zarkasyi tentang karya seseorang. Atas dasar pokok-pokok tersebut, K.H. Imam Zarkasyi telah meninggalkan karya-karya besar lagi bermanfaat sampai detik ini. Beberapa diantara banyak dari kalangan pendiri dan pimpinan pondok pesantren, baik salaf atau modern, kalangan pemikir, cendikiawan, dan politisi, dari kalangan pengusaha, entrepreneur, dan manajer. Beberapa diantaranya juga adalah tokoh-tokoh yang tidak dikenal, dan barangkali tak suka dirinya ditonjol-tonjolkan, yang bekerja dengan gigih dan ikhlas, yang karyanya amat besar dan bermanfaat di tengah-tengah masyarakat, yang bisa jadi lebih besar dari karya para tokoh masyarakat lainnya.
Adapun karya beliau dalam bentuk tulisan, diantaranya adalah;
Durus al-Lugah al-‘Arabiyyah I dan II, merupakan buku pelajaran bahasa Arab Dasar dengan sistem Gontor;
Kamus Durus al-Lugah al-Arabiyyah I dan II;
Al-Tamrinat I, II dan III, merupakan buku latihan dan pendalaman qawa’id (kaidah-kaidah tata bahasa), uslub (gaya bahasa), kalimat, dan mufradat (kosa kata);
Dalil al-Tamrinat I, II dan III;
Amtsilah al-Jumal I dan II, merupakan buku yang berisi contoh-contoh I’rab dari kalimat lengkap yang benar;
Al-Alfazh al-Mutaradifah, buku tentang sinonim beberapa kata dasar bahasa Arab.
Qawa’id al-Imla, buku tentang kaidah-kaidah penulisan bahasa Arab secara benar;
Pelajaran Membaca Huruf Arab I A, I B, dan II, dalam bahasa Jawa;
Pelajaran Tajwid, dalam bahasa Indonesia, buku pelajaran tentang kaidah membaca Al-Qur’an secara benar;
Ilmu Tajwid, dalam bahasa Arab, lanjutan pelajaran tentang kaidah membaca Al-Qur’an secara benar;
Bimbingan Keimanan, buku pelajaran aqidah untuk tingkat dasar bacaan anak-anak;
Ushuluddin, buku pelajaran akidah ahlusunnah wal jama’ah untuk tingkat menengah dan tingkat lanjutan;
Pelajaran Fiqih I dan II, buku pelajaran fiqh tingkat menengah dan dapat dipergunakan untuk praktik beribadah secara praktis dan sederhana bagi pemula;
Senjata Pengandjoer, ditulis bersama kakak kandungnya, K.H. Zainuddin Fanani;
Pendoman Pendidikan Modern;
Kursus Agama Islam ditulis bersama kakaknya, K.H. Zainuddin Fanani;
Beberapa makalah dan pokok pikiran, yang bisa dibaca pada bagian II: Pikiran dan Gagasan K.H. Imam Zarkasyi.
Lihat buku K.H. Imam Zarkasyi dari Gontor Merintis Pesantren Modern, 1996
Rewritten by elfah on Saturday, November 23, 2013, at Secretary Office.
Para peserta Study Tour berpose di depan gedung Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.
GONTOR–Dalam rangka meningkatkan pengetahuan para mahasiswa khususnya yang sudah berada di semester 5, Fakultas Syari’ah Institut Studi Islam Darussalam (ISID) mengadakan rangkaian acara study tour ke berbagai daerah. Para peserta diambil dari para mahasiswa serta mahasiswi semester 5 dari masing-masing program studi, yaitu Perbandingan Madzhab dan Hukum (PMH), Hukum Ekonomi Syari’ah (HES), dan Ekonomi Syari’ah (ES). Namun tempat dan tujuan study tour ini terpisah antara mahasiswa dan mahasiswi.
