Home Blog Page 546

Nilai-Nilai Kebersamaan

0

Kebersamaan, sistem inilah yang Gontor gunakan untuk mendidik 20.000-an santrinya. Sistem kebersamaan ini sudah Gontor pergunakan sejak awal berdirinya hingga sekarang dan untuk selamanya. Maka, nilai ini tidak boleh berubah sampai kapanpun dan siapapun pimpinannya nanti. Gontor Pusat dan cabang-cabangnya bergerak maju dengan kebersamaan. K.H. Imam Zarkasyi, K.H. Ahmad Sahal, dan K.H. Zainuddin Fannanie merintis pondok ini dengan kebersamaan. Segalanya dilakukan dengan bersama-sama.
Kami estafetkan nilai kebersamaan ini kepada kalian, santri-santriku. Estafet adalah hukum Allah. Estafet adalah hukum alam, ini adalah hukum kehidupan. Segala sesuatu bila tanpa estafet akan mati dan hilang. Bila kami menghentikan estafet ini, maka kami akan diadili oleh Allah, alam, dan kehidupan. Teruskan kebersamaan ini.
Mendirikan pondok harus dimulai dari kemauan. Kemauan hakiki nan kuat, yang datang dari keterpanggilan jiwa, yang sumbernya adalah hati nurani. Dan, Allah yang menjadi penggerak hati nurani suci ini. Setiap kebersamaan dalam kegiatan dan gerakan ini datang dari keterpanggilan jiwa. Bila tidak bersama, maka akan terpelanting. Bila enggan masuk dalam barisan kebersamaan, maka akan terpental. Sekali lagi, tata hatimu, luruskan niatmu!
Wahai, santri-santriku! Ke Gontor, apa yang kau cari? Selama sekian tahun kalian hidup di sini, kalian telah dianyam dengan pendidikan Gontor. Kalian dididik oleh miliu, situasi, lingkungan, gerakan, kegiatan, dan semua yang ada di sini. Segala apa yang kalian lihat, dengar, rasakan, dan yang kalian kerjakan adalah pendidikan.
Ingatlah, kalian dididik di sini bukan untuk diri kalian sendiri! Kalian dididik di Gontor untuk umat. Kalian dididik agar mampu berjuang di masyarakat kelak. Li i’laai kalimatillah. Kalian adalah manusia yang sarat akan potensi. Kalian masih muda, masa depanmu masih panjang dan indah. Kalian adalah manusia mahal. Kalian adalah manusia suci, doa kalian maqbul. Hiduplah untuk bermanfaat! Jadilah manusia yang bermanfaat, tidak hanya memanfaatkan dan jangan sampai dimanfaatkan! Memanfaatkan di sini adalah memanfaatkan potensi diri. Memanfaatkan di sini bukan berarti memanfaatkan situasi.
Anak-anakku, seindah-indah masa adalah masa di kala menuntut ilmu. Seindah-indah pengalaman adalah pengalaman menuntut ilmu. Masa-masa itu, kini sedang kalian alami, maka buatlah ia  menjadi indah. Perbanyak mengingat Allah. Basahi bibirmu dengan zikir dan wirid. farouq

Disampaikan pada Pengarahan dan Pembagian Tugas Ujian Lisan di Gontor Putri 3, Karangbanyu, Widodaren, Ngawi Auditorium Gontor Putri 3, Ahad, 23 Rajab 1434/2 Juni 2013

UNIK

0
"Pesantren adalah blue print dari ide, cita-cita, nilai, pikiran pendirinya, kareni itu ia unik"
“Pesantren adalah blue print dari ide, cita-cita, nilai, pikiran pendirinya, karena itu ia unik”

Unik; dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti; tersendiri dalam bentuk dan jenisnya; lain daripada yang lain; tidak ada persamaan dengan yang lain. Keunikan; menjadi bermakna kekhususan. Kita memang tidak sedang akan membicarakan unik in its meaning, tetapi berkaitan dengan unik sebagai ciri umum yang dimiliki pesantren. Setiap pesantren adalah unik, ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh pesantren yang lainnya, sehingga membanding-badingkan pesantren yang satu dengan yang lainnya, menjadi kurang layak untuk dilakukan.

