Home Blog Page 548

PERTEMUAN JIWA

0

beningGontor – sering dalam beberapa kesempatan – guru-guru kami menyebut sebagai kawah condrodimuko, tempat dibentuknya Gatot Koco menjadi kasatria pilih tanding, tempat ditempanya jiwa dan raga, sehingga setelah keluar dari kawah tersebut ia menjadi digdaya. Dalam proses pembentukan itu; bertemulah jiwa yang membentuk dan jiwa yang dibentuk; jiwa guru dan jiwa murid. Pertemuan jiwa ini satu hal yang sangat mendasar dalam model pendidikan Gontor. Pertemuan yang dalam bahasa Gontor menjadi ‘guru ihlas mendidik, siswa ihlas dididik’. Jika tali jiwa ini telah tersambung, maka proses pembentukan jiwa itu baru akan berjalan efektif.

Ihlas – dalam perspektif guru – adalah ketulusan untuk memberi, pengosongan dari segala jenis kepentingan dan interes duniawi dan yang material. Rumusan seorang guru di Gontor adalah ‘live to give’ sebagaimana yang dituturkan oleh KH Hasan Abdullah Sahal (pimpinan dan pengasuh pondok Modern Gontor) ‘di Gontor yang ada adalah; “to give, to give and to give!” bukan give to take, atau take and give, give to take itu mengandung interest tertentu, filosofi politik, take and give adalah filosofi dagang!’ keduanya jauh dari makna ihlas; ihlas dalam perspektif ini adalah kosong dari kepentingan selain Allah, ‘it was between us and God’ harus menjadi satu tali yang mengikat setiap kali seorang guru Gontor melaksanakan kewajiban dan tugasnya.

Jika sang pembentuk (guru) menyimpan di dalam jiwanya potensi ihlas itu; maka yang lahir dari apa yang dikerjakan saat ia mengajar santrinya adalah ‘ungkapan cinta’; marahnya, menghukumnya, menjelaskan-menerangkanya, memerintah-menyuruhnya adalah serangkaian usaha untuk membawa siswanya menjadi qurrata a’yun wa lil muttaqina imama; dengan potensi ihlas itu; segenap usahanya dalam pembinaan santri adalah lukisan indah di jiwa santri-santrinya yang akan mereka kenang sepanjang hayat mereka.

Almarhum KH Imam Zarkasy (salah satu trimurti pendiri Pondok Modern Gontor) misalnya – setiap kali memarahi santrinya dengan kemarahan habis-habisan, melakukan sholat dan menangis; lalu mendoakan kebaikan bagi hidup siswa tersebut. Begitu juga saat beliau hendak mengusir santrinya yang melanggar; menetes air mata beliau sebelum tinta pulpen-nya menggoreskan tanda tangan di atas kertas keterangan pengusiran santri itu. Tidak ada dendam bagi kesalahan yang dilakukan santrinya, setiap tindakan hukuman dan teguran adalah demi kemaslahatan santri itu sendiri. Karena ihlas itulah, maka santri-santrinya yang pernah dimarahi, yang pernah dihukum, menerima dengan hati lapang, bahkan bersyukur atas apa yang mereka terima, sebab itulah ungkapan cinta, perhatian, dan kasih sayang seorang guru kepada mereka.

Sementara ihlas – dalam perspektif santri – adalah; kerelaan hati untuk dididik dan diajar, kepercayaan total, loyalitas tanpa tepi kepada guru yang mendidik dan mengajarinya. Hal-hal itulah yang akan membuka hatinya, telinga dan matanya untuk menyerap sebanyak mungkin kebaikan dan nilai-nilai yang diajarkan gurunya. Ihlas diajar dan dididik, dalam bahasa Ali bin Abi Thalib adalah; “man ‘allamani harfan sirtu lahu ‘abdan” kalimat ini adalah azzam dalam jiwa seorang santri untuk taat dan patuh kepada gurunya; kebulatan tekad untuk menyerap sebanyak mungkin ajaran, dididikan, dan arahan atau apa saja yang diinginkan gurunya untuk ia kerjakan tanpa tanda tanya.