Daerah-daerah tujuan yang dikunjungi para mahasiswa antara lain Yogyakarta dan Malang. Sementara untuk mahasiswi, mereka mengunjungi kota Semarang untuk acara ini. Untuk program studi Ekonomi Syari’ah yang bertujuan ke Yogyakarta, study tour ini diikuti oleh mahasiswa dari kampus ISID Siman, Robithoh, dan Magelang yang berjumlah 53 orang dengan 3 orang pembimbing, yaitu Al-Ustadz Ahmad Fajaruddin, Al-Ustadz Andy Triawan, dan Al-Ustadz Himmah Azhar Latif.
Acara ini berlangsung selama empat hari terhitung mulai hari Selasa (19/11) sampai hari hari Jum’at (22/11). Para mahasiswa diberi kesempatan untuk mengungjungi berbagai objek dan tujuan, antara lain Takaful keluarga, Rumah Zakat, Bank Indonesia (BI), Bank Mu’amalat, Dinas Perpajakan, sampai usaha herbal Bina Syifa yang semuanya bertempat di Yogyakarta.
Para peserta study tour ketika mendengarkan presentasi dari staf Bank Muamalat cabang Yogyakarta
Para peserta dengan antusias yang tinggi mengikuti acara ini, terlihat dari keaktifan dan keikutsertaan mereka dalam acara ini dengan banyak menanyakan berbagai macam pertanyaan yang berkaitan dengan objek yang dikunjungi.
Dengan diadakannya acara seperti ini, diharapkan para peserta dapat mengambil manfaat dan meningkatkan kemampuan mereka dalam mengambil ilmu dan pengetahuan yang ada. Serta dapat membuka wawasan tentang macam-macam pekerjaan dan sistematika bisnis dari berbagai macam bidang.Fei
Salah satu suasana perlombaan di Olimpiade Muharram
MADUSARI–Dalam rangka memeriahkan acara kemahasiswaan di bulan Muharram ini, Gontor 2 terpilih menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan acara tahunan antar kampus Institut Studi Islam Darussalam (ISID), yaitu Muharram Olympiad. Acara yang berlangsung selama dua hari (Kamis–Jum’at/14–15 November) ini dibuka oleh Al-Ustadz Drs. H. Mulyono Jamal pada hari Kamis siang. Dalam pidatonya, beliau menyampaikan bahwa walaupun hanya dilaksanakan selama dua hari, namun yang terpenting adalah adanya nilai-nilai yang tertanam di dalamnya, antara lain adalah tradisi keilmuan.
Perlombaan ini terdiri dari beberapa kategori; antara lain intelektual, teknologi dan informasi, keterampilan, ketangkasan, dan spiritual. Adapun peserta perlombaan ini merupakan anggota pilihan dan utusan kampus-kampus Institut Studi Islam Darussalam Gontor dari setiap wilayah. Dengan bertemakan “Membangun Muslim Yang Intelek Melalui Teknologi, Keterampilan dan Ketangkasan yang Berlandaskan Iman Dan Taqwa”, acara ini mengundang antusias yang tinggi dari para mahasiswa tiap-tiap kampus.
Dari kategori intelektual, yang dilombakan adalah lomba debat interaktif tiga bahasa (Arab, Inggris, dan Indonesia), lomba resensi buku, lomba karya ilmiah, dan lomba opini. Dari kategori teknologi dan informasi yang dilombakan adalah lomba majalah dinding, lomba membuat profil ISID, lomba membuat short movie, dan lomba hunting fotografi. Dari kategori keterampilan dan seni yang dilombakan adalah beladiri, kaligrafi, dan mural.
Adapun kategori yang paling ramai diikuti oleh para mahasiswa adalah kategori ketangkasan, yang meliputi perlombaan sepak bola, basket, bola voli, sepak takraw, futsal, tenis meja, dan bulutangkis. Di samping itu ada juga kategori spiritual yang melombakan adzan dan iqomah, qira’ahmujawwadah, dan lomba nasyid.