Definisi pesantren – ala Gontor – adalah lembaga pendidikan Islam dimana kyai sebagai central figur, masjid sebagai pusat kegiatan dan asrama sebagai tempat tinggal santri. Kyai sebagai central figur berarti kyai menjadi pusat nilai pesantren tersebut, menjadi teladan yang dicontoh. Dari cara pandang kehidupan kyai tersebut, santri-santrinya kelak memandang kehidupan. Dari gaya hidupnya; para santri kelak menjalani hidupnya. Dari pandangan, cita-cita, dan harapannya seperti itulah pandangan, cita-cita, dan harapan santri-santrinya. Karena setiap pesantren memiliki kyai yang berbeda, juga memiliki sejarah kelahiran dan keberadaan yang tidak sama, maka pastilah setiap pesantren itu unik dan tidak sama atau bisa disama-samakan dengan pesantren yang lainnya.

Seringkali saat kyai dalam sebuah pesantren wafat, maka pesantren tersebut kemudian juga turut mati, sebab jiwa dan nilai yang ada dalam diri kyai juga turut mati bersama meninggalnya sang kyai. Hal demikian juga di alami Gontor pada periode Gontor lama, setelah keturunan kyai yang ke tiga meninggal dunia; Gontor lama hilang. Pengalaman sejarah itu membuat Trimurti K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainudin Fanani, K.H. Imam Zarkasy (pendiri Gontor baru) berfikir bagaimana menjaga agar Gontor tetap ada sepeninggal mereka kelak. Mereka berazam untuk menciptakan pesantren yang mampu untuk terus ada sepanjang kehidupan ada. Maka jawaban dari harapan itu adalah; bahwa ia harus memiliki kader yang bisa mewarisi dan melanjutkan ide dan cita-cita mereka. Membuat kader yang mampu menjaga dan turus menumbuhkan nilai-nilai kehidupan yang dimiliki oleh pendirinya lalu mentransformasikan hal tersebut kepada santri-santri yang datang pada tahun-tahun di depan. Begitulah seterusnya rotasi transformasi berlangsung berulang-ulang sepanjang jaman, tidak masalah gambar dan rupa manusia-nya berubah dan berbeda-beda, namun ide, cita-cita, nilai dan pikiran tetap yang semula.

Cita-cita untuk abadi; harapan untuk ada sepanjang usia kehidupan; menjadikan para pendiri meletakan dasar nilai, jiwa, atau ruh untuk keberlangsungan kehidupan Gontor itu di masa yang akan datang. Untuk tujuan itu, maka ruh dan jiwa itu haruslah sesuatu yang universal, abadi dan shalih untuk beragam jaman. Dan jiwa yang semacam itu pastilah bukan yang beraroma madiyah, material, sebab pasti yang demikian tidak mampu bertahan dalam gigitan jaman. Trimurti akhirnya merumuskan lima jiwa yang harus ada dan harus terus dijaga sepanjang kehidupan ada; jiwa keihlasan, jiwa kesederhanaan, jiwa mandiri, jiwa ukhuwah islamiyah, dan jiwa kebebasan. Dengan kelima jiwa tersebut; Gontor menjelma menjadi medan perjuangan; tempat manusia-manusia menaburkan jasa bagi kehidupan; ladang tempat mengetam pahala. Menjadi pasar dimana penghuninya menjual amal shalih dan Allah membelinya dengan surga.