KH Kholil Bangkalan – misalnya; pernah memiliki seorang santri yang saat di pesantren waktunya lebih banyak digunakan untuk membantu bekerja di ladang dan sawah demi ketaatan kepada gurunya daripada waktu yang digunakannya untuk belajar di ruang-ruang kelas. Setelah hitungan tahun berlalu; kyai Kholil memanggil santri tersebut dan mengatakan bahwa masa studinya telah usai, lalu menyuruhnya untuk pulang dan mendirikan pesantren. Meskipun pada mulanya santri ini bingung, merasa belum mendapatkan pelajaran yang cukup selama ia menimba ilmu disitu, namun ‘loyalitas tanpa tanda tanya’ itu menghendaki jawaban ‘ya’ untuk setiap perintah gurunya. Kenyataannya; ia kemudian dapat merintis sebuah pesantren, dan pesantren itu masih ada hingga sekarang dengan jumlah santri ribuan. Dan itu adalah buah dari jiwa ihlasnya.

Inilah hubungan jiwa Guru dan Murid; tali penghubungnya bernama Ihlas. Meski kelihatanya sepele, namun hubungan itulah pondasi bagi lahirnya manusia-manusia yang keberadaanya berharga seribu orang. Mungkin saja secara metodologis pendidikan dan pengajaran yang ada; tidak bagus-bagus amat, biasa saja atau bahkan ketinggalan zaman, namun jiwa yang dimiliki guru dan murid yang demikian itu; menciptakan gelombang dahsyat perubahan dalam pembentukan jiwa seorang murid. Apa yang dalam filsafat pendidikan Gontor kemudian dikenal dengan istilah ‘ruhul mudaris ahamu minal mudaris’ jiwa guru lebih penting dari guru itu sendiri. Wallahu a’lamu bishawab. (hasibamrullah).

Dinamika Kehidupan Pesantren

5
Kegiatan seni bela diri santri di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor
Kegiatan seni bela diri santri di Pondok Modern Darussalam Gontor

Pada dasarnya, pendidikan di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor dikemas dalam berbagai macam kegiatan di kampus yang membentuk sebuah dinamika kehidupan yang syarat akan nilai, jiwa, idealisme, dan falsafah kehidupan yang dipegang teguh oleh Gontor. Oleh karena itu, dalam perputaran waktu 1 x 24 jam, pesantren Gontor tidak pernah tidur, al-ma’hadu la yanamu ‘abadan, karena berbagai macam aktivitas dilaksanakan oleh seluruh elemen pesantren dalam rentang waktu tersebut. Semua minat dan bakat santri diberikan wadah yang memadai untuk mengembangkan kecerdasannya; baik itu kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, spasial, atau kecerdasan-kecerdasan lainnya.

Salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang menarik adalah seni bela diri. Dalam ekskul tersebut, santri dididik untuk memiliki ketahanan fisik yang kuat, jiwa sportivitas, menghargai orang lain, berdisiplin, dan pantang menyerah. Nilai-nilai pendidikan inilah yang selalu ditanamkan dalam kegiatan tersebut.

Agar nilai-nilai itu dapat tertanamkan dengan baik, terdapat penanggung jawab khusus dari para guru/ustadz yang diberi amanah oleh Kyai untuk mengawalnya. Pola pengawalan semacam ini juga berlaku untuk puluhan kegiatan ekstrakurikuler lainnya, sehingga seluruh aktivitas santri yang dilaksanakan tidak kering akan nilai-nilai pendidikan Gontor. AbuNuya

NIAT

5
Pentingnya meluruskan niat ketika masuk pesantren
Ke Gontor apa yang kau cari?

‘Ke Gontor apa yang kau cari?’ kalimat tanya ini akan anda dapati saat memasuki kampus Gontor manapun. Satu pertanyaan sederhana, meskipun ma’na dibalik jawabannya adalah ketakterhinggaan, adalah ‘ruang’ di hati para pelajarnya; luas dan sempitnya ruang itu, bergantung dari tepat tidaknya jawaban atas pertanyaan sederhana tersebut. Ia memasuki hati, bersinggasana disana, dan tak akan berhenti untuk terus memperdengarkan pertanyaan itu berulang-ulang, baik saat santri ingat, diingatkan, atau secara tidak sengaja membaca deret kalimat itu, ya… kalimat tanya yang menempel di dinding-dinding gedung yang ada di setiap kampus Gontor itu akan terus bertanya sepanjang waktu santri ada di dalam naungan kehidupannya. Pertanyaan yang terus menuntut santri, guru, dan seluruh penghuninya; mempertanyakan niat! Kenapa mereka masih ada disana, untuk apa?