Akhirnya kampus Gontor 2 keluar sebagai juara umum setelah berhasil mendominasi hampir seluruh perlombaan yang ada. Pemenang dimumumkan pada acara penutupan yang dilaksanakan pada hari Jum’at(15/11) malam di lapangan sintesa kampus Gontor 2 dengan perincian juara per-kategori sebagai berikut: Bidang Spiritual
Gontor 3 (Juara 1) dan Gontor Pusat (Juara 2) Bidang Intelektual
Gontor 2 (Juara 1) dan Gontor 3 (Juara 2) Bidang Kesenian
Gontor 2 (Juara 1) Bidang Kesenian
Gontor Pusat (Juara 1) dan ISID Siman (Juara 2) Bidang Olahraga
ISID Siman (Juara 1) dan Gontor Pusat (Juara 2) Bidang Teknologi dan Informasi
Gontor 2 (Juara 1) dan Gontor 6 (Juara 2)
Dengan hasil perlombaan di atas, maka para mahasiswa ISID kampus Gontor 2 berhak menjadi juara umum dengan total perolehan nilai sebesar 1.150, diikuti oleh ISID Siman dengan total nilai 1.015 dan kampus Gontor Pusat dengan nilai 920.
Diharapkan dengan terselenggaranya acara ini dapat menumbuhkan rasa Ukhuwah Islamiyah dan mengembangkan bakat, minat, prestasi, dan semangat sportifitas Mahasiswa Guru dan Mahasiswa Santri Institut Studi Islam Darussalam dalam aspek kegiatan kemahasiswaan yang bersifat akademis dan non-akademis.Fei
Kitab Kuning yang sudah menjadi tradisi setiap pondok pesantren tidak hanya diajarkan di pondok–pondok salaf, melainkan pesantren modern seperti Gontor juga ikut mempelajari dan menelusuri ajaran–ajaran yang ada didalamnya, akan tetapi Gontor memberi istilah Fathul Kutub dalam program ini. “Di Gontor juga diajari kitab kuning, akan tetapi cara kita mengajarkan kitab kuning tidak sama dengan pondok–pondok salaf”, tutur K.H. Syamsul Hadi Abdan dalam pembukaan Fathul Kutub pada Jum’at (15/11) di Balai Pertemuan.
Program yang dilaksanakan tiap tahun ini bertujuan untuk meningkatkan bahasa arab dan wawasan keilmuan serta wawasan tentang literatur–literatur Islam klasik maupun modern. “Seluruh siswa akhir dituntut untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam berbahasa arab selama program ini berlangsung”, tutur Saibani selaku pembimbing Fathul Kutub. Ada 4 materi yang dibahas dalam program ini, antara lain, Tafsir, Fiqih dan Usul Fiqih, Hadits, Aqidah dan Akhlaq.
Fathul Kutub yang dijalani siswa akhir berbeda dengan yang dijalani siswa kelas lima. Beberapa permasalahan yang diberikan kepada siswa akhir bersifat lebih luas, sehingga tidak terpaku pada satu buku untuk mencari permasalahan tersebut. Adapun permasalahan yang diberikan kepada siswa kelas lima bersifat terbatas dan hanya menggunakan satu buku saja untuk mencari permasalahan yang dibahas.
Untuk mempermudah jalannya acara, seluruh siswa akhir dibagi menjadi 48 kelompok, dan di setiap kelompok terdiri dari 15 sampai 17 siswa. Sistem yang digunakan dalam program ini adalah penulisan pembahasan dan diskusi. Setiap kelompok akan mendapatkan permasalahan yang berbeda–beda sesuai dengan bidangnya, setelah itu dimulai dengan pencarian buku–buku yang bersangkutan dan menulisnya sebagai persiapan diskusi. “Dalam diskusi ini mereka dituntut untuk menggunakan bahasa arab selama berbicara, meskipun sulit, mereka harus tetap terbiasa”, tutur Faqih Nizom selaku pembimbing siswa akhir.