Karena itulah Gontor unik. Maka jika kita membaca Gontor dengan frame konsep pendidikan yang telah ada di benak kita – sebab kita adalah Doktor pendidikan misalnya – lalu menyimpulkan jenis macam apa pendidikan yang ada di Gontor; dapat dipastikan bahwa kesimpulan kita tentang Gontor tidak tepat. Apalagi kemudian ikut-ikutan mengatur dan menentukan yang seharusnya dan yang sebaiknya; maka sekali lagi hal tersebut pastilah terjadi karena kebodohan dan kesombongan kita. Gontor akan tetap seperti ia pada mulanya, baik anda suka atau tidak. Sebab pesantren adalah blue print dari ide, cita-cita dan pikiran pendirinya, karena itulah ia unik. Hanya dengan menyerap ide, cita-cita, pikiran para pendirinyalah; kita akan bisa – mungkin – tepat membaca dan memahami Gontor.

Begitulah Gontor dengan keunikannya; terbuka untuk disukai namun berlapang dada untuk dibenci; sebab kerelaan dan kebencian manusia bukan hal terpenting yang menjadi tujuannya. “qul hadzihi sabiili  ad’u ilallah…” seperti itulah kebulatan tekad yang tertanam mati di jantung setiap pelaksana pendidikan di Gontor yang dahulu, sekarang atau siapapun kelak pemegang estafet kepemimpinannya di masa depan, akan tetap sama seperti itu! yang suka mari bersama, yang tidak suka; carilah jalan yang engkau rela! Wallahu a’lamu bishawab. (hasibamrullah)

Shalat dengan Hati dan Jiwa Raga

1
H. Syarif Abadi
H. Syarif Abadi

Rabbii ij’alnii muqiima al-shalaati wa min dzurriyyatii rabbanaa wa taqabbal du’aa.

“Wahai Tuhanku jadikanlah aku dan cucuku orang-orang yang selalu mendirikan shalat dan perkenankanlah doaku” (Ibrahim:41)

Banyak di antara kita umat Islam yang selalu mendirikan shalat setiap harinya, namun tidak banyak di antara kita yang mendirikan shalat dengan hati, jiwa, dan raga kita yang sebenarnya untuk menghadap Allah SWT. Di antara kita, lalai dan lengah ketika shalat bahkan tahawun di dalam ibadah yang menjadi kewajiban bagi kita umat Islam seluruhnya. Ada beberapa akibat lalai dalam mendirikan shalat yaitu:

  1. Allah akan mencabut keberkahan umurnya. Tidak ada kebaikan ataupun pahala dalam kesehariannya. Ia akan menjalani hidup tanpa keberkahan di dalamnya.
  2. Allah akan menghapus tanda-tanda orang saleh di wajahnya. 
  3. Semua doanya tidak akan diangkat ke langit dan tidak akan berpahala.
  4. Mereka tidak mendapat bagian dari doa orang-orang yang saleh.

Maka sebagai muslim haqiqy, sudah seharusnya bagi kita untuk selalu mendirikan shalat dengan jiwa dan hati kita yang sesungguhnya. Kita pasrahkan diri kita seluruhnya kepada Allah SWT dalam shalat kita. Takbir, rukuk, dan sujud, semuanya karena Allah SWT. Bukanlah perkara yang mudah bagi kita untuk mendirikan shalat dengan seluruh jiwa dan hati kita, namun seharusnya kita selalu berusaha untuk melakukan itu semua. brahma84

Taushiyah Ustadz H. Syarif Abadi di Masjid Pusaka

Gontor, 29 Mei 2013

Kampus ISID Adakan Orientasi KKN

2
Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi memberikan pengarahan kepada seluruh peserta KKN mengenai sejarah KKN
Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A memberikan pengarahan kepada seluruh peserta KKN mengenai sejarah KKN

GONTOR- Pada hari Kamis-Jum’at (23-24/5) Kampus ISID mengadakan Orientasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi seluruh mahasiswa semester 6 dari Kampus ISID Siman, Rabithah, Kediri, dan juga Magelang. Acara yang diadakan di Aula Rabithah Gontor Pusat ini dimaksudkan untuk memberi pembekalan bagi seluruh mahasiswa semester 6 yang akan melakukan KKN selama 1 bulan penuh dari tanggal 1-30 Juli 2013 di Desa Bungkal, Ponorogo. Selain itu, acara ini dimaksudkan agar seluruh mahasiswa mengetahui tempat-tempat yang akan mereka tinggali dan juga agar mereka mengenali kelompok-kelompok yang sudah dibagi oleh panitia KKN. Acara KKN pada tahun ini pun berbeda dengan tahun sebelumnya, karena yang sebelumnya setiap kampus mengadakan KKN di tempatnya masing-masing namun untuk kali ini mereka mengadakannya dalam satu tempat.