Suatu saat dalam perjalanan bersama beliau KH Abdullah Syukri Zarkasy (pimpinan dan pengasuh Pondok Modern Gontor) berkata “pondok ini adalah pondok serius, bukan pondok main-main; kami sungguh-sungguh dalam mendidik dan mengajar santri; pol-polan, habis-habisan, bondo bahu pikir lekperlu sak nyawane pisan, korban harta, korban pikiran, korban perasaan, dengan seluruh jiwa dan hati; kami berdoa keras, bekerja keras, berpikir keras untuk mencetak mereka – kader-kader umat ini – menjadi manusia yang bisa bergerak dan juga menggerakan, mampu berjuang dan memperjuangkan, hidup dan menghidupi, menjadi manusia yang banyak manfaatnya, kaya zakatnya, kaya amalnya, kaya karyanya. Pondok ini bukan pondok main-main, yang hanya sekedar menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran, asal siswa diajar, dididik lalu mereka menyelesaikan jenjang yang ada, hanya begitu saja. Pondok ini adalah pondok nilai – yang mengemban amanat untuk menyebarkan risalah kenabian – dan untuk memperjuangkan nilai-nilai besar itu; tidak akan pernah berhasil tanpa kesungguhan, kerja keras, keseriusan dan niat yang benar. Cita-cita pondok kita besar, karena itu niatmu juga harus besar, harapan kita tinggi, karena itu hatimu harus kokoh dan kuat! tinggikan cita-citamu! kuatkan niatmu!”

Hari ini; jumlah pendaftar untuk menjadi siswa Gontor sudah mencapai 1500-an, sementara waktu yang dibuka untuk pendaftaran masih panjang sampai 10 syawal di depan; entah sampai di angka berapa calon pelajar tahun ini nantinya? Namun jumlah calon pelajar bukan hal terbesar yang ada di kepala kami – penyelenggara pendidikan – yang terbesar yang menguasai hati kami sesungguhnya adalah seberapa benar niat mereka memasuki Gontor ini; sudahkah mereka mempertanyakan baik-baik niat mereka hendak belajar disini? Untuk apa? Adakah mereka kesini hanya karena Gontor terkenal, karena itu keren jika bisa sekolah ditempat yang terkenal? Atau adakah mereka kesini hanya karena mereka telah tercemar dengan bergaulan di sekolah mereka dahulu; sudah keburu rusak mentalnya dan berharap Gontor mampu memperbaikinya? Ataukah mereka adalah anak-anak yang menjadi korban pemaksaan orang tua, karena ketakutan orang tua atas lingkungan buruk pergaulan di tempat mereka, sehingga memasukan anaknya ke Gontor adalah alternative jitu, murah dan praktis untuk menyelamatkan buah hati mereka? Jika niat para calon pelajar hanya itu, kasihan Gontor, dianggap sebagai penitipan anak, bengkel akhlak, dan hanya sekedar menjadi semacam konservasium atas rusaknya lingkungan di rumah calon pelajar itu tinggal.

Sekali lagi ‘niat’, ia berkaitan dengan seberapa dalam kita mengarahkan hidup kita agar benar. Belajar di Gontor adalah masalah niat pada mulanya; jika niat dalam hatinya tepat; ia akan sangat cepat menyerap nilai-nilai pondok ini dan akhirnya menjadi darah dan jantungnya, dimana kelak ia hidup dengan itu. Gontor bukan hanya lembaga pengajaran yang mengarahkan siswanya untuk bisa menguasai beragam pengetahuan yang tersusun dalam silabus buku ajar, ia lebih dari itu; ia adalah lembaga kehidupan yang mengajarkan kehidupan, mencetak seorang muslim bagaimana ia menjalani hidupnya, membawa manusia untuk mengerti untuk apa mereka dilahirkan!(hasib amrullah)

Mantapkan Persiapan, Panitia Gelar ‘Ikhtibar’ Pelajaran Sore

0
Suasana ujian lisan pelajaran sore pada Jumat (17/5) lalu.
Suasana ujian lisan pelajaran sore pada Jumat (17/5) lalu.

GONTOR – Panitia Ujian Pelajaran Sore Akhir Tahun pada tahun ajaran ini menggelar Ikhtibar (Ulangan Umum) Pelajaran Sore yang dilaksanakan sejak Sabtu-Rabu (11-15/5/2013). Hal ini dilakukan guna memantapkan persiapan santri menghadapi ujian pelajaran sore yang baru akan dilaksanakan pada Jumat hingga Rabu (17-22/5/2013).

Adapun pelaksanaan ujian pelajaran sore ini dikontrol langsung oleh Panitia Ujian dari Asatidz yang diketuai oleh Ustadz Utep Syahrul Karim, S.Pd.I dan Ustadz Ahmad Muqorrobin, S.H.I dibantu dengan panitia dari siswa kelas 5 Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI). Adapun ketua panitia dari siswa kelas 5 KMI berjumlah 3 orang, yaitu Diaz Ahmad Syarif (5-D), Ghani Abdul Haq (5-D) dan Tanri Wicaksono (5-H).