Acara yang berlangsung selama tiga hari ini, ditutup dengan program diskusi umum bermaterikan “Jihad”. Dengan pembicara Abdul Karim (6B), Rivaldy (6C), dan Iqbal Maulana (6B). Setelah itu diteruskan dengan penulisan kesan–kesan selama acara berlangsung dan ditutup oleh K.H. Syamsul Hadi Abdan, S.Ag. toms
GONTOR–Selepas Ulangan Umum Awal Tahun 1435 yang berlangsung selama 5 hari, siswa Kelas 5 KMI mulai dihadapkan kembali dengan Kasyful Mu’jam. Acara berlangsung pada Senin–Rabu malam (18–20/11). Kamus yang diujikan adalah al-Munjid fi al-Lughah wa al-‘Alam terbitan Daar al-Masyriq, Beirut Libanon dan kamus al-Mu’jam al-Mufahrasli alfaadzi al-Qur’an al-Karim terbitan Daar al-Ma’arif Beirut, Libanon. Keduanya adalah kamus utama yang banyak digunakan santri-santri Gontor dalam mencari kosakata bahasa Arab dan ayat-ayat al-Qur’an. Khususnya, kamus ini mulai familiar dikalangan siswa kelas 3 Intensif dan kelas 4 KMI ke atas.
Sebelum acara pada Senin malam, KMI telah berkoordinasi dengan Bapak Wakil Direktur KMI, al-Ustadz H. Farid Sulystio, Lc. mewajibkan seluruh siswa kelas 5 hadir dalam acara pengarahan acara Kasyful Mu’jam di Masjid Jami’ lantai 2. Al-Ustadz H. Farid Sulystio, Lc. dan al-Ustadz Mujib Abdurrahman, Lc. sebagai pemberi orientasi tentang tata cara menggunakan kedua kamus itu dengan baik, benar, dan tepat. Bapak Wakil Direktur KMI menegaskan, “dalam mencari makna kalimat, haruslah memperhatikan siyaq al-kalimah (konteks kata) . Karena setiap kosakata pada kamus Munjid memiliki banyak makna yang kompleks, maka carilah makna yang paling tepat dan benar”.
Acara diikuti 597 orang siswa Kelas 5 KMI, dengan tujuan tidak lain adalah implementasi siswa Kelas 5 KMI dalam penggunaan kedua kamus tersebut sehari-hari baik di kelas dan asrama. Mengingat mereka adalah pengurus di asrama. Penggunaan, praktek dan memberikan suri tauladan berbahasa kepada santri-santri di asrama merupakan hal yang mutlak untuk diaplikasikan. elfah
DARUSSALAM – memenuhi undangan German Oriental Conference dari Westfalische Wilhelms – Universitat, Munster. Pondok Modern Darussalam Gontor mengirim utusan dalam The 32nd German Oriental Conference of The German for Oriental Studies, mereka adalah Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A., Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A., dan Dr. H. Dihyatun Masqon, M.A. Acara berlangsung dari Senin – Jum’at (23-27/9) di Universitas Munster, Jerman.
Kader-kader terbaik tersebut menyampaikan makalah dengan tema “Pondok Pesantren”. Pertama, Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A. dengan judul “al-Harakah as-Salafiyah bimisra ‘ala al-Mujaddidin biindunisiya, fi Tathwiri at-Tarbiyah al-Islamiyah”. kedua, Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. dengan judul ““Pondok Pesantren”Islamic Education System in Indonesia (Maintaining Tradition and Responding Modernity)”. Makalah tersebut sebelumnya diajukan dalam bentuk proposal kepada panitia penyelenggara sampai kemudian disahkan menjadi salah satu tema pembahasan seminar.
Selain Indonesia, 32nd German Oriental Conference mengundang beberapa negara Islam di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Brunei untuk mengirimkan utusannya. Seminar kali ini merupakan salah satu dari beberapa seminar yang harus dihadiri pada tahun ini di Benua Biru, sekaligus bukti keikutsertaan dan peran Gontor dalam kancah internasional mengusung pendidikan karakter pesantren di Indonesia. elfah
Para siswa mempersiapkan diri sebelum Ulangan Umum dimulai.