Sebelum dimulai acara Orientasi, para mahasiswa diwajibkan untuk mengikuti test yang diadakan oleh panitia KKN, dimana para mahasiswa menjawab 50 pertanyaan mengenai pengetahuan mereka tentang KKN dalam waktu kurang lebih 30 menit. Acara dibuka oleh rektor ISID yaitu Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A dengan memberikan orientasi mengenai sejarah KKN, setelah itu dilanjutkan oleh dosen-dosen yang lain dengan materi yang berbeda-beda seperti Sistem Pemerintahan Desa yang disampaikan oleh Al-Ustadz Syamsul Hadi Untung, Kemampuan Berkomunikasi oleh Al-Ustadz Yoyok Suyoto Arif, dan juga Sosiologi Pembangunan dan Gerakan Dakwah oleh Al-Ustadz Badrun Syahir. Diakhir acara, para mahasiswa mengikuti test yang kedua untuk menguji pengetahuan yang telah mereka dapatkan dalam pembekalan KKN ini. Brahma84

Keutamaan Sifat Tawadhu’

0

tawadlu

Salah satu sifat yang disukai oleh Allah dan Rasul-Nya ialah Tawadhu’, yaitu merasa rendah diri. Rendah hati (tawadhu’) merupakan sifat yang sangat terpuji di sisi Allah dan bahkan sangat didambakan oleh kita semua.

Salah satu contoh sederhana dari sifat tawadhu’ ini ialah jika seandainya seseorang bertemu dengan orang lain, ia akan merasa lebih rendah dari orang yang dijumpainya tersebut.

Sebagaimana dikatakan Rasulullah SAW dalam hadits yang artinya;

“Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Sampai tidak ada seseorang-pun yang menyombongkan diri (berbangga diri)kepada orang lain dan tidak ada seorang-pun yang melampaui batas  dari pada yang lain.” (HR. Muslim)

Mempraktekkan sifat tawadhu’ dalam kehidupan ini memang sulit, karena terkadang kita juga pernah merasa lebih baik daripada orang lain. Namun kita harus membiasakannya. Ketika kita bertemu dengan orang lain, kita harus merasa bahwa ia lebih mulia daripada kita. Sehingga apabila setiap orang sudah memiliki sifat yang mulia ini, Insya Allah tidak akan terjadi kedzaliman antara satu manusia dengan yang lainnya.

Orang tentu saja akan semakin menyayangi orang yang rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Itulah yang terdapat pada sisi Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mudah-mudahan kita bisa meniru sifat-sifat ini agar dalam kehidupan, kita tidak melampaui batas. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

K.H. Syamsul Hadi Abdan, Masjid Pusaka, 30 Mei 2013.

 

FeiRahman

Ujian Siswa Akhir KMI 2013: “We Have Done It”

2
Tasyakuran atas selesainya Ujian Siswa Akhir KMI di BPPM, Kamis (30/5/2013) siang.
Tasyakuran atas selesainya Ujian Siswa Akhir KMI di BPPM, Kamis (30/5/2013) siang.

GONTOR – Allahu akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Pekikan K.H. Masyhudi Subari, MA, Direktur Kulliyyatu-l-Mu’alliminal Islamiyyah (KMI) sontak diikuti oleh 689 orang siswa akhir KMI 2013. Pekikan takbir ini merupakan luapan rasa kesyukuran yang amat luar biasa, usai melewati masa ujian siswa akhir yang –kurang lebih- berlangsung selama 2 bulan.