Seperti tahun-tahun sebelumnya, ujian lisan kali ini dilaksanakan pada Jumat (17/5/2013) pagi untuk siswa kelas 1, 1 intensif dan siswa kelas 2 pindahan dari pondok cabang. Ujian lisan ini bermaterikan Al-Quran, Juz ‘Amma, Ibadah Qouliyah dan Ibadah Amaliyah. Penguji pada ujian lisan tahun ini dipercayakan kepada guru-guru KMI tahun pertama dan beberapa guru dari tahun kedua serta dibantu siswa kelas 5 KMI.

Adapun ujian tulis dilaksanakan selama 5 hari sejak Sabtu hingga Rabu (18-22/5/2013). Bermaterikan pelajaran-pelajaran yang telah diajarkan selama pelajaran sore, seperti halnya Muthola’ah, Imla’, Khot, Shorf dan Nahwu. Rentetan ujian ini diakhiri dengan ujian bahasa yang dilaksanakan pada Rabu (22/5), serta dilanjutkan ujian bahasa bagi siswa kelas 5 KMI yang dilaksanakan pada malam harinya.

Selain itu, anggaran yang diajukan panitia ujian pelajaran sore tahun ini sebesar Rp 43 juta 2 ribu 5 ratus rupiah. Anggaran ini paling banyak digunakan untuk keperluan konsumsi, perlengkapan dan pencetakan soal.binhadjid

K.H. Syamsul Hadi Abdan, “Hari ini Merupakan Hari Bersejarah”

0
Tampak salah satu gedung yang telah dibangun di Gontor Putri 7, Riau.
Tampak salah satu gedung yang telah dibangun di Gontor Putri 7, Riau.

“Hari ini merupakan hari yang bersejarah.” Kata-kata ini terlontar dari K.H. Syamsul Hadi Abdan, Pimpinan Pondok Modern Darussalam (PMDG) di depan guru-guru usai shalat Maghrib, Sabtu (18/5/2013) petang. Bagaimana tidak, menurut beliau, hari ini Gontor Putri 7 (Riau) yang sejak beberapa tahun lalu diwakafkan, memulai membuka pendaftaran untuk tahun ajaran 1434-1435/2013-2014.

Sebelum dibangun, tanah seluas 10 hektar ini telah resmi diserahkan sepenuhnya kepada PMDG oleh Ibu Ida yang merupakan besan dari K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi.

Usai menjelaskan hal tersebut, beliau mengingat kembali akan sejarah berdirinya Pondok Gontor. “Dulu, beberapa tahun saat baru berdiri, Gontor ini diperuntukkan bagi putra dan putri,” lanjut beliau sembari mengingat kembali masa lalu. Satu hal yang membuat beberapa guru tertegun, karena memang jarang sekali guru muda yang mengetahui tentang hal ini. Namun karena tujuan utama Trimurti, yakni melahirkan pemimpin umat, maka beberapa tahun selanjutnya Gontor hanya menerima santri putra saja.

Sejak saat itu hingga K.H. Imam Zarkasyi meninggal, belum ada wacana untuk membuka Gontor Putri. Namun pada tahun 1993, sejak ada wakaf tanah yang cukup luas di Mantingan-Ngawi, maka Gontor kembali berpikir untuk membuka Pondok Gontor yang dikhususkan untuk santriwati. Padahal sedianya, tanah tersebut diperuntukkan untuk Institut Studi Islam Darussalam bila nani telah membuka Fakultas Pertanian, karena memang saat itu, tanah yang diwakafkan berbentuk sawah yang cukup luas.

Seingat beliau, ada 6 guru yang diinstruksikan untuk merintis pondok putri di Mantingan, diantaranya Ustadz Sutaji Tajuddin (Alm), Ustadz Syuja’i, Ustadz Sunanto dan beberapa guru yang lain. Sejak dirintis hingga saat ini, Gontor Putri memiliki perkembangan yang jauh lebih pesat ketimbang Gontor Putra, setidaknya dilihat dari sisi peningkatan jumlah santrinya. Gontor Putra, sejak tahun 1926 hingga 1951, jumlah santri putra saat itu belum lebih dari 600 orang.