GONTOR–Mulai Sabtu (9/11) ini, Kulliyatu-l-Mu‘allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor melaksanakan al-Ikhtibar al-‘Am li Nishfi as-Sanah al-Awwal atau Ulangan Umum Pertengahan Tahun untuk Tahun Ajaran 1434-1435/2013-2014. Program evaluasi pembelajaran semisal pre-test ini diselenggarakan selama lima hari hingga Rabu (13/11) mendatang dengan format ujian tulis.
Kegiatan ini diikuti seluruh siswa KMI dari Kelas 1–5, dengan diawasi para wali kelas yang dibantu 1–2 orang guru tambahan untuk mengawas di tiap-tiap kelas. Sementara siswa akhir, Kelas 6 KMI, dijadwalkan mengikuti pelajaran di kelas masing-masing seperti hari-hari biasa.
Melalui program ini, KMI berupaya meningkatkan prestasi belajar siswa selama satu semester. Guru-guru pun dapat mengukur kemampuan setiap anak didik dalam memahami dan menguasai pelajaran selama tiga bulan ini. Merujuk hasil Ulangan Umum nanti, dewan guru akan segera mengevalusi belajar siswa sebagai persiapan menghadapi Ujian Pertengahan Tahun di bulan Desember nanti.
Demikian halnya, siswa-siswa akan menyadari kekurangan belajar mereka agar segera dibenahi sebelum waktu ujian tiba. Tentunya, persiapan yang matang akan membuahkan hasil yang memuaskan dan prestasi belajar yang membanggakan. shah wa
Bersyukurlah jika saat ini kita berada di tengah-tengah pesantren. Kalaulah bukan satu-satunya, maka salah satu kehidupan yang paling ideal adalah kehidupan dunia pesantren.
Bayangkanlah, betapa sulitnya menemukan keikhlasan di kantor, pasar, sawah, markas besar, hingga lembaga eksekutif, yudikatif, dan legislatif. Sungguh, sulit sekali! Inilah kehidupan. Setan berkeliaran di mana-mana untuk merapuhkan keikhlasan kita. Ia memang tidak pernah pensiun untuk menggoda siapa saja, hingga seorang kiai sekalipun. Namun, di pesantren masih bisa kita temukan keikhlasan, kejujuran, hingga kebersamaan. Inilah pesantren.
Akan tetapi, tidak semua wali murid bisa memasukan anaknya ke pesantren. Banyak yang tidak tega. Banyak yang merasa berat melepas anak kesayangan mereka terpisah jauh di pesantren, jauh dari pandangan orang tua.
Pesantren sangatlah unik dengan nilai-nilai orisinal yang tidak mudah diintervensi pihak manapun juga. Pesantren berdiri untuk membentengi umat dari moral-moral penjajah. Jika terdapat pesantren yang tidak bersikap anti penjajah dan penjajahan, maka itulah pesantren palsu yang berkedok lembaga pendidikan.
Sekarang, kita berada di zaman yang penuh dengan krisis kepercayaan diri. Banyak sekolah yang tidak mengajarkan siswa-siswanya untuk percaya diri. Generasi ini memiliki kepercayaan diri yang rendah. Mereka tidak percaya dengan kemampuannya sendiri hingga harus menyontek di setiap ujian. Maka, kembangkanlah potensimu agar kepercayaan dirimu tumbuh.
Saat kamu sudah berjuang di luar dunia pesantren, pandai-pandailah membedakan antara vitamin dan formalin. Jangan mudah tertipu. Bawalah nilai-nilai pesantren yang kamu terima dan resapi selama ini. Sampai kapanpun, nilai-nilai pesantren tidak akan berubah. Nilai-nilai pesantren tidak boleh berubah dan tidak boleh ada yang berubah.
Disampaikan oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal pada acara Khataman Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sabtu, 7 Juli 2012.