Bagaimana tidak, ujian tulis siswa akhir KMI ini merupakan puncak dari rentetan ujian yang dihadapi siswa akhir KMI, semenjak dimulainya kegiatan Tarbiyah Amaliyah 2 bulan lalu, dan kini, itu semua telah usai. Maka tidak berlebihan rasanya apabila pekikan takbir para siswa kelas 6 ini begitu keras sehingga memenuhi seisi Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) Darussalam Gontor.

Usai ujian mahfudzat pada jam pertama, seluruh siswa akhir KMI segera diarahkan menuju ke Masjid Jami’ guna melaksanakan sujud syukur bersama. Usai sujud syukur, rentetan “resepsi kesyukuran” ini dilanjutkan dengan perkumpulan di BPPM, guna mendengarkan nasehat dari Pimpinan PMDG, K.H. Syamsul Hadi Abdan dan Direktur KMI, K.H. Masyhudi Subari, MA.

Pada lahiriyahnya, ujian telah usai, namun pada hakekatnya, seluruh siswa akhir KMI saat ini menuju fase ujian selanjutnya. Bukan ujian akademik, namun sesuatu yang lebih berat dari itu. Yakni ujian kesabaran, loyalitas, etos kerja atau singkatnya ‘ujian mental’. Karena ke depannya, seluruh siswa akhir KMI akan turut berperan serta dalam kepanitian ujian akhir tahun siswa KMI kelas 1 hingga kelas 5. Mereka akan diuji dengan diberikan amanah sebagai penguji, pengawas ujian, ataupun menjaga di pos-pos kelas 6 dan pos-pos unit usaha guru. Dalam hal ini, nampaknya kita diingatkan kembali pada sabda Rasulullah SAW sekembalinya dari Perang Badar, “Roja’na minal jihadil asghar, ilal jihadil akbar,” “Kita kembali dari jihad yang kecil, untuk menuju jihad yang lebih besar.” Yang di mana maksud Rasulullah SAW di sini adalah jihad menahan nafsu.Binhadjid

 

 

Kegiatan Kepramukaan PMDG Resmi Ditutup

0
Kegiatan Kepramukaan Resmi Ditutup
Suasana Penutupan Kegiatan Kepramukaan

GONTOR- Mendekati Ujian Akhir tahun, pada hari Kamis (16/5) seluruh kegiatan kepramukaan resmi ditutup. Acara penutupan diadakan pada sore hari dan diikuti oleh seluruh Siswa dari kelas 1–5 di depan Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM). Sebelum penutupan dimulai seluruh siswa kelas 1-4 mengikuti Ujian Kepramukaan yang diadakan oleh staf Koordinator Gerakan Pramuka dan dibimbing oleh Pembina setiap Gugus Depan.

Acara penutupan pada tahun ini dimeriahkan oleh beberapa penampilan-penampilan dari Pasukan Khusus (PASUS) Gugus Depan 15089 dan juga para Asisten Koordinator Gerakan Pramuka. Setelah acara penutupan, dibacakan para pemenang kegiatan kepramukaan selama pertengahan tahun kedua bagi seluruh Gugus Depan Pondok Modern Darussalam Gontor. Pada pertengahan kedua ini Gugus Depan 15089/01 keluar sebagai Juara Umum, sementara Juara Favorit dimenangkan oleh Gugus Depan 15089/07.Brahma84

THALABUL ILM

0

ilmu“Lan  yablughul mar’u muntaha arabihi, Illa bi ilmin yajidu fi thalabihi”, tidak akan sampai engkau pada apapun yang kau impikan, kecuali dengan ilmu yang kau dapat dari usaha yang sungguh-sungguh! Keilmuan adalah tanah yang menumbuhkan Gontor sehingga mampu bertahan melewati berbagai jaman. Dari jaman penjajahan, orde lama, orde baru, reformasi, kabinet Indonesia bersatu, sampai berganti-gantinya Presiden. Telah berulang kali berganti menteri pendidikan Indonesia, bersama bergonta-gantinya buku ajar yang digunakan di sekolah-sekolahnya. Gontor tidak bergeming, tetap dengan dirinya seperti pada mulanya ia ada. Dengan kurikulum yang sama dan dengan buku ajar yang serupa, tidak berubah! Ia tidak tergoda untuk melepas baju lamanya. Tidak terperanjat dengan gemerlap warna-warna baru yang menggodanya untuk beralih mencoba mengenakannya. Ia tetap kokoh dengan perjuangan semula. Sebagai tempat persemaian bagi tumbuhnya jiwa guru dalam diri anak-anak muda yang tekun menimba ilmu di sana.