Bila kita menilik ke Gontor Putri, mungkin kita bisa sedikit berbesar hati, karena hal ini dapat dibilang peningkatan paling pesat yang tidak bisa dilakukan oleh Pondok Pesantren Putri manapun di Indonesia, setidaknya di era modern ini. Sejak didirikan tahun 1993, Gontor Putri saat ini telah memiliki kurang lebih 7000 santriwati yang tersebar di Gontor Putri 1 dan 2 (Mantingan, Ngawi), 3 (Karangbanyu, Ngawi), 4 (Kendari), 5 (Kandangan, Kediri) dan Gontor Putri 6 (Poso). Angka ini cukup mencengangkan, baru 20 tahun saja, Gontor Putri sudah memiliki 7000 santriwati, sedangkan Gontor Putra baru memiliki 600 santri saat Peringatan Seperempat Abad PMDG.

Di akhir wejangan, beliau sempat menyeruakkan harapan besar tentang masa depan Gontor Putri 7. “Semoga Gontor Putri 7 dapat berkembang pesat seperti halnya Gontor-Gontor Putri yang lain. Tetap menjaga kualitas di samping kuantitas yang semakin berkembang pesat,” ucap K.H. Syamsul Hadi Abdan yang diamini oleh guru-guru yang sejak tadi ‘asyik’ menyimak petuah-petuah beliau.binhadjid

Dikutip dari tau’iyyah diniyyah oleh K.H. Syamsul Hadi Abdan di Masjid Pusaka, Sabtu (18/5/2013) petang.

“Peperangan itu Telah Dimulai”

0
Siswa Akhir KMI 2013 sedang menyimak sambutan K.H. Hasan Abdullah Sahal dalam Pembukaan Ujian Tulis Gelombang Kedua, Rabu (15/5/2013) pagi di BPPM.
Siswa Akhir KMI 2013 sedang menyimak sambutan K.H. Hasan Abdullah Sahal dalam Pembukaan Ujian Tulis Gelombang Kedua, Rabu (15/5/2013) pagi di BPPM.

Pada tanggal 19 Juli 711 M, Thariq bin Ziyad, pemimpin pasukan Islam utusan Khalifah al-Walid, berpidato di depan 12.000 pasukan islam di Jabar Thariq (Selat Gibraltar). Pidato ini disampaikan, usai Thariq memerintahkan pasukannya untuk membakar seluruh kapal yang ada, sehingga menjadi pelecut semangat bagi para pasukan Islam. “”Kita datang ke sini tidak untuk kembali. Kita hanya punya 2 pilihan,menaklukkan negeri ini dan menetap di sini, atau kita semua syahid,” ujar Thariq.

Pidato ini dapat digambarkan sebagai awal dari puncak penaklukan terbesar yang pernah dilakukan oleh umat Islam. Di mana usai penaklukan ini, umat Islam dapat menguasai daratan Spanyol dan beberapa daerah di Eropa.

Nampaknya, pidato Thariq ini dapat disejajarkan dengan sambutan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), K.H. Hasan Abdullah Sahal dalam Pembukaan Ujian Tulis Siswa Akhir Kulliyatu-l-Mu’alliminal Islamiyyah (KMI) pada Rabu (15/5/2013) pagi di Balai Pertemuan Pondok Modern. Bagaimana tidak, sambutan K.H. Hasan Abdullah Sahal ini menandai mulainya puncak dari Ujian Akhir siswa kelas 6, satu peristiwa yang hampir sama dengan apa yang dirasakan oleh pasukan Thariq bin Ziyad saat akan memulai puncak peperangan merebut kawasan Eropa 14 Abad yang lalu. Waktu, tempat, jumlah pendengar dan isi pidato yang berbeda, namun makna pesan, semangat serta motivasi yang disampaikan, hampir sama, yaitu tentang perjuangan dan kesabaran.

Ujian Tulis Siswa Akhir KMI dilaksanakan selama 14 hari (15-30/5/2013) yang dilaksanakan di 2 tempat, yakni BPPM dan Gedung Olahraga (GOR). Ujian dilaksanakan dalam 26 materi yang mencakup pelajaran di KMI sejak kelas 1 hingga kelas 6. Tentunya selain pelajaran yang telah diujikan pada ujian tulis siswa akhir KMI gelombang pertama serta beberapa materi yang memang ujiannya sudah didahulukan pada kelas-kelas sebelumnya.

Selain di PMDG pusat, ujian tulis gelombang kedua ini juga serentak dilaksanakan di seluruh pondok cabang, yaitu di Gontor 3,5,6,7 dan Gontor 9 untuk pondok putra, serta Gontor Putri 1,3 dan Gontor Putri 5. Meski berbeda tempat, namun materi, soal,  jadwal dan waktu sengaja disetting untuk sama. Bahkan di Gontor 7 (Kendari), ujian dilaksanakan pada jam 08.00 WITA. Hal ini dilakukan guna menyamakan waktu mulai ujian pada seluruh Pondok Gontor yang terletak pada waktu Indonesia bagian Barat.