Kenapa Guru? Rasanya apa yang dikatakan K.H. Hasan Abdullah Sahal cukup mewakili jawaban dari pertanyaan tersebut; “pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menjadi pendidik, pendidik yang baik adalah yang mampu memimpin dengan baik! Tidak setiap pemimpin adalah pendidik sebaliknya setiap pendidik adalah pemimpin!” kalau diteruskan pertanyaannya; kenapa pemimpin yang baik? Maka jawaban Rasulullah Muhammad SAW adalah jawaban tak terbantahkan bagi kita pengikutnya; “kulukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyatihi” setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas apa yang dipimpin-nya.

“Setiap kita adalah pemimpin” meskipun belum tentu setiap kita adalah pemimpin yang baik yang mengerti bagaimana ia seharusnya mempertanggung jawabkan kepemimpinannya. Pertanggung jawaban itu adalah keniscayaan, sebab manusia adalah ‘hayawanun mas’ul’ – makhluk yang harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya dihadapan Allah. Untuk menjadi baik, manusia itu harus melewati latihan demi latihan, melampaui rintangan. Sebagaimana kita mengerti; bahwa manusia dilahirkan dalam kondisi seperti kertas putih (yuladu ‘ala fitrah) orang tualah yang menjadikan hijau, merah, kuningnya anak. Jadi; baik, adalah hasil pembentukan dan proses perjalanan melewati ujian demi ujian.

Demi yang demikian itu, untuk mengembalikan manusia kepada asal mula ia diciptakan untuk apa, maka tujuan pendidikan Gontor terumuskan dalam satu statement indah “isholul mar’u ila ma khuliqa li’azlih” membawa manusia kepada untuk apa ia diciptakkan. Bahwa manusia ditakdirkan ada untuk; pertama; ibadah (ya’budullah), kedua; Khalifah (pemimpin dunia). Kedua tujuan itu tidak akan tercapai kecuali manusia itu mengerti dengan baik bagaimana beribadah dan bagaimana memimpin. Dan untuk mengerti, maka Ilmu adalah satu-satunya jawaban.

Karena itu; thalabul ilm menjadi hal terpenting pertama yang harus diniatkan seorang santri ketika ia menghendaki untuk belajar di Gontor. Oleh sebab itu, ia harus menggeser segala hal yang bukan untuk tujuan mencari ilmu. Misalnya; untuk tujuan mencari sertifikat, ijazah. Berharap dengan itu ia medapatkan pekerjaan lalu mendapat kedudukan di masyarakat dan lain sebagainya. Intinya; apa saja yang tidak untuk tujuan mencari ilmu harus disingkirkan dari pikiran mereka yang hendak belajar di Gontor. Jika tidak, ia akan kecewa kemudian mengajak orang lain untuk kecewa dan akhirnya ia mengecewakan!

Karena setiap santri harus berazzam bahwa keberadaannya di Gontor demi untuk mendapatkan ilmu. Maka cara memperoleh ilmu itu juga harus baik dan benar. Ilmu yang diperoleh adalah benar-benar dari usaha dirinya sendiri. Karena itulah, maka sistem yang ada; melarang keras terjadinya usaha-usaha yang berorentasi hasil dengan menggunakan segala cara. Di Gontor, proses lebih dipentingkan dari hasil. Dalam setiap proses yang tekun dilewati oleh santri itulah pendidikan Gontor membentuk kepribadianya. Wallahu a’lamu bishawab. (hasibamrullah)

Prof. Dr. Ahmad Kamil Mydin Mira Kenali Gontor dari Dekat

2
Pimpinan Pondok Bersama Prof. Dr. Ahmad Kamil Mydin Mira
Pimpinan Pondok Bersama Prof. Dr. Ahmad Kamil Mydin Mira

Dalam rangka silaturrahim dan mengenali sistem pendidikan dan pengajaran di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Prof. Dr. Ahmad Kamil Mydin Mira, Dekan International Islamic University Malaysia (IIUM), Fakultas Keuangan dan Perbankan Islam Malaysia, berkunjung ke Gontor pada 11 Rajab 1434/21 Mei 2013. Beliau disambut hangat oleh Pimpinan Pondok, K.H. Hasan Abdullah Sahal dan K.H. Syamsul Hadi Abdan di Kantor Pimpinan. Kunjungan ini, adalah kali pertama untuk Profesor berdarah India tersebut.

Secara umum, ia menilai bahwa peningkatan pendidikan pesantren di Indonesia amat signifikan, Khususnya Gontor. Hal ini terlihat dari kontribusi para alumni Gontor yang telah berkiprah di masyarakat dunia, baik ranah politik, ekonomi, sosial, dan pendidikan. Termasuk para alumni Gontor yang mengemban ilmu di negeri Jiran. Selain mencari ilmu, mereka mengoptimalkan perannya dalam pengajaran dan pendidikan. Menurutnya, Gontor adalah lembaga pendidikan yang memiliki metode pembelajaran modern, tetapi tetap menjaga tradisi keilmuan klasik. Inilah yang tidak dimiliki kebanyakan pondok pesantren lain.

Ia menambakan “Melihat pondok ini, hati saya terasa tenang dan damai”. K.H. Hasan Abdullah Sahal berpesan,”Jiwa, falsafah, nilai, sistem Gontor sudah terbentuk sejak Pondok didirikan, hal itu karena jiwa keikhlasan para pendirinya mendidik kehidupan Islami. Untuk diterapkan di Malaysia, mungkin perlu pemikiran, ijtihad, dan usaha keras.”elfah

SMK Kelantan Malaysia Dalami Pembelajaran Bahasa Arab di PMDG

2
Para Pelajar SMA Kelantan, Malaysia berpose di depan Gedung Bosnia Gontor Putri 1, Mantingan, Ahad (26/5/2013).
Para Pelajar SMA Kelantan, Malaysia berpose di depan Gedung Bosnia Gontor Putri 1, Mantingan, Ahad (26/5/2013).

GONTOR- Pada hari Sabtu-Rabu (25-29 Mei 2013/15-19 Rajab 1434), Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) kembali menjadi objek rujukan metode pembelajaran Bahasa Arab oleh Sekolah Menengah Kebangsaan Agama Lati, Kelantan, Malaysia. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Bapak Pimpinan PMDG, yang pada kesempatan ini diwakilkan oleh Ustadz Mujib Abdurrahman. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan, bahwa pembelajaran Bahasa Arab ini tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat, tapi butuh waktu yang panjang dan konsisten dalam menjalankannya.  Acara yang diikuti oleh 39 peserta ini —20 orang guru, 18 orang pelajar, dan 1 orang pembimbing— merupakan salah satu program Pemerintah Malaysia dalam rangka meningkatkan kualitas berbahasa Arab.

Kegiatan peningkatan Bahasa Arab ini meliputi Latihan Pidato Bahasa Arab, metode pemberian kosa kata Arab, orientasi tentang Disiplin berbahasa, dan lain sebagainya. Beberapa kegiatan ini dilaksanakan di Gontor Putri 1, Mantingan, Ngawi dan di Gontor Pusat, Ponorogo.

Usai menjalani kegiatan-kegiatan peningkatan bahasa tersebut, perjalanan dilanjutkan dengan kunjungan ke Masjid Agung, Surabaya, shopping di Pasar Tanggulangin, Sidoarjo, untuk kemudian take off dari Bandara Juanda, Surabaya menuju Kuala Lumpur.Sazza