Meski ada beberapa soal kiriman dari pondok cabang pada beberapa materi tertentu, namun seluruh soal dibuat dan ditashih di PMDG Pusat. Hal ini ditujukan guna menyeragamkan bentuk soal yang kemudian akan dibagikan kepada seluruh pondok cabang beberapa hari sebelum ujian tulis dilaksanakan.binhadjid

Darah Biru

0
Pelantikan Pimpinan Pondok Pesantren Modern Gontor Pasca Trimurti
Pelantikan Pimpinan Pondok Pasca Trimurti

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan darah biru sebagai keturunan bangsawan atau ningrat, yang oleh karenanya, dianggap sebagai golongan tertinggi dalam struktur masyarakat. Sementara itu Wikipedia menulis bahwa darah biru merupakan terjemahan dari frase Spanyol sangre azul, yang menggambarkan keluarga kerajaan Spanyol dan bangsawan tinggi lainnya.

Sebenarnya tidak ada hubungan antara frase itu dengan warna darah bangsawan yang sebenarnya. Namun di masyarakat kuno Eropa, hampir semua bangsawan memiliki warna kulit yang pucat kemerahan dan pembuluh balik kebiru-biruan di bawah permukaan kulitnya, sehingga nampak berbeda dengan kulit masyarakat kelas petani yang berwarna kecoklat-coklatan dan pembuluh darah baliknya tidak terlihat jelas karena banyak bekerja di bawah terik matahari. Agaknya inilah yang menyebabkan mengapa golongan bangsawan dikatakan berdarah biru.

Di zaman modern, kaum berdarah biru tidak lagi memiliki privilese resmi di hampir seluruh Negara di dunia. Namun demikian, sikap mental kaum feodal yang merupakan “saudara kandung” kaum berdarah biru, masih banyak ditemui. Mereka ingin dilayani, dihormati, dan merasa memiliki privilese yang meniscayakan perlakuan istimewa meskipun nihil prestasi. Mereka mengagung-agungkan jabatan atau pangkat, dan bukan prestasi kerja. Sikap seperti ini adalah sikap yang kontra produktif, dan jika terus dipelihara, maka cita-cita menjadi bangsa yang besar hanyalah angan-angan belaka. Inilah tampaknya yang menyebabkan Trimurti pendiri Pondok Modern Gontor begitu getol memerangi feodalisme; sebuah sistem sosial yang sangat lekat dengan kaum berdarah biru.

Dari sini, kiranya kita perlu mendekonstruksi makna darah biru itu. Hal ini tidak saja karena istilah itu lahir dari ruang sejarah yang bersifat multiinterpretable, tapi juga karena ia berhadapan secara vis a vis dengan hukum Allah yang tidak melihat kemuliaan manusia  kecuali berdasarkan iman dan taqwa, bukan berdasarkan garis keturunan.

Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor memiliki pemahaman lain tentang istilah darah biru. Menurut beliau, orang yang berdarah biru adalah mereka yang memiliki kehormatan, harga diri, kemuliaan, nama besar, dan bahkan privilese yang muncul karena prestasinya. Bukan karena ia anak pejabat, orang kaya, atau keturunan ningrat. Maka status darah biru itu sebenarnya tidak diturunkan oleh orang tua, melainkan diciptakan. Setiap orang memiliki peluang yang sama untuk memiliki dan menyandang status itu. Konsep darah biru ala Kyai Syukri inilah yang selalu ditanamkan kepada seluruh santri dan asatidz dalam berbagai kesempatan.

Lantas bagaimana Gontor menciptakan kader umat yang “berdarah biru”? Segala aktivitas di Gontor harus dilaksanakan dengan disiplin tinggi. Disiplin tanpa pandang bulu inilah yang mengikis habis sikap feodalistis. Sehingga jangan heran jika anda melihat anak menteri atau pejabat tinggi lainnya yang sekolah di Gontor, mendapat perlakuan disiplin yang sama dengan anak petani. Mereka juga harus ikut menyapu halaman asrama, membersihkan kamar, atau jadi bulis malam (jaga malam) jika tiba jadwalnya.

Selain harus berdisiplin, setiap santri juga selalu dibiasakan untuk berpikir keras, bekerja keras, dan bersabar keras dalam menjalani segala kegiatan di pondok. Semua kegiatan yang dilaksanakan santri, harus memiliki perencanaan yang jelas. Perencanaan itu bahkan dilaksanakan secara berlapis mulai dari santri, ustadz, hingga bapak Kyai. Semuanya mencurahkan pikirannya untuk membuat perancanaan yang matang. Setelah terencana dengan rapi, sebuah program harus dilaksanakan dengan serius, sungguh-sungguh, dan sepenuh hati. Tidak cukup sampai di situ, semuanya juga dituntut untuk memiliki kesabaran dalam menjalankan setiap program. Bukan sabar yang pasif, melainkan sabar yang aktif tentunya.

Dari sini, seluruh santri memiliki kesempatan yang sama untuk berekspresi, berkreasi, dan berprestasi. Prestasi duniawi dan ukhrawi yang tentu saja tidak didapat secara cuma-cuma, melainkan dengan berpikir keras, bekerja keras, bersabar keras, dan harus diikuti dengan bertawakkal kepada Allah. Sehingga pada gilirannya, status “darah biru” bisa disandang oleh siapa saja yang berprestasi, tidak lagi milik kaum ningrat. Wallahu a’lam bi al-shawab. AbuNuya

Alumni PMDG Tahun 1984 Gelar Acara “Algodam”

2

GONTORDSC_0999 – Dalam rangka mempererat tali silaturrahim dan temu kangen setelah 19 tahun tidak berjumpa, alumni tahun 1984 mengadakan Reuni Akbar Alumni 1984 yang bertajuk ‘Algodam’. Acara yang diikuti oleh sekitar 75 alumni PMDG tahun 1984 ini digelar selama 3 hari pada Kamis-Sabtu (9-11/5/2013) di Wisma Darussalam PMDG.

Reuni ‘Algodam’ yang berarti “Alumni Gontor Darussalam” ini diawali dengan acara keliling pondok Gontor pada hari kamis untuk melihat kegiatan kepramukaan dan kegiatan lainnya. Dilanjutkan pada malam harinya dengan temu kangen dan nostalgia antara alumni 1984. Keesokan harinya, para alumni 1984 mengadakan lari pagi bersama dengan mengikuti rute lari pagi santri PMDG, dilanjutkan dengan keliling kampus ISID dan Gontor 2, ziarah makam TRIMURTI dan silaturrahim bersama K.H. Hasan Abdullah Sahal di Aula Wisma Darussalam. Acara ini ditutup dengan silaturrahim ke Gontor Putri 1 di Mantingan, Ngawi.

Dari 153 Alumni tahun 1984, sebagaian diantaranya Pengusaha Sukses (16 orang), Guru/Dosen (22 orang), Doktor (6 orang), Kyai/Pimpinan Pondok (10 orang), Kandidat doktor (1 orang), Doctor Honoris Causa (1 orang), Politikus (1 orang), Profesional/LSM (4 orang), dan Da’i (5 orang). arbie_84

Mugus dan Amsus Media Penyatu Siswa Kelas 4 dan 3 Intensif

0
Para Ambalan Khusus Gugus Depan 15089 tampak bersemangat dalam Ambalan Gembira tahun ini.
Para Ambalan Khusus Gugus Depan 15089 tampak bersemangat dalam Ambalan Gembira tahun ini.

DARUSSALAM – Koordinator  Gerakan Pramuka Gugus Depan (Gudep) 15089 Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) di bawah arahan Majelis Pembimbing Koordinator Harian (Mabikori) mengadakan Musyawarah Gugus Depan (Mugus) pada Kamis (2/5/2013), tepatnya diselenggarakan di Gedung Olahraga (GOR) Pondok Modern Darussalam Gontor. Kegiatan ini merupakan media pemersatu antara siswa kelas 4 KMI dan 3 Intensif. Berawal dari Musyawarah Gugus Depan, mereka mengenal satu sama lain, belajar mengutarakan pendapat dan bermusyawarah. Musyawarah diawali dengan Sidang Paripurna pada siang harinya, Sidang Komisi pada Jum’at pagi (3/5/2013),  kemudian dilanjtukan dengan Sidang Pleno pada Jum’at siang.

Pondok Modern selalu berupaya menanamkan jiwa bermusyawarah dalam diri setiap santri-santrinya, falsafah itu tertuang pada mahfudzat kelas 4 KMI, yang berbunyi“Wa aktsir min As-syuraa, fainnnahu in tushib tajid maadihan wa in tukhti’i ar-ra’ya tu’dzar ” (Dan perbanyaklah bermusyawarah, dalam bermusyawarah apabila pendapatmu benar kamu akan dipuji dan apabila salah dimaafkan). Bermusyawarah merupakan pola hidup dalam mengaplikasikan kebersamaan dan keberagaman.

Lain daripada itu, Mugus pada tahun ini melibatkan peserta sebanyak 750 orang, termasuk jumlah panitia sebanyak 52 orang dan beberapa staf Koordinator Gerakan Pramuka. Para peserta tersebut meliputi seluruh anggota Ambalan Gugus Depan (Gudep) dari siswa kelas 4 dan 3 Intensif, 15089/1, 3, 5, 7, 9, 11, 13, 15, 17, dan 19.

Kegiatan lain dalam upaya menyatukan ukhuwah Islamiyah mereka adalah Ambalan Gembira (AG). Berlasung pada (9/5/2013) di lapangan Salelit, tepatnya di selatan gedung Satelit. Acara ini meliputi penampilan-penampilan, seperti: Dancing, Nasyid, Tari-tarian, Tari Kombinasi, Puisi Musikal, Sulap, Drama Musikal dan lain-lain.

Kegiatan ini dikomandoi oleh 3 orang ketua yakni, Andi Hakim (3 Int C), Muhammad Salisgia (4D), dan Lutfi Mahmudy (4D), dengan jumlah panitia 65 orang. Acara diawali dengan tilawah ayat suci Al-Qur’an dilanjtukan dengan sambutan-sambutan. Al-Ustadz Ibadurrahman selaku penanggung jawab acara ini, menyampaikan dalam sambutannya:

“Kegiatan ini merupakan ajang bagi kalian memadukan pikiran dan tenaga, tidak lain adalah untuk mensukseskan acara ini. Semua ini dirancang sebagai media penyalur kreativitas, seni dan motivasi naik ke kelas 5 tahun depan, iman, khuluqan dan adaban”.

Dalam hal ini, panitia dibimbing langsung oleh Al-Ustadz Anshar Zulhelmi dari Majelis Pembimbing Gerakan Pramuka Harian (Mabikori). Dengan tujuan, panitia dapat berkoordinasi satu sama lain dengan baik dan berkonsultasi dalam hal apapun ke pembimbing. Hal itu merupakan pelajaran dan ilmu kehidupan di PMDG yang selalu dipegang teguh oleh para santri dan guru-guru dalam melestarikan nilai-nilai keislaman. elfah

K.H. Yusuf Mansur Isi Seminar Da’i di Gontor

0

Yusuf MansurGONTOR- “Jadilah Ulama yang intelek, bukan Intelek yang tahu agama”. Untuk meningkatkan kualitas dakwah para santri, para staf PUSDAC (Public Speaking and Discussion Advisory Council) mengadakan Seminar Da’i dan Dakwah, dengan tema “Kiat Menjadi Da’i Yang Menggugah dan Merubah”.

Acara ini juga merujuk kepada salah satu perkataan dari K.H. Hasan Abdullah Sahal, yaitu santri adalah seorang Mundzirul Qoum, yang bertugas untuk mengingatkan umat Islam secara khusus dan masyarakat luar secara umumnya.

Acara yang diagendakan pada hari Senin (6/5) lalu ini turut mengundang K.H. Yusuf Mansur dan Al-Ustadz Ahmad Suharto, S.Ag sebagai pembicara. Adapun dilaksanakannya acara ini adalah untuk meningkatkan kualitas santri dalam menyampaikan dakwah. Di seminar ini dijelaskan bagaimana cara berdakwah kepada masyarakat yang baik.

Acara ini dibagi selama 3 sesi; sesi pertama dan kedua dilaksanakan dari pukul 14.00 sampai dengan pukul 17.00 yang langsung diisi oleh Al-Ustadz Yusuf Mansur dan sesi ketiga pada pukul 20.00 hingga 22.00 yang diisi oleh Al-Ustadz Ahmad Suharto, S.Ag.

“Para pembicara-pun menjelaskan berbagai macam metode dan cara berdakwah yang baik, seperti penggunaan gerak tangan dalam berbicara, sampai bagaimana men-sukseskan dakwah kita dengan cara memulai dari diri sendiri dan perkara yang paling kecil,” tutur Al-Ustadz Aa Dzikri Ilhami selaku pembimbing pelaksanaan acara ini.

Acara ini diadakan di Aula Robithoh, dengan pengikut dari para asatidz santri kelas 1–5 yang seluruhnya berjumlah 520 orang. Adapun panitia pelaksana acara ini adalah para santri dari JMK (Jam’iyyatu-l-Khutoba’) dengan dibantu dan dibimbing oleh para staf PUSDAC. (fei)